Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 124. Duka Fatio.


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Dewi meloloskan diri


Bagian tengah penumpang hanya diduduki oleh Zahra, Sri, dan Dewi. 


Tidak ada interaksi diketiganya, Sri masih bengong, Dewi masih syok, tidak dipungkiri ia masih trauma akan kejadian serangan lalu.


Setelah selama perjalanan Zahra mengamati keadaan, baik dalam maupun luar kendaraan dari segala arah, akhirnya Zahra mendapatkan ide.


Tangan kirinya memutari tas selempangnya, setelah berhasil, secara sembunyi mengambil ponselnya dari dalam tas.


Zahra yang curiga para pelaku berperawakan khas Eropa paham akan bahasa Indonesia karena menyetel radio tentang bincang politik.


Tanpa kentara secara perlahan Zahra memepet Sri," Nek, bisa bahas Sunda ga?" Bisiknya dengan mulut yang terkatup 


Sri terlonjak dn gn pertanyaan Zahra yang tiba-tiba.


" Enggak, bahasa Jawa. Saya dari solo." Balas Sri berbisik, Zahra mengangguk.


" Tante Dewi?"


" Bisa."


" Ini paham nggak paham harus ngerti ya." Sri mengernyit bingung.


Menggunakan bahasa Jawa semampunya, karena dia berasal dari Banten, campuran sunda-jawa.


" Nek, Bilang ke Tante suruh merapat ke pintu."


" Buat apa?"


" Di depan ada lampu merah, Tante bisa kabur pas mobil berhenti."


" Enak aja, kalau luka gimana?"


" Maaf, nek. Tapi kita harus mengambil resiko. Dibelakang tadi saya lihat ada mobil yang mengikuti kita."


" Jangan nengok!" Cegah Zahra saat Sri ingin menoleh ke belakang.


" Beneran?" Sri menyangsikan, Zahra mengangguk pasti.


Pembicaraan mereka Sri tranfer ke Dewi dengan masih dengan bahasa jawa.


Setelah memeriksa tuas pintu, Dewi menggeleng pelan pada Zahra.


Zahra menyenggol-nyenggol tangan Sri, dari arah belakang punggung meletakan ponsel di telapak tangannya," Tolong kasih ini ke Tante, bawa ini ketika kabur."


Dewi menerima uluran estafet ponsel tersebut lantas menyembunyikannya di dalam selipan pinggang celana bahannya.


Saat lampu lalulintas terlihat Dewi mempersiapkan diri, hatinya begitu gugup.


Do,a terus dirafalkan, hatinya berdetak kencang membayangkan dia akan secara sengaja menjatuhkan diri dari Van besar ke aspal ditengah jalan besar.


" Bismillah..." Terus kalimat dzikir terucap dalam hatinya, Dewi mengurut tangannya di atas pahanya menghalau rasa takut.


Sri yang melihat itu, menggenggamnya. Dewi menoleh padanya yang memberinya senyum menenangkan.


Masih menggunakan bahasa Jawa, Dewi mengeluarkan unek-uneknya.


" Ma, saya tidak bisa meninggalkan Mama." Zahra yang mendengar sekilas ucapan itu, meyakinkan Dewi.


" Tante, jangan khawatir. Saya yang akan melindungi nenek. Sekarang selagi kita masih di area Jakarta kita mencari pertolongan."


Dewi merenungi hal itu, lalu mengangguk.


Para pelaku yang tidak paham akan pembicaraan mereka hanya menafsirkan lewat bahasa tubuh saja.


Mereka pikir ketiga sanderanya hanya saling menguatkan.


Begitu laju mobil mulai melambat mengikuti kendaraan yang lain karena lampu lalulintas berwarna kuning, Dewi mendorong pintu dengan tubuh sampingannya lalu menjatuhkan diri,


" Aaaaa..." Dewi terjatuh hampir tersungkur, untung ia bisa menyeimbangkan diri sehingga kepalanya masih aman.


Pelaku yang duduk dibelakangnya begitu kaget, sontak ia maju ke kursi bagian tengah mengulurkan tangannya bermaksud menarik kembali Dewi.


Saat tangannya akan menggapai Dewi, dia dikagetkan dengan celutan sabuk pinggang ke tangannya, hingga membatalkannya, namun ia terus berusaha.


Usaha itu terhenti saat pengemudi bilang tinggalkan Dewi, namun tangannya keburu ada yang menyayat.


" Aaa..." Pekiknya sembari menarik tangannya, lalu menutup pintu dan menutup tangannya yang berdarah karena sayatan.


 Pengemudi menambah kecepatannya. Menabrakkan diri ke beberapa kendaraan yang mengantri di depannya. Hingga mereka bisa kabur.


*****


"Hahahaha..." Tawa Guadalupe membahana di ruang keluarga, dia menari-nari memutari ruangan sambil melentangkan kedua tangan yang ditangan kirinya memegang segelas wine. Dia puas mendapat laporan dari bawahannya yang berhasil menculik Sri Hartadraja.


" Seharusnya sejak awal aku lakukan ini, hingga tidak perlu membuang waktu percuma." Gumamnya sinis.


" Ma, ada apa?" Eric memasuki ruangan meneliti mama-nya yang terlihat cerah.


" Apa?"


" Ck, ayolah tadi aku mendengar tawa devil mu."


Guadalupe mengangkat bahu santai, melangkah menuju sofa," aku berhasil membuat menculik Sri Hartadraja."


Mata Eric membola lebar," ****, ma. Sudah ku peringatkan untuk tidak gegabah."


" Eric, terserah kalau kamu mau nyerah, tapi mama tidak bisa melihat mereka menginjak kita."


" Ya Tuhanku. Ma, Hartadraja dibawah keamanan Gonzalez." Tekan Eric kesal.


Guadalupe merenung, setelahnya ia mengumpat dalam hati.


" Kenapa kamu tidak bilang?"


Eric memutar bola malas." Pasang telingamu, aku sudah katakan padamu."


" Kau hanya mengatakan mereka dilindungi RaHasiYa."


" Fix, kita dalam bahaya."


" Kenapa kamu begitu takut pada segerombolan pemuda itu?"


" Ma, Navarro sampai sekarang belum bisa menembus situs pertahanan Indonesia itu karena mereka." 


Eric menatap tajam Guadalupe.


" Dengan Gaunzaga saja kita tidak bisa menaklukan Hartadraja, ditambah RaHasiYa? Kau bunuh diri." Hardik Eric


Guadalupe tersenyum smirk," karena itulah mama meminta bantuan Navarro, karena kau tidak bisa diandalkan." Cemoohnya


Eric meracau dengan seribu sumpahan." Dan kau memberi kesempatan RaHasiYa mendekatinya."


Eric beranjak menuju pintu," celakalah engkau kali ini, mam."


Guadalupe mengabaikan peringatan Eric ia hanya mendecak, lalu ia melakukan VC Fatio.


Sambil menunggu sambungannya dijawab, Guadalupe bergumam" Fatio, kau tidak punya pilihan selain menjadi milikku."


*****


Sejak mobil melaju yang dikendarai oleh Rio, Ibnu sudah sibuk dengan laptopnya wajah fokus tanpa ekspresinya semakin menambah rasa bersalah Alfaska.


Mimik itu hanya tercetak kala situasi yang menurut Ibnu sangat genting.


" Nu, makan dulu. Aaa.." Alfaska yang duduk disamping Ibnu menyodorkan sandwich ke muka mulutnya.


 Tanpa memutus kesibukannya Ibnu melahap sandwich tersebut, yang akhirnya Alfaska menyuapi Ibnu sampai habis dua sandwich.


Sandwich itu seluruhnya tandas oleh mereka selama dalam perjalanan.


Daniel menepuk sandaran kursi Mumtaz yang duduk di kuris penumpang depan.


" Muy, tadi yang Lo baca apa?"


" Ini." Mumtaz mengasingkan kertas ke belakang lewat kepalanya.


" Benar kata Zayin kita terlalu lunak mengurus Tamara." Ucapnya disela ia menikmati sandwich.


 Daniel dan Alfaska membagi  semua  dokumen itu dan mempelajarinya


" Jadi beneran Ayin sedang menyamar dalam sebuah misi.


" Kemungkinan, di sana hasil laporan penyelidikan dia tentang Tamara sejak dia nongol ditengah-tengah kita.


" Apa isinya?" Ibnu bertanya sambil mengutak-atik laptopnya.


" Ternyata Tamara terlibat dalam setiap transaksi narkoba yang dilakukan para sindikat dibawah kepemimpinan Gonzalez, bahkan dia turut menjualnya pada kliennya yang muda tapi tajir."


" Gila sih si muka fake." Daniel yang biasa paling tenang mengumpatinya.


" Gue mau nugasin Leon untuk menggeledah rumah Tamara untuk cari bukti." Mumtaz menghubungi Leon, sang kepala pembunuh bayaran yang berhasil ditundukan Lewat duel terakhirnya.


" Gue hubungi  Dewa agar masuk ke ponsel Tamara." Usul Daniel.


" Jangan hubungi Dewa." Sambung Ibnu cepat.


Alfaska dan Daniel mengerutkan kening bertanya.


"  Gue berhasil masuk ke sistem navigasi kendaraan van itu, hasilnya gue kirim ke Jarud." Ibnu menatap punggung Mumtaz yang terlihat 


sibuk dengan ponselnya.


" Ada yang memanipulasi arah GPS mobil yang gue baca, sedari tadi gue berhubungan dengan Jarud. Dia bilang tidak melihat target sesuai GPS yang gue kirim."


" Gue masuk  ke situs keamanan perusahaan yang memproduksi mobil tersebut, gue retas sistem mesin dan sambungan navigasinya dan terlihat ada orang yang mengamankan keberadaan mobil itu."


" Terus kenapa Lo curiga Dewa?"


" Karena yang melakukannya berasal dari laptop yang berada di gedung RaHasiYa, dan berakhir di ruangan Dewa.


Mata Daniel dan Alfaska terbeliak," seriusan?"


" Setelah kesempatan yang kita beri, bagaimana bisa dia mengkhianati kita?" Kesal Alfaska meninju punggung kursi Rio.


" Jangan gegabah memfitnah. Dia tidak memakai sistem keamanan apapun, bisa jadi dia ingin kita menemukannya. Muy, telpon Nando untuk mengurus Dewa, biar gue konsentrasi ke kak Ala." Ibnu menenangkan.


Mumtaz mengangguk, ia menelpon Nando.

__ADS_1


" Apa rencana lo?" Alfaska menatap Ibnu tajam.


" Gue masuk ke sistem Dewa supaya gue tahu posisi pasti mobil, sementara Nando mengelabui Dewa seakan kita mengikuti arahan dia."


" Kenapa dia terkesan begitu penting?" Daniel berujar sinis.


" Karena dia diawasi pihak yang meminta jasanya." Timpal Mumtaz.


" Muy, dengan siapa dia bekerjasama saat ini?"  Daniel mulai mengeluarkan iPad-nya.


" Navarro."


" Begitu urusan ini beres, gue buat perhitungan dengan Dewa."


" Itu yang diinginkan Navarro." Celetuk Mumtaz.


" Apa?" Daniel dan Alfaska bertanya dalam waktu bersamaan.


" Dia menggunakan jasa Dewa untuk memecah belah RaHasiYa."


" Apa?" Lagi mereka serempak kaget.


" Tapi gue dan Dewa memanfaatkan itu agar bisa masuk situs mereka." Ungkap Mumtaz


" Siapa sih dia?" Alfaska mulai kesal.


Mumtaz diam tidak menjawab.


Alfaska memukul lengan Mumtaz gemas," Muy siapa dia?"


" Bentar, gue mau kirim profil dia ke email kalian."


Tring!!! Daniel dan Alfaska lekas membuka ponsel mereka masing-masing, kecuali Ibnu yang masih stuck dengan laptopnya.


" Gila."


" Gak waras."


Cacian untuk Navarro, dari tuan muda konglomerat itu.


" Niel, Lo siapkan Tim untuk goyang bisnis dia. Sekarang ini siapa yang terkuat di ekonomi, dia yang berkuasa." Pinta Mumtaz, Daniel mengangguk.


" Fa, Lo mulai bentuk tim bikin face off buat Angelica, Belinda sudah ada di RaHasiYa." Ujar Mumtaz yang sedang mengamati sesuatu di iPad-nya.


Alfaska mengangguk, " gue telpon Alex."


" Kasih dia peringatan agar merahasiakan semaunya."


" Oke."


"Sorry, kita udah sampe." Rio memarkirkan mobilnya di area parkir depan cafe'.


Begitu mereka membuka pintu cafe', suasana sudah menegang.


" Assalamualaikum, maaf terlambat." Daniel memimpin mereka memasuki ruangan.


" Kok bisa komplit begini?" Rujuk Alfaska pada keluarga Hartadraja, termasuk Adelia yang sedang menangis dalam pelukan Heru, sementara Eidelweis menangis dalam pelukan Julia.


Mereka berlima menyalami satu persatu para tetua.


Setelahnya mereka berpencar dengan tugas masing-masing.


Terlihat Dewi yang sedang terbaring lemah di atas brankar dikelilingi tiga dokter dan dua asisten yang sedang memeriksanya, meja dan kursi telah digeser menempel tembok.


" Mumtaz," lirih Dewi. Mumtaz mendekati brankar tersebut setelah mendapat izin dari Aznan dan para dokter.


" Iya, Tante. Saya di sini." Mumtaz membalas gapaian tangan Dewi.


" Maaf, Zahra Kembali berbahaya karena kami." Dengan susah payah Dewi menuntaskan ucapannya.


Mumtaz menggeleng cepat," shuut, tidak apa-apa. Kita bicarakan ini kalau Tante sudah membaik ya."


" Tante...terima.. kalau kamu marah pada kami."


" Tidak, kan kak Ala hanya untuk menolong calon mertua-nya saja, itu normal." Hibur Mumtaz yang cukup berhasil, Dewi meski lemah ia tersenyum.


" Kami menganjurkan nyonya dibawa ke rumah sakit, tapi beliau enggan." Sela prof. Farhan.


Mumtaz mengangguk, lalu menatap Aznan.


" Tante ingin ketemu kamu dulu, Tante merasa bersalah meninggalkan Zahra di sana."


Mumtaz mencium  punggung tangan Dewi dengan khidmat." Saya yakin Kak Ala sudah mengambil keputusan yang bijak, sekarang Tante istirahat, supaya  nanti kalian bertemu dalam keadaan baik."


Terenyuh dengan kelapangan hatinya, Dewi mengusap lembut wajah Mumtaz.


" Semoga Allah selalu melindungi kalian. Setelah ini biarkan kami meminangnya ya!?" Permintaan yang penuh permohonan.


" Kalau kakak udah bucin sama om Hito, saya bisa bilang apa selain menyetujuinya." Dewi dan juga anggota keluarga lain tertawa sumringah.


" Jadi nyonya, sebaiknya kita ke rumah sakit ya." Dewi mengangguk kecil.


" Yo, pasang keamanan rumah sakit lewat sensorik dan pemindaian bagi setiap pengunjung, dan list orang-orang yang dilarang berkunjung." Pinta Daniel yang duduk di samping Andi.


Rio mengangguk, mengambil tas persegi panjang untuk dibawa olehnya meninggalkan ranselnya. 


" Mama, udah jangan nangis. Nanti dimalahin Aa Ayin." Rengek Adelia, sedangkan Eidelweis tersenyum.


" Iya, kak." Mumtaz menghampirinya.


" Apa Zayin tahu?" Eidelweis sangat khawatir Zayin kecewa pada keluarganya.


Mumtaz mengangguk," tahu." 


Eidelweis menghela nafas berat sembari mengangguk.


" Pasti dia marah pada kami." 


" Enggak, lebih tepatnya marah pada pelakunya."


" Zayin hanya memastikan kalau Adelia gak nangis lagi."


" Ayo loh, mama. Adel nangis ya kalau mama nangis telus. Aa Ayin galak tau." Bujuk Adelia sambil berniat menakut-nakuti Eidelweis.


Semua orang tertawa, sedikit hiburan ditengah kegundahan.


" Del, sudah kasihan janin kamu. Kamu dari tadi udah sering kram perut." Julia menenangkan.


" Sekarang, Kakak istirahat ya."


" Apa yang bisa saya bantu?" Ini hanya upaya untuk mengurai rasa bersalahnya..


" Cukup istirahat, agar kakak siap ketika kami butuh informasi dari kakak."


" Sayang, kita pulang ya. Supaya mereka konsentrasi dalam bekerja." Ujar Heru membujuk.


" Muy, sekali lagi maaf ya."


" Tidak ada yang perlu dimaafkan, kita tetangga."


Setelah memastikan Eidelweis dan para wanita pulang, Mumtaz menghampiri meja yang dikerubungi para sahabatnya.


" Kalian sedang apa?" Tio menggeser laptop ke hadapan Mumtaz.


" Aksi Charlie Angel, katanya ini kakak Lo, Mum." Tunjuk Tio pada gadis yang sedang melompati pengawal Sri yang terkapar.


" Nih, gue udah salin buat lo." Tio memberi memory card pada Ibnu.


Sewaktu Ibnu ingin mengaktifkan laptopnya Mumtaz memotong gerakkannya.


" Nu, jangan pake laptop Lo, pake punya Rio."


" Kenapa?"


" Agar lebih gampang aja, udah dirakit ulang."


Tanpa protes Ibnu mengambil MacBook dari ransel Rio.


" Pacar bos Lo itu."  Celetuk Ibnu.


Tio terbelalak, "  siapa? Gue punya tiga bos yang lajang lapuk. Hito, Dominiaz, dan Samudera melirik tajam anak buah tidak tahu dirinya ini.


Ibnu dan yang lain terkekeh, " Lo gak ikutin berita bos Lo?" Ujar Daniel menatap geli Hito yang sudah geram pada Tio.


" Gue aja lupa bentuk TV kayak gimana." Jawab asal Tio.


" Siapa sih? Hoax ya?  Bang Domin? Gak mungkin, terlalu baik wanita ini buat beliau yang liar. Sabi lah buat makmum gue."


Sudah tidak tahan lagi, Hito menggeplak bagian kepala Tio.


Tio meringis sambil menoleh ke belakang.


" Saya calon suaminya." Tio langsung mingkem. Wajah datar Hito selalu membuat dirinya yang selengean merasa terintimidasi.


" Maaf, bos. Tapi memang cocok buat bos ketimbang bang Domin. Selamat kalau begitu."


" Kacung."


" Penjilat."


" Jiwa tuan tanah."


Cercaan para petinggi RaHasiYa berikan pada Tio yang mendengkus tengsin.


Tring!!!


Mereka melihat Brian memasuki cafe' dengan raut letih.


" Sorry, gue kehilangan mereka." Brian mengacak rambutnya yang sudah berantakan.


" Its okay. Jarud masih memantau mereka." Hibur Mumtaz


" Yan, mobil Lo dimana?" Ibnu menghampirinya.


" Di depan, mau ngapain?"


" Lihat rekaman di mobil Lo." Brian melempar kunci mobilnya pada Ibnu yang langsung melenggang keluar cafe'.


" Yan, ceritain apa yang terjadi. Tadi Andi ditanya diam bae." Alfaska melirik Andi yang masih bengong.

__ADS_1


" Gue masih kaget, ngab. Sumpah kejadiannya cepat banget, apalagi sewaktu Tante Dewi jatuh dari Van itu, kita berdua malah syok." Andi mendelik sebal pada Alfaska yang santai saja.


" Untung si Andi cepat sadar,. Terus dia lari nolong Tante." Timpal Brian.


Selanjutnya meluncurlah cerita dari versi Brian dan Andi.


 Tanpa menyadari Ibnu yang sudah kembali dan langsung sibuk dengan memory card.


" Nih, gue udah salin di sini. Dari black box mobil Brian." Ibnu menaruh laptop di tengah meja.


Mereka menonton bagaimana Dewi terjatuh, dan upaya Andi menyelamatkan Dewi.


" Saya ucapkan terima kasih pada kalian, entah apa yang terjadi jika kalian tidak ada di sana." Seru Fatio dengan suara lirihnya.


Farhan, selalu mendampingi Fatio untuk memastikan kesehatannya.


" Tuan, di sini kita bisa lihat jika nyonya baik-baik saja, kemungkinan kak Ala menyadari keberadaan kalian. Jadi memang mereka sengaja melakukannya."


Semua orang fokus pada gambar yang ditunjuk Ibnu, terlihat bayangan dari kaca bening Van kalau Zahra beberapa kali melihat ke arah belakang, dan terjadi interaksi diantara keduanya.


" Kenapa tidak Zahra saja yang kabur? Maksud saya dengan adanya Zahra kita bisa tahu siapa mereka." Tanya Erwin.


" Dan meninggalkan mereka berdua? No way, itu bukan kak Ala banget." Sahut Alfaska. 


" Kalau Masalah identitas pelaku untuk sementara ini yang kita dapatkan." Ibnu menggeser kursor pada file bernama penculik Zahra.


" Orang yang ditahan merupakan anggota Kartel Sinolan."


Mumtaz menjauh dari mereka menghubungi Rodrigo.


****


" Hallo." Sapa Rodrigo setelah melihat siapa yang menelpon.


Sedikit bingung dicampur heran Mumtaz menelponnya.


"  Pagi tadi Sri Hartadraja diculik, dan pelakunya anggota sinolan."


 


Rodrigo menegakkan duduknya. Ia mendengar secara seksama  ucapan selanjutnya Mumtaz.


" Saya tidak menugaskan siapapun untuk menyentuh keluarga Hartadraja." Sangkal Rodrigo.


Raul yang duduk disampingnya turut mendengarkan isi sambungan telpon karena Rodrigo meloudspeak ponselnya.


"  Saya akan kirim identitas pelaku yang tertangkap, bukankah saya sudah meminta kalian mengurus Guadalupe? saya berasumsi kalau kalau tidak melakukan apapun?"


Suara Mumtaz tenang, namun mengintimidasi.


Rodrigo memijit pelipisnya menahan emosi.


" Biarkan kami mengurus dia."


" Tergantung siapa yang menguasainya, jika kami dapat menangkapnya akan kami urus dia. Kalian cukup tidak menghalangi kami."


Paham akan ancaman Mumtaz, Rodrigo hanya bisa menyetujuinya.


" Ini tidak ada sangkut pautnya dengan mama Belinda." Rodrigo menegaskan, dia tidak ingin wanita yang dihormatinya terancam.


" Nyonya Belinda aman, kami tidak bermaksud memanfaatkan beliau."


Tak ayal nafas lega menghampiri mereka berdua.


" Akan saya tutup telponnya."  Di sana sambungan telpon terputus.


" Apa kau tahu nenek menculik nyonya Sri?" Rodrigo mengusap wajahnya kasar.


Raul menggeleng, kemudian dia teringat pada amukan Guadalupe pada Sivia.


" ****, gue harus balik. Sebaiknya Lo telpon kakek."


Raul beranjak meninggalkan kamar hotel Rodrigo.


Rodrigo menahan tangan Raul, " jelaskan, sekarang apa yang Lo tahu."


" Semalam nenek dan Tamara menyerang Sivia, gue gak tahu alasannya apa karena gue belum tanya Sivia yang masih syok." Tutur Raul.


" ***** kecil itu." Rodrigo menggeram kesal.


" Kita urus dia." Usul Rodrigo.


" Gampang itu mah." Raul meninggalkan kamar hotel Rodrigo.


*****


" Sinolan tidak terlibat, kemungkinan Guadalupe bekerjasama dengan Eric." Ujar Mumtaz saat bergabung dengan mereka.


"  Darimana kalian tahu Guadalupe dalangnya?" Dominiaz menginterupsi.


Para petinggi RaHasiYa saling pandang.


" Maaf, Alfaska akan menjelaskan kepada kalian, sementara kami meneruskan pekerjaan kami."


Ibnu menarik Mumtaz serta membawa MacBook ke ruang privat.


****


Tok!! Tok!!!


Hito memasuki ruangan tanpa dipersilakan.


Penampilan Hito yang biasa formal, kini terlihat santai dengan lengan kemeja digulung sampai siku, dasi yang sudah hilang doganti kancing yang terbuka dua dengan kaos hitam di dalamnya. rambutnya sudah tidak teratur semakin menambah maskulin dirinya yang mengenakan kemeja warna navy.


" Sorry, mengganggu rapat kalian, tapi saya pikir sebagai calon suami Ara saya berhak mengetahui keadaannya." Tersirat kegusaran dalam suaranya.


" Baik, Jarud kehilangan jejak. Terakhir melihat mereka diangkut pake helikopter. Jarud dan tim telat beberapa detik."


" Dimana itu?"


" Bandung."


" Setelah dilacak, helikopter itu menuju Cirebon."  


" Kapan kalian akan bergerak?"


" Kalau mereka sudah di darat, tapi kita akan pakai tim bayangan." Mumtaz menimpali.


Kening Hito mengerut berusaha memahami.


" Saat ini tim Alfaska sedang membuat topeng ala Massion impossible itu, om."


" Apa kaitannya dengan Navarro?" Dari penjelasan Alfaska tadi, tanpa sengaja Alfaska menyinggung soal Navarro. Hito bertanya-tanya mengenai keterlibatan Navarro.


" Dia menginginkan kami."


" Jadi tidak murni Guadalupe?"


" Apa om sudah melihat rekaman chip Guadalupe?" Hito menggeleng.


" Setelah menimbang, Guadalupe memanfaatkan Navarro selaku rekan bisnis Gonzalez."


Tok!! Tok!!!


Tio menyembul dibalik pintu," sorry, ganggu. Tapi Guadalupe menghubungi tuan Fatio."


Mereka bertiga lekas bergabung dengan yang lain.


" Tuan, usahakan telpon lebih dari 10 menit agar kita tahu posisi dia." Seru Daniel yang sudah siap dengan laptopnya.


Ibnu mengambil alih laptop, sementara Mumtaz menyambungkan ponsel Fatio pada MacBooknya.


Ponsel terus berdering, ternyata Guadalupe melakukan VC, Daniel yang berdiri dibelakang ponsel Fatio memberi kode padanya dengan jentikan tangan.


" Hallo." Suara tenang  Fatio tidak terrpengaruh pada seringai licik Guadalupe disebrang saluran.


" Hallo, amor. Bagaimana harimu, apa kamu mencari istri kecilmu?"


"  Tentu, sudah seharian ini  dia keluar rumah, saya sangat merindukannya."


Jawaban Fatio memancing amarah Guadalupe, dia mengebrak meja di depannya.


" Kau, kamu tidak boleh rindu siapapun selain aku. Hanya aku cintamu. amor."


" Lupe, maafkan aku. Tapi kisah kita sudah usai sejak kamu hamil anak Javier."


" Fatio, sayang. Maafkan aku, tapi aku mencintaimu, sangat."


" Tapi aku mencintai istri kecilku, Lupe."


Guadalupe sudah naik pitam, tiba-tiba dia mendorong tubuh Sri yang kedua tangannya sudah terikat tali rapia dibelakang punggungnya ke depan kamera.


Tubuh Sri menubruk meja karena tidak ketidakseimbangan dirinya.


" SAYANG..."


Saking keras respon Fatio begitu mengagetkan semua orang yang juga melihat adegan itu dari MacBook Mumtaz.


" Sudah kubilang, kamu hanya boleh mencintaiku." Hardik Guadalupe.


Farhan dibalik ponsel Fatio memberi kode Fatio untuk tenang. Dengan menurun naikan kedua tangannya.


" Baiklah, baiklah. Jika itu mau mu Lupe." Ucap cepat Fatio sungguh berusaha menenangkan hatinya.


" Sayang, kau ingin dia bebaskan?"


" Tentu,"


" Nikahi aku."


Fatio terdiam, bergeming dalam posisinya.


" Tidak. sayang, jangan dengarkan dia. Dia akan tetap membunuhku, ku mohon jangan ikuti perkataannya." Tangis Sri putus asa karena tidak berdaya.


" Kau,." Guadalupe  melototinya. " berhenti menggangguku." Cercanya.


" Kau yang berhenti mengganggu suamiku, dia sudah meninggalkan mu, kita sudah punya pasangan masing-masing nyonya." Balas Sri membentaknya.


Guadalupe sungguh emosi dia mencekik kerah baju Sri dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya yang memegang pistol terangkat dengan ujung pistol mengarah pada kepala Sri.

__ADS_1


Brraakkgh!!!


"TIDAK!!" Pekik Fatio dan semua orang yang ada di sana....


__ADS_2