Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 20 terdepak


__ADS_3

yang turut kumpul di rumah Tante Julia tidak hanya keluarga besar Hartadraja, Tia, Dista, kak Zahra, Bara & para sohib, tetapi juga sekretaris pribadi masing-masing dan pengacara keluarga.


sejak keluarga Hartadraja datang ke Rumah Tante Julia. semuanya diam dan mengabaikan Tanura dengan memasang memasang wajah sangar ke arah Tanura.


" kakek buyut, kakek, nenek, mama, om Hito, lihat apa yang dilakukan wanita itu sama Tanu. tangan Tanu patah. tolong Tanu om. Tanu mau pindah ke atas sofa." rengek Tanu memasang wajah teraniaya mengangkat satu tangan ke arah om Hito. dan Tanu tetap diabaikan.


keluarga Hartadraja memang sangat menjaga nama baik. mereka tak akan membiarkan siapapun mencelakai dan menghancurkan Hartadraja, jika ada yang berani menyentuh mereka, maka hancurlah orang itu. hukum itu berlaku untuk semua orang termasuk anggota keluarga Hartadraja.


Tanura bingung kenapa rengekan dia tak dihiraukan oleh mereka. Tanu enggan untuk berpikir apa mereka tahu apa yang sudah dia lakukan? tapi itu tidak mungkin. selain kasus dengan Cassandra, semua perbuatannya dia gunakan orang lain. dia tak mau mengotori tangannya sendiri.


" nenek, om Hito gak mau nolong aku." ambek Tanura.


" nek, mama, Tanu ke sini hanya ingin meminta maaf sama Cassy, tapi wanita itu pukul, tampar, tendang Tanu," Tanura menunjuk kak Zahra yang berdiri dibawah anak tangga.


" anak saya bukan pembantu kamu. diam kamu disitu." ucap pedas nenek Dewi yang seorang penyabar.


mata Tanura membola lebar kaget dengan tanggapan neneknya atas permintaannya.


" Nenek.." teriak Tanura.


" diam kamu bocah. jaga sikap kamu." kakek Aznan menatap Akbar. yang duduk disebelah kanan om Damian.


" Akbar. perusahaan yang dipegang Tanu, saat ini kakek serahkan kepada kamu. apa kamu sanggup mengelolanya."


Akbar dan Tanura menatap kakek Aznan. Akbar mengangguk sanggup, sedangkan Tanura menggeleng menolak.


" insyaAllah kek. tapi Akbar pasti butuh bantuan kakek, papa, dan para om." ucap Akbar lugas.


" tidak. kakek tidak bisa melakukan itu kepada Tanu. kakek gak adil." teriak Tanura dengan tangis meraung


dia tidak bisa melepas perusahaan itu sekarang. atau apa yang telah dia lakukan diketahui oleh mereka. matilah dia.


" TENTU SAJA AYAH SAYA BISA ." suara papa Damar menggelegar. dia memasuki rumah dengan seorang wanita yang kerah baju belakangnya di cengkeram keras.


papa Damar menghempaskan Amara ke tengah-tengah lingkaran keluarga Hartadraja sampai kepala Amara membentur ujung meja.


semua orang yang hadir terbelalak kaget dengan tingkah laku papa Damar. yang biasa kalem


" PAPA...."


" Diam kamu bocah. kamu bukan anak saya."


suara tarikan menahan nafas menandakan hening yang tiba-tiba terjadi di rumah itu.


papa Damar mengangkat surat dari rumah sakit Atma Madina hasil tes DNA Tanura.


" disini dinyatakan bahwa probabilitas terduga ayah sebagai ayah biologis adalah 99,9%. dapat disimpulkan bahwa damar Hartadraja dan Tanura Hartadraja tidak ada hubungan darah"


papa Damar meletak surat diatas meja.


papa Damar mengangkat dagu Tanura " dan kamu, selama ini tahu kalo kamu bukan anak saya." om Damar menghentakan kepala Tanura ke meja.


om Damar menunjuk Amara wanita yang duduk disebelah Tanura dengan wajah lebam parah yang dipercaya telah ditampar berkali-kali


" dua jalang ini selama delapan belas tahun membohongi dan memanfaatkan Hartadraja untuk kepentingan mereka."


om Damar menginjak dan menekan telapak tangan kiri Amara dengan keras.


"aaaa ..... hiks....hik..ampun" lirih Amara


" PAPA..." tangis Tanura


PLAK....


papa Damar menampar Tanura keras, sehingga untuk sesaat Tanura merasa kepalanya lepas dari tubuhnya


" SAYA BUKAN PAPA KAMU."


dengan keras kepala Tanura masih mencoba menggapai harapan


" siapa yang hasut papa? aku anak papa. apa papa lebih percaya dengan surat sampah itu daripada anak papa sendiri?" lirihnya meski seluruh tubuhnya sakit


tak berapa lama terdengar rekaman suara dua perempuan. satu wanita dewasa dan satu remaja.


" ma. sebentar lagi Hartadraja bangkrut. hal yang mama tidak bisa lakukan, Tanu lakukan."


" jangan sombong sebelum ada bukti. apa yang sedang kamu lakukan."


" aku jual rahasia perusahaan Hartadraja ke om Alfredo."


" apa? bagaimana kamu bisa lakukan itu? bisa mati kamu."


" ck..inilah kenapa mama gagal melumpuhkan Hartadraja. karena mama penakut."


" ma. aku gak secara langsung jual rahasia perusahaan, tetapi aku jual kode data base perusahaan yang sekarang dibawah kekuasaan ku."


" mereka gak bakal tau kalo aku yang memberi kode itu pada pihak lain."


" hahaha.. baguslah. walau mama gak ngerti apa yang kamu lakukan. berapa kamu jual?"

__ADS_1


" satu triliun.."


" bodoh kamu Tanura. Hartadraja. lebih dari satu triliun."


" aku gak peduli. yang aku tahu, aku kaya. setelah aku terima satu triliun ku. aku pergi. mama." terdengar suara tawa dari dua perempuan itu. dan MATI rekaman suara itu


"........."


syok, hening, sepi, tak ada gerakan dari sekian banyak orang yang hadir.


tatapan kelurga Hartadraja kosong sehingga mereka tidak menyadari gerakan dari satu wanita yang menggapai pisau buah. menggenggam pisau lurus dengan lipatan penuh kelima jarinya memandang penuh dendam pada satu sosok wanita paruh baya yang duduk menenangkanTante Nadya yang menangis pilu.


serangan cepat dari Amara dengan pisau lurus siap menghunus nenek Dewi membuat Tante Nadya terlonjak kaget dan menjerit


"Aaaaaa...."


TAK....BUGH..


hentakan pisau dan tendangan keras kak zahra kearah wajah menghempaskan Amara sejauh lima langkah kebelakang. Amara terkapar dengan posisi tubuh terlentang.


semua orang terkejut dan membolakan mata lebar. kak Zahra benar-benar kesal dengan dua perempuan didepannya ini. mereka sudah menambah hari ini lebih sibuk dari seharusnya dengan segala drama recehnya. Tanura membuka mulut untuk berbicara


" diam Lo Tanu. kalo Lo masih sayang nyawa Lo." kesal kak Zahra berdiri ditengah-tengah keluarga Hartadraja. perkataan yang cukup membungkam Tanu.


begitu kesadaran kak Zahra kembali, dia langsung lari ke tempat semula ya duduk di pojok dekat tangga.


rumah besar Tante Julia sekarang ramai dengan suara-suara yang saling bersusulan memarahi seorang remaja yang terkapar tak berdaya.


"STOP...." kakek Aznan menyudahi keriuhan ini.


" mas..." Tante Nadya memanggil om Damar yang terduduk menyesal.


menoleh ke arah suara wanita yang dicintainya, Damar berjalan cepat memeluk Nadya erat. wanita yang sabar dengan segala luka yang sudah ditorehkannya.


" maaf...maafkan mas, sayang " Isak Damar


sembari mengusap kepala Damar, Nadya " sudah sayang...aku sudah gak apa-apa. semuanya sudah lama selesai. yang ini cuma extra part-nya aja oke." Nadya tersenyum tulus memberi keyakinan yang besar kepada suami pendiamnya.


Damar menjauhkan wajahnya dan tersenyum, mengecup kening Nadya dengan menekan dan lama menyalurkan segala cinta, sayang dan tanggung jawabnya.


" heh...om...disini masih ada yang jomblo Loh, om. mesti gitu pamer ke-uwu-an. mau sekalian cosplay artis India joged-joged gak?" culasnya Advar. keponakan kesayangan om Damar.


BUK.....


bantal kursi terbang ke muka Advar dari arah mama Julia.


" iri, cari pacar Bosque. punya tampang dianggurin." sebalnya mama Julia ini. mendapat delikan tajam dari Advar. sedangkan yang lain tertawa melepas otot tegang.


" umumkan kepada publik tentang penipuan yang dilakukan Amara dan Tanura Hartadraja bukan dari anak Damar Hartadraja dan dia bukan bagian dari keluarga Hartadraja. hapus namanya dari legalitas keluarga Damar." ujar kakek Aznan kepada pengacara keluarga


" kakek buyut... kau tidak bisa lakukan itu padaku kek. Tanu mengaku salah tentang perusahaan, tapi Tanu tidak tahu menahu tentang hal ini." tanura masih mencoba mengelabui.


Bara meletak sebuah flashdisk diatas meja.


" didalam flashdisk itu terkumpul beberapa video dan rekaman suara perbuatan Tanura. termasuk siapa ayah biologis tanura. yang selama ini secara intens berhubungan dengan Tanura." Tanura membolakan mata lebar terkejut perihal itu.


" saya Bara Atma Madina tentu tidak akan memanipulasi bukti tentang hal penting seperti ini." sela Bara ketika Tanu mulai membuka mulutnya.


" baiklah. lakukan apa yang ingin kalian lakukan, tapi jangan salahkan saya, jika nama Hartadraja kebanggaan kalian hancur."


" apa maksud kamu. akal bulus apalagi yang kau coba lakukan bocah." kakek Aznan kesal.


" oh. kalian pikir hanya aku yang nakal. dia, Akbar, Hartadraja junior kebanggaan kalian lebih nakal dari ku. kalian pasti tidak tahu jika dia seorang player diatas ranjang dengan jalang-jalang diluaran sana." ucap Tanu keras kepala menunjuk Akbar


HAHAHA....HAHA...." tawa kemenangan Tanura membahana.


penyataan itu berhasil kembali membuat keluarga Hartadraja kaget kecuali om Hito.. mereka menatap Akbar yang duduk tenang.


ketenangan Akbar mengusik ketidak nyamananTanura.


Akbar merubah duduknya dengan bersandarkan diri disofa sembari bersedekap tangan.


" bisa kau buktikan ocehan mu Tanu." Tanu merasa takut dengan raut wajah yang ditampilkan Akbar.


" sombong sekali lo. setelah ini gw pastikan Lo dan keluarga Lo malu." dia membuka tas slempangnya dan mengambil iPad nya.


selama kesibukannya Tanura melirik Akbar. ketenangan yang Akbar tampilkan membuat Tanura geram. dia akan bertekad video ini akan menghancurkan kesombongan Hartadraja.


membayangkan kemenangan di pelupuk matanya bibir Tanura tertawa culas. membuka folder HJ, singkatan dari Hartadraja junior. bibir Tanura tertawa lima jari. menekan tanda play, dia menunjukan layar iPad nya ke keluarga Hartadraja.


" kalian siap-siap menanggung malu. saya telah mempost video itu di segala sosial media " Tanura ber jumawa.


tak lama dalam video terdengar suara mendesah...dan..


" aaaaahh...**** me please..."


" faster baby...ooohhh yeahh...."


" faster....more fast pelase... AA...HHH.."

__ADS_1


Tanura kalut. dia mengambil ipadnya yang diletakan diatas meja dengan cepat. dia melihat video itu terbelalak lebar, mulutnya menganga. dan dia mematikan ipadnya.


semua orang terbengong dengan mulut terbuka dan mata membulat lebar.


" kak Zahra menutup kedua telinga Tia, Bara menutup kedua telinga Dista.


kenapa semua rencananya tidak ada yang berjalan baik. Tanu diam. dia tahu, dia telah kalah. dan hanya bisa menerimanya untuk saat ini. sedangkan Amara sedari tadi sudah tidak sadarkan diri


" baiklah. semuanya sudah selesai. panggil pengawal. lempar mereka ke pinggir jalan sepi. " titah kakek buyut Fatio ke sekretaris pribadinya. yang langsung dilaksanakan


beberapa pengawal langsung mengangkat mereka keluar dari rumah itu.


" Rudi, ajukan tuntutan kepada mereka berdua, ketika mereka diketahui publik tentang keberadaanya." titah kakek Aznan kepada pengacara keluarga.


" baik tuan."


sekarang suasana rumah kembali santai. semua orang yang hadir bercanda gurau mengistirahatkan emosi negatif sejenak.


******


TING...TONG....TING... TONG.....


pintu utama dibuka dan menampilkan tiga orang remaja yang berdiri tersenyum canggung.


kepala pelayan memasuki ruang keluarga " maaf tuan dan nyonya di luar ada tamu mencari nona Cassandra, nona Tia, dan nona Dista."


seketika mereka bersilih ganti pandang dan menyadari jika Cassandra tidak ada diantara mereka.


dengan panik mereka mencari Cassandra mereka mulai beranjak berdiri untuk mencari Cassandra.


" maaf. mengganggu kepanikan kalian. tadi sebelum kalian kemari saya minta tolong pak satpam untuk sembunyikan nona Cassandra." ujar kak Zahra.


Tante Julia langsung menelpon pak satpam


" hallo, pak Endang. bapak sama nona Cassy tidak?"


" Alhamdulillah, ya udah bawa nona kemari sekarang." Tante Julia menutup sambungan telponnya.


" bi. siapa yang cari nona?" tanya om Damian.


" oh itu tuan Zayin, tuan Raja, dan tuan Juan. tuan."


" suruh mereka masuk." titah om Damian


tiga remaja memasuki ruangan dengan canggung.


" maaf mengganggu, tapi kami kesini karena disuruh Tia dan Dista. mana ya orangnya" ucap Raja mencari pencitraan


Dista dan Tia menyengir canggung. " maaf om, Tan, tadi telpon mereka karena kita takut kalo Tanura kirim orang." Dista menjawab dengan tertunduk.


" mama....papa..." tangis Cassandra memecah kecanggungan yang ada. Cassy langsung berlari ke arah orang tuanya.


dalam pelukan orang tuanya Cassy menangis ketakutan. mengundang anggota keluarga yang lain menghampirinya dengan rasa haru dan syukur.


Bara menatap lekat Cassy dengan cinta. meneliti seluruh tubuh Cassy dari atas rambut sampai kaki. memastikan Cassy tidak ada yang terluka..


Bara tersenyum kala Cassy membalas tatapannya menawarkan sayang, dan perlindungan.


Cassy tersenyum malu kala bara mengedipkan sebelah matanya. melihat Cassy salah tingkah Bara tertawa senang.


***


menarik diri dari keramaian. om Hito duduk diatas sofa yang terletak paling pojok dekat jendela, tatapannya sejak masuk rumah dan menemukan Zahra tak pernah lepas dari kak Zahra. meski Zahra secara terang-terangan mengabaikannya.


Zahra memilih mundur dan hendak pergi dari rumah bising itu. dia merasa tak perlu ada disini lagi. melangkah menuju pintu utama Zahra dikagetkan dengan suara om Hito.


" Zahra, mau kemana?"


Zahra yang hendak memegang handel pintu terlonjak kaget, dengan mengusap dada menoleh ke arah kiri, ada om Hito tertawa pelan melihat kekagetannya. om Hito menghampiri Zahra berdiri disamping sebelah meja kecil yang memmuat photo-photo keluarga.


" kaget?" om Hito mengangkat alis.


" menurut om? ada suara, tapi gak ada orang?"


" kan ada orangnya. disini" telunjuknya menunjuk ke dirinya sendiri.


Zahra berdecak " tahu ah. saya permisi pulang om." Zahra membuka pintu utama


" kamu...masih marah sama saya?"


" saya gak ngerti maksud om. ada alasan kenapa saya harus marah?" Zahra menatap langsung mata om Hito.


" saya kira garis batasnya sudah jelas. saya dan om dua orang asing tak saling mengenal."


om Hito mengangkat alis dengan tangan bersedekap dada" dengan status pacaran?"


" HAH?"


^^^jangan lupa kasih apresiasinya ya...^^^

__ADS_1


terima kasih masih mengikuti cerita ini


taufan kamilah, 16, Juni, 2021


__ADS_2