Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 13. pelindung


__ADS_3

sebelum Mumtaz berangkat bersama Sisilia. Rumah Mama Aida, pukul 03.30


" baiklah penghuni rumah mama Aida. untuk pengajian Al,Qur,an akan diadakan saat ini. karena guru besar kalian yang chuantik ini hari ini akan sibuk sampai malam nanti."


setelah semua penghuni duduk diatas sofa dengan lesu " Muy. kamu ngajarin Tia dulu ya baru ngaji sama kakak."


" hmmm." Mumtaz malas berdebat dipagi gulita . pengajian AlQur,an yang biasanya dilaksanakan sesudah shalat subuh, diganti masih waktu tahajud. tanpa halangan pengajian pagi dadakan berjalan baik. mereka enggan protes, karena hasilnya pasti nihil.


" ma. hari ini Ala berangkat jam setengah enam." beritahu kakak Ala.


" kenapa? giliran jadi satpam kampus pagi?" tebakan ngawur mama.


" sekarang ujian akhir. temen-temen pada pengen les tambahan. saat-saat kayak gini tu banyak proyek ma. jadi harus gercep."


" tapi pagi banget kak."


" itu keinginan mereka. kalo kakak mah ngikut aja." pasrah kakak Ala.


" kamu bukannya dapet beasiswa ya. kok kakak masih ngajar tambahan sih."


" emang? kok gak bilang?" tanya Mumtaz kaget.


" dasar perempuan pas susah seantero jagat tau semua. pas seneng diem-diem Bae." rutuk Zayin."


" kok beasiswanya diujung-ujung mau udahan kuliahnya. emang ada yang kayak gitu? tanya heran Tia.


" bisa aja. apasih yang gak ada di Indonesia? tanya sarkas kakak Ala.


maksudnya nanggung banget. kok gak dari dulu."


" kalo kakak mah dari kapanpun di Alhamdulillahin aja. "


" amiiiiiinn." ucap serempak. namun bagi Mumtaz dan Zayin itu mencurigakan


" Muy kamu anter kakak ya..." lebih mengarah ke perintah daripada minta tolong.


" iya! ma.tunggu disini jangan kemana-mana. selepas berkata itu Mumtaz pergi ke kamar. dan kembali keruang keluarga membawa koper besar yang mendapat tatapan horor dari penghuni.


membuka kopernya dan penghuni rumah ternganga takjub. isi dari koper itu uang lembaran seratus ribuan penuh dalam satu koper.


" HAH..A, gak habis ngerampok kan?"


" gak habis jadi gigolo kan""


" gak habis meras orang kaya kan."


Mumtaz memutar bola mata males mendengar sindiran ngawur dari mereka.


" gak lah. tampang baik gini." bela Mumtaz.


" terus duit ini dari mana? khawatir mama


" ma. sebenernya Aa sama temen-temen bikin usaha. nah usaha Aa dapat kontrak kerja sama perusahaan dari Eropa atau mana aja. hasilnya baru dikasih Jimmy ma ya...ini ni ma." sambil menepuk-nepuk koper super besar itu.


" A. si Jimmy itu gabut banget ya orangnya. masih sempet ngirim orang duit sekoper secara cash. hidup jaman apa dia?" tanya kakak Ala


" apa sih yang mau ditunjukin kak Jimmy pake acara alay gini? heran Zayin.


" katanya sih biar kerasa sultannya." jawab enteng Mumtaz.


" soumbong amat." ledek Tia.


" dek. Lo suka sama orang gak jelas gitu." sindir Zayin ke Tia.


" ya... mau gimana lagi." sekeluarga tahu kalo Tia sangat suka Jimmy. entah apa yang disukai dari orang kayak Jimmy. dulu kelas satu SMP pernah nyatain ke Jimmy, tapi ditolak. hal itu tak bikin tia jera. mungkin dikeluarga Mumtaz hanya Tia yang memilki sifat berterus terang tentang apapun yang terjadi dalam hidupnya.


" mama gak usah kerja payah lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga." Mumtaz menyerahkan koper tersebut ke mama Aida.


" A. ini semua mama yang pegang?" tanya mama yang diangguki Mumtaz.


"kenapa? gak Aa aja yang pegang sendiri."


" ribet. lagian mereka kalo mau apa-apa mintanya ke mama." tunjuknya ke kakak Ala, Zayin, dan Tia.


" iyalah. kalo minta ke Aa entar dimarahin lagi." cibir Tia.


Mumtaz diam menunduk " maaf. gak akan gitu lagi. janji." Mumtaz menyesali ulah dimasa lalunya.


" Weh bukan gitu. A. maksudnya..." Tia gak enak hati.


" jadi ma. pake duit ini semau mama. mama gak perlu capek-capek lagi. Aa kira duit ini untuk sementara cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah dan biaya pendidikan kita."


" wiiih.. ada dollarnya ma." teriak Tia yang mengagetkan yang lain. dengan memperlihatkan lembaran dollar.


" boleh buat S2 kakak gak Muy." harap kakak Ala


" terserah. emang kakak mau lanjut setelah lulus S1 ini?"


mengangguk kepala " niatnya pengen ngambil spesialis diluar. sayang otak jenius kalo cuma sampe sini." narsisnya kakak Ala


" Loh gak jadi ngambil spesialis kandungan kak?" tanya mama heran. karena sedari awal mama dan alm.ayah ingin kak Ala jadi dokter kandungan.


menggeleng kepala " maaf ma.... tapi kakak udah bikin kesepakatan sama temen kakak dia yang ngambil spesialis kandungan. dimasa depan kita bikin klinik bareng."


"terus mau ambil apa kak?" simak Zayin


" lagi mikir. pengennya ngambil spesialis yang sakitnya orang-orang kaya. supaya cepet kaya. cepet balik modal."


" hadeeuuuhh" ucapan ngawurnya disambut gelengan kepala oleh semua orang.


" tapi, A. gimana nabungnya. apa pihak bank gak bakalan berpikiran negatif kalo mama nabung bawa duit sebanyak ini?" keluh mama.


" iya....ya... nanti disangka danai ******* lagi.


" ishhh lagian kak Jimmy ada-ada aja. A, semua orang dapetnya cash kayak gini? tanya Zayin tak habis pikir. Mumtaz jawab mengangguk.


" Ia. lagi mikir. itu bank lagi cairin duit sebanyak gini dalam jumlah banyak gimana betenya ya." random ya si Tia ini.


" Daniel marah-marah waktu nerima duitnya. terus maksa Jimmy yang nabungin. Ibnu langsung bawa Jimmy ke banknya waktu mau nabung."


" hahaha.....hahaha..." mereka tertawa terbahak-bahak memikirkan dumelan teman-teman kakaknya atas ulah Jimmy.


" ya udah mama juga mau bawa Jimmy. jadi orang random banget sih tingkahnya." keluh mama.


" tapi A. boleh mama peruntukan duit ini buat masa depan kakak dan adik-adik kamu juga?" tanya mama hati-hati.


" urusan kegunaan duit ini Aa serahin ke mama." ucap Mumtaz.


" ma. bisa kali kita makan yang enak-enak sebelumnya. mensyukuri nikmat Allah ma." provokasi Zayin. memang dikepala Zayin itu kalo bukan matematika, fisika, kimia, ya....makanan.


" oke. kuylah weekend kita pesta seafood." ajak mama.


"asiiikkk. Tia mau undang temen-temen Tia ya. diantara kami cuma Ia yang belum pernah neraktir mereka."


" Ayin juga undang teman ayin. alasannya idem sama Tia."


" kakak juga. alasannya idem juga deh." males mikir kakak Ala itu.


" A. jangan lupa temen kamu juga ya. mama mau ucapin makasih."


" iya ma."


" terimakasih ya A. maaf mama jadi beban Aa." mama memegang tangannya Mumtaz.


Mumtaz memeluk mama " apa sih ma. ini udah seharusnya." pelukan itu diserbu oleh kakak Ala, Tia, dan Zayin.


******


" Mumtaz dipanggil Bu Irma." panggil Haikal teman sekelasnya.


Mumtaz yang tiduran diatas kursi bergerak males


" ada paan si Kal?"


" au." mengedikan bahu cuek


***


berita Mumtaz membonceng Sisilia menghebohkan satu sekolah. selepas putus dari Bella, hanya Tia perempuan yang dibonceng Mumtaz. karena hanya sedikit orang yang tahu hubungan sebenarnya antara Tia dan Mumtaz, jadi banyak orang mengira ada cinta segitiga antara Tia, Mumtaz, dan Sisilia. konyolnya mereka itu.


Sisilia sendiri risih jadi pembicaraan satu sekolahnya. tapi yaa.. mau gimana lagi.

__ADS_1


****


kantor guru


" Assalamualaikum." salam Mumtaz. ke para guru yang berada diruangan.


" wa, alaikumsalam. ada apa Mum." tanya pak Abun yang duduk santai dengan guru lainnya.


" katanya saya dipanggil Bu Irma pak."


"ooh. tu si ibunya" pak Abun menunjuk meja pojok.


" makasih pak." Mumtaz langsung menghampiri meja Bu Irma.


sasampainya dimeja Bu Irma ternyata bukan hanya Mumtaz yang dipanggil ternyata ada Bella juga disana. Mumtaz mengabaikannya


" maaf Bu. ada apa manggil saya?"tanya sopan Mumtaz.


Bu Irma menengadah melihat Mumtaz " ooh kamu udah ada. ini Mum, ibu mau menerima nya tolong, kamu sepulang sekolah bisa nganter Bella beli keperluan pensi?"


Mumtaz mengernyit heran. " kelas kami beda Bu. jadi saya gak punya kepentingan dengan pensi kelas Bella." jawab Mumtaz to the poin.


sebenarnya bu Irma sudah menyangka jika Mumtaz akan menolaknya, tapi dia tak bisa menolak permintaan keponakannya ini.


" sebentar aja. kasian Bella dari kemarin belum selesai juga tugasnya. anak kelas yang lainnya pada sibuk." alibi Bu Irma.


Mumtaz tahu itu hanya alasan asal saja. " maaf Bu saya tidak bisa."


" tidak bisa atau tidak mau." tanya bu Irma. sebenarnya dia ingin Bella berhenti ganggu Mumtaz. meski Bella keponakannya, tapi dia tidak setuju kalo Bella mau mendekati Mumtaz lagi.


semua perilaku tak menyenangkan Bella terhadap Mumtaz diketahui oleh para guru. Mumtaz meski terkesan murid biasa, tapi tak banyak yang tahu kalo dia adalah kebanggan sekolah.


" maaf. saya tidak bisa dan tidak mau." jawab tegas Mumtaz.


" walaupun sebentar saja?" sok menawar sekali ini Bu Irma.


" walau sebentar" Bu Irma melirik Bella yang duduk menunduk sedih didepannya.


sejak Mumtaz masuk, Bella mempersiapkan diri menghadapi ini, namun mendengar penolakan Mumtaz tetap saja sakit hatinya.


" ya sudah kamu bisa keluar. maaf ganggu waktu istirahat kamu"


" iya. saya pergi Bu" menunduk sedikit tubuh Mumtaz melangkah keluar ruangan guru.


sampai disofa tempat para guru istirahat, Mumtaz melihat beberapa guru mengacungkan jempolnya sebagai bentuk dukungannya.


" semangat. jangan sampai tergoda mantan. ingat mantan sama bahayanya dengan pelakor."


" kita semua dukung kamu dengan Sisilia. anak sepuluh kan. cantik, baik lagi orangnya. bapak do,akan kalian langgeng." bisik keras pak Abun. yang ditertawai oleh guru yang lain. Mumtaz hanya mampu tersenyum melihat kelakuan wali kelasnya.


ketika mengarah ke kelas Tia Mumtaz dipangggil Bella.


" mumtaz....Mumtaz..."panggilan keras dari belakang yang mengundang perhatian siswa-siswi yang dikoridor membuat Mumtaz. merutuk dalam hati. dia berharap dengan mengabaikan panggilan Bella, bella akan berhenti memanggilnya.


didepan kelas Tia " Mumtaz, berhenti." Bella masih bersikeras mendekati Mumtaz.


" ada apa?"


" kamu beneran gak bisa nganter aku?" tanya Bella melas. dia benar-benar berharap Mumtaz berubah pikiran.


" iya. gak mau. gw kira Lo bisa bedain antara gak bisa dengan gak mau." tanya sarkas Mumtaz


" Mumtaz, aku minta maaf atas semua perbuatan aku sama kamu dulu." mohon Bella


" udah gw maafin."


" jadi aku harap kamu bisa..."


" gak mau." sela Mumtaz cepat


perbincangan mereka mendapat perhatian sekitar anak kelas Tia. sehingga jadi tontonan.


" ada apa, A." Tia berdiri dihadapan Mumtaz datang dari dalam kelas.


" pulang sekolah bareng Aa. kata Ayin dia ada kerjaan sama temennya."


" ihh kebiasaan tu orang." kesel Tia.


" jadi karena dia kamu gak mau nganter aku?" tunjuk Bella kearah Tia.


Tia yang heran, tapi juga kesal dengan Bella " iya. kenapa emang. masih Lo pdkt sama Aa Mumuy gw"


" Mum. kamu gak bisa gitu sama aku." Bella emosi. mengabaikan Tia.


" kenapa gak bisa. siapa Lo.?" tantang Tia.menghadap bella


" Lo yang siapa?" bentak Bella yang kesel karena Tia berani melawannya.


" cih. katanya Lo mantannya Aa Mumuy. tapi siapa gw aja Lo gak tau. mantan macam apa Lo" sindir Tia telak.


Bella terdiam. dalam hati dia mengaku selama masih bersama dengan Mumtaz dia pacar yang buruk. dia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Mumtaz.


" gw tau dan semua orang juga tau dengan gak tau malunya Lo mau modusin Aa gw. kenapa hah? apa karena sekarang dia populer? jadi Lo mau sama Aa.? sarkas Tia menggebu.


geng Bella sudah berada dibelakang Bella menatap Tia dengan galak dan sok berkuasa


jengah dengan tingkah gengnya Bella, Tia mendekati mereka.


mengarah ke Tanura, " dia tau hubungan gw kayak apa sama Aa mumtaz. apa Lo gak dikasih tau sama dia bell. apa? Lo mau nyebut gw benalu lagi, hah. gw tau siapa lo, jadi siapa yang jadi benalu Hartadraja sebenarnya disini?" gertak Tia.


Tanura yang semula hendak menyerang Tia, terkejut sangat. dia ketakutan. tapi hanya sesaat. dengan cepat Tanura menormalkan mimik wajahnya. namun perubahan raut wajahnya uang sesaat terekam Tia. sedangkan Bella bingung dengan ucapan Tia yang mengatakan Tanura tau hubungan dia dengan Mumtaz.


" dan Lo Bellek. gw ingin Lo menjauh dari Aa Mumtaz. segala usaha Lo buat balikan sama dia gak akan berhasil. karena Aa cinta Sisilia. mereka sekarang pacaran." menganga kaget Bella menatap Mumtaz meminta kebenaran ucapan Tia.


Mumtaz menatap Tia jengah, sedangkan orang-orang sekitar terkejut tak percaya.


Tia yang ditatap Aa mumtaz meringis sesal. di sendiri tak menyangka akan mengatakan hal itu.


" Mum, itu bohong kan?" tanya sedih Bella.


" bukan urusannya Lo." jawab Mumtaz santai


" tapi aku cinta kamu" ungkap Bella yang mendapat sorakan cemooh dari murid-murid sekitar.


" bukan urusan gw." teganya Mumtaz. bagi Mumtaz urusan dengan Bella telah selesai. dia tak ingin memberi ruang sedikitpun berurusan kembali dengan Bella.


tangis Bella perlahan pecah " kenapa kamu berubah Mum. kamu dulu gak kaya gini. Lo tega Mum." Mumtaz diam tak menggubris. Bella berlari malu mendapat penolakan didepan umum.


sepeninggal Bella, Mumtaz memegang tangan Tia yang hendak masuk ke kelas.


ditatap Mumtaz yang menakutkan " he..he.. peace. A."mengangkat tangan membentuk simbol damai melepas pegangan Mumtaz ditangannya dan langsung menghilang kedalam kelas.


sementara Sisilia yang sedari tadi duduk di kursinya mendapat tatapan intens dari teman sekelasnya bingung.


****


istirahat kedua, seperti biasa sebelum ke kantin Mumtaz dan para sohib ke mushala guna shalat Dzuhur. begitupun dengan Tia dan teman-temannya.


selepas wudhu, Mumtaz yang hendak masuk mushala melihat Sisilia duduk di pelataran mushala sendiri. menghampiri.


berdiri disamping Sisilia " Sisilia gak shalat?"


kaget ada suara, menengadahkan kepala melihat Mumtaz, " gak kak. lagi halangan."


" ooh.. kenapa gak ke kantin duluan. ada yang musuhin Sisilia?"


menggeleng kepala "gak kak. cuma risih. gak tau kenapa pada liatin lia."


" masa sih. kamunya aja kali yang geer Sisilia." canda Mumtaz.


" iya kali ya...tapi enggak ah. emang iya mereka merhatiin Lia mulu." sungut lia mengerucutkan bibirnya.


melihat tingkah gemas Sisilia Mumtaz tertawa pelan " ya udah kakak shalat dulu ya. kalo ada yang musuhin Sisilia, Sisilia tau harus manggil siapa kan."


" iya makasih kak." Sisilia tersenyum.


interaksi antara mumtaz dan Sisilia ditonton secara sembunyi-sembunyi oleh teman-teman Sisilia dibalik tembok bagian dalam samping mushola. Dimata mereka interaksi tersebut sungguh romantis dan meng-uwu-kan. entah bagian mananya.


" sih kak Mumuy itu jadi laki bikin baper banget perhatiannya itu Lo. ditambah nada suaranya itu bikin kita jadi orang spesial banget. " Dista geregetan


" dih gak nyadar dirinya. woy waktu Lo berantem sama kak Tanura, kak Daniel juga ngelindungi Lo." ucap Cassy.

__ADS_1


" masa sih?" tanya tak percaya Dista.


" heeh. waktu gengnya mau bantu kak Tanu. dia ngehalangin kak Bella Sama yang lainnya."


" wiiih pangeran gw emang ter the best dah."


" eh ya, ada juga adegan dibaperin Sama kak Bara Lo " jail Dista melirik Cassy yang langsung salah tingkah.


" wih gw ngelewatin banyak cerita nih kayaknynya." sindir Tia kepada mereka berdua.


****


cafe' d'lima


Zahra terburu-buru buka pintu cafe'. dia sudah telat sekitar 10 menit.


" maaf telat. tadi angkotnya lelet kayak penganten pake kebaya." ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.


" iya dimaafkan. sana ganti baju. udah telat pake acara ngelamun lagi." pak Erwin ngedumel bercanda.


" dih niat bercanda tapi gak lucu. garing " ledek pelan Zahra beranjak pergi yang ternyata masih terdengar oleh pak Erwin.


" kamu..Zahra..."


" eheemm Er....." deheman om Hito memotong pak Erwin bicara.


mereka bertiga sedang duduk bagian depan dekat jendela cafe'.


" kalo boleh tahu. apa anda suka dengan karyawan saya pak Hito?" Erwin menumpukan tangannya diatas meja menghadap Hito.


" kenapa anda bicara seperti itu pak Erwin?" Hito mengikuti drama Erwin


" karena anda tidak pernah memperbolehkan saya menegur Zahra. sepertinya dia karyawan favorite anda pak Hito." pancing Erwin.


" jangan cemburu pak. tapi saya kira anda berlebihan. bukannya nona Zahra baru ini terlambat. dan anda sudah langsung kesal saja? baperan sekali anda dalam berbisnis."


" dih siapa yang marah dia telat, saya kesel karena dia menyebut saya garing."


" gorengan kali garing " celetuk Heru


" memang kenyataannya anda garing pak Erwin."


" heh iya sih.. Aishh gw kan lagi nyoba jadi cowok receh." Erwin merubah duduk dengan santai


" kenapa, lagi naksir cewek Lo? tanya Heru.


" kayaknya." memainkan gelas dengan satu tangan sambil menatap hito.


Hito yang ditatap memasang raut wajah horor menunjuk dirinya sendiri " gue?"


Erwin memutar bola mata malas " heh. bukanlah....gw kemarin ketemu Silvia. dia minta gw ketemuin dia Sama Lo." tiba-tiba suasana menegang seiring menegangnya raut wajah Hito.


" Aaaaaaaaaaa.....,." teriakan nyaring terdengar dari arah dapur. Hito yang mengenal suara itu dengan panik lari menghampiri.


ketika membuka pintu dapur Hito terkejut melihat Zahra membungkuk didepan pantry dengan lengan berdarah akibat sayatan panjang. didepannya seorang asisten koki wanita memegang pisau yang masih berdarah.


Hito memukul tangan itu keras dan mendorong asisten tersebut. menggendong Zahra didepan, dia melangkah keluar dapur yang berpapasan dengan Erwin.


" gw mau Lo tahan asisten itu." desis Hito geram kepada Erwin dan meneruskan langkah keluar.


mengingat siapa yang terluka dan dengan siapa dia berbisnis sekarang, Erwin merasa harus menelpon seseorang.


" hallo, Mumtaz... bisa ke cafe' sekarang..." menghela nafas berat firasatnya tidak enak mengenai hal ini


Heru yang paham situasi langsung membukakan pintu mobil bagian penumpang dan duduk didepan kemudi menuju rumah sakit.


******


rumah sakit terdekat cafe'


begitu mobil berhenti Hito langsung membawa Zahra. sepanjang koridor menuju UGD Hito berteriak memanggil tenaga medis.


Hito panik karena melihat Zahra yang meringis kesakitan dan lemah.


" dokter...dokter....cepat periksa gadis saya. " pinta Hito ketika melihat dokter dan perawat yang membawa brankar.


" om. aku gak apa-apa. jangan panik gitu." Zahra mengatakan kalimat itu dengan lemah. mencoba memegang lengan om Hito.


" gimana aku gak panik sayang. kami berdarah. sangat banyak. " lirih Hito. entah disadari atau tidak oleh Hito dan Zahra. kalau dia memanggil Zahra dengan sebutan sayang, yang pasti Heru yang setia menemaninya mendengar kata itu.


" maaf pak. bapak tunggu diluar dulu. biar kami bisa segera memeriksanya." perkataan suster menginterupsi saling pandang antara Hito dan Zahra.


Hito tidak tahu bagaiman perasaan dia terhadap Zahra, tapi melihat Zahra terluka hatinya bergemuruh ketakutan. menumpukan kedua tangan diatas paha Hito menutup mata dengan kedua tangannya membayangkan wajah pucat Zahra. sesal dalam hatinya karena tidak bisa melindungi Zahra.


Heru dengan diam memandangi Hito dalam kepanikan dan ketakutan atas kecelakaan yang menimpa Zahra.


****


kantor CEO cafe' D'lima


seorang wanita bernama vara berprofesi sebagai asisten koki yang baru bekerja sekitar dua bulan di cafe' d'lima duduk di kursi kerja beroda berukuran single dengan menundukkan kepala kedalam. bulir keringat bercucuran ke hampir seluruh badannya. duduk dengan perasaan takut, gelisah, dan menyesal.


dihadapanya telah duduk dengan raut wajah marah menakutkan seorang Mumtaz, jika dia tidak ditahan oleh teman-temannya dapat dipastikan vara sudah terluka parah.


belum lagi tatapan mengintimidasi lawan dari Bara, Ibnu, Daniel, Jimmy, dan Zayin.


sejak mendapat telpon dari om Erwin dan mendengar lebih lanjut apa yang terjadi, Mumtaz marah besar. dia hampir menghajar vara, jika pukulannya tidak ditahan Jimmy.


pak Erwin sudah sekian kalinya mengecek jam tangan dan hpnya secara bergantian berharap ada kabar Hito segera datang. sungguh dia tak tahan menilik situasi yang ada dikantornya.


brak....


suara pintu terbuka keras dengan emosi. tatapan menghunus Hito langsung ditujukan kepada wanita itu.


menghela nafas lega pak Erwin menyambut kedatangan Hito " selamat datang bro. oke kita langsung sidang saja ya."


Ibnu langsung menyalakan tv yang memperlihatkan rekaman penyayatan terhadap kak Zahra.


Hito emosi marah tertahan " katakan dengan jujur apa alasan kau melakukannya."


"... sa..sa..( brak..gebrakan meja kesal)…saya..ti..tidak seng..sengaja..maaf." lirih ketakutan vara.


" aaaaaa...." jeritan terkejut dari Vara yang kursinya ditendang keras oleh Mumtaz.


" saya tau kamu bohong. kalo kau masih berminat untuk bohong saya pastikan bukan hanya kau yang hidup menderita tapi ayahmu yang sedang sakit dan ibumu yang bekerja sebagai ART dan adik tercintamu menderita juga." ucap Mumtaz pelan namun penuh tekad.


vara kaget atas informasi yang diketahui Mumtaz tentang keluarganya.


kekagetan itu bukan saja dirasakan oleh vara saja. tapi juga Hito, Erwin dan Heru.


Mumtaz berjalan mendekati kursi itu, om Erwin ingin mendekat, namun ditahan oleh Daniel dengan menggelengkan kepala. om Erwin pun mengurungkan niatnya.


" berdiri mengintimidasi dengan bahasa tubuhnya " katakan dengan jujur vara."


benafas dalam takut dibawah ancaman ," saya diperintah oleh Ny. Amara tuan." akhirnya terucap dengan pelan.


" dia katakan alasannya?"dijawab cepat dengan gelengan kepala.


" baiklah vara. nasib karir mu akan segera diberitahukan. sekarang kamu boleh pulang." titah pak Erwin cepat. bagaimanapun dia belum tega melihat wanita terluka oleh lelaki.


berdiri pelan dengan kaki bergetar akibat ketakutan " terimakasih dan maaf." dengan sisa tenaga dia segera keluar ruangan.


" kalo anda ingin memecat dia. saya akan mengambilnya." ucap Bara tegas. membuat


Erwin, Hito, dan Heru mengangkat alis bertanya.


" kami biasanya memelihara orang yang berpotensi menjadi musuh. sampai kami menemukan bukti yang menentukan posisi pasti orang tersebut " lanjut Bara.


menganggukan kepala paham " hmm. kalo begitu kami akan pertahankan dia dengan potongan gaji 65 %. " ucap Hito yang disetujui oleh Erwin.


" yang menjadi penasaran saya adalah mengapa Amara mengincar zahra?"


semua orang-orang dalam ruangan saling lempar pandang.


" apakah ini ada sangkutannya dengan kecelakaan Tanura disekolah beberapa waktu lalu?" selama berbicara pandangan Hito mengarah lurus kepada Mumtaz yang dibalas penuh oleh Mumtaz.


" saya tidak yakin dengan maksud anda tuan Hito., tapi ingin saya tegaskan jika ada yang ingin melukai kak Zahra, maka dia berurusan dengan Atma Madina." kata-kata formal dari Bara menyadarkan bahwa kondisi saat ini serius.


"bisa jelaskan tuan Bara, apa maksud anda?" tanya Heru hati-hati.


" kak Zahra adalah kakak dari Mumtaz, orang-orang yang dilindungi oleh Mumtaz, maka dia juga berada dibawah perlindungan Atma Madina." terkejut itulah reaksi Hito, Erwin, dan Heru atas ucapan Bara.

__ADS_1


merubah posisi tubuh condong kedepan guna mengintimidasi " kesimpulannya siapapun yang mengusik keluarga Mumtaz, dia akan melawan langsung dengan seorang Atma Madina. " janji Bara valid.


__ADS_2