Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
158. Kebahagiaan Hito dan Zahra.


__ADS_3

" Terima kasih, terima kasih..." Ucapan rasa syukur saling bersahutan dari mulut Bara dan Daniel diiringi senyum sumringah atas ucapan Elena.


Mereka merasa bahagia Mumtaz tidak harus merasakan kesedihan karena berpisah dari Sisilia, mereka tahu betapa sahabatnya itu sangat mencintai kekasihnya.


Raut kesal dan bersalah sering kali terpasang di wajahnya saat mereka ada urusan mendesak dan mendadak padahal dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Sisilia meski hanya sekedar menjemput atau mengantarnya.


Sementara Ibnu termenung membeku, dia mengalami Dejavu di situasi menegangkan dalam rasa kecemasan bercampur ketakutan yang tadi menghinggapinya. Duduk bersimpuh sempurna memohon belas kasih dengan jantung berdegup kencang mengharap sesuatu.


Dia yakin dia pernah mengalami situasi seperti ini di masa lalunya, duduk bersama seseorang yang samar melintas diingatannya, tapi entah kapan, dan di mana?.


" Terima kasih, terima kasih tuan. Kami janji kami tidak akan memberitahu yang lain, kami akan tutup mulut." Ucap orang tersebut, sementara dirinya sudah gemetar ketakutan.


Suara tawa senang dari Alfaska disusul yang lain memenuhi ruangan, Ibnu menggelengkan kepala mengusir bayangan tawa mengerikan dari orang dewasa tinggi yang berdiri di depan mereka yang memegangi seseorang.


" Hahahaha, bagus, tetapi sayangnya saya tidak peduli karena ayahmu harus mati." Ibnu tersentak wajah ayahnya yang disandera tertampak menghalangi wajah pria di belakanganya.


Tiba-tiba gerakan cepat pisau terangkat mengarah ke tubuhnya.


Jleb.....


Pisau itu, yang seharusnya menusuk perut ayahnya malah menusuk orang yang berlari mendorong ayahnya.


Wajah Ibnu memucat pias, tubuhnya gemetaran.


" Tidaakkk...." Teriak pemuda yang gemetaran itu.


" TIDAAAAKKKK..." jerit Ibnu ketika bayangan mengerikan itu menghiasi pikirannya.


Mereka tersentak, kemudian terkejut melihat Ibnu histeris dengan wajah penuh penderitaan diiiringi air mata yang bercucuran deras, tubuhnya gemetaran hebat.


" Inu..." Panggil Daniel pelan.


" TIDAAAKKK... MUMTAAAZZZZ..." Kepalanya terhentak bagai ada bogam yang memukulnya, Matanya membola besar dengan kesadaran akan sesuatu yang baru menghinggapinya, kemudian ia terjatuh tidak sadarkan diri ke atas pangkuan Daniel.


" Kyaaa...Ibnu...bangun...." Pekik Elena mendekati Ibnu yang menutup matanya.


" Inu,...."


" Inu,..."


" Inu,...." Panggil para sahabatnya berbarengan yang langsung menggerumuninya.


" Ada apa?" Tanya Aryan dari ambang pintu dengan banyak orang.


" Aku gak tahu, Pi. Dia tiba-tiba menjerit lalu pingsan." Jawab Alfaska panik.


Bara menempelkan punggung tangan ke keningnya." Badannya panas, kita bawa dia ke rumah sakit."


Damian, Akbar, dan Fatih bersama mengangkat tubuh Ibnu membawanya ke rumah sakit, diikuti oleh semuanya.


Saking paniknya iringan mobil mewah di bawah guyuran hujan keluar dari rumah Pradapta berjalan bagai konvoi membuat pengendara lain bertanya-tanya siapa orang penting yang melewati Jalan lengang tanpa satupun kendaraan yang melintasi sepanjang menuju ke rumah sakit lepas dari pengamatan mereka.


" Bang, bertahanlah." Gumam Dewa di balik komputernya.


" Wa, gawat. Medsos sedang ramai tentang bang Mumtaz." Dimas menggeser kursi kerjanya langsung berseliweran di komputer guna menghentikan berita yang sudah tersebar selama 10 menit terakhir.


******


Langit berubah gelap, hujan masih betah membasahi bumi Zahra belum juga ditemukan membuat Hito sangat frustasi.


Tidak peduli dengan hujan yang deras seharian ini dia bekeliling Jakarta mencari Zahra setelah menonton video dari Mumtaz, namun hasilnya nihil.


Ia bolak-balik di ruang tamu apartemennya, lalu mengacak rambutnya kesal menunggu kabar dari Leon. Pasca Mumtaz mengirim video itu dia menarik Leon dari rumah sakit untuk dimintai keterangan. Kemudian ditugasi mengepalai pencarian Zahra.


Kalau bukan desakan dan perintah para petinggi Gaunzaga agar dirinya stay di apartemen dia enggan mengurung diri di sini, sementara Zahra belum juga ditemukan.


Derrt....derrttt....


Ting..tong....


Sambil menjawab panggilan dari Leon ia melangkahkan kaki ke pintu yang terus ditekan bel-nya di entah siapa, yang pasti siapapun di depan pintunya sekarang dia akan menolak dikunjungi.


" Hallo, sebaiknya kau memberi kabar bahagia, Leon."


" Zahra telah ditemukan, sekarang beliau..."


Ceklek...


Hito membeku, matanya memandang lurus wanita yang dicintai sepenuh hatinya yang berdiri dengan senyuman yang sudah lama tidak diberikan padanya, walau senyum itu merupakan bukan rekahan bibir yang terbaik darinya.


" Ada di sini, di depan saya." Ucapnya pelan, lalu menutup panggilan tersebut.


" Ha...hai." Zahra melambaikan tangannya pelan.


Grep!!!


Hito memeluk tubuh Zahra menyelubunginya erat dengan tubuhnya yang bergetar karena emosi mengabaikan pakaian Zahra yang basah kuyup.


Untuk beberapa lama tidak ada kata yang terucap dari keduanya, mereka hanya ingin menikmati momen kehadiran orang terkasihnya.


" Jika aku ada salah maafkan aku, tapi please jangan siksa aku dengan menghilang lagi." Lirih Hito dibalik pelukannya, Zahra menggeleng.


" Kamu tidak tahu aku diserang kepanikan maha dahsyat kala Mumtaz mengatakan kamu hilang, kalau bukan Heru yang mencegahku untuk pergi, mungkin saat ini aku masih diluar sana entah sampai mana hanya untuk mencarimu."


" Maaf!" Ucap Zahra pelan, Hito pun membalas dengan menggeleng.


" Lepas, aku basah." 


Hito menggeleng," Tidak, nanti kamu pergi lagi. Aku akan terus memelukmu sampai kamu janji tidak akan pergi lagi."


Hito merasakan sedikit keraguan dari bahasa tubuh Zahra yang menyembunyikan wajahnya di dada kekasihnya, walau kemudian ia menggeleng," enggak, aku tidak akan pergi lagi." Ucapnya tidak yakin.


Hito mengurai pelukannya, tapi tidak melepas genggaman tangannya di tangan Zahra.


" Ayok, masuk."Kedua tangan dari sepasang kekasih itu masih tertaut.


Ruang tamu yang diterangi cahaya dari beberapa lampu kecil membuat ruangan tidak begitu terang meski tidak temaram cukup untuk membangun suasana hangat.


 Hito dapat merasakan kegugupan kekasihnya, entah karena apa. Ingin ia bertanya namun takut merusak momen akrab diantara mereka. Momen yang sempat hilang akibat tragedi penculikan itu..


Mereka berdiri di tengah ruangan, di depan sofa panjang berwarna tulang. Zahra memaksa menarik tangannya dari genggaman Hito, ada rasa kecewa menyentil harinya.


" Duduklah, sayang." tutur Hito menutupi perasaannya, dia tidak ingin Zahra tidak merasa nyaman.


Zahra menggeleng," basah."


" Tidak mengapa." Namun Zahra tetap menolak.


Kegelisahan itu semakin kentara, Hito semakin mencemaskannya. Dia melirik kedua tangan Zahra yang saling memilin karena gugup, rautnya menegang.

__ADS_1


Hito memegang lengan atas Zahra, kemudian mengusapnya." Ara, ada apa?" Matanya menatap lurus manik kekasihnya, Zahra menggeleng.


" Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Lagi, Zahra menggeleng.


Bibir pucat, tubuh gemetar, pakaian basah yang menahan Hito bertanya lebih lanjut.


" Relax, aku mengambil minuman hangat dulu."


" Kamu tahu sayang, jangan pernah pergi..."


Sewaktu berjalan ke dapur Hito terus mengajak Zahra bicara meski tidak mendapat tanggapan dari sang lawan.


Selepas Hito tidak terlihat, Zahra meraup udara sebanyak mungkin, ia mencoba bersikap santai, namun tidak mampu, kemudian ia menghembuskanya.


Perkataan Sandra kembali terngiang, yang seketika rasa kekhawatiran, kecemasan akan masa depannya kembali menyerangnya.


Ketidakpercayaan dirinya kembali menyeruak, hari ini insecure datang pergi menghantui jiwanya, antara logika dan perasaan terus berperang untuk ia mengambil sikap.


Perlahan ia buka pengait jilbabnya, kemudian dengan tangan gemetar melepas jilbabnya, Jilbab itu secwra perlahan luruh menjauh dari kepalanya yang berakhir teronggok di lantai.


Ikat rambut yang sudah merenggang turut jatuh ke lantai membiarkan rambutnya yang sepunggung bebas terurai.


Dalam hati ia meminta ampunan pada Tuhan akan dosa yang sedang dia lakukan, tetapi ia harus memastikan sesuatu.


Seakan kesadarannya melayang entah kemana, tangan itu terus bergerak. Kini menuju  ke kemeja flanelnya.


Dengan gerak melambat, tangan gemetar itu membuka kancing satu persatu hingga kemeja itu bergabung dengan kerudungnya di lantai.


Kini ia hanya dibalut tank top, suara Hito bagai musik pengiring bagi perbuatannya, matanya memejam erat sebelum tangan itu meraih ujung kainnya lalu menarik ke atas meloloskanya dari kepala, kemudian terlepas dari tubuhnya.


Hawa dingin dari AC mengenai tubuhnya yang basah. Kini tinggal br4 dan celana panjangnya yang masih melekat menutupi benda berharganya.


Saking fokus akan tindakannya Zahra tidak menyadari jika Hito berhenti berbicara.


Prang...


Suara pecah dari gelas terlepas dari pegangan tangan Hito yang berdiri di erea penghubung membuat kepala Zahra tersentak.


Hito berdiri mematung, pupil matanya membesar tidak bergerak dari tubuh terbuka kekasihnya. Ia terkejut, entah ada apa dengan kekasihnya, tetapi dari wajahnya yang nelangsa ia bisa tahu Zahra dalam keadaan dititik terendahnya.


Pandangannya bersirobok dengan netra milik Zahra yang memancarkan kegelapan di dalamnya. Untuk waktu yang lam mereka hanya saling pandang.


" Ara..."


" Aku ingn kamu melihat kecacatan dari tubuhku, sehingga kamu tidak lagi mengatakan pernikahan yang semu itu." Suara tidak bergairah itu menyakiti hati Hito.


Dengan tidak melepas tatapannya Hito melangkah mendekatinya, matanya memindai Zahra dari atas lalu leher, kemudian pundak, saat di area dada nafas Hito tercekat, ia berusaha keras tidak kehilangan akal sehatnya.


Dengan cepat pandangan itu mengarah ke perut terus kebawah, tarikan nafas mengisi ruangan yang hening itu.


Di sana, dibawah pusarnya terdapat bekas luka panjang yang memudar.


" I..ini kenapa?"


" Sayatan dari pisau serangan Tanura dulu."


Hito mengerang, gerahamnya saling beradu hingga menimbulkan bunyi.


Zahra berbalik, menghadirkan punggung yang juga terdapat bekas luka yang sama yang lebih baru yang ini lebih panjang sepanjang punggungnya.


Hito meringis," i...ini?"


" Hasil waktu yang saat aku dan Tante Sandra dan kak Edel keluar dari ruangan belakang."


Tubuhnya meremang sekaligus gemetar saat Hito dengan lembutnya mengecupi tengkuk lalu merembet ke sepanjang garis luka itu.


Dengan hati-hati dia membalikkan tubuh Zahra, kemudian Hito berlutut dengan kedua tangan memegang pinggang kekasihnya yang gemetar, kembali ia layangkan kecupan itu di tempat luka yang lain.


Tangan besar agak kasar Hito di kulitnya melahirkan getaran asing lain yang baru dikenal Zahra, tetapi sebagai seorang dokter dia tahu apa rasa itu.


Rasa yang membuatnya semakin gemetar karena ketakutannya akan dosa yang lain jika pertahanan tirinya runtuh.


Kecupan di luka bawah pusarnya tak pelak memancing dia menarik nafas tertahan, kelembaban kulit kenyal kekasihnya yang memberikan sentuhan lembut dan syahdu menawarkan pemujaan mengoyak rasa rendah hatinya.


Kecup4an itu terus merambat naik sejengkal demi sejengkal sesuai luka yang ada.


Semakin ke atas mendekati d4d4 mata Hito sengaja dipejamkan dia tidak ingin khilaf, tangan Zahra meremas kain celana panjangnya erat.


Kecup4n itu dilanjut ke bagian kedua lengannya yang mendapat rasa sayang secara adil darinya, terus naik ke leher yang tepat di ceruknya luka kecil, di sana bibir Hito lama menyentuhnya, menyerap harum sambil menata hatinya yang bergejolak.


Proses sayang itu berlanjut ke rahang meski tidak ada luka, Hito tetap mengecupnya, ia diambang batas pertahanannya.


Tidak ada akta yang menyertai gerakan itu, mereka berdua ingin menikmati penerimaan satu sama lain


Kini kedua tangan besarnya membingkai wajah Zahra yang masih pucat, ia kecup pelipisnya yang ternyata ada bekas luka lain yang memudar, terus ke mata, hidung, dan pipi.


Tangan Hito mengusap bekas air mata di pipi Zahra, perlahan mata Zahra terbuka. Hito sedang menatapnya sambil tersenyum manis tipis padanya.


Senyum yang meneduhkan, dalam netra cokelat itu hanya memancarkan rasa cinta, sayang, bangga, dan memuja pancaran yang sama yang Zahra lihat setiap Hito memandanginya.


Jari jempolnya mengelus bibir bawah Zahra." Yang ini...boleh?" Pintanya menunjukan kepada kekasihnya kalau dia masih menginginkan dirinya setelah apa yang dia lihat.


Zahra langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya. Hito tersenyum senang, ia mengecup kepala Zahra.


Satu tangan kanannya menarik sarapes, selimut tenun khas meksiko yang tersampir di kepala sofa panjangnya menutupi tubuh Zahra yang cukup menutup kepalanya hingga pinggang Zahra.


" Ara, lihat aku." Zahra menggeleng.


Hito dapat merasakan kemejanya basah, Zahra menangis lagi yang dia pastinya untuk kesekian kalinya.


Hito melingkarkan tangannya mengukung seluruh tubuh Zahra.


" Seharian ini aku merana memikirkan dirimu, aku tidak ingin pisah, namun aku sadar aku tidak pantas untukmu."


" Aku sudah tahu aku tidak pantas untukmu, tetapi mendengar langsung dari orang lain akan ketidaksempurnaan ku itu menyakitkan. Tidak sebanding dengan semua luka yang kamu lihat. Luka itu menusuk sanubari ku. Sungguh-sunguh membekas perihnya."


" Sepanjang mengenal Afa, kami tidak sering bertemu. Aku hanya sering mendengar namanya dai mulut Afa yang sangat menyayanginya, merindukannya, bahkan kecewa padanya."


Zahra mengangkatnya wajahnya menatap Hito," apa salah kami menjadikan Afa bagian dari kami karena dia tidak menghiraukannya. Kami tidak tega melepasnya disaat dia sering menangis memanggil nama ibunya yang tak kunjung datang, bermimpi buruk karena tragedi itu, bahkan beberapa kali dia mencoba mengakhiri hidupnya karena putus asa kecewa menerima kenyataan Ibunya lebih mementingkan pakaian itu daripada dirinya."


" Demi Tuhan kami sangat menyayanginya, kami tidak pernah berpikir untuk memanfaatkannya demi keuntungan pribadi. Rasa sayang yang dibutuhkan Afa yang tidak diberikan oleh Ibunya.


Hito tidak menyela curahan hati kekasihnya, dia hanya mengusap pipinya karena air mata. Bagi Hito itu yang terbaik untuk Zahra.


" Kenapa dia sangat membenciku? Membenci kami, memandang kami begitu rendah. Kami memang tidak kaya, tapi kami juga tidak hina kan?bahkan kami merelakan masa muda Tia untuk dipinang olehnya karena kami tahu dia tidak sekuat yang orang lihat."


" Tuan muda Atma Madina itu tidak bisa sendiri, dia tidak mau kesepian dan tidak boleh kesepian karena itu akan mengancam nyawanya, dan Tia adalah obatnya. Bakan Sandra tidak tahu tentang itu."


" Kami yang selalu memaksanya untuk tidak membenci ibunya yang telah melupakannya, kami yang memberinya kasih sayang keluarga disaat ibunya sibuk. Jadi mengapa dia menghinaku? Menyumpahiku? Aku tahu aku tidak semestinya mencintaimu tapi tidak semestinya dia merendahkan ku, Hmmmmph...." Histeris Zahra langsung dibungkam dengan ciuman ganas dari Hito yang membenci saat Zahra meragukan kualitas dirinya.

__ADS_1


Hito menarik tengkuk Zahra agar lebih tertarik padanya, memperdalam lvm4tannya dengan bib1r yang terus bergerak menyalurkan segala rasanya. 


Hito Sangat ingin Zahra memahami arti dirinya baginya.


Dia marah, murka kepada Sandra. Andai wanita itu bukan seorang Atma Madina, hari ini juga, bahkan saat ini juga dia akan menghabisinya tidak peduli dia seorang wanita, dan juga seorang ibu.


Cium4n itu tidak menyimpan nafsu, dia hanya ingin kekasihnya tahu bahwa dirinya masih sama berharganya seperti kemarin, dan selalu berharga, dia masih menginginkannya, dan akan terus mendambakannya.


Cinta ini sudah menguasai jiwa dan raganya, tidak bisa ditawar lagi.


Sesudahnya nafas keduanya terengah saling berlomba menghirup udara.


Hito mengadukan kening keduanya, hingga hidung mereka saling menempel.


" Kau cantik, apa yang ada dirimu selalu cantik. Aku mencintaimu, hanya aku yang harus kamu dengar."


Tangan Hito memegang rahang Zahra memaksa mata mereka saling tatap.


" Lihat aku," Zahra mengelak ke samping yang langsung ditolak Hito yang mengembalikan tatapan mereka kembali bertemu.


" Lihat aku, kalau kamu enggan melakukanya urusan ini tidak akan selesai." Paksa Hito.


Mau tidak mau Zahra menatap Hito dengan tatapan sendu, Hito mengusap matanya membuat mata itu terpejam seakan mengusir kesedihan itu lalu terbuka kembali.


Hito membuka kemeja serta kaosnya, terpampang beberapa bekas luka seperti Zahra di bagian pundak, punggung dan beberapa di tangan.


Terdengar tarikan nafas kaget dari Zahra yang menutup mulutnya karena terkejut.


" Aku tidak sesempurna yang kamu kira, apa kamu akan meninggalkan aku?" tanya Hito hati-hati ada rasa kekhawatiran itu terjadi.


senyumnya tersungging saat Zahra menggeleng," ini... Bagaimana kamu gak mendapatkannya?"


Hito mengedikan bahunya santai." satu atau dua kegiatanku dengan Gaunzaga."


" Jadi, kalau kamu meras dirimu cacat, begitupun dengan ku.tap akua yang tidak sempurna ini egois masih ingin memilikimu tanpa berpikir mungkin kamu jijik padaku."


" Tentu saja aku tidak jijik." ucap Zahra cepat.


" Begitupun aku, sayang. kita berdua berarti lebih dari hanya sekedar kesempurnaan fisik.


" Kya..."


Tiba-tiba Hito menarik dan mendudukan Zahra di atas sofa panjang, Zahra memperbaiki sarapes yang sedikit melorot hingga memperlihatkan rambutnya akibat dari tarikan tersebut.


Kini Zahra menyadari k3telanjangannya, rasa malu dan tidak nyaman langsung menghantuinya.


Hito yang berjongkok di depannya yang menyadari itu tersenyum kecil," baru malu, hmm. Aku dari tadi menahan hasratku." Tangan besarnya mengelus lengan Zahra lewat kain sarapes.


" Sebaiknya aku pulang." Hito mencegah saat Zahra hendak beranjak.


" Maaf, aku gak akan menggoda kamu lagi."


" Bukan begitu ini sudah malam, aku harus pulang."


" Karena ini malam aku gak akan mengizinkan kamu pulang."


" Tapi..."


" Ara, lihat aku." Remasan  Hito ditanganya membuat Zahra tidak berkutik, ia menatap Hito.


 Hito mengeluarkan kotak kecil yang menyimpan cincin cantik bertahtakan berlian berwarna navy berbentuk oval.


Saat hendak memasangkan di jari manisnya Zahra menolak. Hito menatapnya dengan tatapan sedih.


" Kan sudah ada." Zahra mengangkat jarinya yang memang sudah tersemat cincin Berlin putih di sana.


" Kamu memakainya." Zahra mengangguk.


Hito tersenyum, tetapi ia mengambil tangan yang lain lalu memasang cincin itu di jari manisnya.


" Cincin ini lebih mahal, aku tidak berniat sombong, tapi kamu harus tahu bagiku kamu berarti. Aku mencintaimu, sangat sangat mencintai mu. simpan itu dalam pikiranmu, jadi apapun yang dikatakan orang tentangmu abaikan. Hmm." Zahra mengangguk.


Ia tertunduk malu," terima kasih."


Hito menggeleng walau Zahra tidak melihatnya." Aku yang berterima kasih kamu mau bersamaku setelah kehilangan banyak yang aku buat untuk kalian." Ucapnya sendu.


Tangan kiri Zahra mengusap wajah Hito." Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya." Karena Zahra tidak ingin berlarut dalam rasa kesedihan karena kepergian orang tuanya.


Hito mengelus tangan itu lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya. " Aulia Zahratul Kamilah, kamu sudah memakai cincinku. kamu harus mau menikah denganku!?"


Zahra terkejut, kemudian ia tersenyum haru.


" Kamu tidak membenciku." Hito menggeleng.


" Kamu tidak jijik padaku."


" Tidak akan, kamu cantik. Jadi..."


" Aku mau, kamu jangan menyesalinya.


Hito tertawa senang, rasa senang untuk pertama kalinya sejak beberapa hari yang lalu." Terim kasih, dan Tidak akan menyesal." Hito mengecup punggung tangan kekasihnya. 


Melihat wajah Zahra yang cantik polos tanpa makeup menggodanya ingin menerjangnya.


" Ini,...boleh?" tunjuknya pada bibir Zahra.


Zahra menjauhkan diri dari Hito." tidak, dan jangan membujuk atau ku tendang junior mu."


" Tapi..."


" Jangan bilang itu hal biasa, ini aja aku dari tadi istighfar mulu. aku peringatkan untuk tidak terus membujuk."


Ia mengerang," Ara, kita harus segera menikah. Aku tidak tahan lagi ingin membawamu ke dalam diriku."


Zahra menarik tangannya karena takut." Aku...pulang."


Hito terkekeh karena ketakutannya," kamu istirahat di sini, aku janji akan melindungi mu. Aku siapkan air hangat dan segala keperluanmu." Sebelum beranjak dia mengecup kepala Zahra.


Meninggalkan Zahra tersenyum sendiri di ruang tamu.


Dominiaz, Samudera, dan Hito yang mendengar obrolan mereka sejak Zahra ditemukan lewat earphone yang menghack ruangan Hito hanya mengulum senyum turut berbahagia untuk sahabatnya itu.


Heru menutup visualnya ketika melihat Zahra membuka kerudungnya, dia tidak ingin sahabatnya melanggar privasi tetangga berharganya.


" Kau terlambat, Domin." Seru Samudera yang mendapat decakan dari Dominiaz.


" Dan kau akan merasakannya kalau masih membiarkan Zahira menjauh darimu." Ledek Dominiaz.


Heru terkekeh geli." Perempuan itu harus langsung dinikahi bukan diPHP-kan saja." Sarkasnya untuk kedua sahabatnya yang terlalu bersikap santai untuk mengikat wanitanya.

__ADS_1


Maaf ya..kalau gak dapet feel-nya...


jangan lewatkan komen, like, n vote hadiah aku terima...see you


__ADS_2