
Ibnu berdiri menghadap para audiens memegang pen remote dengan menampilkan gambar dan riwayat Tamara yang terpampang di layar.
" Tamara Brotosedjo adalah Tanura Aloya, anak kandung dari Amara Ardinasti dengan Rudi Aloya, mereka tidak menikah. Menurut catatan kependudukan, sebelum bernama Tamara Brotosedjo dia bernama Tanura Hartadraja putri dari pasangan Damar Hartadraja dengan Amara Anastasya yang ternyata palsu, atas pemalsuan itu, Tanura dicoret dari klan Hartadraja." Buka Ibnu.
Semua orang terbelalak terkejut.
" Jadi dia tidak mati." Gumam Fatio.
" Dia diselamatkan oleh anak buah Brotosedjo, lalu melakukan operasi plastik total hingga wajahnya berubah."
Ibnu menampilkan gambar Tamara sebelum operasi yang berwajah Tanura, dan gambar Tamara yang sekarang.
" Bram Brotosedjo menikah siri dengan Naura, adik dari Amara. Pernikahan ini tidak pernah terdaftar karena ditolak oleh Riska Irawan selaku istri sah Bram. Namun Riska tidak bisa menolak ketika Bram memasukan Tamara kedalam kartu keluarga mereka karena ancamannya akan membunuh Rendra, putra semata wayang Riska. Jadi untuk kepentingan administrasi publik dia bernama Tamara Brotosedjo." Ibnu menjeda memastikan para audiens paham akan laporannya.
" Lanjut." Seru Damar dingin.
" Tamara memiliki dua obsesi dalam hidupnya yaitu memiliki Bara Atma Madina, dan menghancurkan Hartadraja." Ucapnya melirik Bara.
" Sejak SMA dia getol mendekati Bara bahkan karena dia satu-satunya lelaki yang tidak jatuh pada selangk*ngannya. type Bara kan yang kenyal mirip squisy seperti Cassandra." Intermezo Ibnu yang mendapat kekehan dari audiens lain, tapi tidak dari Bara.
" Kemungkinan dia menyerang Cassy karena ingin menyingkirkan Cassy untuk memiliki Bara sekaligus memberi goncangan kesedihan bagi Hartadraja."
" Kenapa menyerang yang lainnya juga?" Tanya Akbar.
" Mereka itu satu paket, kalian jangan lupa kalau merekalah yang berani meladeni geng Tanura yang terdiri dari indah, Merry, dan Bella, mantannya Mumtaz."
" Gak usah singgung kata mantannya juga kali, Nu." Keluh Mumtaz.
Ibnu terkekeh jail," Kenapa? Takut? di sini ada camer sama cakar?" Tanya balik Ibnu melirik Dominiaz dan Gama yang tertawa geli.
" Waktu SMA, jika salah satu bocil itu diganggu geng Tanura, maka mereka serempak melawannya yang biasanya dimenangkan oleh para bocil karena mereka punya kemampuan bela diri. Ya,.. walaupun kerjaan Cassy hanya menarik dan menduduki badan musuhnya karena badannya yang paling 'sejahtera' dibanding yang lain."
" Hahahaha..." Semuanya tertawa terbahak mendengar kalimat terakhir Ibnu."
" Gak usah dibahas bagian itunya." Omel Bara.
" Justru itu bagian serunya, Lo ingat gak Niel, waktu si Indah mangap-mangap kayak ikan terdampar pas didudukin si Cassy? Sementara si Cassy santai aja gitu dengan cemilannya." Tanya Ibnu meminta dukungan Daniel.
"Hooh." Daniel terkekeh geli mengingat wajah merah Indah.
" Fitnah Lo, Cassy gue tuh lembut, pemalu. Mana mungkin kayak begitu." Bela Bara yang menolak aib Cassandra-nya diumbar
" Tahu apa loh, waktu itu Lo kan sibuk sama selir-selir Lo." Ungkap Ibnu sengit.
" Lo yang playboy."
" Dih, playing victif . Mana ada, gue mah adem gak ada skandal." Ibnu membela diri sendiri.
" Gimana mau ada skandal belum terjadi aja pawang merah putihnya udah ngamok." Celetuk Alfaska.
Ayah Teddy tertawa kecil.
" Merah putih?" Tanya Dominiaz
" Hooh, merah putih itu seragam tingkat apa, Bang? tanya Alfaska.
" SD."
" Itu, pawangnya ibnu masih SD, kurus, ompong tengah, dekil, tapi gualaknya minta ampun." Terang Daniel tanpa merasa bersalah telah membongkar aib adiknya sendiri.
" Heh, jaga mulut Lo. Lo juga bantu dia." Tuding Ibnu
" Ya lumayan, sekali info gopek rebu." Dalih Daniel.
" Kasian Lo Nu, gak ada kisah cinta di putih abu-abu." Alfaska menggeleng-gelengkan kepala.
" Kayak situ ada aja. Pawang Lo juga SMP mana bar-bar lagi."
" Mending dia mah SMP, Lo masih SD, ompong pula." Ledek Daniel lebih lanjut.
" Eeeh hampir ada ding, Niel Lo inget ga gebetan dia yang namanya Desy? Tu cewek saking sukanya sama Ibnu tahan banting diteror sama Ayu bahkan dilabrak disekolah oleh Ayu pun maju terus, sampe dia nyamperin rumahnya sama ayah dan ngencem keluarganya bakal dibangkrutin kalau gak jauhin ini si hitam manis." Ungkap Alfaska.
" Iya Inget gue. Ayah inget gak?" Tanyanya pada Teddy yang tertawa geli sambil mengangguk mengingat kegigihan putrinya itu.
" Lagian ayah mau aja dimanfaatin anaknya buat hal sepele."
" Adikmu tiga hari ngerek sama ayah buat nyamperin rumah perempuan itu dengan dalih menyelamatkan Ibnu dari perempuan matre yang morotin Ibnu yang miskin itu." Bela Teddy
Wajah Ibnu sudah memerah salah tingkah dengan ledekan para sahabatnya
" Serius? Ya Allah adik aku sekali ada otak dipake mikir buat ngancem orang." Dramatis Daniel.
" Heh, Lo dari tadi ngehina dia mulu. Dia itu adik Lo oncom." Sewot Ibnu.
" Cie..cie... marah dedek emeshhnya diledek. Udah notice dia Lo, Bang." Adgar ikut nimbrung meledek
" Langsung nikahin aja yah." Mumtaz memanasi.
" Masih bocil, belum punya KTP." sela Ibnu.
" Kalau udah punya, mau, abangnya!? Cie ...udah ngebet."
Ibnu sudah salah tingkah tak karuan, mana dia posisinya berdiri di depan yang lain.
Sementara para tetua menertawainya geli.
" Berasa tua gue lihat intermezo mereka." Seru Dominiaz.
" Kalau kamu tua, Daddy apa , Dom?" Pancing Gama."
" Kakek-kakek." Ledeknya.
" Terus kapan kamu mau ngasih Daddy cucu?"
Skakmat!!!
Dominiaz terdiam rapat.
" Mingkem lo, Dom?" Ledek Hito.
" Langsung T.K.O." timpal Nathan.
" Hehehehe." Derai tawa puas dua sohibnya yang luknut itu.
Damian merasa kasian pada Ibnu yang terus jadi korban ledekan," jadi solusinya bagaimana?"
" Kita harus mencegah aliran dana pada Tamara." Sambar cepat Ibnu agar pembahasan percintaannya yang memalukan itu berhenti.
" Caranya?"
Ibnu mengganti ke slide selanjutnya berupa daftar nama-nama pengusaha.
" Tamara merupakan baby sugar beberapa pengusaha, diantara pengusaha itu ada yang tergabung pada top 20, dengan top 20 kita telah sepakat untuk memblokir segala bentuk kerjasama dengan Aloya, atas dasar dia anak Aloya tentu kita bisa menekan mereka." Ujar Ibnu.
" Jadi para paman, om. Mohon kekuasaannya untuk menertibkan para pengusaha yang nakal itu." Tambah Alfaska.
" Anggap udah beres." Ucap kebuy Fatio.
" Selanjutnya penyitaan aset-aset milik Tamara dan Amara dari Brotosedjo dan Aloya."
Ibnu memaparkan apa saja aset yang dimiliki dua wanita tersebut.
" Kalau itu udah clear. Otw pembuatan akta notaris." Ucap Bara tenang.
" Bang Nath, Lo telpon bang Ibra suruh balik buat tanda tangan kepemilikan hotel paradise." Pinta Bara menatap Nathan.
" Serius?" Nathan bersemangat.
Bara mengangguk," tinggal tanda tangan Lo sama dia."
" Okey."
" Kalau semua lancar, saya yakin dia tak akan berkutik."
" Kecuali dibayar dengan tubuhnya." Timpal Nathan.
Mereka mengernyit bingung.
" Panji, teman saya menyusup sebagai asisten Brotosedjo mengungkapkan jika dia tak segan membayar dengan tubuhnya untuk mencapai obsesinya."
" Sebarin aja isu dia punya penyakit kelamin. Beres." Ucap Alfaska santai.
" Bang Nath, apa Lo bisa menstop dia menjadi hostes Lo?"
" Tentu. Sejak kasus Aloya dia hanya melayani tiga orang seperti yang kalian minta, jadi jika dia melayani yang lain itu dilakukan tanpa seijin club, dan itu melanggar kontrak kami, penalti jika dia melanggar kontrak adalah membayar denda, ganti rugi, dan disebar di semua situs bisnis hiburan kalau dia bukan partner kerja yang jujur."
" Wow sadis sekali anda." Daniel menanggapi ucapan Nathan.
Tok..tok!!!
Semua orang menoleh melihat siapa yang masuk.
Jeno memasuki ruangan," sorry ganggu, tapi mereka udah bicara."
" Oke, tentang ini kita pending dulu, lanjut yang kemarin." Seru Damian.
"Fa, bawa Dewa." Pinta Mumtaz pada Alfaska yang diangguki olehnya karena paham apa maksud permintaan Mumtaz itu
Butuh lima menit untuk mereka sampai diruang bawah tanah khusus eksekusi lawan.
Ruangan luas tanpa ventilasi udara yang hanya tersedia dua kipas angin yang ditempel di dinding diterangi lampu neon besar dan panjang dengan pencahayaan tinggi hingga terasa panas dan pengap begitu mereka memasuki ruangan tersebut.
Jika lampu dimatikan maka hanya ada kegelapan, tidak ada cahaya sekecil apapun yang menerobos masuk.
__ADS_1
Puluhan anggota geng sudah babak-belur karena hajaran para pria Hartadraja, Pradapta, dan Atma Madina. Yang berhasil mereka tangkap hanya anak buahnya saja, para petinggi organisasi masih bersembunyi.
Bahkan Damian sudah memotong jari telunjuk pengantar paket ke rumahnya hadiah untuk istrinya.
Organisasi off shadow merupakan organisasi yang terkenal dengan loyalitas tinggi, bagi mereka disiksa dan mati lebih baik dari pada membocorkan informasi, tetapi ketahanan manusia itu ada batasnya dimana keinginan untuk bebas dan keselamatan keluarga lebih penting dari diri mereka sendiri.
Jeno menendang perut seorang yang terkapar lebih parah dibanding yang lain.
" Bicara." Jeno mendudukkan orang tersebut
" Ketua...bilang...dia akan keluar dengan syarat duel dengan orang yang bernama Mumtaz ." Orang itu menunjuk pada Akbar yang membuat Akbar bingung seketika.
Dia pasti mengira Akbar yang berperawakan tegap berotot dan gagah dengan tatapan dingin nan tajamnya adalah Mumtaz, penilaian yang dia sesuaikan dengan dasas-desus kehebatan seorang Mumtaz.
Semua orang terkejut, mereka enggan untuk memenuhi syarat anggota geng tersebut yang terkenal dengan kesadisannya memakan organ korban yang dia incar.
" Baiklah, kita kumpul di lapangan saripati, hadirkan semua geng yang ada. Kita bicara syarat lanjutan di sana." Seru Mumtaz.
"Mumtaz... Kamu tidak..." Fatio berkeberatan.
" Kakek, saya mohon restu dan do,a kakek. Kita harus akhiri ini sebelum mereka bertindak jauh.
*****
Dua jam setelah tersebar berita duel antara ketua off shadow dengan Mumtaz lapangan saripati, sebuah lapangan luas yang biasa digunakan duel antar geng untuk memperebutkan kekuasaan penuh sesak dipadati para anggota geng lainnya bertampang sangar yang ingin menonton pergulatan yang paling menyita perhatian dalam dunia per-geng-an dan organisasi dunia hitam.
"A..."Zayin mendatangi mobil Van hitam dimana Mumtaz sedang dipasangi hand wrap untuk oleh Ibnu.
" Hai, Yin."
" Apa harus begini?" Tanya Zayin.
" Ini yang mereka pinta."
" Ini terlalu beresiko, aku tahu siapa ketua off shadow." Zayin memberikan kertas berisi riwayat sang ketua.
" Aa tahu, dan Aa udah lihat kemampuan dia, Aa bisa atasi dia."
" Mereka licik dan curang."
" Itu tugas kamu dan yang lain untuk mengatasi itu. Briefing aja sama mereka masih ada sisa waktu 20 menit.
Tak lama Zayin pergi Zahra menghampirinya.
Mereka adu pandang untuk beberapa saat.
" Kamu kalah, setahun berada dalam kendali kakak."
" Aku menang?"
" Satu tahun makan makanan mahal ditraktir Hartadraja, Birawa, Atma Madina, dan Pradapta Aku yakin kita sejauh ini karena masalah mereka." Tatapan tajam Zahra ditujukan pada keluarga Hartadraja, karena kesal dia menendang betis Hito yang meringis.
" Hehehe okey." Mumtaz menarik Zahra ke dalam pelukannya.
" Maaf karena aku udah bikin kakak kecewa." Mumtaz mencium pucuk kepala Zahra dalam dan lama.
" Iya,..." Zahra paham Mumtaz meruju pada malam dia menunggu kepulangannya.
" Kamu gak harus melakukan ini, kita gak punya hutang Budi pada mereka."
Zahra mengurai pelukannya.
" Ini bukan tentang hutang budi, tapi kemanusiaan." Alibi Mumtaz.
" Itu bukan tugas kita, ngapain kita bayar pajak kalau masalah gini masih harus kita yang lakuin."
" Kak..." Mata Mumtaz memancarkan permohonannya."
"menang." Tukas Zahra, Mumtaz mengangguk.
Mumtaz menarik Zahra Kembali kepelukannya," Sayang kakak."
" Hmm." Balas Zahra.
Cup!!!
Satu kecupan di kening menutup romantisme antar saudara itu.
" Inget dia pacar Hito." Bisik Heru yang memergoki lagi tatapan terpesona dari Dominiaz pada Zahra.
Dominiaz menatap Heru kesal.
" Gue cuma ngingetin sebelum Lo patah hati."
" Punya nyawa berapa Lo berani nikung gue." Ucap Hito yang berdiri di samping Dominiaz.
Paramedis dan ambulance terlah disiagakan, para ayah, dan om menonton pertandingan di tempat khusus. Zahra berdiri diapit Ibnu dan Hito, tanpa sadar selama pertandingan Zahra memegangi tangan Hito, tak jarang meremas jemari Hito karena tegang. mendapati itu semua Hito hanya tersenyum, dia rindu tangan yang menggenggamnya ini.
Dua orang yang satu berperawakan besar, berotot, bertatto, sangar. Bertelanjang dada. Sedangkan yang satu berbadan semampai, berotot, tinggi, berkulit sawo, dengan tatapan tajam nan tenang, berpakaian kaos putih polos.
Mereka berhadapan dalam ring terbuat dari besi Medan laga, penonton mengitari mereka sambil bersorak Sorai mendukung bintangnya.
" Syarat duel, lo kalah jangan pernah mengusik kegiatan kelompok gue." Ujar sang ketua.
" Lo kalah semua anggota kelompok Lo jatuh dibawah komando Bara." Balas Mumtaz.
" Deal."
" Deal."
Mereka berjabat tangan, Dewa yang ditugasi mengetik perjanjian mereka menaruh kertas tersebut di atas punggung seseorang untuk dijadikan meja mereka.
Baik Mumtaz dan ketua menyayat sedikit jempol mereka, darah sebagai pengganti tinta untuk dibubuhkan di atas kertas tersebut.
Zayin, William, dan Bayu bersembunyi berpencar dengan senjata jarak jauh, sementara anak RaHasiYa-Gaunzaga berbaur dengan para geng, beberapa drone terbang di atas sekitar lapangan untuk mengantisipasi kecurangan.
Jeno sebagai wasit berdiri ditengah mereka
" Duel ini dilakukan dengan cara adil, jika dari pendukung salah satu pihak curang, maka dia kalah."
" Duel ini dilakukan dengan tangan kosong, jika ingin menggunakan alat hanya alat yang disediakan yang digunakan."
Jeno menunjuk ke beberapa tongkat terbuat dari kayu dari yang terkecil, terpendek sampai terbesar, dan terpanjang,ikat pinggang, cambuk besi, nunchaku, tali.
Jeno mengangkat kedua tangan dan menurunkannya " siap, mulai."
Jeno langsung mundur, kedua pihak langsung melayangkan pukulan.
Pukulan Ketua berhasil memukul pipi Mumtaz, Mumtaz balas dengan memukul lurus tepat mengenai hidung ketua.
Setelahnya keduanya baru memasang kuda-kuda.
Lawan dengan pongahnya memukul rahang Mumtaz yang ditangkis olehnya, dibalas Mumtaz memukul ulu hati lawan dengan pukulan siku, lawan terdorong, tak memberi jeda Mumtaz langsung memukul dagu bawah lawan hingga dia terpelanting.
Menyadari posisinya dekat ke tempat alat lawan mengambil cambuk besi, dan melayangkan cambukan mengarah punggung, Mumtaz merigis tertahan, cambukan terus dilayangkan, Mumtaz terus menghindar dengan melompat berguling lalu mengambil ikat pinggang panjang.
Ketua melayangkan cambukan secara acak dengan membabi-buta, Mumtaz terus menghindar walau terkadang terkena cambukan, dan sesekali melayangkan tebasan ikat pinggang mengarah ke tulang area kaki, menangkis cambuk lawan, hingga dapat melilit tepat tulang kering lawan, lalu menariknya hingga lawan terjerembab hingga cambuk lepas dari genggamannya.
__ADS_1
Mumtaz menendang menjauhkan cambuk tersebut dari genggaman lawan. Ia memberi kesempatan mereka untuk beristirahat.
Lawan mengambil sikap ofensif, sedangkan Mumtaz bersikap defensif.
" Hiyaaa." Ketua melayangkan tendangan yang ditangkis Mumtaz disusul pukulan yang mengenai rahang Mumtaz yang dibalas pukulan ke ulu hati lagi oleh Mumtaz.
Tanpa jeda memberi waktu beristirahat bagi lawan Mumtaz langsung menarik tangan dan memelintir tangan lawan kebelakang lalu menekel serta mengunci kaki lawan Hingga terjatuh telungkup.
Menekan selangka, sebelum Mumtaz mengunci sempurna, lawan membalik badan berlawanan dan menendang dada Mumtaz, lawan kesusahan berdiri karena satu kaki sudah cedera, Mumtaz berhasil mengenai tulang keringnya kala mensledingnya
Sebelum lawan berhasil berdiri sempurna Mumtaz melayangkan tendangan menyamping mengenai dada disusul tendangan memutar yang mengenai, rahang, dan pelipis lawan. Lawan terdorong hingga tersungkur.
Dilanjut menendang tusuk mengenai wajah lawan, terdengar suara hidung patah dan mengeluarkan darah.
Lanjut pukulan menyamping keras mengenai pelipis lawan, diikuti pukulan siku tepat mengenai tengkorak kening lawan hingga meninggalkan cetakan cekungan di dahi lawan.
" Aakkhh." Tak kuat lagi menahan serangan Mumtaz bertubi-tubi, lawan akhirnya menjerit kesakitan.
Sementara Mumtaz menjauh dalam posisi berdiri merileksasi tubuhnya.
Jeno dan tim kesehatan mendekati lawan, lalu memeriksanya. Gemuruh sorak terus membahana sepanjang pergulatan berlangsung, dan masih bergemuruh hingga mereka tak menyadari adanya pergerakan mencurigakan dari salah satu penonton yang berdiri di depan tepat seberang Mumtaz mengeluarkan pisau lipat, memegang ujung runcing pisau tersebut berniat melempar dengan lemparan memutar mengarah ke dada Mumtaz, namun sebelum itu dilakukan tiba-tiba orang itu berteriak kala
Jlebb!!!
" Aaaaa..kkgghh." orang tersebut merintih memegang kakinya yang terkena timah panas pisau yang semula dia siap lempar terlepas jatuh tepat tergeletak di depan kaki.
" Pendukung *off shadow* curang." Teriak salah satu penonton yang berdiri tepat disamping orang yang sedang kesakitan tersebut.
Jeno sebagai wasit langsung menstop pertandingan yang dimenangkan oleh Mumtaz yang disambut riuh sorak oleh geng yang berada dibawah komando Bara.
Mereka sontak membuka ring arena dan mengangkat Mumtaz di pundak untuk dieluk-elukan.
Euforia itu berlangsung 15 menitan, atas titah Mumtaz mereka menurunkannya, ia lantas mendekati lawan yang masih dipemeriksaan tim kesehatan.
" Maaf, pastikan Lo patuhi kesepakatan kita, atau hidup keluarga seluruh anggota Lo yang nanggung."
" Tentu, gue pastiin *off shadow* tak ingkari kesepakatan."
Zahra langsung menghampiri mobil ambulance yang sedang sibuk mengobati luka di sekujur tubuh Mumtaz.
" Bagaimana?" tanyanya masih meneliti luka-lukanya.
" secara keseluruhan hanya luka luar."
" Bawa langsung ke rumah sakit, beri dia Obat penurun demam. Awasi 24 jam."
" Kak,..." Mumtaz hendak memperotes.
" Nurut, malam ini kamu bakal demam tinggi." Zahra turun dari mobil langsung menuju ambulan yang membawa lawan.
Malam Minggu ini menjadi malam Minggu yang panjang.
*****
Pagi-pagi Tamara bersiul senang karena berhasil masuk ke keluarga Hartadraja.
ting-tong!!!
Masih mengenakan bathrobe Tamara membuka pintu, terdapat dua pria berpakaian formal.
" Maaf, kami mengirim salinan surat bahwa anda harus meninggalkan rumah saat ini juga karena rumah ini sudah menjadi milik Maura Brotosedjo."
" Apa-apaan anda, jangan sembarangan ini rumah saya." amarah Tamara.
Tanpa kata mereka menunjuk akta pemindahan kepemilikan dengan cara hibah dari dirinya kepada Maura dari map kuning.
Tamara naik pitam," saya menolak, ini penipuan." hardiknya.
" Itu bukan kewenangan kami, kami hanya diperintah mengeluarkan anda dari rumah ini sesuai isi kesepakatan yang terlampir di dalam map tersebut."
Brugh!!
Tamara menutup pintu di depan wajah para pria tersebut.
30 menit kemudian dia sudah berada di ruangan Angga, pengacaranya.
" Itu palsu kan om? tanya Tamara melirik map yang sedang dibaca oleh Angga.
" Ini asli, kamu ini bagaimana, kamu sendiri yang datang pada saya, bahkan dengan tidak sabarnya menarik saya menghadap notaris.
" Saya?" kapan?"
" hari ium,at kemarin."
"Saya tidak bertemu om, hari jum,at itu."
" Jangan bercanda, saya ada rekaman cctvnya dimana kamu memaksa saya, kamu juga menyerahkan semua aset kamu."
Angga mengutak-atik laptop di mejanya, menghadapkannya pada Tamara yang memperlihatkan dirinya memasuki ruangannya.
Tamara terperangah, hari Jum,at dia tidak kesini, dia sibuk melayani sugar Daddy-nya.
" Aset?, jadi tidak hanya rumah saja yang berpindah tangan?"
Angga menggeleng," semuanya, saya sudah membujuk kamu untuk mencegah, tapi kamu kekeuh ingin memberikan semuanya, bahkan kamu tak mendengarkan nasihat saya selaku pengacara kamu."
" Kepada siapa saja saya memberi aset saya?"
" banyak, Pramono, Alexander, Maura, Celine Miranda. dan tidak hanya aset kamu saja yang sudah berpindah, tetapi juga ibu kamu."
" HAH?" dia syok.
" Intinya sekarang kalian berdua bangkrut, tidak mempunyai apa-apa."
" Simpanan saya direkening masih utuh kan?"
" Tamara, semuanya, berarti semuanya, tanpa sisa termasuk uang, emas batangan, serta deposito kamu. SEMUANYA. Kamu sudah tidak punya apa-apa."
Tatapan Tamara kosong, dia syok. tubuhnya lunglai menggapai kursi terdekat.
ia menelpon Maura untuk kesekian kali meminta penjelasan darinya, ponsel Maura masih tidak aktif.
" Aaakhh." jeritnya membahana, ia frustasi.
" Tamara, kamu kenapa?" Angga mendekatinya.
" Om, itu bukan saya, hari itu saya ditempat lain." tunjuknya pada gambar di laptop Angga.
" Tamara, kamu jangan berkelit. semua telah usai hanya milik Alatas saja yang belum rampung."
" Alatas?"
" Iya, Alatas bersaudara belum menandatangani akta, mereka masih di Swiss."
" kalau tidak salah lusa baru balik."
Seperti mendapat cahaya ditengah kegelapannya, mata Tamara berbinar, dia mengecup bibir Angga, lalu pergi.
" Thank, om.".
Di dalam mobilnya Tamara menelpon seseorang," kabari saya kedatangan Alatas bersaudara dari Swiss serta foto dan profilnya."
Senyum devil tersungging di bibirnya akan rencana briliannya...
Jadi readers aktif pencet jempol, komen, dan kasih hadiah...makasih untuk semua readers...
__ADS_1