
Langit yang semula cerah mendadak berubah gelap, perlahan rintikan hujan membasahi rerumputan hutan.
Jeno menggulung peta, memberi kompas pada Ragad," Bang, kita berangkat dulu." Dominiaz, Hito dan Samudera mengangguk.
anak RaHasiYa memutuskan satu motor ditumpangi dua orang agar efektif jika terjadi penyerangan.
" Jeno,..." Lirih Sri yang terbaring lemah di atas jaket yang dihampar Hito disamping mereka.
Jeno menghadap Sri," Iya, nyonya?"
" Selamatkan cucu mantuku, saya akan berikan apa saja untuk membalasnya."
Jeno membalas tatapan sendu Sri." Keselamatan kak Ala selalu menjadi prioritas kami." Tegas Jeno.
" Kami berangkat, nyonya." Jeno menuju motornya yang sudah distarter oleh Ragad.
Perubahan cuaca tidak menghalangi Jeno, dan anak RaHasiYa mencari keberadaan Zahra sesuai petunjuk dari Sri.
Hito menggendong Sri ke motornya yang dijaga Adam dibelakangnya.
Sri dibawa tempat tak jauh dari hutan yang dijadikan pusat berkumpul oleh anak RaHasiYa dan Gaunzaga.
Pegangan tangannya pada stang motor semakin mengerat, ia ingin segera sampai ditempat dan menyusul anak RaHasiYa mencari Zahra.
****
" Si.alan!" Ibnu melempar headset komputernya, ia memijit batang hidungnya melepas penat.
" Info terbaru, Nu?" Daniel merasakan kecemasan melihat kekesalan Ibnu.
Tatapan Ibnu masih tertuju pada pergerakan titik hijau yang merupakan posisi Hito dan kawannya.
" Nyonya Sri berhasil diselamatkan, tetapi kita kehilangan jejak kak Ala karena cuaca buruk."
Ibnu meremas rambutnya dengan kedua tangan bertopang pada lututnya.
Alfaska melirik Mumtaz yang terus konsentrasi dengan komputernya, wajahnya tanpa ekspresi, kedua tangannya lihai menari di atas keyboard, dan tiba-tiba alarm berupa lampu merah yang terletak di pojok kiri sederet komputer menyala menandakan apapun yang dilakukan Mumtaz terdeteksi oleh keamanan target.
Seketika suhu ruangan meningkat, Ibnu segera menegakkan duduknya, ia keluar dari pencarian Zahra kemudian masuk pada sistem yang sedang diretas Mumtaz.
Daniel dan Alfaska membuka laptop masing-masing.
Rahang Daniel dan Alfaska beradu gemeretuk saat mengetahui tindakan Mumtaz.
Mumtaz memasuki sistem satelit NASA sekaligus satelit militer Rusia tanpa pengaman, guna mencari keberadaan Zahra.
Tidak bisa dielakan empat sahabat itu terlibat cyber war dengan divisi cybercrime pertahanan dua negara adidaya tersebut.
Kring!! Kring!!
" Angkat, Bar!" Seru Alfaska tanpa melepaskan pandangannya dari laptop membuat Bara yang baru memasuki ruangan terlonjak kaget.
" Hallo..."
" Wait minute, please." Bara menutup interkom telpon ruangan.
" Dari Rusia." Beritahu Bara.
" Bilang, kita akan hubungi nanti. Ini untuk tujuan damai mencari prof Zahra." Ucap Mumtaz tanpa mengalihkan perhatiannya dari komputer.
Bara mengangguk, dia melanjutkan perkataan Mumtaz pada pihak Rusia.
" Mereka minta syarat kerja sama dalam hack, termasuk dengan prof Zahra juga."
" Katakan jam siap dengan syarat tertentu."
" Muy,.." Ibnu berkeberatan.
" Kak Ala segalanya, Nu." Ucapnya yang tidak bisa lagi dibantah.
Bara bergeming, dia bingung." Bar,..." Tegur Mumtaz.
"Muy, apapun yang ada di otak Lo sekarang merupakan posisi nego RaHasiYa pada hubungan internasional kita." Bara mengingatkan
Lampu masih menyala warna merah, para sahabat masih berfokus kabur dari pengejaran keamanan, kemudian lampu berubah kuning, berarti mereka sudah lepas dari pengejaran cyber lawan, namun masih ada rekam jejak peretasannya yang mengarah pada mereka.
" Muy, just believe in us. Our world always is ours, in our hands." Ucap Alfaska.
" Oke, as long by the name of me, only me."
" Nope, together, that's us."
" Alfa,..." Mumtaz jengkel akan kekeraskepalaan Alfaska kumat saat ini."
" Together, or only me." Tegas Alfaska.
" Why?"
" Because I am Atma Madina."
Mumtaz menghembuskan nafas kasar, kalau sudah begini urusannya panjang." do whatever you wanna do, dude." Kesal Mumtaz.
Alfaska terkekeh, Daniel tersenyum kemenangan.
Bara pun hanya mampu mengembuskan nafas, dia kembali menjawab telpon pihak Rusia untuk menolak permintaan Rusia tanpa mengkonfirmasi dahulu pada petinggi RaHasiYa. Mode bahasa asing di antara mereka menandakan mereka sedang bersikap professional sebagai petinggi RaHasiYa yang artinya keputusan suara yang akan digunakan adalah hak veto.
" Stop berdebat, gue udah menolak." Ruangan berubah sunyi hanya suara ketikan keyboard komputer saling berlomba diantara empat sahabat tersebut.
Tak lama lampu peringatan pun berubah hijau, segala rekam jejak peretasan mereka berhasil dihilangkan di semua sistem yang ada di dunia, satelit belum menyimpannya secara permanen.
" Nu, Lo lanjutin kerjaan gue." Seru Mumtaz melepas headsetnya lalu beranjak ke pintu.
" Muy,..." Ibnu hendak protes, pasalnya dia belum sanggup berhubungan dengan pergerakan kamera satellit, apalagi Mumtaz tidak hanya kamera yang digerakkan, namun letak satelit pun berhasil digerakkannya yang pada akhirnya merubah kemampuan dan daya tangkap satelit.
" Gue akan panggil Rio."
" Gue gak bisa ngegeserin satelitnya lagi, Muy."
" Gak usah. Ini modal nego kita ke mereka kalau mereka mau menangkap kita."
Dengan enteng Mumtaz meninggalkan Ibnu disusul oleh Daniel dan Alfaska mengabaikan kekesalan Ibnu
.
*****
" Cepat jalan!" Armando mendorong-dorong tubuh Zahra yang kedua tangannya terikat dibelakang dibawah guyuran hujan menuju kamp pemberhentian selanjutnya
Sampailah di suatu gubug tua, Zahra didorong ke ruangan bawah tanah, penglihatannya menyesuaikan keadaan sekitar yang gelap dan lembab.
" Ini hukuman mu!" Zahra tersungkur kedua telapak tangannya lecet.
" Tidakkah kalian berkenan membiarkan aku membersihkan diri?"
" Heh, usai sudah masa pengasihan padamu, nona pembangkang!" Hardik Armando.
Blam!!!
Pintu ditutup, suasana gelap gulita. Sakit di kepala, badan menggigil wajah nyeri terasa remuk. Ya Tuhan, mereka sungguh tega.
Zahra menggunakan mulutnya membuka tas Selempangnya mengambil aspirin lalu menenggaknya.
Kemudian Zahra bergerak-gerak acak, Ialu memutuskan berguling-guling di atas tanah guna menghindari hipotermia.
" Sekalian tayamum." Celetuknya.
Brak!!
Seorang pemuda masuk membawa senampan makanan sambil membawa lilin.
" Makanlah!"
Dilihatnya roti, kentang tumbuk, dan segelas air mineral dalam mug kecil.
" Tolong bantu aku." Netra mata Zahra menyampaikan belas kasih.
Pemuda itu bergerak risih," maaf, saya tidak bisa."
" Hanya ke toilet, izinkan aku membersihkan diri dan buang kecil."
" Please jangan buat saya dalam situasi serba salah." Sebenarnya pemuda itu tidak tega melihat penampilan Zahra.
" siapa namamu?"
Ragu sesaat sebelum menjawab," Nacho."
" Nacho, saya dapat melihat kamu anak baik, dan saya akan membantumu dari hukuman RaHasiYa."
Nacho tertawa sumbang mendengar omongan Zahra.
" Nona, jangan bermimpi, ini tengah hutan tidak ada yang bisa menyelamatkan Anda."
" Ck, apa kamu sudah lihat truk-truk itu?"
Nacho termenung, seharusnya truk-truk pengangkut senjata mereka sudah sampai dari tadi, tetapi sampai sekarang belum ada satu pun yang tiba.
" Kamp kalian dapat dipastikan sudah dibawah kekuasaan kami, kalian bahkan tidak bisa menangkap kembali nyonya Sri." Cibir Zahra.
" Kau meremehkan kami?" Nacho tersinggung.
" Tidak, saya hanya memberi kamu pilihan untuk selamat."
" Siapa kau?"
" Besok kau cari sinyal, akan kau dapati siapa saya."
" Cari dokter ahli WHO bernama Professor Aulia Zahratul Kamilah. Maka kau akan mendapati saya punya dua adik lelaki kandung yang mengerikan di circle keprofesian mereka."
" Bos kalian bo.doh memakai strategi hutan yang kami sebut gerilya, Indonesia terkenal dengan keahlian gerilya-nya, Vietnam menang dari Amerika saat PD II karena berguru gerilya dari Indonesia." Ungkap Zahra.
" Itu tidak berarti apapun, kami sudah bertahun-tahun berlatih di hutan." Suara Nacho terdengar meragu.
" Adikku, Mumtaz petinggi RaHasiYa, bela diri Anak RaHasiYa dilatih langsung oleh angkatan darat dan itu termasuk di hutan."
" Mumtaz seorang pendendam, dan Zayin seorang pembasmi, sebelum kalian dihabisi, kalian akan menderita."
" Nona, keluarga kami tidak tinggal di Indonesia, kita beda benua."
" Itu bukan masalah bagi kami, kami punya Gaunzaga, dan negara kalian berhutang budi pada RaHasiYa, tentu mereka dengan sukarela memenuhi permintaan RaHasiYa."
Nacho bergeming, namun netranya bergerak menandakan dia tidak lagi yakin.
" Apa mau mu?"
" Gotcha." Gumam Zahra dalam hati.
" Seperti yang saya bilang tadi."
" No, nona. Sekarang tidak bisa. Tengah malam kalau anda masih berminat."
Zahra mengangguk cepat," dan pegang janji saya untuk membebaskan kamu dari pembalasan para adik saya."
" Para adik?"
" Well, Atma Madina, Birawa, Hartadraja, dan Gaunzaga. Mereka sedang memburu kalian."
Nacho terbelalak, wajahnya berubah ketakutan.
" Anda tidak sedang membodohi saya, kan?" Suara Nacho melemah.
__ADS_1
" Cari sinyal, simak baik-baik profil saya." Zahra membujuk.
" Tengah malam."
Zahra tersenyum," baiklah, tengah malam."
Nacho meninggalkan Zahra dalam kegelapan.
****
Lima belas menit sudah klan Hartadraja, Gonzalez, petinggi RaHasiYa, Zayin, serta Gama Pradapta turut hadir rapat atas pembalasan atas penculikan Sri Hartadraja, Suasana lounge Al-Tair begitu menegangkan.
Aura kewibawaan Fatio Hartadraja tidak kalah mengintimidasi dibanding kepala kartel Sinolan, Alejandro Gurman. ditambah aura dingin dari petinggi RaHasiYa menambah hawa beku disekitaran lounge.
Zayin menegakkan tubuh, mencondongkan diri ke arah Alejandro." Tuan Gurman, kami tidak akan berbasa-basi, kami minta kalian urus keluarga ketiga penculik ini."
Wajah imut Zayin kontras dengan tatapan menusuknya, dalam netranya terlihat siap menghabisi semua penghalangnya tanpa kecuali.
Zayin menyodorkan tiga profil penculik bertatto, bergigi emas, dan bertubuh kecil diantara mereka.
" Mereka orang-orang kami, tetapi kembali kami tegaskan, kami tidak terlibat dalam penculikan nyonya Sri Hartadraja."
" Mereka menghajar kakak perempuan kami, tentu kami tidak bisa membiarkannya."
" Kami serahkan ketiganya pada kalian, tidak keluarganya."
Zayin menggelengkan kepala tegas," kami tidak butuh mereka, tentu mereka akan menerima pembalasan dari kami, tetapi mereka harus merasakan apa yang kami rasakan." Setiap katanya yang terucap dari mulut Zayin menyimpan kemarahan.
" Kalau kalian tidak berkenan bekerjasama, biar kami mencarinya sendiri. Terus terang itu bukanlah hal yang sulit, tetapi Mumtaz masih menghormati teritori kalian." Timpal Alfaska.
" Akan sulit membawa mereka kemari." Seru Rodrigo.
" Gaunzaga yang akan mengurus mereka." Tegas Zayin sambil tersenyum smirk.
Tangan kiri Alejandro mengepal.
" Kenapa tidak RaHasiYa?" Desisnya menahan rasa tersinggung yang menyentilnya.
" RaHasiYa yang memutuskan, Gaunzaga yang mengeksekusinya." provokasi Daniel.
Rodrigo, Raul dan Alejandro melirik Fatio dan Mumtaz yang hanya mendapati anggukan kepala dari mereka semua.
" Terserah akan kalian apakan, tetapi biarkan kami yang mengeksekusinya."
" Serahkan kepala Eric pada kami." Ujar Mumtaz tiba-tiba.
" Dan juga email para pembelot kalian." Imbuh Daniel.
Kedua mata Alejandro mengerjap menahan rasa kesal.
" C'mon, kalian tadi hanya meminta tiga, kenapa berymqbah."
" Lihat sisi positifnya, kami membersihkan pengkhianat kalian." tutur Alfaska.
" Kami bisa mengurusnya."
Mumtaz tersenyum mencibir," kalau kalian tidak lelet, penculikan ini tidak akan terjadi."
" Apa semuanya sebagai pengganti Guadalupe?" Alejandro mencoba peruntungannya..
Mumtaz kembali tersenyum miring tipis.
" Dia mutlak milik kami, kecuali kalian bisa mengembalikan profesor Zahra saat ini juga." Suara datar Mumtaz lebih menurunkan hawa ruangan lounge ke titik beku.
" Hanya prof. Zahra?"
" Karena kalian tidak akan bisa menyentuh nyonya Sri lagi. Gaunzaga dan RaHasiYa yang menjaminnya." Tegas Mumtaz.
Hentakan nafas menaikan kembali tensi ruangan, klan Hartadraja menatap bingung Mumtaz.
" Eric tidak ada hubungannya dengan penculikan." Seru Alejandro.
" Pengiriman kemarin lusa pasti bukan yang pertama yang melibatkannya, atau itu kerjaan kalian?" Sarkas Alfaska.
Alejandro menggeleng cepat," dia terlalu banyak dosa, dan kami memutuskan itu menjadi urusan kami." Daniel menatap lurus Alejandro.
" Tuan, jika kalian bekerjasama, kami akan memberikan hadiah kalian sesegera mungkin." Mumtaz melirik Raul yang langsung duduk tegak.
" Mama tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini, jangan jadikan dia taruhan."
Mumtaz menggeleng," kami tidak sebaji*ngan itu, apa anda tidak merindukannya?"
" Mama? Raul apa yang tidak kakek tahu?" Alejandro bingung.
" Mama berada dibawah keamanan mereka?"
" Siapa yang kau maksud?"
" Kakek, aku hanya punya satu mama, Belinda." Tekan Raul.
Tidak hanya Alejandro yang kaget, pun Diego yang berdiri dibelakang Alejandro menegang, meski roman mukanya secepat mungkin kembali pada normal.
Namun Mumtaz dapat menangkap perubahan sikap itu.
" Mumtaz..." Suara Alejandro sarat permohonan.
" Lakukan apa yang kami pinta."
" Baiklah, tapi pastikan Belinda ku baik-baik saja."
" Kami pastikan tidak akan ada yang menyakitinya." Alfaska meyakinkan.
Tiba-tiba Diego menghampiri Alejandro," tuan,..."
Diego membisiki Alejandro, tatapan Alejandro mengarah lekat pada petinggi RaHasiYa.
" T*N.I dan pol.ri menggerebek mansion Eric, apa itu karena kalian?" Beritahu Alejandro.
Kemudian Alejandro menghela nafas lelahnya. " Baiklah, senang berkerjasama dengan kalian."
Setelah mencapai kesepakatan mereka melakukan simbol kesepakatan dengan berjabat tangan. Lalu Gurman meninggalkan lounge untuk pergi ke mabes po.lri memastikan Sinolan tidak terlibat.
Sepeninggal klan Gurman, klan Hartadraja menatap petinggi RaHasiYa.
" Jelaskan apa yang kalian katakan tadi." Desak Fatio.
" Nyonya Sri berada dibawah keamanan Gaunzaga." Terang Daniel.
Ucapan syukur terucap dari bibir Hartadraja, tubuh tua Fatio gemetar gugup," kalian tidak bercanda kan?"
" Tidak mungkin kami bercanda soal ini."
" Bagaimana dengan kak Zahra?" Tanya Akbar tenang.
Kembali ruangan sunyi," kak Ala masih bersama mereka." Cicit Alfaska sendu.
" Akbar, apa bisa kau menangani Tamara?" Tanya Mumtaz.
Akbar mengangguk, " serahkan dia padaku, saat kalian Kembali kalian akan melihatnya."
" Adgar, bagaimana proses face off-nya?" Kini Alfaska bertanya.
" On proses."
" Om, Damian, bisakah teman om yang bernama Ricky mengambil alih penjagaan Guadalupe?" Pinta Mumtaz.
" Tentu."
" Sebelumnya konfirmasi visual seluruh tubuh mereka pada Alex dan Adgar." Timpal Alfaska.
" Apapun, kami akan bekerjasama."
" Terima kasih."
" Kapan saya bisa bertemu istri saya?" Fatio bertanya.
" Untuk hal itu konfirmasi pada Gaunzaga, Tuan." Jawab Mumtaz.
" Maaf, kami harus segera berangkat." Petinggi RaHasiYa beranjak meninggalkan lounge.
Di pintu utama mereka berpapasan dengan Dewa yang terengah-engah.
Petinggi RaHasiYa menilai penampilan Dewa yang bak seorang misterius dengan masker dan topi yang menutupi wajahnya.
" Bang!"
" Kenapa lo,?" Tanya Alfaska.
Dewa menggeleng." Navarro mengawasi gue."
" Gue mau tebus rasa bersalah, ini." Dewa menyerahkan peta semua hutan di Palang.karaya dan Sama.rinda.
Mumtaz memperhatikan peta tersebut," itu semua kamp penyimpanan senjata mereka, kemungkinan mereka menuju salah satu di sana."
Mumtaz menatap seksama Dewa , memberikan kembali peta tersebut kepada Dewa.
" Berikan informasi yang belum gue ketahui." Dewa menatapnya kaget.
" Bang,..." Suaranya melemah.
" Sebelum Lo kerjasama dengannya, gue terlebih dahulu mengamatinya."
" Ini." Ibnu menubrukkan tabsnya pada dada Dewa.
" Kita ingin Lo awasi masing-masing email mereka. Berikan semua informasinya sesegera mungkin."
*****
" Daniel...." Hanna merentangkan tangan untuk memeluk Daniel, begitu Daniel memasuki ruang kerjanya disuusl para sahabatnya, Teddy menghampiri para putranya.
" Bunda, kenapa ada di sini? Bukankah kalian sedang berlibur?"
Hanna memukul lengan atas Daniel, " bagaimana bunda bisa berlibur, sementara putri tertua bunda diculik." Daniel menghela nafas gusar mendengar ucapan bundanya.
Mereka silih berganti saling melepas rindu dan memberi semangat
" Kenapa tidak menghubungi ayah?" Teddy merangkul Daniel
" Banyak hal yang harus diurus."
" Perkembangan gimana?"
" Rumit."
" Apa kalian baik-baik saja?" Hanna menatap mereka semua.
" Tentu, apa bunda bawa makanan?" Tanya Zayin.
" Ayu keluarkan semua makanannya." Titah Hanna pada Ayunda yang ternyata juga turut serta di ruang Daniel.
" Dek..." Sapa Mumtaz memeluk Ayunda
" Kak Ayin, sini." Ayunda menepuk-nepuk ruang kosong disampingnya yang ternyata diduduki oleh Mumtaz sedangkan Zayin duduk di lantai bersandar pada kaki Ayunda menghadap meja yang terhidang beberapa menu makanan
" Yang lain mana?" Tanya Hanna menyendok makanan untuk para putranya.
Tatapan Ibnu menjurus dalam pada Ayunda yang menyuapi Zayin.
" Dek,..." Alfaska merentangkan tangan kepada Ayunda.
__ADS_1
Ayunda tersenyum, " Kak, makan sendiri ya!" Ujarnya kepada Zayin.
" Sini bunda suapin." Hanna menerima piring dari Ayunda.
" Emang cuma bunda yang ngertiin aku." Zayin pindah duduk mendekati Hanna di sofa single.
" Asal jangan sampe jatuh cinta saja, Yin." Celetuk Teddy, dengkusan terlontar dari bibir Zayin.
" Kak,.." Ayunda membalas pelukan hangat dari Alfaska yang memeluknya erat.
" Lama gak kelihatan makin bening aja Lo, dek."
" Si ayah bentar lagi nikahin Ayu ini mah." Bara mengambil alih Ayunda dari pelukan Alfaska yang sudah berjalan menuju meja.
Sepanjang Ayunda berganti pelukan Ibnu yang berdiri di belakang Bara tidak pernah melepas pandangannya dari Ayunda.
" Dek,..." Tanpa permisi Ibnu menarik lembut tangan Ayunda.
" Ck, dikasih kepastian enggak, cemburu iya." Imbuh Bara berjalan ke meja.
Tanpa mencolok Ibnu membawa Ayunda ke sisi lain ruangan menjauh dari mereka.
" Kangen..." Dapat Ibnu rasakan tubuh Ayunda yang mematung dalam pelukannya.
" Pake banget..."
" Pasti berat banget ya." Ibnu hanya mengangguk.
Ibnu membingkai wajah Ayunda " Sekolah yang benar, jangan cari yang lain, kamu cuma punya aku. Hanya aku!"
Ayunda terdiam saking terkejutnya dengan ungkapan Ibnu. Ia memberanikan diri menengadah menatap Ibnu yang ternyata sedang menatapnya.
" Abang suka aku?"
" Sayang banget malah."
" Cinta?"
" Jangan terlalu serakah, masa depan kamu masih panjang, Abang tunggu kamu diujung perjalanan jati diri kamu."
" Aaa... Kan Ayu baper, bang."
" Nu, makan! Di sana ada cctv si Ayu ayan bahaya Lo." Seru Daniel.
Ibnu terkekeh, sementara Ayunda mengerucutkan bibirnya, " emang Abang rese." Ayunda melepas pelukannya.
Ayunda menghampiri Daniel, lalu menjitak kepalanya.
" Abang yang celeng, anak orang diikat tunangan doang, gak berani nikahin, dasar setengah gantle."
" Apaan dah." sengit Daniel.
" Selagi kalian makan ayah akan memberikan ini."
Teddy mengeluarkan beberapa pesawat mini tanpa awak.
" Ini drone?" Tanya Alfaska.
" Bukan, ini semacam panel Surya untuk menyimpan energi panas agar memperoleh sinyal. Keluaran terbaru Birawa tekno." Tutur Teddy.
" Kalian peganglah masing-masing satu. Delapan jam sekali usahakan beri sinar matahari sebelum mati total." Tukas Teddy.
" Yah, temani kami bertemu pak agung dan pak Janu. Sebentar lagi di Shangri-La." Pinta Mumtaz.
Tanpa bertanya Teddy mengangguk.
Seragam serba hitam yang dikenakan petinggi RaHasiYa dan Bara disertai tubuh tegap dan mimik wajah datar membuat waspada dua Po.li.tisi beda generasi tersebut ditambah kehadiran Teddy Birawa, orang berpengaruh dalam dunia militer yang berimbas pada dunia politik.
" Mengapa kalian ingin bertemu mendadak." Tanya pak Agung.
" Hai, bro. Sorry telat." Brian mengambil duduk disamping ayahnya, Agung.
" It's okey. Kita mulai." Seru Mumtaz.
Mumtaz menyodorkan tig map tebal ke hadapan mereka masing-masing.
" Didalamnya berisi nama-nama pol\*tisi yang menikmati gratifikasi dari Eric gonzalez terkait peredaran nar\*Oba dan pengiriman senj\*ta ilegal beberapa tahun terakhir."
Baik Janu dan Agung terperangah, "besok berita ini akan mencuat dipermukaan, segala berkas tentang mereka otw ke seluruh media."
" Apa tujuanmu? ini akan menimbulkan krisis stabilitas nasional."
Mumtaz terkekeh mencemooh," stabilitas nasional, apa yang kalian pahami tentang hal itu? Membiarkan nark\*ba merajalela, generasi ban\*sa hancur sementara kalian menikmati fasilitas negara? *Bullshit*!" Ucap sinis Mumtaz dibarengi tatapan menghunus.
" Pilihannya kalian yang memberesi mereka atau rakyat yang turun langsung memberi hukuman sosial, jangan meremehkan kemarahan rakyat, tuan." tegas Alfaska
" Kenapa baru sekarang?" Tanya Agung.
" Pertanyaan propaganda klise untuk menghindar oleh para pecundang." Cemooh Alfaska.
" Hati-hati anda bicara tuan Atma Madina."
" Percayalah jika kami gegabah, anda dan para kolega anda sudah memenuhi Nus\*kambangan." Tutur Ibnu tajam.
" Kalian..."
" Pa..." Potong Brian.
" Papa yang ada di Sen\*ayan tidak bisa memungkiri terlalu banyak sampah di sana."
" Yan, gue serahin urusan digital sama Lo dan tim Lo, RaHasiYa yang tanggung jawab." Tunjuk Mumtaz ke map berwarna cokelat.
" Beres."
" Brian.."
" Pa, refor\*asi gagal, akui itu.Sebelum ada pesanan dari asing biar kami yang mengurus dari luar, papa dan om Janu dari dalam." Tuding Brian.
" Tidak semudah itu, Yan."
" Maka tinggalkan Sena\*an. Kami dapat menyeret kalian dengan dalih penyertaan karena pembiaran." Tegas Daniel.
" Apa kalian tidak terlalu jauh mencampuri urusan legis\*latif?" Tanya Janu.
" Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Prinsip yang kalian langgar." Ucap Daniel.
" Jangan lupakan kekuasan tertinggi dipegang oleh rakyat. Konstitusi bicara demikian."
" Kita negara hukum." Sambung Agung.
" Dan ini berlangsung bertahun-tahun, kalian lihat nama-nama dalam daftar itu, kita bukan orang naif, mereka bisa membeli keadilan." Desis Mumtaz.
Agung dan Janu menghembuskan nafas berat," kami akan sibuk, saya peringatkan mereka tetap bisa beli hu\*kum." uajt Janu.
" Itu urusan RaHasiYa." Ucap Alfaska.
" Tuan Teddy, apa anda terlibat dengan kegilaan ini?" tanya Janu.
" Ini akan mempengaruhi kontrak kerjasama Birawa dengan negara." Tutur Agung.
" Masih banyak negara yang ingin bekerjasama dengan kami, kami tidak rugi, kalian yang rugi melepas kami."
" Pa,... jangan coba-coba mengintimidasi mereka, papa sendiri yang hancur." Peringat Brian.
"Waktu kalian 1x 24 jam. Setelah itu cyber akan berperan." Mumtaz memperingati.
" Terima kasih, bela bangsa kalian sangat elegan." Janu menjabat tangan petinggi RaHasiYa.
__ADS_1
" Kami harus segera pergi."