Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
212. Akhir Para Wanita Jahat.


__ADS_3

******


Pukul 23.30 wib.


Tamu yang pada umumnya lelaki hidung belang mulai berdatangan menonjolkan kemewahan yang mereka punya.


" Wilson, akhirnya kalian membuka pertunjukan favoritku di club ini, kenapa tidak sedari dulu." Seloroh Ernest lelaki tua bangka yang masih menyukai hal-hal yang berbau s3xual.


" Paman Ernest, apa anda masih kuat?" Seloroh balik Nathan.


 " Nantangin, kalau saya bisa memenangkan satu diantara perempuan yang di atas panggung, kau harus kasih saya gratis satu." Bisik Ernest.


" Gampang itu, pastikan stamina paman terjaga." Jawab Nathan balas berbisik.


" Apa gadis mu termasuk yang dilelang?" 


Tubuh Nathan menegang, walau ia bersikap biasa.


" Paman,..."


" Tenang, saya akan menghindari dia, tapi saya tidak tahu yang lain. Mereka sangat penasaran dengan tubuh mudanya itu."


" Terima kasih. Soal yang lain biar saya yang urus." Nathan bernafas lega.


" Om Ernest, mari saya antar anda ke kursi anda." Luke mengambil alih perhatian Ernest setelah melihat kegusaran dari wajah keponakannya.


Nathan bergegas pergi saat pamannya bisa menghandle para tamu yang sudah meramaikan meja yang disediakan mengelilingi panggung.


" Om, om di sini? Bagaimana dengan yang di Tangerang?" Tanya Bara menghampiri Damian.


" Om Haidar bisa menanganinya.  Saya disini atas undangan Mumtaz, entahlah untuk apa, saya sendiri heran." Ucap Damian masih mencerna situasi.


Tadi sore ketika dia mendapatkan pesan berupa undangan acara ini, dia baca berkali-kali, untuk memastikan itu memang dari Mumtaz dan benar adanya.


Di ruang kerja Nathan, Gabriela tengah berlutut di hadapan mumtaz memohon agar membebaskan dirinya dari pertunjukan menjijikan ini.


" Maaf, saya tidak bisa. Sebelum kau banyak bicara, tonton ini." Mumtaz memberikan ponselnya pada Gabriela.


Semakin lama Gabriela menonton video dimana ayahnya dan Rudi Aloya, memperkos4, menyi-ksa, dan mengancam keluarga korban penjualan manusia. Para korban adalah dari anak dibawah umur hingga berusia 30-an.


Selanjutnya dimana ayahnya berserta Aloya bekerja sama membvnvh dan mengambil perusahaan Nathan. Gabriela menggeleng cepat karena tidak percaya.


Kini dia tahu mengapa Nathan selalu diliputi berbagai perasaan kala menatapnya, Gabriela menangis pilu, ia dapat merasakan kehilangan sekaligus kesedihan orang yang dicintainya.


Berikutnya berupa kejahatan lain berupa penjualan narkoba, senjata ilegal dan lainnya.


Gabriela menatap sayu Mumtaz yang sejak tadi mengamati mimik Gabriela saat menonton semua kelakuan ayah dan pamannya.


Terbaca sorot terluka dan dikhianati di mata Gabriela." Mereka berdua menculik Daniel dan Alfaska sahabat ku, dan hampir melecehkannya, dan terakhir, mereka membvnvh ibuku. Tidak ada sela dibagian cerita masa lalu mereka untuk saya maafkan, Samuel telah merasakan akibat dari perbuatan mereka, m4ti karena luka membvsvk akibat mencoba melecehkan Dista adikku." tangis Gabriela pecah, saudara lelaki yang sangat menyayanginya, yang sangat dia rindukan, tempatnya bergantung.


"...Sekarang kau, saya hanya menyuruhmu menari seperti mereka menyuruh pada perempuan-perempuan itu memuaskan fantasi s3xual para biad4b."


" Bukankah ayahku telah meninggal?" Tanya Gabriela serak.


" Bukankah kau masih di sini menjadi pemuas nafsu?"


Kontan Gabriela teringat perkataan Nathan saat pria yang dia pikir mencintainya mendatangkan dia ke sini, dirinya hanya bebas ketika ayahnya meninggal.


Mata Gabriela terbuka lebar, dirinya berjalan berlutut mendekati Mumtaz yang duduk di sofa.


" Tolong pertemukan saya dengan papa."


" Heuh, kau sama seperti mereka, serakah! bersiaplah atau ku buat kau menyesal merengek meminta ampunan padaku." Ucapnya dingin.


Mata tajam dan wajah datar itu yang membuat Gabriela bungkam dan akhirnya pergi dari ruangan.


Tidak lama Nathan masuk ke ruangannya. Menatap Mumtaz yang tengah memperhatikan tabsnya.


" Mum, boleh saya minta pengecualian lelang atas diri Gabriela?"


Mumtaz menatap Nathan, bola mata hitamnya makin memperjelas aura mengintimidasi.


" Jika kau bisa memastikan pertunjukannya berjalan lancar, saya bisa membebaskan dia, dan saya melakukan ini tidak lain hanya karena menghormati mu, Wilson." Kata itu diucapkan dengan suara rendah, namun tegas.


" Saya pastikan semuanya akan berjalan sesuai keinginan mu."Nathan meninggalkan ruangan dengan tubuh tegapnya.


Saat Mumtaz membuka pintu hendak ke arena pertunjukan karena sudah tiba saatnya, matanya bersirobok dengan Ibnu yang sudah berganti pakaian dengan stelan jas dan dasi, rambut disisir ke belakangan yang diberi pomade.


Mereka berdiri saling tatap untuk beberapa waktu, tidak ada yang bicara diantara mereka, hanya saling memandang dengan menilai.


" Muy,..." Mata sayu Ibnu mengatakan permintaan maafnya, karena bermain rahasia dengannya.


" Apa malam ini Lo puas?" Tanya Mumtaz tenang, tangannya yang di dalam saku celana mengepal kuat.


" Lumayan untuk hiburan. Gue ingin ngomong sesuatu sama lo."


" Bukanya mau menolak, tapi bisakah nanti? Karena pertunjukan akan dimulai."


" Tentu."


Mumtaz berjalan di belakang Ibnu yang berjalan bersama Jeno, dia menoleh pada Leo dan Ragad, masih ada sisa kelelahan di wajah mereka.


" Bagaimana dengannya?" Tanya mumtaz yang matanya melirik pada punggung Ibnu.


" Seperti Lo kalau marah. Tenang, lebih ke enggak berekspresi." Jawab Leo.


" Tapi matanya banyak kebencian." Timpal Ragad.


" Apa dia Okey?"


" Entahlah mukanya gak bisa terbaca, persis kayak Lo. Gak punya bakat jadi cenayang gue." Leo menjawab santai.


" Malam ini gue yakin kalian terhibur, kalian bebas, bersantai lah. Ibnu biar gue yang jaga. Thank ya udah jagain dia." 


" Sans. Kita juga menikmati." Sahut Ragad sambil terkekeh.


Meski suara mereka pelan, namun samar masih terdengar oleh Ibnu yang tangannya mengepal kuat. Jeno melirik kepalan itu, lantas membungkusnya dengan tangan kasarnya.


" Jangan merasa terbebani, sepeduli itu dia sama Lo. Buruknya Lo, itu buruknya dia, Kita keluarga."


Mendengar perkataan Jeno, kepalan itu melemah, Ibnu  tersenyum padanya." Thanks udah jaga dia."


" Anytime." Jeno membalas senyum Ibnu, itu cukup menenangkan baginya


" Gad, malam ini lepaslah keperjakaan kita." Ucap Rio menengok ke belakang.


" Lha emang Lo masih perjaka?" Tanya balik Ragad yang sarkas.


" Kan gue belum punya anak, 'bolong' gue masih rapet." Seloroh Rio vulgar.


Plak...


Jeno menggeplak kepala Rio.


" Lo yang bolongin anak gadis orang sampe lebar, bo-doh." Sungut Jeno yang lain tertawa mendengarnya.




Ruangan telah diterangi cahaya redup sensual panggung pertunjukan gelap tanpa lampu,  saat musik erotis mengalun lampu menyorot satu persatu wanita di atas panggung yang mengenakan kain yang hanya membaluti bagian intimnya saja.



Lampu paling belakang menyala menyoroti Naura, Amara, dan Miranda. Pada masanya mereka adalah wanita penghibur nomor satu, sesaat Mereka gelagapan karena gugup. Sorak Sorai penontonlah yang membuat mereka cepat menyesuaikan diri dengan irama musik. Tubuhnya yang masih kencang meski usia tidak lagi muda meliuk-liuk provokatif seirama musik.



Ditambah tatapan memuja dari para lelaki yang dipastikan berusia dibawah mereka menambah rasa percaya diri mereka.



Seiring waktu pertunjukan wanita paruh baya itu menghangatkan ruangan dengan suitan dari para penonton saat mereka bertiga mendekati para penonton.



Berikutnya lampu bagian tengah menyala, Gaby, Erika, dan Devi. Bagi mereka tarian 3rotis bukan hal yang baru, dengan lincah mereka mengikuti musiknya. Mereka tidak mau kalah pamor dari para senior mereka yang sudah mengambil perhatian para lelaki yang mulai berliur ingin segera menerk4m mereka.



Dalam kegelapan, Maura berkeringat dingin, ia merasa jijik melihat ibu dan bibinya menari mengudang syahwat para lelaki yang siap memangs4 mereka. 



Gabriela hampir menangis ia sedari keluar dari ruangan makeup,selalu menutupi area intimnya yang tertutup kain tipis dan minim bahkan bagian dadanya hanya dua titik merah jambu yang tertutup kain.



Lampu selanjutnya, bagian depan di posisi tengah panggung sebagai bintangnya malam ini, lampu menyorot Maura, dan Gabriela. Wajah mereka terkejut, ketakutan, bercampur grogi. Tarian mereka kaku, itu menambah kesan gemas di pandangan para lelaki hidung belang, kulit mulus mereka sangat menghilangkan secara cepat iman para hamba pendosa itu.



Bara yang duduk barisan ke dua paling ujung kiri terkejut mendapati Maura ada diantara mereka. Matanya menatap Randy yang duduk satu meja dengannya.



" Mengapa Maura ada di sini?" Ucap Bara geram.



" Apa Lo gak dengar omongan Mumtaz yang memintanya turut ambil bagian." Jawab Randy tanpa dosa.



" Sialan, dia seharusnya milik Lo, bukan para buaya darat." Sentak Bara.



" Apa Lo lebih peduli pada Maura dibanding Cassy, Bara?" Tanya Mumtaz menoleh pada Bara yang duduk dua bangku darinya.


__ADS_1


" Apa maksud Lo?"



Damian mendengar perkataan Mumtaz, ia lantas menatap bertanya pada Bara yang menatap tajam Mumtaz.



" Maura, dia seorang Brotosedjo. Tentu dia akan selalu dibawah pengawasan gue, di sana gue melihat semua interaksi manis kebersamaan kalian kala di dalam apartemen yang Lo beli untuknya." Ucapan Mumtaz mengudang atensi bertanya para petinggi RaHasiYa lainnya dan sahabat.



" Dia bayar pake duitnya sendiri."



" Tapi Lo menempatkan dia di satu gedung dengan Lo, sejak kedatangannya, Lo gak pernah mengajak Cassy ke apartemen lo lagi. Bara, siapa di sini yang menjadi kekasih Lo dan siapa yang menjadi wanita simpanan Lo, Bara."



Tangan Bara sudah mengepal kuat, hingga uratnya tertampak sangat.



" Lo *stalk* gue?"



" Maura tepatnya."



" Lo yang buat dia punya apa yang dia miliki saat ini." 



" Dengan asumsi dia gadis baik-baik dan sebagai teman satu sekolah, tapi itu tidak termasuk menggoda dan memiliki Lo."



" Dia gak milikin gue, Lo lihat sendiri gue selalu risih kalau dia deketin gue." Suara Bara meninggi.



Musik meredam perdebatan dua sahabat ini dari meja yang lain.



" Tapi Lo akan selalu datang padanya saat dia nelpon Lo dengan alibi sakit, tidak peduli berapa lama Cassy menunggu Lo di tempat janjian kalian."



" Gue telpon dia untuk membatalkannya."



" Setelah berjam-jam dia menunggu Lo, ada waktu dia kedinginan dibawah guyuran hujan dan gue butuh Zayin untuk memangguk dia pergi dari taman itu, sementara Lo memasak makanan hangat untuk mantan tercinta Lo." Sarkas Mumtaz tajam.



Bara tertegun, dia tidak tahu kesalahannya sudah fatal, dia baik pada Maura hanya karena kasihan dan merasa bertanggungjawab. Bagaimanapun Maura hidup sendiri tanpa keluarga.



Mumtaz tertawa culas melihat ketertegunan Bara.



" Dua kali dia mencium Lo, tidak Lo tolak meski Lo tidak menerimanya. Lo goyah karenanya, Bara." Imbuh Mumtaz tajam.



" Berhenti mengurusi hidup gue." Bara berdiri langsung menyerang Mumtaz yang mana Daniel dan Alfaska yang duduk diantara mereka tidak sempat mencegahnya.



BUGh...



Bara menerjang lalu mengh4-jar wajah Mumtaz hingga Mumtaz terjungkal dari kursinya.



Nathan dan beberapa penjaga keamanan langsung membentuk pagar manusia  menutup perkelahian tersebut, mereka tidak bisa memisahkan dua orang berkuasa tersebut.



Saat Bara kembali hendak menyerangnya, Mumtaz menendang kuat tulang keringnya dengan kaki kanan dan kaki kirinya mendepak rahangnya hingga dia tersungkur.




Bara meringis sambil memegang bagian yang sakit. Hentakan dari kaki kuat bagai mengisap seluruh oksigen dari orang tubuhnya.



" Mumtaz..Lo yang memutuskan menolong dia." Rintih Bara setelah dia menghirup pasokan udara yang cukup untuknya berbicara.



Mumtaz berjalan tegak kearahnya, Bara memandanginya tajam. Dia tidak suka seseorang mengoreksi perbuatannya.



" Itu sewaktu gue belum tahu bahwa dia tidak tahu diri, memanfaatkan situasinya menipu daya Lo...modus operandi dia sama persis yang dilakukan Naura pada Brotosedjo. Pertanyaan gue, apa Lo mau menjadikan Cassandra seperti Tante Riska kedua?" Sinis Mumtaz. Bara menggeleng.



" Mum, Lo sudah menyerahkan dia bersama Rendy, dan gue setuju. Itu bukti nyata gue gak mau berurusan dengannya."



" Itu tidak menutup kemungkinan dia tidak merengek dan mendatangi Lo, dan Lo tegas menolaknya yang pada akhirnya Lo kembali menyakiti Cassandra. lepaskan Cassandra, dia terlalu terhormat jika dibandingkan dengan pel4cur cilik macam Maura."



Bara berdiri, dia kembali menerjang Mumtaz." Lo... keterlaluan...."



BUGH...BUGH...



Pukulan keras di perut, lalu di bagian bawah dagu Bara menghentikan gerakannya setelah Mumtaz berhasil menghindari pukulan tangan Bara ke wajahnya.



" Berapa kali gue peringati Lo untuk menjauh dari Maura, berapa kali gue peringati Lo untuk melepas Cassandra kalau Lo masih cinta dengan Maura. Dia adik gue, tidak kan gue biarkan dia terluka seperti lukanya Tia. TIDAK AKAN PERNAH!!" bentak Mumtaz tegas.



Alfaska yang mendengar isi hati sahabatnya terdiam menunduk, dadanya nyeri rasa bersalah itu kembali. Dia sadar seberapa besar usaha dia membahagiakan istrinya luka kekecewaan itu tidak mudah hilang.



" Lo jangan campuri urusan gue."



PLAK.... PLAK....



Tamparan itu bukan dari Mumtaz melainkan dari Alfaska, sepupunya. Dia kesal dengan kekeraskepalaan sepupunya itu.



" Lo berhubungan dengan anak dari Brotosedjo yang berhubungan dengan Aloya dan Rafael yang membuat nyawa sepupu Lo, adik Lo hampir melayang, kalau Lo cukup tidak peduli pada semuanya, menyingkir dari kita, be-de-bah." Murka Alfaska.



" Om Damian, sudah tiga kali Cassandra menangis dalam pelukan Zayin karena Bara ingkar janji dan berbohong padanya. Di saat dia mengatakan pada cassy dia tidak bisa menemuinya, kenyataannya dia bertemu dengan Maura, dan setiap kali Lo ketemu cewek murahan itu, Maura mengirim foto dan video interaksi hangat kalian pada cassy. ID1OT." Uangkap Mumtaz jengah.



Bara tersentak, begitupun juga dengan Damian. Dia menatap nyalang Bara, lalu berjalan dan memukuli Bara.



" Kau bersumpah tidak akan menyakiti putriku karena itulah saya menerima mu kembali setelah sikap to-lol mu empat setengah tahun lalu." Damian terus menghajar wajah Bara meski sudah babak belur.



" Mumtaz punya hak untuk melindungi dan mencampuri urusan putriku, karena saya percayakan penjagaan atas dirinya pada Mumtaz." Bentak Damian yang seketika membuat dada Bara terasa dicubit.



Damian berdiri tegak di atas Bara dengan nafas memburu." Kau pikir saya tidak menyelidiki masa lalu mu hanya karena kau Atma Madina? Kau pikir saya mengizinkan Cassandra berhubungan dengan mu hanya karena kau seorang Atma Madina? Meski kami tidak sekaya kau, tapi kami berdiri dengan harga diri melebihi mu. Pergi menjauh kau dari putriku."



Kalimat terakhir Damian bagian Bogeman kuat bagi hati Bara, dia menggeleng cepat, tatapannya kalut.



 " Ti..tidak..aku bersumpah aku tidak menyelingkuhinya. Aku tidak bermain curang di belakangnya."


__ADS_1


" Tapi kau tidak menghargainya sebagai pasangan mu, Bara." Ucap Mumtaz.



Perkataan Mumtaz bagai menyiram bensin di atas api, Damian untuk terakhir menendang tulang kering Bara, dia hanya bisa meringis menerima kemarahan Damian.



" Gue gak butuh pengkhianat, itu hanya membuang waktu gue. Saat ini kehidupan Ibnu yang terpenting dari apapun."



Bara tersentak hatinya sakit mendapat tatapan asing itu, dia tahu dia salah, tapi dia tidak tahu kesalahan itu sebesar ini.



" Gue gak pernah khianati Lo." Lirih Bara perlahan.



" Penculikan para bocil itu melibatkan Maura. Dia melaporkan apa yang Lo omongin ke dia tentang penjagaan para bocil ke Navarro."



Semuanya tersentak, mata Bara melebar.



" Satu-satunya alasan Maura masih bisa bernafas sampai detik ini adalah karena Cassy melarang gue untuk membv-nvhnya. Lo tahu kan gue bisa menjadi monster untuk orang yang gue lindungi? Menghabisi nyawanya bukan hal sulit bagi gue."



" Kalian,..." Mumtaz menatap Jeno dan yang lain yang pada dasarnya merupakan sahabat Bara.



" Boleh meninggalkan RaHasiYa, karena sejak detik ini apapun urusan RaHasiYa tidak lagi melibatkan Bara, begitupun sebaliknya." 



Ucapan Mumtaz mengagetkan semuanya, termasuk Bara yang menatap intens Mumtaz yang menatapnya kecewa.



Damian, petinggi Gaunzaga dan RaHaSiYa meninggalkan arena. Meninggalkan Bara yang tertunduk lesu dengan kedua tangan menjambak rambutnya.



Para sahabatnya menatapnya sendu, Ubay menghampirinya berlutut memeluknya. Dia tahu perkataan Mumtaz sangat menyakiti Bara.



Dia tahu betapa Bara selalu merasa berhutang budi pada Mumtaz. Itulah mengapa dia rela melakukan apapun perintah Mumtaz tanpa protes.



Sementara perselisihan sengit itu terjadi, aksi panggung sudah memanas dengan lelang yang sudah dimulai sedari tadi. 



Tinggal Maura dan Erika yang berdiri di atas panggung yang bertel4-njang bv-g1l di hadapan puluhan pria dengan sorot mesum yang sudah memegang angka di tangan mereka.



Sementara atas izin Mumtaz, Gabriela dibebaskan dari lelang karena Nathan sudah berupaya keras bagaimana perkelahian dua sahabat itu tidak menggangu pertunjukan.



" Ya,...Erika Pramono berhasil dilepas untuk satu bulan dengan harga 800 juta." Seru MC setelah mengetik palu tiga kali  ke atas meja.



" Maura Brotosedjo, satu-satunya wanuta yang masih perawan berhasil dilelang dengan harga 1milyar 600 juta atas nama tuan Ernest." Seru MC menggelegar.



Para sahabat memandangi panggung saat Ernest dengan tubuh tuanya menaiki panggung.



" BARAAA...TOLONG AKU..." Teriak Maura dengan air mata berlinang saat Ernest memeluk tubuhnya yang bv-gil dari belakang.



Merem4s dan menjam4h seluruh tubuhnya di depan seluruh pengunjung.



" Sebelum saya membawanya, saya mengizinkan kalian untuk mencicipinya." Ujar Ernest yang mendapat sambutan tepuk tangan meriah dari pengunjung yang lain yang segera menaiki panggung.



Beberapa pria sudah mencv-mbu Maura yang menangis histeris. Rendy hanya memandanginya dengan senyum smirk merendahkan sambil mengambil video lewat ponselnya, dia sangat menikmati apa yang dia lihat.



Dalam pelukan Ubay, Bara menoleh ke arah panggung pandangan mereka berdua beradu, terlihat penderitaan dan kehancuran di mata Maura, namun itu tidak cukup menggugah Bara untuk menolongnya, dia tidak bergerak sedikitpun dari duduknya.



Hanya memandanginya saat makin banyak pria menikmati dirinya. Perkataan Mumtaz mengenai Maura memenuhi pikirannya.



" Pergilah ambil perempuan mu, karena Cassandra tidak kan pernah menjadi kekasih mu kembali." Ucapan Akbar mengembalikan pada kenyataan.



Bara melirik Akbar yang menatap tanpa ekspresi seperti biasa meminta bantuan," Maura pernah mendatangiku, dia memperlihatkan kelakuan kalian selama di apartemennya, dia bahkan memberitahu kalau apartemen itu pilihanmu, kau sengaja menempatkan dia dalam satu gedung dengan mu. Intinya perkataannya mengindikasi kan kalian pasangan yang tidak bisa terpisahkan." Ucapan Akbar datar melemahkan mental Bara untuk membujuk Damian.



\*\*\*\*\*



Tangerang pukul 03.00 wib.



Dia kediaman Aida Romli.



Cassandra mengusap matanya yang masih berair, dia masih mengenakan mukena duduk di atas sajadah.



Hampir satu bulan tinggal di lingkungan pesantren membawa perubahan pada diri Cassandra yang memang tenaga galau.



Dia mulai belajar agama dengan baik, menjalankan ibadah sesuai aturan. Jika dulu shalatnya harus dipaksa di sini dia berjamaah, sering mendengar tadarusan atau hafalan Qur'an atau kita salafi santri mengubah cara pandangnya tentang hidup.



Kini dia memahami mengapa Tia dan Zahra begitu ketat diajak oleh kedua saudara lelakinya, karena hanya perempuan yang terjaga yang akan dimuliakan entah oleh makhluk maupun sang Khaliq.



Tok..tok...



" Cass,...mama masuk ya." Ucap Julia di balik pintu.



" Masuk Ma." Cassandra melipat sajadah dan mukenanya.



Julia memandang putri kesayangannya dengan sedih.



" Ma, ada apa?"



" Papa mengizinkan kamu pindah kuliah ke luar negeri."



Cassandra tersentak, pasalnya dia sudah merayu ayahnya ribuan kali memohon untuk pindah kuliah, tapi selalu ditolak Damian karena alasan Cassandra yang konyol.



" Sekarang papa dan Adgar sudah nunggu kamu di Halim. Kita ke sana menggunakan helikopter."



Airmata Cassandra meluruh meski bibirnya tersenyum, ia mengangguk." Iya, sebaiknya kita segera pergi. lebih cepat lebih baik."....



Cerita tentang Bara dan Cassandra dibuat terpisah ya!! semoga berkenan menunggu.



Aku sudah mempublish cerita baru romantis berjudul ***Kau Yang Aku Mau***. baca ya!! makasih masih stay...

__ADS_1


__ADS_2