Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
249. Strategi Mengambil Hati Ala Adelia.


__ADS_3

Saat di dalam lift, Sisilia memegang dadanya Diman jantungnya sedang berdetak kencang." orang alim kalau marah lebih menyeramkan daripada orang bar-bar. gak lagi-lagi dah tapi ni orang kalau gak dilawan mana bisa gue ketemu kak Mumtaz yang Tuhan jiwa mafia gue meronta-ronta protes."


Ting....


Pintu lift terbuka di lantai atas rumah sakit, Sisilia ingin membersihkan diri di ruang kerja ayahnya, namun langkahnya terhenti saat di depan ya ia menyaksikan seorang wanita yang tenaga disudutkan di tembok oleh Bara.


Mengenal siapa gadis itu, dengan aura marah Sisilia berlari sekejap kemudian mendorong tubuh besar itu yang cuma bergeser sedikit tapi mampu mengejutkan kedua.


" Kakak apain Cassy?" bentak Sisilia pada Bara yang tengah memejamkan matanya menahan emosi.


Dalam beberapa hari semenjak pertemuannya kembali dengan gadis yang masih dia klaim sebagai kekasihnya Bara mencari celah kesempatan diantara manusia yang selalu mengelilingi Cassandra ditambah penolakan dari gadis dan keluarganya itu membuat Bara sangat frustasi.


Sampai akhirnya dia menemukannya saat Cassandra memasuki lift hanya seorang diri, maka Bara tidak membuang waktu langsung membawanya ke ruang kerjanya yang tentu saja sang gadis memberontak, namun si bule Italia ini merusak waktu emasnya.


" Sil, kasih kakak waktu buat bersama dia sebentar saja." mohon Bara dengan menurunkan setengah egonya.


" Untuk apa?"


" Untuk menjelaskan semua.".


" Mati gila ngejelasin semua, maksudnya menjelaskan kenapa kakak bohongin dia dengan alibi si Maura sakit, eh ternyata ci-pokan?" tembak Sisilia kesal.


" Memang kebenaran begitu?" Cassandra dan Sisilia mengangkat kening mereka mengejek.


" Maksudnya Maura sakit, soal civman itu kakak gak tahu."


" Tapi bales." celetuk Cassandra datar tanpa melihat ke arah Bara.


" Maaf untuk itu, tapi itu hanya refleks kaget saja."


" Terus menikmati."


" Aarrgghhh..." bara mengusap wajahnya kasar.


" Sayang..,please jangan hukum aku kayak gini lagi, ini menyiksa banget."


" Udah tahu menyiksa diulangi."


" Kalian, sedang apa?" dari arah lift Hito berjalan bersama Samudera mengarah ke mereka.


Di klan Hartadraja hanya Hito yang belum menunjukkan sikap atas persoalan Bara dan Cassandra, tetapi bukan berarti Bara bisa tenang. Hito merupakan pribadi yang jarang menunjukan minat pada hal yang dianggapnya tidak penting.


" Om,.." panggil Cassandra yang sumringah, ia menegakkan tubuh, namun bara keburu menahan tangannya.


Bara sedaya upaya menunjukan sport permohonan pada Cassandra yang dibalas datar oelh gadis pujaannya itu.


" Sil, bisa om bicara?" Hito berbicara terang pada Sisilia.


" Soal?"


" Rumah sakit."


" kok ke aku, itukan urusan Papa."


" Ke depannya kan tugas kamu." Hito menarik Sisilia, lalu menjauh dari pasangan yang ternagj bermasalah tersebut.


" Ck, gak mau kak Domin aja."


" Kamu mau rumah sakit jadi kandang eksekusi kakak kamu?" Sisilia menghembuskan napas



" Aa, apa halus ke sana dan meninggalkan Adel?" rengek Adelia manja, keposessifan Adelia sudah menyebar ke seluruh nusantara jika mau digambarkan, karena pada setiap wanita tidak pandang bulu dan tempat yang menatap lebih dari tiga detik pada pria idamannya dia dengan lantangnya akan mengatakan bahwa pria tampan adalah tunangannya.



Ditambah Zayin yang tidak menyangkal maka semuanya dengan keengganan hanya menerima saja, pernah ada satu pengunjung rumah sakit yang menertawai maklumatnya, Zayin dengan mata elang dan mimik wajah menyeramkan membungkam mulut wanita itu, semenjak saat itu tidak ada yang berani lagi membantahnya.



Namun sepertinya rasa percaya diri Adelia yang selalu dibela Zayin kini berbalik menyerang dirinya, Adelia tidak mau menjauh darinya barang sedetikpun, Zayin tidak keberatan jika Adelia menempatkan diri, tapi pengekangan Adelia termasuk kepada keluarganya harus didisiplinkan.



Zayin yang biasanya menatap lembut padanya kini belum berubah tegas, meski ia diam Adelia yang sudah memahami bahasa tubuh Zayin pun mingkem mengkerut.



" A..apa Adel berbuat salah?"



" Aa punya keluarga, Aa sangat mencintai keluarga Aa. Aa gak mungkin mencintai apalagi menikah dengan orang yang tidak mencintai keluarga Aa. Aa harap seseorang yang menikahi Aa nanti mencintai keluarga Aa seperti apa mencintai keluarganya,sebab nanti tidak ada lagi ini keluargamu dan ini keluarga ku yang ada keluarga kita. Adel selalu mencegah dan mengganggu Aa untuk bertemu Aa Mumuy, Aa gak suka itu, sepertinya apapun hubungan kita yang ada di kepala kamu harus kita tinjau ulang."



Adelia mengerjap berulangkali mencoba mencerna perkataannya, namun otak kecil dari tubuh mungilnya belum mampu memahami bahasa serius tersebut.



" Adel, gak paham, A."



" Tanya ke ayah, TANYA! kalau Adel belum bisa merubah sikap dan sifat jangan temuin Aa." tekan Zayin. kemudian ia keluar dari kamar inap Adelia tidak menggubris panggilan-panggilan Adelia dengan nada pilu diiringi tangisan meraung yang menyayat hati.



Heru, Eidelweis dan klan Hartadraja yang lain hanya mampu menghembuskan napas lelah padahal mereka belum juga mulai bertindak membujuk. ini tugas besar dan lammmaaaa.



" Tumben tiga hari Lo pulang mulu, Yin?." tanya Romli dari ruang makan tengah menyusun menu makan siang mereka.


" Hmm." Zayin menenggak segelas airnya langsung ludes dalam sekejap.


" Berantem sama istri cilik Lo?"


" Hmmm."


" lagi cosplay jadi Iis Dahlia, Lo? hmm hammm..hemm doang."


" Cerewet Lo, kayak bini gue. salin buat Aa Mumuy udah siap belum?"


" Udah, tinggal angkut. perasaan tadi gue simpan di ruang tamu dah."


" Gak lihat gue."


" Orang galau gak bisa lihat apapun." Ledek Raja memasuki ruang makan.


" Main yok, udah seabad kita gak ngumpul, Adgar sama Juan nunggu di basecamp."


" Oke, gue telpon Willie dam Bayu dulu. tapi mampir ke rumah sakit dulu ya, gue dititipin salinan Aa Mumuy." Zayin beranjak pergi ke kamarnya.


" Iya, gue makan dulu." Raja sudah mengambil nasi dan segala lauk yang ada.


" Yin, kamar Lo di kunci muli, baju kotornya taruh di depan kamar." teriak Romli.


" Bang, sekalian baju gue, napa. lama noh ngejogrok di ruangan cucian." sungut Raja.


" Berani bayar piro. lagian rumah gede, art banyak masih aja nyusahin orang." gerutu Romli meninggalkan Raja menuju ruang laundry.


" Bang, ini semua punya gue. maaf ya, ngerepotin. tapi beneran gue belum punya waktu buat nyuci." Zayin menaruh keranjang berisi pakaian kotornya di sisi tembok.


" Lo jangan sungkan gitu dong, gue sungkan balik Lo marah. kapok gue dihajar Lo, dijulidin Kak Ala, dipelototin Mumtaz. gue ngelakuin ini bukan karena balas budi tapi karena gue emang pengen. kan kalian sendiri yang bilang kalau kita keluarga." cerocos Romli sewot sambil memilah baju kotor kiriman dari rumah sakit yang bukan hanya milik Mumtaz tetapi yang lain juga.


Zayin terkekeh menikmati Omelan Romli." Kayak mak kompleks Lo, bang."


" Lo sih mancing mulu, bakat alami efek kebanyakan gaul sama ibu-ibu di tukang sayur keliling."


" Lo udah makan, bang?"


" Belum, Lo makan duluan aja."


" Gue tunggu Lo." Zayin meloyor pergi.


" Ishh, tu anak. sopan sih orangnya baik pula kalau ambeknya gak ngereog." Romli mau tak mau menunda mencuci baju.


" Bang, gimana skripsi Lo? lancar?" tanya Raja pada Romli yang turut makan.


" B aja."


" Habis lulus nanti rencana kerja dimana?"


" Kayaknya gue mau mengembangkan kemampuan nulis ilmiah gue. hasilnya lumayan, gue bisa ngirim duit buat orang rumah di kampung. waktu kerja fleksibel."


" Seriusan? lapangan kerjanya menjanjikan emang?"


" Gue dapet job dari beberapa profesor, mereka bilang Kaka Ala merekomendasikan gue, dan mereka udah lihat juga hasil kerja gue, mereka suka, terus ngontrak gue. Kak Ala yang nentuin harganya, pas gue tahu nilai kemampuan gue, gue sport jantung. dua kali lipat dari honor Kak Ala. Sekarang gue sama Dimas keteteran, apalagi sejak kasus Navarro kemarin Dimas harus melimpahkan sebagian tugasnya ke temannya."


" Kaya Lo."

__ADS_1


" Alhamdulillah...seenggaknya adik- adik masih gue bisa sekolah dan kuliah."


" Ja ,Lo udah selesai belum makannya?" Zayin meminum air setelah menghabiskan sepiring makanannya.


" Udah."


Mereka bertiga beranjak ke ruang tamu, Zayin mengernyit melihat banyaknya bawaan mereka.


" Banyak amat."


" Baju Mumuy dan yang lain cuma dua kantong, selebihnya buah-buahan. kemarin bonyok gue main ke sini bawa hasil panen di kampung."


" Makasih, dan sorry gak sempat nemuin mereka." timpal Zayin.


" Santai aja, lain kali mungkin."


" Tentu."


" Yin, kok gue gak nerima pakaian kotor Kak Ala?"


" Dia mah di laundry langsung sama asisten om Hito. tiap hari bajunya baru branded pula. Lo kagak bakalan bisa nyucinya."


" Busyet..ngeremehin gue Lo."


Terserah kalau gak percaya, gue aja pas diterangin cara nyucinya kagak paham."


" Oke deh, kita pergi dulu." raja dan Zayin menuju mobil Raja.


" Hati-hati."


Saat memasukkan bawaan beberapa anak RaHasiYa datang sepulang kuliah." woy, Yin. berangkat lagi?" mereka bersalaman ala pria.


" Yoi, gue titip rumah."


" pasti itu mah."


" Apa ada yang mencurigakan?"


" Di sini gak ada, tapi di rumah om Heru ada. udah kita laporin ke Gaunzaga. kata bang Domin urusan ini jadi urusan Gaunzaga." terang si cepak.


" Oh, gitu. gue pergi dulu ya. jaga kesehatan jangan lupa."


^^^^^^^^^


Ceklek....


Akbar memasuki ruang inap dimana Adelia sedang diperiksa oleh Zahira.


" Alhamdulillah, semuanya stabil. Adel, sayang. jangan terlalu banyak nangis dulu ya, itu yang di dalamnya ikutan sedih lagi jadi bengkak lagi, kan."


" I..iya... Tante. tapi gimana Aa Ayin-nya macih malah cama Adel, gak mau nemuin Adel. jadi Adel cedih." rungut Adelia memasang wajahnya yang sendu yang dalam pandangan Zahira dilebih-lebihkan.


" Lagian sok-sokan mau menguasai Ayin, ditinggalkan, kaciaaan deh Lo." Ledek Zahra yang baru masuk ke kamar bersama Hito.


" Apa sih kakak, Adel gak cuka sama kakak, nanti Adel culuh om Hito cali pacal balu."


" OOOO..H Adel gak suka kakak, kakak aduin ke Aa Ayin ni, ingat, kakak ini kakak perempuan kesayangan Aa Ayin, kalau kakak gak merestui kalian, Aa Ayin pasti nyari perempuan lain." menggoda Adelia dengan ancaman kehilangan Zayin adalah kegemaran Zahra tersendiri.


Adelia sontak gelagapan, ingin ia merengek mengadu pada Mama-nya tetapi ia urungkan,. ia teringat nasihat Adgar yang mengatakan kalau Zayin menyukai perempuan dewasa yang tidak manja.


" Hahahaha..apasih kakak bapelan, Adel kan cuma belcanda, gak selu ih. pokoknya kakak calon ideal buat om Hito gak ada tandingannya sejagat Laya bumi ini."


Zahra memutar mata malas, sedangkan yang lain menahan tawa sambil menggeleng.


" Tadinya kakak kemari mau ngasih tahu Adel kalau pangeran mu ada di kamar Aa Mumuy, tapi kamu udah bikin mood kakak anjlok, jadi kakak gak izinkan kamu untuk menemuinya." Zahra memasang wajah belaga menyesal.


" Eee...h. gak bica gitu, niat baik gak boleh dibatalin, pamali." bujuk Adelia duduk tegak.


" Tapi akan kamu gak suka Aa Mumuy, kamu gak suka kami ..hiks...." Zahra berpura-pura menyeka airmatanya.


Namun Adelia menganggapnya serius, ia pun mulai merengek." Ra,.." tegur Zahira.


" Shuutttt... Adel,. tenang. apa yang sudah mama bilang. minta maaf, dan berjanji gak bakal mengekang Aa Ayin lagi atau Adel putus sama Aa Ayin. gak boleh nangis dulu kata dokter Hira."


" Iya, gak boleh cengeng. istri tentara harus kuat. ini mah dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngadu. mana suka Zayin sama perempuan manja." Zahra bertambah semangat untuk memprovokasi.


" Ya telus gimana dong, Adel gak mau kehilangan Aa Ayin, ayah...."


Heru tengah memijit pelipisnya mengusir kemumetan efek pertujukan Adelia. Hito menertawainya puas, sahabatnya terlihat 10 tahun lebih tua dari umurnya.


" Kakak janji bakal bagus-bagusin Adel di depan Aa Ayin dengan syarat..."


" Apa?" serobot Adelia terlalu bersemangat.


" Janji, Adel gak nangis lagi. tapi kakak halus tepati janji kakak. awas kalau bohong."


" Adel ngancem kakak? kakak sedih diancem Adel. kakak bilangin Aa Ayin ah." Zahra mengambil ponselnya.


" Eeh..eee..h gak ngancem..maaf itu keceleo lidah. om Hito bantuin Adel dong, ambil hp Kak Ala."


Dengan malas-malasan Hito mengambil ponsel Zahra, dan Zahra langsung menangis kejer yang berhasil membuat Adelia panik.


" HUAAAAAA...Mama...ayah..yang di surga...Kakak digalakin..hp kakak diambil." Zahra mengikuti cara Adelia agar keinginannya dituruti.


" Om, kacih lagi, om. Aa Ayin tahu kakak nangis bisa nambah palah malahnya cama Adel."


Hito melirik sebal tunangannya yang menahan tawa, karena tidak kuat lagi nahan tawa melihat muka panik Adelia akhirnya Zahra beranjak keluar kamar sambil menangis.


Tambah paniklah Adelia, dia takut Zahra mengadu pada para adiknya yang telah teruji menyeramkan.


" Om, ih...kok gak dikacih. kalau Aa Ayin mutusin Adel, Adel bakal malah telus cama om." hito yang tidak kunjung bereaksi, membuat Adelia kesal bukan main.


" OOOOMMMM..... huhuhu...hiks.... Adel minta maaf. Adel cabut omongan Adel yang gak ngelestuin kalian, pleasee .om kacih hp kak Ala-nya." rengek Adelia memohon.


" Huh. iya..iya .." mau tidak mau Hito pun beranjak menyusul tunangannya yang tengah tertawa terbahak-bahak di luar kamar.


Tuk...


Hito menyentil pelan kening Zahra," suka banget godaan Adel." Hito menyodorkan ponsel pada Zahra.


" Lagian ponakan kamu belum bisa baca juga udah sok-sokan bucin. dikasih makan apa dah tu itik."


" Jangan lagi. aku-nya yang pusing ini."


" Kan kamu yang pusing, aku mah terhibur tuh."


" Ck, kalau aku gak sayang kamu udah aku pites kamu."


Zahra mengerjap-kerjap genit, " sayang banget ya..."


" Heeh." wajah Zahra seketika memerah, berniat menggoda Hito malah dia sendiri yang salah tingkah.


Ceklek....


Crystal yang digendong akbar mendekati mereka." kok keluar?" tanya Zahra.


" Di dalal bising, Adel sedang heboh dandan mau ke kamar Mumtaz.


" Ayok, Cal. kita nonton pertunjukan." Zahra mengambil Crystal dan berlari kecil ke kamar Mumtaz.


" Om yaki sama kakak Ara?" tanya Akbar.


" Yakin, udah terima nasib dapet bentukan kayak Ara, tinggal menikmati saja." Hito dan Akbar berjalan menyusul Zahra.




Seperti biasa sejak Mumtaz dipindahkan ke ruang inap, kamarnya penuh dengan pengunjung dari berbagai kalangan.



Dari sini sekarang orang tahu Mumtaz yang pembawaan santai merupakan sosok bukan sembarangan.



Ruben bersama petinggi RaHasiYa tengah membicarakan strategis menuntut perbaikan nama Mahmud atas fitnahan korupsi sepuluh tahun lalu, serta kesalahan pembakaran yang merupakan pembunuhan berencana dilimpahkan pada Toni.



Ibnu memperhatikan secara seksama." Pak Ibnu, selaku saksi, pihak kepolisian pasti akan meminta keterangan anda, apa anda siap?" tanya Ruben.



Ibnu menatap Mumtaz." apa Mumtaz juga?"



" Iya."


__ADS_1


" Bisa hanya saya saja yang menjadi saksi? saya tidak ingin Mumtaz mendapat sorotan terkait apapun lagi yang berhubungan dengan hukum?"



Ruben meminta persetujuan Mumtaz yang diangguki olehnya." kalau bapak menerangkan secara detil, dan terang disertai bukti yang lain kami usahakan pak Mumtaz tidka terseret.



" Ini, di dalam sini ada video pengakuan Andre dan mulyadi terkait kasus itu sebelum mereka buron. " Alfaska yang menyodorkan.



" Hadirkan beberapa ahli untuk mendukung video tersebut." usul Daniel.



" Baiklah, semuanya akan kami tidak lanjuti. akan lebih bagus kalau kita bisa menghadirkan mereka."



" Bukankah tugas negara untuk mencari kemana mereka pergi." sinis Alfaska.



" Buat mereka sedikit terpojok, sedangkan jika Toni menyinggung Navarro, bilang padanya kami sudah menyerahkan urusan Navarro pada Gaunzaga. " Alfaska merujuk pada lembaga pemerintahan.



Ruben sebagai generasi kedua sebagai pengacara keluarga Hartadraja tentu tahu apa itu Gaunzaga." Kalau begitu saya permisi."



Tidak lama Ruben pergi pintu dibuka kembali dengan masuknya gadis cilik berkacamata hitam, berdress floral besar selutut berwarna pink bagai bunga mekar di taman dengan tatanan rambut yang *di-curly* diikat sedikit berpita besar berwarna pink, wajah bermake-up flawless tipis dengan perona pipi dan bibir pink fresh.



" Accalamu'lakum."



Berjalan anggun dengan flatshoes pink, membawa dua jinjingan, satu paperbag berisi roti kesukaannya, dan tas tangan besar persegi kotak. Meski kakinya berjalan ke arah brankas Mumtaz, namun matanya mengedar mencari seseorang yang belum terlihat.



Pintu antar ruangan terbuka, mereka melongo dengan penampilan Adelia yang terkesan seperti gulali rasa strawberry yang berjalan.



" Kak Eidel gak kapok juga masih berani dandanin Adel." ucap Dista.



Eidelweis yang mendengar mengeluarkan napas kasar, bathinnya capek. tidak tahu saja dia bagaimana Adelia merengek minta di-makeup.



" Kok gak ada." gumam Adelia yang terdengar oleh orang-orang di ruangan itu.



" Siapa yang tidak ada?" tanya Daniel.



Menyadari dirinya dibohongi Zahra, Adelia melirik sengit pada Zahra yang duduk bersisian yang sedang menyembunyikan wajahnya dipunggung Hito sembari mengigit lengannya guna menahan tawa.



" Benal-benal ya ci kakak bohongin aku." monolog Adelia yang terdengar Zahra.



" Yang, sakit." bisik Hito mengusap lengannya.



" Maaf, tapi ponakan kamu terlalu menggemaskan." balas bisik Zahra.



Namun sedetik kemudian Zahra berpura-pura menangis."Hua.... Aa. mbak itu gak suka kakak tadi dia melototi kakak. Aa Mumuy sedang sakit jadi gak bisa nolongin aku, ah, aku mau nelpon Dedek Ayin aja, ah." Zahra mengelukan ponsel dari jas putihnya.



"AAAAAA.... Ayin, ada orang yang melototi aku." bahkan untuk lebih meyakinkan dari matanya telah turun air mata



Adelia gelagapan,ia pun tertawa cantik ala Adelia, yaitu tertawa sembari meletakkan satu tangannya di depan mulutnya.



Adelia berikan mendekati Zahra,"HOHOHO, mana mungkin, Adel cayang kakak ala, cayang Aa Mumuy, cayang kakak Tia. cayang semuanya." ucapnya dikeraskan berharap orang diseberang mendengarnya.



Adelia mengambil ponsel Zahra dan langsung ditaruh di telinganya," Aa Ayin jangan pelcaya cama kak Ala, ini cuma calah paham, ya." tidak ada jawaban.



" Halo..halo.. Aa Ayin hallo..."Karena tidak kunjung ada balasan, Adelia melihat layar ponsel yang ternyata tidak tersambung dengan siapapun.



Mata bulat Adelia semakin menajam, ia sedikit kasar memberikan ponsel pada Zahra yang langsung ditegur Heru.



" Hiks..hiks...Aa Mumuy. kita memang gak ada yang sayang. hiks..kita pindah aja yang jauuuuhhh...sampe gak bisa ditemukan lagi, ajak Ayin juga." Zahra menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hito menghela napas lelah, dia berasa ujian hidupnya terlalu berat dengan kekasih yang random ini.



Mendengar itu Adelia panik seketika, ia menarik lalu mengeluarkan napas menenangkan diri." Cabal, Del. Cabal. olang cabal dicayang Aa Ayin."



Adelia menghadap penuh Zahra, tersenyum lebar pasta gigi." Maaf, ya kak. Adel calah." Adelia mengulurkan tangan lalu mencium punggung tangan Zahra.



" Maaf ya, A. Adel juga cayang Aa Mumuy, cayang cemua olang yang dicayang Aa Ayin." ucap Adelia selembut mungkin.



" Maaf, Tan. salah kamar. Tante sedang cari anaknya yang hilang kan?" usil Alfaska.



Adelia memijit keningnya," Aa Afa, ini Adel, calon Ipal Aa."



" Ipal, apa itu Ipal, Tante laper?"



" Ipal, bukan lapel. IPAL. EEKHHHRRRHHH..." Adelia memaksakan menyebut huruf R.



" Oh, ipar. dengan siapa? kalau masuk sini itu mau jenguk kak Mumtaz aja gak boleh punya niat lain." Tia ikut nimbrung.



" Ciapa bilang Adel ke cini lihat Aa Ayin, Adel mau jenguk Aa Mumuy. Adel cayang Aa Mumuy."



" Baguslah, jadi aku lebih lega dan tenang gak diposesifin kamu lagi." ucap suara berat yang baru masuk ruangan.



Tubuh Adelia seketika mematung kaku, dia tidak berani menggerakkan diri, hanya ekor matanya yang mengikuti langkah pria tampan yang berdiri di sisi ranjang berseberangan dengannya.



Ia memaksakan tersenyum perlahan namun kaku bibir itu terangkat." Ha..."



" Adelia Putriana Hartadraja-Hermawan, apa kamu memakai make-up?" tanya suara tegas dan mengintimidasi.

__ADS_1



Bibir yang semula setengah terangkat langsung menutup rapat....


__ADS_2