Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
228. Polemik Navarro.


__ADS_3

Pagi belumlah tiba namun kamar tidur Mateo sudah ribut dengan kedatangan Rodrigo dan Diego dan beberapa anak buahnya.


Brak...


Rodrigo mendobrak pintu kamar tidur Mateo layaknya mafia yang siap menerkam mangsanya.


Mateo gelagapan terkejut, belum lagi tersadar sepenuhnya sebuah tangan mencengkram kerah kemejanya yang belum dia ganti sejak kemarin hingga wajahnya terangkat dan dia setengah duduk.


Semalam sesudah menyelesaikan tugasnya Mateo langsung ambruk di tempat tidur, terlalu cemas dan takut menghabiskan seluruh energinya.


Satu pvkvlan keras mengenai pipinya, ia meringis sakit sekaligus kaget.


BUGh.... BUGh...


BUGh...BUGh....


Rodrigo terus mengha-jarnya tanpa ampun, saat dia menerima laporan dari anak buahnya yang ditugasi membuntuti Mateo dia kesal, sangat marah.


Di akhir buta dia langsung ke apartemen Mateo, beruntung di ruang tamu dia bertemu Diego yang sedang berbincang dengan Alejandro yang akhirnya diperintahkan untuk mengikuti Rodrigo karena wajahnya yang terlihat memerah marah.


" Kau bo-doh atau idi-ot bekerjasama dengan Navarro menyerbu RaHasiYa." Bentak Rodrigo.


" Tu..tuan..." Mateo merasakan sakit di hampir setiap jengkal wajahnya.


" DIAM... seluruh keluarga mu berada di tangan Mumtaz, kalau kau pikir dia bisa memaafkan mu setelah mengkhianatinya kau salah mengira. dengan caranya sendiri dia bisa lebih kejam dari Navarro."


BUGh...


BUGh...


BUGh....


Rodrigo tidak memberi kesempatan Mateo untuk melawan, dia memu-kulinya lagi.


Setelah puas, Rodrigo menghentakan Mateo ke atas ranjang dengan wajah babak belur.


" Kalau kau pikir Mumtaz baik, dan memberi mu pengampun, kau salah besar. Buka mata mu aku pikir buronnya ketua, Mulyadi, Andre dan yang terjadi pada Valentino tidak ada keterlibatan dirinya? GUNAKAN OTAKMU MATEO." Hardik Rodrigo keras sampai urat lehernya menonjol.


Mateo yang terkapar di atas ranjang diam merenung, " si4l, kenapa dia tidak sampai berpikir ke situ." Bathin Mateo.


" Ancaman apa yang digunakan Navarro padamu."


Perlahan-lahan Mateo merubah posisi tubuhnya bersandar di kepala ranjang.


" Dia menuntut balas budinya padaku, kalau tidak dia akan membvnvhku."


" Dia tetap akan membvnvhmu." Ucap Diego.


" Bersihkan dirimu, tuan Gurman ingin kita mengakhiri hubungan mu dengannya." ujar Diego yang mengangkat ponselnya, dia tengah melapor pada Alejandro.


" Apa maksudmu tuan Diego." tanya Mateo, dia lelah berpikir.


" Kita bongkar semuanya."


" Tuan, ini akan beresiko pada keluargaku."


" Setelah apa yang kau lakukan dinihari tadi ku yakin dalam hitungan jam keluargamu musnah. Kami tunggu dalam 20 menit." Tutup Rodrigo, keduanya keluar dari kamar Mateo.




TIN....TIN....



Rodrigo menekan klaksonnya kuat-kuat karena tidak sabar.



Mateo turun dari mobil dan berbicara dengan penjaga rumah, penjaga rumah menolak kunjungan Rodrigo.



Rodrigo yang tengah dilanda amarah, menabrak gerbang besar mansion tersebut.



Beberapa anak buah Navarro berlari sambil menembaki mereka, saat rodrigo turn dari mobilnya mereka hendak menyerangnya namun sebelum menyentuh Rodrigo anak buah Rodrigo sudah mencegahnya tak ayal baku hantam pun terjadi.



Beberapa anak buah Navarro yang menjaga dalam rumah menghadang Rodrigo yang langsung ditangani oleh Mateo.



" Navarro, keluar kau pecundang." Teriak Rodrigo membahana seisi ruang tamu.



Beberapa anak buah Navarro langsung bersiaga.



" NAVARRO\_\_\_NAVARRO\_\_\_\_"



Alfred dengan keadaannya yang terlihat tenang menuruni tangga dibawah perhatian Rodrigo, Diego, jangan lupakan Mateo yang wajahnya penuh dengan lebam segar.



" *Well...,well*..., Kami merasa terhormat mendapat kunjungan Keluarga Gurman, pimpinan masa depan kartel Sinolan Jaquino, tapi sayangnya kau berdarah Gonzalez. sayang sekali kartel sebesar Sinolan, dipimpin seorang Gonzalez, seorang pecundang." Sindir Navarro culas.



" Memang darahku Gonzalez, tapi seumur hidupku, aku disayang, dan dididik oleh seorang Gurman yang menjadikan aku seorang Gurman sejati" balas menantang Rodrigo.



" Kita lihat seberapa tangguhnya seorang Gurman." tantang balik Alfred.



" Bukan tandingan mu, karena kami bukan pengkhianat." tekan Rodrigo.



Ucapan Rodrigo berhasil memicu emosi Alfred yang tersinggung, karena dirinya telah mengkhianati negaranya.



" Apa gerangan yang membuat tuan Gonzalez mendatangi gubug ku."



" Berhenti menggunakan kelemahannya, atau kau mati di tanganku." ujarnya sambil melirik Mateo.



" Kau mengancamku?"



" Tidak, ini ultimatum." Jawab Rodrigo tegas nan dingin.



" Memang salah kami membiarkan dia terlalu lama bersamamu." lanjutnya.



" Apa maksudmu?"



" Semua bermula dari putra idi-ot mu yang menodai Dolores, sebagai kakak tertua tentu Mateo ingin membalaskan dendam. Kami sebagai tuannya mendukung keinginannya karena itu kami kirim dia ke Italia untuk mematai pergerakan mu, dan mendekatimu lewat serangan di malam hari itu dengan menjadi pahlawan bagimu, karena dia menolongmu dari pendukung keras pemerintah yang telah kau khianati."



" Itu... skenario kami." ucapnya yang dilanjut senyum smirk dari bibir s3xy-nya.



Alfred tertegun matanya menatap dalam mateo tanpa suara, Mateo mengangguk tanpa merasa bersalah, atau dia menekan rasa itu.



" gunakan OTAKMU, Navarro. gelandangan mana yang bisa mengalahkan lima orang ahli bela diri sekaligus, kecuali dia memang ada yang melatihnya, yaitu; sang pemimpin Sinolan Jaquino, Alejandro Gurman."



" Sedari dulu kelemahan Mateo adalah perasaan dan sikap ksatrianya yang selalu terenyuh akan sikap baik orang padanya. Kami mengakui cukup kerepotan dengan sifatnya itu." Tukas Rodrigo.



Sorot mata Alfred meredup, ia merasa sebilah pisau menghunus dirinya.



" Mateo, benarkah itu?" Ucap Navarro cukup terkejut akan rekayasa keadaan itu.



Ia mengangguk." Saya tidak pernah berhutang budi padamu, tuan. Tetapi sebagai orang dari golongan miskin yang mendapat perlakuan baik darimu cukup menggoyangkan tekad saya, beruntung saya bertemu dengan tuan Mumtaz."



" Tuan Mumtaz? Petinggi RaHasiYa itu?" Tanya Alfred dengan berat hati.



Lagi-lagi anggukan Mateo cukup melukai hatinya, tidak bisa dia pungkiri Mateo memperlakukan dirinya baik lebih baik dari keluarganya, karena itu dia menyayanginya seperti pada anaknya sendiri.



Saat mengetahui Mateo mengkhianatinya butuh waktu baginya untuk menerimanya sebelum dia mendepak Mateo, kabar terbaru ini membuatnya semakin syok. Segitu dalam Mateo mengecewakannya.



" Semua berubah sejak beliau menghubungi saya, dia menawarkan kerjasama yang menarik bagiku."



" Mengapa? Mengapa kau begitu melukaiku?" Surat Alfred bergetar gamang.



" Saya tidak menyukai gagasan anda dalam menghancvrkan bangsa ini, tuan."



" Be-debah, kau pikir kau siapa yang menentukan apa yang harus saya lakukan?"



" Dolores ku dicekoki nar-koba oleh Valentino hingga dia menjadi pecandu sebelum Valentino menodainya."



" ADIKMU SEORANG JALANK, MATEO." Teriak Alfred yang berhasil memancing emosi Mateo.



" Tapi Valentino yang membuatnya tidak waras, Navarro." sahut Mateo dingin.



" Kau tahu apa yang kau hancurkan? Mimpiku, tujuan hidup ku." Sentak Alfred.



" Saya tahu, Navarro. Tahu sekali, puluhan tahun kau merencanakannya, banyak nyawa yang hilang karena obsesi mu, dan kini saatnya aku tumbang."



" Tumbang? Saya tumbang? HAHAHAHAHHAHA\_\_\_\_" tatapan Alfred berubah tajam.


__ADS_1


" Kau tahu pasti kalau saya sudah menguasai RaHasiYa, Dan kau membantuku. Terima kasih Mateo. Ku yakin kini petinggi RaHasiYa akan mengejarmu bagaikan anjing gil4. HAHAHAHAHHAHA...."



" Alfred, alasan kuat kenapa kami membuka kisah ini adalah karena kau telah kalah telak." kata Diego.



" Aku kalah, kalian tidak tahu apapun. tapi kalian pasti akan terkejut akan apa yang ku dapatkan." ucapnya penuh misteri.



" Gonzalez, sebaiknya kau buang dia, sebelum RaHasiYa menargetkan kalian karena dia. Percayalah dia tidak sebegitu berharganya." Cemooh Alfred.



" Bukan urusanmu apa yang kami lakukan untuknya, disaat kau kalah kami akan menuang wine di atas tubuhmu." Hardik Rodrigo.



" Di saat saya memasuki RaHasiYa, saya undang kalian, karena target pertamaku setelah menguasai RaHasiYa adalah menghancvrkan markas Sinolan." Desis Alfred dingin.



Entah bagaimana tiba-tiba tubuh Alfred mendesak untuk duduk, sedangkan tempat dirinya berdiri cukup jauh dari sofa.



Merasa ingin sekali duduk Alfred memilih duduk di lantai marmer mewahnya dengan sikap seakan duduk di sofa.



Semua mata memandanginya heran, mereka bertiga saling lempar lirikan.



" MATUNDA... MATUNDA..." teriak Alfred.



Salah satu pengawalnya berlari menghampirinya.



" Tuan, tuan Matunda sedang keluar mengambil obat anda."



" Apakah obatku sudah habis?"



" Tersisa sekali pakai lagi, tuan."



" Gunakan itu sekarang."



" Tuan, saya tidak memahami takaran dosisnya. Tuan Matunda bilang untuk tidak sembarang memberikan anda obat."



" Berikan padaku sekarang." Bentaknya.



" Baik, tuan." pengawal itu berlari ke tempat obat di simpan secara rahasia.



Rodrigo, Diego, dan Mateo yang melihat itu tersenyum devil.



" *Welcome to the hell*, Navarro." Ucap Rodrigo sebelum mereka meninggalkan mansionnya.



Alfred yang terlihat tidak memahami keadaan malah tertawa," yeah... *Whatever*." Gumamnya sambil tertawa.



Para pengawalnya memandanginya bingung bercampur heran, pasalnya Alfred Duduk di lantai tanpa alas yang akan beresiko bagi tubuhnya karena tidak steril.



Dalam perjalanan pulang, Rodrigo melirik Mateo," apa Mumtaz mengatakan sesuatu mengapa dia bekerjasama menghabisi Navarro?"



" Tidak, tuan. Beliau hanya memintaku jadwal pengiriman komoditi ilegal tuan Navarro ke negara ini."



" Kini kita ke rumah Mumtaz, kau tahu sekarang adiknya, Zayin pun ikut terlibat dalam kasus Navarro."



" Zayin?" Tanya meragu Mateo.



" Hmm, seorang tentara dengan kemampuan, dan intelejensi diluar batas tentara lain, dia benci pengkhianat. Saat dirinya marah dia tidak pandang bulu siap yang dia hancurkan, meksipun itu nenek-nenek selevel Guadalupe."



Rodrigo memberinya kertas berisi riwayat hidup Zayin baik pribadi maupun karirnya.,



"  Sepektakuler ini prestasinya?" Tanya Mateo takjub.



" Kurang lebih. Tidak banyak yang tahu keterikatan dia dengan Mumtaz, RaHasiYa sangat melindungi identitasnya begitupun kesatuannya. Dan kita tahu TNI lebih tinggi ketimbang militer negara kita."




Sosok Mumtaz yang sipilnya begitu menakutkan tidak hanya baginya namun bagi negara-negara maju, apalagi Zayin dengan trek recordnya.



Matanya kembali membaca tentang Zayin, jantungnya berdetak kencang saat membaca setiap kalimat prestasinya.



Dua jam kemudian Matunda baru pulang ke mansion Alfred, ia cukup terkejut mendapati Alfred rebahan diatas lantai tanpa alas.



Matunda melirik bertanya pada para pengawal, mereka mengedikan bahu tidak tahu menahu.



ia mendekati Alfred," tuan, menahan tuan tidur di lantai tanpa alas steril?"



Alfred melihat ke Matunda yang terkejut memandanginya, wajah itu sudah membiru dengan mata merah sepeti berdarah. lekas Marunda mengenakan sarung tangan, ia melihat kedua tangan Alfred yang ternyata juga membiru lebam.



" Tuan, saya akan memberikan anda obat."



Matunda segera membuka box ice, ia melihat cairan warna-warnj yang diberikan padanya berbeda dari yang kemarin. ada secarik kertas berisi panduan takaran dosis dan cara mempersiapkannya.



Ia lantas menaruh kembali kertas tersebut pada tempatnya.



" \*\*\*\*, apa yang terjadi padanya, ad ayang mau memberitahu ku?" teriak Matunda kesal, dia panik.



Setelah susah payah dia berusaha menjaga agar be-debah ini selalu bernapas, dia tidak bisa kehilangan dirinya saat ini.



" Tuan, maaf. tadi saya memberikan beliau obat, beliau memaksa, tuan."



Derrt ...drrt....



Matunda menaruh kembali Alfred ke lantai untuk menjawab panggilan yang ternyata dari Zahra.



" *Sebutkan keadaan si bule itu sekarang*." ujar Zahra.



Tidak mau membuang waktu, Matunda memilih mengaktifkan video call.



" Lihatlah sendiri." Matunda mengarahkan kamera menelisik secara perlahan dari kepala hingga kaki Alfred.



" Berikan cairan warna merah, merah muda,dan biru sesuai dosis. selanjutnya berikan padanya sesuai petunjuk. kalau dia muntah pastikan semua isi perutnya termuntahkan. dan beri cairan bening.



" Dia dalam kondisi yang seperti kita mau."



klik...



Panggilan itu terputus, dan Matunda lekas melakukan apa yang diperintahkan Zahra.



" Kau tolong saya." pintanya pada pengawal.



" Matunda..."



" Tuan, istirahatlah."



" Dengarkan saya, percepat penguasaan terhadap RaHasiYa, semuanya ada di atas meja saya kamu tinggal melakukannya. setelah ini berakhir saya akan membebaskan mu." ucapnya lemah, namun Alfred tidak merasa lelah.



Matunda tertegun sejenak sebelum dirinya mengangguk.



" Baik, tuan."


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*



Matunda kini duduk di dalam ruang privat cafe' d'lima bersama Zahira yang seperti biasa didampingi Samudera dan Arka.



Sejak mengetahui dirinya diikuti, Gaunzaga yang mengatur pertemuan mereka dan selalu di ruang privat.



Matunda menatap tajam Zahira." Hey, Tunda. Jaga pandangan mu soda tunangan saya." Tegur Samudera.



" Nona, say ingin menolak pengobatan anda, anda membutnya pulih dan kini kondisinya jauh lebih baik. Bukan itu yang saya inginkan."



Zahira menghela napas berat." Saya tidak mungkin mencelakai Mumtaz, dia juga adik saya. Di sini saya mewakili dari prof Zahra, tidak mungkin profesor ingin membvnvh adiknya."



" Tapi mengapa kondisi dia menjadi lebih sehat."



" Terus terang saya belum memahaminya, sedari awal penelitian bersifat sangat rahasia. Hanya beliau dan profesor Farhan yang tahu kinerja formulanya Saya hanya mengikuti Arahan dari keduanya."



Tentu saja jawaban itu tidak jujur sepenuhnya, meski dia tidak terlibat sedari awal, tetapi ia mengingat zat-zat yang digunakan, sebagai ahli jantung dia sangat tidak merekomendasikan pengobatan itu.



Matunda mengusap wajahnya kasar." Saya benar-benar tidak menyukai perkembangan kesehatannya."



" Kau ikuti saja prof Zahra daripada berhadapan dengan petinggi RaHasiYa." Ujar Zahira tidak mau ambil pusing dengan kerisauan Matunda yang menurutnya berlebihan.



" Saya yakin Mumtaz tahu hal ini, jika Mumtaz diam berarti dia tidak keberatan."



Matunda mengambil box ice yang ditaruh di atas meja.



" Baiklah, saya akan mengejar anda kalau ada yang terjadi dengan tuan Mumtaz gara-gara obat ini."



" Dan Gaunzaga akan mengejarmu sampai liang lahat." Seru Samudera tajam.



Zahira mengelus lengan Samudera yang terlihat sudah terpancing.



" Mas, aku gak apa-apa. Aku yakin Matunda hanya menghkawatirkan Mumuy." Ujar Zahira lembut.



Degup jantung Samudera meningkat tajam saat Zahira memanggilnya 'mas' hatinya merasa hangat begitu besar efek dari perempuan yang sudah dia kecewakan.



Samudera mengambil tangan Zahira lalu mengecup punggung tangannya, tatapannya melembut hangat untuk waktu lama.



" Setelah apa yang aku lakukan dan yang terjadi pada orang tuamu, tidak ada hal yang ingin ku lakukan sepanjang hidupku kecuali membuat mu bahagia dan aman."



" Aku tahu, dan aku sudah merasakannya. Ku pikir Matunda pun demikian, iya kan Matunda?"



Mereka celingak-celinguk mencarj sosok yang duduk di depan mereka yang sudah lenyap.



Zahira mengambil notes yang tertempel di gelas latte-nya, terdapat pesan di dalamnya.



" **Saya tidak berminat melihat kebucinan kalian, saya pergi! Maafkan perkataan kasar saya, dokter**!"



 Zahira tersenyum merasa terenyuh, ia memberikan kertas tersebut pada Samudera.



" Oowh, lihat mas, dia manis banget."



Samudera meremas dan melempar kertas itu ke meja.



" Manis apaan, dia cuma minta maaf, sayang." Dengkus Samudera.



" Lelaki sekarang jarang yang gantle mengakui salah apalagi minta maaf."



Samudera yang merasa tersindir karena sering melakukan kesalahan memelotot.



" Aku ngakuin aku salah, dan aku minta maaf."



" Iya, tapi tetap aja dilakuin lagi. Udah tahu masalah ribut kita tuh mantan kamu, tapi kamu masih sering ketemu dia."



" Dia yang ngotot pengen ketemu."



" Kamunya ngeladeni. Kalau kamu gak mau tolak yang tegas. Aku juga bisa minta ketemuan lelaki lain, kamu pikir


 kamu doang yang suka aku, BANYAK!" Tekan Zahira dimuka Samudera.



" Awas aja kamu ketemuan lelaki lain. Aku patahin tubuh dia." Ancam Samudera.



" Awas aja kamu ketemu mantan kamu lagi, aku kabur dan minta perlindungan RaHasiYa, kamu tahunya aku termasuk orang yang Mumtaz lindungi. Kamu gak akan pernah bisa nemuin aku lagi. Terus jadi sadboy kayak Bara dan Daniel. Tahu rasa kamu."



Ancaman Zahira membungkam mulut Samudera. Kehilangan Zahira adalah hal yang paling menakutkan baginya.



Diamnya sang bos membuat Arka yang melihat perdebatan random itu menggeleng kepala, dia kasihan pada lelaki bucin yang tidak bisa berkutik ketika sang wanita menunjukkan taringnya.



" Aku bisa saja menghilangkan dia dari kehidupan kamu, Zahra dan Zivara pasti akan membantu ku, tapi aku ingin kamu sendiri yang melakukannya, aku tidak ingin hubungan ini berada dibawah keraguan gagal move-on dari mantan." Ucap Zahira lembut



"Kalau kamu memang tidak bisa menolak dia dari kehidupan kamu, biarkan aku mundur, aku lebih memilih tidak menikah hingga ajak menjemput daripada harus berpoligami, tidak sekuat itu imanku." Ucapnya dengan suara bergetar.



Samudera membawa Zahira ke pelukannya, ia memeluknya erat.



" Dan aku lebih baik tidak menikah kalau tidak dengan kamu, sedalam itu perasaan aku padamu. Dia yang bolak-balik menawarkan diri padaku tidak pernah berhasil membuat ku goyah darimu walau kita dalam keadaan berantem sekalipun."



Samudera melepas pelukannya, mengecup kening Zahira dalam dan lama menyalurkan perasaanya, kemudian mengusap kedua lengan atas Zahira



" Dia itu orangnya nekat dan licik, satu-satunya alasan aku masih membiarkannya dekat denganku, karena aku gak mau dia menyakitimu. Tapi percayalah aku tidak tinggal diam, aku sedang menghancvrkannya seperti dia menghancvrkan hidupmu dan Erel." Ucapnya lembut namun tegas.



Kening Zahira mengkerut bingung. " Apa maksudmu?"



Pegangan tangan Samudera di lengan Zahira mengetat, Arka pun menenggang.



" Perlindungan terhadap mu dari Gaunzaga bukan hanya karena Navarro, tetapi karena dirimu sendiri." Samudera menjilat bibirnya yang terasa kering karena gugup akan tatapan bertanya bercampur bingung Zahira.



" Dia, mantan ku. Terlibat pembvnvhan ibumu."



Tarikan napas Zahira terdengar keras, kepalanya menggeleng, lalu tangisnya pecah, tubuhnya melemah kemudian Zahira pun jatuh pingsan dalam pelukan Samudera yang memeluknya sambil menitikkan air matanya.



Ia mengelus pipi Zahira yang pucat," aku berjanji demi hidupku akan membalas setiap orang yang menyakitimu, sayang." Ucapnya parau seraya mengecup kening kekasihnya.



Arka menundukkan wajah sendu, dia merasa bersalah lalai dalam tugasnya. Tubuh kekar pemuda itu bergetar karena menahan tangis, meski pada akhirnya airmata itu luruh jua.



Arka menyeka airmatanya," bos, saya siapkan mobil untuk ke rumah sakit."



Samudera melihat ke Arka, kemudian mengangguk," iya, terima kasih."



Arka mengangguk, ia beranjak ke pintu, saat Arka menarik pintu Samudera memanggilnya.



" Jangan salahkan dirimu, hidupmu masih panjang. Buktikan kau bukan lelaki gagal."



" Siap."...



**kisah Samudera dan Zahira terpisah ya...tunggu tanggalnya launchingnya**...


__ADS_1


**kasih vote dan hadiah, komentar positif dan like supaya aku lebih bersemangat**...


__ADS_2