
" Wa..wa..Dewa...." Sudah sepuluh menit Dimas memanggil-paggil Dewa dari hanya panggilan, menoel, menepuk sampai menggoyangkan kedua pundaknya dengan keras namun Dewa tak kunjung juga merespon, dirinya benar-benar membeku di tempat hanya air mata yang meluruh di wajahnya.
Dewa masih terpaku pada layar di ruang kerja Mumtaz semenjak Mumtaz tertembak sampai sang bos dibawa lari ke rumah sakit.
Pada tragedi penembakan pertama yang mengorbankan Adelia dimana Mumtaz juga menjadi target, jantung Dewa berhenti seketika namun itu tidak berlangsung lama dia bernapas selega mungkin saat Mumtaz membuka matanya.
Namun kini jantungnya benar-benar berhenti berdetak saat Mumtaz tertembak sungguhan yang disusul darah yang mengalir di menit berikutnya.
" Wa, gue tahu Lo syok, tapi kerjaan kita belum selesai, kita gak boleh gagal cuma karena lo terkejut." Ucap Dimas pelan, dia sendiri tenaga dilanda kesedihan yang mendalam. Dia paham dewa akan mengalami duka yang dalam jika sesuatu buruk terjadi pada Mumtaz.
Ibaratnya, dewa bersedia berjalan di atas kepalanya jika Mumtaz yang memintanya. Sedekat itu hubungan mereka, pernah dicurigai Mumtaz karena kesembronoannya membalutnya sakit sampai tiga hari, apalagi ini....
Dirinya dan Dewa hanya dua pemuda yang memiliki tekad dan mimpi namun tidak memiliki fasilitas untuk mewujudkannya, Mumtaz lah yang mengeluarkan mereka dari kemustahilan dan putus asa dengan mengajak mereka bergabung di RaHasiYa.
" Dia_mati..." racau Dewa.
" Enggak, bang Mumuy masih hidup. Ingat permintaanya yang terakhir, Lo harus mendukung bang Inu."
Deg...
Hentikan jantung yang berdegup berat saat mendengar perkataan Dimas menyadarkan dirinya akan suatu skenario pendukung yang sudah dia perhitungkan matang-matang.
" Show time, ashole." Namun tangan yang hendak menuju keyboard terhenti saat dirinya menerima telpon dari Raul Gonzalez.
" Hallo."
" Apa kabar Mumtaz yang tertembak itu benar adanya?" Raul malas berbasa-basi soal ini.
" Benar, dan saya harap Abang mau bekerjasama dengan kami." Seringnya bekerjasama membuat hubungan Dewa dan Raul meninggalkan sikap formal.
" Anything, dude. Tell me what you wanna i do?"
" Bawa serta Ivanka."
Di sana Raul tertegun menegang, dia sedikit keberatan Ivanka dilibatkan, hatinya mulai risau.
" Saya tahu Abang sudah tumbuh perasaan padanya, tapi tidak etis jika saat ini abang menolak membantu kami setelah apa yang dilakukan si tua itu menelan dua korban."
" Wa..." Terdengar keraguan dari suara Raul.
Dewa menghembuskan napas berat, " kami akan bertindak baik abang suka atau tidak, kami punya tujuan pasti."
Dewa menutup sambungan telpon, dan tangannya langsung sibuk di atas keyboard.
Beberapa waktu bekerjasama sama dengan Navarro dan Gonzalez membuatnya mengenal beberapa mafia dan geng gerakan bawah tanah tersohor di dunia. Senyum devil disertai tatapan tajam tersinggung di bibir Dewa yang membuat resah Dimas.
Ibnu menyambut uluran tangan Alfred dia menggenggam erat tangan kurus yang berbalik perban itu.
" *Welcome to the hell, Alfred*." Ucap Ibnu dingin seraya menggerakan satu tangan yang lain mendorong kuat dan terfokus dada Alfred hingga Alfred terdorong kencang membentur dinding kaca yang berbarengan hentikan pintu yang dibuka kasar oleh Zayin.
BRAKH....
" Hugks...uhuk..uhuk..." Begitu punggungnya berbenturan dengan dinding kaca Navarro memegangi dadanya yang teramat sesak, matanya menatap silih berganti antar ibnu dan Zayin yang berjalan masuk tegak melewati para abang dan ayah menuju Navarro.
" Cuma itu yang lo bisa bang?" Tutur Zayin pada Ibnu terkesan meremehkan.
" Baru pembukaan." Ibnu tanpa ekspresi pun berjalan mendekati Navarro yang masih mencoba menetralisir pernapasan.
Begitu Ibnu berdiri cukup jangkau tangan, tangannya meno-njok wajah Alfred.
BUGh...
Tubuh Navarro sampai oleng setengah membungkuk ke samping dengan ujung bibir berdarah.
" Bagiamana rasanya tentara dipecundangi oleh pecundang, Mayor?" Tanya Ibnu meremehkan.
Tiba-tiba ruangan sedikit menggelap,
Treng...treng..treng...dan seterusnya.
Wajah-wajah tegas sangat bermunculan hampir di seluruh dinding kaca, mereka adalah para bos mafia dan pemimpin organisasi yang menguasai pasar gelap.
__ADS_1
Mata Navarro membelalak lebar tidak menyangka, hatinya bergemuruh merasa dipermainkan dan dipemalukan.
Sorot matanya berubah tajam dengan garis rahang mengeras memindai satu persatu orang yang berada di ruangan.
" Selamat datang tuan-tuan, terima kasih atas kesedian waktu kalian untuk bergabung dengan kami " Terdengar suara Dewa dari speaker menggema memenuhi isi ruangan.
" Kami tahu beberapa diantara kalian tengah berpikir untuk bergabung dengan tuan Navarro perihal pembangunan negeri mahadaya yang sayangnya beliau salah memilih negara untuk dijadikan penaklukan pertamanya sehingga menjadikan dirinya badut badut penjaga makam umum." Tutur Dewa merendahkan, namun berhasil mengudang kekehan dari beberoa undangan.
" Di layar kalian, kalian bisa lihat kalau kami bermitra dengan sosok yang tidak kalah kuat dibanding kalian,. Gaunzaga, merupakan organisasi bawah tanah yang hanya dikenal bagi pihak yang pernah merasakannya, adalah mitra terdekat kami, sehingga organisasi Navarro di Italia luluh lantak buah dari kolaborasi apik antara RaHasiYa, Gaunzaga dan Gurman."
Terdengar tarikan napas kaget dari beberapa kepala organisasi," ya..kalian tidak salah lihat bahwa yang terbaring menyedihkan dan tidak berdaya itu adalah Guadalupe, so, kalau kalian masih berminat bergabung dneg tuan Navarro, bersiaplah seperti dirinya bahkan Eric jauh lebih menyedihkan.
" Di samping tuan Gama, adalah Birawa, ayah dari salah satu petinggi kami, teknologinya lah yang akhirnya menghancurkan Navarro dan mimpinya.
" Di depan mereka terdapat tuan Bharatayuda Atma Madina, pangeran penguasa Atma Madina corp. Merupakan saudara terdekat RaHasiYa. Bermasalah dengannya yang didukung Hartadraja bukanlah mimpi indah.
" Terakhir,tuan Mateo, dan tuan Matunda yang kalian kenal sebagai asisten dia sekarang adalah teman kami, jadi, intinya Navarro hanya seorang kacung yang punya khayalan tinggi.
" Di depan kalian lelaki berkarisma yang kalian kenal sebagai sosok pendiam dan santun yang terlihat tenang namun siap melenyapkan adalah bernama Ibnu Abdillah, namun sebenernya adalah Ibnu Faris Mahmud...."
Terjadi keheningan panjang saat nama itu disebut, wajah mereka seketika berubah tegang.
" Kalian pasti mengikuti kasus Toni, sang jendral purnawiran kepoli1sian, yang membnvh sepasang suami istri, dan mereka aadalah orang tua Ibnu, petinggi RaHasiYa.
Segera terdengar umpatan dan cacian dari hampir semua undangan.
Wajah Navarro merah padam mendengarnya," berhenti, berhenti kalian menghujat ku. Apa yang ku lakukan akhirnya membuat kalian ini hidup bergelimang harta."
Dewa menatap intens Raul yang duduk di sofa bersama Ivanka yang duduk di lantai bak seorang pelayan." Tuan Raul Gonzalez, terima kasih atas kesediaan anda bergabung."
" problem ."
" Tuan Raul, kami harap anda mengabulkan permintaan kami yang kami pesan untuk anda."
" Hmm."
Aaaaakh....
Ivanka menjerit memegangi tangan Raul yang menjam-bak rambutnya kuat-kuat." Apa yang kalian inginkan" tanya Raul dengan raut menyeramkan.
" Untuk itu bisa anda tanyakan kepada tuan Ibnu."
Semua pasangan mata tertuju pada Ibnu.
Di dalam ruangan Mumtaz, Dewa menyeringai lantas ia berucap." "Hari ini adalah pembalasan tuan Ibnu, silakan kalian menikmatinya." Ucapnya yang kemudian mematikan speaker.
"Lakukan apa yang dia lakukan pada ibuku?" Ucapnya seraya menerpa menantang Navarro.
" Apa"
__ADS_1
" Perko-sa dia dihadapan kami semua." Ucap Ibnu terkesan tanpa beban saat mengucapkan hal itu
Raul dan orang yang ada di dalam ruangan menenggang kaku terkejut , tangan di kepal Ivanka semakin mengeras menja-mbak.
" Tu..tuan, ku...aku mohon jangan. Cukup yang ada yang membvnvh diriku."
Mat Navarro menghalang kejam pada Ibnu," saat kau menyentuhnya ku bvnvh kau." Desis Navarro.
" Ku tunggu bualanmu." Tantang balik Ibnu.
" Tuan Gonzalez, kalau anda tidak mampu menyetubuhinya, biar saya mencari lelaki lain." Seru Ibnu yang melihat Raul masih bergeming di atas Sofanya.
Tidak .tidak ..biar saya saja." Jawab cepat Raul yang menarik Ivanka berdiri untuk duduk di pangkuannya.
Raul merobek langsung seluruh kancing Ivanka yang terbang ke sembarang arah yang berlawanan mendapat perlawan dari Ivanka sambil terus meraung menangis.
" TIDAAKKKK...." teriak Navarro.
" Itulah diteriakkan ibuku saat kau memaksanya melayani para biadab itu." Ucap Ibnu tersirat kesedihan.
" Tidak jangan lakukan itu pada putriku, aku yang mencari Maslah padamu, maka balaslah padaku."
" Pasti, giliran mu akan menyusul. Tuan Raul, lakukan saat ini dan di tempat itu sekarang juga."
Raul harus menyembunyikan emosinya yang bergejolak saat ia mengeksekusi Ivanka secara biadab di hadapan rekan-rekannya. Ia merekam jelas wajah penderitaan Ivanka dibawahnya yang dengan pasrah dia gagahi.
Sivia dan Belinda menangis histeris melihat hal menji-jikan itu.
" IBNUU... KU BVNVH KAU...." Navarro berdiri, kemudian berlari menerjang Ibnu yang langsung dibatalkan karena seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan saat sinar laser merah membidik seluruh tubuhnya seakan mengunci sistem motorik tubuhnya yang sedang berpose setengah berlari. Navarro membeku di tempat.
^^^^^^^
Seah melakukan operasi berjam-jam akhirnya Zahra dan tim keluar dari ruangan dengan raut lelah.
" Prof... profesi Zahra..." Seorang perawat berlari ke arah Zahra yang hendak membuka pintu utama operasi.
Zahra mengurungkan niatnya lalu berbalik." Ada apa?"
" Anda dipanggil prof. Farhan."
"Di mana beliau?"
" Di ruang operasi. Perawat itu ragu untuk mengatakannya, namun dia tidak punya pilihan.
" Beliau sedang tindakan pasien t3mbak saat ini pasien kritis."
" Baiklah, Ra, Lo bantu tim kasih tahu Keluarga Adelia." Ucap Zahra pada Zahira.
" Beres..."
.Zahra pun segera berlari kecil," baca kondisi terakhir pasien. Pintanya pada perawat. Maka perawat pun sambil berlari menjelaskan kondisi medis pasien.
__ADS_1
" Beliau krisis...semua tidak stabil, pasien kekurangan darah banyak...