
Cklek!!!!
Eric menghembuskan nafas berat kala melihat Guadalupe masuk ruang kerjanya, dia berdiri bersedekap.
" Eric, kita sedang diobok-obok dan kamu tidak melakukan apapun?, Jangan bilang kamu takut terhadap bangsa Indonesia." Sindir Guadalupe sinis.
" Demi Tuhan mereka tidak lebih dari segerombolan orang tidak ber.guna. kau seorang Gonzalez pemimpin salah satu kartel berpengaruh di Meksiko yang seluruh dunia tahu kartel Meksiko tidak kalah sadis dibanding mafia Italia."
" Mama hentikan, kau tidak tahu apapun tentang Indonesia, baca dulu sejarah mereka baru kau berkomentar." Bentak Eric pening, sudah 20 menit dia memijat pelipisnya berharap pusingnya hilang.
" Ini narkoba, musuh semua warga. Mama tidak mendengar tuntutan warganya agar menghukum mati pelakunya." Geram Eric
" Tinggal sogok oknumnya, ribet amat."
" Sulit, mereka tidak mau mengambil resiko, semua pasang mata mengarah pada kasus ini. Berdo'alah netizen + 62 tidak mengkaitkan kasus ini dengan kasus restoran sebelumnya, jika mereka sadar, habislah kita." Terang Eric frustasi.
" Apa kau sudah mencurigai seseorang?"
" Kalau aku tahu, sekarang aku tidak ada di sini melainkan sedang memanggang dagingnya." Eric benar-benar kesal dengan ibunya.
" Apa mungkin ini ulah Hartadraja?"
Eric menatap Guadalupe penuh pertimbangan.
" Kalau ini ulah mereka, Mama pastikan mereka akan membayarnya."
" Ma, jangan gegabah. Jangan semakin memanaskan keadaan."
Guadalupe mendengkus, " lama di Indonesia menjadikan kau PE-NGE-CUT, sebaiknya kau lakukan sesuatu atau Mama yang akan melakukannya."
Guadalupe beranjak ke pintu, matanya membulat besar saat melihat Raul berjalan di ruang tengah.
" Raul, akhirnya kau pulang." Raul mengernyit bingung melihat Guadalupe merentangkan tangan lebar padanya untuk memeluknya, ayahnya berdiri dibelakangnya.
" Okey, ini aneh, apakah nenek kerasukan?"
Guadalupe memukul lengan Raul," nenek frustasi menghadapi masalah ayahmu, syukurlah kamu pulang."
" Aku memang berniat meraykan tahun baru di sini."
" Bantu ayahmu."
" Masalah restoran ku pikir Papa bisa menanganinya."
" Tentu, nenekmu saja yang rewel." celetuk Eric.
Derrt!!!
" Hallo." Eric menjawab sambungan telpon yang masuk.
Entah apa yang dibicarakannya, namun Guadalupe dan Raul dapat melihat tubuh Eric yang menegang, ia melirik mereka berdua terlebih pada Raul, lalu masuk kembali ke ruang kerjanya.
" Papamu itu bukannya mengurus masalahnya, dia malah sibuk dengan urusan yang lain." Guadalupe melangkah ke dapur untuk mengurus makan siang.
Tring!!!
Raul membuka pesan yang masuk ke ponselnya.
Tubuhnya pun menegang.
" Target di depan mata, bebas atau tangkap?."
Paham akan maksud isi pesan, dengan tangan gemetar Raul mengetik " Tangkap!" , Jawabnya yakin.
Raul meremas kemejanya, detak jantungnya berdegup kencang, ia yakin kalau ia punya penyakit jantung dirinya akan terkena serangan jantung.
Matanya menatap ruang kerja ayahnya yang tertutup rapat karena cemas sekaligus takut.
******
Daniel menghampiri Alfaska yang duduk di taman bermain tempat dimana mereka di culik dulu.
" Lo, kenapa?"
" Gue mau balikin Tia." Daniel terkaget mendengarnya
" Udah Lo pikir baik-baik?"
Alfaska mengangguk, " gue gak bisa terus-terusan memberi mereka beban."
" Ck, jangan berlebihan, mereka gak pernah mikir Lo beban mereka."
" Gue tahu, tapi tingkah sombong Tia menjadi boomerang bagi mereka."
" Daripada Lo mendesak Tia, mending Lo omongin nyokap Lo, permasalahanya kan ada di beliau."
Alfaska merenungi perkataan Daniel, sial, kenapa dia tidak berpikiran kesana.
" Gue pergi." Alfaska beranjak, ia menunduk memperhatikan Daniel,
" Lo juga jangan terlalu cuekin Ita, meski Ita termasuk cewek cuek, tapi dia tetap perempuan yang ingin diperhatikan." Sesudah mengatakan itu Alfaska berlalu.
Daniel mengingat kapan terkahir kali dia jalan bareng Dista, Belakangan ini dia sibuk urusan perusahaan, Aloya dan kawan-kawan, dan lainnya.
" Sabar benar itu para cewek pacaran sama kita, pantesan si Ibnu belum nembak-nembak si Ayu." Gumamnya, ia menengadahkan kepalanya melihat langit yang mendung gelap.
" Jangan hujan dulu, please. Kasihan anak-anak yang udah prepare buat nanti malam."
Derrrt!!!
" Hallo."
" Balik, di rumah ada kak Ala, kayaknya dia lagi marah, dan nyari Mumtaz." Tanpa menjawab Daniel menutup saluran telpon.
" FA..." Alfaska menoleh, bingung melihat Daniel berlari kearahnya.
" Pulang, kak Ala marah nyari Mumuy."
Mereka berdua bergegas menuju mobil masing-masing.
****
" Kak Ala.." sapa Radit sumringah Melihat Kak Ala melepas helmnya.
" Siapa mereka?" Tanya Zahra ke beberapa orang yang tidak dikenalnya. berseliweran di rumahnya.
" Ooh, mereka anak Gaunzaga, Anak buah bang Domin."
" Ooh, dimana Mumtaz?"
" Di ruang kontrolnya, aku panggilin ya."
" Enggak perlu, biar Kakak kesana sendiri."
Gestur tegang Zahra membuat Radit khawatir, karena itu dia menelpon Ibnu, Daniel, Alfaska, dan Bara.
Mengambil langkah besar Zahra ke ruang kontrol Mumtaz.
BRAGH!!!!
Mumtaz dan Adam yang sedang sibuk mengobrol terlonjak, penasaran siap yang berani membuka kasar pintu ruangannya.
Zahra menatap Mumtaz sambil mengacungkan koran ditangannya.
" Katakan, bukan kamu pelaku pengeboman itu." Desisnya tajam, ketegangan dua orang itu bukan karena takut kepada Zahra melainkan aura intimidasinya.
Mumtaz yang tidak bisa berbohong pada kakaknya mulai panik," bisa Aa Mumuy jelaskan, Kak!" Suararnya dicoba setenang mungkin.
" Katakan!"
" Duduk dulu."
Mumtaz menarik lembut tangan Zahra mengarah ke kursi, namun tatapan Zahra yang tertuju ke beberapa benda dan serbuk yang berserakan di atas meja besar mengalihkan langkahnya dari tujuan muntaz.
Mumtaz yang menyadari kelalaiannya mengumpat dalam hati.
Tiga menit Zahra mengamati satu persatu kabel, serbuk benda alumunium, dan sejenis, dan lainnya halnya yang dapat zahra yakini itu semua bahan alat peledak.
Wajahnya Pisa, ia menatap Mumtaz ketakutan dan risau.
" Ini semua tidak seperti yang Kakak pikir." Mumtaz merasa terdesak.
" Memang apa yang Kakak pikir?"
Jeda sesaat,
" Aku tidak cukup gila untuk menjadi penjahat."
" Tetapi kamu yang meledakan bom yang menggegerkan dunia! Kamu bunuh ratusan orang, bahkan kakak dimintai bantuan dari rumah sakit Cipto untuk mengindentifikasi korban."
" Harus ada yang dikorbankan demi kebaikan bersama."
" ITU BUKAN ALASAN UNTUK MEMBUNUH ORANG!"
" KAKAK!" Pekikan Daniel, Ibnu, dan Alfaska diambang pintu membahana memenuhi ruangan, Bara dan Jeno yang datang dibelakangnya serta Mumtaz dan Adam terlonjak mendengar pekikan kencang itu.
Bara mengunci pintu, karena anak RaHasiYa dan Gaunzaga mulai berkerumun, dan menyalakan sistem kedap suara ruangan.
" Maaf! Maaf, kami tidak bermaksud meneriaki kakak, kami cuma kaget atas tuduhan Kakak."
Ibnu mengklarifikasi, Daniel mendudukkan Zahra ke kursi depan meja yang terdapat beberapa komputer, MacBook, dan laptop.
" Ini tidak seperti itu, korban yang jatuh adalah sindikat internasional narkoba. Ini daftar mereka." Ibnu mengeluarkan daftar ratusan nama korban ledakan dari laptop yang menyala.
__ADS_1
" Apa kalian yakin?" Zahra masih ragu.
Mumtaz menarik kursi dan memposisikanya di hadapan Zahra, memegang kedua tangannya, menatap iris Zahra lurus.
" Kami sudah mengamati target beberapa hari sebelum eksekusi, sebenarnya para warga ingin melapor, tapi mereka takut. Karena sindikat itu tak segan untuk membunuh. kami sudah mengamankan warga tidak bersalah."
" Dia siapa?" Tunjuknya pada Adam.
" Adam, teman SMA. Anak Gaunzaga, anak buah bang Dominiaz.
" Berarti kak Domin terlibat?"
Semuanya terdiam.
Zahra mengangguk paham," kalau Kak Domin terlibat berarti Heru, kak Samu, dan om Hito juga terlibat."
Dengan berat hati Daniel mengungkap satu fakta kecil," kita kerja sama."
" Kalau mereka ikut serta berarti ini berkaitan dengan orang yang membuat mereka resah, belakangan yang bikin gondok itu si Guadalupe Gonzalez....," Gumam Zahra mencoba menganalisa.
" Jangan bilang ledakan itu targetnya Eric Gonzalez, dia kan sedang tersandung Masalah narkoba di restorannya." Zahra mencoba memancing reaksi mereka
" Cukup sampai sini yang perlu kakak tahu." Ujar Alfaska.
" No, tadi kamu bilang sindikat internasional, berarti mereka terorganisir dengan baik, dan sudah melakukannya secara berkala dan sistematis dalam waktu lama, pasti dibawah pimpinan Eric Gonzalez." Zahra memandangi mereka satu persatu yang terdiam membisu.
" Diam berarti iya," matanya menatap lurus Mumtaz yang akhirnya mengangguk.
" Tetapi tetap saja kalian tidak perlu menghancurkan tubuh mereka, kalian bisa melaporkannya ke polisi."
" Selain pengedar, mereka penyedia senjata api bagi pemberontak, mereka menjual manusia, bahkan anak dibawah umur yang terkecil berusia enam tahun untuk dijadikan PSK baik di dalam maupun luar negeri, partner mereka sebelumnya adalah Surga Duniawi, banyak pejabat terdaftar sebagai pelanggan mereka meski sekarang sudah rata dengan tanah." Terang Ibnu, Zahra meringis ngeri.
" Apa menurut Kakak mereka masih layak hidup?" Mumtaz membalas balik menatap manik Zahra.
" Tidak." Jawabnya lemah.
" Sebelum kami eksekusi kami sudah menyelidiki sepak terjang mereka, diantara mereka ada yang residivis, bahkan menjadi gembong pro begitu keluar dari lapas, ironi bukan!?" Sarkas Alfaska sinis.
" Bagaimana jika kepolisian dapat mengidentifikasi bom kalian?"
" Kak, bukankah mereka sudah mengeluarkan hasil investigasi, dan semuanya karena narkoba, dan hanya itu yang akan mereka dapatkan." Tutur Mumtaz tenang.
" Apa kalian yakin?"
Mereka semua mengangguk, kecuali Adam.
" Kenapa dia tidak mengangguk?" Semua pasang mata menatap Adam yang gelagapan.
" Dia newbie."
" Bukan anak RaHasiYa." Sahut Bara dan Ibnu yang menatap Adam geli karena memandangi Zahra tanpa kedip.
" Kicep mata Lo, dia pacar bos Lo, Hito Hartadraja." Bisik Jeno, seketika raut Adam kembali normal, setidaknya mencoba kembali normal.
" Serius Lo? Cantik." Celetuknya.
" Jauh level buat Lo mah."
" Dih iri."
" Doi profesor diusia 26 tahun."
Mata Adam kicep beberapa kali karena tidak percaya.
" Kalau gak percaya cari di Google." Adam langsung membuka google, selama membaca informasi tentang Zahra ia terperangah, mulutnya membuka lebar.
" kalau masih punya sisa PD silakan deketin dia, tapi ingat lawan Lo Hito Hartadraja."
" Ck, kalau udah begini mundur cantik gue, baru juga ngerasain terpesona sama cewek. Nunggu putus aja kali ya!" Gumamnya.
" Udah banyak yang ngantri, terdepan si Radit." Timpal Jeno.
" Si Radit playboy?"
" Dia bilang demi si kakak, pasti taubat."
" Lo juga?"
Jeno mengedikan bahu." Bagi gue, entah Kakak sama siapa tugas gue adalah melindunginya." Tatapan Jeno lurus ke Zahra yang masih adu bicara dengan para petinggi RaHasiYa, Adam pun mengikutinya.
Tok!! Tok!!!
Interupsi pintu menghentikan pembicaraan mereka, Raja berdiri kikuk di depan pintu yang dibuka Bara.
" Maaf, ganggu Bang. Ada Tia nyari bang Alfa."
Semua mata menatap Alfaska yang melangkah ke pintu.
" Aku ke Tia dulu."
" Bukan gue nyegah, kalau lu datang dengan aura baik dan senang gue juga bakal sambut lu hangat, tapi lu datang teriak-teriak kayak ngajak berantem, serius keadaan di sini tuh lagi tegang."
Tidak hanya mengabaikan alasan Juan, Tia kembali berteriak seperti baru datang.
" A, Aa ada. Keluar, aku gak bisa kamu giniin."
Tia menyambangi rumahnya, karena dia tahu suaminya akan ada di sini, dia tidak ingin berpisah dari Alfaska, tidak setelah mereka bersama dengan kisah cinta mereka yang rumit.
Alfaska mendatangi Tia dengan gestur tenang.
" Juan..." Juan menoleh dan langsung memberi jalan pada Tia untuk masuk ke ruang tamu.
Tia langsung berlari kecil lalu memegangi lengan Alfaska.
" A, aku gak mau. Aku gak mau pisah, aku janji aku akan berubah." Lirih Tia, Alfaska bergeming.
" Ya,..."
" Beri aku kesempatan sekaliiii lagi." Mohonnya.
" Ya,..."
" A,... please..." Air mata tak bisa lagi ditahan, ia mulai tergugu.
" Tia..." Mendengar suara Zahra Tia menoleh padanya, matanya menyorotkan kekecewaan.
" Kak, berhenti merecoki keluargaku." Tudingnya *to the point*.
Zahra bersedekap tangan, memberinya senyum smirk, " orang lain sudah sibuk urusan negara yang diteror narkoba, kamu, setelah sekian lama masih berkutat dengan permasalahan yang sama. Kasihan Afa, menahkodai kapal rumah tangga sendiri dengan penumpang yang rese."
Tertohok dengan ucapan kakaknya, Tia meremas kemeja Alfaska karena geram.
Tia menertawakan Zahra dengan mencemooh," Tahu apa kakak tentang rumah tangga, jangankan menikah percintaannya saja gagal. Karir boleh fantastis, tapi untuk apa jika tidak ada seorang lelaki pun mau meminangnya. PER-CU-MA!"
Semua orang terhenyak mendengar jawaban Tia, termasuk Zahra. Alfaska menghempaskan tangan Tia.
" Hanya om Hito yang mau sama kakak, tetapi beliau pun meninggalkanmu, dan sekarang kau mengomentari rumah tanggaku? Tidak tahu diri."
Adgar yang baru sampai, mendengar nama pamannya disebut oleh Tia dengan suara keras langsung berlari ke rumah Eidelweis, rencananya malam tahun baru ini keluarga Hartadraja merayakannya di kediaman Eidelweis untuk barbequean bersama anak RaHasiYa dan Gaunzaga. Lo
__ADS_1
" Assalamualaikum, Tante ada om Hito gak?" Adgar langsung bertanya begitu melihat Eidelweis yang sedang bermain dengan Adelia. mengabaikan anggota keluarga lain yang berkumpul di sana.
" Di taman belakang, ada apa?"
Tanpa menjawab Eidelweis Adgar berlari ke taman.
" Om, kak Zahra di marahi Tia, nyebut nama Om. Sekarang mereka di rumah Mama Aida."
Mendengar nama Zahra meski tidak jelas alasannya Hito langsung berlari di susul Heru.
" Ada apa?" Eidelweis ikut panik melihat dua pria kesayangannya berlari tergesa-gesa.
" Adgar, ada apa?" Eidelweis menahan tangan Adgar yang ingin melewatinya.
" Tante ikut aja yuk ke rumah Mama Aida." Adagt menggendong Adelia dan crystal ke arah dapur, karena semua keluarganya sudah berlari keluar rumah.
" Mbak, tolong gendong Adel dan Ical dulu ya. Tantenya ke rumah mama Aida."
Iya, Den." Para pengasuh mengambil alih Adelia crystal
" Terima kasih." Adgar menepuk sayang beberapa gantian kepala mereka berdua.
" Tante, jangan lari..." Pekik Adgar panik melihat Eidelweis yang tengah hamil enam Minggu berlari mengikuti yang lain.
Mereka menoleh objek teriakan Adgar, Aznan mendekati Eidelweis dan menyentil gemas kening Eidelweis yang dibalas kekehan olehnya.
" Maaf, panik."
" TIA... Minta maaf!" Alfaska menegurnya.
" Untuk apa? ucapan Tia yang mana yang salah?" Tia masih ngotot.
Zahra tertawa mengejek," Lo mahasiswa, tapi logika Lo ngawur, dasar hipotesa darimana komentar Lo itu? Lo gak tahu apapun tentang gue!"
Sebenarnya Tia sudah ciut, semua orang tegang. Kalau kata gue-lo sudah terucap oleh Zahra dalam suasana serius, berarti Zahra dalam mode senggol bacok on.
" Masih jauh dari pantas buat Lo untuk mengomentari gue, sebagaimana Lo tahu karir gue, jadi periksa dulu otak Lo sebelum adu bacot sama gue."
" Heh, gak guna semua karir kakak, dengan segudang prestasimu tidak mengubah nyonya Sri menyukaimu, sehingga om Hito lari menjauh dari Kakak. Jadi intinya kesuksesan seorang wanita itu diterima oleh keluarga prianya bukan karena piagam penghargaan atau gelar."
" Yakin? bagaimana jika Lo diterima oleh keluarga pria, tetapi pria itu sendiri meninggalkan Lo karena Lo tidak berkualitas menjadi istri. Alias zonk. Me-nye-dihkan!" Ledeknya dengan mimik mengejek.
Telak, Tia terdiam tidak berkutik, bola matanya melirik Alfaska berharap pembelaan, tetapi nihil. Yang didapat bahkan tatapan kecewa darinya.
" Menyedihkan, kakak yang menyedihkan menjual derita percintaan kakak untuk mendapat simpati mereka, memaksa Aa Afa menemani kakak dan meninggalkanku. Saking menyedihkannya bertahun-tahun menjalin cinta tapi restu tak kunjung didapat sehingga stuck dan berakhir memuakan."
Nenek yang berdiri bersama klan Hartadraja dibalik pintu bersama yang lain, geram, ia ingin menampar mulut lancang Tia, namun ditahan oleh Hito.
" Dia menghina calon istrimu." Desis nenek menggeretekan gerahamnya.
" Biarkan Ara mendidik adiknya." Balas Hito menatap sendu Zahra.
" TIA..." Mumtaz sudah tidak bisa tahan mendengar hinaan Tia kepada Zahra lebih banyak lagi.
Tia tersentak, dia ketakutan melihat air muka naik pitam Mumtaz. Tapi dia sudah kepalang marah.
" Apa? apa yang Iya omongin benar."
" Semua mengasihaninya karena dia dibenci nyonya Sri, om Hito yang tidak kunjung menikahinya, siapa yang mau menikahi perempuan egois macam dia." Jari telunjuk Tia begitu lurus menunjuk Zahra.
Tia tersenyum smirk ," wajar sih nyonya Sri lebih menyukai kak Ziva dibanding dia, cara berpakaiannya saja kuno, norak. Gak pantas untuk Hartadraja."
" Jangankan Hartadraja, Tia aja malu mengakuinya sebagai Kakak, benci padanya. Selama masih ada dia tidak ada kebahagiaan buat Tia, lebih baik dia MATI!" Hardik Tia sekuat tenaga, urat lehernya sampai terlihat saking meluapkan emosi.
Zayin menggeram marah, tangannya mengepal sampai memutih, beberapa detik sebelum ucapan laknat itu terlontar, Zayin membuka pintu karena heran melihat banyak orang yang berdiri di depannya.
Wajah Zahra Pisa, tubuhnya membeku, dia tidak menyadari sebenci itu adiknya padanya, dia gagal menjadi seorang kakak.
Begitupun dengan reaksi Tia, dia tidak menyangka bisa mengucapkan sumpah terburuk sepanjang hidupnya untuk kakak tersayangnya, dia tidak bermaksud demikian entah setan apa yang merasukinya.
Wajah terluka Kakaknya bagaikan belati menghunus jiwanya, dia siap menerima murka kakaknya. Tia memejamkan mata siap menerima amarah Zahra.
Seketika matanya terbuka lebar, saat pelukan hangat melingkupi dirinya. Zahra memeluknya erat dibaliknya bulir matanya meluruh deras.
" Maaf, maaf!! kakak mengaku bersalah. Bersalah membiarkan kamu sendiri menghadapi kesedihan hidupmu, seharusnya kakak ada mendampingimu, jika kepergian kakak kebahagiaanmu, Kakak pergi!"
Zahra mengurai pelukannya, ia mengecup kening Zahra untuk terakhir kalinya. Berharap rasa sayang dan cintanya tersalurkan padanya.
" Kakak sayang padamu, teramat sayang!" Zahra berlalu.
langkahnya terhenti kala melihat Zayin, dan Berserta Hartadraja lainnya, ia tersenyum tipis pada mereka sebelum meninggalkan rumah.
Tidak ada yang berani bergerak seakan takut memecahkan benda yang sudah retak.
Dari arah belakang bahu Tia ada yang menariknya.
PLAK!!!!
Ssaking kerasnya tamparan yang Zayin berikan kepala Tia sampai terhempas ke samping dan tubuhnya oleng beberapa jengkal.
" PERGI! PERGI KAU BERSAMA SETAN SANDRA ATMA MADINA! Jangan pernah berani menampakan wajahmu lagi di sini!"
Tia tertegun, bibirnya yang sobek hingga mengeluarkan darah tidak dirasakan. Dirinya mati rasa.
Alfaska menarik tangan Tia dengan kasar, pegangannya menyakiti tangan Tia. Tidak ada yang menghentikan tindakan Alfaska termasuk Mumtaz.
Mumtaz yang tersadar dari syoknya, langsung berlari mengambil kunci mobil yang terletak gantung di tempat penyimpanan kunci di dinding samping pintu, namun langkahnya tertahan.
Jeno menahan tangan Mumtaz," ada pesan dari Ragad."
" Lo urus."
" Nyonya Belinda berhasil mendarat di sebuah desa, Ragad menunggu perintah dari Lo."
Radit menyambar kunci mobil yang dipegang Mumtaz," biar gue yang nyusul Kak Zahra."
Mumtaz mengusap wajahnya kasar, dia langsung menuju ruang kontrolnya.
" BUBAR, BUBAR!! Dirikan tenda langit semakin tidak BESTie." Ujar Haikal mencoba menurunkan tensi ruangan.
" Bang, yakin party masih mau lanjut?" Tanya Raja hati-hati.
" Kenapa tidak? Gue udah beli daging premium ya, kecuali Lo gak mau gabung, its okay!" Daniel menyusul Mumtaz diikuti Ibnu, Raja menggeleng.
Ia langsung mengkomando urusan barbequean.
Keluarga Hartadraja masih tertegun ditempat.
" Hito, sebaiknya kamu menyusul Zahra." Seru Papa Aznan.
Hito mengangguk," titip nenek." Aznan mengangguk.
Saat hendak pergi, tangannya ditahan Nenek," maafkan nenek, semua hinaan itu karena nenek." Lirihnya menyesal.
Hito memeluk nenek guna menenangkanya," semua akan baik-baik saja, Ara sangat menyayangi Nenek. Nenek harus baik-baik saja begitu Hito bisa membawanya dan mengahadap Nenek."
Setelah mengucapkan itu Hito bergegas mencari Zahra.
****
Begitu pintu apartemen dibuka Alfaska langsung mendorong tubuh Tia hingga tersungkur.
Sepanjang jalan menuju apartemen tidak ada kata yang terucap dari Alfaska meski sekian kali kata maaf terucap dari Tia, bahkan tangisan Tia tidak mengurangi tensi amarahnya.
Sepanjang hidupnya hari ini hari terburuk baginya setelah dia sembuh dari traumanya, bahkan lebih buruk dari hari dimana dia tahu akan perjodohannya dengan Adinda Aloya.
" A..."
" MEMALUKAN!! tidak sudi, anak-anak ku terlahir dari wanita lancang sepertimu!"
Tia terkejut, tidak menyangka kata-kata kasar itu terlontar dari mulut suaminya yang baik ini.
" huhu..hiks..A...aku mohon maaf! jangan tatap aku dengan sorot matamu itu." Benci, luka, kecewa. yang tersorot dari mata Alfaska untuknya.
" A... ku mohon..."
__ADS_1
" TALAK...AKU MENTALAKMU SEBAGAI ISTRIKU!"....
^^^Yuk..BESTie readers komen, vote, n likenya ya..ya..!!!!^^^