
Air muka Zahra mengeruh ketika sampai di bagian UGD, ia mendapati tugas yang ia berikan kepada mutia tidak dijalankan dengan baik dari tiga Pasian yang harus dicatat hanya satu pasien yang tercatat laporannya dan itu menghabiskan waktu sekitar dua jam lebih.
" Mengapa tugasnya tidak selesai?"
Meski takut, Mutia tetap memasang tampang santai dengan gestur meremehkan. Berdiri dengan bertumpu pada satu kaki, sedangkan satu kakinya ditekuk ke belakang ke dinding kayu bagian administrasi rumah sakit, dengan kedua tangan dalam saku jubah.
" Itu tugas Anda, Anda bukan dokter pembimbing saya, saya tidak punya kewajiban menuruti perintah Anda."
Masih dalam suasana hati kesal, Zahra mencengkram pakaian depannya sampai tubuh Mutia tertarik padanya. Semua staf yang melihatnya ketakutan, tidak ada yang berani melerainya.
" Kau ternyata sungguh meremehkan saya, entah apa jaminan yang kau miliki sehingga kau berani berbuat lancang, tetapi apapun itu saya pastikan itu tidak akan berlaku."
Zahra menarik Mutia sambil tetap mencengkram kerah bajunya menuju ruang khusus dokter intership.
" Panggilkan bagian kepegawaian." Tuturnya kepada siapa saja yang mendengar masih terus menyeret Mutia yang terlihat syok.
Bara berlari ke bagian UGD begitu mendapat informasi dimana Zahra bertugas.
Semua staf menundukkan kepala atas kedatangannya, ia menyisiri keseluruh ruangan, tetapi tak menemukannya.
" Dimana prof. Zahra?"
" Tadi saya melihat beliau menuju ruangan dokter intership." Ucap salah satu perawat jaga.
" Tunjukan padaku dimana tempatnya!" Bara mengambil langkah besar dan cepat meninggalkan UGD diikuti perawat tadi yang berjalan cepat hampir berlari mengimbangi langkah bosnya.
Begitu Bara membuka pintu yang ditunjuk perawat terdengar lemparan benda keras.
" Ada apa ini?" Bara menatap satu persatu orang yang berada di ruangan tersebut.
Matanya melihat kekacauan dari banyaknya kertas yang dirobek dimana-mana, buku-buku kedokteran yang berserakan dilantai, laptop yang terbuka yang teronggok di atas lantai, dan alat tulis lainnya yang tidak pada tempatnya.
Zahira dan Zivara menghela nafas lega atas kehadiran Bara ditengah amarah Zahra.
" Bara..." Rengek Mutia manja merangkul tangannya berharap pembelaan. Mutia ingin menunjukan pada Zahra bahwa ia tidak bisa ditindas karena dia kenal sang pemilik rumah sakit ini, dia pikir Zahra tidak akan berani bertindak agresif lagi jika ia berlindung pada Bara.
Zahra memperhatikan bahasa tubuh antara Bara dan Mutia, dapat dipastikan jika mereka berdua saling mengenal. Hanya satu kesimpulan yang bisa ia tarik dari interaksi keduanya.
" Jadi kamu yang membawa orang tidak berguna ini ke tempat ini!?" Tutur Zahra tajam.
Mutia dan yang lainnya terhenyak kaget Zahra berani berkata lancang pada bos mereka.
" Siapa yang Kakak maksud?
Semua pasang mata membola mendengar panggilan **Kakak** oleh Bara.
" Dia, Mutia Wibowo dokter intership paling tidak berkompeten yang pernah saya temui." Tunjuknya pada wanita yang masih memegangi tangan Bara.
" Kali ini apa kesalahannya?"
" Dia tidak melaksanakan tugas untuk mencatat diagnosis pasien yang dilakukan oleh dokter pendamping saya, hanya mencatat bukan memberi diagnosa, dan itu tidak dia lakukan dengan baik padahal saya sangat membutuhkan laporan itu segera untuk tindakan selanjutnya."
" Anda bukan dokter pembimbing saya, jadi saya tidak punya kewajiban untuk menuruti perintah anda!" Elak Mutia sedikit bergetar damage intimidasi Zahra saat ini sangat tak terbantahkan yang akan menciutkan nyali semua orang.
" Sebaiknya kau buka lagi buku pedoman mu, cari apa pengertian dari dokter pembimbing. Kalau hal itu saja kau tidak bisa memahaminya maka saya akan mendatangi kampus mu untuk memprotes mengapa orang berotak udang seperti kau berhasil mendapatkan gelar S1 kedokteran."
Marah karena merasa dipermalukan, Mutia melototinya.
" Dr, Zahra saya tidak terima..."
" Mutia jaga sikap kamu kepada prof. Zahra. Atas dasar apa kau bisa bersikap lancang pada beliau?" Sela Bara menggema seisi ruangan.
" Bara, kamu membentakku?" Kagetnya berlebihan.
" Siapa kau sehingga saya tidak bisa membentak kamu jika kau melakukan kesalahan?"
Bola mata Mutia dan para rekan dokter intership membulat lebar mendengar fakta ini.
" Prof. Zahra saya pastikan ini yang terakhir kali dia lalai dalam menjalankan tugasnya, saya akan menemukan siapa yang memasukan dia ke rumah sakit ini." Mata Bara mengamati bagian kepegawaian satu persatu penuh peringatan.
" Bapak kepala, berikan dia skors dua minggu sebagai dokter intership dengan segala sokuensinya, dan setengah point dari penilaiannya, suruh kepala HRD ke ruangan saya dalam waktu lima menit."
" BARA..." Bentak Mutia yang tidak menerima ia dihukum, dia merasa tidak melakukan kesalahan.
" Saya kira kita tidak terlalu dekat sehingga kau bisa membentak saya." Ujar Bara dingin.
" Bukankah kamu teman ayahku, kenapa kamu tega melakukan itu padaku."
" Siapa ayahmu?"
Seketika raut wajah Mutia memerah karena malu, pasalnya selama ini dia menggunakan alasan bahwa dia orang dekat Bara sehingga segala tingkahnya yang dinilai tidak profesional dibiarkan oleh para rekan dan staf rumah sakit.
" Arya Wibowo."
" Kami rekan kerja, iya, tetapi bukan teman. Meskipun kami berteman sikap kurang ajar mu tidak dapat ditolerir karena akan merusak nama rumah sakit. Jadi mulai saat ini jaga sikapmu jika masih ingin menjadi bagian dari rumah sakit ini." Tukas Bara tegas tidak bisa diganggu gugat.
" Prof. Bisa kita bicara?" perhatian bara beralih pada Zahra.
" Oke." Mereka keluar ruangan meninggalkan Mutia yang berdiri kaku dibawah tatapan cemooh dari para rekannya.
__ADS_1
" Cuih, jadi selama ini Lo nipu kita? Mana yang Lo bilang kalau pak Bara akan membela Lo karena Lo sahabatnya!?" Ujar Dwi, gadis berkuncir kuda.
" *Well*, Muti. Mulai sekarang Lo tulis tugas Lo sendiri, oke!" Timpal Arman, rekan lelakinya.
" Sorry muti gue sibuk jadi tidak bisa memeriksa pasien Lo." Dina melempar Clip board Mutia ke atas meja.
Selama ini dengan menggunakan nama Bara dia memanfaatkan para rekannya mengerjakan tugas-tugasnya yang terpaksa dilaksankan oleh mereka meski tugas mereka sendiri sudah berat.
Rekomendasi dari rumah sakit Atma Madina memang sangat membantu untuk karier mereka di masa depan, tetapi tugas yang dilimpahkan bukanlah hal yang mudah Bahkan demi memenuhi standar penilaian rumah sakit tak jarang mereka tidak punya waktu untuk pulang wali sekedar untuk tidur.
Oleh sebab itu mengapa para rekan Mutia sekarang begitu marah dan jengkel padanya.
" Berapa kali gue bilang jaga sikap Lo terutama pada prof. Zahra. Dia selain dokter unggulan di sini juga merupakan orang terdekat pemegang saham rumah sakit ini, tapi apa, Lo selalu bilang itu gak ngaruh karena gue dekat dengan Bara." Arman bermenye-menye menirukan gaya bicara Mutia.
" Sekarang berhenti memanggil pak Bara dengan Bara atau Lo dipecat dari sini tanpa hormat. Itu pun kalau Lo masih menjadi bagian rumah sakit ini. Hahahhaa." Tawa Dwi penuh kepuasan di atas penderitaan Mutia.
" Sebelum Lo meninggalkan ruangan, bereskan ruangan ini, kalau tidak gue tidak akan segan memberi kesaksian kalau 80% tugas Lo dikerjakan oleh kita, menuruti Lo apa yang terjadi? Gue dengan baik hati memberitahukannya, ucapkan *sayonara* pada dunia kedokteran!" sambung Dina.
Mereka bertiga keluar ruangan, dengan gaya kepala terangkat, dada di busungkan sebagaimana gaya Mutia selama ini.
Mutia menggeram, kedua tangannya mengepal erat, dia harus memberitahukan papanya agar dokter Zahra dipecat dari sini.
Papanya adalah sahabat dari Gama Pradapta, salah satu orang berpengaruh dalam dunia medis melalui perusahaan farmasi dan penelitiannya.
Saat ini Bara dan Zahra berada di ruangan kerja Bara. Duduk di sofa saling berhadapan dihalangi meja berukuran sedang.
" Kak, tolong bujuk Mumtaz untuk tidak menghentikan investigasi kasus Cassy."
Alis Zahra mengernyit sambil menyeruput teh hangatnya.
" Kenapa dia harus memberhentikannya?"
Roman wajah Bara seketika kesal, " karena apa yang dilakukan om Hito padamu tadi."
" Dih lebay."
" KAK..." Gregetnya
" Kamu bentak aku?" Tanya Zahra berlebihan.
Bara gelagapan," Bu... Bukan begitu. Maaf, gak bermaksud. Kakak tahu si Afa aja udah narik pasukannya, apalagi si Mumuy yang super posesif dan overprotektif sama kakak, belum lagi si Zayin yang pastinya memprovokasi keadaan dengan kejulidannya. Kalau kakak diam saja keadaan bakal runyam." Bara mengusak rambutnya frustasi.
Zahra menggigit pipi bagian dalam menahan senyum, ia menikmati kegusaran Bara yang biasanya tenang dan selalu mengendalikan keadaan.
Mengambil dua langkah besarnya Bara berjongkok tepat di depan Zahra, menggenggam kedua tangannya dengan lembut.
" Kak, pelaseeeee.... Aku masih sakit loh ini, apa kakak tega aku ambruk lagi gara-gara banyak pikiran!?" rayunya mengiba dengan poppyayes-nya
Kedua alis Zahra terangkat karena geli.
" Bar, kamu tahu sendiri kakak lagi gak ngomong sama Mumtaz, mana mau dia dengerin Kakak."
" Mau, pasti mau. Pleaseee..."
" Bar, Mumuy gak sepicik itu, dia tidak akan menghentikan kasus ini."
" Kak, kalau untuk kakak dan Tia, dia bisa lebih licik, picik dan jahat dari pada yang kita bisa kira. Aku gak mau ambil resiko apapun pelaseeee."
" Apapun itu akan Bara lakukan, katakan." Respon Bara dengan semangat.
" Jauhi Hito dari kasus ini, pastikan dia tidak mendengar apapun tentang kasus ini."
" Hah, mana mungkin. Dia petinggi Gaunzaga yang juga terlibat pada investigasi ini." Elak Bara, Zahra hanya mengedikan bahu tak mau tahu.
Zahra merubah duduknya santai dengan menyilangkan kakinya.
" Selain ini ada yang lain gak?"
Zahra menatap Bara kesal," kamu mulai ngelunjak ya, kamu begitu pedulinya pada Cassy sehingga mengabaikan sakit hati aku, ngaku aja kamu adik aku, tetapi tidak mengerti keperihan hati aku. Jadi dimana letak persaudaraan kita!?" Sindir Zahra tajam.
" Ternyata sekeren apapun kamu menunjukan seberapa besar kepemilikanmu padaku, kalau kita tidak sedarah semua itu hanya formalitas. Bagi kalian kaum konglomerat keberadaan kami kaum miskin tetapi punya keahlian hanya sebuah fasilitas saja yang dibungkus persahabatan dan keluargaan tetapi pada akhirnya kita hanya dua orang asing yang saling memanfaatkan." Telak Zahra dingin.
Bara mengejapkan mata berulangkali karena syok, begitu sadar akan kesalahpahaman Zahra, Bara langsung mengukung Zahra di Sofanya takut Zahra kabur, ia berdiri di atas kedua lututnya
" Bu..bukan begitu maksudnya. Maaf, maafkan Bara. Sungguh bagiku kamu adalah seorang Kakak. Tidak mungkin Bara mengesampingkan perasaan kakak, maaf! Maaf! Sungguh Bara mohon maaf!! Lirihnya penuh sesal, dengan Kepala tertunduk dalam.
Suaranya bergetar karena hatinya yang sesak telah melukai perasaan seorang Zahra.
Zahra yang semula kesal luruh beroman sendu, ia mengusap kepala orang yang sudah dianggap adiknya.
" Hei, its oke. Kakak yang minta maaf karena meresponnya secara berlebihan. Tapi kakak menyesal tidak bisa mengubah syaratnya, ini permintaan seorang dokter dan orang yang peduli padanya. Kakak tahu bagaimana keadaanya pasca peristiwa itu, dan ini yang terbaik untuknya."
Bara menangkup kedua tangan yang memegangi pipinya syahdu, mencium tangan itu silih berganti penuh kasih.
" Cintamu yang membuatmu peduli pada Cassy, cinta kakak yang membuat kakak peduli pada Hito, mungkin kami tidak berjodoh, tetapi rasa ini tidak mudah dihilangkan meski sudah tersakiti. Kakak mencintainya karena itu kakak tidak ingin dia lebih sakit." Cicitnya ditengah air mata yang membasahi kelopak matanya dan turun deras bagai air bah yang menjebol tanggul penahannya.
Bara memeluk Zahra erat menyalurkan kekuatan," kakak hanya ingin yang terbaik baginya, seperti dia yang selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku tak ingin kehilangannya, demi Tuhan lebih baik aku berpisah darinya dari pada dia terjebak dalam sakitnya." jerit Zahra dalam pelukan Bara terus memukul-mukul punggung Bara lemah.
" Sshhh, tenang. Bara pasti melakukan apa yang kakak pinta. Maaf!! Tadi sedikit membangkang." Zahra menggelengkan kepalanya lalu kepalanya jatuh terkulai dalam pelukan Bara yang membuat Bara ketakutan.
" BUDI..." teriaknya
Budi, Sang asisten setianya tergopoh-gopoh masuk ruangan, dan kaget melihat Zahra tak sadarkan diri.
" Panggil prof. Farhan dan ke sini sekarang." Titahnya tanpa memalingkan tatapannya dari Zahra.
" Baik." Budi langsung melaksanakan titah bosnya mengabaikan Fatio dan Aznan yang berdiri kaku di depan pintu ruangan Bara.
" Bara, apa yang terjadi?" Mengabaikan kesopanan Fatio dan Aznan memasuki ruangan.
" Kakek, paman!" Kagetnya ditengah usahanya membaringkan Zahra ke sofa panjang.
" Apa yang terjadi?" Aznan bertanya khawatir.
Bara menggelengkan kepala tidak mengerti." Kak Zahra menangis dalam pelukanku tak lama beliau tak sadarkan diri." Terangnya dengan suara lemah.
" Sejak kapan Kakek dan Paman di sini?"
" Sejak ku memohon pada Zahra agar membujuk Mumtaz, kami semula mencari Zahra dengan niat yang sama denganmu Zivara memberitahu kami kalau Zahra disini." Jawab Aznan masih menatap Zahra.
Tok!! Tok!!
Farhan dan beberapa perawat yang memasuki ruangan.
" Permisi, Tuan." Farhan mendekati tempat Zahra berbaring
" Silakan." sahut Bara yang diangguki Fatio dan Aznan.
Farhan memeriksa detak jantung, suhu tubuh, denyut nadi serta pupil mata Zahra.
" Suster, tolong pindahkan profesor ke brankar." Pinta farhan
" Biar saya saja." Bara menawarkan dirinya sendiri, ia tak ingin Zahra terlihat lemah di depan para bawahannya.
Dengan sigap Bara mengangkat lalu membaringkannya ke atas brankar tubuh tanpa kesusahan.
" Bawa profesor buka ruang inap zuper VVIP atas namanya.
" Baik." Para perawat mendorong brankar meninggalkan ruangan.
" Bagaimana kondisinya?" Fatio membuka suara. Ia duduk di sofa tunggal.
" Kami belum bisa memastikan, kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan, Saya permisi." Farhan berlalu menyusul para perawat.
*****
Klan Gonzalez berkumpul di ruang tengah mansion yang porak poranda akibat kebakaran.
__ADS_1
Guadalupe yang datang langsung syok melihat kediamannya sudah hancur bagai digempur saat perang melihat putranya yang duduk bersandar di kursi kotor.
" Mengapa bisa begini?"
Eric menoleh dan menatap Ibunya tajam, dia beranjak lalu mencekik Guadalupe.
Guadalupe melotot memukul tangan Eric agar melepaskannya.
" Bukankah Raul sudah memperingatkan agar tinggalkan mereka, kenapa kamu keras kepala dengan menyerang Dewi dan menculik Cassandra Hartadraja!?"
Guadalupe terbelalak terkejut, tubuhnya gemetar ketakutan, ia tahu betapa kejam putranya ini.
" Lepaskan dia Papa." Raul datang bersama Rodrigo yang membuat Eric serta Guadalupe terkejut.
" Rodrigo, sedang apa kau di Indonesia?" Guadalupe bertanya dengan gugup.
" Aku juga merindukanmu, Nek."sindir Rodrigo atas sambutan terhadap dirinya.
" Menurut kalian?" Rodrigo menaruh surat kuasa dari Alejandro, menganulir putusan terdahulu, dan pelimpahan kekuasaan kartel padanya ke atas meja yang nasibnya sama dengan kursi.
" Papa tidak bisa berbuat seenaknya begini?" Bentak Eric dengan kemarahan yang besar.
" Tentu bisa, sebaiknya kau baca surat pelimpahan kekuasaan padamu dengan baik. Di sana tertera klausula bahwa pemimpin utama bisa mengambil alih kekuasaan jika si penerima kekuasaan bertindak yang dapat membahayakan organisasi." Jelas Rodrigo tenang menanggapi kemarahan ayahnya.
" Kau telah mengecewakannya, dengan mengirim narkoba secara besar-besaran berulang kali tanpa ijinnya bahkan akibat pengiriman yang selalu gagal itu kartel rugi triliunan dollar." Rodrigo menatap ayahnya tajam.
" Papa tahu tentang hal itu? Ucap Eric pelan.
" Apa Papa pikir kakek memberi kekuasaan padamu tanpa pengawasan?"
" Tapi dia sedang sibuk dengan Mama Esperanza."
" Kalau begitu Papa meremehkan kehebatan Kakek. Beliau seorang Alejandro Gurman." Tekan Rodrigo penuh peringatan pada Eric.
" Apa kakekmu tahu nenek ada di sini?" Guadalupe was-was takut.
" Beliau bahkan tahu diantara kalian ada yang memerintah untuk menyerang Dewi dan Cassandra Hartadraja."
" Itu ulah Nenekmu." Sambung Eric, ia enggan bahkan tak mau menerima konsekuensi dari perbuatan bo.doh mamanya.
Guadalupe melotot tak menyangka putranya tega menceburkan dia pada jurang siksaan Alejandro.
" ERIC!"
" Apa? Apa Mama pikir aku mau pasang badan karena kelakuanmu? TIDAK MAMA!" Tegas Eric memastikan ibunya paham maksud dari perkataannya.
Rodrigo dan Raul memasang air muka bosan menyaksikan dua manusia bermental pengecut ini.
" Imanuel."
" Iya, Tuan."
" Persiapkan kepulangan anak buah ke Meksiko saat ini juga. Usahakan kepulangan mereka beres dalam waktu dua hari."
" Siap."
" Kau tidak bisa memerintah mereka." Tolak Eric.
Menghela nafas malas," Papa, baca satu surat lagi, sekarang kau bukan lagi pemimpin Kartel. Kakek sudah melimpahkannya padaku."
Eric menarik kertas yang tertutup dua kertas di atasnya.
" Selain menganulir pemilihan mu beliau juga memilihku untuk menggantikanmu. tindakan mu sudah tidak dapat diampuni lagi, Papa."
" Bagaimana dengan Nenek?" Guadalupe berharap suaminya memulangkan dia juga.
Rodrigo mengedikan bahu," Beliau tidak menyinggung tentang mu."
Guadalupe terhenyak, dengan tubuh seketika lemas dia menjatuhlan diri di atas kursi kosong lainnya.
" Papa, Nenek. Saya perintahkan mulai saat ini kalian diam, jangan melakukan apapun yang membuat aku marah! Kalian tahu bagaimana kalau aku marah bukan!?" Ancam Rodrigo.
" Raul, bisakah kamu meminta kakek mu mengirim Nenek pulang?" Mohon Guadalupe.
Raul memberi tatapan menyesal pada Neneknya," aku ingin Nenek, tetapi seperti yang Nenek tahu Kakek dan aku tidak begitu dekat, pasti kakek tidak akan mendengarkan ku." Perkataannya penuh sindiran bagi Guadalupe.
Sewaktu Eric hendak pindah ke Indonesia membawa serta Bellina dia memaksa Eric membawa Raul dan juga Sivia agar Alejandro tidak mengenal cucunya dengan baik.
Raul mengikuti Rodrigo yang sudah berbalik badan meninggalkan mansion tersebut.
****
Semua yang terjadi di ruang tengah mansion Gonzalez terpantau oleh Mumtaz di layar lewat kamera bola yang bisa berubah menjadi burung yang menempel di tembok pojok kanan atas ruangan tersebut.
Dring!
Ibnu memasuki ruangan dengan membawa nampan yang berisi dua porsi nasi capcay daging sapi dan dua air bening hangat.
" Makan dulu, Muy."
" Hemm, belum pulang Lo?"
" Hmm." Jawabnya sambil memakan makanannya.
Seusai makan, mata Ibnu fokus ke layar," Apa mereka akan membalas dendam?" Tanya Ibnu menunjuk layar lewat dagunya.
" Kepada siapa?"
" Iya juga, ya!" Renungnya.
"Apa kau akan menghentikan investigasi kasus Cassy?"
Satu alis Mumtaz terangkat," kenapa?"
" Afa sudah menarik anak RaHasiYa dari kasus ini."
" Kenapa?"
Ibnu mulai kesal, ia menegakkan duduknya yang semula bersandar di kursi.
" Kau tidak lupa perkataan dan perbuatan om Hito pada kak Zahra kan!?"
" Kalau Lo jadi gue, tindakan apa yang bakal Lo lakukan?"
" Jawab saja pertanyaan gue dengan jawaban gak usah nanya lagi."
Mumtaz terkekeh geli melihat Ibnu kesal.
" Lo juga anggep kak Ala kakak Lo, bahkan sepertinya Lo lebih dekat dengannya ketimbang gue." Sindirnya penuh kesinisan.
" Cih cemburu, tapi gue lebih sabar daripada Lo."
" Dih halu."
Dring!!
Dewa memasuki ruangan dengan membawa laporan yang diminta para petinggi RaHasiYa. Ia meletakannya di atas meja dengan hati-hati.
Plak!!
Ibnu memukul punggung Dewa gemas dengan laporan yang dia pegang.
" Sudah tahu bakal ketahuan, malah nekad."
" Dewa..." Panghil Mumtaz
" Siap bos!" Sahut Dewa cepat.
" Cih, cari muka!" Celetuk Ibnu.
" Cari informasi tentang Mutia Wibowo dari A sampai Z, kalau kau lulus dengan tugas ini, saya pertimbangkan meringankan hukuman mu.
Dewa mengangguk cepat, ia tidak peduli hukuman apa yang dimaksud, tetapi tawaran apapun dari para bosnya jika itu akan meringankan hukumannya dia akan terima.
" Saya ingin informasi itu sudah ada di meja saya dalam waktu dua hari, ada satu yang lalai tentangnya kamu akan merasakan akibatnya."
" Siap!" Dewa bergegas keluar dari ruangan itu.
Tririring!!!
" Hallo." Ibnu menjawab sambungan telpon yang masuk pada ponselnya.
" Kita otw ke sana." Ibnu berdiri.
" Ada apa?" Tanya Mumtaz bingung.
" Tadi Afa telpon Kak ala pingsan."
" Ck, kenapa telpon Lo, gue adik kandungnya." Kesal Mumtaz langsung berlari meninggalkan Ibnu.
" Karena ini, dia takut telpon Lo yang lagi sensi." Teriaknya sambil berlari menyusul Mumtaz.
Mumtaz mengacungkan jari tengahnya...
__ADS_1