
Saat Zayin dan William memasuki gedung itu, semua pasang mata yang ada mengamati mereka dengan intens. Wajah asing keduanya bagi mereka mengundang pertanyaan pada Berto.
" Siapa, Bert?" tanya sang pemimpin penyelidikan, bernama Anton.
" Utusan langsung pak Ergi, pak. Ini suratnya." Berto memberikan dua kertas pada pria berkacamata tebal itu.
Anton mengangkat keningnya." Syamsudin, dan Komar Chen? Really? Tanya Anton dengan mimik tidak percaya dengan nama yang tidak sesuai dengan visualnya.
Begitupun dengan Zayin dan William, menatap Berto dengan geli.
Berto mengedikan bahunya santai." Ya gimana kalau itu nama mereka. Itu yang saya dapatkan."
" Ya sudah, langsung kerjanya saja. Kamu boleh pergi, Bert."
" Saya ditugaskan mengawasi mereka."
Kening Anton kembali terangkat tidak mengerti.
Berto mendekati Anton, berbisik padanya." Kalian turun tanpa mengkonfirmasi apapun kepada sang pemimpin, beliau kirim salam untukmu." Berto berimprovisasi. Padahal Ergi tidak mengatakan apapun pada Berto terkait pelanggaran rekannya itu.
" Kalian kerja lah, saya mengawasi kalian." Ujar Berto pada Zayin dan William. Tidak memperdulikan teriakan Anton.
Karena terbiasa, mata Zayin dan William kontan bekerja meneliti keadaan sekitar, nafas Zayin menghela kasar ketika menyadari beberapa bentuk binatang yang terlihat tidak wajar menempel di dinding, dan salah satunya menjatuhkan diri ke atas pundaknua. Zayin membiarkannya saja.
" Kakak Lo kalau udah ngambek nyeremin banget." bisik William.
" Cuma orang tolol sih yang berurusan dengannya." Zayin mulai gemas kala menyadari RaHasiYa memutuskan untuk mengawasi mereka. Dia harus berbicara dengan kakaknya terkait hal ini.
Tanpa membuang waktu dengan gerakan tidak dicurigai , mereka langsung menuju ruang kerja Alfred.
Sejak memasuki ruangan tersebut mereka sudah disuguhi banyak hal yang tidak menyenangkan.
Yang tidak disadari oleh mereka sejak mendekati meja kerja Alfred, RaHasiYa sudah meretas seluruh stasiun tv dan internet menampilkan apa yang mereka lakukan di sana.
Di meja tampak jelas puluhan foto-foto yang berserakan di atas meja membuat mereka marah. Tidak ada ruang disekitaran meja yang lepas dari pengamatan mereka.
Di laci meja paling bawah banyak sabu, pil dengan berbagai macam warna, dan tumpukan foto bvg1l anak-anak.
Kini mereka beralih ke bagian dinding, dimana foto-foto anak dibawah umur tidak hanya perempuan, namun juga lelaki menghiasi hampir seluruh dinding dengan pose vulg4r, membuat rahang mereka saling beradu keras.
Ingin membuktikan rekaman Damian, dan informasi dari Ricky, mereka menuju ruang pribadi, di sana semakin membuat mereka marah, ranjang yang dirancang sedemikian rupa untuk menghadirkan suasana romantis, tetapi yang dilihat hanya suasana cabul berjejer beberapa lingerie dengan ukuran kecil, sedang dan dewasa yang diperkirakan untuk dikenakan oleh objek berusia anak, remaja dan dewasa dari berbagai warna dengan model yang sangat provokatif karena sangat seduktif.
Para pihak stasiun tv kewalahan untuk menghapus atau mengganti video yang sedang tayang, semua bagian IT dikerahkan untuk menyingkirkan tayang tersebut, namun apa daya mereka tidak mampu.
Mereka hanya bisa turut menyaksikan dengan raut muka terkejut. Bagian berita secara cepat dan tangkas membuat narasi atas perintah pemimpin redaksi mengingat video tersebut tidak bisa disimpan.
Kegusaran atas penemuan itu langsung mendapat reaksi dikalangan masyarakat, alih-alih mereka marah karena ada peretasan di ponsel mereka, mereka lebih gusar dengan apa yang mereka lihat.
Kemarahan mereka tujukan kepada seluruh 4paratur negar4, baik secara langsung dengan bahasa sopan maupun kasar atau dengan bahasa sarkas.
Para politi$i sekarang dipandang sebagai kelompok penjahat kelas kakap.
Pimpinan d3wan pusat sibuk mengadakan rapat dadakan bersama fraksi-fraksi.
Situs s3na4yan DAN 1stana sudah dibanjiri pesan masuk yang minta klarifikasi, umpatan, hinaan, masyarakat menyalahkan partai yang tidak becus menarik kader.
Janu dan Agung menatap malas para koleganya yang sedang memandangi mereka dengan curiga.
" Jadi pak Janu, saya kira anda sekarang senang tujuan kalian menghancurkan citra lembaga ini berhasil. Kepercayaan rakyat pada kita hanya tersisa dibawah 10%." Ujar wakil ketua lainnya.
" Apa kalian sedang mencari kambing hitam untuk perilaku hina yang dilakukan oleh kolega kalian? Dan itu kami?" Sinis Janu.
" Pikirkan kembali, atau kalian sendiri terlibat? kalian membutuhkan tumbal untuk menciptakan rumor baru sebagai pengalihan kasus ini?" tudingnya langsung.
" Hentikan, itu omong kosong." tegasnya.
" Ini bukan omong kosong, saya mendapat bukti ada namamu sebagai salah satu pelanggan dari Adinda Aloya." Informasi dari ketua fraksi yang mana anggotanya terbanyak yang terlibat.
" Benarkah? Buktikan."
Ketua melempar kertas berupa rekan jejak panggilan Adinda padanya.
" Hehehe, saya kira semua orang yang mengenal dia, tahu jika dia tergila-gila padaku, persoalannya siapa yang membawa dia ke dalam *circle* sosial para w4kil r4kyat ini?" Balas Juna agresif.
Dia tidak sudi memberi celah mereka untuk menyerangnya lebih dalam.
Mereka terdiam," tapi kau berinteraksi dengannya."
" Bagaimana kalau ku katakan saya sedang menjalankan misi dengan Daniel Birawa dari Birawa tekno? Apa kalian mampu menanggung resikonya?" Juna tidak mengakui meski dia juga tidak mengelak.
Dia jengah dengan praktek kotor manuver elit yang makin hari makin tidak tahu diri.
" Kau punya bukti?" Tanya sang ketua
" Kalian yang mengungkitnya, jadi kalian yang harus membuktikan kalau saya pelanggan di sana, bukan saya!" Tekannya tegas.
" Bagaimana dengan anda pak Agung?" Tanya wakil d3wan yang lain.
" Ada apa dengan saya? Saya puas dengan istri saya." Jawab asal agung yang mendapat kekehan geli dari Juan yang terdengar seperti suatu ledekan bagi mereka.
Mereka menatap sinis Juna, jika saja Juna tidak didukung oleh Birawa, dengan mudah mereka menyingkirkan sosok yang tengah naik daun ini, karena sikapnya yang sedari awal vokal penyusutan berbagai kasus yang tengah hangat di masyarakat.
" Sekarang mari kita konsentrasi pada pertanggungjawaban kita pada rakyat akibat skandal ini."
" Dan berhenti mencari alasan yang omong kosong, mereka hanya ingin kita bertindak tegas!" Sebagai politisi senior, Agung memberi peringatan pada mereka.
" Ada ide?"
" Memberhentikan mereka segera."
Ergi terkapar di atas sofa dengan tatapan kosong, suara telpon di ruang kerjanya dari line darurat, bisnis, hingga pribadi sejak tadi tidak berhenti berbunyi yang tidak dihiraukan olehnya.
Matanya masih memperhatikan layar tv, dengan ponsel khusus anti sadap ditelinga, dia sedang berbicara dengan p4nglima.
" Pak, ada telpon dari pr3sid3n." Lapor Timothy yang sudah kembali aktif di pusat.
" Saya harus menutup telpon, ada sambungan dari RI 1." Pamitnya pada p4nglima.
" Hallo."
" Pak Kapolri, bisa anda jelaskan mengapa ini terjadi, masyarakat sudah mulai ribut."
" Kami sedang berupaya mencari identitas hackernya, pak. Menkoinfo belum bisa mengatasi ini."
" Saya tahu itu, tadi saya sudah menekan beliau. Saya harap kalian bekerjasama dengan baik. Saya tunggu kabar perkembangannya dirapat besok."
Klik...
Sang pr3sid3n menutup sambungan. Menyisakan Ergi yang menggerutu.
" Timothy, peretasan ini sudah berlangsung 35 menit, dan kita belum bisa memecahkannya?"
" Pak, kami tidak menemukan kejanggalan dimanapun."
" Maksudnya?"
" Ini dilakukan secara live, seharusnya ada jejak digital yang mereka tinggalkan, kita sudah mencari di segala arah lalulintas digital tapi kami tidak bisa menemukannya."
" Bagaimana dengan kegiatan digital dari luar Indonesia?"
" Itu butuh izin negara terkait, berita ini pun jua menyebar diluar, saya sudah meminta bantuan teman di luar, dan mereka juga tidak menemukan jejak apapun."
"Pak, ini kesimpulan pribadi saya, saya kira kita harus bicara dengan RaHasiYa."
__ADS_1
" Kamu pikir mereka yang melakukannya?"
" Bukan begitu, tetapi kita bisa meminta bantuan mereka. Sampai saat ini pengamanan teknologi mereka yang terkuat."
" Oh, c'mon. Setelah kita menangkap Mumtaz dan menjadikannya Bullyan masyarakat, kamu pikir mereka mau membantu kita?"
Timothy terdiam, hanya bahunya yang dikedikan sebagai jawabannya.
Ergi melempar pajangan meja yang paling terdekat dengannya, ia frustasi.
BRAKH...
" Kalau ada panggilan selain dari p4nglima atau 1stan4 tolak saja, kita bukan kacung mereka."
" Pak, itu beresiko bagi instansi kita, mereka memegang banyak rahasia kita." Himbau Timothy.
" Terserah, mau mereka sebar, atau tidak. Mereka juga menanggung akibatnya."
Timothy tersenyum sumringah mendengarnya," kami akan bekerja terbaik yang bisa kami lakukan, ini bentuk dukungan kami."
Ergi tertegun mendengar perkataan Timothy, ia terenyuh, ia pikir impiannya hanya miliknya, tetapi ternyata milik yang lain.
" Kalau begitu, beri saya nama yang memerintahkan mereka menyelidiki tanpa konfirmasi pada saya."
" Siap, ini." Timothy menyerahkan map merah tebal.
Ergi mengernyit," kau begitu bernafsu rupanya."
" Dalam map tersebut banyak hal yang kita cari, tepatnya sejak restauran G & N dibekukan. Kita sudah berada di bawah menuju jurang, kini saatnya kita melakukan pembersihan total sebagai preseden institusi ini, selagi S3n4yan dan istan4 terjepit. Seyogyanya judikatif berbenah diri, jangan lupakan k3jaks4an dan yang lainnya, pak."
" Hmm, kau sudah mempersiapkan Ini semua?"
" Tidak, ada orang baik yang melakukannya jauh sebelum kekacauan ini terjadi, ia tanpa identitas namun penemuan itu bisa dibuktikan secara valid."
" Kau bisa keluar."
" Siap."
******
" Ni." Daniel memberikan earpieces pada Mumtaz yang khusu melihat iPadnya, saat mereka dijalan menuju pertemuan dengan Mateo.
" Gad, bisa ngebut ga?" Pinta Daniel seraya memberikan earpieces pada Ragad.
" Siap."
" Kenapa?" tanya Mumtaz.
" Sepertinya Mateo enggan bekerjasama, dia banyak alasan untuk tidak memberikan keterangan tujuan dari keberadaan bangkar itu."
" Hmm." Setelahnya sepanjang perjalanan mereka pun tidak ada yang bicara lagi.
Daniel melirik Mumtaz, mengamati air muka sahabatnya, dia masih tenang-tenang saja sibuk dengan iPadnya. Ia memandangi iPad yang baru disadarinya iPad tersebut pertamakali dia lihat.
" iPad baru, Muy?"
" Enggak udah lama."
" Baru lihat gue."
" Emang jarang dipake."
" Boleh minjem?"
" Bukannya gak boleh, tapi ini udah dimodif dalemannya. Gak semua orang bisa make."
" Apa Ibnu bisa?"
Mumtaz mengedikan bahunya sebagai jawabannya.
" Gue belum sempat ngasih lihat ke dia."
Ting...
Mumtaz membaca pesan masuk ke ponselnya, kemudian menyimpan ponsel itu dalam saku kemejanya.
" Siapa?" Daniel penasaran, karena seringai culas yang terangkat dari bibir Mumtaz.
" Pak Ergi."
" Sepertinya peretasan kita kali ini membuat gaduh senasional." Mumtaz menyodorkan iPadnya pada Daniel.
Daniel terperangah, ia tidak menyangka sahabatnya sampai sejauh ini bertindak. Bagiamana Indon3si4 tidak terguncang, S3nay4n kembali akan kehilangan penghuninya dalam jumlah banyak.
Sebagai kata propaganda yang sering digunakan istilah oknum tidak akan lagi efektif, negar4 ini terancam kekacauan untuk keduakalinya setelah tragedi 1998.
Brak...
Daniel, Ragad, dan orang yang hadir di ruang privat terjengkit kaget saat tanpa tedeng aling Mumtaz menendang pintu ruangan, dengan tangan di dalam saku, ia berjalan ke arah Mateo yang duduk bersebelahan dengan Rodrigo dan juga Alejandro.
Kursi itu terdorong hingga membentur dinding saat Mumtaz menendang dada Mateo, memasang wajah datar bagai air tenang ia menunduk di atas wajah Mateo yang meringis memegang dadanya yang diinjak kaki Mumtaz.
Melalui ekor matanya, Mateo melirik Rodrigo dan Alejandro mengharap pertolongan , namun tidak ada sambutan. Mereka mengabaikannya.
" Kau pikir bisa bermain-main dengan negar4 ku, Mateo." Desisnya tanpa emosi.
" Bu...uhuk..kan..begitu, ta..pi...aku tidak bisa mengatakannya..."
" Mengapa?"
" Di..a me..ngendalikan ku."
" Ku pikir kau tahu siapa sang pengendali di sini, aku tahu dimana orang tuamu berada, bahkan tempat Dolores tinggal."
Mateo membelalak, seketika air wajahnya pias, namun itu hanya sesaat. Di menit berikutnya wajah itu kembali ke semula. Ia yakin Mumtaz hanya menggertaknya saja. Tuan Gurman sudah menjamin keselamatan keluarganya yang disembunyikan oleh mereka.
Mumtaz menangkap keraguan Mateo atas ucapannya, ia melempar iPad yang jatuh tepat di dada Mateo.
" Kau lihat saja sendiri."
Mateo bersusah ayah mengubah posisi menjadi duduk saat Mumtaz mengangkat kaki dari tubuhnya.
Layar iPad menampilkan jalan tanah setapak disebuah perkebunan tembakau, sorotan itu berakhir pada sosok perempuan tua yang membawa bakul rotan di punggungnya yang tengah memanen daun tembakau.
Tarikan nafas kasar terdengar nyaring, diiringi netra mata yang makin melebar kala video itu menampilkan sosok tua yang menggandeng bocah cantik berusia sekitaran tujuh tahun.
" Ka..kau...darimana..."
Rodrigo mengambil iPad tersebut, ia dan kakeknya memperhatikan video itu dengan seksama guna menguji keasliannya.
" Bukan hal sulit bagiku untuk mengetahui silsilah mu, Mateo Aguirre... Putra dari mantan tuan tanah yang mana lahannya direbut oleh Alfred."
Netra Mateo melebar, sudah lama nama itu tidak disebut di belakang namanya, bahkan dia ragu apa masih ada orang yang mengingatnya mengingat kini dia dikenal Mateo Navarro.
" Apa aku harus mengatakan seluruh riwayat hidupmu? Pemerintah mu berhutang budi padaku, mereka dengan senang hati membantuku jika aku ingin menghabisi keluargamu."
" Bahkan aku bisa membuat saudarimu Dolores lebih menderita dari sekarang. Seharusnya kau telpon rumah sakit jiwa untuk memastikan apakah adikmu masih ada di sana!"
Mateo kontan memucat, ia bergegas menelpon sambungan ke Italia.
" Hallo."
" *Hallo, tuan Navarro*."
__ADS_1
" Bagaimana keadaan adikku?"
" *Adik anda sedang berjalan-jalan diluar, tadi ada anggota keluarga mu mengajaknya untuk sekedar refreshing*."
" Apa? Aku tidak punya keluarga. Apa Andah sudah memastikannya?" Kini kepanikan menyelimutinya.
" Sudah tuan, dia menunjukkan kartu identitasnya."
Pragkh...
Mateo melempar ponselnya keras hingga retak." Aaarrggkkh...*\*\*\*\*..\*\*\*\**.."
" Apa mau mu?"
" Bukan saya, tapi mereka." Melalui kepalanya Mumtaz menunjuk Dominiaz, Gama, Damian, Alfaska dan Ibnu.
" Apa jaminanny7a kau tidak mengkhianati ku?"
Mumtaz terkekeh meremehkan." Hehehe, kau bisa tanyakan pada tuan mu, Rodrigo. Dia stalker ku, apa pernah aku berkhianat, aku typikal membeli apa yang dijual lawan."
Ekor mata Mumtaz melirik sinis pada Rodrigo yang menggeleng pelan pada Mateo.
" Ta..tapi aku ingin memastikan keselamatan keluargaku." Desak Mateo putus asa. Dia menyesal bersikap sangsi bekerjasama dengan kaum konglomerat itu.
" kau bukan tujuanku, aku tidak peduli padamu, tetapi jika kau tidak bekerjasama denganku, dengan senang hati, ku h4ncurkan seluruh keluargamu." Tekannya dingin.
" Dariku, pastikan kau memberikan ini padanya." Mumtaz melempar tabs ke atas pangkuan Mateo yang terduduk payah di lantai.
Selama adegan antara Mumtaz dan Mateo, mata Ibnu tidak pernah lepas mempelajari mimik dan gestur sahabatnya. Sekian tahun mengenal dan telah banyak melalui kisah, saat ini ia melihat kemarahan yang mahadahsyat tersimpan dalam diri Mumtaz.
Kemarahan yang tidak bisa lagi ditolerir, pertanyaannya karena apa? Dan siapa?.
"Aakhh...ah....hammpt..." terus..dipercepat please."erangan dari suara kesulitan sekaligus nikmat.
Raul terus menggoyang bagian bawahnya menghunus milik Ivanka selama mungkin yang menangis karena paksaan, Raul sambil tersenyum menang menatap monitor laptop yang diletakan tidak jauh dari ranjang yang menampakan wajah Valentino yang memerah karena murka.
" Oommh...per...gi..a..ku sa..kith..." air mata Ivanka berderai, Ivanka mencoba mendorong tubuh Raul, namun tidak bisa. Raul terlalu besar bagi tubuhnya yang kecil
" Sakit, hmm. aku akan melenyapkan sakit itu." Raul memasukan tiga pil perangsang sekaligus ke dalam mulut Ivanka yang kepalanya menggeleng merontak menolak pil tersebut, namun gagal. Raul, tanpa belas kasih mendorongnya lalu membekap mulut tersebut.
" Aaaa....MENJAUHKAN DARI PUTRIKU." Valentino dengan urat wajah menonjol.
" Tidak akan, apa kau lupa teriakan memohon Dolores ku saat kau mengg4gahinya, persisi seperti ini."
" Ukh...ukhmm..." Raul menghentak semakin dalam memasukan seluruh vitalnya yang panjang dan besar ke dalam tubuh Ivanka
" Aaaarrkkkhh...please... slowly..."
" Never ..." Sekian Ivanka memohon perlahan, semakin cepat gerakan maju-mundur pinggulnya.
" Ya Tuhanku, hukum saja aku..jauhi putriku."
" No, gue gak peduli sama Lo, Lo harus menderita seperti gue..khemm..aaahhh..khem.." Raul mengigit bibir bawahnya saat ia mempercepat laju pinggulnya.
" No,..please...hiks..hiks ..."
Alfred menitikan air matanya, matanya menajam menghunus Raul, ia melihat segalanya. dengan sabar Mateo memegang tabs tersbut.
Dalam diamnya dia menikmati mimik tersiksa badan juga marah Alfred saat adegan panas itu ia perlihatkan.
" Mateo, bawa aku keluar dari sini malam ini juga. saya tidak bisa menunggu lagi, semuanya semakin kacau."
*****
Saat jam makan siang, ruang tahanan dijaga oleh satu orang, di sel tahanannya Andre mengumpat diiringi derai tawa puas, dia tidak sabar berkumpul kembali dengan mantan rekan in crime-nya.
Namun kemarahan kaburnya Mulyadi masih membekas, dia tidak rela. dia tahu dirinya tidak bisa dimaafkan lagi, tapi dia tak sudi melepas bajingan itu."
" shuutt..hei, sini..." panggilnya pada petugas bertubuh gempal.
" Siap, ada apa?"
" Buka pintu tahanan ini."
" Tapi...maaf. saya tidak bisa."
" Ah elah, sini." petugas mendekat karena suruhan Andre.
Setelah mendekat, pas dengan jangkauan Andre, dia segera menarik lalu membenturkan petugas itu ke jeruji tahanan, kemudian memukul tengkuknya.
Setelah petugas itu jatuh ke lantai, segera dia mengambil kunci dan pistol petugas.
Setelah membuka pintu, ia menarik petugas itu, lalu membuka pakaiannya, bergegas ia mengenakan seragam petugas itu. kemudian dia keluar dari ruangan tersebu. Membiarkan petugas yang pingsan itu dengan pakaian dalamnya.
Seluruh kejadian itu mendapat gelak tawa penuh merendahkan dari Mumtaz, dan petinggi RaHasiYa lainnya yang melihat itu di layar lebar ruang kerja Ergi.
Wajah Ergi merah padam, peristiwa memalukan itu terjadi di siang bolong di markas besar mereka.
Saat Ergi hendak mengangkat telpon, ia dicegah oleh Mumtaz.
" Biarkan dia pergi, saya akan melindungi anda."
" Ini akan lebih mencoreng citra kami."
" Memang untuk saat ini apa yang bisa dibanggakan dari instansi ini?" sarkasnya tajam.
"Apa kalian yang meretas kami?"
" Jangan menuduh tanpa bukti, kami semua berkumpul di sini." ucap Alfaska mengirim ultimatum padanya.
Kepalan tangan Ergi mengerat, ia bisa melihat raut santai mereka.
" Baiklah, pastikan namaku bersih."
" Kau yang harus memastikan itu, kami hanya mengamankan apa yang ada." imbuh Daniel.
Selama mereka berbincang, jari Ibnu tanpa kentara sibuk memberi instruksi pada temannya yang diluar sana melalui ponsel jam tangannya.
Andre, berupaya senatural mungkin selam melangkah menjauhi bangunan itu, dia menumpang motor secara asal saat ada orang yang hendak keluar.
senyumnya merekah saat dia turun dari motor 50 km dari markas, membuka masker kemudian dengan santainya hendka menyebrang yang lalu digagalkan oleh seseorang dari belakang yang memukul tengkuknya hingga dia pingsan.
Sebuah mobil Van langsung berhenti di depan mereka, tubuhnya ditarik masuk ke dalam Van sebelum banyak orang yang melihat mereka.
" *Mission completed*! " sahut sang teman melalui earpieces seiring melajunya Van tersebut meninggalkan lokasi.
\*\*\*\*
Yuda dan para teman BEM se-jabodetabek berkumpul di tempat Mumtaz.
" Jadi untuk pematangan rencana, kita berkumpul di sini malam nanti."
" Kalian akan menjadi suguhan teri konyol bagi para polisi, mereka tidak Akane menggubris kalian, cara kalian terlalu sederhana." Zahra berdiri diambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dadanya.
" Kak..." Yuda hendak memprotes.
" Kalau kau ingin berhasil, bagi konsentrasi mereka..."...
__ADS_1