Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 127, Malam Menegangkan!!


__ADS_3

" Eunghh." Lenguhan kesadaran dari Zahra memalingkan pandangan kosong Sri dari menatap kegelapan di depannya..


" Zahra, kamu sudah sadar?"


" Hmm." Tenaganya masih lemas.


Sesaat tidak ada yang bicara, Sri terlalu lega, sehingga tidak tahu harus merespon bagaimana.


" Gimana keadaan nenek?" Suara lemahnya menggugah perasaan Sri.


" Ck, kamu ini. Yang harus dikhawatirkan itu kamu, untuk sementara kamu jangan ngaca dulu."


" Makeover aku cantik banget ya."


Sri menghembuskan nafas lelahnya," kebangetan."


Zahra mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya, tapi memang matanya hanya terbuka beberapa centi saja.


" Ini dimana?" 


" Mobil truk, kita dibawah kayu-kayu gitu."


" Masih untung disisain lobang buat pencahayaan meski sebesar kelereng." liriknya pada lobang kecil disamping kirinya.


" Hmm."


" Kamu ngantuk lagi?"


Zahra dapat merasakan tubuhnya yang terasa remuk, dari rasa sakitnya dapat dia pastikan salah satu tulang rusuknya retak.


" Isshh," ringik Zahra.


" Akhirnya." Setelah sekuat tenaga memutar tas Selempangnya, Zahra akhirnya bisa mendapatkan aspirin dari dalam tasnya.


" Kamu makan apa?"


" Aspirin."


Sri terdiam mendengarnya.


" Sepertinya mau malam." Zahra membuka keheningan.


" Cuacanya mendung, tapi siapa peduli. Toh kita tidak akan kemana-mana." Keluh Sri.


" Iya juga ya." Zahra mengangguk-angguk.


" Lebih baik kita beristirahat."


" Saya udah istirahat lama, Nek."


" Itu pingsan, bukan istirahat."


****


" Terus harus WOW gitu." Dengkus Daniel yang menilai Alfaska berlebihan.


Pletak!!


Alfaska tidak mau kalah sewot dari Daniel, hanya beda implementasinya saja.


" Aws, gue gak jitak elu ya." 


" Salah sendiri. Awas sih, jangan ganggu konsentrasi gue." Alfaska mendorong tubuh Daniel menjauh dari Ibnu.


Semuanya mendekati Alfaska dan Ibnu.


Alfaska memperlihatkan tas yang ditandai olehnya," ini tas muahal sebagai hadiah pelangkah dari gue, didalamnya  gue taruh alat pelacak yang Lo nonaktifkan." Sengit Alfaska.


Mumtaz dan yang lain menatap bertanya Ibnu.


" Gak usah ngegas, itu permintaan kak Ala. kalian tahu kan betapa bucinnya gue sama dia." Mendengar perkataan Ibnu Hito memicing serius padanya, Ibnu menghela nafasnya lemah sambil Ibnu membuka kembali laptopnya.


" Sebagai adik, Om. Adik, bukan cowok." terang Ibnu lelah menghadapi kebucinan Hito.


Selepas 10 menit Ibnu membuka pelacak dan mencari akhirnya dia menemukan posisi Zahra," Kak Ala sudah di daerah Semarang, Jateng. Tapi sinyalnya berhenti disitu, sekarang tidak ada lagi."


Rasa lega yang dirasa hanya sejenak, kini kembali rasa cemas yang menyelimuti para pria itu.


" Ck, Nu, suruh Bara balik. Dia yang paling tahu anak buahnya." Mumtaz sangat geregetan dengan situasi yang tidak efisien ini.


" Jarud, dan yang lain gabung dengan Jeno di Semarang."


" Muy, Atma Madina meski konglomerat, mereka cuma punya satu pesawat pribadi." Sindir Ibnu.


" Helikopter bisa kali, ini tuh dekat." Timpal Daniel.


" Gue anak becak, mana gue tahu mana yang pake heli mana yang pake pesawat." Sewot Ibnu.


" Ck, mesti adu nasib saat genting gini?" Alfaska jengkel.


" Pake anak buah saya saja, saya punya perkumpulan besar di Jateng." Seru Damian."


" Papah ngapaian di Jateng, jadi preman?" Adgar terheran.


Pletak!


 Adgar meringis akan jitakan keras dari Damian di kepalanya.


" Jangan remehin, gini-gini alumni UGM ini. Anak mapala."


" Bukannya om alumni Yale?" Imbuh Akbar.


" Itu S2."


" Papah kamu sebenarnya diterima di Oxford, cuma gak jadi pergi. Mama kamu belum bisa LDR-an jadi masuknya UGM." Terang Aznan pada Adgar.


" Mama kamu labil, dirinya gak mau LDR-an, tetapi begitu dia lulus mama kamu malah ninggalin papa ke Princeton." ungkap Damian.


" Definisi sesungguhnya ketua Genk bucin." Ledek Adgar.


" Seenggaknya ketua genk ini bucinnya normal, lah ini ketua Genk bucin sama balita." Celetuk Alfaska yang dipelototi Adgar.


" Ke siapa?" Sambar Akbar curiga, Adgar gelagapan.


" Jangan didengar, bang Inu gimana kak Ala-nya?" Adgar mengalihkan pembicaraan.


" Pengecut." Damian balik meledek.


" Dih, mana ada. Cuma cari aman." bisik Adgar.


" Ya udah om, pake punya Om sambil nunggu anak RaHasiYa bentukannya mau gimana." Alfaska kasihan juga pada Adgar.


Damian menghubungi wakilnya yang di Jogja.


" Sekarang bawa Bara dulu ke sini." Seru Alfaska.


" Kita kumpul di RaHasiYa atau di rumah?." Tanya Alfaska.


" Rumah." Jawab Daniel.


" Gue ke RaHasiYa. Pelacak Kak Ala terputus-putus. Gak suka gue kayak gini."


" Fa, makan dululah, kita di cafe' ini."


" Bisa Om?" Erwin mengangguk.


" Dari tadi pegawai saya nunggu orderan."


" Ya udah keluarin yang terbaik, Hito yang bayar " ujar Aznan.


*****


Suasana hati Raul sangat gembira, dia memasuki rumahnya dengan senyum sambil bersiul.


Dia menuju ruang keluarga yang dimana cahaya televisi menarik perhatiannya televisi ditengah kegelapan ruangan. ternyata Eric sedang menonton berita.


" TNI dan polisi menemukan jutaan proyektil peluru dan ribuan senjata berlaras panjang dan pendek buatan luar negeri ditempat ledakan dari sebuah gedung ditengah hutan...."


Eric melirik  sinis Raul yang berdiri bersandar ke dinding sambil bersedekap dada" Sepertinya harimu menyenangkan."


Raul mengedikan  bahu acuh." Dapat jala.ng yang masih sempit Lo.bangnya, jadi euforianya masih nempel gitu." Alibinya.


BUGH!!!


Tahu-tahu Eric menyerang Raul dengan me.non.jok kuat wajah Raul dari samping, Raul yang tidak siap terjatuh, lalu sambil tertawa garing Raul menyeka darah dari bibirnya yang robek.


Raul tidak memperdulikan itu, baginya apa yang dia lihat saat ini dari Eric sangat menggembirakan baginya.


Raul memerhatikan penampilan Eric dari atas sampai bawah. Rambut semrawut, kemeja kusut sebagian lepas dari selipannya  dengan tiga kancing terlepas, lengan baju tidak terkancing. Sungguh penampilan yang memalukan bagi seorang Casanova sekelas Eric.


" Kembalikan Belinda-ku, dia milikku." Amuknya menen.dang-nen.dang perut Raul serampangan.


Kedua tangan Raul menghalangi perutnya berupaya menangkisnya, meski beberapa tenda.ngan mengenainya  

__ADS_1


" Pecu.ndang, sam.pah. Ma.ti kau!! caci Eric penuh amarah. Membabi-buta Eric terus menyerang Raul, Raul yang sudah lelah melemahkan serangannya.


.


 Yang dimanfaatkan Raul untuk membalasnya, Raul menangkap kaki kiri Eric lalu memutarnya,  sementara kedua kakinya menjepit kaki kanannya yang membuat Eric tumbang seketika.


Eric syok tidak menyangka balasan dari Raul, Raul menduduki punggungnya, memiting lehernya, mematikan gerakan Eric.


" Whatever, gue gak peduli Lo ngomong apa.tapi lihat keadaan Lo, menurut lo siapa sekarang yang terlihat seperti pecundang!" Desisnya ditelinga Eric.


Raul melepas pitingannya kemudian beranjak menjulang dihadapan Eric, ia membalikan tubuh Eric dengan kakinya hingga terlentang.


" Belinda-ku bukan Belinda-mu. Tidak pernah menjadi Brlinda-mu, dan tidak akan pernah. Jangan pernah bermimpi memilikinya atau aku bunuh kau." Ancaman yang ditertawai oleh Eric.


" Hahahaha.. kau, kau yang hanya seorang pemabuk, dan pecundang bahkan tidak pantas bermimpi menyentuhku, cuih!" Eric meludah mengenai sepatu Raul.


Raul menggosok-gosok sepatu pada kemeja Eric guna menghilangkan ludah.


Mata Eric terbelalak akan ketidaksopanan Raul.


" Aku tidak peduli apa penilaian mu tentangku, karena kau bukan ayahku."


Raul mulai beranjak meninggalkan Eric, namun dibawah tangga dia berhenti.


" Besok, Kakek ada di Indonesia. Nikmati amarahnya seorang Alejandro Gurman yang kau khianati."


Eric tersentak kaget, ia memanggil-manggil Raul yang yang abai atas panggilannya, seiring Raul melangkah ia tersenyum smirk.


******


Tamara tercengang dengan tubuh kaku gemetar melihat isi kamar kost-annya yang berantakan, ia sangat ketakutan. Bergegas ia memasukan semua pakaiannya ke dalam koper.


" Gak bisa, gue harus segera kabur. Sial, kenapa cepat banget diketahuinya sih." Gerutunya sembari memasukan semua barangnya dalam satu koper besar.


Ia selipkan kunci kostnya dimeja teras sang pemilik, dia harus mencari tempat. yang aman.


 


Prang!!!


Eric melempar gelas untuk menyambut kedatangan Tamara, dia tidak menyangka pe.la.cur itu masih punya muka mendatangi rumahnya.


Tamara menutupi kepalnya dengan kedua tangan sambil terlonjak menyamping menghindari pecahan kaca.


Mendengar gelas dilempar, Raul dan Sivia keluar dari kamar.


" Masih berani kamu ke rumah saya setelah membawa petaka bagi ibu saya." Geram Eric.


Wajah Tamara Pisa, dia berharap mendapat perlindungan di sini, nyatanya di sadar di pergi ke sangkar harimau.


" Om, dengarkan dulu. Saya memang membantu Nyonya, tetapi bukan saya yang memiliki ide tersebut. Nyonya sendiri yang berinisiatif."


" Kenapa tidak kau cegah?"


" Aku sudah berusaha, tetapi Nyonya memaksa." Tamara berusaha membujuk Eric mempercayainya.


" PERGI."


" Apa?" Tamara terkaget


" Pergi, saya sudah tidak butuh kamu."


" Om, maafkan saya, tetapi saya tidak punya tempat tinggal lagi. Saya bisa memuaskan om sebagi imbalannya."


" Hahahhahaha." Eric menertawainya penuh cemoohan," kenapa saya harus tidur dengan tubuh bu.sukmu, sementara saya bisa mendapatkan tubuh mulus, halus diluaran sana."


Tamara memejamkan matanya atas hinaan Eric. tangannya mengepal," om, saya begini karena om."


" Terus saya peduli? Tidak! Saya memberi kamu imbalan atas service kamu. Kamu pikir saya tidak tahu kalau kamu sudah berkali-kali mencuri sabu-sabu dari saya? Hitung itu sebagai kompensasi atas luka yang kau miliki. Sekarang pergi, pergi dari sini."


Tamara melirik ke lantai dua, dimana Raul dan Sivia menyaksikan drama mereka sambil tersenyum menghinakan.


Tamara dibuat geram oleh Sivia  yang melambai satu tangan padanya, dari  gerak bibirnya ia mengucap " bye-bye."


****


" Mumtaz, boleh saya menginap di kamar kak Zahra?" Pinta Hito


Telah disepakati oleh keluarga Hartadraja, Gaunzaga dan RaHasiYa. Sampai kondisi stabil seluruh keluarga Hartadraja menginap di rumah Eidelweis agar memudahkan dalam perlindungannya.


" Mau ngapain?" Curiga Daniel.


" Hanya tidur, saya kangen dia." 


Semua yang mendengar ucapan Hito bergidik, yang tidak dipedulikan oleh Hito, toh itu yang sebenarnya.


Tak!


Dengan entengnya Alfaska menjitak kepala Mumtaz.


" Jangan gampang ngasih izin, ini kamar kak Ala. kalau kak Ala diguna-guna sama om Hito gimana?"


" Fa, om calon suaminya Kak Ala, mau guna-guna gimana? Iya, kan om?"


" Pasti, kalian pasti tahu seberapa bucinnya saya sama kakak kalian." Hito mengangguk cepat.


" Enggak tahu " serempak mereka menjawab dengan sinis.


" Tapi..."


" Fa, kita banyak kerjaan. Lo mau ngeributin hal sepele ini? Gue sih ogah. Sudah om naik aja, kamar Kak ala yang pintunya warna coklat." Mumtaz berlalu ke kamarnya.


Dibawah tatapan tajam Daniel dan Alfaska, Hito menuju kamar Zahra.


Ada rasa kehangatan yang asing yang menghinggapi hati Hito begitu memasuki kamar Zahra, ia berjalan pelan sambil mengamati apa yang ia sentuh.


Meski baru sehari, tapi rasa rindu memenuhi hatinya.


 Hito mengusap bingkai foto saat Zahra wisuda dari S3-nya, saat itu ia dan keluarga Zahra menghadiri wisudanya.


" Ra, kangen. Selalu kangen kamu kalau kamu gak ada disamping aku. Kamu pasti udah guna-gunain aku sampe aku alay begini, hehe." Hiti terkekeh.


" Kalau kamu dengar itu udah dihajar aku ini sama kamu. Kangen sparring tinju bareng kamu."


Usapannya pada bingkai diakhiri ciuman lembut dikenangnya." Pengennya cium bibir, tapi takut. Aku sabar kok nunggu halalin kamu."


" Ya Allah, damage kamu emang kebangetan, cium bibir walau sekedar difoto aja aku gak berani, sumpah sih kalau kamu sudah kembali kita harus nikah secepatnya."


Tak ingin kehilangan kewarasannya Hito mengembalikan bingkai itu pada tempatnya, lalu membaringkan dirinya diranjang.


Tok!! Tok!!!


" Masuk." Eidelweis masuk kamar dengan membawa pakaian salin, Hito beranjak duduk.


" Tumben ada yang bisa lolos dari para adik itu?"


Hito mendecak kesal," untung fokus mereka terbagi pada kasus ini, ditambah Ibnu enggak ada."


" Oooh, pantes lolos, minus Ibnu sih."


" Keposesifan mereka pada Zahra diluar batas kewajaran, sungguh itu menjengkelkan."


Eidelweis terkekeh," Ganti baju dulu, mandi dulu sebelum tidur." Eidelweis duduk disamping Hito.


" Kamu, gimana kabarnya?"


" Dipaksa baik,  setiap aku nangis Adel terus nakut-nakutin aku pake nama Zayin, nyebelin banget itu anak."


" Hahahaha, Mama gimana?"


"  Baik. Kak, maaf ya. Kalau saja aku menjerit minta pertolongan mungkin..."


 Hito memeluknya" Shutt, itulah mengapa aku tergila-gila kepadanya. Dibalik wajah galaknya ada hati lembut didalamnya."


" Jangan bertingkah bodoh layak kemarin, sakit mendengar ucapan Tia yang kemarin."


Hito mengurai pelukannya, " Enggak akan. Sekarang kamu istirahat."


Hito mengecup kening Eidelweis," jangan merasa bersalah terus-menerus, sudah begini jalannya." Eidelweis mengangguk sebelum meninggalkan kamar Zahra.


****


Lima belas menit sudah Tamara duduk di cafe sambil memutar otak tempat tinggal siapa yang dia datangi.


Dirinya menjadi perhatian pengunjung karena koper besar yang dibawanya.


Estelle Veronika,  sudah lama mereka tidak bertemu, dia tahu Estelle akan marah padanya karena dia mengingkari kesepakatan mereka, untung dia masih memiliki sedikit sabu.


Tamara menelpon Estelle, Namun tidak diangkat. Lalu dia mengirim pesan pada Estelle kalau dia ingin memenuhi janjinya untuk memberinya sabu.


20 menit sejak pesan itu dibaca oleh Estelle, namun tidak kunjung ada balasan. Tamara menggeram kesal.


Dari ujung penglihatan matanya tanpa sengaja dia Melihat sahabat lamanya, senyum sumringah terpatri dibibir sensualnya semakin membuat wajah cantiknya semakin cantik.

__ADS_1


Dia mendatangi meja yang diisi para sahabatnya itu.


" Hallo, girls." Sapanya akrab.


Bella, Indah, dan Merry menatap bingung pada wanita asing yang menyapa mereka.


" Maaf, siapa ya?" tanya Bella.


Tamara tersenyum maklum mereka tidak mengenalinya.


" Ini Gue Tanura." tunjuknya pada dirinya sendiri, sementara para sahabatnya bergeming.


" Hahaha, gue gak tahu siapa lo, tapi jangan halu, Tanura itu sudah lama meninggal." tutur Indah.


" Gue belum meninggal, gue operasi plastik wajah gue keseluruhan. Makanya berubah total."


" Apa buktinya Lo Tanura?" Merry masih tidak mempercayainya.


Tamara mengibaskan rambutnya secara elegan dengan jari lentiknya, khas Tanura.


Mantan tiga sahabatnya itu, tertegun. Namun itu untuk sesaat saja. selanjutnya raut tidak senang menyelimuti mereka.


" Mau ngapain Lo?"


Tamara duduk di kursi kosong, " gue mau minta tolong kalian nampung gue untuk sementara."


" Gue gak mau." jawab cepat Bella.


" Gue ogah." susul Indah.


" Gue gak Sudi." Merry Menimbrung.


" Kok kalian tega sih." Tamara berharap mereka terenyuh dengan sikap sedihnya.


" Gak perlu drama, gue gak mau berurusan dengan RaHasiYa." terang indah yang diangguki Bella dan Merry.


" Gue gak ada urusan sama mereka."


" Dulu Lo ada, DNA kelakuan Lo jahat banget sama Mumtaz dan adiknya. Gue gak mau hanya karena nampung Lo nasib keluarga gue sama dengan nasib Husain."


Wajah Tamara memerah marah, ia berdiri menghardik mantan sahabatnya," Lo bakal nyesel nolak gue, lihat saja."


" Terserah sih, siapa Lo? kalau lihat penampilan Lo, sepertinya Lo masih jadi lo.nte kayak nyokap Lo."


Tamara terkejut mereka tahu fakta keluarganya.


" Jangan sok kaget gitu, selepas Lo mencoba menculik para bocil itu, identitas Lo tersebar di website sekolah. dan kita nyesel pernah berteman sama Lo, memalukan."


" Kalian sendiri Lon.te."


" Kita bukan lon.te, tapi sugar baby, bedakan itu." kekeuh Indah akan kerja sampingannya Selain sebagai mahasiswi.


" Sama aja, oon."


" Terserah, sekarang Lo pergi, kita gak mau disangka sekongkol sama Lo." Merry mengusir Tamara yang malu diperhatikan oleh pengunjung lain.


Sambil menggeret kopernya dia meninggalkan cafe' dibawah tatapan mencemooh dari pengunjung lainnya.


*****


Hito menatap wajah tertawa Zahra yang menertawai Zivara yang memarahinya kerena tidak mengikutsertakan Farhan, yang menjadi wallpaper ponselnya yang diambil secara candid saat mereka makan malam bersama Zivara, Zahira, dan Samudera.


" Ra, jangan berubah pikiran untuk nikahin aku. awas aja kalau iya, aku culik kamu ke KUA." ujarnya ke layar ponselnya.


Perhatiannya teralihkan pada suara-suara di depan pintu kamar.


" Kalian mau kemana?" Hito berdiri di depan pintu kamar yang masih terbuka.


Memperhatikan penampilan para adik yang sudah rapih seperti hendak keluar.


" Ke RaHasiYa, Ibnu nyuruh kita kumpul di sana." seru Daniel yang bersiap dengan jaket kulitnya, begitupun dengan yang lain.


" Saya join."


Para adik itu saling pandang, " baiklah, ikut." ujar Mumtaz setengah hati.


" Saya janji, tidak akan mengganggu kalian. Saya hanya ingin Gaunzaga paham akan situasi sesungguhnya."


Mereka mengangguk, Hito mengikuti mereka menuju garasi untuk mengeluarkan motor masing-masing.


" Bang Domin gak ikut?" tanya Mumtaz


" Dia ada urusan."


" Kita duluan ya, om." Hito mengangguk, selepas mereka pergi ia ke rumah Eidelweis mengambil jaket dan mengeluarkan motor Adgar.


****


Suasana malam hening tenang, terlalu tenang untuk pelabuhan besar sekelas Harbou Bay, Dominiaz dan tim mengintai pelabuhan itu dibalik salah satu kapal yang terparkir di pelabuhan, disisi lain Rodrigo dan tim mengamati pelabuhan disisi lain.


Mereka berada di pelabuhan dengan satu tujuan menanti dua kapal angkut berbendera Italia.


Eric yang mengawasi pelabuhan dari jarak jauh, senyumnya puas terukir saat dua kapal mulai memasuki perairan Indonesia dan semakin mendekati pelabuhan tanpa halangan.


Senyum itu menghilang kemudian ia mencerca saat menyadari keteledoran awak kapal yang tidak mengganti bendera dari bendera Italia menjadi bendera Meksiko.


Dia menelpon asistennya, Mateo yang berada di lapangan." kenapa mereka tidak mengganti benderanya?" bentak Eric.


" Suruh mereka mengganti benderanya segera."


" Maaf ,tuan saya kurang memahami apa yang terjadi, selama ini komunikasi langsung pada tuan." tolak Mateo.


BRAK!! Eric membanting telpon ruang kerjanya.


Segera ia menelpon kapten kapal untuk memperbaiki kelalaian mereka, namun semuanya sudah terlambat.


Tim gabungan YonTaifib dan Kopaska tengah berenang di dalam laut mendekati kapal yang mulai mendekati pelabuhan.


Laporan kedatangan kapal ini sudah mereka ketahui dari staf pelabuhan yang melihat beberapa kejanggalan akan izin masuknya kapal ini.


Melihat rekam jejak perjalanan kapal yang berbendera Italia yang membawa komoditi import Indonesia mampir terlebih dahulu ke Meksiko, padahal mereka tiada kepentingan komersil di sana.


Surat izin pun dikeluarkan saat hari libur, sedangkan kapal itu tidak memuat hal yang mendesak.


Mereka menyusup ke dalam kapal dalam sunyi melalui tali jangkar.


Tiba-tiba pergerakan mereka terhenti saat satu awak kapal memergoki mereka.


" Hallo." sapa prajurit yang bergelantung paling atas sambil melambaikan tangan.


Orang tersebut terkejut, sontak dia berteriak, namun tak jadi, karena begitu ia membuka mulutnya.


jleb!!!


" Aak..h" lirihnya pelan, sebelum orang itu tercebur ke laut, orang itu tertembak tepat di tengkoraknya.


" Nice shot." seru atasannya.


" B aja." jawab songong Zayin yang langsung fokus mengamati keadaan setelah berhasil melumpuhkan satu lawannya.


Sang atasan hanya memutar bola matanya malas. anak buahnya yang satu ini emang tidak akan berubah sifat sombongnya alami.


Byurr!!!!


Para prajurit hanya menatap santai saja saat tubuh itu tertelan air laut.


" Seenggaknya penghuni laut dapat makanan enak." celetuk salah satu prajurit.


Mereka meneruskan aksinya, mereka bergantungan di tali sambil menunggu kode.


Satu orang yang diberi tugas mengkode jika kapal telah memasuki perairan Indonesia secara keseluruha menyembulkan kepalanya dari dalam air, lalu mengangkat jempolnya.


Mendapat tanda itu, sontak serempak semua prajurit memasuki kapal. Dengan luwes mereka melompati pagar kapal, menyisir kapal berdasarkan peta hasil intelijen sebelumnya, lalu mengambil alih ruang nahkoda.


Begitu kapten kapal tertangkap tanpa perlawanan, mereka menyuruh kapten kapal agar anak buah kapal berkumpul di aula.


Sementara anggota lain menyusuri setiap sudut kapal sampai akhirnya di bagasi bawah mereka melihat banyak kotak besar kayu.


satu orang maju untuk mencongkel kotak dan melihat isinya.


Melihat bola mata yang membesar sumringah dari rekannya, para prajurit lain mendekati kotak tersebut dan yeah semuanya terkejut senang.


" Wow, jackpot." isinya ternyata senjata api serta pelurunya, serta bom siap digunakan.


Sang ketua pasukan menggunakan earphone menghubungi atasan mereka.


" Clear." sang ketua memberi informasi pada orang yang mengamati aksi mereka lewat teropongnya.


Para rekan kembali ke posisi siaga di luar ruangan menjaga situasi, sementara ketua menutup kembali peti tersebut.


Saat hendak bergabung dengan para rekannya langkahnya terhenti, karena ada senjata yang ditodongkan di pelipisnya.


." Angkat tanganmu, suruh anak buahmu turun dari kapal." ucap seseorang dibelakangnya yang sudah memiting lehernya.

__ADS_1


Sang ketua mengangkat tangannya sambil mengikuti langkah dari sang penyanderanya...


.


__ADS_2