Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
155. Menyingkap Masa Lalu Ibnu.


__ADS_3

Rasa marah sekaligus takut kini menghinggapi hati Mumtaz, dampaknya ia menghentak keras saat menutup pintu hingga tidak tertutup sempurna, ada sedikit rongga yang membuat orang-orang di ruang tamu masih bisa mendengar perbincangan mereka.


Ibnu melihat aura tidak mengenakan yang melingkupi sahabatnya hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah, belum apa-apa dia sudah merasa letih.


Air muka itu pernah Ibnu terima sepuluh atau sebelas tahun lalu kala dirinya bertindak t0l0l, mencoba menghabisi nyawanya dengan meminum pembasmi serangga akibat depresi yang ia alami.


Ia memang selamat dari tragedi tersebut, namun saat dirinya dinyatakan sehat Mumtaz menghajarnya habis-habisan hingga ia tidak sadarkan diri.


Ibnu menunduk dibawah tatapan datar Mumtaz." Sorry, gue menyusahkan kalian, lagi." Aura tenang Mumtaz justru membuat Ibnu tidak tenang.


Mumtaz mematikan AC dengan remote yang dia ambil di atas nakas, berjalan ke arah jendela, membuka jendela lebar-lebar membiarkan hawa dingin fajar menyerbu ruangan," Bagaimana keadaan Lo sekarang?"


" Baik, gue gak bermaksud pingsan dan bikin kalian panik."


Tanpa aba-aba, Mumtaz melempar bolpoin yang tergeletak diatas meja belajar Ibnu yang mengenai keningnya." Bukan Masalah Lo pingsan, Lo mau pingsan ribuan kali dalam sehari kita gak jadi masalah, tapi riwayat lo yang pernah ingin bunuh diri yang bikin kita takut." bentak Mumtaz tajam.


Terdengar tarikan nafas dari arah ruang tamu, Birawa, Aryan, Pradapta, dan para sahabat menatap Zayin dan Zahra yang duduk bersampingan di sofa panjang.


Mereka berdua mengangguk lemah.


" Kapan?" tanya Daniel pelan karena kaget.


" Sudah lama, mereka baru pulang dari pensi sekolah kalian kalau gak salah,.." Zayin menatap Daniel, Alfaska dan Bara." waktu itu bang Inu maksa pengen pulang ke rumahnya walau sudah dilarang Aa, satu jam kemudian gue nganter balik Dafi dari bermain, dan kita lihat bang Inu... kejang-kejang dari mulutnya keluar busa, di ruang tamu...ini..." suara Zayin bergetar.


Zahra meremas tangan Zayin yang dingin, sedangkan Khadafi menunduk dengan tubuh gemetar dalam rangkulan Yuda.


Sontak Alfaska, Daniel dan Bara tersentak, " Apa itu saat mama Aida sibuk dengan Afa yang meraung histeris karena ulah cabul tetangga bocah cilik?" tanya Daniel memastikan.


Dia ingat saat itu Mumtaz mendapat telpon dari seseorang dan langsung berlari meninggalkan mereka ditengah kesibukan menangani trauma Alfaska.


Berat hati Zayin mengangguk," sejak saat itu Aa tidak pernah memperbolehkan bang Inu pulang selepas menghadiri acara, dan malam ini kami lalai." Zayin kesal terhadap dirinya sendiri yang sibuk mengawasi Adelia di pesta tadi.


" Kalian tahu apa yang terjadi dengan Ibnu?" tanya Teddy hati-hati.


Zayin dan Zahra menggeleng," Aa gak mau ngasih tahu." jawab Zayin.


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing atas informasi yang baru ini.


" Lo gak tahu gimana wajah Ayin saat mendengar Lo balik ke rumah? dan dia langsung pias ketika mendengar Lo pingsan, bisa Lo bayangin gimana dia mendengar orang yang dia pedulikan tidak sadarkan diri? Kalau terjadi apa-apa dengan mereka mampus Lo ditangan gue." Marah Mumtaz.


" Belum cukup Lo bikin gue menyesal karena rasa bersalah? belum cukup Lo bikin Ayin dan Dafi trauma, HAH?" hardik Mumtaz.


Ibnu terdiam, kepalanya menunduk dalam-dalam, matanya mulai berair." Maaf, maaf!"


Mumtaz mengepalkan kedua tangannya menahan emosi, ia berbalik membalikan kursi hingga ia duduk menghadap sandaran kursi dengan kedua tangan bertopang pada kepala kursi.


Mumtaz menarik nafas, lalu menghembuskanya perlahan. " Hentikan perkataan maaf Lo, itu berasa kita jadi orang asing, apa sekarang kita orang asing?"


Ibnu mengangkat kepalanya menggeleng cepat, entah mengapa kata-kata itu mengusiknya." bukan begitu, gue beneran menyesal, gue dan Dafi gak punya siapa-siapa lagi kalau bukan Kalian." rengek Ibnu memelas.


" Kalau Lo punya orang lain, Lo jadikan kita orang asing?"


" Bukan itu intinya, oke lupakan gue minta maaf." Kesal Ibnu seketika kalau Mumtaz menjadikan dirinya bodoh, sungguh menguji kesabaran.


" Ini juga karena lo." tutur Ibnu.


" Gue?" Mumtaz menunjuk dirinya sendiri.


" Malam tadi Lo aneh."


Mumtaz mengangguk paham, " Daniel udah cerita tentang kegelisahan Lo tentang gue, kenap gak Lo tanya langsung ke gue?"


" Lo bakal jawab?"


" Kenapa enggak?"


" Jadi apa yang bikin malam ini Lo beda?"


Andai Ibnu lebih jeli melihat gestur Mumtaz, dia akan melihat kegusaran Mumtaz untuk menjawab pertanyaan ini.


Mumtaz menghela nafas sebelum menjawab.


" Mengalahkan Navarro dan bersatunya kembali keluarga yang tercerai-berai gue pikir pantas buat gue menikmati satu perayaan."


" Gue gak puas jawaban Lo."


" Terserah, tetapi memang itu jawabannya."


" Muy, apa yang Lo sembunyikan dari gue?"


" Enggak ada, suer!"


" Tapi itu bukan Lo."


" Itu gue, memang gue sudah lama tidak merasakan rasa bahagia seperti malam ini, tapi itu gue. Lo mungkin sudah lupa dengan sisi gue yang ini. Lo gak suka gue bahagia?"


Ibnu menggeleng," hanya... Lo yakin tidak sedang mengelabui gue?"


" Apa manfaatnya gue bohongin Lo?"


" Siapa tahu Lo sedang merahasiakan sesuatu?"


" Ck, Lo pikir gue cewek labil yang peristiwa patah hati seperti perkara negara yang harus dirahasiakan sampe tujuh turunan!?"


" Terus kenapa selama ini Lo gak bahagia dari sekian banyak prestasi yang ada?"


" Untuk orang keren kayak gue prestasi yang lalu biasa saja, tapi yang ini luar biasa hanya itu. titik!!"


semuanya yang di ruang tamu berlagak muntah mendengar kesombongan Mumtaz.


" Kenapa Lo suruh gue mengamati si Navarro itu?"


" Apa yang Lo dapati dari itu?" tanya balik Mumtaz.


Ibnu mengedikan bahu." Entahlah, perasaan gue campur aduk. gue merasa pernah lihat orang itu, tapi gak tahu dimana." jawabnya ragu-ragu.


" Jangan memaksakan diri, slow aja mencari tahunya."


" Apa semua jawabannya ada di file yang rumit itu?" Mumtaz mengangguk.


" Apa ini berkaitan dengan gue?"


Mumtaz tidak langsung menjawab," gue akan jawab kalau Lo berhasil buka semau file itu."


" Lo tahu kenapa ibu dan bapak gue udah meninggal?"


Di kursinya Mumtaz duduk dengan gelisah, sebisa mungkin mentralkan mimik wajahnya." itu sudah lama."


Ibnu mengangguk-angguk." gue asumsikan Lo tahu, tapi enggan memberi tahu gue."


Jari Ibnu saling memilin." apa itu ada hubungannya dengan awal persahabatan kita?"


Mumtaz menyembunyikan setengah wajahnya diantara kedua tangan yang dilipat." mungkin, gue gak yakin." suaranya serak sedikit bergetar.


" Lo nangis!?"


" Gue selalu nangis jika menyangkut kalian, hanya malas aja kalau nangis di depan Afa." ngeles Mumtaz.


Daniel, dan Alfaska tertunduk dengan bahu gemetar. mereka seperti sahabat yang gagal, karena tidak tahu kisah diantara mereka.


Mumtaz menyembunyikan wajahnya diantar tangannya.


" Nu..." meski suaranya teredam, namun suaranya yang semakin berat dan serak masih tertangkap.


" Hmm."


" Jangan..mati..." Isak Mumtaz.


Ibnu dan semua orang tertegun akan isakan itu.


" Gue butuh Lo untuk tetap bertahan..." masih ada kelanjutannya, tetapi Mumtaz enggan mengungkapkannya, rasa bersalahnya semakin menggerogotinya.


" kalau Allah menakdirkan mati?"


" Jangan dengan bvnvh diri...please."


" Sesayang itu Lo sama gue?"


" Yang lain juga, tapi Lo... Ibnu." Mumtaz menyeka air matanya, dia berusaha tegar dan menghalau bayangan buruk di masa lalu.


Segera ia merubah ekspresinya." Lo yang paling pantas jadi saudara gue, ketimbang mereka berdua. Daniel dan Alfa terlalu shining dan glowing buat ukuran gue, Lo sama buluknya dengan gue." jawab ngasal Mumtaz.


Alfaska dan Daniel bahkan mereka semua terkekeh diantara air mata mereka.


Ibnu tertawa sumbang, ia tahu Mumtaz menyembunyikan sesuatu, dan dia tidak akan memaksa untuk sahabatnya bercerita jika Mumtaz tidak sanggup.


" Sekarang gue yang nanya, jawab jujur. Kenapa Lo balik ke sini?"


" Balik ke Lo jauh aja sih."


Mumtaz tersenyum sinis, hal yang selalu tidak Ibnu sukai." Jadi Lo mikir itu jauh, setelah Lo nganter mantan gebetan Lo? CLBK Lo sama tu cewek, etelah Lo menerima pengakuan Ayu? Sehingga Lo lebih mentingin dia ketimbang perasaan kita, dan Gak ada cara yang lebih buruk buat menghina Ayu? Seberengsek itu diri Lo."


Ibnu mengerutkan keningnya tidak paham," Kenapa omongan kita melenceng kemana-mana."


" Kenapa Lo bertingkah gegabah hanya karena cewek burik kurus kering begitu? geram Mumtaz membludak seketika karena tidak tahan dengan sikap tidak peka Ibnu.


Di rasa suasana di dalam kamar berangsur santai, Daniel, Alfaska dan Bara memutuskan masuk kamar.


" Apa kalian masih lama? Sampai kapan main rahasiaan?" Tanya Daniel yang Kepalanya dan kepala Alfaska menyambul di balik pintu, keduanya masuk kamar tanpa dipersilakan.

__ADS_1


" Nu, Lo anggap kita apa? Menderita hanya karena mikirin Mumuy doang." Sinis Alfaska.


" Lo, cemburu?" Ledek Mumtaz.


" Dih, cuma kesal aja lihatnya. Apa dia lebih berarti ketimbang kita-kita?"


" Bukan begitu..."


" Kalian sedang memperebutkan gue?" Tanya Mumtaz geli melihat dua sahabatnya sewot.


" Jangan gede kaki."


" Kepala." Introspeksi Daniel.


" Terus kenapa Lo sewot kayak bini kedua dan ketiga?"


" Kita kan disini posisinya sama, kenapa dia cuma mau ngomong sama Lo doang?"


" Kan gue yang minta."


" Kenapa gak Lo ngomong bareng kita?"


" Kenapa Lo gak ngomong pengen nimbrung?"


" Ishh, Lo mah..." greget Alfaska.


" Sabar..." Daniel menepuk bahu Alfaska.


Bara hanya diam mengamati interaksi konyol mereka, namun tertangkap saling menghibur dari luka bathin meski sejenak.


" Gini kali ya punya bini tiga,....gak ada enaknya.  Lagu Ahmad Dhani bohong itu." Cerocos Mumtaz melangkah ke arah pintu.


" Lo mau kemana?" Tanya Daniel.


" Shalat subuh, Lo gak dengar udah adzan?"


Dari kejauhan terdengar sahutan adzan subuh dari mesjid yang berada di jalan masuk rumah Ibnu.


******


Langit masih gelap, namun Sandra sudah duduk manis di ruang tamu mansion Hartadraja. Ia punya misi untuk kehidupan masa depannya.


Sri memasuki ruangan dengan gaya elegan meski masih berpakaian piyama, sengaja dia tidak berganti pakaian agar Sandra paham jam berapa saat ini.


" Apa tidak terlalu siang kamu bertamu ke rumah orang?" Sindir Sri, kalau bukan seorang Atma Madina tentu dia akan menolak kunjungan di pagi buta begini.


" Maaf, mengganggu pagi anda, nyonya, tetapi saya tidak bisa menunda lagi apa yang ingin saya bicarakan dengan anda."


" Hal penting apakah yang ingin kamu sampaikan?"


" Nyonya, apa mereka mengundang anda pada pesta semalam?" Sandra mulai ke titik sensitifnya.


" Iya,kl kami sangat menikmati pestanya." 


Untuk sejenak Sandra tertegun," anda datang ke pesta itu?" tanyanya ragu


" Tentu, pesta itu diadakan untuk kami. Betapa baiknya mereka."


" Tapi nyonya bukankah anda tidak menyukai Mumtaz dan keluarganya?" Heran Sandra melihat raut senang Sri.


Sri mulai merasa tidak suka akan perkataan Sandra," Sandra, apa yang ingin kamu katakan, katakanlah langsung."


Sandra memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak," nyonya, saya ingin mengajak anda bersama-sama menjauhkan Mumtaz dan keluarganya dari keluarga kita, saya tahu Anda tidak menyukai mereka!"


" Kamu sedang mencari yang partner in crime, heh." sinis sri


" Bukan begitu, tetapi keberadaan mereka membuat keluarga kita tidak berhubungan baik."


" Hubungan siapa yang sedang kamu bicarakan, saat ini hubungan antar anggota Hartadraja berjalan harmonis."


" Tapi Zahra membuat Hito, cucu kesayangan anda menanggalkan nama Hartadraja dibelakangnya, apa anda tidak tersinggung?" Sandra masih berusaha membujuk, dia mulai geram.


" Dia memang keras kepala, tapi kami menghormati keputusannya, saat ini saya malah bangga padanya karena menjadi pria yang teguh pendirian."


Sandra sudah kehilangan akal membujuk Sri.


" Bagaimana dengan perusahaan anda? Bukankah dia pernah menggoyahkan perusahaan anda karena Zahra?"


" Itu setimpal dengan perbuatan saya, dan itu tidak seberapa dibanding anda memberi cuma-cuma saham perusahaan anda kepada orang jahat. Btw, bagaimana keadaan perusahaan kamu sekarang? UPS, itu bukan perusahaan Atma Madina lagi!?" Ejek Sri.


" Mengapa anda mengejek saya?" Tanya Sandra tidak terima dirinya dihina.


" Mengapa kamu ingin berbuat jahat kepada orang yang sudah berbuat baik kepada putramu?"


" Sandra, kamu lebih lama mengenal mereka dibanding saya, tapi mengapa kamu tidak melihat ketulusan cinta mereka kepada keluargamu?"


" Sandra apapun yang coba kamu pertahankan, percayalah itu tidak sebanding dengan kehilangan keluargamu. Sekarang pulanglah, instropeksi dirimu."


Sandra langsung beranjak keluar mansion dengan mengangkat kepala angkuh.


Sri hanya mampu menghembuskan nafasnya yang terasa lelah.


Fatio memeluknya dari belakang," aku bangga padamu." Bisiknya, lalu mengecup pipi Sri.


" Apa dulu aku terlihat bodoh seperti itu?"


" Lebih malah." Ungkap Fatio jujur.


"Benarkah?" Mata Sri berubah sendu.


" Hmm, jangan lupakan hinaan kamu tepat di rumah mereka sendiri."


" Mengapa mereka tidak membalasnya? Pasti mereka sakit hati sekali."


" Pasti, tapi mereka orang baik."


Semuanya berkumpul di ruang tamu yang sofanya sudah disingkirkan ke ruang tengah untuk sarapan.


Ibnu terkejut akan banyaknya orang di rumahnya.


Tante, Om." Ibnu menyalami pasangan Pradapta yang duduk disamping Sisilia yang sedang menangis.


" Lia, kenapa om?"


" Dia pikir Mumtaz yang pingsan." jawab Gama.


Mumtaz tersenyum geli pada kekasihnya." mana bisa orang pingsan nelpon kamu, Ya."


" Aku panik." alibinya.


" Ayah, bunda, papi juga kemari sih?"


" Gimana enggak, wong Daniel bangunin kita sambil nangis kejer gitu pas dengar kamu pingsan." ucap Teddy mengusap kepal ibnu.


" Jangan bikin bunda jantungan, ganteng." Hanna mengecup kening Ibnu.


" Maaf."


" Tidak apa-apa, sekali ini aja tapi." seru Aryan, Ibnu mengangguk.


" Ini kita mau makan apa?" tanya Daniel.


" Sudah pesan ke mamanya Rizal." ucap Yuda.


" Btw, Fi. kenapa kamu pulang? tanya Alfaska.


Khadafi mengusap tengkuknya gugup, banyak orang yang tidak dia kenal.


" Dafi pulang mau nganterin rincian biaya UN." Kadafi mengeluarkan kertas dari saku jaketnya yang terlipat disampingnya.


" Sini biar ayah yang bayar." Teddy mengambil kertas tersebut dari tangan Ibnu.


" Kok kamu? Aryan merebut kertas tersebut.


" Kenapa?"


" Akulah yang bayar, dia anak aku."


" Dia anak aku juga." kekeuh Teddy, Teddy menarik paksa kertas itu dari tangan Aryan.


" Pi, Yah. biar Inu yang ba..."


" Apa? kamu pikir ayah gak mampu bayar?" sewot Teddy yang disanggah oleh Ibnu.


" Dafi adik Inu."


" Tahu." jawab enteng Teddy.


" Maksud Inu, Inu masih sanggup..."


" Tahu, tapi uang ayah lebih banyak, jadi bait ayah yang bayar. apa kamu keberatan?" tekan Teddy.


Ibnu menggeleng, dia tidak punya pilihan selain menggeleng.


" Tidak bisa, biar aku yang bayar." Aryan merebut kembali kertas tersebut.


Selagi para orang tua ribut, Zahra membaca email yang masuk lewat ponselnya, ia tertarik pada satu kiriman dari adiknya.


Ia membukanya, matanya menatap lekat setiap huruf yang dia baca, namun hal itu harus ditunda karen interupsi dari Hanna.

__ADS_1


" Ala, Sarpan dulu. baru main hp."


Zahra menyimpan ponselnya di karpet. " Iya Bun."


" Muy, selepas makan siang ke rumah sakit ya, ada yang mau Kakak bicarakan." ucapan Zahra seusai sarapan.


Mumtaz mengangguk sambil mengunyah.


" Kamu sudah aktif kembali?" tanya Elena.


" Belum Tan, cuma mau lapor aktif."


" Yin, Sudah belum makannya, kita pulang yuk."


" Ayok."


Sebelum beranjak Zahra menatap tajam Ibnu." Kamu, ikut pulang. Yuda, pastikan rumah ini kosong sewaktu kalian meninggalkannya."


" Kak, kan sudah ada Dafi." ucap Ibnu takut-takut.


" Yah, Bun, Pi. suruh AFI pulang ke rumah mama." pinta Zahra yang diangguki oleh para orang tua.


" I..iya kak." jawab Khadafi, ia terlalu takut kepada Zahra untuk membantahnya.


******


Para staf terkejut mendapati Zahra yang berjalan tenang memasuki lobby rumah sakit yang dikawal oleh Leo dan Leon.


" Profesor Zahraaa..." pekik Reni menghambur ke pelukan Zahra yang dihadang Leo, ketika Zahra mengangguk Leo menyingkir dari hadapan Zahra.


" Huhuhu...kok gak bilang mau masuk, Syukurlah prof selamat." ucap Reni ditengah tangisnya.


Para staf lainnya turut menghampiri mengucapkan selamat pada Zhar ayang dibalas dengan lembut.


Zahra cukup terharu kedatangannya disambut hangat oleh rekan sesama dokter dan staf lainnya.


" Untuk selamatan, makan siang nanti saya traktir kalian."


"Horee..." sambut staf.


" Saya ke bagian administrasi kepegawaian dulu ya." Zahra berlalu dari kerumunan tersebut.


" Masa Santis Lo sudah habis, kawan." ejek teman sejawat Mutia yang berdiri disamping Mutia yang memperhatikan keramaian itu dari jauh.


Mutia berbalik badan menghentakan kakinya ke ruang HRD.


Saat makan siang, Zahra memberi kartu debitnya pada Reni, ia permisi tidak bisa melanjutkan makan bersama karena ada urusan.


Sepulang dari makan siang, Zahra segera ke ruang kerja Mumtaz. di sana adiknya sudah menungguinya duduk di kursi kerjanya.


Zahra duduk di seberang Mumtaz." Apa yang kamu kirimkan ke email kakak apa adanya?"


" Iya. kakak mendapat tawaran operasi dari rumqh sakit Medika kan?"


Zahra mengangguk," sebagai peneliti ini tantangan besar, rencananya Kakak berniat menerimanya, kakak belum pernah mengoperasi cangkok kulit dikeseluruhan tubuh."


" Kenapa kamu tega melakukan itu? melihat videonya kakak tahu kalau dia sudah terinfeksi, beberapa bakteri sudah menyerang bagian punggung, kaki dan tangan, dan itu cepat menyebarnya."


" Bukan aku, Bara yang melakukannya." banyah Mumtaz.


" Kakak minta penjelasan detilnya, sebab kalau kakak diketahui IDI menolak perawatan pasien padahal mampu beresiko dicabut izin prakteknya."


" Akan aku kirim, tetapi pastikan ini rahasia."




Zahra berdiri santai di dalam lift yang hanya ada dirinya, para pengawalnya dipanggil Mumtaz hingga dia turun seorang diri ke ruang kerjanya, tiba-tiba tangannya ada yang menarik.



Saat hendak berteriak, ia urungkan ketika melihat siapa yang menarik tangannya.



" Tante,..." kejut Zahra kepada Sandra yang menatapnya garang.



" Kau, aku tidak pernah melihat wanita sepintar kamu begitu memiliki hati yang kotor. Kau hasut Afa dan Tia untuk membenciku."



Cekalan tangannya ditangan Zahra semakin mengerat, Zahra sedikit meringis.



" Pantas saja Hito tidka mau menikahimu, dan pasti tidak ada yang mau menikahimu karena kau begitu busuk. Aku pastikan namamu akan hancur, dan Hito akan membencimu."



" Aku menyumpahimu tidak ada lelaki yang mau menikahimu, kau akan berakhir sebagai perawan tua."



Zahra tersentak akan kebencian Sandra padanya, meski ia tidka tahu apa yang membuat Sandra membencinya.



Air mata Zahra meluruh karena pedih akan ucapanan Sandra." Nyonya, aku sungguh tidak tahu mengapa kau membenciku."



" Kau sumber dari penderitaan ku." jawab Sandra lantang.



" Ku pikir kita tidak cukup dekat untuk saling melukai."



" Tapi semua orang yang ku sayang menjauhiku karena mu."



" Nyonya, itu tidka benar, semuanya karena keegoisan anda. Awsss." rintihnya, lengannya yang masih terluka ditekan oleh cekalan Sandra.



" Seumur hidupku aku tidak pernah membenci orang seperti aku ini membencimu. kau...seumur hidupmu akan hidup kesepian seperti yang ku alami."



" ZAHRA..." dari kejauhan terlihat Zivara dan Zahira yang berlari menuju padanya.



Sandra lekas melepas cekalannya lalu berlari kabur dari sana.



" Ra,..." panggil Zivara yang memeluk Zahra yang luruh ke lantai sambil menangis.



Zahira bergegas menelpon Mumtaz.



\*\*\*\*\*\*



Di alun tempat, di rumah sakit Medika terjadi kehebohan dari penjaga ruang isolasi.



Pasien dengan level rawat A\+ sudah sadarkan diri, kini dua orang dokter ahli sedang memeriksanya.



Setelahnya mereka berdiskusi." Ini harus segera diambil tindakan sebelum bakteri itu menyebar dan mengganas hingga berubah menjadi virus." ujar dokter berkumis.



" Belum ada jawaban dari profesor Zahra, tetapi saya akan terus menghubunginya.." ucap rekannya yang berkepala pelontos.



" RaHa...siYa...RaHa..siYa..."dokter jaga mendekatkan telinganya agar ia bisa mendengar kata yang diucapkan pasien sedaritadi.



" Dok, daritadi pasien menyebut nama RaHasiYa." lapor dokter jaga kepada dokter berkumis yang seketika tubuhnya menegang.



Maaf ya lama update.. tiba-tiba kosong gitu...idenya....maaf kalau dirasa kurang memuaskan...

__ADS_1


__ADS_2