Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
252. Sinar Terang.


__ADS_3

"...setelah menimbang maka para hakim berdasarkan fakta dan bukti memutuskan Toni bersalah atas pembunvhan berencana atas bapak Mahmud yang terjadi 10 tahun silam, dihukum penjara seumur hidup dan denda 100 juta dikurangi masa tahanan...."


" Horrreeee....." teriak riuh pengunjung sidang menyambut putusan hakim meramaikan ruangan persidanganm


Hari ini bulan Maret Toni tengah menjadi tersangka atas pembunvhan berencana yang dilakukan terhadap Mahmud 20 tahun silam, putusnya ini menyusul putusan sebelumnya yang disangkakan padanya yaitu peredaran nar-koba, penjualan sen-jata ilegal, serta pemberontakan terhadap kedaulatan negara.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia seorang purnawiran p0lri didakwa dengan banyak dakwaan atas tidak pidana. hal ini membuat gaduh masyarakat mengingat dalam kepo-lisian tidak hanya Toni yang terlibat namun juga Andre, mantan Wakapolr1 yang kini masih buron.


Ibnu dan Khadafi yang duduk berdampingan paling depan di deretan bangku pengunjung dengan saling mengaitkan tangan berucap syukur diiringi tangisan haru.


Kehadiran klan Hartadraja, Birawa, Pradipta, Alfaska dan Daniel serta yang lain sselalu setia menemani dua saudara ini dalam mencari keadilan.


Para pencari berita mengelilingi mereka berusaha mendapat satu- dua patah kata dari mereka.


Sosok Ibnu Abdillah a.k.a Ibnu Faris Mahmud yang dikenal sebagai pengusaha muda dan petinggi RaHasiYa menjadikan kasus ini viral di media baik nasional maupun internasional.


"Pak Ibnu, bagaimana konter anda atas putusan hakim?" tanya salah satu wartawan.


" Setelah bertahun-tahun kami berupaya mendapat keadilan, Alhamdulillah, Allah hari ini mewujudkannya. Sesungguhnya secara pribadi saya tidak mempermasalahkan mengenai hukuman mengingat usia beliau sudah lanjut, bagi kami berdua, beliau dinyatakan bersalah itu cukup, rumor mengenai ayah saya yang bunvh diri demi menghindari hukum akhirnya terbantahkan."


" Mengapa bapak Mumtaz tidak hadir? beliau kan sahabat anda?"


" Karena insiden tersebut Mumtaz belum bisa ada di sini, namun saya yakin ini merupak kado terindah baginya, kami tahu pasti bagaimana upaya dia mewujudkan ini terjadi."


" Apa langkah anda selanjutnya?"


"Kami telah mengajukan rehabilitasi nama baik ayah kami kepada kepo-lisian atas tuduhan korupsi yang disangkakan pada beliau. kami sudah mempunyai bukti mengenai kebenaran sesungguhnya. Terima kasih para rekan wartawan dan masyarakat yang mendukung dan mengikuti jalannya persidangan ini, terima kasih banyak."


Melihat Ibnu yang tidak nyaman mendapat banyak sorotan Alfaska maju menghadapi wartawan." Ini peringatan bagi orang jahat yang merasa dirinya berkuasa yang berpikir tidak tersentuh hukum, Kita hanya manusia yang tanpa saya jika bukan saat kejadian kalian dihukum, suatu hari nanti alam yang menggiring kalian berada di depan hukum dan kalian rasakan pembalasan atas perbuatan kalian, camkan itu." tegas Alfaska.


Tatapan tajam Alfaska menghentikan wartawan mengajukan pertanyaan lain hal ini dimanfaatkan mereka untuk keluar dari sidang, anak RaHasiYa membentuk pagar manusia melindungi Ibnu dan yang lain yang hendak keluar dari ruang sidang.


Sekarang mereka berdiri di depan makam bapak Mahmud dan istri, meski tubuh kedua orang Ibnu terbakar, namun ayah Zein, dan mama Aida memutuskan memakamkan sisa tubuhnya di pemakaman umum.


Ibnu dan Khadafi menunduk dalam," bapak, ibu. hari ini akhirnya orang yang menghabisi kalian tumbang di depan hukum, mereka tidak berdaya seperti ketidakberdayaan kalian pada hari itu. satu langkah lagi, nama kalian yang tercemar akan mewangi, itu janji Ini, bapak, ibu. tenanglah di sana. Dafi hidup baik bersama kami."


"Nu, udah sore. kita pulang, yuk. kita harus mempersiapkan diri untuk ke kepo-lisian." Daniel merangkul bahu Ibnu.


" Niel, gue masih gak nyangka jika hari ini akan ada, seumur hidup gue dihantui penderitaan ini, kalau bukan kalian yang selalu bersama kami gue gak tahu kami menjadi apa. thank by the way." Ibnu melihat mengedar pada para sahabat yang sudah menjadi keluarganya.


" Sayangnya orang yang harusnya menikmati ini tidak bersama kita." sahut Alfaska.


Mereka terdiam, orang tersebut kini masih terjebak di kamrr perawatan dengan penjagaan ketat yang dipimpin profesor galak yaitu Zahra.


" Pulang yuk, ayah sama yang lain sudah menunggu, para tetangga juga sudah siap mau ngadain riungan bentuk rasa syukur kita." ujar Bara yang belakangan terlihat lebih kalem.


di rumah Aida sudah banyak warga yang menunggu, bukan hanya tetangga namun juga masyarakat yang mengikuti persidangan. Ibnu cukup kewalahan, namun Teddy dan para ayah yang lain dengan sigap melindunginya hingga dia berhasil masuk kamar guna beristirahat.


Tok....tok....


" Masuk." Ibnu tidurnya dengan mata ditutup satu tangan diatasnya.


" Kak, makan dulu yuk baru tidur." Ayunda menaruh nampan berisi makanan dan minuman di atas meja belajar.


Ibnu membuka mata, ia menoleh pada gadis yang telah lama sering menghindarinya.


Ibnu beranjak ke pintu lalu menguncinya, Ayunda sontak merasa gugup karena tatapan Ibnu yang intens padanya.


" Kakak...mau apa? jangan bertindak aneh-aneh aku teriak ni." Ayunda mengancam, yang terdengar hanya berupa gertakan sambal saja di telinga ibnu.


" Kalau kita ketahuan satu kamar, paling dinikahi sekarang juga, aku sih yes." Ibnu menyeringai.


" Kakak jangan bikin takut Ayu."


" Panggil Aa, biasanya juga begitu. aku gak suka kamu panggil Kakak." Ibnu berdiri di depannya dengan jarak sangat dekat hingga hembusan napas mereka terasa.


Ibnu membelai pipi Ayunda, dengan cepat mengecup bibirnya yang membuat Ayunda membeliak.


Ibnu mengelus pipi Ayunda ayang memerah semu, ibu jari dan telunjuknya mengapit dagu Ayunda lalu mendongakkan wajahnya menghadap dirinya." Mau sampai kapan marah? aku menerima mengajar di sana karen kamu, bukan untuk yang lain. Jadi jangan percaya sama gosip murahan di sekolah."


Cup,....


"Apa aku harus memotong tangan Mela dan Jessica agar kamu yakin sama aku? apa aku harus bikin mereka lumpuh supaya kamu percaya aku cinta kamu?" mata bulat yang sudah melebar itu kini semakin membola.


" Cinta?" cicit Ayunda menahan napas.


" hmm, cinta. aku cinta kamu banyak-banyak." Ibnu mengusap bibir bawah Ayunda.


" Beneran?" Ayunda goyah karena pijakan kakinya tidak kuat, ia meremas kain di pinggang Ibnu.


satu tangan Ibnu menyelip ke pinggang gadis kesayangannya, mendekatkan tubuh mereka." masih mau sama aku yang lemah penuh luka ini?" Ayunda merasa dirinya meleleh di bawah tatapan hangat nan lembut manik gelap itu.


Tanpa kuasa mencegah, Ayunda mendapati dirinya mengangguk, " Mau, mau banget." ucapnya tercekat.


Ibnu tersenyum, satu tenaganya merambat mengusap tengkuk Ayunda, menarik mendekatkan wajahnya pada wajah Ayunda, dengan mantap bibir itu mema-gut bibi pink itu, perlahan, lembut akhirnya bergerak intens seirama saling mentaut merasakan manisnya kulit lembab tersebut.


Mata mereka perlahan menutup seiring makin dalamnya perpaduan bibir itu , tangan Ibnu mendorong tubuh mereka saling menempel, tangan Ayunda melilit pinggang Ibnu semakin memperdalam keintiman ce-capan bibir mereka akhirnya suara lenguhan keluar dari antara mereka.


Tanpa melepas tautan bibir, Ibnu membawa tubuh mereka mendekat ke ranjang duduk di sana, kemudian membawa tubuh Ayunda ke atas pangkuannya.


Ayunda mengalungkan tangannya di leher Ibnu, mengusap rambut hitam itu secar acak menikmati keintiman diri mereka.


Demi memperdalam civmannya Ibnu mendorong kepala Ayunda padanya, satu tangan lain mengusap punggung Ayunda.


lama mereka saling menikmati satu sama lain saling membelit, saling mema-gut melahap bi-bir, menempel badan saling mendesak, hingga suara dari perut Ibnu mengakhiri semuanya.


Mereka menjauh, Ibnu mengusap jejak saliva di bibir Ayunda, matanya sayu namun bibirnya tersenyum, " Thank, I love you."


Kerena malu Ayunda menyembunyikan wajahnya dengan memeluk Ibnu." More than you know." balas Ayunda. di baliknya bibir Ibnu merekah.


" I know so well how much you love me, babe. dan aku akan membalasnya lebih banyak lagi."


" Nikah aja mau?" Ayunda melerai pelukannya, menatap Ibnu kaget.


" Yang kita lakukan ini bahaya, sayang


perasaan aku ke kamu itu kuat banget. mau nikah?" ucap Ibnu.


" Mau banget." jawab cepat Ayunda.


" Setelah Kak Ala menikah, kita menikah ya."


" Nunggu kak Ala?"


" Hmm, beliau sudah dilangkahi kak Afa dan kak Tia, kalau kita juga melangkahinya yang ada kak Mumuy memisahkan kita. mau begitu?" Ayunda menggeleng.


" Aku masih sekolah juga sih."


" Aku janji, pernikahan kita gak bikin kamu putus pendidikan, kita pacaran dalam halal, sayang. aku gak bisa janji gak civm kamu lagi, kamu bikin nagih."


" Jadi kita pacaran?" tanya Ayunda.


" Gimana kalau tunangan?" Ibnu mendudukan Ayunda dipinggir kasur. ia berjalan ke meja belajar, membuka laci pertama, mengambil kotak kecil.


Kemudian berlutut di depan Ayunda untuk menyelipkan cincin bermata berlian kecil tersebut di jari telunjuk ayunda. " untuk sementara diantara kita aja dulu ikatan ini setelah kak Ala menikah baru aku minta izin ayah dan bunda."


Ayunda menatoa cincin emas 24 karat itu dengan haru, ia tersenyum, hanya anggukan yang bisa ia lakukan menjawab ucapan Ibnu.


Ibnu membawa ayunda ke dalam pelukannya." Makasih selalu bersama aku melewati kesedihan dalam hidupku."


"Aku mencintai kakak dengan segenap jiwaku." ucap Ayunda teredam di ceruk leher Ibnu.


Kruyukkk...


Mereka menjauhkan diri saling menertawai." Kakak makan dulu, baru kita romantisan lagi."


" Aa, Ayu. Aa. seperti biasanya. Aa Inu." Ibnu duduk di bangku memakan makanan dengan lahap. peristiwa Navarro, ditambah kondisi Mumtaz sempat membuat napsu makannya menurun tajam.


Pada bulan Mei Minggu keempat, polisi melakukan konferensi pers terkait keterlibatan Mahmud dalam pemalsuan dokumen masuknya barang import yang diduga merupakan senjata ilegal. Konferensi pers ini langsung dilakukan oleh kapolr1 dihadiri kuasa hukum, Ruben.


" Setelah menyelidiki laporan audit dokumentasi 10 tahun yang lalu, serta keterangan saksi yaitu Permadi maka kami memutuskan kepo-lisian mencabut sangkaan keterlibatan bapak Mahmud dalam penyelundup senjata dan nar-koba dari luar negeri ke dalam negeri. dan menyatakan bapak Mahmud tidak BERSALAH. dengan ini negara akan memulihkan nama baik bapak Mahmud selalu petugas bea dan cukai melalui media cetak, media elektronik, sosial media dan lainnya. sekian dan terima kasih." setelahnya Ergi meladeni pertanyaan wartawan yang meminta klarifikasi kronologi kejadian 10 tahun yang sebenarnya.


Janu dan Agung menyaksikan konferensi pers tersebut dir uang kerja agung di Senayan." Negara ini telah lama dimanfaatkan demi kepentingan pribadi, semoga moment ini menjadi langkah awal perbaikan negara ini." ucap Agung.


" Apa anda berniat melakukan reformasi di tubuh partai anda?" sindir Janu.


" Partai sudah tidak tertolong, tapi pak Romi dari divisi hukum mengajak membentuk partai baru sebagai wadah pemuda yang ingin terjun dalam pengabdian negara di bidang politik, kami akan menatar mereka menjadi pribadi tangguh dan berdedikasi sebelum mereka terjun langsung. apa kamu berminat gabung?"


" Saya akan mendiskusikan ini dengan bapak Teddy Birawa, menurut saya pendidikan pribadi masih lebih efektif daripada melakui organisasi. mereka yaang rusak itu semuanya bermula harus mengumpulkan dana untuk operasional partai, saya ini produk gemblengan pribadi dari Birawa tanpa dibebani tuntutan pengabdian terhadap wadah apapun."


Sedangkan di rumah Aida bersama para tetangga Ibnu menyambut gembira konferensi pers tersebut. Ibnu yang menangis meluapkan emosi lega dan haru dipeluk para sahabat.


Ucapan selamat datang baik langsung maupun membanjiri sosial medianya


" Alhamdulillah, Makasih, Allah. terima kasih banyak Allah." Ucap syukur Ibnu.


" Kita selamatan lagi, yang kali ini dilakukan besar-besaran dan mengundang media massa supaya setiap orang di negeri ini tahu kalau pak mahmud tidak bersalah, supaya mereka tahu pak Mahmud dan orang-orang berdedikasi dalam kejujuran lainnya kita lindungi. bisa saja para peja-bat korup itu membaut skenario jahat sedemikan rupa, tetpai rakyat harus tetap bersatu dalam kebaikan dan kejujuran dalam melawannya. Ngeri ini milik kita, milik orang yang mencintainya!!" seru Fatio dengan suara Tia membahana.


" MERDEKA!!!"


" ADIL DAN BERDAULAT HARGA MATI!!!" riuh para pemuda yang hadir di sana.

__ADS_1


" BERSATU KITA TANGGUH, BERCERAI..cari cadangan lain." seloroh yang lain.


" HAHAHHAHAHA..."


" MAKAN..MAKAN...MAKAN..." teriakan riuh itu datang dari para pemuda tidak tahu malu.


" oke kita makan besar." sambut Fatio sumringah.


"Selamat, bro." Brian mendekati Ibnu.


" Sampaikan ucapan Terima kasih saya dan Dafi pada bokap Lo yang mempermudah ini semua."


" Justru gue dapet salam dari papa buat Lo, selalu anggota dewan beliau mewakili lembaga mengucapkan beribu maaf atas penderitaan Yangs udah kalian alami, negara akan menjamin mengembalikan nama baik pak Mahmud, bahkan Negara bersiap membayar denda..."


" Gue gak butu duit negara, gue udah kaya, bro. kasih aja duit itu ke rakyat yang membutuhkan, jangan ditilep tapinya."


Brian tertawa garing, " Bisa ae lo. gue ucapin sekali lagi, selamat, bro."


" Thank, bro ikut makan sini."


" Pastinya."


" Ibnu..." panggil Teddy.


" Gue ke sana dulu." Ibnu menghampiri Teddy yang bergabung dengan para ayah duduk di ruang tengah.


" Apa yah?"


" Ini Gama, minta kamu jadi bintang tamu dia cara talk show-nya."


" Gimana, Nu. mau?" tawar Gama.


" Nunggu Mumuy keluar dari rah sakit dulu ya, om."


" Oke. tapi kamu jangan terima wawancara dari televisi lain ya."


" Inu gak minat, om. tapi Afa yang dablek, om. mending om ngomong ke Afa."


" Dia lagi sibuk wawancara Sam wartawan di depan rumah." ucap Aryan.


" Tuh kan, om."


" Ck, anak Lo Yan, sedari dulu suka benget caper." gerutu Teddy.


" Caper kan nama tengah dia, om." celetuk Akbar.


" Hahahaha..."




Di ruang inap, Mumtaz, Zahra, Hito, Dominiaz, dan seorang wanita berjas putih yang dua bulan ini intens selalu bersama Mumtaz, tepatnya menyembuhkan bathin Mumtaz. menonton konferensi pers. Zahra mengambil tissue lalu memberikan pada adiknya yang menangis tersentuh.



" Adik kamu hebat, dia kuat demi kamu, Muy. jadi kamu harus kuat juga demi kesembuhan kamu." Mumtaz mengangguk.



" Kamu tidak perlu lagi memendam perasaan dan kesusahan kamu seorang diri, kalau tidak bisa bagi dengan mereka bagi dengan kakak. ketika psikiater itu bilang jiwa kamu terganggu ke arah kejam tanpa rasa. kakak sewen, takut, dan panik. kakak takut kamu menjadi psikopat, Muy. apapun alasannya itu tidak dibenarkan."



" Maaf, Aa janji gak mengulangi lagi. hanya saja saat itu dendam ini semakin membuncah, sementara aku tidak punya tempat untuk melampiaskannya. beruntung ayah membawaku ke psikiater, namun itu hanya bertahan sesaat.



" Sejak aku mengetahui tentang Aloya, dendam dan benci aku tumbuh lagi, aku tidak berupaya melawannya karena aku juga ingin menuntaskannya, namun ternyata itu yang membuat aku menjadi kejam tanpa belas kasih. Setiap aku berhasil mengalahkan mereka, aku puas. aku tahu ada yang salah di diriku, tetapi aku butuh *feel* itu untuk menyelesaikan semuanya." ucap Mumtaz.



" Sekarang sudah usai, tamat, *end*. kamu tidak perlu lagi bersembunyi dibalik topeng ketenangan." Zahra mengusap kepala Mumtaz, mengecup puncak kepalanya sayang.



" Kakak yang akan melindungi kalian."



Mumtaz mengambil satu tangan Zahra untuk ia kecup." Lantas siapa yang akan melindungi kakak?"




" Apa mereka tahu tentang ini semua?"



" Tidak secara detil, mereka tahunya kamu otw ODGJ." jawab Zahra santai.



" Ya Allah, kak. serius? gimana tanggapan Lia coba, malu-maluin banget."



Dominiaz mengulum senyum, tidak dipungkiri hatinya senang pemuda yang dia kagumi ini memikirkan perasaan adiknya.



" Heh, yang dipikirin Lia doang. Kakak juga lah. gimana tanggapan orang profesor cantik ini punya adik ODGJ?"



" Paling mereka mafhum, kan kakaknya galak pasti adiknya ngebathin."



Hampir tiga bulan Mumtaz dirawat, sulitnya penyembuhan bathin Mumtaz berakibat melambat pada penyembuhan raganya, pembatasan pengunjung membuatnya bosan, bujukannya pada Zahra agar dicabut pembatasan pengunjung tidak membuahkan hasil, malah dia diomeli panjang kali lebar oleh kakaknya.



Ceklek...



Ibnu memasuki kamar dengan menjinjing satu papperbag.



" Makan dulu yuk, kak Ala udah beliin Lo bubur."



" Lagi? berasa lansia gue makan itu mulu." gerutu Mumtaz.



"Sejak kapan Lo milih makanan?" Ibnu mengeluarkan makanan ke meja kecil.



"Sejak gue di sini, sumpah tu makanan amep mu masuk dalam list yang gak bakal gue sentuh kalau gue udah keluar dari sini." Ibnu terkekeh geli mendengarnya.



" Lo gimana kabarnya?" tanya Mumtaz mengamati Ibnu yang terlihat lebih kurus.



" Bukan gue yang terbaring di sini."



" Kapan gue bisa balik?"



" Kalau udah sembuh."



" Jawaban gak guna."



" Muy, gue punya kabar bagus."


__ADS_1


" Hmm?" Mumtaz memakan sedikit demi sedikit bubur tanpa protes lagi, dia terbiasa memaksakan diri pada sesuatu hal yang tidak dia sukai untuk mendapatkan hal yang lebih baik.



" Para tetangga gue pada minta maaf. gue senang akhirnya mereka menyadari kesalahan mereka."



" Cuma mereka?"



"Enggaklah. DM, chat, grup. pada muji bapak. bahkan bapak dibilang inspirasi. gue seneng banget, Muy."



Mumtaz memperhatikan raut Ibnu yang terlihat lebih bahagia." sesenang itu, Lo?"



" Iya, sesenang itu. thank ya. Lo memang kakak terbaik."



" Dan Lo adik yang nyusahin."



" Ck, itu gunanya kakak, sebagai bak tampungan kesusahan adik."



ceklek...



" Assalamualaikum..ahli surga mau masuk." teriak Alfaska heboh sembari membawa dua paperbag berisi makanan lezat, di belakangnya yang lain mengikuti masuk.



" Kapan Lo meninggalnya? kok gak ditahlilin." sahut Mumtaz.



"Asu Lo, kelamaan di rumah sakit Lo ye."



" Gimana kabar Lo?" Bara menghampiri ranjang Mumtaz memberikannya papperbag berlogo restoran mahal.



" Serius buat gue?" sangsi Mumtaz.



" Hmm, gue yang punya rumah sakit, siap yang Bernai negur gue?"



" Baru ini bestie gue, Inu, apaan?"delik Mumtaz memberi bubur tersebut pada Ibnu yang dijawab dengkusan olehnya.



" Wow, makanan sesungguhnya. nikmat mana lagi yang kau dustakan wahai makhluk." ucap Mumtaz bersemangat melahap sandwich baconnya.



" Norak."



" Ba-cot. coba tiga bulan Lo makan bubur terus." omel Mumtaz.



" Ini sih udah sembuh kayaknya." sahut Jeno.



" Baru engeh gue, kok kalian bisa masuk, ad ajak Ala diamuk Lho."



" Kita udah izin kak Ala." ucap Yuda.



" Beneran?"



" Lo pikir kita punya nyawa berapa berani nantangin kak Ala?" tanya Haikal.



" Bukan soal nyawa, tapi kenekatan kalian." kini Mumtaz memakan mashed potato, di sisi potato lasagna sudah menunggu.



" Accalamu'lakum. Adel cantik, calon adik ipal mau jenguk calon kakak Ipal." si mungil dengan dress bunga berkuncir dua memasuki ruangan membawa Tote bag pink-nya berlenggok centil memasuki ruangan.



Menyalami Mumtaz dengan mencium punggung tangannya lama, Adelia berpikir jika dia lama menyalami Mumtaz, calon kakak iparnya itu akan merestui mereka.



" Accalamu'lakum, Ical manis calon clush-nya Aa Ayin macuk." ucap Crystal hasil dari ajaran Alfaska sewaktu diperjalanan menuju rumah sakit. dia dengan jeans berkaos polos berwarna pink lembut berkuncir kuda memasuki ruangan dengan gaya cowoknya.



Mendengar ucapan Crystal, Adgar yang berjalan di sampingnya mendelik sengit, sementara Zayin tersenyum smirk.



Di sudut dekat ranjang Mumtaz aura merah menyala yang berada dari Adelia kian membara, mata bulatnya menatoa galak Crystal yang mencium tangan Mumtaz.



adelia memaksa lepas tangan Crystal," Gak ucah lama-lama calimnya. ini kakak Ipal aku." tegas Adelia menjaga keamanan teritorial.



" Emang, A?" tanya Crystal polos pada Zayin yang mengusap kepalanya,



Adelia sibuk menarik tangan Zayin mendekat padanya menyingkirkan Ibnu menjauh dari ranjang.



Dengan gantle Ibnu menyingkir, dia memilih mentik Ay duduk di ruang tunggu.



" Aa bisa kalah lawan itik?" bisik Ayunda.



" Itik ini dua-duanya nyeremin. lihat aja bentar lagi juga ada kiamat kecil di sini.



" Si Ical ngajak perang, gak kapok dia kemarin dicakar Adel." bisik Raja pada Juan.



" Saatnya pembalasan, om Damar pendiam, tapi bukan berarti mengalah. lupa apa yang beliau lakukan pada Tanura dan emaknya? timpal Juan.



Mereka menyaksikan dua itik diantara Zayin yang lempar tatapan marah, sebenarnya hanya Adelia karena Crystal santai menikmati lasagna Mumtaz hal yang membuat Adelia naik pitam.



" ICALLLL..."



" Adel, diam. di sini dilarang perang." Zahra memasuki ruangan, sontak Adelia menutup mulutnya dengan kedua tangan.....

__ADS_1



"Yaaaahhh...pertunjukan batalll ...." ucap Alfaska.....


__ADS_2