Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 49. Kekesalan Zayin


__ADS_3

Dengan rengekan, bujukan dan paksaan akhirnya kedua keluarga berkumpul di ruang tamu untuk prosesi lamaran Jimmy.


" Ma,..."


" Iya mama setuju, udah kamu cepetan lamar Tia, ini kakak-kakaknya sudah pada melototin kamu, hari ini mereka pada sibuk katanya." Sela mama


Membuang nafas kesal Jimmy menghadap dan menatap Tia dalam " Tia dengan restu orang-orang terkasih ku yang sedang mode senggol bacok, aku dengan segenap seluruh jiwaku meminang mu untuk menjadi isteriku, mau kah kau menikah denganku?"


Tatapan balasan Tia sama dalamnya, dia mengangguk." Iya, Tia terima pinangan kakak untuk berumah tangga dengan Tia di bawah pelototan kakak-kakak Tia, tapi mereka sayang kita."sindir Tia.


" Amiiinnn." Seru semuanya.


" Jauh dari suasana romantis ya!" Ledek Dista.


" Sekarang tentukan hari pernikahannya." Ucap Mumtaz.


" Kok langsung?" Ucap heran Jimmy.


" Kenapa? Baru nyadar belum mau nikah?"


Jimmy berdecak sebal," iya. Nikahnya setelah semesteran aja ya!? Kan udah bisa langsung honey moon." 


" Terserah kamu, diatur aja semua." Ucap Mumtaz


" Oke. Sehari setelah semester kita nikah, mau pakai resepsi atau akad aja?" Tanya Jimmy kepada Tia.


" Resepsinya juga lah. Lo gak niat mau sembunyiin status kalian kan, bang?" Sarkas Zayin.


" Enggak. Sekalian  resepsi yang megah sekali." rutuk Jimmy.


" Jim, kamu mau nikahin Tia itu melangkahi tiga kakaknya, biasanya ada syarat langkahnya bukan?" Tanya ibnu


Jimmy memandang ketiga kakak perempuan tercintanya.


" Kak Ala, Jimmy meminta kelapangan hati kakak untuk meminang Tia, tapi jika kakak berkeberatan Jimmy akan men..."


" Kakak ikhlas, ini sudah rezekinya Tia menikah dulu jangan ditunda lagi."


" Buat syaratnya, apa?"


" Karena kamu sultan, dan ini gak bakal terjadi dua kali kakak gak minta yang muluk-muluk. Kakak hanya minta tas branded merek H, C, LV, dan G. Masing-masing satu yang limited edition ya." Ucap enteng kak ala yang berhasil membuat semuanya tercengang.


Jimmy meneguk salivanya ragu " kakak yakin?" Kak Ala mengangguk mantap


Membuang nafas berat, tatapannya dialihkan kepada Mumtaz " Lo apa, Muy?" Tanya lesu Jimmy.


" Biasa aja gue mah. Satu set gadget milik apel belah aja dari yang terkecil sampai terbesar."


Mulut Jimmy menganga lebar, mengusap wajarnya dengan kasar dan gusar " Lo, Yin?"


Zayin menggeleng " Gue bakal jadi ipar lo yang baik, bang. Gue cuma pengen satu robot penyerbu yang terbaru milik perusahaan lo." Ucap tegas Zayin.


" Kalo itu harus diobrolin dulu sama daniel, Yin. Mungkin yang lain aja?" Jimmy mencoba penawaran yang lain kerena permintaan Zayin adalah yang termahal, bahkan berkali lipat lebih mahal dibanding permintaan kedua kakak yang lain


" Boleh, bang Daniel?"  tanya Zayin


" Cuma itu aja kan?" Zayin mengangguk Semangat.


" Oke." Ucap Daniel menatap tajam Jimmy.


" Yes, terima kasih abang-abangku." Ucap sumringah Zayin seperti anak kecil


" Kalau semuanya sudah beres, dan ikhlas kita akhiri acara lamaran ini dengan mengucap alhamdulillah." Ujar mama.


" Alhamdulillah." Seru serempak semuanya.


Melihat putranya di serang dan terkesan diporotin oleh keluarga Mumtaz papi tidak marah, malah ia bersyukur bahwa pebuatan mami tidak berdampak pada hubungan mereka.


***


Oleh sebab lamaran dadakan di hari aktif, dan pagi sekali, maka selesainya cepat.


Saat ini mereka di depan pelataran rumah bersiap-siap pergi ke tujuan masing-masing


" Ma, Aa berangakat dulu. Para anak mencium tangan mama dan papi.


Mereka melihat Cassandra, Sisilia, Adgar, dan kabar berdiri di diepan pintu rumah


" Loh, kalian Kok di sini? Tanya Ibnu.


" Itu kak, disuruh Ita katanya Kak Jimmy mau lamaran nikah, jadi kita ke sini"


" Udah selesai, ini kita pada mau ngampus."


" Hah, bentar amat, kak. Kita baru Dateng ini, malah kita pikir hari ini bakal off kuliah, makanya aku suruh supir langsung pulang." Jawab Adgar.


 " Kalian ngapain berdiri depan rumah, lagi baksos?" Sindir kak Zahra yang baru keluar dari rumah.


" Muy, anter kakak ke rumah sakit ya!?'.


" Ayin  ya, kak. Aa mau anter Lia ngampus." Kak ala mengangguk.


" Ayo, Yin. Berangkat sekarang."


" Kakak kenapa minta anter bukannya punya pacar." Sindir Zayin


" Pacar kakak tuh rumahnya berlawanan arah dengan rumah sakit, sebagai pacar yang baik, kakak enggan minta antar jemput." Zayin hanya berdecak dan segera mengantar sang kakak tercinta


" kamu perginya bareng aku." Ucap Bara.


" Kakak Cassy bareng gue, bang." Ucap Adgar yang mendapat delikan kesal dari Bara.


" Jangan bikin ribut Gar, kamu bareng Abang." Ucap Akbar.


" Woy Mum, motor baru ." Ujar kabar mengarah ke motor yang terparkir di pinggir rumah.


"Alhamdulillah, hadiah dari camer." Pamer Mumtaz 


" Samaan sama sultan ni."


" Dia iri sama gue." Sambar Jimmy.


" Terserah, Lo turun kasta punya barang yang samaan sama rakyat jelata macam gue?"


" Enggak tuh, Lo kan rakyat jelata kesayangan gue. Kuy kuliah demi masa depan negara lebih maju." Ujar Jimmy meninggalkan perkarangan rumah


" Kamu perginya bareng Kakak ya?!" Ucap Mumtaz kepada Sisilia, yang diangguki senang oleh Sisilia.


****


Menurunkan kak Zahra di lobby rumah sakit Zayin mengernyit bingung melihat kakaknya terpaku di tempat menatap ke depannya. Mengikuti arah pandang kak Zahra, rahang Zayin mengeras mendapati pemandangan di depannya.


Ziva turun dari mobil Hito dengan tersenyum yang dibalas senyuman oleh Hito yang berdiri di depan pintu mobil.


Senyumnya berhenti kala di depannya melihat Zahra berdiri memandangi mereka.


" Hei, Zahra. Lo juga baru datang?, Telat?" Tanya kikuk Ziva.


" Hemm." Zahra memberi helmnya kepada Zayin yang masih diam.


Hito mengalihkan tatapannya ke arah Zahra, dia tidak suka melihat raut wajah Zahra yang mendung meski coba disembunyikan


Hito menghampiri Zahra meninggalkan Ziva sendiri di samping mobilnya.


" Kenapa bisa terlambat?" Tanya khawatir Hito.


Zahra masih syok mendapati kekasih dan sahabat nya bersama di pagi hari yang seharusnya Hito sekarang sedang sibuk di kantor.


" Kenapa memang, kaget ketahuan aku!?" Sindir Zahra.


Hito menggeleng " aku dipaksa nenek jemput dia."


" Rumahnya lebih jauh dari rumah aku, loh. Kenapa gak sekalian mampir dan jemput aku?"


" Maaf, aku kira kamu udah berangkat. Kamu ada tindakan pagi kan."


" Jam sepuluh nanti. Kenapa gak coba menelpon aku."


Perkataan Zahra yang menyiratkan tuduhan negatif dan raut Zahra yang tegang membuat Hito merasa bersalah


 Dia melangkah lebih dekat selangkah " maaf. Gak kepikiran."


Sakit, itu yang Zahra rasakan. Hito yang kata dia biasanya selalu memikirkannya sekarang berkata tidak memikirkannya.


Menormalkan wajah demi  menahan emosi dan menganalisa keadaan " ya sudah aku ke dalam." Tanpa kata lagi zahra meninggalkan Hito yang berdiri termenung.


" Kak, aku ke dalam dulu ya." Pamit Ziva.


" Heh, Lo cewek" Panggil Zayin kasar

__ADS_1


" Bukannya Lo sahabat kakak gue?"


Ziva yang mendapat perlakuan kasar tersentak


" iya."


" Memang kalian udah gak temanan lagi, sampe Lo tega nyakitin kakak gue?" 


" Apa maksud Lo."


Zayin turun dari motornya " gue tahu Lo di jodohin sama om Hito yang gue tahu pacarnya kak Ala. Menurut Lo kakak gue sakit hati gak lihat yang katanya sahabatnya semobil sama pacarnya."


" Zahra gak bakal mikir yang macem-macem. Dia tahu kok kalo gue nolak perjodohan ini."


" Gue gak urus perjodohan kalian, tapi gue lihat faktanya Lo tercyduk bareng pacar kakak gue di pagi hari sementara kakak gue yang baik itu berangkat sendiri. Lo mau nikung kakak gue?"


" Jaga mulut Lo, gue bukan pelakor."


" Jaga sikap Lo, kalau Lo emang bukan pelakor." Hardik Zayin.


Zayin kembali ke motornya. " Gue lihat kakak gue gak jawab pertanyaan Lo kenapa dia terlambat, om. Itu menunjukan kalau Lo sudah menyakiti dia. Kalau Lo memang sudah bosan dengan kakak gue tinggalin dia dengan baik-baik."  Zayin meninggalkan lobby rumah sakit


Ucapan terakhir Zayin membuat Hito gusar, tanpa memperdulikan ziva Hito menyusul Zahra. Dia tak ingin Zahra salah paham, dia tak ingin Zahra merasa sakit olehnya, dia tak ingin kehilangan Zahra.


Berkali-kali Hito menelpon Zahra namun tak diangkat. Zahra pun tidak ada di ruangannya, Hito mengusap wajahnya resah, dia ketakutan. Zahra memang tidak melakukan hal yang janggal, tapi kepergiannya tanpa senyum padanya cukup mengungkap perasaan Zahra.


Hito mematikan sambungan telpon dari Heru untuk kesekian kalinya bahkan sekarang dia mematikan telponnya.


Hito bahkan memeriksa kerjaan kantornya dari ruang kerjanya di rumah sakit. Matanya sesekali menatap layar komputer yang menampilkan cctv ruangan Zahra. Dia tak mau mengambil resiko kehilangan jejak Zahra hari ini.


Hito beranjak keluar ruangan dengan menenteng dua box makan siang kala matanya melihat Zahra masuk ke ruang kerjanya


Zahra menoleh terlonjak kaget mendengar pintu dibuka tergesa-gesa dan dikunci dari dalam oleh Hito.


" Kak Hito, ada apa?" Zahra tidak berharap akan bertemu Hito saat ini. Dia lelah berjam-jam melakukan operasi berat seorang pasien korban kebakaran yang membakar hampir seluruh tubuh pasien.


" kamu pasti belum makan siang, aku bawakan makan siang, kita makan bareng." Hito duduk di sofa panjang


Karena memang dia lapar dan lelah Zahra menurut tanpa protes dua duduk di samping Hito.


Seusai makan Hito memandang Zahra dalam, menghelakan nafas lelahnya


" Maaf, kalau tindakan aku menyakiti kamu, tapi itu atas paksaan nenek." Zahra hanya mengangguk.


" Please berkomentar."


" Aku harus komentar apa kalau itu keinginan nenek, kalau kamu cucu kandungnya tidak berkeberatan melakukan itu." Sarkas Zahra


" Aku...."


" Aku hanya ingin kalau kamu berubah pikiran mengenai perjodohan kamu dengan Ziva jangan sungkan memberitahuku terlebih dahulu. Jangan kayak tadi aku kaget banget."


Hito menggeleng cepat " aku gak berubah, Aku cinta sama kamu. Aku janji gak akan pergi berdua dengannya lagi."


Zahra menggenggam tangan Hito " jangan berjanji, pertanggungjawabannya berat, itu berkaitan dengan kepercayaan."


" Ini sumpahku, ini janjiku." Hito membalas genggaman Zahra.


" Terima kasih." Ucap Zahra tulus.


" Pulangnya bareng aku ya!"


" Gak perlu, habis kerja seharian kamu pasti kecapean jarak sini sama kantor kamu jauh banget. Aku gak tega."


" Hari ini Aku kerja di sini."


" Haha, kenapa?, Jadi dari pagi kamu belum ngantor?"


" Aku ngantor cuma di sini. Aku gak tenang sebelum ngomong langsung sama kamu."


Zahra berdecak " kamu ini, maaf ya jadi ganggu aktifitas kamu."


Hito mengangguk " pulang bareng aku ya."


" Aku hari ini sibuk banyak pasien yang harus diperiksa."


" Gak apa-apa, aku tunggu."


" Jangan dipaksakan, kalau kamu sibuk pulang saja duluan ya."


****


Kantin Universitas


" Gak ngerti gue juga, biasanya papa bisa beresin dalam sekejap, tapi ini papa gue juga gak berdaya."


" Terus kapan juga lo nembus mereka? Lo bilang dulu cuma butuh satu bulan, sekarang udah satu semester loh." Tunjuk Ersa dengan dagunya ke arah sekelompok mahasiswa yang berkerumun di taman dekat kantin


Adinda mengeraskan rahangnya melihat Tia bercanda dengan para sahabatnya. 


Dia menyeringai kala melihat Tia berjalan menuju kantin, dia bersiap menghadang Tia.


" Hai, Marya" sapa Adinda tersenyum menantang di depan kios  minuman.


Tia diam mempersiapkan hatinya menghadapi Adinda.


" Siapa Lo?" 


Adinda terperangah tak menyangka mendapati respon tenang Tia.


" Wah, wah. Punya lagak Lo sekarang!"


" Biasa aja."


" Kapan Lo ngenalin gue sama teman-teman Lo." Ucap Dinda Percaya diri


" Kalau gue gak mau, Lo mau apa?" Tantang balik Tia.


Adinda hendak membuka mulutnya ,tapi didahului Tia.


" Oh iya, Lo kemarin bukannya bilang mau kasih gue kejutan, mana?" Gue tunggu sampai empat puluh delapan jam tapi tidak ada apapun."


Adinda terdiam telak atas serangan Tia.


Tia lebih mendekat ke Adinda " jangan pernah usik hidup gue, atau gue hancurin seluruh kehidupan Lo."


Dista yang berdiri ngantri di depan kios soto melihat Tia yang berbicara dengan adinda bergegas menghampiri mereka


" Tia, ada masalah? Mau apa Lo?" Gertak Dista


Suara lantang Dista berhasil menarik perhatian beberapa penghuni kantin


Adinda mengerjapkan mata kaget mendapati suara keras Dista. Dia mencoba memasang wajah ramah.


" Eh, maaf kak. Perkenalkan..."


" Gue gak mau tahu tentang Lo, gak penting. Pergi Lo." Hardik Dista.


Selepas Dinda pergi Dista memeriksa tubuh Tia " dia gak ngapa-ngapain Lo, kan?"


Tia menggeleng " biasa cuma gede omong doang. Yuk balik lagi." Yang diangguki Dista.


Adinda memeperhatikan kepergian mereka, tadi dia lalai tidak memperhatikan keberadaan Dista. Tangannya mengepal, wajahnya menegang


" Oke Marya, kalo Lo galau bantu gue, gue bisa lakukan sendiri." Adinda berjalan dengan melenggok pinggang ke arah taman tempat Tia dan para teman berkumpul.


" Mama emang sedang libur masih bisa bikin banyak makanan begini?" Tanya Radit sembari memakan brownis cokelat


" Mama resign dari butik, kalian cobain semuanya kata mama ini buat menu coffee shop beliau."


" Mama mau buka usaha sendiri atau kerja di orang." Tanya Haikal.


" Sendiri."


" Mum, bagaimana nasib tugas pak Hamid?" Tanya Fatih, teman se fakultas Mumtaz.


" Tahap rancangan akhir. Lo ambil aja di loker gue."


" Kak Fatih," panggil seorang gadis cantik mendekati mereka


" Jasmine cari kemana-mana tahunya di sini." Gadis itu tanpa sungkan duduk menempel di samping Fatih cukup menarik perhatian Tia dan ganknya.


" Geser ih, risih banyak orang." Gusar Fatih mendorong Jasmine yang tetap bergeming, Mumtaz hanya menggeleng dia tak heran lagi melihat keributan dua manusia ini.


" Hai, girls. Kalian sedang apa heboh banget." Tanya sok akrab Jasmine ke Tia dan para sahabatnya


" Ini temen gue mau nikahan, kita lagi nyari ***** bengeknya." Jawab Mayang nunjuk Tia.


" Lo kenal dia, May?" Tanya Dista.

__ADS_1


" Teman se fakultas."


" Nikah sama siapa?


" Kak Jimmy." Menunjuk Jimmy yang duduk di samping Daniel


Jasmine menoleh ke arah Jimmy.


" Lo bukannya Atma Madina?"


" Iya, kenapa? Lo naksir gue?" Jasmine menggeleng


" Enggak gue udah punya kak Fatih."


" Marya," panggil Adinda ramah berdiri dia samping Tia. Tiba-tiba suasana tegang.


Jimmy bergegas pindah duduk ke samping Tia. Mumtaz mengamati seksama.


" Maaf ganggu kak, aku cuma mau nyapa Marya, teman SD aku." Ucap sok akrab Adinda.


" Teman dekat kamu? Tanya Jimmy pura-pura


Tia menggeleng " cuma sempat sekelas waktu kelas tiga." 


Wajah Adinda memerah mendapati penolakan Tia. Tatapannya seketika memaku kala melihat Zayin


" Kamu..., Zayin, kan?" Tanya senang Adinda.


Zayin membuang nafas gusar moodnya sedang jelek " iya, siapa Lo? Jangan sok kenal karena gue gak kenal Lo."


" Ini aku, Adinda. teman SD kamu."


" Lo pasti gak penting, jadi gue gak inget Lo. Pergi Lo." Para teman terheran mendapati betapa judesnya Zayin.


Sejak duduk di taman ini Zayin memang diam tak menggubris obrolan sekitarnya seakan ada hal yang sedang dipikirkannya.


" Hai Dinda. kata Lo, Lo sedang pacaran sama seorang Atma Madina, siapa ya tepatnya. Kasih tahu gue mumpung pangeran Atma Madina lagi kumpul di sini" Tanya Jasmine


Mereka mengernyitkan dahi bertanya serempak menatap Adinda. Adinda yang mendapat tatapan dari banyak orang hanya bisa bergerak tak nyaman.


" Eh, aaa...Nu..."


" Jangan bilang Lo bohong, Din."


" Maksud Lo apaan sih, kenalin, gue Dista Atma Madina. Gak ada ya abang-abang gue ngenalin dia sebagai pacarnya." Dista mengulurkan tangan ke arah Jasmine


" Gue, Jasmine Husain.  Lo bisa tanya sama Mayang, di Kesekretarisan udah lama heboh perihal dia pacaran sama pangeran Atma Madina."


Sungguh wajah Adinda merah karena malu dan tengsin. Berniat mendekati mereka yang terjadi malah dia di lbikin malu.


" Ehh...,aaaa....nu, aku permisi dulu, aku duluan ya,Yin." Adinda terbirit-birit meninggalkan sekelompok orang tersebut


" Kamu, yang bernama Mumtaz kan?" Sekarang pembahasan Jasmine mengarah ke Mumtaz.


" Iya, memang kenapa?" Tanya Bara.


" Gak apa-apa. Gue cuma pengen tahu pacar kakak sepupu gue."


Mereka saling pandang tak mengerti.


" Kamu saudaraan sama dia, Lia?" Tanya Mumtaz kepada Sislia, Sisilia menggeleng.


" Sepupu gue bukan dia, tapi Riana. Kalian kenal kan, dia nak BEM univ. Dia ngomongin soal lo mulu sampe bosen gue."


Sisilia diam  tak nyaman, dirasakan olehnya genggaman tangan dari orang di sampingnya.


" Lo salah, pacar gue ini Sisilia, namanya. Gue cuma sayang dia." Ucap mantap Mumtaz


Jasmine menganga dengan keterusterangan Mumtaz.


" Eh sorry, bukan maksud gue bikin ribut. Ini gue dari Riana nya langsung."


" Emang dia bilang apa?" Tanya Jimmy.


" Di rumah dia minta bokap gue buat meminta Lo buat jadi suami dia, karena dia gak mau pacaran lama-lama."


" Hahahha...." Seketika suara tawa membahana di taman itu.


" Sumpah Lo?" Tanya Jimmy.


Jasmine mengangguk " gue jadi eneg dengar nama Lo yang selalu dia sebut. Jadi itu gak benar!?" Mumtaz menggeleng.


" Gue cuma punya satu pacar namanya Sisilia Pradapta." Ucap Mumtaz sambil mengangkat kedua tangan mereka yang tergenggam.


"Suit...,suit..., Makin hari, makin mesra." Ledek Radit.


Sislia menyembunyikan dirinya dibalik tubuh Mumtaz yang tersenyum


Jasmine merasa iri melihat itu, dia menatap sedih Fatih yang sedari tadi tidak menggubrisnya.


" Fatih." Suara lembut dari Gadis berambut panjang dengan kemeja dan celana jeans panjang mendekati Fatih.


Raut jasmine sontak berubah keruh. Dia benci perempuan ini yang selalu mensabotase Fatih darinya.


" Maaf ganggu, tapi kamu gak lupa kan anter aku beli buku." Ucap gadis itu.


" Gak bisa, bipel."


" Bipel, nama Lo?" Tanya Jimmy ke gadis itu


Dia menggeleng " bukan, nama aku Nuri."


" Bipel itu bibit pelakor." Sambar Jasmine yang mendapat Tawaran tos tangan dari Dista.


" Jasmine." Tegur Fatih


" Kenapa? Mau bela dia lagi, jadi gara-gara ini kamu batalin anter aku ke rumah nenek." Suara Jasmine bergetar menahan tangis. Seketika suasana hening.


" Aku udah minta dari Minggu lalu, aku yakin dia baru ngomong semalam. Kenapa kamu suka nyakitin aku?!" Jasmine menangis di depan teman barunya.


Semua mata memandang sedih Jasmine kecuali Nuri, bibirnya tersenyum culas miring kecil Tindakan itu tak lepas dari pengamatan Zayin.


Saat Fatih hendak menarik Jasmine didahului oleh Radit yang membawa Jasmine ke dalam pelukannya.


" Sshhuuut...kalo Fatih gak mau, biar aku yang anter kamu." Para temannya memutar bola mata mereka mendengar rayuan Radit


Tak mau Jasmine mendapat simpati, Nuri menyela moment itu.


" Maaf, fatih,. Aku gak tahu kalau kamu... Sudah ada janji dengan Jasmine." Suara lembut tersirat penyesalan palsu dari Nuri membuat Zayin jengkel.


Jasmine menegakan tubuh dari pelukan Radit " bohong, Lo pasti udah tahu kalau kak Fatih mau nganter gue. Emang hobi Lo cuma mau nyakitin gue bipel. Jangan sok alim Lo, jijik gue sama Lo."


" Jasmine jaga ucapan kamu." Ucap Fatih dengan intonasi suara meninggi.


" Kamu juga, kak. Kalau memang Kakak suka dia bilang sama aku, supaya aku bisa mundur dari ngejar kamu."


" Siapa yang suruh kamu ngejar aku, sedari dulu aku bilang kalau aku gak suka kamu. Baik, sekarang aku akan bilang kalau aku..."


" Jangan ambil keputusan tolol, bang."  Zayin menyela ucapan Fatih.


" Maksdu Lo, Yin?" Tanya fatih.


" Heh, Lo. Jangan ngedrama di depan gue. Eneg tahu. Lo suka Fatih kan? Lo senang lihat Jasmine menangis, Lo senang Fatih benci Jasmine.


Nuri seketika panik mendapati tuduhan dadakan itu, Fatih menatap intens Nuri.


" Ni, gue rekam muka dia selama kalian ngedrama ." Zayin melempar ponselnya kepada Fatih.


" Lo amati baik-baik." Ujar Zayin kepada Fatih yang sedang mengamati rekaman video dari Zayin


"Aaa..aku pam.."


" Diam  di sana Lo, bipel." Zayin mendekati Nuri.


" Gue gak kenal Lo, tapi gue sering lihat orang kayak Lo. Casing nya bagus tapi isi nya busuk. Gue sarankan mulai detik ini Lo jauhi Fatih Alatas, atau image baik yang sudah payah Lo bangun hancur di tangan Dista. Lo tahu kan siapa dia?" 


Ketika Nuri hendak membalikan tubuhnya, Fatih mencekal tangan Nuri yang memasang raut sedih.


" Gue harap Lo dengerin omongan dia, pergi dan jangan pernah muncul lagi di depan gue." Fatih menghentakan cekalan dia tangan Nuri, dan sekarang tatapannya di tujukan kepada Jasmine yang masih menangis.


" Nama Lo, Jasmine Husain. Apa ada hubungannya dengan Zivara Husain?" Tanya Zayin, sekarang para sahabat memusat perhatiannya kepada Jasmine dan Zayin


" Dia kakak gue, kenapa?" Tanya takut Jasmine.


" Cih, kakak Lo yang temennya kak Zahra?" Jasmine mengangguk.


" Gue pikir, kakak Lo itu munafik, bilang sama dia, berani dia bikin kakak gue nangis, gue hancurin hidup dia."


para sahabat saling pandang mendengar perkataan Zayin

__ADS_1


" Siapa Lo, berani ngancem kakak gue? Lo gak tahu siapa Husain." Tanya Jasmine marah, meski dia takut, namun dia tak terima jika keluarganya berada dibawah ancaman anak kemarin sore.


" Gue Ahmad Muzayyin Hasan, adik dari Aulia Zahratul Kamilah. Jangankan Husain jika itu demi kakak gue, Atma Madina atau Hartadraja sekalipun gue lawan." Tekad Zayin yang setelah mengucapkan itu berlalu dia kumpulan itu meninggalkan sejuta tanya dari para sahabat...


__ADS_2