Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 100. Cassandra korbannya.


__ADS_3

Ceklek!!!


" Selamath menhjelang siang, semuah" Sapa Tamara sok akrab kepada para sahabat Bara, dengan percaya diri dan langkah gemulai menggoda Tamara memasuki ruang rawat Bara.


Rizal, Ubay, dan Haikal serempak mengernyitkan kening memandangi Tamara yang mendekati brangkar Bara.


" Sorry, Barh. Akhu bharu nengokh, akhu bharu tahu khalau kamyu sahkit, maafihn akhu yah, kamhu gakh marahh khan?" Ucapnya tak jelas seperti orang yang sedang sakau.


Bola mata Tamara berputar tak fokus, kakinya saling bergantian seakan tidak mampu menopang tubuhnya, " akhu bhawain khamu makananh, mahkan ya." Tangannya gemetar ketika mengeluarkan kotak makan dari papperbag.


" Biar gue, Lo duduk aja kayaknya Lo capek banget." Bara tidak ingin makanan itu tumpah ke tempat tidurnya karena kesebronoan Tamara.


" Iyah, sorry. Gueh dudukh duluh." Dengan langkah acak Tamara menjatuhkan tubuhnya ke sofa tunggal.


Bara dan para sahabatnya beradu pandang dengan sikap Tamara yang aneh.


" Its oke, gak kesini lo lebih baik." Gumamnya.


Secara iseng Haikal mendekati ke sofa Tamara yang sedang menutupkan mata, ia menusuk jari telunjuk Tamara dengan jarum pentul yang ditinggal Sherly di kotak peralatan jahitnya.


" Lo sedang apa?" Rizal menepuk pundak Haikal, Haikal menyuruh Rizal tidak ribut dengan menaruh telunju di depan bibirnya.


" Diem Lo, duduk sana." Haikal menempelkan beberapa tetes darah yang keluar dari telunjuknya dalam satu wadah kecil.


" Makan ni." Bara menyodorkan makanan dari Tamara kepada para sahabatnya.


" No, jangan dimakan. Gue mau bawa itu makanan buat diperiksa." Haikal mencegah Ubay yang hendak mengambil makanan tersebut.


" Lo lagi ngapain sih? Sok ala Sherlock Holmes gitu." Sebal Rizal.


 


Bara mengabaikan perdebatan para sahabatnya, sebenarnya dia menunggu kabar dari Ibnu dan Alfaska yang sejak mendapat telpon dari Jeno tak kujung kembali.


****


Cassandra masih menangis dalam pelukan Dista," siapa sih yang berani neror gue? Salah gue apa?" Sungguh Cassandra mulai kesal dengan kejadian buruk yang menimpa keluarganya.


Diliputi perasaan marah dia beranjak menuju parkiran," Cass, Lo mau kemana? Ya Allah, wey, kak Jeno nyuruh kita nunggu di sini." Teriak Dista sembari merapihkan barang bawaannya yang berserakan di atas meja gara-gara mencari tisu untuk Cassandra.


Cassandra tak mempedulikan teriakan Dista ia mengambil langkah besar menuju mobilnya.


Begitu ia hendak membuka pintu kemudi, tubuhnya ada yang menarik ke samping sehingga ia terdorong masuk ke bangku penumpang disusul tiga pria asing yang satu membekapnya dan satunya lagi mengi.kat kedua kaki dan tangannya, menaruhnya di bagian bawah kursi dengan posisi menyamping.


Ketika semua dirasa beres, mobil BMW warna putih itu perlahan keluar area kampus menggunakan karcis parkir yang ditinggal oleh Cassandra dalam mobil seperti yang lainnya.


Semua kejadian itu terlihat oleh seorang wanita, ia segera masuk ke mobil Lamborghini merah.


" Mas, ikuti mobil BMW putih itu." Pintanya pada Kevin, kekasihnya.


" Kenapa?" Meski bingung, dia mengikuti juga mobil BMW putih itu.


" Itu kayaknya tetangga aku lagi dijahati, jaga jarak ya."


" Hmm."


" Shitt, ini kenapa sih orang ditelpon kagak diangkat-angkat." Sudah terhitung tujuh kali dia mencoba menelpon seseorang, namun tak jua dijawab. Ketika hendak menelpon kembali panggilan masuk berbunyi begitu melihat id penelpon dia langsung menjawabnya.


" Hallo, ada apa Sya? Lo rajin amat telpon gue."


" Ck,  Lo ngapain aja sih gue telpon Lo dari tadi."


" Gue dijalan, ini gue berhenti dulu."


"  Gue lihat Cassandra Hartadraja dibawa sama tiga orang asing perawakan kekar kayaknya dia diculik."


Tak ada sahutan dari seberang," serius Lo. Sekarang Lo ikutin mereka, dan shareloc ke nomor yang bakal gue kirim.


" Heh, gue mau kencan ini." Protesnya melirik kekasihnya yang masih memperhatikan mobil di depannya.


" Ya elah itung aja ini  kencan Lo yang anti mainstream, kita saling membantu sesama tetangga atau gue suruh adik gue gibeg perusahaan bokap Lo."


" Sialan Lo minta tolongnya pake ngancem, iya gue ikutin, tapi lo jadi pembicara di seminar gue ya?"


" Pamrih Lo, Oke. atur schedule. Lo ikuti mereka."


" Oke. Mas maaf ya, bisa ikuti mobil depan dulu gak? Ini si Zahra ngancem pake perusahaan Papa." Keluh Tasya yang merupakan teman kuliah Zahra pada kekasihnya dengan tak enak hati.


Kevin terkekeh, " iya ga papa, Hito Hartadraja juga banyak bantu perusahaan Papa." Tukas Kevin santai.


Tring!!!


Notifikasi pesan masuk, Zahra mengirim sebuah nomor yang tak dikenal. Tasya langsung meng-sharloc dimana posisi mereka saat ini.


Seusai mengirim nomor Ibnu, Zahra langsung menelpon Ibnu.


" Nu, Cassy diculik. Temen kakak bentar lagi ngirim lokasinya." Sahut Zahra begitu sambungan telpon dijawab.


" Oke." Sambungan pun langsung diputus tanpa menunggu balasan dari Zahra.


****


" Siapa?" Alfaska duduk di kursi seberang meja kerja Ibnu disamping Jeno.


" Kak Ala, katanya Cassy diculik." Ucapnya melirik Jeno yang sudah duduk tegak.


Alfaska menegakkan duduknya," dan Lo santai saja?"


" Ini gue lagi periksa mobil Cassy, gue udah nyimpen beberapa kamera di dalamnya." Sambil berbicara mata Ibnu tetap fokus ke laptopnya.


" Lo pastikan, dimana terakhir meninggalkan Cassy?


" Di ruang BEM bersama Dista."


Drriiingg!! Drrriiing!!!


Ibnu menjawab telpon dari Dista." Hallo, kenapa Ta?"


" Cassy gak ada di kampus udah dicari ke segala penjuru kampus."


" Iya, memang dia gak ada di kampus, tapi kakak udah nemuin dia, kamu sama yang lain jangan keluar kampus tanpa teman ya." Ibnu menutup sambungan teleponnya.


" Pinta yang lain kawal para bocil, dan bagi tugas mengeluarkan Cassy dari mobilnya." 


Jeno mengangguk, dia langsung berlari melaksanakan tugasnya.


Lalu dia menelpon Zayin," Dek, lo dimana?"


" Di rumah."


" Gue shareloc mobil Cassy, Lo ambil Cassy."


"  Kenapa? Maksudnya apa?"


" Cassy diculik, dan para penculiknya sedang berusaha memperkosa Cassy di mobil."


" Damn, gue otw."


Alfaska mengitari meja Ibnu untuk melihat isi laptopnya, tangannya mengepal begitu dia lihat Cassandra sedang berusaha berontak dari pele.cehan dua orang di mobilnya.


****

__ADS_1


" Hei, berhentilah bergerak." Cassandra mengabaikan ucapan pria di depannya, dia tidak mengerti perkataannya yang dia perkirakan menggunakan bahasa spanyol, ia terus menendang-nendang tubuh yang berada di depannya meski kedua kakinya terikat, kedua tangannya terus melayangkan pukulan secara acak tangannya dikepalkan karena ikatannya begitu kuat.


" Be.de.bah, kau salah pilih korban." Marahnya meski dalam hati ia sudah dirasuki ketakutan.


Orang yang duduk di pucuk kepalanya terus mencoba mem.buka kan.cing bajunya yang selalu dihalangi Cassandra dengan terus menggerakkan tu.buh gem.palnya ke kanan-kiri bahkan berguling hingga jatuh ke bawah bangku. Entah sudah berapa kali kepalanya terantuk besi ujung bawah kursi depan.


Meski di posisi bawah Cassandra terus melakukan perlawanan dengan mengangkat kaki dan tangannya melawan para pria tersebut,


" Aawwws. STOP IT."Bentak pria asing tersebut, namun dihiraukan Cassandra. Baginya saat ini tak ada orang yang bisa memerintahnya, jika saat ini adalah waktu kematiannya dia pastikan kematiannya tidak dengan mudah terjadi.


Dengan susah payah dua pria tersebut mengangkat tubuh Cassandra kembali ke bangku lagi, kedua orang tersebut kini mero.bek apa yang bisa mereka robek.


" Apa kalian tidak bisa menangani satu perempuan saja?" Teriak Rekannya yang mengendarai mobil.


" Shut up!! Fokus saja ke jalan." Seru rekannya yang sibuk dengan Cassandra.


Brek!!!!


Leng.an baju atas Cassandra berhasil diro.bek sampai setengahnya, mereka tertawa senang akhirnya dapat melihat kulit mu.lus wanita khas indonesia yang terkenal manis dan ayu.


" Kyaaa, berani Lo sentuh gue ty.tyd Lo gue jadiin sosis bakar sapi." Cassandra masih melakukan perlawanan, kini dia arahkan kakinya ke selang.kangan pria yang berdiri dengan kedua lututnya yang  mencoba menin.dihnya.


Dugh!!


" AAAAWWWSSS, ****!!****!!! ****!!!" umpat orang itu. Kaki Cassandra menekan keras tepat si junior, ngilu turut dia rasakan, namun dia tak ingin lengah, dia tendang lagi dengan keras dan menekannya manfaatkan ruang sempit menggunakan tubuhnya sebagai penyangga mempertajam tekanannya.


Dugh!!!"


"AAAAAAAWWWSSS." kedua tangannya memegangi juniornya, wajahnya memerah, ia menam.par pipi Cassandra bolak-balik dengan keras.


PLAK!!! PLAK!!!


Cassandra meringis, ujung bibirnya robek hingga berdarah,kepalanya pusing, tubuhnya mulai lelah hingga gerakannya melemah.


" Hahaha, akhirnya dia menyerah, saatnya kita showtime." Ujar pria yang duduk di  pucuk kepala Cassandra memasang handycam-nya.


" Yeah, come to Papa. Baby." Pria itu membuka kai.tan celana, dan resletingnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke atas tubuh Cassandra yang sudah kehilangan setengah kesadarannya.


Dia mena.rik paksa bagian depan pakai Cassandra hingga kancingnya berhamburan, terpam.panglah bagian depan tubuh halus Cassandra yang masih terlapisi tanktop, tubuhnya seketika merespon tegang, dia tersenyum smirk lalu menurunkan Jeansnya sampai lutut mengeluarkan junior dari sarangnya lalu mengo.cok-ngo.coknya hingga tegak dan siap masuk lo.bang.


Ia membuka kedua kaki Cassandra, lalu mengangkat dan mengang.kangi pahanya melepas kaitan resleting jeans yang dikenakan Cassandra, memegang bagian pinggang Jeansnya hendak menurunkannya


Ciiiit!!! Bragkh!! 


Pria tersebut terhuyung ke kesamping karena mobil berhenti mendadak.


" Apa kau tidak becus menyupir?" Hardiknya, bahunya terasa sakit terbentur bagian belakang kursi penumpang depan.


" Sorry, ada motor berhenti mendadak." ujar sang pengendara yang bingung sebab mendadak beberapa motor berhenti di depannya, ketika melihat pengendara motor turun, secara mendadak sang kemudi mengambil lajur kanan yang ternyata mengganggu pengendara lain hingga terjadi tabrakan.


Mengabaikan keadaan sekitar sang pengemudi langsung tancap gas tak lama muncul motor lain berpenumpang dua orang disamping kanan dan kiri dan belakangnya memukul-mukul body mobil dengan tongkat baseball.


Jalanan yang padat tak menghalangi aksi premanisme pada mobil BMW putih itu, sang pengemudi merutuki jalan yang padat hingga membatasi gerak laju mobilnya.


Datang satu motor lagi dan menempelkan sesuatu pada pintu mobil penumpang,


Duar!!!


Mobil berhenti pas antrian lampu merah lalulintas bertepatan dengan ledakan dipintu penumpang hingga mengundang perhatian pengendara lain. Ledakan terjadi sebut bermaksud untuk mengalihkan perhatian para pelaku dari Cassandra.


Penumpang mobil BMW putih tersebut terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi, karena semuanya berlangsung cepat.


Mobil BMW putih sudah terkepung oleh beberapa motor dari segala arah, pengemudi mengumpat mengapa lampu lalulintas tak kunjung berubah warna ia sangat frustasi, wajahnya tegang kala lehernya dicekik oleh salah satu pria yang tiba-tiba membuka pintu mobil.


Terdengar dari bangku penumpang kedua pintu dibuka lalu para pria ditarik keluar dan langsung diposisikan tengkurap dan dikunci pergerakannya, pria yang celananya sudah dipelorotkan berteriak karena juniornya terkena panas aspal.


Disisi lain zayin sudah menutupi bagian depan Cassandra yang sudah tak sadarkan diri dengan kemejanya lalu menarik Cassandra dari dalam mobil dalam satu tarikan, ia membopong Cassandra di pundaknya seperti tak ada beban lalu menempatkannya di atas motor di bagian tengah antara dirinya dan Jeno. Dan langsung pergi dari lokasi tersebut membawa Cassandra ke rumah sakit.


Lampu lalulintas berubah warna menjadi hijau kendaraan lain mulai bergerak pun juga dengan mobil BMW tersebut. Tiba mobil tersebut mogok ditengah perempatan antar jalur jalan yang masing jalur jalan semua kendaraan berhenti karena lampu lalulintas dengan cepat berubah kembali menjadi merah.


Mobil BMW putih berada sendiri di tengah empat jalur jalan tanpa bisa bergerak sama sekali tak lama terjadi ledakan maha dahsyat.


DUAR!!!! BHOOOOMMM!!


Mobil terlempar ke atas akibat tekanan ledakan yang kuat dengan api berkobar besar Cukup membuat pengendara lain memundurkan kendaraannya karena panas dan khawatir terkena percikan api. Sampai mobil itu terbakar habis tak ada yang berani bergerak, beberapa menit kemudian mobil pemadam kebakaran mendatangi lokasi.


****


Setiba di rumah sakit, Zahra, beberapa dokter ahli dan Suster sudah siap dengan brankarnya. Zayin langsung menidurkan Cassandra yang langsung diselimuti sampai leher, sebelumnya Zahra sudah mendapat laporan dari Zayin terkait kondisi Cassandra.


20 menit sudah keluarga Damian menunggu cemas di depan UGD, Damian sejak mendapat kabar kondisi Cassandra merutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi gagal melindungi putrinya. Julia menangis dalam pelukan Eidelweis, sementara Fatio diam sambil merenungi rentetan kejadian yang menimpa keluarganya.


Di gedung RaHasiYa para petinggi RaHasiYa kini berkumpul di lantai tujuh, ruang konferensi.


****


Begitu Cassandra dapat diselamatkan mereka langsung menganalisa kejadian keseluruhan yang dialami keluarga Hartadraja.


" Buat janji temu dengan Rodrigo Gurman, sekarang dia ada di hotel the Sultan. Kirim rekaman seluruh kejadian yang melibatkan orang asing beserta ledakan mobil itu pada Alejandro, Eric, Guadalupe, dan Rodrigo. Kita tidak bisa  lagi menunda eksekusi." Seru Mumtaz yang langsung dilaksanakan oleh Nando.


" Gue paham mengapa Guadalupe menyerang Tante Dewi, tapi gue tak habis pikir mengapa Cassandra ditargetkan juga." Ucap Daniel.


" Rekaman dari loker Cassy tak menunjukan id pelaku, dia memakai topeng seluruh wajah dan memakai Hoodie kebesaran, tapi dilihat dari kontur tangan dan wajah 80% dipastikan ia perempuan." Timpal ibnu


" Apa netra matanya tidak dapat dianalisa?" Alfaska mengamati laptopnya yang memuat gambar Zoom perempuan bertopeng yang didapat dari kamera yang terpasang di loker Cassandra.


" Sedang dicari di bagian DPO, dan itu tidak mudah." Jawab Ibnu.


" Bagaimana dengan tato itu?" Mumtaz memegangi salah satu kertas yang berserakan di atas meja yang bergambar tato.


" Anak RaHasiYa masih mencari, sepertinya dibuat oleh tatoo artist bawahan." Ibnu membuka file berisi semua daftar toko tato.


Tring!!


Hito, Dominiaz, Akbar, Bara, Adgar , dan Zayin memasuki ruangan dengan raut lelah. Bahkan Zayin langsung menempelkan wajahnya di atas meja dengan mata terpejam.  


" Kalau mau tidur sana ke kamar." Alfaska menendang kursi Zayin.


" Tidak perlu, dilanjut aja rapatnya."


" Bagaimana keadaan Cassandra? Tanya Daniel.


" Hanya luka luar di sana-sini akibat benturan dan tamparan, overall baik-baik saja." Adgar menatap layar yang menampilkan mobil terbakar.


" Sorry dengan mobilnya." Sesal Ibnu.


" Its oke." Ucap Akbar.


" Kak Ala sudah memperbolehkan om Hito keluar? Daniel memastikan, karena dia tidak mau RaHasiYa dipersalahkan oleh Zahra.


Hito meringis, " kalian bisa jaga rahasia kan!? Ara sedang sibuk dengan Cassy." Mereka terkekeh geli, meski mereka faham mengapa Hito takut pada Zahra.


" Bagaimana kelanjutan penyelidikannya?"


" Bersumber dari Id paspor, KTP, serta dokumen keanggotaan sinolan, tiga pria tersebut anak buah Kartel Sinolan." jawab Ibnu menampilkan nama-nama anggota Kartel Sinolan dan menandai tiga pria yang dipastikan tewas dalam mobil BMW putih.


Tririririrt!!


" Hallo!" Ibnu menjawab sambungan telpon dari Ragad.


" Oke, kita otw sana." Sambungan langsung ditutup.

__ADS_1


" Kita pending pembahasan kita, anak RaHasiYa sudah menemukan siapa tatoo artist bunga mawar hitam itu."


" Sorry, gue gak ikut gue mau menemui Rodrigo." Mumtaz menunjukan isi pesan dari Nando.


" Kita bareng saja, kebetulan saya ada temu janji dengan Raul di tempat yang sama." Seru Dominiaz, mereka langsung bergerak.


Zayin yang semula tertidur langsung siaga begitu mendengar bunyi kursi bergerak.


*****


Dua orang saudara duduk berhadapan di sofa empuk dalam kamar presidential suite hotel the Sultan


" Kau kemari karena kau sudah tahu apa yang dilakukan nenekmu!?" Raul menghisap cerutunya.


" Hmm, kenapa kau tidak mencegahnya?" Rodrigo menaruh segelas wine di depan Raul.


" Meski ada kesempatan aku tidak akan melakukannya, dan kau tahu mengapa!" Raul menatap tegas Rodrigo seolah menantangnya.


" Kau mengundang maut bagi kakek."


" Aku yakin kau bisa mengatasinya, bukankah kau sekarang ada di sini."


Rodrigo melangkah ke brangkas yang terdapat dalam lemari pakaian, ia melemparkan amplop besar warna cokelat ke atas meja tepat ke hadapan Raul, Raul menaruh cerutu dalam asbak lalu membuka amplop tersebut.


" Papa pulang ke Indonesia bukan untuk mengurusi bisnisnya, tetapi dia tahu kalau mama Belina kemungkinan masih hidup." 


Pegangan Raul pada kertas semakin mengerat, meski mimik wajahnya dia coba untuk tetap netral.


" Bukankah beberapa hari terakhir Papa membuatmu sibuk?"


" Hmm." Raul masih membaca laporan dari Rodrigo.


" Papa menyewa detektif handal, kemungkinan besar beliau tahu campur tangan Gaunzaga dan kau pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya kalau kau tidak berterus terang kepada Kakek."


" Aku tidak bisa melibatkan Kakek atau Nenek Esperanza."


" Setidaknya biarkan mereka tahu kalau putri mereka belum meninggal."


" Dengan resiko Mama dalam bahaya? No thanks atas sarannya."


" Jika Papa tahu dimana lokasi Mama, Mama tetap dalam keadaan bahaya, setidaknya dalam perlindungan Kakek Papa tidak akan berani menyentuh Mama."


" Dan kau pikir berada dibawah perlindungan siapa Papa bisa menculik dan melukai Mama?" Sarkas Raul penuh kesinisan.


" Tetapi sekarang keadaannya berbeda, Kakek sudah tahu siapa Papa."


" Itu tidak menjamin Kakek bisa melindungi Mama seperti aku melindunginya selama ini. Kau tidak akan paham karena dia bukan Ibumu."


Rodrigo mengeraskan rahangnya, dia tidak suka akan ucapan Raul.


" Aku menyayanginya, ada darahnya atau tidak dalam tubuhku tapi beliau yang memberiku kasih sayang ibu,.. walau tak lama."


" Kau masih akan tetap merasakan kasih sayang ibu jika Ibumu tidak meninggal, dan kau tahu siapa yang membunuh ibumu." tuding Raul.


Kedua tangan Rodrigo mengepal," haruskah kau ingatkan itu?"


" Dengan rasa sesal iya, tubuh kakek tidak sekuat dulu, aku tidak akan memberinya beban dengan melindungi Mama. Demi tuhan, kalau kau menyayangi Mama dan Kakek cepatlah kau ambil alih kartel dari tangan penjahat itu."


" Soon."


" Kapan? Menunggu dia habisi seluruh keluarga kita?" hardik Raul.


Tring!!


Notifikasi pesan masuk ke ponsel Rodrigo.


" Kenapa?" Tanya Raul melihat ketegangan di wajah Rodrigo.


" Mumtaz ingin bertemu denganku."


Tringg!!


Satu notifikasi pesan masuk lagi."


Kedua bola matanya membulat, Raul merebut ponsel yang di pegang Rodrigo.


" ****!!! ****!!! Apa kau tahu tentang ini?" Tanyanya mengarah ke video yang dikirim oleh pihak RaHasiYa, Rodrigo menggeleng.


" Sanggupi sekarang juga permintaannya atau kita semua habis."


" Seriusly? Dia pasti sedang marah."


" Kita tidak punya pilihan, dia tahu kau ada di Indonesia, pertemuan ini hanya untuk memperlihatkan kalau kita punya iktikad baik padanya."


Rodrigo menatap Raul ragu," demi Tuhan, apakah kau tidak sadar mereka memantau kita. Kejadian Dewi Hartadraja buktinya."


Raul mengetik jawaban atas permintaan Mumtaz, lalu menunjukannya kepada Rodrigo yang langsung mengumpatinya.


Raul hanya mengedikkan bahu menanggapi umpatan Rodrigo.


" Kalau kita tidak menyambut iktikad baiknya aku pastikan dalam hitungan jam keluarga kita hancur, belajarlah dari kejadian Sivia dan kebangkrutan Papa lima tahun lalu. dulu Mereka melakukannya saat mereka masih SMA, Sekarang mereka Bahkan sudah bekerjasama dengan negara-negara adidaya." terang Raul memperjelas.


" Sambil menunggu dia, kau bisa menyuguhkan kopi Brazil padaku dan memesan beberapa cemilan khas Meksiko dan Indonesia sebagai pertukaran budaya antar dua negara bersahabat."


Meski masih melontarkan umpatan tak urung Rodrigo memenuhi ide Raul, Raul hanya tersenyum geli pada pria yang sudah dianggap saudara kandung olehnya itu.


" Cih, calon pemimpin kartel terbesar dan tersadis di Meksiko ciut mengahadapi satu pemuda saja." Raul tak berhenti menjahili Rodrigo yang memberi delikan tajam padanya.


*****


Sekarang para pria Hartadraja, para petinggi RaHasiYa, dan anak RaHasiYa berkumpul di toko tato yang terbilang sempit. Toko itu diamankan oleh anak RaHasiYa.


" Namanya Estelle Veronika, tiga tahun lalu dia ditato mawar ini." Kemudian tattoo artist memberikan alamat Estelle tanpa diminta kepada Daniel yang tadi meminta kepada siapa saja ia mentato mawar hitam seperti gambar di kertas yang sedang dipegang olehnya.


" Terima kasih atas informasinya. Tolong rahasiakan ini, anda pasti tahu siapa kami."


Penato itu mengangguk," sebaiknya anda bekerjasama dengan kami." Tambah Alfaska tegas, lagi tattoo artist itu mengangguk.


******


" kamu,..." tunjuk Zahra pada Mutia yang sedang mengobrol dibagian administrasi rumah sakit.


" Saya?" Mutia menunjuk dirinya sendiri.


" Iya." ucap Zahra begitu sudah berdiri dihadapan Mutia.


" Saya ada keadaan mendadak, tolong periksa pasien yang dibagikan UGD."


" Kenapa harus saya, saya juga sibuk." seketika semua orang disekitarnya berhenti dari kesibukannya, mereka menatap Mutia dengan malas.


" Sedari tadi saya lihat kerjaan kamu hanya berdiri di sini dan mengobrol tidak jelas, kalau cita-cita kamu menjadi satpam UGD, nanti saya beritahukan bagian kepegawaian.


" Dok,...jangan..."


Bukh!!


Semua pasang mata terkesiap, Zahra menjatuhkan Clip board yang dipegangnya tepat pada wajah Mutia.


" Kalau saya balik kesini laporan pasien belum juga beres, saya pastikan kamu dipecat saat itu juga." tukas Zahra yang setelahnya melenggang pergi karena dari kejauhan sudah ada Zahira dan Zivara yang berdiri menungguinya.


Tadi mereka mendapat laporan dari kepala keamanan lantai zuper VVIP bahwa Guadalupe memaksa masuk ke ruang rawat Sri...

__ADS_1


^^^Jum,at, 07, Januari,2022^^^


__ADS_2