Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
191. Pagi Yang Sibuk


__ADS_3

Pukul 01.00 wib


Kepolisian mengadakan konferensi pers yang disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun televisi, bahwa Mulyadi termasuk daftar pencarian orang ( DPO ) atau buronan.


Seketika pencari berita ribut berlomba melempar pertanyaan, Ergi yang mulai  menyadari dirinya selalu diamati oleh RaHasiYa, ia dengan gantle mengatakan seada-adanyanya sesuai fakta, tidak ada yang ditutup-tutupi.


Hal itu membuat para elit geram, lain halnya dengan Andre, dia sangat marah. 


Kehebohan penuh amarahan pun juga terjadi di masyarakat, setelah 30 menit berita itu meluas di sosmed, para netizen menggoreng berita itu dengan lihat, menyalurkan kemuakan mereka terhadap para pol1ts1 yang mereka lihat selain arogan juga pengecut.


Kemuakan itu dicurahkan melalui meme dengan menyematkan pita, bando, serta makeup komplit di wajah para d3w4n yang diduga terlibat dengan Mulyadi disertai tulisan alay ala lelaki gemulai.


" Cih, ternyata d3wan cuma sangar kalau sedang memperebutkan hak dia doang."


" Duot tunjangannya dipake beli makeup aja Sono, nenek gue lebih berani ketimbang Lo pada."


" D3w4n b0brok."


" 4nj1rrlah gue dipimpin sama orang penjahat, pantesan n3gar4 semakin amburadul."


" Usut tuntas, gue yakin si doi bukan cuma satu-satunya yang terlibat, ini menyangkut duit banyak, woy.."


" Woy, S3n4yan ibaratnya sarang p3nyamvn bukan sih..."


" Kita kawal kasus ini."




Dua jam setelah konferensi pers, Ergi masih betah di ruang kerjanya, fax dari p4nglima membuatnya gusar, mengingat sampai saat ini belum ada laporan dari rumah sakit Atma Madina terkait apa yang telah terjadi.



Ini bukan hal yang baik baginya maupun instansinya, penjagaan jarak dari mereka bagai alarm peringatan keras untuk mereka.



Tok...tok..



" Masuk." Ergi memijit-mijit pelipisnya.



" Siap. Lapor, ada ledakan disebuah gedung dekat 1st4na, kita sudah mengirim pasukan ke sana." Lapor Berto.



" A..APA? mengapa tidak ada yang mengabari sebelum bertindak?"  Ergi menggebrak meja.



Ia curiga ada seseorang yang mencoba menyabotase pekerjaannya.



Kling...kling....



Ergi mengernyit, p4nglima menelpon langsung ke sellulernya, ini hal yang aneh, biasanya beliau menelpon lewat telpon kantor.



" Hallo," Ergi mengangkat sambungan itu.



" *Saya minta kerjasamanya dengan anda untuk memperbolehkan dua bawahan saya ikut andil dalam penyelidikan ledakan ini*."



Egi Ergi tersentil." Apa harus?"



" *Jendral, kita tidak sedang berkompetisi, ini terkait keamanan negara. Apa anda tahu posisi gedung yang terbakar? Sangat dekat dengan ist4na, saya pastikan keberadaan mereka serasa tiada, Pak*."



Meski enggan, Ergi tahu ini bukan saatnya meninggikan ego instansi." Baiklah, pastikan mereka tidak terlihat, bagaimanapun ini masih kewenangan polisi."



" *Tentu, kami akan kirim dua nama mereka. Kami bekerja bukan untuk dipuji. Camkan itu*." Sarkas p4nglima tegas sebelum menutup sambungan.



Sedikit menghentak karena sindiran itu, Ergi mematikan sambungan telpon.



Tring,...



Ergi membuka pesan yang dikirim p4nglima.



" Berto, kamu urus surat perizinan Zayin dan william untuk ikut penyelidikan, dan kau yang mengawal mereka." Tekan Ergi.



" Siap."



Ergi menyalakan televisi, matanya menatap tajam video yang tertayang, reporter sedang mengabarkan keadaan terkini di TKP dengan kobaran api yang menggunung tinggi.



 



\*\*\*\*\*



" Gad, Lo berasa ada getaran gak?" Tanya Daniel yang duduk disamping Ragad. 



" Iya, ini ada gempa kah?" Tanya yang lain panik.



Dar..dar...



Mereka menoleh ke arah suara ledakan seperti petasan besar, mereka keluar dari mobil, kecuali Mumtaz dan Ibnu.



Ibnu menyapa wajah Mumtaz dari samping, memerhatikan raut tenang sahabatnya itu, namun ia tahu ada bara api di dalam ketenangan itu, karena tatapan itu menatap dengan fokus sempurna, lalu menyeringai devil. seringai yang membuat Ibnu ketar ketir. penuh ketakutan.



Getaran itu semakin kuat, sudah banyak orang yang keluar dari tempat masing-masing menjauh dari bangunan, wajah panik dan cemas terpantau dari wajah mereka. Hingga terdengar suara,



 BHOOOMMM...DUAR...DUAR...



Bola api yang muncul dari lingkaran asap tebal, diikuti runtuhnya bangunan megah lima lantai dengan suara dentuman keras mengingatkan mereka kan keruntuhan WTC. Semua orang terhenyak ketakutan sekaligus panik, mereka berlari terbirit-birit sambil berteriak minta tolong, ada yang menunduk, bahkan ada yang tiarap di tengah jalan raya dengan tangis histeris.



Gunungan lahar api itu menjadi latar belakang 1stana dengan warna yang kontras nyata.



Tidak lama suara sirine pemadam kebakaran, mobil patroli polisi, Gegana, bahkan barracuda TNI turun memenuhi jalan, iringan konvoi itu memasuki kawasan istana dan monas, suasana sangat menegangkan.



Mereka segera mensterilkan jalan yang menuju ke dan dari istan4, dengan sigap mereka melakukan tugas masing.



Satu diantara mereka terdapat Zayin dan william, tanpa dicurigai mereka mendekat, masuk ke dalam mobil yang terdapat petinggi RaHasiYa dan Gaunzaga plus Damian.



" Katakan sejelas mungkin, jangan berkode." ucap Zayin, raut wajahnya terlihat lelah.



" Ini." Damian memperlihatkan isi tangkapan dronenya.



Melihat video itu, air muka Zayin tidak dapat dibaca," aku ambil ya, om. ini hanya akan jatuh ke tangan p4nglima."



Damian melirik Mumtaz, yang mengangguk padanya



" A,...bisa Aa bicara seribu kata?" sindir Zayin, wajahnya sudah menegang.



" De, kamu tahu Aa sedang emosi, *advice* dariku, bisikan kepada p4nglima untuk turun langsung menangani kasus Gonzalez dan Navarro. Desak pak Ergi untuk berbagi informasi dengannya, beri keterangan kalau ini soal \*\*\*\*\*\*\* dari luar." Himbau Mumtaz.



" Kita gak bisa gegabah nyeblak soal \*\*\*\*\*\*\*, bukti ini belum bisa dijadikan masuk ke ranah \*\*\*\*\*\*\*." sahut William.



" Will, *seriously*?" tanya Alfaska kesal.



" Gak bisa Lo lihat api Segede itu, suara sekeras itu? mesti bagaimana untuk bisa dikatakan \*\*\*\*\*\*\*?" sewot Bara.



" Tidak bisakah Aa mengatakan langsung?"



" Untuk apa? Kepada siapa? gak ada yang bisa Aa percaya. Kalau Aa mengatakan semuanya negara ini akan hancur, mereka mempersiapkan diri selama bertahun bersama orang-orang yang ada lingkaran penentu nasib bangsa ini.



Kau lihat itu?" Mumtaz menunjuk kobaran api yang sedang disemprot oleh pemadam.



" Mereka begitu dekat, bahkan Intel seakan tidak berguna. Mereka rusak, kita yang harus membenahinya. Saat ini kalian, jika kalian terkesan lelet, kami yang akan menuntaskannya.



Sekarang tugasmu, yakinkan p4nglima untuk mendesak Ergi, agar instansi dia bertindak seharusnya, atau TNI yang turun tangan. Kalian pasti tahu apa dampak bagi masyarakat jika TNI terlibat."



" Yin. Kalian segera ke lantai empat gedung di depannya, sebelum polisi merusak barang buktinya." Sindir Mumtaz.



Selaps kepergian Zayin dan William, kini atensi mereka lurus ke Mumtaz, ia menyadari itu." Ini penjelasannya lama, biar melalui Gaunzaga dan Gonzalez kita sedikit demi sedikit membukanya." Jelas tenang.



" Muy, apa bapak terlibat dengan mereka?" Tanya Ibnu cemas.



Mumtaz menatap tepat ke manik Ibnu, " Kalau bapak bersama mereka, bapak masih ada di sini. Cuma itu yang bisa aku kasih tahu ke kalian." Tukas Mumtaz.



" Mum, Abang sudah minta ketemuan sama Mateo." Ucap Dominiaz.



Malam itu disaksikan oleh mereka para petugas berjibaku memadamkan api yang masih menyala besar disertai ledakan-ledakan kecil yang masih menyertainya.



\*\*\*\*\*



" Pagi." Zahra menuruni tangga masih  mengenakan dasternya.



" Pagi." Jawab semuanya yang berkumpul di ruang tengah menyaksikan berita di televisi



" Kak, roti atau nasgor?" Tanya Juan sambil meletakkan segelas susu cokelat dihadapan Zahra.



" Nasgor Pete."



" Kak Zahira mana?" tanya Adgar.



" Masih tidur."



" Yud, gak demo? ini udah banyak banget kacaunya. kalian demo cuma soal kenaikan BBM, sama RUU doang. padahal penegakkan hukum itu salah satu faktor pemimpin itu peka atau tidak tentang nasib rakyat." komentar Zahra, matanya memerhatikan berita.



" Apa karena para korban bukan saudara perempuan kalian? atau kalian bagian dari mereka? semisal pengguna, atau agen drug itu?" sindir Zahra sinis.



" Kak,..." tegur Yuda tidak senang.



Zahra menoleh sekilas Yuda dan beberapa orang yang belakangan dia tahu kalau mereka ketua BEM dari universitas lain.

__ADS_1



" Nanti dikira mengintervensi hukum." celetuk si tampan, ketua BEM almamater kuning



" Heh, kalian pikir selama ini hukum kita gak diintervensi?"



" Kalian tinggal cari berita tentang beberapa kasus yang melibatkan orang kaya di negeri ini, dan lihat kejanggalannya. diintervensi oleh kalian lebih mending, daripada hukum kita makin tunduk pada orang berduit tapi pengkhianat."



" Kakak lihat kalian punya kesempatan menggantikan mereka di masa depan, apa kalian ingin seperti para senior terdahulu yang tahun 1998 berdemo anti KKN hingga terjadi reformasi, sekarang ketika mereka menampuk kekuasaan, KKN makin merajalela. artinya mereka yang dulu idealis, sekarang jadi sama badutnya, karena dulu revolusi hukum dan politik tidak dilakukan."



Mereka semua terdiam, mencermati komentar Zahra.



" Kak, ini nasgornya." Juan meletakkan sepiring nasi goreng ke atas meja.



" Sejak kapan kakak ahli politik?" tanya Raja.



" Huh, kau pikir orang yang latarbelakang miskin seperti kakak dengan posisi strategis dalam bidang kesehatan tidak mereka serang?"



" Lantas?" tanya Raja antusias.



" Kalian pikir sendiri mengapa kebijakan rumah sakit Atma Madina yang banyak berbeda dengan pemerintah, tapi pemerintah tidak menegur rumah sakit.



" Tentu, kalian harus melakukan lobi dengan para pemegang kekuatan ekonomi dahulu sebelum mengambil tindakan.."



" Kakak nyuruh kita, apa kakak sendiri sudah melakukan sumbangsih terhadap negara ini?" tanya sinis si rambut cepak yang bernama Aldy, ketua BEM tetangga UAM.



pertanyaan menyudutkan tersebut mendapat lirikan tajam dari anak RaHasiYa.



" Saya gak mau nyombong, tapi ego saya tersentil. Kalian baca berita tentang Mutia Wibowo. dan saya baru menolak perawatan yang diajukan oleh pihak Navarro. padahal mereka bersedia membayar berapa pun juga yang saya mau."



Anak RaHasiYa tersentak, mereka menganga takjub, sedangkan yang lain memperhatikannya dengan bingung.



" Btw, apa kalian tidak kuliah?"



" Kuliah." jawab mereka.



" Assalamualaikum." Salam Adelia dan Eidelweis memasuki rumah dengan senanpan sandwich.



" Wa'alaykumsalam." Jawab semuanya.



Adgar mengambil nampan dari tantenya itu



Tanpa permisi, Adelia yang sudah rapih mengenakan seragam sekolahnya nyelonong naik ke lantai dua.



" Ngapain dia ke atas? Itu kenapa bibirnya merah gitu, dimakan ular?" Tanya Zahra.



"Biasanya juga gitu, bangunin calon suami katanya. Bibirnya pake liptint, cantik, kan?""Eidelweis mengikik senang.



" Apaan, jentowor gitu. Ayin tahu, mampus kamu, kak."



" Jangan dikasih tahu lah.



" Assalamualaikum." Salam Zayin yang masuk rumah bareng William.



" Baru pulang, Yin?"



" Hmm,, ini juga mau pergi lagi." Zayin menjatuhkan drinya di sofa menggeser Adgar yang sedang melahap sandwich.



" Yin, gue numpang mandi sama pinjem baju Lo " ucap William berjalan ke tangga.



" Hmm. Kalian jangan kemana-mana dulu, apalagi jalan cuma buat ngabisin waktu gabut." Sindir Zayin melirik Eidelweis yang sering keluar shopping.



" Kan kemauan Dede bayinya, Yin."elak Eidelweis.



Zayin mencebik, dia melangkah ke bangku dimana Eidelweis duduk. Mengusap perut yang mulai membesar.



" Dek, yang kalem jadi bayi. Jangan banyak tingkah, supaya kamu gak dikambinghitamkan mama mu." Ucapnya.



" Aaaaa...."



"Aaaaaa...."



Mendengar jeritan yang tidak asing, Zayin dengan sigap berlari, baru melangkah dia anak tangga, tubuhnya ditubruk tubuh mungil yang menerbangkan diri ke pelukannya.



" Kya......mata Adel gak cuci lagi, hiks...adel udah gak pelawan lagi. Hu..hu..." Rengek Adelia dalam gendongan Zayin.




" Kamu tuh,...ngapain di kamal cuami aku." Sanggah Adelia dengan mimik ngotot.



Zayin menatap Adelia dengan seksama, saat ia mendapati apa yang beda dari penampilan Adelia, matanya melirik tajam pada Eidelweis.



" Sudah, jangan ribut. William ceritakan apa yang terjadi?" Tanya Zayin pada William, matanya masih beradu pernah dengan mata Adelia yang menatapnya sinis.



" Gue habis mandi, tiba-tiba ada tuyul meluk pinggang gue, handuk yang gue pasang lepas melorot. Untuk gue udah pake semp4k." Dengkus William.



" Bo..."



" Diam, Adel. Aa percaya bang Willi. Ini juga bibir kamu kenapa ngejreng kayak begini?" Zayin mengambil tissue dari atas meja, lalu mengelap liptint Adelia.



" Jangan dihapus ih, ini kan Adel udah cantik."



" Mana ada, kayak badut gitu. Perempuan cantik bukan karena makeup, tapi karena otaknya yang cerdas. Kamu pake lagi pewarna bibir ini, jangan ketemuan sama Aa lagi " tegas Zayin dengan mata menatap langsung Adelia yang menciut.



Hiks...jangan malah. Kata Mama, kalau Adel pake ini Aa bakal cuka." Adelia menangis lagi.



Eidelweis sontak gugup dibawah tatapan tajam Zayin," i..itu..."



" Jangan diulangi lagi, Adel udah cantik tanpa dikontaminasi makeup. Biarkan dia tumbuh dengan kepercayadirian, bukan polesan yang hanya sekedar topeng. Diulangi lagi aku akan amarah sama Kaka Edel."



Dengan patuh Eidelweis mengangguk cepat, Eidelweis memilin ujung baju atasannya," i..iya..tapi kan...lucu..." Ucapnya pelan diujung kata.



" Gak ada lucunya sama sekali." Cibir Zayin.



Tok..tok.." assalamualaikum." Bayu dan Ayunda memasuki rumah dengan pakaian rapih.



" Hei, Bay. Naik langsung ke atas." Ujar Zayin. Dia menurunkan Adelia.



" Aa mau kemana?" Tanya Adelia.



" Mau mandi, baru nganter kalian." Ucapnya, dilanjut menyusul Bayu yang masuk ke kamarnya.



" Ini ada apa? Tegang bener." Bisik Ayunda ke Zahra.



" Si Adel di dandanin." 



" Berani bener Tante Edel."



"Gak liat dia udah ciut gitu, berani sih enggak, cuma bebal aja tuh dia." Ledek Zahra.



" Hmm, iya ya." Ayunda mengangguk setuju.



\*\*\*\*\*\*



" Selamat pa..gi..." mata Sisilia terbelalak saat memasuki ruang makan melihat kehadiran petinggi RaHasiYa yang duduk santai memenuhi kursi meja makan mengobrol santai dengan kakak, dan kedua orang tuanya



" Kok ada di sini?"



"Cuma mampir sarapan." jawab ngasal Alfaska.



" Yang lain bentar lagi datang, kita berangkat berenng ya!?" mohon Sisilia pada Mumtaz.



Sebenarnya mereka tidak berniat ke kampus hari ini, tetapi melihat wajah memelas Sisilia Mumtaz tidak tega.



" Iya, makan dulu kamu-nya." jawab Mumtaz yang mendapat tatapan kesal dari para sahabatnya.



"Tin..tin...



Tuh, Ita udah jemput." dengan tergesa-gesa Sisilia menyelesaikan sarapannya.



" Ta, kakak yang nyetir." Mumtaz membuka pintu bagian kemudi.



" lho, kok pada ngumpul disini " tanya Dista yang kaget melihat semuanya berkumpul.



" Semalam pulang bareng bang Domin, jadi sekalian nginep." jelas Daniel membuka pintu penumpang dan pintu penumpang depan.



" Cass, duduk di belakang. Kakak duduk di depan."


__ADS_1


" Kita pergi dulu." pamit Mumtaz.



" Kenapa Daniel ikut Mumtaz? gumam Elena.



" Kalau gak ditemani, dia bakal telat banget." ibnu menjelaskan.



" Ooh."



\*\*\*\*\*\*



Ceklek...



anak BEM segera menuju pintu yang dibuka oleh seseorang, mereka terkaget melihat siapa yang datang.



" MUMTAZ....MY BESTIE ...Dalam kemiskinan.." rengek Romli merentangkan kedua tangannya berlari memeluk Mumtaz.



" Siapa yang Lo bilang bestie dalam kemiskinan?" tanya Daniel memberi dua kantong besar berisi makanan dan minuman dari restoran cepat saji.



" Mumtaz, gak mungkin Lo, Birawa."



" Dih ngegas."



" Muy. sumpah, liburan cacing perut pada langsing gak ada donatur makanan. cuma kaum miskin yang ngertiin anak kostan kere kayak gue."



Daniel tergelak, "Hahahaha, Lo ngaku bestienya dia, tapi gak tahu seberapa kaya dia"



" Niel." tegur Mumtaz sambil melepaskan diri dari pelukan Romli yang dirasa merisihkan.



" Lo kaya , Mum? liburan Lo ngepet?"



" Lo kuliah di jurusan apasih?" tanya Daniel ditengah seruputan kopinya.



" Bahasa Indonesia. Cita-cita gue kan mau jadi penulis pidato kenegaraan presiden." tutur Romli percaya diri."



" HAH?" para teman BEM-nya melongo.



" Bukan presiden-nya?" tanya Joe.



" Bukan, presiden-nya si Yuda aja. gue mah ogah pusing ngadepin orang berduit."



" Apa kemarin Lo gak ikut selamatan di rumah Mumtaz?" tanya Yuda.



" Dateng lah, seumur gue tinggal di Jakarta, baru di sana gue makan enak."



" Klau Lo mau makan gratis datang aja ke rumah Mumtaz. yang lain juga sering ke sana." ucap Daniel.



" Yang lain siapa?"



" Anak BEM yang lain, yuda sering ngajak ngumpul di sana."



Romli terkejut," Sumpah?" kok gak d ayang ngajak gue. Ah elah, temen macam apa kalian ini." Romli mengamuk menjitak satu persatu temannya.



" Kita ajak ya, Lo aja yang bilang sibuk mulu." protes yang lain.



" Ya kan gue kerja Buat isi cacing perut gue, kenapa gak bilang mau kesana. ah elah..." mengacak-acak rambutnya kesal.



Mumtaz menarik kerah kemeja Romli ke luar ruangan," yang lain makanannya diabisin ya."



" Sip." sahut mereka sumringah



" Mum, lepas elu, ini kemeja satu-satunya yang masih bagus, bisa robek ini." ronta Romli yang dikekehin oleh Daniel dan Yuda melihat Romli diseret Mumtaz dengan tidak elegannyya.



Mumtaz melepas cekalannya begitu mereka sampai di parkiran yang sudah ada Ragad dan Rio yang menunggu mereka di dalam mobil Fortuner.



" Berisik, diem. Lo udah bayar kostan belum?"



" Belum, gue diusir. sekarang gue numpang di tempat teman."



" Siapa?"



" Gantian, di rumah anak prodi atau anak BEM."



" Kenapa gak bilang?"



" malu."



" Jatohnya malu-maluin kan." dumel Mumtaz sambil memasukan beberapa lembar uang ke kantung kemeja Romli.



Para teman yang lain memalingkan wajah seakan mereka tidak melihat, agar teman mereka itu tidak malu.



" Lo pindah ke rumah gue, di rumah ada kamar kosong."



Romli mengangkat kepalanya karena kaget, wajahnya memasang raut haru.



" Beneran?"



" Hmm, tapi gak gratis. Lo harus bersihin rumah gue."



" Siap, Lo tahukan kostan gue selalu rapih."



" Bentuk mantan kostan Lo kayaknya dibersihin atau enggak sama aja." celetuk Daniel.



" Ck, untung yang ngomong Birawa, kalau si Rio udah gue gibeng Lo."



" Rom, rumah gue masih banyak kamera kosong, bebas gak ada yang ngatur, pertimbangkan." ucap Rio.



" Aaa...gue jadinya terhura kan, punya temen baik kayak kalian " Romli menangis haru, dia tidak menyangka anak rantau semacam dia ada yang peduli.



" Makanya punya masalah tu ngomong, sok-soan dipendam sendiri. anak rantau, miskin, belagu. susah sendiri kan." omel Daniel.



" Niel, Lo dari tadi ngajak gue ribut, tapi gue lagi senang makanya gak gue gubris. gue anggap Lo lagi pms." setelah mengatakan itu Rommli berlari terbirit-birit.



\*\*\*\*\*



" *Jakarta Darurat \*\*\*\*\*\*\**."



" *\*\*\*\*\*\*\* Memasuki Indonesia*."



" *Ada Bom Di Belakang Istana*."



Beberapa headline portal berita yang menghebohkan pagi ini, semua siaran berita menayangkan peristiwa semalam, bahkan beberapa stasiun televisi menyiarkan langsung di lokasi peristiwanya.



" *Ini adalah tangkapan amatir dari ponsel yang menyaksikan langsung ledakan semalam, terlihat api begitu besar, bahkan suhu panasnya sampai ke tempat mereka  berdiri, aku sang saksi*." Penyiar berita membacakan beritanya.



" Sumpah, gede banget apinya. Ngeri gue." Celetuk Raja, mereka sedang berkumpul di taman.



Tiba -tiba layar menampilkan kondisi lantai empat saat beberapa petugas menyusuri lantai empat.



Kamera menangkap zoom beberapa foto yang ada di atas meja, jelas nampak di sana wajah Andre, Mulyadi, Alfred Navarro, dan beberapa elit polit1k lainnya ditengah tumpukan uang, narkoba, senjata api, bom, proyektil p3luru, dan hal-hal terkait dengan itu semua.



Seketika suasana kantin heboh, segera para mahasiswa gabut meluncur ke aplikasi sosmed, mengedit, dan langsung mempostingnya.



" Woi, pak ketu. mahasiswa mana mahasiswa. Ini negara lagi kacau." Teriak mahasiswa berambut cepak saat Yuda yang kebetulan lewat kantin.



" Lo mau gabung gak ke jalan? Kalau kita turun." Balas si Romli.



" Gas lah, ancur-ancur lah kita bareng. Daripada kita yang ancur mereka senang-senang." Sahut si hitam.



" Mereka tuh siapa?" Tanya Rendi.



" Lo gak lihat ini." Si kribo memperlihatkan tayangan penyelidikan TKP secara langsung itu.



" Anjir, berani banget ni tv." Ujar yang lain.



"Gimana pak ketu kita move ga ni." Tanya si kurus.



" Kalian bikinlah daftar yang ngikut, kalau lebih dari 100 ribu yang setuju turun, kita bicarakan secara serius." Ujar Yuda.



" Bareng kampus lain?" Tanya si blasteran.



" Kalau bareng, minimal satu juta. Kalau dikit, kita cuma dianggap ikan teri. Gak guna." balas si Joe.



" Woy, ketua BEM fakultas kuylah mulai buat pendaftaran." Seru si lesung pipi.



" Kalian koordinasi lah dengan masing-masing prodi, baru datang ke BEM, kita handle untuk selanjutnya." seru ketua BEM fakultas kedokteran.


__ADS_1


Entah bagaimana, kantin menjadi ajang diskusi antar mahasiswa yang terlihat intelektual, tidak ada sorot jenaka random di wajah mereka.....


__ADS_2