
Zahra dan Sisilia tengah makan di Sushi Tei bersama Adam dan Arka di mall Ciputra Karawaci sambil menunggu kedatangan Eidelweis dan Ayunda.
" Kak, apa keadaan sedang gawat? Tanya Sisilia pada Zahra.
Bukannya menjawab, Zahra menatap Adam dan Arka silih bergantian diikuti Sisilia.
" Saya enggak tahu, Sil. Kami dititah pak Hito." Jawab Adam.
" Bukan disuruh Mumuy?" Zahra bingung, penjelasan mereka beda dengan apa yang dikatakan Jeno.
" Mungkin, mengingat mereka dalam satu tempat."
" Kak Hito di Jakarta?" Zahra kaget, pasalnya tunangannya itu tidak memberitahukan apapun, biasanya orang itu mengabari dimanapun dia berada kecuali...
" Kalian disadap." Perkataan Arka memotong lamunan Zahra.
" Bisa dikatakan kita sedang perang cyber dengan peme-rint4h akibat d3mo yang lalu kita mensabotase semua sistem digital mereka.
" Kecuali di rumah semua hal yang masuk dan keluar dari ponsel kalian disadap oleh mereka." Tukas Arka.
" Itulah mengapa anak RaHasiYa kumpul di rumah kayak tuna wisma." Renung Zahra.
" Siapa pemimpin kalian?" Tanya Zahra.
" Untuk seluruh aspek di lapangan Bara, dan lapis kedua Akbar. Untuk RaHasiYa, Alfaska dan Daniel." Jawab Adam.
" Mumuy tugasnya apa?"
" Dia pelindung di balik layar. Persis saat SMA dulu." Arka terkekeh, matanya menerawang ke masa lalu.
" Maksudnya?"
" Gosipnya, dulu, kalau sekolah bersenggolan sama sekolah lain, pasti kak Bara dan genk yang maju, kalau mereka terdesak kak Akbar maju ala khas Hartadraja. Padahal di sekolah mereka hampir tidak pernah terlihat seperti berteman walau mereka itu most wanted.
" Iyalah, kepribadian mereka beda banget gitu, sulit aku bayangin mereka dekat." jelas Zahra menggebu.
" Tapi semuanya bakal lebih panjang kalau kak Alfa turun, bukannya meredam ujungnya pada tawuran karena mulut lemesnya kak Alfa." sahut Sisilia tanpa segan.
" Hehehe, bagi Alfa permasalahan yang berujung negosiasi perdamaian yang selalu Akbar lakukan gak seru, terlalu monoton dan gak keren, makanya dia memperparah." ucap Adam terkekeh geli.
" Ujungnya mumuy yang membereskan semuanya, baik dengan cara negosiasi maupun kekerasan."
" Kenapa?" Tanya Zahra, ia ingin mengetahui sisi lain adiknya ini.
" Mumtaz itu bukan tipikal pendiam, tapi gak banyak omong juga, jadi setiap dia ngomong refleks aja kita patuhi, apalagi muka tenang wibawanya itu, gak bisa dibiarin. Beda sama Alfa, memang dia dilahirkan untuk bikin ribet." Tukas Arka.
" Sebagai ketua kelas kakak pasti tekanan bathin ya punya teman sekelas macam kak Alfa." Ringis Sisilia.
" Udah kebal aku mah." Ucap Adam santai.
Drrt...drrt..,
" Hallo." Jawab Adam saat ponselnya ada panggilan masuk.
"........"
" Oke, kita ke sana."
" Kita harus pergi, kak Adel dan Ayu sudah menunggu di mobil." Ucap Adam sambil mengambil beberapa papperbag yang berisi makan dan minuman pesanan Cassandra dan yang lain.
" Sebelum ke mobil ke outlet pizza dulu ngambil pesanan." Imbuh Sisilia.
*******
Tatapan petinggi RaHasiYa memicing menahan emosi melihat Janu yang menangis meraung di layar lebar itu, mereka menyaksikan tangisan pilu seorang seorang suami yang kehilangan istrinya.
" Bisma..." Panggil Janu, Bisma yang sedang menyisir koridor segera berlari ke Janu.
" Sambungkan aku padanya." Pintanya pada Bisma.
Bisma menyerahkan earpieces-nya pada Janu." Bicaralah."
" Hallo, pak Janu." Salam Daniel saat earpieces terpasang di telinga Janu.
" Saya tahu saya tidak..."
" Katakan apa yang anda inginkan, akan kami usahakan." Potong Daniel yang paham Janu sungkan mengutarakan maksud hatinya.
" Serahkan dia padaku, bagaimana pun keadaanya, dan dimanapun kalian menemukannya." ucap Janu, dadanya masih sesak melihat istrinya bergelimang darah.
" Tentu, keinginan anda kewajiban kami. Kami turut berduka." Ucap Daniel bersahabat.
" Terima kasih." Lirih Janu dengan pandangan mengarah ke Amelia yang sudah terbujur tak bertenaga.
" Ada lagi keinginan anda?"
" Datanglah ke Sen4yan, ancam mereka yang mencoba menghalangi langkah kami, bantu pak Agung. Akan saya berikan surat rekomendasi untuk anda atas nama saya."
" Baiklah, ada lagi."
" Tidak, cukup itu saja. Selebihnya biar saya yang urus."
" Baiklah, sekali lagi kami turut berduka." Tukas Daniel sebelum obrolan itu disudahi.
" Muy,..."
" Kalian para konglomerat pergilah ke Sen4yan, urusan ketu4 biar saya yang menyelesaikannya." Mata Mumtaz mencari sosok Ibnu yang tidak ada di ruangan.
" Kemana Ibnu?" Tanya Mumtaz.
" Di ruangannya, bawa DVD dari gue" sahut Bara.
Mumtaz manggut-manggut." Kalau gitu gue jalan dulu."
******
Ke-tu4 masuk ke mobil dengan mimik ketakutan, ia mengusap kasar wajahnya yang tegang, bercampur panik, dan terkejut. Dia masih tidak percaya dengan apa yangs udah dia lakukan dalam satu hari ini.
Sang sopir melirik lewat kaca dasbor pada penumpangnya, ini kedua kalinya sang sopir melihat tuannya kacau.
Ketu4 tumpahkan Handsinetizer sebanyak-banyaknya ke telapak tangannya lalu menggosoknya sekeras mungkin.
Ia duduk bersandar melonggarkan dasinya, wajahnya sudah dipenuhi keringat dingin, nafasnya memburu, ia menutup matanya dengan tangan mijit keningnya. Dia sedang berpikir bagaimana caranya dia bisa meloloskan diri.
" Pak, kini kita kemana?" Tanya supir.
" Ke rumah."
" Baik."
Ketu4 merogoh ponselnya dari jas, lalu menelpon seseorang.
" Hallo.." ucap ketua.
" Hallo, ketu4."
" Saya ingin kamu mempersiapkan visa ke Sing4pura."
" Tidak bisa dadakan." Jawab sang lawan bicara.
" Tidak ada yang bisa untuk saya, kamu tahu siapa saya." Ketua masih bisa menyombongkan diri.
" Berita mengenai Toni sedang santer. Pemerint4h sedang hati-hati."
" Dan kamu kemudian yang akan ditangkap kalau saya tertangkap, masih hangat dollar yang tersimpan di rekening kamu dari tindakan money laundry, pemalsuan berkas atas kasus pak Mahmud 10 tahun yang lalu, serta korvps1 dari penyelundupan sen-jata Navarro dan yang lainnya yang dengan senang hati akan saya beberkan." Ancam ketu4.
Di seberang, setelah menutup telpon, orang yang menjadi lawan bicara mengetatkan rahangnya menahan emosi, tangannya dikepal kuat-kuat.
" Hehehe, apa saya bilang dia tidak akan setia kawan pada anda. Jadi terimalah kerjasama dari saya." Ucap seseorang yang duduk pongah di depannya.
" Apa keuntungannya untuk saya."
" Ck ck...kau bukan dalam posisi bernegosiasi, setelah apa yang kau lakukan, sampai hari ini masih bernafas saja kau seharusnya merasa beruntung." Desis orang itu tajam.
" Pilihan untuk mu, kamu berakhir di tangan ku atau menyerahkan diri."
Menyadari kesalahannya, lelaki tua itu menghembuskan nafas berat." Baiklah saya akan menyerahkan diri."
" Bagus, itu bisa kau lakukan setelah urusan dengannya beres. Sampai jumpa di bandar4. Ingat berkas itu saya punya seluruh detilnya, kau ingkari kesepakatan kita, ku pastikan kaki mu lumpuh permanen dalam penjara." Lelaki muda itu beranjak meninggalkan ruang kerja pria baya itu memandang kasihan wanita tua yang mvlvtnya disump4l lakban dan kedua tangannya diik4t, ia duduk ketakutan di sudut jauh dari pintu.
" Jangan sentuh istri saya, ku mohon." Suara lirih itu tampak meyakinkan.
" Apa 10 tahun yang lalu pak Mahmud memohon seperti ini padamu sebelum kau hancurkan karirnya?" Suara dingin itu membuat bergidik tubuhnya yang tidak lagi gagah.
" Kau bersalah, sangat bersalah. Jadi berhenti merengek layaknya anak balita. Kau harus membayar setiap pesakitan yang dirasa anak dari korban itu."
Pria bernama Parmadi itu membelalak kaget," kau tahu tentang dia?"
" Tentu, kau pikir kenapa aku begitu mendend4m?"
" Apa itu kau? Tapi nama mu berbeda dengannya?"
" Di neg3ri, segala hal bisa terjadi." Ucapnya sebelum berlalu dari ruangan itu.
Sepasang insan tua itu dapat bernafas lega saat pintu itu tertutup rapat.
Parmadi mendapat tatapan bertanya dari istri cantiknya." Sayang, maaf. Aku telah melakukan kesalahan besar, saatnya aku menebusnya." Ucap Parmadi sambil melepas ikatan istrinya.
\*\*\*\*\*
Mobil itu melaju sedang karena lalulintas tengah padat.
Dari kaca spion kanan, kiri dan dasbornya, sopir dapat memastikan kalau mereka sedang dibuntuti oleh dua pemotor sport. Pasalnya dua motor itu mengikuti mereka sejak mereka keluar dari area apartemen Janu.
Sang sopir hanya diam, dia enggan memberitahukan tuannya, dia punya firasat tuannya telah melakukan hal yang gila seperti di kediaman Agung.
Mobil itu berhenti di depan teras," mobilnya jangan dipindahkan saya enggak lama." kata ketu4.
Ke-tu4 berlari terburu-buru menuju ruang kerjanya tidak menyadari putri bungsunya yang duduk santai di ruang tv melambai tangan padanya yang menyiratkan keheranan di raut wajahnya melihat ayahnya terlihat panik.
Cklek...
Arumi memasuki ruang kerja ayahnya perlahan berjalan kecil ke arah meja ayahnya yang sibuk mencari sesuatu di laci mejanya.
" Pa, *are you okay*?" Tanya Arumi khawatir, pasalnya wajah ayahnya terlihat tegang dan pucat.
" Hah?" Sejenak ketua bingung maksud pertanyaan putrinya, namun ia tetap meneruskan mencari sesuatu.
" Apa yang papa cari?"
__ADS_1
" Pasport papa." Ia membuka lemari besinya yang terletak diujung lemari bukunya, di sana ia menemukan apa yang dia cari."
" Sayang, papa sedang buru-buru. Jadi gak bisa bicara banyak sama kamu" ketua mencium pipi Arumi sebelum berlari meninggalkan ruang kerjanya.
" Pak, sekarang kita ke bandara." Ucapnya pada sopir setelah duduk di bangku belakang.
" Baik, tuan."
\*\*\*\*\*
Di satu ruangan di band4ra, telah duduk pria baya tambun dengan satu kaki digerakkan naik turun karena cemas berlebihan. Sesekali ia menyeka keringat yang mengucur berlebihan di dahinya padahal ruangan bersuhu dingin.
Ceklek...
Pria baya itu berseringai sumringah karena lega menengok ke arah pintu, namun apa yang dilihat bukan apa yang dia mau.
Seringai itu perlahan menurun, tubuhnya menegang, matanya perlahan sayu yang kemudian berubah ketakutan. Matanya mengawasi setiap langkah dari Parmadi dan pemuda yang berjaket kulit, bercelana jeans yang berjalan di belakang Parmadi.
Parmadi duduk di kursinya, Rio duduk di sofa mengeluarkan laptopnya, sedangkan Mumtaz, pemuda yang membuat ketu4 bergidik ketakutan berdiri di samping Parmadi. ia sama tidak berdayanya dengan ke-tu4.
Klik....
Suara kuncian itu refleks mengundangnya untuk berbalik kembali ke pintu, keringat di tubuh tambun itu membanjir. Satu pemuda lagi berdiri di samping pintu setelah mengunci pintunya.
" Kau...." Ketu4 melototinya demi menyembunyikan ketakutannya.
" Saya tidak punya urusan dengan mu, pergilah. Kami ada urusan penting." Ucap ketua pada Mumtaz.
" Benarkah pak Parmadi?" tantang Mumtaz secara sarkasme
" Saya disuruh menyediakan visa ke Sing4pura. Ini, tugas saya sudah selesai. Permisi."
Tak mau membuang waktu Parmadi berlalu dari ruangannya dengan Jeno yang sudah membuka pintunya.
Ketua hendak mengekor, namun bahunya meremas kuat oleh Mumtaz yang tersenyum miring padanya.
" Kau tidak akan kemana-mana, kita sedang menunggu seseorang." Bisikan Mumtaz menyeramkan.
Tok..tok...
Cklek...
Tak...taak ..tak...
Langkah kaki itu memancing rasa penasaran ke-tu4, namun tidak berapa lama matanya membola sangat besar saat mendapati siapa yang berdiri di depannya.
" Ka...kau...." Gagapnya ketakutan. Ia mengangkat bo-kongnya ingin pergi tapi tekanan di bahunya memaksanya duduk kembali.
" Saya baru dari rumah sakit, istriku meni-nggal dia membawa serta anak yang dikandungnya ke alamnya. Anak yang sudah lama kami tunggu dan kau bvnvh dengan mudahnya. Harus saya apakan kamu agar semua dendam saya terbalaskan." BRAK!!! Bentak Janu menggebrak meja kuat-kuat.
Ke-tu4 terlonjak, nafasnya sesak. Ia melepas dasinya yang terasa mencekik. padahal dasi itu sudah longgar.
" Ja...Janu ..kita bisa membicarakannya...sa..saya minta ma..."
BUKH!!"
Satu tonj-okan keras di pipi ketu4 dilayangkan sampai kepala itu menoleh ke samping.
BUGh!!!
Kembali satu pukulan menghajar dagunya yang memuncratkan darah dari mulutnya.
Mumtaz menjauh, dia membiarkan Janu memukul membabi buta ketua yang sudah pasrah tak berdaya.
" Apakah anda akan menghabisinya?" Tanya Mumtaz tenang.
Janu yang duduk di atas tubuh tambun itu berhenti memukul, lawannya sudah diambang tidak sadar. Kemudian dia berdiri dan menjauh dari tubuh tua itu.
Mengambil batang nikotin dari saku jasnya yang disampir disandaran kursi Parmadi, kemudian menyesapnya kuat-kuat.
" Bangunkan dia, dia harus mendengar perkataan saya."
Jeno mengambil air dalam gelas dari meja, kemudian menyiramkannya ke wajah ketu4 yang berbaring di lantai.
" Aarrkgghhh..." Ke-tua kaget bercampur sakit akibat siraman air itu.
Jeno mendudukan dia walau nafasnya masih sesak, menunggu ke-tua menyesuaikan diri, barulah Janu bicara. Biar dia merasakan menjadi mayat saat bernafas, jadi Buat dia tidak bisa bergerak dan bicara secara permanen."
Ketu4 menegang, ia berusaha menggeleng, namun tidak kuasa.
" Baik, biar saya yang lakukan." Saat Mumtaz hendak melangkah mendekati ke-tua, gerakannya dicegah Rio.
" Biar Jeno yang melakukan."
" Dia kewajiban gue."
" Dan kewajiban kami menjaga lo menjadi monster." Ucap Jeno membaringkan kembali ke-tua.
" Lo jelaskan apa yang Lo mau, gue yang eksekusi."
Mumtaz menghela nafasnya gusar." Lo masih terluka gak mungkin gue biarin Lo bertindak."
" Biar gue, Lo awasi si Mumtaz." Rio menarik Jeno dan mengambil alih tempat sepupunya.
" Katakan." Rio menatap Mumtaz.
" Bikin dia lumpuh dari pinggang sampai mata kaki."
Krek..krek...krek...
Atas arahan Jeno, Rio meng1njak kuat pinggang sebelah kiri dan kanan ketu4 yang kakinya sih diangkat Jeno.
Bersamaan Jeno mem4tahkan dengkulnya, dan bersama mereka mer3takkan paha, tulang kering, dan pergelangan kedua kaki ketu4.
Janu melihat itu dengan terkejut, pasalnya mereka melakukan itu tanpa kesulitan dan ragu, mereka tahu bagian mana yang harus dieksekusi, kesimpulannya mereka profesional.
" Selanjutnya." Kata Jeno.
" Ir1s li-dahnya, caranya tusuk bagian tengah tepat di pertengahannya be-lah dua sampai depan, kemudian po-tong di tempat Lo menusuknya." Sahut Mumtaz malas.
Rio dan Jeno sudah mengenakan sarung tangan berbahan litex, Rio membuka paksa mulut ke-tua, Jeno menjepit lidah, lalu mengeluarkan lidah tersebut kemudian melakukan persis apa yang dikatakan Mumtaz.
Ketu4 tidak mampu bersuara hanya lirihan tidak jelas darinya dengan air mata terus mengalir disertai air liur.
Selama proses itu Juna memperhatikan raut tanpa ekspresi Mumtaz, tidak ada penyesalan di sana.
" Bagaimana pak? Masih ada lagi?" Tanya Mumtaz.
Jeno tidak merespon, dia terlalu tenggelam akan lamunannya.
" Pak? Pak Janu." Sentak Rio, dia pegal memegangi Ketu4 yang terus meraung yang suaranya terdengar rengekan karena setengah lidahnya sudah hilang.
" Apa?" Janu tersadar dari lamunannya setelah pundaknya ditepuk Jeno
__ADS_1
Darah segar terus mengucur dari mulut ketu4.
" Apa lagi yang anda inginkan?" Tanya Mumtaz.
Janu memandang kasihan pada ke-tua yang rupanya sudah tidak karuan." Cukup. dia punya anak gadis, saya ingin dia menyaksikan anak gadis menderita hidup dengan saya." Ucap Janu sambil menyeringai devil.
Ketu4 meluruh menangis, ia kesakitan, namun perkataan Janu lebih menakutkan.
" Saya akan memastikan dia hidup. Lama tidaknya tergantung tuhan." Ucap Mumtaz.
Mumtaz lantas melakukan panggilan." Prof, tolong kirim ambulance ke bandara. Saya tunggu."
" Yo, pastikan cctv ruangan terhapus total. Alibinya sistem erorr."
" Siap." Rio kembali ke meja.
" No, sambil nunggu belilah kopi dan cemilan." Ucap Rio.
" Iye..."
" Saya harus kembali ke rumah sakit." Kata Janu.
" Silakan Bisma yang akan mengawal anda." Ucap Mumtaz.
Jeno mengantar Janu ke parkiran.
\*\*\*\*\*
" Sedang apa kau?" Tanya Ibnu pada Nando yang duduk di depan ruang kerjanya.
" Disuruh nemenin Abang sama bang Mumtaz."
" Memang dia kemana?"
" Gak tahu."
" Yang lain ada?"
" Cuma bang Dewa dan bang Dimas."
" Suruh mereka kemari." Ibnu kembali masuk ke ruang kerjanya.
\*\*\*\*\*\*
Di Senayan, kedatang empat nama besar yang disandang para pengusaha muda berpengaruh Daniel, Alfaska, Akbar, dan Bara mampu melahirkan pertanyaan dikalangan para poli-tis1.
Mereka mengadakan rapat dengan ketua fraksi."
" Saya tidak akan berbasa-basi. Pertama nyatanya negara dalam keadaan sulit baik, ekonomi, sosial, hukum dan tidak lama lagi menuju politik jika kalian mengambil langkah yang salah." Ujar Bara.
" Pak Bara, bukankah Anda terlalu mencampuri urusan kami?" Tanya salah satu ketua fraksi yang tidak menyukai sikap sok tahu Bara.
" Itu terserah anda menyikapinya, tapi yang saya tahu bapak ke-tu4 tidak lama lagi akan dipastikan menjadi tersangka pembv-nvhan dan perencanaan pembv-nvhan."
Tarikan nafas hebat terdengar, mereka saling lirik.
Daniel melirik Agung yang duduk tidak nyaman di kursi empuknya.
" Pak ketu4 telah mene-mb4k Amelia, istri dari pak Janu, dan kami baru dapat laporan beliau menin-ggal beserta anak yang dikandungnya."
Semuanya terbelalak terhenyak suhu ruangan meningkat tajam, mereka *speechles*.
" Selain Amelia, Brian, putra dari pak Agung juga menjadi korban, dia tertembak di pinggangnya."
Mata mereka makin terbuka lebar, dengan mulut menganga.
" Kami RaHasiYa memliki semua buktinya, bisa saja kami bongkar sekarang juga, tapi apa kalian siap mendapatkan amarah yang lebih besar dari rakyat.
" Insiden pak Toni saja belum surut marahnya, bayangkan jika rakyat mengetahui tragedi ini sekarang juga. Amukan yang bagaimana yang akan terjadi di luar sana." Ucap Alfaska mendramatisir.
" Jadi hempaskan sikap keras kepala dan jumawa kalian, lakukan sesuai aturan yang berbasis Pancasila bukan keuntungan pribadi. Sejarah akan mengukir nama kalian entah sebagai apa." Seru Akbar dengan wibawanya khas Hartadraja yang santun.
Jika Birawa dikenal sebagai kecerdasan, Atma Madina dikenal sebagai kepemimpinan yang arogan, maka Hartadraja dikenal sebagai nama yang santun namun tidak bisa ditolak.
\*\*\*\*\*\*\*
" Bang, Lo panggil kita?" Tanya Dewa yang mana tangannya membawa nampan berisi makan siang beserta minumnya berupa juice jeruk dan air mineral dengan Dimas yang berjalan santai.
" Hmm, taruh saja di meja. Makasih."
Bukannya menaruh di meja sofa, Dewa menaruh makanan itu di atas meja kerja Ibnu tepat di depannya.
Ibnu menoleh pada dewa dengan raut datar." Gue lebih milih bengep di elo daripada hancur di tangan bang Mumtaz."
" Makan dulu, bang. Kita gak bakal bahas apapun sebelum Abang makan. Itu perintah bos Daniel."Dimas menjelaskan.
Ibnu sedang tidak bernafsu makan, tapi dia tahu para sahabatnya tidak segan-segan akan melampiaskan kekesalannya pada mereka berdua.
Meski malas mau tidak mau dia makan, dengan mata terus menatap monitor komputernya yang baru membuka lagi bagian dari file yang diberikan Mumtaz dulu.
Di bagian ini, mulai tampak jelas peranan Toni, Parmadi, dan Ke-tu4. Mereka ditugaskan untuk memposisikan ayahnya yang bekerja di bagian bea-cukai sebagai tersangka korupsi.
Ibnu menaruh sendok dan garpunya, menjauhkan piring dari jangkauannya, tangannya diletakkan di atas mouse, ia membaca file yang berisi 25 lembar itu.
Ia terus membaca mengabaikan dua Insan tersebut yang terus menilai raut wajahnya yang semakin lama semakin membuat mereka khawatir.
" Kalian tahu pria bernama Parmadi?" Dua orang itu terjengkit, diam menimbang di pikiran masing-masing.
Dapat Ibnu lihat tubuh Dewa dan Dimas menegang, ujung mata mereka saling melirik.
" Kalian tidak ingin bicara?" Ibnu menatap menilai keduanya.
" Mungkin sekarang dia sedang di mab3s polr1 untuk menyerahkan diri." Jawab Dewa pasrah. Dia mendapat pesan dari Ibnu untuk tidak mengatakan apapun perihal Parmadi.
Kedua ujung bibir Ibnu terangkat, " kebetulan, kalian jaga mab3s. Nanti malam saya ingin berkunjung ke sana. Laporkan dimana mereka di tempatkan."
" Bang, *please* jangan persulit kita."
" Tidak akan, kalau kalian tidak membuat saya berpikir bahwa kalian tidak lagi menghormati saya sebagai atasan dengan tidak mematuhi perintah saya."
" Oke, *fine*, baik. Laksanakan!" Ucap Dewa sedikit menekan setiap katanya.
" Kalian bisa pergi."
" Bang,..." Ucapan Dewa menggantung, dia menatap Ibnu dengan perasaan campur aduk.
" Sedahsyat apa hal yang akan gue temui tentang Parmadi, Toni, dan ketu4 sehingga Lo berdua begitu mengkhawatirkan gue."
" Bang, gue pernah kerjasama dengan Gonzalez dan Navarro. Mereka bukan penjahat biasa."
" Pada akhirnya Gonzalez tumbang, Navarro menunggu massanya. Gue harus mengetahui sesuatu yang tidak membuat gue merasa tidak berharga, Wa."
" Bang, gue *respect* sama Lo seperti gue *respect* yang lain, tapi bang Mumtaz sudah merencanakan ini sebaik mungkin." imbuh Dewa
" Gue....kepingan ingatan itu satu persatu telah bermunculan,Wa..." lirih Ibnu....
__ADS_1