Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 14. strategi Tanura


__ADS_3

" jadi maksud anda apakah kami harus memperlakukan keluarga Mumtaz sama halnya dengan perlakuan kami dengan keluarga Atma Madina? Heru minta penjelasan tepatnya


" iya." dengan lugas Bara menjawab


Mumtaz sadar apa yang dia lakukan terhadap Tanura beresiko tinggi berurusan dengan Hartadraja yang terkenal melindungi keluarga perempuannya dengan ketat.


dia mempersiapkan diri untuk ini. baginya tidak diperbolehkan ada ruang takut dalam dirinya demi melindungi keluarganya. jika hari dimana dia harus berperkara dengan klan Hartadraja, maka dia dengan sepenuh jiwa akan menerima dan menghadapi segala resikonya.


" astaga, Bar, si Akbar lagi gawat, " teriak Ibnu yang sibuk dengan hpnya. semua orang terperanjat kaget dengan penuturan tiba-tiba ibnu.


" emang sekarang dia dimana?"


" dia di club d'cupid. anjing emang si Tanu. dia coba jebak Akbar pake obat perangsang. " Ibnu marah. mendengar penuturan Ibnu Hito bingung.


Mumtaz , Bara, dan Jimmy. langsung sibuk dengan masing-masing hpnya. sedangkan Daniel tertidur manjah di sofa pojok.


" zal , Lo dia mana? jemput Akbar diclub d'cupid. kemungkinan dia bareng Tanu." Akbar nelpon paralel Rizal, dan ubay.


" bay Lo..."


"iya gw lg otw rumah paman gw. anjir macet banget. " rutuk ubay disebrang


" posisi ubay Dimana, rumah pamannya ubay dimana?" tanya Mumtaz kalem.


" ubay di Cilandak, pamannya di Kemang." balas Bara.


" Raka, Lo dimana? sekarang Jimmy turut sibuk


" dirumah kenapa bro?" memang rumah Raka berada disekitar Kemang.


" gw minta tolong jemput pamannya ubay. ini urgen. Bara bakal sambungin Lo sama ubay." ucap Jimmy.


" sip gw otw...(panggilan masuk paralel dari ubay). hallo bay...."


" si Tanu pisah sama si Akbar, si Akbar dibawa sama orang suruhannya kayaknya." Ibnu tetap mengawasi Akbar.


" tolong ada yang bangunin juragan Daniel. kita butuh dronenya sekarang." titah Ibnu kesal


Jimmy yang posisinya dekat Daniel langsung menabok keras pipi Daniel.


" apa sih anjir sakit Jim." Daniel marah besar


" pending marah Lo. kita lagi ngejar si Akbar, dia kena perangsang. pasang drone Lo." Jimmy bertuah


dengan rutukan Daniel melaksanakan tugas. " drone ready. gw pake dua drone yang satu biasanya, yang satunya drone uji caba kita ya."


" udah in ID Akbar, Tanu.? tanya Ibnu.


" si Akbar udah. tanu belum. tinggal Lo masukin ke drone dia otomatis masang sendiri.


Mumtaz diam sibuk memasang penghubung laptop ke tv dikantor om Erwin.


seketika tv itu menyala dengan menampilkan perburuan Akbar dan Tanur. dilayar dibagi dua bagian tampilan gambar. yang satu memperlihatkan posisi Tanura, dansatunya lagi posisi Akbar dengan warna suhu tubuh merah.


" anjir di Akbar kenapa gini dah." dimobil yang membawa akbar terdapat tiga siluet orang termasuk Akbar.


" zal Lo ke hotel Darma, ikutin dua orang yang bawa Akbar.!" Bara, dan Jimmy masih terhubung secara paralel dengan beberapa orang. yang sekarang sambungan telpon itu sudah di loudspeaker, sehingga semua orang yang dikantor dapat mendengarnya


orang-orang yang berada didalam kantor menegang melihat adegan di tv yang memperlihatkan segala pergerakan dari Tanura dan Akbar.


lokasi Akbar. hotel Darma


Rizal berdua dengan Tino menggunakan topi dan masker melihat tiga orang yang menuju lift dimana satu orang diantaranya berjalan dengan gelisah dan tidak nyaman. segera mereka mengikuti tiga orang itu dan masuk lift yang sama..


sampai dilantai tiga lift berhenti Rizal dan Tino keluar tanpa beban mempersiapkan posisi mengintai. tiga orang tersebut tanpa curiga keadaan berjalan terus menuju kamar bernomor 321. mereka mengetuk pintu yang di Ika oleh seorang wanita berpakaian seksi. sebelum pintu tertutup rapat, Rizal melempar sepatunya yang diharap jadi pengganjal pintu.


" bos. boleh masuk? tapi cctvnya" tanya Rizal ke Bara yang berada disebrang.


" masuk aja. cctv beres. selanjutnya terserah Lo. yang penting target selamat."


" copy." mereka berdua masuk ke kamar dengan mengendap - endap berusaha tidak menimbulkan suara.


mereka langsung menuju kamar tidur yang terdengar suara terengah-engah


mereka berdua berdiri didepan pintu yang tidak tertutup dan membuka lebar pintu itu dengan kasar. mereka terbelalak terkejut dengan pemandangan didepannya. Dimana Akbar sedang mencoba melepas pakaian dengan seorang wanita muda bayaran yang sudah setengah telanjang diatas ranjang yang ditonton oleh dua orang yang satu memegang kamera untuk merekamnya. berlari merebut kamera dan melemparnya.


" anjing Brian. Lo apain temen gw." Rizal memisahkan Akbar dari wanita tersebut dan segera membawa Akbar ke kamar mandi.


sementara Brian dan temannya yang membawa Akbar diurus oleh Tino yang memang jago bela diri, hingga dalam waktu singkat urusan Brian dan temannya beres diringkus. begitu juga wanita panggilan itu diamankan.


" shitt sial... Bar, Akbar woy sadar woy..sih bar lepasin gw....anjir jangan cium pipi gw..aaaaaaaa... Bara toloooonggg." Rizal sendiri mengurus Akbar kelimpungan karena obat perangsang tersebut sedang bekerja.


" ya Allah. Akbar jangan grepe-grepe gw. ah woy ogeb angkat tangan Lo dari bawah gw. aish Bar tangan Lo diem Napa. anjir tutup mulut lo jangan terengah-engah begitu...aaa....bar jangan tarik rambut gw elah." Rizal tak henti berkeluh kesah


" woy Tino coba Lo hubungi si Ubay lama banget dah. tolongin gw Nooo ." teriak Rizal kepayahan dari dalam kamar mandi.


" sorry zal. gw takut. gw gak berani. katanya Ubay dia otw. lagi macet zal. sabar ya....." jawab Tino didepan pintu kamar mandi mengasihani.


" sabar Pala lo peyang ni orang aduh woy gw rendam pake air dingin aja ya." Rizal berjalan ke bathtub dan membuka keran air ke dalam bathtub.


kantor CEO D'lima


" Rizal, ini gw Mumtaz, rendam Akbar pake air anget. terus kasih Paracetamol atau Lo main berantem-beranteman aja Sama Akbar supaya Akbar banyak gerak." mendengar titah mumtaz semua orang memperhatikan Mumtaz dengan bertanya. Mumtaz mangangkat hpnya.


" Google bapak-bapak. gw juga gak tau bener atau gak. daripada Rizal abis yang penting usaha kan" jelas Mumtaz santai.


hotel Darma


" aish woy Bar. ampun dah itu tangan jauhin dari ini bawah gw... jangan gelitik pinggang gw... ya ampun woy keperawanan gw..eh...keperjakaan gw.. mama tolong Dede..." Rizal sibuk mendisiplinkan tangan Akbar yang masih berada dibawah pengaruh obat tersebut.


dengan memakai pakaian lengkap. karena Rizal takut membuka baju Akbar, dia masukan Akbar sampai kepalanya masuk ke dalam bathtub yang dipenuhi air hangat atas nasihat dari Mumtaz. dengan berusaha menjaga agar tangan Akbar tidak menyentuhnya. sungguh malam yang melelahkan.


penjemputan paman ubay yang berprofesi dokter tidak lah mudah adanya penggalian jalan dan perbaikan jalan membuat jalan macet, meski mengendarai motor, tetap tidak bisa mengebut ke tempat tujuan.


orang-orang yang berada didalam kantor om Erwin meringis ngeri menahan nafas membayangkan posisi mereka berada diposisi rizal. melalui drone tersebut mereka dapat melihat, mendengar apa yang terjadi pada Rizal.


butuh waktu empat puluh menit Ubay dan Raka sampai di hotel kejadian perkara. mereka langsung menuju kamar yang sudah diberitahukan oleh Bara melalui telpon begitupun dengan posisi Rizal.


tok...tok...


" zal ini gw ubay sama paman gw. buka zal." panggil ubay didepan pintu kamar mandi


pintu terbuka memperlihatkan keadaan rizal dan Tino yang memprihatinkan pakaian di mereka robek dan basah, rambut berantakan muka mereka sama-sama lelah. mereka merosot duduk dipintu kamar mandi.


paman Ubay yang bernama pak Doni langsung masuk kamar mandi, beliau terbelalak kaget melihat keadaan Akbar yang terkulai lemas.


" tadi habis izal kasih obat paracetamol om. terus ya... gitu diajak berantem om abis dia grepein kita mulu."lirih Rizal.


" ooh...iya gak apa-apa." komentar om Doni enteng sambil memeriksa Akbar. beliau menyuntik Akbar dibantu Ubay, karena Tino dan Rizal sudah tidak bertenaga


" Bara, mending Lo pada kesini gih. sumpah gw capek. sekalian bawa pakaian buat gw Sama Tino." titah Rizal ke saluran seberang.


********


telah berkumpul dalam kamar hotel bernomor 321 om Hito, om Erwin, om Heru, Bara dan gengnya, Mumtaz dan para sohib, Zayin, Raka, Tino, Brian dan temannya, dan wanita panggilan. sedangkan Akbar didalam kamar tidur dengan om Doni.


" gimana om keadaan Akbar?" tanya Bara langsung begitu melihat om Doni keluar dari kamar tidur.


" Alhamdulillah membaik. tadi syukurnya ditangani dini oleh Rizal. pasien diberi obat perangsang tingkat menengah. siapapun yang memberinya menginginkan pasien bergairah dalam waktu lama." diagnosa om Doni.


" masa segitu level menengah. dia ganas Lo om." Rizal mengadu.


" itu karena kemungkinan pasien tidak pernah mengkonsumsi yang memabukan jadi tubuhnya kaget sehingga beraksi berlebihan."


" sebenarnya pasien juga mencoba bertahan, tapi sekali lagi dia kaget."


" terimakasih dok atas keterangannya." ucap om Hito.


" baiklah saya kembali ke kamar memantau pasien."


saat ini seluruh perhatian ditujukan kepada Brian sang kepala geng Bina BANGSA.


" udah keluar rumah sakit Lo." sengit Bara.


" Lo, kita bebasin asal jujur kasih keterangan. Lo paham sekarang siapa yang Lo hadepin kan?"


menarik dan membuang nafas berat Brian menganggukan kepala.


" gw disuruh Tanura buat bikin video sex Akbar. cuma itu tugas gw." pengakuan Brian


mendengar itu. om Hito terkejut. seribu pertanyaan sekarang berada dalam kepalanya


" Lo pasti dibawah ancaman Tanura. gw bakal bantu Lo. kalo Lo kerjasama sama gw.!"


" Lo bisa jamin gw bebas dari jalang itu?" harap Brian.


" gw jamin, tapi Lo ungkap semua tentang dia ke gw beserta buktinya." tawar Bara.


" tentu. kapan pun Lo mau gw siap." Brian terima.


" sekarang Lo asal dapet video sexnya kan?" tanya Daniel.


" iya." lirih Brian yang frustasi karena misinya gagal. dia sungguh tidak tahu jika Akbar dekat dengan Bara. kalo dia tahu, demi apapun dia tak akan Sudi terlibat.


" kenapa Lo Niel, mau jadi pemeran pengganti?" ledek Jimmy.


dengan mendelik, " maksud gw tinggal cari orang mau ngelakuin tapi postur tubuh dan wajah mirip. kalo bisa. Lo tau kan di film-film gak semua adegan panas dilakuin bintangnya" Daniel menjelaskan secara pelan ke arah muka Jimmy dengan sebal.


" emang ada orang yang mirip begitu?" tanya penasaran Jimmy.


" kita cari lah."


" hadeeuhh buntu lagi." sarkas Jimmy. mendapat pelototan sok horor dari Daniel.


" si Tanura itu orangnya gaptek gak sih?" tanya Ibnu. dijawab mengedikan bahu serempak oleh mereka.


" ADA. temen gw. si Andi. mukanya mirip Akbar juga postur tubuhnya.!" ujar Tino memperlihatkan sebuah photo bersama di hpnya.


yang diambil oleh Jimmy dan digerubungi oleh yang lainnya. sekilas sih mirip, tapi.."


" woy apa Lo pikir si Tanu bakal mantengin tu video. kagak kan. udah sih itu aja. No, telpon temen Lo." kesal Daniel.


mengambil hpnya kembali Tino langsung menghubungi Andi.


" btw. si Andi mau ngelakuin adegan ranjang sambil ditonton gini.?" ragu Jimmy.


mereka saling menukar pandang.


" dia fuckboy. semua cewek dimakan." ucap asal Tino.


" Lo juga?"


" gw sohiban sama Rizal menurut Lo?" tanya balik Tino.


mereka menggelengkan kepala.


tak berapa lama pintu kamar diketuk. dan masuklah orang yang dibilang mirip Akbar.


mereka semua terbelalak melihat orang itu. saking miripnya.


" om Hito yakin om Damar gak punya anak kembar? tanya asal Jimmy. yang tidak digubris oleh om Hito.


salah tingkah mendapat perhatian intens dari banyak orang, Andi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" hai.. nama gw Andi. temennya Tino. tadi katanya disuruh kemari."


" iya emang. sorry kita gak sopan. sesaat kita cuma terpana aja sama Lo." aku Jimmy.


" kita, Lo aja kalee." cibir Daniel.


" gini Di, kita mu minta tolong sama Lo...." Bara menjelaskan maksud dan tujuan dibutuhkannya Andi di hotel itu.


mengarahkan pandangan ke seluruh orang yang ada dalam ruangan mencari tahu bahwa ini hanya prank semata, tapi semua mata terlihat serius.


" ini beneran serius?" Andi ingin memastikan.


" banget. Lo bisa kan " jawab Bara.

__ADS_1


" gw sih gak masalah, tapi aneh aja gitu. gw bakal direkam. kayak bintang porno gw tu."


" gw pastiin rekaman itu gak langsung ke vital Lo. hanya memastikan kalian adegan ranjang aja. maybe bagian tengah sampe atas aja kali ya." ujar Ibnu hati-hati.


membuang nafas berat. Andi melirik seorang wanita yang duduk menunduk sendiri dipojok.


" dia partner gw. "


" iya. ". jawab Tino.


" not bad."


semua orang berdecak malas. wanita berbody bahenol, paras jelita gitu dibilang not bad.


" belagu. "


" soumbong amat. "


" sok ganteng. " rutuk mereka.


" terus kita nonton ni?" tanya ngasal Jimmy yang langsung dapat geplakan dari berbagai arah.


" gw atur kameranya ya." ucap Ibnu.


Brian memegang lengan Ibnu, " ni temen gw Ridho kameramen. dia bisa ambil angle kamera bagus, jadi bisa manipulasi Tanura. "


" ooh gitu. oke. ikut gw. " Ibnu dan Ridho masuk ke kamar tidur.


" om, Akbarnya gimana?" tanya Bara


" Ru, pesen kamar lain..."


" sekalian kita ya om. kita butuh istirahat yang nyaman om " Jimmy menyela om Hito.


" iya. siapa lagi yang butuh kamar?" Hito tak akan perhitungan dengan sekelompok remaja ini. bagaimana pun mereka telah menolong keponakannya.


" gak usah banyak-banyak om kita gak enak sama omnya. satu aja om tapi yang luas ya. kalo mau pesenin yang luxury juga boleh. " Jimmy yang baik sekali.


semua orang yang mendengar ocehan Jimmy berdecak malas.


" iya. Ru dua kamar luxury." titah om Hito ke asistennya, om Heru.


Akbar sudah sadar. dia duduk lemas menyender ke lengan om Hito yang merangkul pundak Akbar sebagai bentuk dukungannya. sementara Mumtaz, Ibnu, dan Ridho sibuk mengatur kamera dan segalanya didalam kamar tidur.


" karena tuan Akbar sudah stabil, saya pamit pulang, sudah malem kangen isteri." gurau pak Doni.


" Ubay anter om."


" gak perlu. entar kamu kecapean. kamu kan pasti kesini lagi." tolak pak Doni.


" gak apa-apa." ketika ubay hendak beranjak. om Erwin menawarkan diri mengantar.


" gimana kalo saya aja yang anter pak Doni pulang. saya juga mau sekalian pulang."


" iya udah mas Erwin saja. tapi gak merepotkan kan mas." terima pak Doni.


" gak sama sekali. Ru gw balik dulu ya. kalo perlu apa-apa telpon gw." pamit om Erwin.


" iya. thank ya."


" oh iya Bara, besok lusa Dista ulang tahun kan ya. jangan lupa ke rumah sakit ya. om pengen ngucapin selamat." pak Doni beranjak melangkah ke arah pintu.


" baik om."


" santai. jangan sungkan. pergi dulu ya semuanya. " pamit om Erwin dan pak Doni.


" oke guys semua beres." ujar Ridho keluar dari kamar tidur diikuti Ibnu dan Mumtaz.


" Niel. yang mau ngelakuin si Andi kenapa gw yang deg-degan ya?" bisik Jimmy.


" heeh. gw juga grogi. liat si Andi keliatan santai aja."


" emang kalo udah pro mah beda ya."


" baiklah gw masuk dulu ya." Andi mengajak wanita itu.


mereka serempak pindah kamar ke kamar yang sudah di pesan om Hito. " Nu. kita bisa ngintip gak? minimal ngedenger suara gitu? tanya Jimmy yang digeplak langsung oleh Ibnu kepalanya.


***#


di kamar baru hotel


" maaf guys gw Sama Zayin balik ke rumah sakit dulu ya. dari tadi mama telpon. kak Ala gak ada yang nungguin." pamit Mumtaz.


" astagfirullah.. sorry Muy gw lupa sama kak Ala. sampaikan maaf gw ke kak ala ya. apa gw ikut Lo aja Muy." panik Jimmy.


" gak perlu. katanya sih udah baikan. mungkin besok juga pulang. " Mumtaz membangunkan Zayin yang sejak pindah kamar langsung tepar dilantai.


" terimakasih ya om atas pertolongannya." ucap Mumtaz ke om Hito.


" iya. gak masalah. salam sama kak Zahra ya."


" iya. pulang dulu ya." mereka berdua keluar dari kamar.


******


" maaf om." sedari tadi Akbar menundukkan. kepalanya gak nyaman.


" its oke. bukan salah kamu Aks. "om Hito menepuk pundak Akbar. mencoba mencairkan suasana.


" ngomong-ngomong kok kalian bisa tau?" tanya Akbar.


" itu si Ibnu yang bilang." jawab Daniel.


" oohh. "


" Lo kerjasama sama Tanura yan. " tanya tiba-tiba Akbar ke Brian


menganggukan kepala " sorry. gw gak punya pilihan." sesall Brian.


" kenapa Tanu tega ngelakuin ini? " tanya Akbar lirih pada diri sendiri. sejak sadar pertanyaan itu yang sering muncul dalam pikirannya.


" gimana Di?" tanya Jimmy.


" sip lancar. tadi gw udah cek. si Ridho kerjanya oke juga Yan."


" pro dia." ujar Brian


tak lama masuk Ridho membawa kamera dan beberapa alat lainnya.


" gw sama Andi udah cek. semuanya oke. Yan. Lo disuruh kirim kapan?" tanya Ridho ke Brian.


" katanya kalo udah selesai langsung kirim ke hp sama email dia , tapi kirimnya pake hp gw katanya." usap Brian jengkel. memikirkan jejak digitalnya.


" anjir. niat banget tu nek mucikari." Jimmy mulai culasnya."


" ya udah biar gw yang lakuin. mana hp lo." pinta Ibnu.


" Nu Lo bisa selamatkan gw kan." Brian benar-benar putus asa.


" tanya ke Bara. dia yang janjiin Lo. kalo gw cuma ngelakuin perintah Mumtaz buat bantu Lo sebagai ucapan maaf dia ke elo." jelas Ibnu.


selagi Ibnu dan Ridho sibuk mereka berkerumun memutari Andi karena penasaran dengan apa yang terjadi di kamar tidur tadi.


cukup butuh setengah jam bagi Ibnu dan Ridho menyelesaikan dan memberesi semua pekerjaan ini. di menyerahkan hp milik Brian."


" gw udah ilangin jejak Lo terkait perkara ini. jadi kalo dia mau make video ini. Lo gak akan terlibat." Ibnu memberi penjelasan.


" beneran Nu. sungguh Lo gak ngelibatin gw di kerjaan kotor ini?" Brian memegang tangan Ibnu erat dengan sumringah tak percaya.


" iya. lepas tangan gw. risih gw. karena gw udah nolongin lo. Lo harus maafin Mumtaz."


" tentu. gw maafin dia bahkan semua orang gw maafin. "Brian menjawab konyol. yang lain hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Brian.


" terus gw Nu. meski bukan gw pelakunya, tapi tu muka Andi mirip banget gw. tetap aja orang-orang bakal ngira itu gw." resah Akbar.


" kalo itu gw udah masang di sistem manajemen operasionalnya. video itu bakal hancur secara keseluruhan tiga puluh menit dia buka dan tutup video Lo itu di kali pertama dia lihat . " Ibnu menjelaskan panjang lebar.


" Alhamdulillah.." ucap mereka serempak.


" oke guys waktu nya bobo. ini udah malem banget untuk yang lain dilanjut besok. hidup itu panggung sandiwara banget ya. capek gw." Jimmy mendramatisir beranjak melangkah keluar kamar. diikuti oleh yang lainnya.


*********


Rumah sakit Atma Madina


ruang rawat inap kelas VVIP


" kurang pagi datangnya. darimana saja kalian masih pake seragam gitu? sindir kak Ala yang terbangun karena pintu ruangan dibuka oleh Mumtaz dan Zayin.


" maaf. tadi ada urusan dulu. lanjut tidur aja kak. " himbau minta menjatuhkan dirinya yang lelah diatas sofa, sedangkan Zayin sudah tentram dalam tidurnya.


" gimana kak baikan. " khawatir Mumtaz.


" baikan. sebenarnya gak perlu diopname juga sih. tau om Hito lebay." jawabnya lemah


" kakak Deket sama om Hito?" tanya hati-hati Mumtaz.


" maksudnya apa?" bingung kak Ala


" kakak hanya karyawan biasa, om Hito bos. tapi mau nolong langsung kakak. bukannya itu ganjil kak? "


" biasa aja. "


" oohh heem. ya udah kalo gitu. tidur kak. Mumuy juga mau tidur capek." Mumtaz langsung merebahkan tubuhnya mencoba langsung tidur meski secara diam-diam melirik kak Zahra yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


Zahra memang sedang memikirkan sesuatu, memikirkan perkataan mumtaz tentang om Hito yang menolongnya. antara apakah itu wajar atau tidak wajar.


****


pagi harinya.


saat ini dikamar hanya ada Akbar, om Hito, dan om Heru.


" Aks. bisa tolong jelasin ke om ada apa? dari tadi om bingung. " tanya penasaran Hito.


memijit pangkal hidungnya berharap dapat menghilangkan rasa peningnya.


" Akbar sendiri belum yakin, tapi Akbar kira ini bermula dari upaya pembobolan data rahasia perusahaan om...." dengan perlahan Akbar menceritakan apa yang terjadi.


om Hito dan om Heru sangat terkejut tak menyangka dengan apa yang diceritakan Akbar.


" rencananya Akbar bakal ngadain pertemuan dengan papa dan om Hito, tapi entah mengapa Tanu selalu membuat papa sibuk tak jelas. hingga sekarang Akbar belum sempat ngadainnya. "


" om yang akan mengadakan pertemuan itu. kamu harus siapkan semuanya. pasti kak Damar dan kakek sulit percaya Aks."


" iya. udah Akbar perkirakan om. karenanya Akbar bakal bawa temen Akbar yang lain."


***


Rumah Sakit Atma Madina


pukul 07.00 wib


kring..kring...bunyi ponsel Zayin yang sedari tadi terus berbunyi.


kak Zahra yang kesel bunyi ponsel Zayin yang tak kunjung berhenti


bhuk...Bhuk..


melempar kencang bantal - bantal yang berada di brankarnya kearah Zayin


" aduh kak. kenapa dipukul. sakit ni." rutuk Zayin dengan suara khas bangun tidur.


" tidur kayak kebo. noh hp kamu bunyi terus angkat maybe pacar kamu telpon." sindir kak Zahra sebal


" pacar apaan. punya pacar enggak" dumel Zayin pelan sambil menekan icon hijau di ponselnya setelah melihat siapa yang menelponnya

__ADS_1


" hallo. apaan!?" dengan terpaksa Zayin menjawab.


" *Alhamdulillah Lo jawab. Yin gw lagi dijalan lagi ngejar orang yang n*yu***lik Dista sama Tia. dan sialnya kata Juan yang udah disekolah dia liat si Cassy dibawa gak tau kemana Sama si Merry dan Indah" teriak Raja disebrang sana melawan gelombang angin dijalan


" oke gw otw." jawab terdesak Zayin.


" otw kemana Lo. gak ada Lo gak kemana-mana selain ke SMA Abdi Negara. hari ini Lo olimpiade matematika. gw nelpon Lo karena gw pikir Lo yang ngomong ke kak Mumtaz. awas Lo kalo bolos olimpiade. gw sunat. cepet tutup gw pasang GPS." jelas Raja.


seusai menutup telpon Zayin beranjak terges-gesa mengetuk kamar mandi yang didalamnya ada Aa Mumtaz.


" A...aaa...cepet keluar. kata Raja; Dista dan Tia diculik." ketika Zayin berhenti teriak pintu terbuka keras.


" kapan?" Mumtaz berjalan menuju sofa mengambil ponselnya dan ponsel zayin


" barusan. zayin gak jadi olim ya. zayin ikut sama Aa ya." rayu Zayin tegas.


masih sibuk dengan ponselnya menghadap Zayin, menggelengkan kepala.


" selesaikan tugas, tetap fokus. baru beralih tugas Zayin. ada Aa dan yang lainnya. masa masih ragu." pelan tapi tajam.


Mumtaz memasang earphone dan memberesi barang-barangnya. berjalan menuju kak Zahra yang masih bingung. mencium kening kak Zahra menekan dengan lembut


" Aa harus pergi. sampaikan maaf ke mama. nitip barang Aa ya. jangan dulu keluar rumah sakit. Zayin kalo udah beres olimnya langsung balik kesini jaga kak Ala." menepuk pundak Zayin dan meninggalkan ruang inap.


" Yin, ada apa? jelasin sekarang." titah Kakak ala tak terbantahkan.


yang pertama kali terpikir oleh Mumtaz setelah menghubungi para sohib dan rekan yang lain adalah Brian. di ingin meyakinkan apakah Brian terlibat dalam penculikan ini


" hallo." jawab Brian diseberang.


" hallo . Lo dimana. apa Lo terlibat penculikan anak BINAKU BANGSA?


" apa? enggak lah Mum. ini aja gw masih di hotel yang kemarin sama Bara. belum pulang gw dia pengen investigasi gw kayaknya. " jujur Brian.


" oke gw pegang kata-kata Lo. kasih hpnya ke Brian?" titah Mumtaz.


" hallo. ada apa Muy?" Bara to the point.


" Dista dan Tia diculik. gw sama yang lain lagi otw. Lo skalian minta keterangan sama Brian tentang ini. siapa tau ada yang dia ketahui."


" oke. gw urus Brian dulu ya. gw percaya Lo Muy." ucap Bara meyakinkan.


" insyAllah Dista adik gw juga Bar."


" lusa ulang tahun dia Muy."


" dan kita bakal ngadain selamatan seperti biasa. tenang aja. bagi tugas. oke. gw tutup udah nyampe markas."


*****


dimarkas team dibagi dua.


team 1. mengurus penculikan Dista dan Tia yang dipimpin Daniel wakil Mumtaz


team 2. mengurus Cassy dipimpin Jimmy, wakil Ibnu


tidak ingin membuang waktu dan mengambil resiko negatif, meski mereka sang leader masih dimarkas, tetapi mereka sudah menyebar anak buah dilapangan. masing masing dilengkapi alat canggih yang sudah dimodifikasi.


team 1


mereka telah menyebar, masing-masing memasang earphone nirkabel yang dilengkapi kamera sebagai alat komunikasi dan pelacak serta pemantau keadaan sekitar yang terhubung paralel keseluruh anggota dengan titik koordinat GPS dari Raja yang diteruskan ke drone yang berbentuk burung dengan jangkauan kamera jarak jauh mengikuti Raja dan memancar sinyal ke beberapa arah untuk memindai suhu tubuh dan gerak tubuh dengan target Dista dan Tia lewat partikel angin yang tertinggal. hingga komunikasi antar anggota dapat terjalin dengan cepat dan tanggap.


beberapa saat drone mengirim sinyal ke markas yang langsung diterima berupa gambar lokasi target dari tiga objek yaitu Raja, Dista, dan Tia dari jarak jauh.


ketika drone mendapati lokasi tepat dan menjatuhkan perangkat deteksi getar dan suara berupa kayu, dan batu hingga dapat diketahui berapa jumlah orang yang berada di lokasi serta pembicaraan mereka.


seusai lokasi didapati, Daniel dan Mumtaz langsung bergerak, masing-masing menggunakan motor enduro hitam yang dimodifikasi senyap bunyi dengan mengebut.


*********


dilapangan luas sebuah gudang terbengkalai


telah berkumpul ratusan orang dari berbagai geng motor besar dijakarta dengan masing-masing atribut. didepan mereka, dua orang gadis berseragam sekolah BINAKU BANGSA diikat bagian tangan dan sekeliling badan dan mulut mereka ditutup dengan kain.


dua gadis itu meronta-ronta minta dibebaskan. karena Daniel dan Mumtaz belum sampai, maka untuk sementara pasukan dipimpin oleh Raja sang Playboy penguasa jalanan masa depan, mengepung lokasi dengan cara dua lapis.


" kenapa Lo tahan mereka?" tanya Raja tanpa takut.


" iseng aja sih" ucap Ragad sang kepala geng Vandos nyengir menyebalkan.


" kalian pengangguran? kenapa gak ikut prakerja pemerintah. gak punya keahlian apapun Lo kayaknya." Raja mencoba memprovokasi.


" cih bocah. jangan ikut campur lo." kata Jarud sang ketua geng Rajawali


" sebenarnya gw pengen pergi tapi Lo nyandera temen gw yang punya Abang nyeremin banget." Raja mencoba mengulur waktu


" jangan banyak bacot panggil pemimpin Lo." Sakti ketua the devil tak sabar.


" siapa pemimpin gw yang lo maksud?" heran Raja.


" ya Lo pemimpinnya siapa yang berhubungan dengan ni dua cewek."


" cih ketauan banget kalo Lo gak tau siapa mereka ini. berdasarkan perikemanusiaan, gw saranin Lo bebasin mereka. atau Lo semua mampus." mengatakan kalimat itu dengan gerakan tangan memenggal kepala.


seketika pasukan dibelakang Raja membelah dua memberi jalan dua orang yang yang berjalan tenang, namun mematikan.


Daniel, Mumtaz, berdiri disamping kanan Raja


" apa mau lo." Daniel to the point.


" gw gak punya urusan sama lo,. gw punya urusan sama Bara." ucap lantang sakti


" Lo tau Bara itu executif muda sibuk. kalo Lo mau berurusan sama dia, buat janji dulu."


papar Daniel santai.


melihat gelagat tidak takut dari pihak lawan para geng itu kesal. tiba-tiba sakti dan Jarud memerangkap Tia dan Dista dari belakang dengan tangan Tia dan Dista.


" denger, jangan sok jagoan. Lo cuma anak Sultan yang masih merengek minta susu sama nyokap Lo." hina Jarud memprovikasi


" gimana kalo gw buka jilbab gadis ini. keliatannya dia masih polos." ucap sakti dengan memiringkan kepala menghadap Tia dan mengendus samping wajah Tia raut wajah melecehkan dengan tersenyum smirk menyamping yang coba dihalau oleh Tia.


Mumtaz murka. berjalan maju sambil membungkus tangan dengan kain sejenis sorban ditangan kanan dan kiri mumtaz bersumpah


" sekali kalian bergerak lecehkan mereka, gw pastikan kalian masuk rumah sakit beberapa bulan."


mengabaikan ancaman Mumtaz, sakti dan Jarud masing-masing tersenyum mesum mengejek, mengangkat tangan hendak membelai wajah dan memajukan muka mereka hendak mencium ke arah Tia dan Dista yang kian meronta-ronta.


Tia melihat ancang-ancang gerakan Aa Mumtaz yang tiba-tiba mengangkat seluruh tubuh seakan terbang. Mumtaz menerjang sakti , Tia sedikit menunduk bagian atas badan memberi ruang Aa Mumtaz menghajar tepat wajah sakti dengan keras sehingga cengkeramannya terlepas dari Tia.


sebelah tangan kiri menangkap Tia yang terhuyung kedepan. mengalihkannya kepada orang yang dibelakangnya yang langsung ditanggap sigap oleh Raja yang membawa Tia menjauh dari mereka.


wajah tenang tanpa emosi Mumtaz tanpa belas kasih Mumtaz bertubi-tubi menghajar wajah sakti, memukul dada,dan menendang perut sakti bagaikan bola tanpa melepas kuncian pegangan dari tubuh sakti.


anggota geng yang melihat pemimpin mereka dijadikan samsak, emosi menyerang mumtaz. yang tanpa melepaskan cenkeramannya ke sakti, dengan mengurai kain libatan di tangannya mumtaz dengan satu tangan dia kibaskan kain sebagai alat penghalau lawan.


pasukan Mumtaz bergerak ingin membantu ,namun Dilarang oleh Daniel. Daniel yakin Mumtaz mampu mengatasi mereka.


menjadikan Sakti sebagai tumpuan Untuk melayangkan tendangan berputar ke arah dada lawan bahkan terkadang menggunakan tubuh sakti sebagai tameng pukulan dan hajaran dari lawan. Mumtaz tanpa butuh waktu lama mampu membereskan geng the Devils.


melihat kekejaman Mumtaz, Jarud yang masih menahan Dista mulai ragu, menyerang, tapi ego sebagai pemimpin didepan anak buahnya melarang dia untuk mundur secara sukarela.


melempar tubuh sakti ke arah anak buahnya sebagai penutup, Mumtaz mengalihkan perhatian ke arah Jarud


" pilihan ada ditangan lo, bebaskan Dista dengan baik-baik atau Lo senasib dengan dia " melirik ke sakti dan anak buahnya.


" gw saranin Lo bebasin tu cewek bro. berapapun yang Lo dapat dari ini gak sebanding dengan imbalannya. sumpah gw tau dia, selagi ada kesempatan, Lo bebasin dia." ujar salah satu pemimpin geng lain yang turut serta dengan Jarud.


menimbang, berpikir, dan memutuskan, jarud bebaskan Dista, dia dorong Dista dengan keras ke arah Mumtaz yang langsung ditangkap olehnya. dan mengalihkannya ke arah Daniel.


Daniel memeluk Dista dengan kuat merengkuh seluruh tubuh dista dan menenangkan menawarkan rasa aman.


" apa yang harus Lo lakuin kepada mereka berdua?" tanya Mumtaz tenang.


" kita cuma disuruh buat sekap tu cewek dua hari dan hari ketiga perkosa tu dua cewek. tapi anak buah Lo keburu ngeganggu." lapor Ragad.


seluruh orang yang mendengar terkejut. Daniel murka dia langsung maju hendak menghajar Ragad, tapi ditahan Mumtaz.


" kalo enggak, ya.. gak dapet duit kita." ungkap Viktor pemimpin geng Redakz. salah satu geng yang pernah jadi korban Mumtaz karena memalaki anak BINAKU BANGSA.


" berapa yang ditawarkan?"


" lumayan setengah milyar."


" dari siapa?"


" ...... "


" kalian kerja sama, kalian aman. kalian bohong, kalian mati..!" tiba-tiba Bara hadir ditengah-tengah mereka.


para pemimpin geng saling pandang mencari solusi.


" Tanura Hartadraja." mereka memilih untuk menghindar berurusan dengan Bara Atma Madina dan orang-orangnya.


" gw beri satu milyar. balasannya kalian ungkap keseluruhan perbuatan Tanura." tawar Bara mengeluarkan cek kehadapan mereka. yang langsung diangguki oleh mereka.


team 2.


Juan mengikuti mobil yang membawa Cassy, diikuti oleh drone yang dikendalikan oleh Jimmy. khawatir mereka membawa Cassy ke tempat yang berbeda.


Jimmy dan Ibnu dibantu Rizal, dan Ubay dengan mengikuti petunjuk dari drone yang lain guna memantau Tanura dan mereka mendatangi ke lokasi dimana tanura berada.


memasukan robot berukuran kecil yang dipasangi kamera ke dalam gedung tua tak terpakai berlantai dua guna melihat situasi keadaan gedung.


mereka berpencar masuk dari berbagai arah untuk mengepung Tanura.


tak lama Cassy yang ditutupi matanya kawal oleh Merry dan Indah dibawa masuk gedung itu dan didudukan disebuah kursi dihadapan Tanura.


Tanura dengan tawa membahana membuka penutup mata Cassy. Cassy menggelengkan kepala karena silau akan cahaya matahari dan berusaha melihat siapa orang yang berdiri dihadapannya.


terbelalak terkejut, Cassy tak menyangka bahwa sepupunya yang menculiknya. tiba-tiba ketakutan, dan kepanikan menyerang dirinya. dia berpikir bahwa hari ini adalah hari kematiannya.


" hallo sepupuku tercintah." ucap Tanura mengintimidasi Cassy.


wajah Cassy langsung berubah puas melihat pisau kecil ditangan Tanura yang sedang digoyang-goyang kan.


" Lo pasti kaget. WAW. ini kenapa aku ada disini? gitu kan otak Lo lagi mikir. cih jangan drama. Lo disini karena gw muak sama Lo."


" Lo rebut Bara dari gw. padahal gue udah bilang sama Lo buat jauhin Bara, tapi Lo gak denger. ini akibatnya." Tanura melangkah kebelakang Cassy mensejajarkan diri dengan Cassy.


mengusapkan pisau dipipi Cassy "gw gak tau apa yang dilihat Bara dari Lo, tapi mari kita coba dengan menghilangkan wajah cantik Lo ini" menekankan ujung pisau dipelipis bawah dan ditarik sampai menuju pipi atas Cassy.


" aaaaaa..... sakiit kak." teriak Cassy sembari menangis. Merry dan Indah yang melihatnya terperanjat kaget. mereka tak menyangka Tanura tega terhdap sepupunya sendiri.


" walau sakit Lo harus terima. sayang. ini yang gw rasain kalo Lo Deket Bara." desis Tanura disamping telinga Cassy."


BRAKK....pintu di Ika secara paksa


masuklah Jimmy dengan membawa sebilah pisau kecil yang langsung dia lempar ke arah kaki Tanura.


" aaaa....." jerit Tanura ketika merasakan sakit di betisnya. pisau Jimmy jatuh tepat di betis kaki Tanura.


Jimmy menghampiri Tanura yang terduduk dibelakang kursi Cassy. dicekal kerah seragam Tanura. dia angkat tubuh Tanura dengan kedua tangannya dan dia lempar Tanura menjauh dari kursi cassy.


Dug...kedebug...brak...


Tanura terlempar ke dinding dan menimpa barang-barang yang berada dibawahnya..


"AAAAA...., aws...errgh.." rintihan Tanura kesakitan teman geng Tanura tebelalak ketakutan melihat adegan itu. dan mereka hendak kabur dari gedung ini, tapi keburu ditangkap oleh Rizal dan Ubay.


Jimmy melepas ikatan Cassy. dan menggotong Cassy didepan ala bridal. menatap Tanura tajam


" Lo cewek tertolol yang pernah gw temuin."


mengedarkan perhatian ke arah Ibnu, Rizal, Ubay. dan Juan.


" Lo urus dua cewek bego itu. tinggalkan Tanura disini sendiri" meneruskan langkah meninggalkan gedung.

__ADS_1


.


__ADS_2