
seusai menyalurkan emosinya nenek Sri dan kakek Fatio beristirahat di rumah
Edel berbaring lemah di atas ranjangnya sambil memilin-milin jari-jemarinya
" siapa yang mengijinkan kamu keluar?" tanya papa Aznan gemas
" maaf. kata Erika, kalo Edel gak mau ketemuan, dia bakal bikin Hartadraja menanggung malu."
" kamu gak percaya sama para lelaki Hartadraja bisa melindungi kamu Del,? sarkas Hito.
" bukan begitu kak, hanya aku pikir aku harus selesain urusan aku sama dia. btw kenapa kalian bisa tahu aku ada di sana?" bingung Edel
" dari temennya Akbar yang di sebelah kamar kamu.yang nyelamatin kamu juga mereka." jawab kak Julia.
" maksudnya?" tanya bingung Edel
" mereka yang hapus semua photo-photo kamu?
" photo? photo apaan kak?
" kakak juga gak ngerti. kalo mau tahu, tanya mereka aja."
" si Erika masang cctv di kamar dan kamar mandi Tante, sehingga dia punya photo dan video pribadi Tante." jelas Akbar.
Edel membulatkan mata kaget. dia ketakutan. melihat itu papa Aznan memeluknya.
" semuanya sudah beres. mereka sudah menghapus seluruhnya. lagi-lagi mereka membantu kita. papa akan mengucapkan terima kasih ke mereka." ucap papa Aznan lembut.
" lagi?"" Edel tak mengerti.
papa Aznan mengangguk. " mereka berkali-kali menyelamatkan Hartadraja tanpa minta imbalan. entah karena apa. papa mau ke kamar mereka dulu ya."
" Edel ikut. Edel juga mau ucapin makasih."
" tapi kamu masih lemah sayang." tegur papa Aznan
" gak apa-apa. kan bisa pake kursi roda. Edel ikut." bujuk Edel
" iya. kita semua kesana." ujar mama Dewi yang pusing melihat perdebatan suami dan anaknya.
****
kamar inap Mumtaz.
saat ini keluarga Hartadraja berada di ruang tunggu berhadapan dengan Jimmy, ibnu, Bara, Rizal, dan Ubay
" Mumtaz nya mana Jim? tanya Akbar yang tidak melihat Mumtaz diantara mereka
" lagi pemeriksaan. dipaksa kak Zahra supaya cepet pulang." kesal Jimmy.
" kenapa Lo kesal dah?"
" ya ngapain pulang orang di sini enak. gratis pula." sewot Bara.
" kalo udah sembuh ya emang harus pulang Bara." heran Akbar
" udah Bar, jangan ladeni duo Atma Madina ini. btw kenapa ramean pada kesini tumbenan." imbuh Ibnu.
" oh ini Tante gw mau ngucapin terima kasih ke kalian." ujar Akbar.
mereka menatap kak Edel dan keluarga Hartadraja dengan bingung.
" saya Eidelweis Hartadraja mau mengucapkan terima kasih kepada kalian atas semua hal yang sudah kalian lakukan untuk saya." ujar kak Edel
mendapat sikap formal para remaja itu menjadi sungkan dan salah tingkah
mengusap tengkuknya karena risih " semua itu hasil kerja Mumtaz kak." jawab Ibnu.
" maksudnya?"
" kesimpulannya Mumtaz yang ambil semua dokumen kakak dari si Erika itu, dia juga yang mengatur program menghilangkan semua dokumen kakak yang ada di Erika sebagai ucapan terima kasih Mumtaz pada kak Edel yang mendukung kak Zahra waktu ulang tahun nenek Sri."
" hah? tapi saya gak buat apa-apa. saya kan emang gak suka sama si Sivia itu."
" apapun alasan kakak cantik, tapi kita yang lihat, itu menyelamatkan kak Zahra dari rasa malu." ucap Jimmy.
" oh. hanya karena itu? itu hal kecil bukan apa-apa." heran kak Edel.
mereka mengedikan bahu. " kita cuma ngelakuin apa yang di titah Mumtaz."
" kenapa Lo semua begitu ngedengerin Mumtaz Jim?" tanya Akbar
" karena dia temen kita." jawab Jimmy
" apa yang kalian lakuin kayaknya lebih dari temen. kalian Atma Madina dan Birawa mengikuti Mumtaz yang notabene bukan siapa-siapa. gw yakin ada alasan kuat dibalik itu." selidik Akbar.
" karena dia nyelamatin kita dari Kematian." jawab Bara mantap.
" Birawa dan Atma Madina berhutang nyawa kepadanya." ingatan Bara mengembara ke beberapa tahun yang lalu.
" oh maaf kalo gw melewati batas." Akbar tak enak hati
" its okey. yang penting sekarang kakak cantik idola kita baik-baik aja." Jimmy mengerlingkan sebelah mata genit
" kalian pasti sudah tahu bagaimana keadaan kakak?" tanya Edel memastikan apa mereka mengetahui tentang kehamilannya.
" maaf. itu salah om Hito yang keceplosan bicara." jelas akbar. yang tak ingin tantenya salah paham kepada temannya
" sebenarnya masih banyak yang ingin kakak tanyakan, tapi..."
seakan tahu kegelisahan kak Edel Ibnu berinisiatif menjelaskan
"photo dan video pribadi kak Edel sudah musnah semua. tidak ada rekam jejaknya." jelas Ibnu
" apa kalian semua melihat itu?" kak Edel bergerak gelisah.
" hanya Jimmy dan Mumtaz selama penelusuran dan penyelidikan itupun sekilas beberapa photo di lihat Akbar, om Hito, dan Adgar untuk konfirmasi, tapi yang masih aman." jelas Jimmy.
Edel menghela nafas lega " boleh saya minta tolong lagi?
" apapun untuk kakak cantik." gombal Jimmy belum berhenti
kak Edel tertawa pelan. sekarang dia bisa menanggapi gombalan receh jimmy, sedangkan yang lain memutar bola mata jengah
" beberapa hari ini mereka yang jebak aku minta ketemuan, aku..."
" tidak. papa gak akan ijinin kamu ketemu mereka. biar papa yang urus mereka." tegas papa Aznan
" tapi pa. ini tentang ego Edel. Edel gak bisa biarin mereka berpikir kalo mereka bisa permainin Edel. Edel seorang Hartadraja. gak bisa membiarkan mereka hidup tenang."
" Tante gak perlu khawatir tentang mereka. nasib mereka ada ditangan kita. hanya menjentikan jari, mereka hancur." ucap Akbar
" maksud kamu?" tanya bingung papa Aznan
" Hartadraja corp sudah mengetahui rahasia perusahaan mereka bahkan jika kita ingin menghancurkan kehidupan mereka gampang aja sih." jelas Akbar
" maksudnya.?" kak Edel makin bingung
" salahin Jimmy. dia meretas server kementerian dalam negeri dan ngambil semua database kependudukan dan catatan sipil semua warga negara." jelas Ibnu.
" jadi kalian tahu riwayat para musuh aku? kak edel antusias.
" semua hal yang menggunakan e-KTP semuanya ada." lanjut Ibnu.
" lagi-lagi ini atas bantuan mereka. Ibnu meretas perusahaan mereka serta laporan perihal seluruh riwayat pribadi mereka." Akbar memberi beberapa kertas kepada Tante Edel. dan kakek Aznan.
"seriusly, kamu bobol kementerian? takjub
" kak, ini baru level Indonesia, kakak udah takjub, itu penghinaan buat aku, kak." sombong Jimmy.
" tapi aku cuma meretas doang, yang nemuin semua data identitas dan riwayat mereka itu Ibnu." sok merendah Jimmy.
" eh jangan lempar batu sembunyi kaki Lo ya. si Akbar yang minta. gw tinggal memindainya doang." jengah Ibnu.
prok....prok...prokkk...
kak Edel geleng kepala takjub sembari tepuk tangan.
" jadi ini bisa jadi senjata ke mereka kalo mereka ngancem aku." mereka mengangguk
" kapan kakak mau ketemu mereka? aku saranin ketemuannya di cafe' D'lima aja. kalo ada upaya tidak baik dari mereka secara cyber, secara otomatis perangkat kita akan menolaknya." jelas Ibnu.
" bagaimana kalo mereka melakukan kekerasan fisik? cemas mama Dewi.
" total mereka delapan orang, memang beberapa diantara mereka bisa bela diri, catat HANYA BISA."
" tentu kak Edel tidak kesana sendiri, kami akan bersama mereka. Ibnu menguasai tiga bela diri, Daniel dua bela diri, aku tiga bela diri, Mumtaz entah berapa banyak banget, Bara mendapat julukan sang legenda tarung beserta Rizal dan Ubay. jadi tidak ada yang perlu Tante dan om khawatirkan." Jimmy memberi keterangan
" mereka gak bisa ngancem kakak pake apapun. semua dokumen kakak yang ada di mereka sudah Mumtaz hilangin, kalo mereka masih nekat kayak si Erika, maka nasib mereka akan sama dengan Erika." ucap Jimmy tegas.
" emang nasib si Erika gimana sekarang?" lagi, kak Edel bingung.
" kakak gak buka sosmed atau YouTube gitu?"
kak Edel menggeleng " gak berani. Erika bilang dia sebar semua aib kakak." lirih kak Edel. dia rapuh
" ini... hadiah buat Tante." Akbar meletakan iPad dipangkuan kak Edel.
" gak ada apapun tentang Tante yang tersebar, tapi si Erika yang jadi bintang porno, kalo mereka nekat, nasib mereka akan sama" ucap Akbar berjongkok di depan tante Edel.
di sana terpampang video dan photo vulgar Erika. kak Edel menengadahkan wajah menatap haru mereka semua.
" Bukannya Erika menyebarkan video aku?"
" itu hanya pancingan. sebenar ketika dia menekan play, secara otomatis dia membuka semua dokumen panas dia ke seluruh dunia. bahkan saat itu juga usia diatas 21 tahun akan menerima notifikasi Erika. Mumtaz yang buat program itu."
" jadi semua orang kenal dia?" papa Aznan memastikan
" bisa dikatakan sekarang dia bintang porno dadakan, hebatnya semua itu tersebar oleh dia sendiri. mungkin sebentar lagi dia dicari polisi." ujar Ibnu.
kak Edel menunduk menutupi wajah dengan kedua tangannya dia menangis!
semua orang yang diruangan bingung
" loh kok nangis?"
" Jimmy tanggung jawab loh."
" apaan gw gak ada sentuh kak Edel ya." cemas Jimmy.
HUWAAA.....HIKS....HUWA....HIKS...
semua orang kalang kabut. mereka bingung meredakan tangisan kak Edel.
" kenapa kalian sebegitu lindungi aku?" tanya kak Edel
" karena Mumtaz bilang kak Edel termasuk orang yang dia lindungi. dia kalo kerja total kak."
" aku terharu. atas apa yang udah kalian lakukan. baiklah aku akan teraktir kalian. kalian tinggal ngomong mau diteraktir apa?"
" YEAY..."
__ADS_1
" OKEY."
" SIP"
" 86."
" kita udah berembuk...kita mau BARBEQUEAN!!!!" sorak Jimmy girang yang diangguki oleh yang lain bersorak sambil tepuk tangan.
krek...
kak Zahra, mama Aida, dan Mumtaz yang duduk di kursi roda masuk ruangan
" loh ada apaan ni rame. girang banget Lo Jim." tanya kak Zahra.
" kita mau BARBEQUEAN kak." jawab Jimmy.
" siapa yang teraktir? gak mungkin Lo. lobkan sultan bermental rakyat jelata." cemooh kak Zahra. Jimmy hanya mendecak saja.
" oh btw lusa Mumuy boleh pulang! Yeay...pulang..pulang..." goda kak Zahra kepada duo Atma Madina.
duo Atma Madina memandang kak Zahra sengit.
" ya udah kalian datang aja ke rumah aku." ucap kak Edel.
" kemana? jangan bilang kita ke rumah Hartadraja? ragu Jimmy.
" iya. kenapa emang?" kini kak Julia bertanya
mereka menggeleng " dirumah Mumtaz aja. kalo dirumah kakak. nanti ada nenek Sri. gak lah." tolak Jimmy loyo.
paham mereka enggan kerumahnya kak Edel menyetujui usul mereka.
" baiklah di rumah Mumtaz. sekalian ngeakrabin kak Hito sama calon mama mertuanya." canda kak Edel melirik kak Hito dan Zahra
gimana Tante boleh barbequean di rumah Tante?" kak Edel meminta ijin
" tentu..."
" dengan syarat" sela kak Zahra
seketika para remaja itu menampilkan raut cemas
" Bara, bilangin ke dokter pembimbing aku buat ACC percepatan koas aku."
" lah kakak setengah tahun aja belum ada udah pengen selesai aja koasnya. curang itu." Bara keberatan
TAK!!!
kak Zahra menjitak keras kepala Bara yang meringis kesakitan yang lain menganga kaget ada yang berani kasar kepada Bara selain keluarga Atma Madina
" biar baru sebentar koas aku udah hampir mencapai target ya. jadi aku punya hak mempercepat penuntasan koas." ucap Kakak Zahra gemas
" masa sih mana bisa." Bara masih menolak pasalnya dia tahu kak Zahra dan teman-temannya dibutuhkan dalam penelitian rumah sakit.
" bisa lah. di sini aku tuh kerja rodi. tanya aja mama berapa kali aku pulang dalam seminggu. bahkan kadang beberapa minggu aku gak pulang." kak Zahra kesal
" kalo kamu gak mau bantu, Mumuy gak..."
Jimmy membekap mulut kak Zahra, kak Zahra melepas paksa tangan Jimmy di mulut.
semua orang terperanjat kaget dengan kenekatan Jimmy.
" kamu apa-apaan sih Jim. tangan bau terasi juga." kak Zahra mengelap mulutnya. Jimmy menyengir kuda
" ya udah fix Mumuy gak..."
kali ini om Hito yang membekap mulut Zahra atas kodean para remaja.
mata kak Zahra melotot
" disuruh mereka" ucap om Hito
tanpa sadar kak Zahra memegang tangan om Hito dan membauinya. om Hito tertegun, ini kali pertama Zahra memegang tangannya
" kamu habis makan ya...wangi makanan bener tangannya. biar aku koas gila-gilaan di rumah sakit mewah sekelas Atma Madina, tapi mereka gak ngasih aku makan layak." sindir kak Zahra.
om Hito menoleh ke Zahra " kamu belum makan?" kak Zahra menggeleng. om Hito mendelik tajam ke duo Atma Madina yang memandang arah lain
" ayo makan. Hartadraja gak pelit." sindir om Hito. mendengar kata makan kak Zahra tersenyum lima jari
" kuy lah. Mumuy ingat kamu sama kakak belum..."
" om pake kartu Atma Madina, kak Zahra kan partner berharga rumah sakit ini." sela Bara memberi black card-nya.
" gitu dong bossque. sekalian cemilannya ya. tak terbatas." kak Zahra dengan senang hati menerimanya.
" terserah. bebas." pasrah Bara mengibarkan bendera putih jika harus melawan Kaka Zahra.
ketika om Hito hendak protes
" mereka sultan, gak bakal missqueen cuma teraktir kita." kak Zahra menarik om Hito keluar ruangan.
" jadi Mumuy nya diijinin ya" teriak Jimmy.
" kalo Bara meng ACC percepatan koas kakak. okey aja sih."
" Bara, iyain aja sih biar cepet." bujuk Rizal
" dengan syarat kalo udah jadi spesialis langsung gabung Atma Madina." negosiasi Bara
" oke. sip." kak Zahra menutup pintu. toh kak Zahra memang tidak bermaksud pindah ke rumah sakit lain.
" gak apa-apa jeng. kakak melindungi adiknya itu harus." ucap mama Dewi
" kalian kenapa rempong gitu dah." kak Edel mengernyitkan dahinya
" ini salahin Mumtaz yang selalu nurutin omongan kak Zahra. kalo Mumtaz gak ikutan kita juga gak jadi barbequeannya." ujar Jimmy melirik sinis Mumtaz yang cuek
" Mumtaz, om mau bilang terima kasih atas semua bantuan kamu ke keluarga om" ucap papa Aznan menatap Mumtaz
Mumtaz yang ditatap menjadi salah tingkah " eh om kayaknya salah paham ini semua mereka yang melakukannya saya tidak melakukan apapun."
" mereka sudah menceritakan semuanya. om gak tahu harus membalasnya dengan apa."
Mumtaz bergerak risih dalam duduknya dia mendelik menusuk ke teman-temannya
" eh itu..bukan apa-apa. kebetulan kita mampu."
" maaf btw kapan barbequeannya dilaksanakan?" tanya tak tahu malu Jimmy.
" setelah pertemuan itu." jawab kak Edel.
****
Restoran
Zahra memejamkan mata dengan wajah dipangku kedua tangannya di atas meja.
Hito yang duduk di depannya menyentil pelan kening Zahra
" capek banget kayaknya." ucap lembut Hito
Zahra mengangguk " udah beberapa Minggu aku gak pulang. mama sampe nyindir aku bang Toyib coba."
Hito terkekeh " emang koas sesibuk itu?" Hito menyuapi Zahra buah melon yang sudah dipesan
" seharusnya enggak. ini aku terlibat penelitian prof Farhan. kan kamu juga jadi donaturnya." sarkas Zahra.
masih menyuapi Zahra " jadi aku harus stop dananya ni?
tiba-tiba Zahra menggenggam tangan Hito. Hito tersentak kaget, pasalnya ini sudah kedua kalinya Zahra memegang tangannya. tentu dia kaget.
" gimana kalo kamu ngomong sama prof Farhan untuk mengurangi porsi aku dan teman-temanku di penelitian itu?" harap Zahra.
" kita ini cuma peserta koas belum jadi dokter." keluh Zahra.
" oke aku bilangin nanti" om Hito melirik antara Zahra dan tangannya
Zahra yang sadar lirikan Hito langsung melepas genggamannya
" maaf. khilaf." alibi Zahra malu
" aku sih senang-senang aja, tapi kayaknya kamu bukan orang yang gampang megang tangan laki-laki."
" ngapain megang kalo gak ada alasan jelas."
pelayan datang membawa pesanan Zahra
" ooh. kan pacaran alasan jelas buat bolehin pegang tangan."
" ck. abis pegang tangan, terus rangkul, peluk, cium dan sebagainya. kenapa gak dinikahin dulu baru grepe-grepean kan enak mau ngapain aja."
" enak ngapain?" goda Hito.
" au ah. mau makan laper." Zahra salah tingkah
Hito terkekeh gemas mengelus jilbab Zahra
****
ruang inap Eidelweis
tok..tok...
" masuk." titah Edel yang sedang membaca majalah membunuh rasa bosan
" loh Eross ngapain Lo di sini?" Edel penasaran.
" gue habis jenguk Heru?" Eross mendekati Edel.
" emang dia kenapa?" Edel mencoba acuh padanya
Eross melempar beberapa photo dia dan Eross sewaktu dijebak Erika
Edel terkejut " darimana lo dapat ini?" tanya Edel bergetar memegang photo itu
tiba-tiba perutnya mual. dengan gerakan terbatas Edel bergegas ke toilet dengan bantuan Eross yang panik.
sesudah mengeluarkan muntahannya dia berjalan gontay karena lemas
" gue gendong ya." Eross mengendong Edel ala bridal
Edel menepuk gemas bahu eross " kebiasaan ngomong sambil ngelakuin." Eross terkekeh
" duduki gue di sofa aja. bosen gue tiduran mulu."
Eross duduk disamping Edel yang duduk di sofa
" gue dapet itu dari kak Heru. di minta maaf karena udah kasar sama Lo. semuanya karena photo itu."
" Erika ngasih photo itu ke dia. dan secara tiba-tiba Erika mengkalim mereka pacaran, merasa ada yang janggal dengan perbuatan Erika, dia menyetujuinya guna mencari tahu sesuatu." lanjut Eross.
__ADS_1
" akhirnya dia paham maksud Erika mendekatinya, lewat kak Heru Erika ingin tahu rahasia perusahaan Hartadraja, tapi tentu saja itu gagal." jelas Eross
" kenapa Lo yang ngejelasin ini semua ke gue. kenapa gak langsung dia?" sarkas Edel.
" dia di bawah. babak belur sama kak Hito."
mata Edel membulat. " serius Lo? kenapa?"
" kak Hito tahu kak Heru ayah anak Lo."
Edel tersentak kaget " dari siapa?"
" beberapa hari lalu gue dan kak Heru mau membongkar kedok Erika, gue ngomong kalo kita bakal tunangan gara-gara jebakan itu. Erika marah, terus dia bongkar kalo Lo udah rusak karena kak Heru. pas itu kak Hito dengar langsung menghajar kak Heru habis-habisan."
Edel menggeleng panik. apa yang dia takutkan terjadi. itulah mengapa dia tidak mau menyebutkan nama kak Heru.
" anter gue ke kak Heru." Eross menggeleng
" gue sebenarnya dilarang ngasih tau Lo kalo dia di rumah sakit. dia cuma mau minta maaf sama Lo. dan ijinin dia bertanggung jawab jadi ayah anaknya."
Edel terperanjat kak Heru tahu tentang kehamilannya. Edel mengusap perutnya dia menangis.
" gue gak bisa. baru kak Hito yang hajar aja dia udah masuk rumah sakit, gimana kalo kak Damar? papa? belum lagi kakek. Lo tahu kan kalo dia marah, seratus lebih menakutkan daripada kakek Fatio." lirih Edel.
" dia siap mengambil resiko itu."
" ini kenapa Lo kayak jadi jubir dia dah. anter gue ketemu dia. gak peduli gue di gak mau ketemu gue." cerocos Edel melihat keengganan Eross.
Menghembuskan nafas berat Eros beranjak mengambil kursi roda. " ayo. cepetan jalannya jangan lelet." sebal Eross dengan keras kepalanya Edel.
" hehe..hehe.. gitu dong lo emang sahabat terbaik gue." cengir Edel. Eross hanya memutar bola matanya malas
*****
Ruang inap kak Heru
mendengar pintu dibuka Heru yang memandang keluar jendela menoleh, dia terperanjat melihat Edel didorong Eross masuk keruangannya.
BUGH!!!
Edel memukul lengan kak Heru keras " kenapa gak bilang kalo kamu dikasih photo menjijikan itu." tangis Edel.
kak Heru memandang lembut Edel dengan intens "
" maaf. udah kasar sama kamu. udah nyakitin kamu. udah bikin kamu nangis. maaf." ucap kak Heru dengan suara pelan
" iya kamu udah nyakitin aku banget. aku ngerasa kotor, dan tolol."
" kenapa kamu gak percaya aku? gak tanya aku?" berang Edel.
" aku..."
" dia sebenarnya mau nanya, tapi sialnya sebelum nanya kak Heru ngeliat kita berdua makan siang bareng di cafe'." potong Eross
" tapi tetap aja harusnya kamu tanya. emang kamu gak pernah punya perasaan lebih sama aku. cuma aku yang suka kamu." amuk edel memukul-mukul kak Heru.
kak Heru menggenggam kedua tangan Edel. dia menggeleng, mencium tangan Edel khidmat
" udah lama banget aku suka kamu, waktu kita deket itu kayak mimpi, bahkan aku gak mau bangun andaikan itu mimpi." ucap kak Heru sambil menempelkan tangan Edel dipipinya.
dia rindu tangan lentik ini.
" tapi aku harus memantaskan diriku dulu buat kamu. apapun yang aku lakukan selama ini cuma agar aku pantas buat kamu. kamu duniaku." kak Heru kembali mencium tangan Edel lama.
" tolong ijinkan aku menikahimu, menjadi ayah bagi anak kita. maaf sudah merusakmu." kak Heru menangis sesal
Edel menggeleng, dengan panik kak Heru berseru " beri aku kesempatan. aku janji akan melindungi kamu."
" tapi kamu udah tidur bareng Erika. aku jijik kalo inget itu." tiba-tiba Edel marah
" aku gak pernah tidur sama dia seperti yang kamu pikirin. aku sendiri gak tahu kapan dia pindah ke ranjang, karena seingatku aku nyuruh dia tidur di sofa." kak Heru membela diri.
" memang beberapa kali dia nyoba goda aku bahkan sampe bugil, tapi aku tolak. boro-boro kegoda yang ada enek." kesal kak heru
" kalo kamu gak percaya kamu bisa lihat cctv di ruang tamuku." bujuk kak Heru.
diam sesaat " ...ya udah aku pikirin dulu. kamu nya sembuh dulu." putus edel
" iya cintaku." sumringah kak Heru. seketika Edel pura-pura muntah mendengar gombalan kak Heru.
dua pria itu tertawa terbahak
****
cafe' D'lima
saat ini sebenarnya cafe' D'lima tutup karena disewa Hartadraja. mereka tak mau mengambil resiko akan keselamatan Eidelweis.
pengunjung yang ada adalah teman-teman sekelas Mumtaz dan Bara. mereka antusias turut serta dalam operasi ini karena ditraktir makan dan minum sepuasnya.
keluarga Hartadraja dan kak Erwin memantau mereka di kantor kak Erwin dengan layar tv yang besar.
" gue penasaran kenapan kalian jebak gue?
" karena kita pengen Lo hancur. seperti keluarga Lo hancurin perusahaan keluarga kita? ucap Mawar
" Lo ngigau? perusahaan kalian hancur karena ketidakmampuan kalian ngurus perusahaan kalian." sanggah Edel
" tapi Lo gak mau bantu pas kita butuh dana?" racau Gaby
" dih gimana mau bantu perusahaan Lo sendiri payah."sergah Edel
" heh masih bisa Lo songong." hardik Gaby
" kenapa enggak sih." tanggap enteng Edel.
" dan Lo Den, kenapa Lo jebak gue?" tanya Edel ke Denisyang dia pikir teman baiknya semasa kuliah di Stanford
" sumpah Del, gue gak tau kalo mereka mau jebak Lo. waktu Lo di giring ke kamar, gue lagi ke toilet. pas gue tau Lo di jebak, gue juga marah. gue sebenarnya mau minta maaf sama Lo. gue nyesel gak bisa selametin Lo." sesal Deni.
BRAK!!!
Erika menggebrak mejanya kesal dengan tingkah Edel.
Edel menatap mengejek dia
" masih berani lo bertingkah di depan gue. apa yang gue kasih ke elo masih kurang?" hardik Edel.
" sekarang Lo keluar harus pake masker, gue pastiin besok-besok Lo harus operasi plastik." ancam Edel
" apa kalian tahu Dimana dia tinggal sekarang?" lirikan mata Edel menunjuk Erika.
Edel melempar ke atas meja beberapa photo Erika dan keluarga yang sekarang tinggal disebuah kontrakan di gang kecil kawasan kumuh padat penduduk
mereka terhentak melihat photo itu dan beralih memandang remeh Erika.
Erika bergerak gugup dikursinya.
" gue peringatin kalo kalian nekat nyentuh wilayah gue, nasib kalian akan sama dengan dia. ini janji seorang Hartadraja." Edel memperingati.
" mungkin Lo seorang Hartadraja, tapi lawan Lo kita yang kalo bergabung Hartadraja bukan apa-apa." Gaby meremehkan.
" cih. jangan Lo bersembilan, selevel Lo se RT aja gue masih mampu." pongah Edel
" jangan banyak bacot Lo. punya anak haram aja bangga." ledek Erika
" Lo hamil sama siapa tunangan sama siapa, jangan-jangan nikah juga sama beda orang. Lo pantas di sebut apa kalo bukan jalang." hina Mawar
BYUR!!!!!
Edel menyiram mereka dengan dua gelas minuman dikedua tangannya dadanya naik turun menahan marah.
" Lo, Erika gue bersumpah hidup Lo akan lebih menderita dari ini. kalian ternyata tolol anggap remeh ancaman gue." ucap Edel pelan tapi menakutkan
Erika yang muak mendapatkan segala ancaman dari Edel mengeluarkan pisau kecil dalam tasnya dengan gerakan cepat dia mengangkat dan mengarahkan lurus pisau itu ke perut Edel
jarak yang dekat tidak memberi kesempatan Edel untuk menghindar
AAA...!!!!!
jerit Edel panik
tiba-tiba ada gerakan bagai sekelebat Cahaya menghalau pisau, menarik tangan, mengukung tubuh Erika dan memojokkannya ke tembok menggunakan lengan mencekik menekan titik vital pernafasan Erika
seseorang menarik Edel ke belakang dan didepannya beberapa orang berbaris membuat pagar manusia menghalangi Edel dari mereka
AARRGGHH!!!!
jerit Erika... meraung
mereka berdelapan terperanjat terkejut dengan gerakan itu masing-masing dari mereka mendapat penjagaan satu orang yang mengunci pergerakan tubuh mereka.
" katakan apa yang ingin kakak lakukan padanya?" desis Mumtaz yang mencekik Erika.
ketika Edel tersadar dari kepanikannya, dia melangkah mendekati Erika.
" Lo coba bunuh gue? sinting lo." Erika menoyor-menoyor kepala Erika.
" hancurkan setiap orang yang menolongnya. berikan dia sanksi sosial selama enam bulan. sesudahnya asingkan dia ke pulau terluar Indonesia." Erika terbelalak mendengar hukuman Edel.
para teman Erika menatap takut Edel., tatapan Edel sekarang beralih ke yang lainnya.
" selain Dennis, hancurkan seluruh perusahaan yang melibatkan mereka. sebarkan juga kisah hidup mereka keseluruh dunia." ucap lantang Edel.
" denger Edel, jangan Lo pikir cuma Lo yang bisa hancuin kita, tapi kita juga, karena Lo seorang Hartadraja, maka dampaknya pasti lebih BOOOM!!!! khayal Anton tak gentar.
jengah dengan urusan sepele yang berlarut Edel menantang mereka.
" okey mari kita tuntaskan semua hal antara kita!" tantang Edel.
kecuali Dennis, mereka sibuk dengan masing-masing ponselnya. setelahnya tertawa puas.
" di sini Lo ngedrama, di dunia Maya. Lo berkeliaran jadi jalang." sini Tiara
" good job, guys." lirih kesakitan Erika mencoba tersenyum menang. dibawah cekikan Mumtaz
" kita liat siapa yang jadi jalang. liat hp Lo pada." titah Edel. tertawa meremehkan
wajah mereka seketika pucat, terpampang jelas aib porno mereka di layar ponsel mereka.
" ck.ck.ck. selamat Lo gabung dengan cacing ini dalam kemelaratan." pukas Edel
dia duduk di atas kursi melempar beberapa kertas riwayat hidup mereka dan keluarganya secara detail.
dengan ketakutan mereka membaca informasi yang disodorkan Edel.
mereka terbelalak menatap tak percaya Edel.
" Lo pikir gue gak punya persiapan bertemu dengan pengkhianat seperti kalian. kalian seharusnya tau diri kalo gue udah bantu kalian hingga masih bisa sombong ke yang lain." ucap Edel menusuk
" sekarang kalian harus bayar balik apa yang udah gue kasih. TAMAT RIWAYAT KALIAN!!!!
__ADS_1