
Tok...tok...
" Masuk."
Seorang perawat memasuki ruangan Farhan yang sedang melakukan panggilan pada rumah sakit Bogor mengapa pasien zuper VVIP mereka tidak kunjung tiba.
" Prof, di IGD butuh bantuan, telah terjadi kecelakaan beruntun."
" Baik." Farhan menutup panggilannya setelah berpamitan pada lawan bicaranya.
Di depan lift ia bertemu dengan Zahra yang baru usai melakukan operasi yang terlihat tergesa-gesa.
" Kenapa belum pulang?"
" Mendampingi Hira operasi pembengkakan jantung."
" Kau dihubungi oleh siapa?"
" UGD." Jawab Zahra tanpa memelankan langkah besar kakinya mengabaikan pakaiannya yang kotor karena darah
Di ruang UGD, ruangan terlihat kacau dengan hilir mudik tenaga medis dan para petugas lapangan menangani para korban kecelakaan dan lainnya.
" Kita sudah menstabilkan pernapasannya, bawa ke MRI. Katakan beliau pasien zuper VVIP butuh penanganan lanjutan, segera." Ucap dokter jaga memberi papan berisi kondisi pasien.
" Baik." Jawab dua perawat lelaki yang mendorong brankar pasien tersebut keluar dari UGD.
di pintu masuk UGD, Zahra langsung memeriksa brankar yang terdekat yang belum mendapatkan pertolongan.
" Prof. Zahra, ini laporan kondisi pasien." Seorang suster memberikan papan.
"Apa semua korban di UGD ini?"
" Tidak, sebagian besar di IGD."
" Aku minta yang di IGD."
Suster itu berlari cepat menuju ruang IGD, meski sesekali terjeda langkahnya karena membantu rekan medis yang kesulitan.
Pun dengan Zahra yang kembali turut membantu karena jumlah tenaga medis lebih sedikit daripada pasien.
Suster itu kembali dengan wajah pias dan nafas yang terengah-engah. Zahra mengambil papan daftar sambil mengamati suster tersebut.
" Ada apa?"
" I..itu...kita kekurangan tenaga, karena terbagi antar IGD dan UGD,..." Terlihat keraguan untuk berkata lebih lanjut.
" Sus, intinya. Saya sedang tidak ingin didongengkan. Dan saya tidak melihat Mutia." Mata jeli Zahra menangkap ketidakhadiran orang itu.
Suster itu menjilati bibir bawahnya karena gugup, apa yang akan dikatakan lupa seketika.
" Kami akan cari..." Baru saja suster itu mengangkat kaki, suara datar Zahra kembali membuat dirinya menghadap profesor muda itu.
" Kamu, kembali ke balik meja, tenangkan diri, baru kembali bertugas. Di situasi seperti ini orang yang tidak fokus seperti kamu hanya akan menambah pekerjaan." Tukasnya meloyor pergi.
" Dok, dokter. Satu lagi korban..." Seru petugas polisi.
Sang korban adalah pria berwajah asing dengan kondisi sangat parah.
Zahra berlari, menghampiri pasien yang baru tiba, setelah melakukan pemeriksaan awal." Bawa dia ke IGD, di sini sudah full."
" Baik." jawab para apolisi.
Zahra mengikuti di belakang mereka sambil mempelajari diagnosa awal dari lapangan.
Di depan pintu MRI, dokter jaga menoleh kanan-kiri mencari bantuan, kebetulan Anna yang baru keluar dari ruang IGD sedang melewatinya.
" Dokter Anna, tolong antarkan pasien ke ruang intensif."
" Saya dari sana, juga sedang sibuk, dok."
" Hanya ke ruangannya saja, jika di perjalanan bertemu prof. Zahra atau prof. Farhan atau dokter Zahira diminta segera menangani pasien. Tadi saya sudah menghubungi mereka namun tidak ada jawaban."
" Saya juga sedang mencari mereka."
" Saya stuck di sini entah untuk berapa lama, makanya saya titip pesan kalau anda bertemu mereka."
Anna mendecak sebal akan pemutaran kata dokter jaga yang juga teman masa kuliahnya itu yang hanya direspon cengiran lima jari darinya.
" Dari dulu gak berubah, selalu memutarbalikkan kata."
" Hahaha, hanya satu yang tidak berubah, cinta ku pada kamu, tapi kamunya lihat prof. Farhan melulu."
" Jangan dibahas, semuanya sudah end. Beliau hanya melihat Zivara."
Seketika diantara lelahnya memeriksa pasien, bibir sang dokter tersenyum sumringah.
Para asisten hanya terdiam mendengarkan obrolan random itu, mereka paham di situasi seperti sekarang hal-hal random diperlukan guna menurunkan ketegangan akibat tekanan pekerjaan.
" Ah, sudahlah. Sebagai dokter yang berperikemanusiaan saya membantu anda, tuan dokter."
Sambil mengusap sayang kepala Anna, dokter itu tergelak.
Langkah Anna terhenti saat menyadari siapa pasien tersebut." Aduh, gawat kalau kita terlambat penanganan." Serunya.
Dokter itu menghela nafasnya lelah, kemudian mengangguk." Dan sepertinya sewaktu di UGD beliau terlambat mendapatkan pertolongan, jadi anda sekarang harus bergegas."
" Siap." Dibantu dua perawat tadi Anna mengawasi kondisi pasien lewat monitoring pasien darurat.
Di tengah perjalanan menuju ruang intensif tiba-tiba aktivitas jantung pasien melemah.
Oleh sebab tidak bisa berhenti di tengah jalan Anna lantas menaiki brankar tersebut guna mengembalikan stabilitas aktivitas jantung.
Saat melewati ruang IGD, Anna memanggil salah satu perawat yang sedang lewat.
" Kau, laporkan perkembangan kondisi setiap saat pasien yang terbaring paling pojok kanan ruang IGD pada prof. Zahra. Atau dokter Zahira. Dia tuan Atma Madina." Ucapnya.
Orang itu terkejut, pasalnya semua orang tahu pasien itu merupakan pria yang paling parah dengan banyak luka dari pecahan kaca yang menyamarkan identitasnya.
Disebabkan sebagian besar korban terluka parah, para petugas lapangan tidak sempat memeriksa identitas para korban, mereka hanya akan memberi tanda pengenal lewat kode agar diagnosa tidak tertukar.
Tok..tok...
" Kata banyak orang, kalian mencari saya?" Ucap Zahra bergabung dengan beberapa dokter yang sedang berdiskusi mengenai hasil MRI VVIP tadi.
" Iya, tadi kami sudah berbicara dengan prof. Farhan. Kami menemukan hal yang serius di bagian kepala pasien."
" Ini hasil pemeriksaan MRI nyonya Sandra Atma Madina." ucap pemimpin lab MRI.
__ADS_1
Zahra menganalisa foto di depannya, jantungnya berdetak cepat saat kesimpulan sudah dia ambil.
" Menurut kalian apa penyebabnya?"
" Ciri-ciri Kondisi ini tidak serta merta cepat terlihat, jadi petugas di lapangan saat mengevakuasi nyonya kemungkinan belum melihat ciri-cirinya sehingga mereka membawanya ke UGD, di UGD inilah kemungkinan keterlambatan penanganannya."
Melihat raut tegang Zahra, para dokter memilih diam, toh Zahra juga pasti sudah paham apa yang terjadi.
" Panggil ahli bedah otak, kita harus mengoperasinya sekarang." Pintanya sebelum berlari keluar.
" Panggilkan prof. Farhan." Seru Anna disela usahanya menormalkan kondisi pasien paruh baya tersebut.
" Beliau sedang operasi." Ucap sang perawat.
Tidak jauh di depannya, Zahra berlari sambil celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.
" Zahra, profesor Zahra..." Teriak Anna
Zahra menatap arah suara yang memanggilnya, ia terkaget melihat apa yang sedang dilakukan Anna.
" Tadi ada pesan..."
"Saya tahu, saya baru dari ruang MRI." Sela Zahra.
Zahra mengambil papan yang berisi laporan kesehatan Sandra.
" Dia, detak jantungnya sedang turun."Tunjuknya lewat matanya pada pasien yang sedang dia bantu pernapasannya menggunakan alat resusisator karena tangannya sibuk memompa.
" Hmm, bawa pasien ke ruang operasi sekarang." Ucap Zahra pada dua perawat yang langsung membelok brankar ke ruang operasi.
" Mana prof. Farhan?" Tanya Zahra, sambil memeriksa laporan kondisi pasien.
" Beliau sedang tindakan, begitu selesai saya akan minta untuk langsung ke anda."
" Tadi katanya sudah kelar, tapi pastikan saja dimana beliau saat ini, Hmm."
" Saya tidak bisa terus membantu, karena tuan Atma Madina pun sedang dalam pengawasan intensif di IGD, kondisinya terlihat tidak lebih baik."
Mendengar itu, perasaan Zahra seketika gusar." Hubungi dokter Zahira."
" Dia juga sedang melakukan tindakan, tadi ada pasien yang mengalami serangan jantung." Tutur salah satu perawat itu
" Kalau begitu, jika profesor Farhan atau dokter Zahira selesai tindakan, arahkan pada tuan Atma Madina."
" Siap."
" Dokter Anna, saya ucapkan terima kasih." Ucapnya sepenuh hati.
" Tidak perlu sungkan, kita seorang dokter." Balasnya sebelum berlari kembali ke ruang IGD.
Tidak mungkin dia mengenakan pakaiannya yang sudah bernoda, Zahra pun berganti pakaian scrubnya terlebih dahulu.
" Laporkan kondisi terkini." Ujar Zahra ditengah para asisten sibuk mengenakan padanya pakaian operasi dari penutup kepala, sarung tangan, bahkan jubah operasi.
Matanya menatap lurus Sandra yang terbaring bagai tak bernyawa di tengah alat medis.
" Aktivitas jantung naik-turun..." Perawat pendamping menjelaskan kondisi Sandra yang semakin mengkhawatirkan.
" Dokter Zahra, mari kita berdo'a sebelum mulai sesuai agama masing-masing. Berdo'a dimulai." Seru Farhan dibalik maskernya.
Satu setengah jam sudah mereka di ruang operasi, para tenaga medis menatap pasien yang tidak bisa twrselamatkan, sebenarnya pada menit ke 70 pasien dinyatakan meninggal, namun Zahra yang keras kepala menolak itu, hingga dia masih terus berupaya mengembalikan denyut jantungnya.
Setelah berusaha tanpa hasil, prof. Farhan menghentikannya, lalu menyatakan pasien meninggal dunia di karenakan Luka dalam akibat benturan hebat di kepalanya.
" Tidak...tidak boleh terjadi..." Zahra menggeleng cepat dengan air mata yang mengalir deras.
" Saya...saya tidak bisa menyampaikan..."
" Biar saya yang menyampaikan kepada mereka..."
" Anda tidak paham, saya sudah berjanji akan menyelamatkannya, itulah mengapa beliau dipindahkan jauh-jauh dari Bogor ke jakarta." Sela Zahra dengan suara meninggi.
" Zahra, saya paham. Tidak ada dokter yang ingin pasiennya meninggal, apalagi di atas meja operasi. Kita sudah berusaha yang terbaik, namun Allah berkehendak lain."
Semua orang yang ada di ruang operasi tersebut tertunduk sendu. Tidak ada yang berani menyela pembicaraan mereka.
" Suster rapihkan pasien, kita..."
" Tidak, kalian tidak bisa melepas..."
Farhan berjalan ke arah seberang dimana Zahra berdiri, masih dengan jubah operasinya ia memeluk Zahra.
" Zahra,...jangan sakiti tubuh pasien untuk hal-hal yang tidak perlu. Ini sudah berakhir, kita tidak bisa melawan takdir." Ucapan yang membuat Zahra akhirnya menangis.
Dalam pelukan Farhan, Zahra menangis tergugu seperti saat untuk pertama kalinya dia sebagai dokter yang mendapati pasien yang tidak bisa diselamatkan.
" Prof, ku mohon...sekali lagi...kita pasti bisa..."mohonnya, menyatukan kedua tangan dengan jari telunjuk terangkat.
" Kita sudah berusaha sejak di menit beliau memiliki harapan hidup 0,1%."
" Anda tidak paham, dia ibu kandung dari orang yang ku sebut adik, dia ibu mertua dari adik kandungku, dia bibi dari orang yang kami sebut sepupu, dia berarti bagi Papi...papi akan bersedih selamanya jika tahu wanita kecintaannya tidak bisa bangun lagi...hiks...itu semua karena aku yang tidak bisa..."
" Allah yang berkehendak demikian, Zahra..."
Ucapan tegas nan lembut itu meluruhkan tubuh Zahra ke lantai seakan kakinya tidak bisa lagi menyangga bobot tubuhnya yang disanggah oleh Farhan .
Saat Zahra masih terpuruk, berdasarkan kode dari Farhan mereka mulai merapihkan pasien dengan melepas satu persatu peralatan medis yang melekat di tubuh pasien.
" Biarkan saya berpamitan untuk terakhir kalinya pada pasien." Ujar Zahra yang diangguki oleh Farhan.
Ditengah Isak, dan pandangan yang buram, Zahra menjahit bagian kepala Sandra dengan telaten dibawah pengawasan elang Farhan.
Sesudahnya Zahra menggapai tangan Sandra yang tersampir lemah di samping tubuhnya.
" Mi, maafkan Ara...maaf tidak bisa...mengembalikan denyut jantungmu...maaf...tidak bisa...maaf..hiks...."
Tangisnya menjadi sambil mencium punggung tangan Sandra, untuk terakhir kalinya ia mencium kening Sandra sebelum perawat menutup seluruh tubuh Sandra dengan kain putih.
Zahra menangis tersedu-sedu memandangi kain putih disekujur tubuh itu, memang hampir tiada kenangan indah antara dirinya dengan Sandra, bisa jadi hanya pada pertemuan terakhir mereka keduanya menciptakan obrolan tanpa cercaan dan hinaan, namun Alfaska yang sering bercerita tentang sosok Sandra yang membuat Zahra yakin jika Sandra orang baik.
Mengingat Alfaska, Zahra menyeka air matanya yang masih terus mengalir meski sudah dicoba menahannya, ia harus terlihat kuat demi adiknya yang satu ini.
__ADS_1
Langkah pelan dan raut sendu keduanya dan beberapa perawat kala menemui para adik, petinggi Gaunzaga, Teddy, dan Hanna yang sudah menunggu di depan pintu operasi.
Alfaska yang duduk tertunduk dengan kedua tangan menjambak rambutnya langsung berdiri memegang tangan Zahra yang terasa dingin.
" Bagaimana dengan Mami, kak?" Tanyanya, suaranya bergetar menyimpan ketakutan.
Mata merah dan bengkak Zahra menatap lurus manik Alfaska. Mumtaz merasa gundah.
" Maaf, kami tidak bisa menye..." Alfaska menghentak tangan Zahra.
" TIDAK...TIDAAAKKK..." jerit pilu Alfaska yang tubuhnya langsung luruh dalam pelukan Radit.
" Tidak, tidak mungkin...KAU DOKTER TERBAIK DI RUMAH SAKIT INI, KAU SEORANG DOKTER YANG BERGELAR PROFESOR TIDAK MUNGKIN TIDAK BISA MENYELAMATKAN IBUKU." Teriak Alfaska membabibuta.
Para sahabat refleks bereaksi mendekati Zahra mendengar teriakan dari Alfaska.
Tubuh Zahra bergetar menahan tangis." Maaf...maafkan aku..." Lirihnya dengan tubuh membungkuk sempurna. Air matanya berjatuhan ke lantai, Mumtaz yang melihat itu, memejamkan matanya erat karena sesak di dadanya.
" Aku tidak butuh maafmu, copot semua gelar mu, kau tidak becus, kau memang tidak ingin menyelamatkannya karena kau membencinya setelah apa yang dia lakukan padamu, kau pembunuh..."
Mumtaz dan ibnu tersentak berdiri dari bangku tunggu mendengar tudingan Alfaska terhadap kakaknya, matanya menatap intens Alfaska.
BUGH....
" Aaaaa...kh..."
Bara menonjok Alfaska hingga dia pingsan, beruntung Radit bisa menangkapnya.
Semua yang hadir terhenyak atas apa yang dituduhkan Alfaska yang begitu kejam pada Zahra dan apa yang dilakukan Bara pada sepupunya.
perkataan itu menghujam sanubari Zahra, inj terlalu menyakitkan baginya.
Mumtaz melihat kepedihan kakaknya, tanpa kata, Hito lah yang mengangkat tubuh Zahra ala bridal dari sana.
Mumtaz beranjak hendak menyusul Hito yang terjeda karena panggilan Tia.
" A..." Panggil Tia pelan meragu.
" Kau istrinya, tangung jawab atas dirimu adalah dia, jika kau memaksa Aa menemaninya, untuk saat ini Aa tidak bisa. Kakak Aa lebih berarti dari dia." suara dingin Mumtaz mengagetkan yang hadir.
Perkataan itu menyakiti hati Tia, dia serba salah. Kenapa dia kembali di posisikan diantara Atma Madina dan keluarganya.
Raut kecewa terpatri di manik hitam itu, bahkan Daniel yang hendak mendekatinya berhenti karena tatapan penolakan dari Mumtaz, tatapan itu menyesakkan dadanya.
Untuk pertama kalinya selama mereka bersama Mumtaz menatapnya asing, itu menyakitkan, sangat menyakitkan untuknya. Tanpa sadar, bulir bening keluar dari pelupuk mata Daniel, Mumtaz langsung melengos melihat itu.
Sengaja mengabaikan Bara yang menatapnya sendu Mumtaz meninggalkan area bersama Ibnu, dan petinggi Gaunzaga. Setidaknya mereka memberi pesan pada Atma Madina dan Birawa dimana posisi mereka.
Saat tangannya membuka sedikit pintu ruang kerja Zahra,Tubuhnya menegang mendengar tangis pilu Zahra dalam rengkuhan Hito yang diam mendengarkan curahan hati kekasihnya.
Mereka memilih menunggu di depan ruangan tanpa menutup kembali pintu, mata Mumtaz dan Ibnu sudah memerah, setiap kata yang yang curahkan Zahra yang menyalahkan diri atas kematian Sandra menyayat hati kedua adiknya itu.
Butuh 20 menit Hito membiarkan Zahra menangis terbaring miring menyembunyikan wajahnya mengahdap perut Hito yang memangku kepalanya sambil mengusap kepala Zahra dalam ruang kerjanya.
Tiba-tiba Zahra beranjak ke bagian administrasi diikuti oleh dua adik, dan petinggi Gaunzaga yang berjalan di belakanganya bak bodyguard.
" Saya minta daftar petugas UGD." Sang pegawai pun langsung memberikannya.
" Kak,...ada apa?" Tanya Mumtaz.
" Kamu, hubungi bagian kontrol keamanan kalau kita akan ke sana. Mintakan rekaman cctv bagian UGD." Pintanya tegas yang dilanjutkan berjalan ke sana.
Di ruang kontrol cctv, kepala keamanan langsung yang menerima mereka, mereka mengamati rekaman cctv yang diminta oleh Zahra dengan ekspresi berbeda-beda.
Mereka mengernyit bingung, dan menurut mereka tidak ada hal yang janggal namun tidak bagi Zahra, matanya silih berganti memperhatikan antara papan, dan cctv. Raut wajahnya memerah, rahangnya mengeras karena tegang.
" Ibnu, pastikan rekaman cctv hari ini tidak hilang. Mengingat bagaimana dia bisa bergabung di sini, bisa jadi dia pun akan melakukan hal yang licik terhadap rekaman ini." Titahnya datar dan mengintimidasi.
" Kak, aku ingin kalian memberhentikan praktek magangnya Mutia Wibowo tanpa hormat, dengan dasar kesengajaan mengabaikan tugasnya."
" Iya. Anggap sudah beres." Tutur Hito.
bBrbalik berjalan ke arah pintu, di depan pintu yang sudah sedikit terbuka langkahnya terhenti.
" Pastikan, siapapun yang berlaku curang dan orang yang membantunya dipecat dan dimejahijaukan, dan tidak dapat diterima bekerja dimanapun." Ucapnya sebelum berlalu meninggalkan ruang kontrol untuk mencari sang biang kerok duka itu terjadi, terlepas dari takdir tuhan.
Langkah lebarnya menguasai koridor pencahayaan remang-remang dengan aura menegangkan, para staf yang berpapasan dengannya melipir memberi jalan.
Setibanya di lobby, saking kesalnya, Zahra melupakan tatakram." Siapapun saja, katakan dimana Mutia?" Suaranya sangat menggelegar hingga yang mendengar pun terjengkit kaget.
Beberapa dokter seusai menangani korban kecelakaan yang hendak keluar rumah sakit seketika menghentikan langkahnya.
" Terakhir...kami lihat dia duduk di cafe depan, prof." Jawab ketakutan dokter muda yang masih tampak ketampanannya meski terlihat letih.
Langkah seribu diambil Zahra dengan mimik bagai emak-emak yang siap menyerang pelakor dalam pertempuran perebutan hak teritorial, para pengawalnya yang notabene pemilik rumah sakit hanya bisa mengikutinya dari belakang, enggan berdebat.
Brakh...
Beberapa orang yang duduk santai di cafe tersebut menoleh terkejut ketika pintu dibuka lebar yang di dorong paksa.
Mata Zahra mengedar mencari sosok yang dia cari, matanya memindai wanita yang duduk memunggunginya, begitu target terkunci oleh radar pandangannya, ia langsung menghampirinya.
Sedangkan Mumtaz dan Ibnu mengambil semua dawai penghuni cafe, mereka mengambil duduk di meja tidak jauh dari sang target.
Membuka laptop masing-masing, kemudian dalam hitungan menit sibuk dengan tugas masing-masing.
Dengan enteng Zahra menarik kerah jubah putih Mutia yang memaksa sang empunya tertarik berdiri.
" Hei siapa yang..." bentakan Mutia terhenti begitu dia melihat siapa yang mengganggu masa healingnya.
Begitu tubuh Mutia berbalik sempurna menghadap Zahra,
BUGH...
Brakkh...prakh..
" Aws..."
Kepalan Zahra m3no0njok wajah glowing Mutia hingga menubruk meja yang berkursi empat yang salah satunya yang menindih kaki Mutia.
Zahra melempar kursi itu, menginjak kaki Mutia dan menarik bajunya.
" Aaaaw.." Mutia merasa tubuhnya terbelah dua, ketika tubuh bagian atas ditarik sementara kakinya masih berpijak dilantai karena tertahan kaki Zahra.
Menempatkan Mutia berdiri tepat di depan wajahnya, tampak oleh Mutia Mata tajam Zahra yang ternyata berhasil membuat gemetar tubuhnya yang selama ini terkenal arogan.
Tangan Zahra mencengkram leher Mutia lalu mengangkatnya.
Karena kaget mata Mutia membelalak, dia tidak percaya tubuhnya bisa diangkat bagai bergelantungan di kapstok pakaian.
Selesai mengurus pengunjung, Ibnu berjalan ke arah pegawai cafe di belakang kasir.
" Dimana ruang kontrol cctv?"
Karena takut, dia bergegas mengantar Ibnu ke ruangan sang pemilik cafe yang kebetulan datang berkunjung, air mukanya bingung melihat beberapa pria tampan menutup akses bagian kiri meja tamu cafe.
Matanya membola melihat seorang berjas putih diangkat tinggi-tinggi bergelantungan terlihat tanpa beban berat oleh wanita yang terlihat sangat murka.
" Kau, berani...mempermalukan ku." Bentak Mutia, Zahra membalasnya dengan senyuman smirk.
" Ini Bahkan belum apa-apa dibanding apa yang akan kau dapatkan karena kebodohanmu." Desisnya tajam.
Cengkeramannya semakin menguat menusuk kulit leher mulus itu, kedua tangan Mutia mencoba melepas ikatan tangan itu karena sesak yang tidak berpengaruh sama sekali.
" Kau,...karena ulahmu satu orang tidak bersalah meninggal. Karena keegoisanmu satu orang yang seharusnya memiliki kesempatan untuk hidup, meninggal. karena k3to0lolan mental mu seorang anak menjadi yatim....b*d0h."
" Kau... lepaskan..." Alih-alih terdengar menghardik, suara dengan erangan tertahan itu terdengar menyedihkan.
Posisi tubuhnya yang terangkat menjuntai terus meronta itu bertahan cukup lama, cukup untuk mengurangi pasokan oksigen di paru-parunya.
" Prof...prof...le..lepas...khan..." tangan Mutia memukul tangan Zahra yang mencengkram lehernya kuat-kuat, Suara itu terputus merintih.
" Not now..." Ucapnya santai.
Penghuni cafe, meski ketakutan namun penasaran, mencuri mengintip ingin tahu nasib sang lawan.
Wajah itu mulai berubah pucat...pukulan Mutia di tangan Zahra memelan.
" Tamat riwayatmu, orang tuamu, dan seluruh hal yang kau miliki saat ini akan hilang dari hidupmu."
Mumtaz menjadikan perkataan Zahra sebuah titah baginya, melalui laptopnya ia melakukan apa yang Zahra katakan, dengan caranya!
Bola mata sang lawan melebar, wajahnya sudah pias, gerakan kakinya sudah melemah, pukulan tangan di tangan Zahra sudah tidak ada, kedua tangan itu perlahan meluruh menjuntai, ketika mata itu mulai tertutup dan bobot tubuh mulai tidak bertenaga, dengan santai Zahra melemp@r kuat tubuh itu ke tembok cafe yang langsung terjatuh ke lantai bagai kertas.
BUGH...
Wajah dingin itu Berjalan ke pantry cafe, mngambil sebaskom air yang kemudian dia siramkan ke wajah Mutia.
BYUR....
Mutia terkejut mendapatkan siraman air dingin itu, lewat pandangan mengaburnya ia melihat tatapan Zahra begitu membeku, plus senyuman smirk yang tersungging menghina, sosok Zahra bagai malaikat pencabut nyawa.
" Jangan sebut namaku Zahra kalau tidak bisa membuat mu membayar apa yang kau lakukan hari ini pada korban kecelakaan itu."...
****
__ADS_1