
Tok!! Tok!!
" Masuk." Jawaban pelan Eric menjadikan pelayan masuk ke kamar Eric.
" Tuan, ada polisi menunggu anda."
lalu ia memberikan padanya sebuah amplop berkop kepolisian.
" Apa ini?"
" Surat perintah penggeledahan, tuan."
" Apa? Tentang apa?"
" Saya kurang tahu, tuan."
Eric menyumpah dalam hatinya," biarkan mereka melakukan tugas mereka." ia menandatangani surat penggeledahan tersebut.
" Baik, tuan." Kepala pelayan keluar dari kamar Eric.
Eric mengamati pergerakan polisi melalui laptop yang selalu standby, kegusarannya semakin menjadi saat polisi berjalan menuju gudang bagian paling belakang, tempat penyimpanan senjatanya.
Ia lantas menelpon seseorang.
" Hallo."
"Saat ini polisi sedang menggeledah mansion ku, sebaiknya anda lakukan sesuatu seperti yang sudah-sudah atau namamu paling terdepan sebagai seorang pengkhianat." Eric menutup sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.
Ia beranjak dari ranjang, berganti pakaiannya, melalui lift yang terletak di samping kamarnya turn kebawah, lewat jalan rahasia yang tidak jauh dari ruang kerjanya dia sampai di basement.
Memilih mengandarai mobil sport Ferarri warna hitam, ia mulai melaju keluar parkiran untuk meninggalkan mansionnya melalui jalan rahasia yang terletak di samping kiri mansion.
" Good bye, looser. Lala...Lala..hmm." tangannya mengetuk-ketuk stir mobil sambil mengikuti irama musik latin yang di setelnya.
Begitu mobil sport itu keluar dari pagar mansion, dua motor sport yang masing-masing ditumpangi dua orang membuntutinya.
Tanpa sepengetahuannya empat pria berseragam hitam itu menunggu Eric kabur dari mansionnya.
Mobil yang ditumpangi Alejandro yang mengamati keadaan berjarak beberapa meter dari mansion melihat mobil putranya dibuntuti dua motor memerintah anak buahnya mempercepat laju kendaraanya.
Ia terkejut, Apa yang dilihatnya di depannya begitu cepat.
Dia melihat motor terdepan menempelkan tanah lempung ke kaca jendela pengemudi, lalu tanah itu meledak bagai petasan mengakibatkan kaca anti peluru itu retak.
Eric terkejut akan ledakan di kacanya, saking paniknya ia salah menginjak rem menjadi menginjak gas, karena tidak fokus mobil itu oleng melaju kencang berakhir menabrak pohon besar nan rindang.
Mobil mengeluarkan asapnya, kepala Eric terjatuh di atas air Bud. Belum juga kesadarannya terkumpul, dua penumpang turun dan memecah kaca jendela, membuka pintu mobil, kemudian menyeret Eric.
Dalam satu pukulan di tengkuk Eric pingsan, kemudian diangkut ke atas motor yang dibelakangnya. Sesudahnya motor itu melaju kencang ditengah malam sepi.
" Ikuti mereka, tabrak mereka." Titah Alejandro.
" Stop, kita berhenti. Menjauh!" Koreksi Rodrigo yang duduk disamping Alejandro.
" Rodri,..ayahmu, dia..."
" Mereka RaHasiYa, kek. Selama kita tidak melibatkan diri dengan papa, kita aman."
Mendengar perkataan Rodrigo, Alejandro mengusap wajahnya gusar.
" Demi Tuhan, apa mereka bisa sePro begitu? Mereka masih pemuda." Tangannya memukul tumpuan tangan di pintu dengan gemas.
" Rodri, kamu seorang hacker apa kamu tidak bisa..."
Rodrigo menggeleng," kakek, jangan goyah, mereka terlalu baik untuk kita khianati. Mama Belinda dalam pertanggungjawaban mereka." Aku Rodrigo.
" Kita tidak mengkhianati mereka, tapi seorang Gonzalez harus mati ditangan seorang Gurman. Terlepas dia bukan putra kandungku, tetapi kakek yang membesarkannya." Lirih Alejandro, dihatinya masih tersimpan sedikit rasa kasihan pada orang yang masih diakuinya sebagai putranya.
Rodrigo hanya diam, merenungi.
Selesai menggeledah, dan menemukan barang bukti, kesatuan polisi tersebut memasang *police line* di gudang dan pagar mansion Eric.
" Dimana tuanmu?" Tanya inspektur polisi.
" Di kamar, tuan sedang kurang sehat. Pak." Jawab kepala pelayan.
" Antarkan saya kesana."
Kepala pelayan terpaksa memasuki kamar Eric setelah diketuk tiga kali tidak ada sahutan.
Kamar ternyata kosong, baju bekas pakai berserakan di atas ranjang, para polisi memeriksa setiap sudut kamar.
" Dimana ujung dari lift ini?"
" Parkiran basement, pak."
Para polisi memasuki lift, setelahnya mereka memeriksa basement, dari keterangan kepala pelayan akhirnya mereka menemukan jalan rahasia.
" Si\*al!!" Umpat inspektur, saat menyadari satu mobil hilang dari jajaran mobil yang lain. Inspektur menelpon ka.pl.ri guna mengabarkan apa yang terjadi.
\*\*\*\*\*\*\*
Langkah ke tujuhnya terhenti begitu mereka buka pintu lounge mendapati ka.pol.ri dan pang.lima yang hendak masuk ruangan beserta para ajudannya.
" Kami permisi..."
" Kami ingin bertemu kalian." Sela Ergi memotong ucapan alfaska.
Semuanya kembali masuk lounge, mereka duduk memutari meja bundar besar.
" Beberapa pemimpin media menghubungi kami terkait keterlibatan para po.litisi itu, mengapa kalian menyebarkannya, kalian mengingkari perjanjian." Kesal Ergi menatap satu persatu petinggi RaHasiYa.
Mimik petinggi RaHasiYa berubah dingin, " tepatnya perjanjian apa yang anda maksud?" tanya Mumtaz.
Ergi memandang Mumtaz dengan raut menahan emosi.
" Kamu sendiri yang bilang biar ini menjadi urusan kami."
" Saya memberi kalian kesempatan untuk bertindak sebagai apresiasi tujuan anda untuk menegakan hukum dari para mafia, itu janji anda sewaktu pengangkatan menjadi ka.pol.ri, tetapi tidak ada tindakan apapun dari kalian. Kau dengan segala omong kosong mu mengecewakan." Telak Mumtaz.
" Perkara ini akan menimbulkan keresahan di masyarakat."
" Itu bukan tanggung jawab kita, biar mereka yang menanggungnya." Suara Mumtaz meninggi, meninggalkan kesopanan.
Mumtaz mencondongkan tubuhnya menatap lurus Ergi," Saya bisa membaca keengganan Anda, bagaimanpun pasti ada faktor polit\*k atas pengangkatan anda, dan itu bukan urusan kami. Kalau anda tidak mampu, biar kami yang menyelesaikannya." Tantang Mumtaz.
Ergi terdiam, terkejut atas kebernaian petinggi RaHasiYa sejauh ini.
" Ini sudah terjadi bertahun-tahun, kenapa baru sekarang kamu bertindak?" Pang.lima bertanya dengan tenang.
" Klise, kami memberi umpan pada para pejabat sebelumnya, melihat responnya, dan kecewa. Kami tidak akan membuang waktu bekerjasama dengan pejabat korup, berjiwa kacung, bermental tuan tanah era penjajahan. Kami menunggu pejabat yang berjanji, namun memiliki tekad, lalu menangih janji tersebut." Tutur Mumtaz tanpa ekspresi.
" Bagaimana jika kalian dikecewakan kembali?" Pang\*lima menantang petinggi RaHasiYa.
__ADS_1
" Indonesia masih tetap ada tanpa kalian, Indonesia tidak butuh peja\*bat kacung!" timpal Alfaska menegaskan.
kedua petinggi itu tertegun, bertanya darimana asal keberanian tersebut.
Mumtaz merasai ponselnya bergetar dalam saku jaketnya, ia melihat isi pesan yang dikirim anak buah Leon.
" Tuan-tuan, bukan hal sulit bagi RaHasiYa menyingkirkan mereka, kami bisa bertindak ala Robin Hood, tapi kami hanya ingin kalian kerja." Sindir Alfaska.
" Kalau kalian tidak ingin kehilangan muka, sebaiknya kalian kebut menggerebek mereka sebelum media memberitakannya, alih-alih membuang waktu kami." Imbuh Daniel.
" Apa kalian sedang memerintah kami?" Ergi tidak terima.
" Terserah apa tanggapan Anda, kami hanya ingin menyelamatkan Indonesia dengan cara kami." Ibnu menengahi.
Tiba-tiba Ibnu memberikan sebuah map berwarna hitam. " Ini."
Pang.lima dan ka.pol.ri membagi berkas tersebut, keduanya terperangah terkejut.
" Semuanya diawali sebagai pelanggan Surga Duniawi, memanfaatkan jabatan mereka membuka kran penjualan manusia untuk dijadikan PSK di negeri orang, namun sebelumnya mereka 'mencicipinya" terlebih dahulu. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir, kami sudah menyelamatkan ratusan wanita. Kini saatnya kalian yang menuntaskan." Ibnu melirik Mumtaz yang sibuk dengan ponselnya.
" Kenapa tidak kalian katakan kepada kami?" Ka.polri memprotes.
" Kalian mungkin sudah menemukannya di komputer mereka kalau kalian sudah bertindak!?" Sarkas Mumtaz sinis sembari menyimpan ponselnya.
Ajudan Ergi membisiki sesuatu pada Ergi, mata Ergi melirik Mumtaz yang dibalas tatapan tegas dan menantang dari Mumtaz.
" Apa yang kalian beri pada kami terbukti, Eric Gonzalez kabur." Info Ergi.
" Kami tidak berharap banyak pada kalian." Sarkas Alfaska.
Gestur Ergi menegang, kedua tangannya mengepal. Sedangkan pang\*lima memijit pelipisnya lelah.
" Mobilnya ditinggal dalam keadaan menabrak pohon."
" Kami di sini bersama anda, yang menunda kami untuk mencari prof. Zahra." Sindir Daniel.
" Apa kalian akan tetap membuang waktu?" Tanya Mumtaz kesal.
" Dari sekarang urusan ini bukan dengan kami, tetapi dengan pemuda, khususnya mahasiswa. Jangan sampai anak STM kembali turun ke jalan." Ujar Ibnu.
" Mahasiswa?"
" kalian tidak lupa kalau kami mahasiswa kan? Kami kira sudah saatnya para pelaku kerah putih lengser dari Sen\*yan." Alfaska beranjak berlalu meninggalkan lounge tanpa permisi disusul oleh para sahabat.
" Kami pergi, permisi." Mumtaz dengan santai meninggalkan ruangan.
" Diberi asupan apa mereka itu?" celetuk Ergi.
Teddy terkekeh," hanya asupan halal dan patut saja, insyaAllah."Tukasnya sebelum melenggang meninggalkan ruangan.
Alfaska dan yang lain begitu terkejut mendapati para mama, ayah berkumpul di lobby hotel menunggui mereka.
Sontak Bara, Alfaska, dan Daniel berlari menghampiri mereka sambil merentangkan kedua tangan untuk memeluk para orangtua.
Dibelakangnya Ibnu, Mumtaz, dan Zayin berdiri mematung menonton adegan itu dengan rasa iri,dan raut pilu.
Seketika kerinduan akan kehadiran orang tua menggerogoti sanubari mereka, bahkan Zayin meremas tangan Mumtaz.
Mumtaz merasakan remasan itu, balik menekan genggaman tangannya pada zayin.
Teddy yang berjalan terakhir mengamati dua kubu itu silih berganti, tersenyum miris, lantas dari belakang ia memeluk ketiga pemuda tersebut dnegan kedua tangannya yang besar.
" Ayah, papa kalian." Suara beratnya menahan tangis.
Terasa olehnya punggung ketiga pemuda tersebut menegang, Zayin lah yang akhirnya tak kuasa lagi menahan kesedihannya.
Ia berbalik lalu memeluk penuh erat Teddy, basah di kemejanya Teddy abai. Tangisan Zayin menggugah hatinya merasa gagal sebagai ayah.
Bara, Alfaska, dan Daniel menoleh, dan merutuki diri mereka sendiri. Mereka benci kala merasakan gagal melindungi saudaranya.
Elena menghampiri ketiga yatim-piatu tersebut, merengkuh ketiganya ke dalam rangkulannya yang disusul Gama, Aryan, Hanna.
" Kok pada ngumpul di sini?" bisik Bara, tangannya yang merangkul Sherly mengerat, sudah tiga hari dia belum sempat pulang.
" Maaf, jarang pulang." ucapnya sembari mengecup pelipis Sherly dengan sayang.
" Mama paham, kalau kakak kamu hilang, adik laki-lakinya yang bertindak." Sherly menatap lembut Bara.
" Terima kasih sudah memahami Abang."
" Mama yang terima kasih pada mama Aida yang sudah jaga Abang." Sherly menyandarkan kepalanya pada bahu lebar putranya.
Mereka mengurai pelukan jamaahnya, Elena mengusap pipi wajah tenang Mumtaz." Kami mau melepas kalian, kami orang tua kalian, jangan merasa sendiri," tangan kanannya mengusap surai hitam Ibnu yang menunduk, telapak tangan itu langsung Ibnu kecup." bawa kak Zahra pulang, hmm!" pinta Elena.
" Pasti!" Jawab Mumtaz, Ibnu hanya mampu mengangguk.
" Kalian jaga kesehatan di sana cuaca lagi gak bersahabat." Elena memasang scraft rajut dibantu Sherly dan Hanna satu persatu pada par anak, terakhir ke leher Zayin.
Zayin memandangi scraft dengan sayu, hal itu disadari oleh Hanna.
" Yin, kenapa?" Suara lembut Hanna kembali membuat pertahanan air mata Zayin roboh.
" Cuma kangen Mama, Bun. Kangeenn banget." Akunya lirih, semuanya terdiam. Dalam diam Mumtaz mengepalkan erat kedua tangannya.
Elena menggapai tangan tersebut, lalu mengurainya." Jangan ditahan, bahu mommy cukup untuk menyangga beban kamu" Bisiknya, Mumtaz mengangguk.
" Terima kasih." Lirihnya.
" Mama kamu di sini." Hanna membawa tangan Zayin ke atas kepalanya. yang dibalas Zayin mengecup lama kening Hanna.
" Kita Mama kamu." Giliran Elena mengecup kening Zayin, sementara Sherly mengusap-usap punggung Zayin naik-turun secara teratur.
Zayin mengangguk cepat, ia menyeka cepat air mata yang terus keluar.. " Cuma kangen aja. Kangen banget...hiks..." Zayin memeluk sekaligus tiga wanita paruh baya tersebut.
" Yin,..." Panggil Alfaska sendu.
Zayin mengurai pelukannya, sektika raut wajahnya berubah." I am fine, gue siap basmi mereka. Kalau terjadi sesuatu dengan kak Ala, gue gak bisa memaafkan diri gue sendiri."
" Gitu dong, ini baru anak TNI. Ganyang mereka." Elena meraup wajah Zayin dan mengusap sayang di pipinya.
" Do'a kami menyertai kalian." ucap Gama.
" Maaf, kami harus segera berangkat." Mumtaz memutus suasana haru diantara mereka.
Para ayah mendekati mereka," jangan khawatirkan yang ada di sini, fokus menyelamatkan Zahra." Aryan menepuk-nepuk pipi Mumtaz.
" Iya, Pi."
" Pi, kami percayakan urusan Eric Gonzalez kepada kalian, para ayah. Kalian bukan cemen kan kalau urusan kecil ini harus kami yang nuntasin." Provokasi Alfaska.
" Jangan mulai, Fa." Sengit Teddy yang direspon cengiran oleh Alfaska.
" Gata tv, pada berita pagi nanti menayangkan berita tentang para polit"si itu." Ungkap Gama.
" Om, ini komunikasi terakhir Gonzalez dengan ketua partai, barusan saja." Mumtaz memberi memory card pada Gama.
" Untuk selanjutnya yang berhubungan dengan RaHasiYa kalian bisa bersama-sama dengan Yuda." Tukas Alfaska.
__ADS_1
" Kami akan mendampinginya. Supaya mereka tidak bisa mengintimidasi." tegas Teddy.
" Kabari kami, kami akan datang jika kalian butuh kami." Mumtaz dan yang lain menyalami para orang tua lalu meninggalkan lobby karena mobil sudah menunggu mereka.
Ibnu menarik lembut tangan Ayunda yang berdiri jauh dari mereka. Ayunda sempat terkejut, namun tidak menolak saat Ibnu menggenggam tangannya.
" Yah, Bun. Pinjam Ayu-nya sampe depan." Seru Ibnu.
" Bungkus aja, Nu. Jadiin koki di sana." Celetuk Hanna.
Ibnu mengulum senyum, sementara Ayunda melototi Hanna.
" Matanya, dek." Ibnu mengusap lembut wajah Ayunda, tapi tidak melepas pegangan tangan kanannya.
" Ada ya ibu ngebuang anak cantik begini." Gerutu Ayunda, Ibnu terkekeh geli.
" Dek, Abang pergi dulu, jaga bunda dan yang lain. Jangan pergi tanpa pengawalan." Daniel mengecup kening Ayunda, begitupun dengan para kakak yang lain sebelum satu persatu dari mereka memasuki mobil.
" Abang, pergi." Terakhir Ibnu mengecup kening Ayunda dengan sayang sebelum menutup pintu mobil, Ayunda meresapi momen langka tersebut.
" Dek, masuk gih." Seru Zayin kepada Ayunda yang masih menatap udara dimana mobil sudah meninggalkan area hotel.
" Iya, kakak hati-hati. Jaga diri. Kalian bukan manusia super."
" Iya." Ayunda mencium punggung tangan Zayin, William, dan Bayu yang mengendarai motor masing-masing.
Begitu memastikan Ayunda aman di lobby hotel bersama para orang tua, mereka meninggalkan area hotel.
*****
Pakaian serba hitam, tubuh tinggi tegap petinggi RaHasiYa dan rombongan dengan wajah datar tanpa ekspresi sungguh menarik perhatian para penumpang bandara lainnya.
Mereka memasuki ruang tunggu privat dimana para sahabat sudah menunggu. Segerombolan anak muda itu menjadi pusat perhatian
Mumtaz memandangi para sahabatnya penuh wibawa, para sahabat pun duduk tegak sebagai responnya." Yuda Radit, Haikal, Rizal, Ubay, Akbar, Raja, Juan, Adgar. di atas meja kerja kalian sudah ada beberapa berkas yang harus kalian pelajari dan sikapi sebagai seorang intelektual." Pembuka Mumtaz dengan tegas.
" Banyak resiko yang akan kalian hadapi, namun kalian harus tenang. Saatnya kita kembalikan bangsa sesuai tujuan awal para leluhur memilih berdaulat dulu."
" Muy,..."
" Yuda! kamu, meski ketua BEM universitas swasta, tetapi kredibilitas kepemimpinan kamu tidak kalah dengan ketua BEM universitas negeri. Jadi manfaatkan itu untuk mengkoordinir mahasiswa lainnya." Sela Mumtaz.
Ibnu meletakkan flashdisk dan menyodorkannya pada para sahabat.
" Di sini telah dirancang skenario menghadapi para penghuni Sena*an dengan segala propagandanya. Kalian tinggal membagi tugas."
" Apa sedahsyat itu?" Tanya Radit.
" Perbuatan kemarin yang kita lakukan masih bisa mereka halangi, sekarang tidak! Para ayah sudah menyiapkan para pengacara, tapi saya harap kalian memanfaatkan teman mahasiswa hukum kita bikin mereka sebenar-benarnya pecundang." Tutur Alfaska.
" Ini lebih dari sekedar kak Ala kan?" Selidik Rizal.
Sebelum para petinggi menjawab, staff bandara menginterupsi.
" Maaf tuan, pesawat harus segera take off."
Bara dan Alfaska mengangguk, semuanya beranjak meninggalkan lounge.
" Benar! ini lebih sekedar dari Kak Ala!" tegas Mumtaz.
" Kami pergi." para sahabat saling menyalami ala lelaki melepas kepergian petinggi RaHasiYa dan anak buah.
Para sahabat memandangi pesawat-pesawat yang mereka tumpangi yang mulai melaju membelah langit.
" Empat pesawat, eksekutor lapangan semuanya bergerak, Rio, sang mekanik komputer diajak, Leon dan anak buah yang spesialis pemungkas kasus diboyong, segala kecanggihan dimanfaatkan. Sesuatu yang maha besar akan terjadi." Seru Radit.
" Kita balik! laksanakan tugas kita." Yuda berbalik kemudian meninggalkan bandara begitupun dengan yang lain.
****
" Suster Reni berlari mengejar Zahira," dok...dokter!"
Zahira menoleh ke arah suara Reni.
" Dok, apa benar prof. Zahra diculik?" Nafas Reni terengah-engah.p
" Darimana kamu dapat kabar tersebut?"
Reni gelagapan tidak nyaman." Ada salah satu perawat mencuri dengar sewaktu nyonya Dewi dirawat, dok. Bagiamana dok?"
Zahira mengangguk," benar, beliau berniat menolong nyonya besar Hartadraja."
Reni menutup mulutnya terkejut, " dok,..." Lirihnya sedih.
" Do'akan saja atas keselamatannya. Saya harus pulang, sudah dijemput."
Zahira berlari ke parkiran lobby dimana Erel menunggu." Maaf, lama. Seharusnya kamu gak perlu jemput mbak."
" Jangan konyol, yang ada aku dimarahin kak Samud." Erel melempar helm pada Zahira yang langsung ditangkap oleh Zahira.
" Siapa dia ngatur hidup gue?"
" Calon suami, Lo." Ucap frontal Erel mendapat delikan tajam Zahira yang diabaikan oleh Erel yang lebih tertarik menyalakan motornya.
" Rel, kita pindah rumah saja, yuk!"
" Mbak, teman Lo lagi diculik, dan Lo ributin masalah pindah?" Wow solidaritas sekali." Sarkas Edel sinis.
" Ck ya enggak sekarang."
" Janga diomongin sekarang. Cepat naik." titah Edel.
Reni menatap kepergian Zahira dengan sorot sedih.
" Jadi benar dokter sok penguasa itu diculik?" Mutia berdiri di belakang Reni dengan dengan gestur pongah."
" Syukurlah, ini karma kesombongannya." Mutia menjentik kuku jari tangannya.
" Tidak perlu prof, Zahra untuk buat kamu dipecat, saya yang akan memastikan kamu keluar dari rumah sakit ini." Ancam Reni.
Mutia tersenyum miring menyebalkan," siapa Lo? Lo cuma kuli."
" Dan Lo, si bo*doh br*engsek yang tidak punya malu." Reni menekankan jari telunjuknya di dada Mutia, setelahnya berlalu dari hadapan mutia yang mendumel.
****
Dewa telah menyelesaikan perintah Ibnu, namun belum beranjak dari kursi kerjanya meski jam telah menunjukkan pukul 23.15 wib.
Dewa menatap lesu peta tersebut, dia berharap banyak akan informasi ini membuatnya dapat menghilangkan rasa bersalahnya.
Tring!!
Mata Dewa berbinar saat menerima pesan dari Mumtaz.
" Retas semua komunikasi para legis*lator, tutup semua akun para poli*si dari semu lem*baga negara termasuk sosial medianya. SAYA PERCAYA KAMU!!"
Dewa tersenyum sumringah, Dimas yang amsuk ruangan membawa di cangkir kopi menatapnya bingung.
" Gila, Lo!?"
" Ck, lihat." Dewa melempar ponselnya.
Dimas tutur tersenyum," syukurlah, jangan kecewakan mereka lagi."
" Enggak akan!"
Dewa pun langsung tenggelam asik dengan dunia digitalnya, berkencan kembali dengan komputernya.
*****
Tok..tok..
Krek!!
Nacho memasuki ruangan tanpa berani menyinari dengan lampu.
" Non,..nona!" Panggilan berbisik membangunkan Zahra dari tidur yang coba ia lakukan.
" Nacho!?"
" Iya, apa nona masih mau ke toilet?"
" tentu, apa kau bisa kendurkan ikatan tanganku?"
" Tentu, nona." Zahra mengeringkan badannya agar memudahkan Nacho meraih tali.
Setelah tali terasa longgar, Zahra mencoba berdiri.
" Nona, biar aku bantu." Nacho memegang kedua bahu Zahra untuk membantu berdiri.
Secara perlahan, mereka berdua melintasi lapangan sepi ke toilet.
" Nona, ini pakaian gantinya."
" Tidak, terima kasih. takut mereka curiga kalau saya berganti pakaian."
" Saya sudah menyiapkan pakaian yang sama persis dengan yang nona kenakan."
Zahra tersenyum haru, menerima kantong plastik tersebut.
" Saya tunggu di belakang." Zahra mengangguk.
Di dalam toilet, Zahra melepas ikatannya, bersegera ia membersihkan diri.
Mengeluarkan semua benda dari dalam tasnya, ia memegang pistol, menyimpannya dalam kaos kakinya. semua benda yang ia kira berguna melumpuhkan lawan ia simpan di dalam saku Hoodie dan celana trainingnya.
" Walau gue harus mati, gue mati dengan tidak mudah." gumamnya.
__ADS_1
Ia merasa siap menghadapi apapun yang terjadi di kemudian hari...