Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 99. Salam Dari Mumtaz


__ADS_3

" Jadi si Guadalupe itu mau bunuh kita semua?" Adgar meski masih berbalut perban di kepala dan badannya memaksakan diri ikut meeting membahas kejadian tadi.


" Dia mau memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin kartel beraksi." Alfaska menunjukan isi iPadnya.


" Paman, apa kalian mengizinkan RaHasiYa untuk membalasnya?" Mumtaz menatap Aznan dan Fatio.


" Apa kamu punya masalah pribadi dengan mereka?" Fatio menimbang penawaran RaHasiYa.


" Tidak ada, kecuali berkaitan dengan Aloya dan lainnya." 


" Apa kami tidak bisa membalas langsung, minimal menghajar mereka? Akbar menimpali.


" Dengan cara kartel, berani Lo?" Daniel menyangsikan.


"Kenapa tidak, Lo meragukan gue?"


Daniel mengedikkan bahu," Lo kan selama ini hanya bergulat dengan perusahaan, tidak dengan kekerasan seperti ini."


" Memang Lo pernah?"


" Ck, gue petinggi RaHasiYa. Untuk menjadi bagian dari RaHasiYa salah satunya harus memiliki kemampuan bela diri, sedikit banyak  kita bersinggungan dengan kekerasan." Terang Daniel, Akbar merenungi ucapan Daniel.


" Sejauh apa kalian akan bertindak?" Fatio mengalihkan pertanyaan.


" Sejauh mana mereka beraksi." pasti, dan meyakinkan tekad yang terucap dari mulut Mumtaz.


" Baiklah, saya bebaskan kalian membalas apapun yang mengusik Hartadraja."


" Dipimpin oleh Damian, bagaimanapun kami harus menjaga harga diri Hartadraja." Lanjut Aznan.


" Baiklah, kami akan menjadi bawahan om Damian, dengan cara kami."  Mumtaz menyetujui syarat Hartadraja, toh baginya itu bukan hal yang penting.


" Om, kita mulai malam ini, Jeno telah siapkan segalanya. Kami permisi dahulu." Mumtaz diikuti yang lain beranjak meninggalkan kantornya.


******


Rodrigo, Diego, dan Alejandro berumpul di ruang kerja Alejandro seusai sambungan video dari Mumtaz berakhir.


" Rodrigo, apa yang kau tahu tentang RaHasiYa?" Alejandro mengetes kewaspadaan Rodrigo selaku calon penggantinya.


" Mereka salah satu perusahaan cyber dan keamanan berpengaruh di dunia, pemerintah mampu mengimbangi keganasan para kartel karena bantuan mereka."


" Apa mereka bisa membahayakan bagi kita?"


Rodrigo mengernyit bingung mengapa kakeknya begitu menaruh perhatian kepada RaHasiYa.


" Sebaiknya kita jangan berurusan dengan mereka, mereka tidak akan menyentuh kita, jika kita tidak mengusik mereka!"


" Apa mereka bisa melakukan apa yang kita lakukan?"


" Mereka hanya membalas dengan setimpal sesuai apa yang kita lakukan, artinya mereka tanpa batas."


Segala umpatan dan sumpahan diucapkan Alejandro memenuhi ruangannya.


" Nenekmu ada di Indonesia, mengejar mantan kekasihnya, dia merencanakan hal buruk kepada orang yang dilindungi RaHasiYa."


Rodrigo maupun Diego membelalak terkejut," apa maksud kakek nenek berselingkuh?" Rodrigo tak ingin membayangkan hukuman yang akan didapati oleh neneknya karena mengkhianati kakeknya.


" Pria itu menghiraukan nenekmu, dan nenekmu marah sehingga dia berpikir akan menghancurkan keluarga mantannya.


" Apa kakek tahu siapa dia?"


" Fatio Hartadraja."


Rodrigo terperangah, wajahnya berubah sangat ketakutan.


" Kenapa?" Alejandro penasaran.


Rodrigo menggelengkan kepala," Hartadraja memiliki Hito, salah satu pemimpin the Gaunzaga, organisasi bawah tanah yang menghukum semua orang tanpa pandang bulu yang berbuat jahat pada orang-orang mereka. Berurusan dengan Gaunzaga sangat kita hindari apalagi ini ditambah dengan RaHasiYa, kita tidak punya peluang untuk memenangkan medan perang ini."


" Baiklah mulai saat ini jelaskan siap RaHasiYa dan siapa Gaunzaga." Pinta Alejandro.


" Paman Diego, tolong ambilkan kotak hitam besar di ruanganku."


*****


Sinar terang nan panas yang berasal dari lampu 15000 watt yang terletak tak jauh dari kepala mereka tanpa udara sejuk sama sekali membuat para pria kekar khas Amerika latin kepayahan padahal mereka berada di sana baru satu jam.


Seiring pintu dibuka cahaya lampu pun meredup, udara yang berasal dari AC menyejukkan tenggorakan yang seret karena dehidrasi, dengan dikawal Jeno, Mumtaz dan para sahabat berdiri menjulang di hadapan mereka menyemprotkan air dengan volume besar dari selang besar yang dipegangi oleh anak RaHasiYa.


Setelahnya tanpa ba-bi-bu Adgar, Akbar, dan Damian dibantu anak RaHasiYa menghajar mereka secara membabi-buta hingga rupa mereka tak dapat dikenali.


" Potong sepuluh jari mereka masing-masing lima inci, kirimkan kepada Gonzalez sebagai peringatan, tulis atas namaku." Kata itu diucapkan Mumtaz tanpa emosi, semua orang terhenyak tak percaya akan titah Mumtaz, selama ini yang mereka tahu Mumtaz paling menghindari pengerusakan fisik secara permanen pada tahanannya.


Sejauh ini jika RaHasiYa terpaksa melakukan tindakan pengerusakan fisik sang lawan, maka Mumtaz tidak akan ikut campur.


******


Ditangan Alejandro kini memegang beberapa lembar berisi laporan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Rodrigo calon penerus Kartel Sinolan yang merupakan seorang seorang dosen komputer di sebuah universitas terkenal di kota Meksiko, seorang pemrogram komputer sekaligus hacker.


"  RaHasiYa dikenal dikalangan Amerika dan Eropa sebagai salah satu perusahaan rekanan yang dicurigai sebagai secret teritory julukan yang diberikan karena dicurigai mereka adalah sosok peretas yang tidak pernah diketahui jejak penelusuran digital peretasannya, mereka keluar-masuk situs pemerintah seperti berekreasi, awalnya mereka meresahkan pemerintah yang diretas, tetapi  pada perkembangannya mereka menjadi penolong, RaHasiYa membongkar kelemahan situs mereka, mereka selalu memenangkan hadiah bug yang disayembarakan oleh pemerintah setempat."


" Mengapa mereka ke ranah berbahaya?"


" Daniel dan Alfaska dua pemuda dengan kejeniusan di bidangnya selalu membutuhkan penjagaan, Indonesia pernah menawari mereka pengawalan 24 jam dalam tujuh hari seminggu, tetapi mereka tolak karena Mumtaz dan Ibnu selalu bersama mereka, bagaimanapun tidak ada teman abadi dalam perkara kenegaraan beberapa kali mereka hampir diculik. Pada perkembangannya RaHasiYa merambat dunia teknologi dengan menciptakan robot dan beberapa senjata untuk dunia militer. RaHasiYa beserta Birawa corp merupakan pihak swasta yang diajak rekanan oleh TNI sebagai penyedia alutsista, menurut globalfirepower kekuatan militer Indonesia berada di ranking 16 besar terkuat di dunia, terkuat no 1 di Asia tenggara, dan pihak keamanan RaHasiYa dilatih langsung oleh TNI.


" Tapi mereka dibawah komando Bara Atma Madina, dan dia bukan seorang RaHasiYa!?"


" Secara struktural begitu adanya, sampai sekarang belum ada yang memahami cara menajemen mereka, tapi satu hal yang menjadi perhatian khusus keamanan RaHasiYa yang dikenal sebagai anak RaHasiYa merupakan orang-orang yang berasal dari geng motor, preman, bahkan organisasi pembunuh bayaran. Dibawah komando Bara sejauh ini mereka tidak membunuh lawannya, paling parah membuat lawannya cacat permanen, sang korban hanya mampu menatap tanpa bisa bicara atau bergerak.


" Jadi kesimpulannya?"


" Bagi RaHasiYa tanpa ijin mereka tidak ada orang yang bisa mengintimidasi mereka, jadi yang bisa kita lakukan jauhi mereka."


" Bagaimana dengan Gaunzaga?"


" Gaunzaga organisasi bawah tanah yang dipimpin oleh Dominiaz Gaunzaga, Hito Hartadraja, Samudera Dirgantara, dan Heru. Dominiaz merupakan generasi ketiga dari keluarga mafia Cesa Nestra pimpinan Salvatore Riina Gaunzaga salah satu mafia tertua dan berpengaruh di Italia, spesialis mereka mengeksekusi lawan yang curang terhadap perusahaan-perusahaan mereka belakangan Gaunzaga sering bekerjasama dengan RaHasiYa, bahkan kedepannya kemungkinan besar Gaunzaga-RaHasiYa menjadi keluarga mengingat Sisilia Pradapta, cucu dari Salvatore Riina merupakan kekasih Mumtaz."


Alejandro memijat-mijat pelipisnya," kenapa semuanya berputar kepada Mumtaz." gumamnya tak habis pikir mengapa kartelnya terlibat dengan RaHasiYa.


" Mengapa kau tidak berikan investigasimu kepada Amerika, kakek yakin mereka akan membayar mahal untuk itu?"


 


" Semuanya hanya perkiraan tidak ada bukti konkret."


" APA? Kau hanya memberikan pradugaan mu padaku?" Hardik Alejandro tajam.


" Di dunia ini belum ada yang bisa memastikan apakah RaHasiYa adalah secret teritory, tetapi kata secret dalam bahasa Indonesia berarti rahasia, perusahaan ini bernama RaHasiYa yang disinyalir merupakan pelesetan dari kata rahasia."


" Maaf, tuan. Ada kabar dari Indonesia?" Imanuel, Pengawal Rodrigo memberikan iPad pada Rodrigo, raut Rodrigo seketika mengeras.

__ADS_1


" Ada apa?" Alejandro merebut iPad dari tangan cucunya. Ia tersentak marah.


" Siapa yang berani melakukan ini? Bagaimana bisa mereka ke Indonesia?"


Murkanya Alejandro disebabkan oleh foto tiga kantong penuh jari serta para anak buahnya yang tak berdaya yang dikirim mata-mata Rodrigo.


Imanuel menyalakan televisi yang menayangkan berita internasional atas peristiwa upaya pembunuhan oleh pihak asing yang korbannya adalah Dewi Hartadraja dan Hito Hartadraja, beserta sang sopir.


" DIEGO...bisa kau jelaskan mengapa mereka  bisa berada di Indonesia?"


" Tuan, tuan Eric yang membawa mereka atas perintah nyonya Guadalupe."


Wajah Alejandro memerah naik pitam," mengapa dia berani membawa anak buahku tanpa seizin dariku?"


" Tuan, empat tahun lalu anda telah memberinya kekuasaan atas kartel ini padanya."


" Shitt, sial...sial..sial..." Alejandro memukul-mukul lengan kursinya karena kesal.


" Kakek, tenanglah. Ingat kondisi jantungmu." Alejandro menatap dalam pada Rodrigo.


" Rodri." Lirih Alejandro memanggilnya dengan nama kecilnya.


" Apa kau juga..." 


" Tidak, Kakek. Aku tidak akan mengkhianatimu meski tidak ada darahmu dalam tubuhku." Tegasnya tak terbantahkan.


Alejandro terkejut," darimana kau tahu..."


" Aku bukan orang bodoh Kakek, ketika aku berada di high school nenek secara berkala mengajakku mengunjungi teman lamanya bernama Javier, ia seorang pengacara di kota Meksiko, tak berapa lama aku mencurigainya. Dengan inisiatifku sendiri aku melakukan tes DNA dengan DNAnya dan hasilnya 87% aku keturunanya, maka dari itu aku melakukan tes DNA atas diri papa dengannya dengan hasil 95% kecocokannya."


Rodrigo menyapu air matanya.


" Kakek, meski aku bukan cucu kandungmu, tetapi aku menyayangimu. Kau dan nenek Esperanza memberiku arti kasih sayang keluarga melebihi keluarga kandungku, aku bersumpah dengan jiwaku aku akan setia padamu meski aku harus membunuh keluarga kandungku." Pancaran tekadnya terpatri di netra matanya.


Alejandro menghel nafas berat, " Apa lagi yang kau ketahui tentang ulah papa mu yang mengancam keberlangsungan Kartel ini?"


" Dia bekerjasama dengan Navarro untuk berperang melawan mafia Gaunzaga, bersama Aloya melakukan perdagangan wanita anak dibawah umur, perawan, serta janda yang suaminya mereka bunuh serta pengiriman narkoba yang sudah berlangsung selama tiga tahun, baru beberapa bulan ini pengiriman dalam jumlah ribuan bahkan jutaan ton dikirim ke Indonesia demi menyaingi pasar dari China yang berakhir gagal yang mengakibatkan kerugian triliunan bagi kita."


Alejandro menutup mata, mengeraskan rahangnya menahan emosi.


" Kakek, papa mengingkari perintah nenek Esperanza untuk tidak meracuni Indonesia dengan narkoba sebagai balas budi kita kepada Indonesia yang telah melindungi Mama Bellina, obsesinya menguasai Asia menutup mata bathinnya." lanjut Rodrigo sambil mengusap tangan Alejandro


" Apa ada andil RaHasiYa dalam kegagalan pengiriman tersebut?"


" Kemungkinan besar iya, mengingat keempat pengiriman besar kita digagalkan dengan kerjasama antara TNI, BNN, bea-cukai, dan kepolisian. Bahkan pengiriman terakhir bisa dibilang sangat rapih, kita menggunakan bahan khusus agar tidak terdeteksi sewaktu pemeriksaan, tetapi tetap gagal." sesal Rodrigo.


" Kakek harap kita tidak berurusan dengan RaHasiYa secara pribadi."


" Mumtaz menghubungi Kakek, ku rasa kita tidak punya masalah dengan mereka, kita hanya perlu meluruskan beberapa komunikasi saja."


" Kakek, seperti katamu tidak ada ampun bagi pengkhianat, dan pengkhianat terbesar adalah keluarga sendiri meski kesalahan itu kecil, izinkan aku membalas perbuatan mereka."


" Aku izinkan, berikan kepala mereka hidup-hidup biar Kakek yang mengakhiri hidup mereka."


Alejandro membelai pipi cucunya dengan lembut," menurutmu apa yang akan kau lakukan jika mumtaz memintamu untuk membiarkan RaHasiYa yang membalas tindakan mereka?" Rodrigo terbelalak untuk seketika, selanjutnya dengan tegas dia berkata,


" Demi keselamatan kartel ini, maka akan ku serahkan jiwa mereka."


" Maka itu yang akan kita lakukan saat ini, beberapa hari lalu kakek tahu perihal kebohongan nenekmu, entah kebohongan apalagi yang dilakukannya. Apapun yang terjadi bawa anak buah kakek pulang sebelum RaHasiYa bertindak."


" Maka aku harus pergi ke Indonesia, bagaimana dengan kakek?"


"Masih ada Diego bersamaku, dan aku masih sanggup memimpin kartel ini."


" Aku titahkan kau pergi ke Indonesia sekarang juga sekaligus bawa surat keputusan pencabutan kekuasaan dari tangan ayahmu."


" Baik, langsung ku laksanakan."


" Berikan salam rinduku pada Raul dan Sivia."


" Tentu, aku juga menyayangi saudaraku." Rodrigo mencium punggung tangan Alejandro dengan khidmat lalu beranjak meninggalkan ruangan itu menuju indonesia.


*****


" AAAArrgghhh." Nafas Guadalupe memburu kala mendapati tiga kantong penuh berisi potongan jari anak buahnya yang yang dibiarkan terkapar di halaman mansion Gonzalez.


Eric, Raul, Sivia, serta Tamara hanya menonton saja tanpa minat ikut campur.


" Berani benar orang bernama Mumtaz mengusikku." Jeritnya meluapkan kekesalannya.


" Apa kalian tahu siapa dia?" Guadalupe menaruh selembar yang bertuliskan salam dari Mumtaz ke atas meja yang berada di teras


Semua orang saling pandang khawatir," dia salah satu petinggi RaHasiYa, salah satu perusahaan yang selalu kita hindari." Jelas Eric.


"Dan mengapa dia ikut campur urusanku?"


" Karena Mama berulah dengan Hartadraja, orang yang dibawah tanggung jawabnya." Tambah Eric.


" Apa hebatnya dia?"


" Nenek bisa mencari dia di internet." Raul menyodorkan iPadnya.


Tak lama Guadalupe sedang membaca informasi terkait Mumtaz.


" Ayolah Eric, kau keturunan dari Gurman konyol sekali kau harus takut pada pemuda kurus maniak komputer ini." Remehnya.


" Skandal Sivia, dan kebangkrutan kita lima tahun lalu adalah ulahnya, dan kejadian sekarang cukup menunjukan kita tidak bisa menganggap remeh dia." Raul memperingatinya.


" Mama, sebaiknya kau pulang sebelum Papa mengetahui kelakuan mu ini."


" Kau pikir si tua itu masih punya waktu mengurusiku ketika dia sibuk dengan penyakit istri tidak bergunanya itu?"


Mendengar ocehan penuh hinaan dari Guadalupe tentang Esperanza, neneknya tangan Raul mengepal keras hingga memutih. Kebenciannya pada Guadalupe sangat besar sama besarnya dengan kebencian dia pada ayahnya.


Hal itu tak luput dari penglihatan Tamara yang tersenyum smirk.


" Aku tak ingin menghabiskan awal pagi ku dengan hal menjijikan ini, maka aku akan pergi. Pukul sembilan nanti aku ada kencan yang berharga." Raul beranjak pergi ke kamar tidurnya diikuti Sivia yang tak mau lagi berurusan dengan RaHasiYa.



Setibanya Raul di depan pintu kamarnya Tamara sudah menantinya dengan gigitan kecil pada telunjuknya berdiri membusungkan dadanya dengan gaun tidur mini berbahan sutra dengan *seductif*.



Dia melangkah mendekati Raul, memainkan jari telunjuknya pada dadanya bergerak abstrak, melihat itu respon Raul hanya mengangkat kedua alisnya tanpa minat.



" Aku tahu kau sangat tidak menyukai nenek mu, aku bisa membantumu untuk menyingkirkan dia dari sini." Tawarnya mendayu lembut.


__ADS_1


" Dan apa balasan yang kau harapkan atas kemurahan hatimu, *\*\*\*\*\**."



Mengabaikan hinaan itu, Tamara melanjutkan tindakannya," Kau tahu apa mauku."



Raul tersenyum tipis menghina, " Jangan pernah bermimpi untuk mencicipi tubuhku memasuki liang busukmu itu, menyingkirlah!" Raul mendorong keras tubuh Tamara seakan dia kotoran, lalu dia masuk ke kamar tanpa menoleh kebelakang.



" Hahahaha, lo pikir kakak gue sang playboy kelas atas mau pada selang.ka.ngan buluk lo!? Mending Lo kembali ke kandang Lo nikmati sa.bu, kok.ain, eks.tasi gratis sepuas Lo." Sivia menyeringai penuh hina padanya sebelum masuk ke kamarnya.



Tamara kesal beberapa hari dia tinggal di sini tidak ada satu orangpun yang menghormatinya, dia harus punya dukungan dari orang yang berpengaruh di sini, dan dia tahu siap orangnya.



" Jadi, kalau anda menginginkan kehancuran Hartadraja gunakan aku, karena saat ini aku dekat dekat dengan mereka, bahkan nyonya Sri akan menjodohkan aku dengan salah satu cucunya yang bernama Akbar."


Telah 30 menit Tamara berbincang dengan Guadalupe di kamar pribadi Guadalupe guna membujuknya untuk menyertakannya dalam kehancuran Hartadraja.


" Saya butuh keahlian kamu agar saya bisa tahu kalau kamu orang yang bisa saya andalkan.


" Tentu, anda akan lihat kehebatan saya." Tamara beranjak meninggalkan ruangan untuk bertemu dengan rekannya.


******


Zahra sedikit terkejut mendapati Sivia berada di ruangan Hito, ia sedang duduk santai di sofa ruang rawat Hito.


" Aku di suruh nenek untuk menjaga Hito, kerena yang lain sibuk merawat Tante Dewi." Sivia menjelaskan tanpa diminta karena tak ingin Zahra salah paham dan berakhir buruk baginya.


Zahra mengedikan bahu tak peduli," kemana dia?" Zahra melihat brankar Hito kosong.


" Di toilet."


" Ck, dibilangin jangan terlalu banyak gerak dulu." Zahra mengetok pintu toilet.


" Hai sayang,.." senyum cerah Hito terpasang di bibir tipisnya.


Zahra memukul gemas kepala Hito," apa susahnya meminta bantuan kalau mau turun dari ranjang, kalau kenapa-napa gimana?"


Meski mengomel tak urung Zahra memapah Hito kembali ke ranjangnya.


" Aku kebelet, aku udah sembuh."


" Jangan ngeyel, Daleman tubuh kamu belum sembuh semua apalagi bagian kepala."


" Udah sembuh, aku udah gak merasakan sakit apapun."


Tanpa kata, dengan santai Zahra menekan kening Hito yang berbalut perban.


" Aaawwws." lirih Hito memegangi keningnya.


Sambil bersedekap kedua alis Zahra terangkat.


" Orang sehat juga bakal kesakitan kalau kamu menekannya kayak tadi."


" Manja, sini periksa dulu, baringkan tubuhmu."


Hito langsung menyilangkan tangannya di dadanya seakan Zahra akan melakukan sesuatu mesum padanya," Abanh masih perjaka loh Dek, kamu mau ngapain?"


" Ck, jangan banyak gimmick. bentar lagi para perawat akan bawa kamu buat CT scan."


" Gak punya humor." cibir hito


Zahra menatapnya tajam," Apa menurut kamu aku harus ketawa melihat kamu terbaring penuh luka diseluruh tubuh kamu sementara kamu hilang kesadaran? apa kamu senang akhirnya bisa bikin aku panik? GAK ADA YANG LUCU HITO!" Zahra menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Zahra kesal, dia belum tidur sejak mendapat telpon dari prof. Farhan agar ke rumah sakit kerena keadaan darurat, dan lebih kesal sekaligus takut begitu melihat Hito dan Dewi yang menjadi pasiennya, ditambah berita kenapa mereka berdua menjadi terluka.


Dia bahkan meminta para adiknya untuk menghabisi siapapun pelakunya, Zahra menangis setelah sekian lama menahan amarah, takut, cemas, kesal yang sih berganti hadir dalam hatinya.


Zahra menangis tersedu-sedu, dia menundukkan kepalanya dilipatan tangannya yang ditopangkan pada kedua lututnya, Hito kembali duduk, ia beranjak dari ranjangnya turut berjongkok di samping Zahra, memeluknya dengan satu tangan yang bebas dari infusan.


" Maaf, maafkan aku sudah membuatmu menangis, tapi aku masih di sini, aku bersamamu."


" Jangan ulangi lagi, aku ketakutan. kita belum nikah, masa aku udah jadi janda." Zahra memukul lengan Hito yang memeluknya.


Hito terkekeh dengan ucapan konyol Zahra," hehehe, aku gak bakal ninggalin kamu, kan belum sentuh kamu." mereka saling peluk melupakan Sivia yang duduk tertunduk di sofa, entah apa yang pikirannya.


Dicelah pintu yang di buka sedikit oleh seseorang tangisan itu terdengar oleh nenek Sri yang berdiri di luar ruang rawat Hito.


" Kita kembali." ujarnya pada sekretaris pribadinya berbalik kembali melangkah ke ruang rawatnya.


*****


Sepanjang jalan di koridor gedung kedokteran tak henti mulut Cassandra mengoceh gerutuan karena dipaksa pergi kuliah oleh Bara padahal sebagai pacar yang baik dia ingin menemani Bara di rumah sakit.


" Kenapa tu mulut monyong lima senti." Dimas berdiri di sampingnya di depan loker Cassandra


" Kesel gue sama orang yang bernama Bara,, mau dipedulikan tapi dia nolak songong banget kan." cerocosnya sambil memutar kunci pintu loker, lalu membukanya matanya membola lebar, wajahnya pucat Pisa,


" AAAA...AAAAA...AAA" jeritnya mengagetkan semua orang yang berlalu lalang di koridor.


Dimas langsung berdiri dibelakangnya, dan melihat apa yang membuat Cassandra menjerit histeris, seekor anak anjing yang kepalanya terpisah dari tubuhnya dengan pisau yang tertusuk di salah satu mata anak anjing disertai lumuran darah segar, segera dia menutup pintu lokernya, dan membawa Cassandra jauh dari sana lalu memeluk tubuhnya yang gemetar dengan erat. Dengan tenang ia menelpon Jeno.


Tak berselang lama Jeno dan anak RaHasiYa sudah membersihkan loker Cassandra, dia mencopot kamera yang sengaja dipasang di ujung bagian atas sebelah kiri dalam loker Cassandra.


****


" Fa, konyol sekali gue masih di sini sementara gue banyak kerjaan yang harus gue urus." Bara sudah melayangkan protes pada Alfaska sejak 30 menit yang lalu yang tentu dihiraukan saja olehnya.


Sherly menatap putra sulungnya dengan miris, dia paham akan kekesalan putranya yang terbiasa sibuk sudah tiga hari tidak melakukan apapun.


" Afa,..."


" Bude, mulai besok bude harus bergabung mengurus Atma Madina corp, Kami berdua tidak sanggup mengurusi semua urusan Atma Madina corp. Apa bude tega melihat Bara ambruk hanya karena kelelahan diusianya yang masih muda?"


" Bagaimana dengan butik Mami mu?"


" Bagaimana dengan kehidupan Bara?"


" Alfa!!" Bara tidak suka sepupunya ini mengintimidasi ibunya.


Alfaska bergeming," dia sudah mengurus perusahaan semenjak usia remaja Yangs seharusnya dia nikmati dengan kongkow-kongkow seperti remaja lain, usia 20an dia tak sadarkan diri karena lelah bekerja yang seharusnya dia masih berkencan dengan gadisnya, sementara bude bergelut untuk sesuatu yang tidak penting."


" ALFASKA!!" Bara mulai habis kesabarannya.


" Bude, Afa tidak akan segan menghancurkan' butik Sandra"s jika itu mengganggu Atma Madina corp."

__ADS_1


" Apa kamu sanggup melakukan itu?"


" Akan Afa ambil segala resikonya jika itu untuk kebaikan Bara, toh kita berdua sesungguhnya tidak membutuhkan Atma Madina corp. jadi pilihan bude, menerima dan menyanggupi permintaan Afa." Alfaska menatap tegas Sherly


__ADS_2