Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
208. Sekali Menembak dua Burung Terbidik.


__ADS_3

Pr3sid3n dan rombongan disambut hangat oleh Hito dan Erwin, mereka saling bersalaman dan berbincang ringan sesaat.


" Saya tidak menyangka cafe ini milik anda, pak Arvenio." Seru ketua segan, meski Hito sudah melepas nama Hartadraja namun kewibawaan seorang Hito tidak bisa disepelekan.


" Memang bukan, saya hanya berinvestasi sedikit. Pemiliknya dia, Erwin Gautama-Pamungkas." Hito menepuk pundak Erwin layaknya seorang sahabat.


Kehadiran Hito ternyata cukup berpengaruh, mereka tidak bersikap arogan terhadap tempat yang tidak begitu luas untuk ukuran pertemuan penting.


" Pamungkas, tidak terduga pengusaha batu bara melebar ke cafe." Seru menter1 BUMN.


" Hanya selingan." Sahut Erwin merendah.


" Apa mereka sudah datang?" Tanya sekretaris negar4.


" Belum." Jawab Erwin. paham siapa yang dimaksud mereka.


Kepala keamanan berlari ke arah presid3n dari arah luar, " Pak presi-den. Ada sedikit gangguannya." Bisik kepala keamanan.


" Suruh mereka semua masuk." 


" Ada apa?" Tanya Toni.


" Tidak ada yang urgent, hanya


miss komunikasi. Dimana tempat kami?" Tanya presid3n, ia enggan menjelaskan.


" Mari saya antar." Ucap Erwin.


Sambil berjalan Erwin menjelaskan perihal cafenya yang sengaja dibangun ditengah-tengah area lembaga pendidikan, sementara Hito berjalan di belakang mereka bersama Arif." Apa cafe ini menunjang kepentingan pelajar?" Tanya presid3n.


" Kami menyediakan WiFi, dan beberapa komputer, di ujung rak dekat jendela ada rak buku, memang tidak banyak tetapi lumayan diminati."


" Bagus, jarang cafe menyediakan itu."


" Dominiaz Gaunzaga mengawasi kalian. Bersikaplah seperti perjanjian anda dengan RaHasiYa." Bisik Hito pada Arif tanpa kentara.


Arif yang tahu siapa Gaunzaga, nama yang sesekali disinggung kala menyebut nama Navarro di masa lalunya.


" Yang ini, pak presid3n." Tunjuk Erwin pada pintu bernomor 05.


" Kami menggabungkan dua ruang menjadi satu, jadi cukup luas untuk kalian." Terang erwin


" Jamuan akan kami hidangkan lima belas menit setelah kalian kumpul."


" Tentu, terima kasih." Seru presid3n.


" Biarkan mereka masuk." Ujar kepala keamanan pada anak buahnya yang masih menghadang para pemuda.


Diseberang jalan, para pelajar dan mahasiswa yang tidak terima teman mereka dihadang menyoraki mereka.


Para petugas pun membuat barisan yang semula menghalangi mereka.


Para pemuda itu memasuki cafe diiringi yel-yel dukungan dari para massa yang menyemangati mereka, puluhan kamera membidik mereka sepanjang mereka berjalan memasuki cafe.


Setelah diperiksa, dipimpin oleh Bara petugas mengarahkan mereka ke ruangan 05. Hito dan Erwin menyambut mereka serta Dominiaz yang mengawasi seluruh keadaan dalam cafe di kantor Erwin secara seksama memperhatikan mereka mengimbangi pengawasan para petugas pada mereka.


Cklek___


Saat pintu itu dibuka, Bara melihat siapa saja yang berada di ruangan itu bibirnya tersenyum smirk.


" Tolong jaga sikap anda, pak Bara." Tegur keras sekret4ris negar4.


Bara diikuti yang lain memasuki ruangan dengan langkah pelan mendramatisir." Tidak masalah, tapi ini konyol. Kalian memang tidak bisa dipercaya."


kecuali presid3n, mereka semua berdiri mulai naik pitam, Paspampres pun lebih mendekat melindungi atasannya.


Sikap defensif mereka membuat para ketua BEM sedikit tersinggung, mereka melirik sinis para petugas itu, sedangkan petinggi RaHasiYa tidak mempedulikan sikap yang menurut mereka berlebihan itu 


Mendapat reaksi skeptis dari para pemuda, presid3n menggeleng melalui kodenya menyuruh pengawalnya menjauh dari dirinya.


" Kalian melarang kawan-kawan saya untuk masuk, tetapi bapak sendiri membawa pasukan. Tidak bisakah sedikit menurunkan sikap mengecewakan itu? Untung sepupu saya hafal tabiat kalian yang main keroyokan, karena itu ia pun mengajak para temannya." suara bernada sarkas itu Bara katakan terkesan santai bak pada seorang teman.


" Kalian duduklah kita bicarakan dengan kepala dingin." Seru RI 1.


Kecuali para pemuda, semuanya mengikuti instruksi presid3n. Presid3n menatap mereka tenang, tanpa sedikit pun tersinggung atas sikap membantah dari para pemuda tersebut. Dia paham saat ini Bara lah pemimpin mereka, karena mereka lebih mempercayainya, bukan dirinya.


" Kenapa kalian masih berdiri, kalian. Tidak dengar apa kata bapak presid3n?" Bentak sang ketua.


" Kami dengar, tapi tidak harus kami patuhi. Kami belajar dari kalian." Tutur Alfaska.


Ingin Ketua menatap memusuhi padanya, namun sungkan. ia tahu ba-jingan tengik itu tidak bisa dianggap sepele.


Begitu Bara mengambil duduk tepat berhadapan dengan pemimpin mereka. Hidangan pun disajikan.


Saat Erwin hendak keluar, ia melewati Mumtaz, Mumtaz menyelipkan kertas kecil ke dalam genggaman Erwin.


" Bisa kita mulai pembicaraan?" Tanya presid3n.


" Kalian yang minta pertemuan ini."


" Saya tidak akan basa basi, kami ingin bapak memimpin langsung pemeriksaan kasus pak Ergi." Ucap Alfaska.


" Ini negara demokratis, itu diluar kewenangan kami, anda tahu itu." 


" Dia ngapain di sini?" Ibnu menunjuk Toni.


Tiba-tiba seluruh perhatian ditujukan pada Toni yang merapihkan baju kebesarannya. mereka bingung akan pertanyaan Ibnu.


" Beliau saya tunjuk sebagai penasihat beberapa hal...."


" Termasuk kasus pak Ergi?" Potong Ibnu.


Sebelum presid3n menjawab, ketua menyentak." Tidak sopan menyela pembicaraan seorang presid3n."


Suasana semakin menegang," saya kira kita berkumpul tidak untuk membicarakan soal kasus yang sedang ditangani kepolisian, tetapi soal ekonomi yang terus bergerak ke arah negatif karena beberapa pihak membekukan dananya." Presid3n menatap Mumtaz.


" Para pengusaha menarik investasi karena memang keadaan yang tidak baik, mereka memilih mengeluarkan uang lebih tapi tidak dicuri daripada mengeluarkan uang sedikit dengan resiko terlibat kasus hukum." Jelas Daniel.


Para klien RaHasiYa yang mengetahui Mumtaz dan petinggi RaHasiYa membekukan dananya diikuti oleh mereka, bahkan ada yang menarik investasinya. hal inj berpengaruh  pada pasar modal, negara terus mengalami pelemahan meski bank Indonesia telah menaikan suku bunga 10%, namun tidak berdampak banyak.


Harga kebutuhan pokok terus menanjak, yang merembet pada sentimen sosial.


Yuda menyodorkan sebundel berkas ke hadapan RI 1 


" Website resmi BEM se-indonesia sebagai wadah aspirasi rakyat sesungguhnya dibanding aspirasi rakyat versi Senay4n___" matanya menatap langsung sang ketua.


"____ telah banyak menampung keluhan dan mereka mendesak kami agar turun kembali ke jalan, ditambah kasus pak Ergi, saya khawatir mereka semakin muak terhadap kinerja kalian."


" Kalian hanya bisa mengeluh, tanpa bisa melihat betapa sulitnya mengiris negara yang majemuk bangsanya, apalagi ngeyel seperti kalian." sindir ketua.


" Pak ketua, kita berkumpul untuk mencari solusi, bukan saling melempar sindiran." Tegur presid-en tidak senang.


" Kalau anda tidak sanggup, turun dari jabatan, sebelum kami menurunkan anda." Ucap Ibnu dingin.


" KAU...SIAPA KAU BERANI PADAKU?" hardik ketua.


" Orang yang membayar upah kalian." Jawab Ibnu santai.


 Seketika Ruangan sunyi, para peja-bat terdiam seribu kata dengan satu kalimat tersebut.


Presid3n terlalu lelah melerai, ia lebih tertarik memperhatikan pemuda manis nan tenang ini, dibanding tiga petinggi lain, pemuda ini terlihat lebih kalem, kulit sawo matangnya membedakan dia dari yang lain. Pun, demikian dengan Arif, dan Toni.


" Kalian proses kasus itu sesuai hukum, saya yakin keadaan akan kembali normal." Ujar Bara membuka percakapan kembali.


" Sedang kami lakukan." Balas presi-den.


" Tidak, selama dia masih ada diantar kalian." Ibnu menggunakan telunjuknya mengarah lurus pada Toni.


Semuanya terkaget akan sikap tidak sopannya Ibnu.


" Turunkan jarimu." Geram Toni menyalang padanya.


" Kau yang turunkan mata mu." Tantang Ibnu masih dengan raut tenangnya yang tidak terpengaruh atas suara berat Toni.


Suasana yang sedari awal sudah tegang kini atmosfer ruangan semakin tinggi, para ketua BEM saling lirik cemas, mereka tidak menyangka Ibnu bisa berlaku demikian.


Mereka akan bertoleransi jika itu Mumtaz, tetapi Ibnu, bicara saja dia jarang apalagi berani membantah.


Toni berdiri, tangannya tidak kalah lurus menunjuk Ibnu." KAU..."


Mumtaz berdiri langsung menepis tangan keriput itu, matanya menatap tajam Toni penuh perhitungan.


" Kau, berani bersikap kurang ajar pada rekanku, ku patahkan tangan mu." Ucap Mumtaz dingin mengancam.


" Dia yang kurang ajar..."


" Saya yakin rekan saya punya alasan."


 Saat Toni hendak membalas, presid3n menyela," Pak Toni, duduk. Tenanglah." Sekali lagi presid3n menginterupsi sikap tidak pantas koleganya.


" Semuanya harap tenang, pembahasan permasalahan tidak akan selesai jika kalian tidak bisa menahan emosi."


" Nak Ibnu, katakan alasan anda sebelum suasana memburuk." Pinta presid3n.


" Tunggu sebentar." Seru Mumtaz mengetik sesuatu di ponselnya.


Tring...tring___


Notifikasi ponsel saling bersahutan.


" Sekarang lihat ponsel kalian." Ujar Mumtaz.

__ADS_1


Satu menit berlalu, roman wajah mereka terkejut, mata mereka memandang Toni, Sorot mata mereka penuh pertanyaan sekaligus amarah, terlebih Arif yang memandangnya kecewa.


Selagi mereka menonton video kirimannya, Mumtaz mengirim pesan pada Jeno dan Nando.



" To..." panggil Erwin mengirim kode lewat matanya untuk Hito naik ke lantai dua.



" Apa?" Hito menghampiri Erwin yang menyelipkan kertas dari Mumtaz.



Tanpa buang waktu Hito naik ke akntor Erwin, di sana ia membaca pesan dari calon adik iparnya tersebut.



\* **Bawa kak Ala, sisilia dan perempuan Hartadraja keluar dari Jakarta, segera, saat ini juga**!!\*



" Ada apa?" tanya Dominiaz menghampiri Hito yang wajahnya sudah resah. Ia membaca pesan dari Mumtaz.



" Ini ada apa?"



" Gue gak tahu, calon adik ipar gue terlalu misterius dengan isi kepalanya." ucap Hito tergesa-gesa.



" Dimana Adam?" tanya Hito.



" Rumah sakit, bergiliran jaga dengan Arka."



" Suruh dia amankan Zahra, gue nelpon Heru."



Dominiaz mengangguk, ia mengambil ponselnya yang diletakan di atas meja.



" To, pake darat atau udara?" tanya Dominiaz sambil menunggu jawaban dari Adam.



" Udara, suruh pihak rumah sakit menyiapkan helipad."



\*\*\*\*\*\*\*



Jeno berlari menaiki tangga dengan tergesa-gesa, raut wajahnya yang tegang memaksa anak RaHasiYa yang bersiaga satu. bahkan anak RaHasiYa yang hendak berangkat kuliah mereka urungkan.



Tok....tok...



Tok..tok...



Ketika pintu yang keras dan cepat memaksa Sisilia keluar izin dari pembelajarannya pada dosennya.



Ia membuka pintu, dan terkaget saat Jeno menerobos masuk kamar.



" Ganti baju, Mumtaz menyuruh kita pergi." ucapnya seraya berjalan ke samping jendela yang tirinya ditutup.



Ia mengintip disela gorden menggunakan kekeran, terdapat beberapa mobil yang diparkir di ujung jalan mengawasi rumah Aida.




Ujung mata Heru melirik ke atas kamar Mumtaz, tangannya tanpa kentara memberi kode darurat.



Sisilia mengangguk, ia membuka lemari pakaian, menarik Hoodie hitam beserta celana Jogger gelap Mumtaz, lalu masuk ke kamar mandi.



menunggu 20 menit dari kepergian Heru, Jeno menyuruh anak buahnya bersikap biasa keluar masuk rumah tanpa dicurigai lawan.



" Kak..." panggil sisilia Yaang sudah siap dengan ranselnya.



Jeno menoleh padanya." Pake motor gak masalah, kan?" tanya Jeno, sisilia menggeleng.



di ruang tamu Sisilia mengenakan helm yang disodorkan Jeno." kita ke rumah sakit, dari sana kamu akan ke Tangerang."



" Hmm." Sisilia menaiki motor trail yang diboncengi Jeno.



Tanpa menaruh curiga, pengintai itu membiarkan motor tersebut keluar dari are rumah.



Tubuh Sisilia yang tinggi, serta mengenakan pakaian yang besar bisa mengelabui mata mereka, mereka kira Sisilia anak RaHasiYa yang hendak kuliah.



Di waktu bersamaan dilain tempat, Nando yang menerima pesan dari Mumtaz, segera menarik tangan Ayunda yang terjengkit kaget karena dia sedang menulis.



" Jangan banyak protes, ikuti gue. pesan dari bang Mumtaz." bisik Nando saat Ayunda membuka mulutnya.



" Pak, Ayunda izin ke UKS, dia sakit perut."



" Silakan." jawab guru enggan. beliau tahu jika Nando dan Ayunda bersama berarti ada urusan mendesak, karena ini bukan kali pertama.



Di luar, Bayu dan William sedang berlari ke arah mereka.



" Titah panglim4 kita langsung menuju rumah sakit.l jalan memutar, karena kalau lewat depan tidak bisa, jalan yang sekitaran area d'lima di tutup."



" Ya Tuhan perjalanan 10 menit bisa jadi setengah jamnya ini." erang Nando.



Bayu dan William menggiring Ayunda menuju toilet. " Kenap kesini?" tanya Ayunda takut-takut.



William memberi seragam sekolah lelaki pada Ayunda," salin baju. kita kelabui orang uang diseberang sana yang selama ini mengawasi kamu."



wajah Ayunda memucat, ia mencari kebenaran pada Nando yang mengangguk dengan menyesal.



Andromeda dan beberapa temannya berlari ke arah mereka. mereka langsung keluar dari kelas begitu Nando mengirim pesan dari Ayunda.


__ADS_1


" Kita udah kontak genk yang lain baut kerusuhan di depan sekolah, dan kita tawuran untuk mengeluarkan Ayu dari sini." ujar Andromeda.



" Apa gak masalah dengan sekolah?" tanya Nando khawatir.



" Tidak, mereka diabwah komando bang Bara, gue kenal leluhur mereka. mereka dinstruksikan langsung dibawah sub komando mereka, mereka diinstruksikan merusak mobil para pengintai itu." ujar Adgar.



Beberapa anak BIBA sudah pada keluar dari kelas dengan ricuh sambil terikat tawuran, para guru yang di dalam kelas mengunci kelas



" Bang..." rengek Ayunda sudah menangis keluar dari dalam toilet, ia memeluk Adgar.



" Tenang, kamu cuma akan ke Tangerang. jangan persulit keadaan."



" Tapi aku takut..hiks..."



" Gak akan terjadi apapun. kamu akan dibonceng sama bang Willy."



Adgar mengikat rambut Ayunda dan mengenakan helm ke atas kepalanya.



Terdengar teriakan dan lemparan batu ke gerbang sekolah.



" Bang, mereka sudah datang." teriak Andromeda.



" Pakai helm kalian. Beberapa motor ikuti motor William agar tidak dicurigai, yang lain ngamuk aja dijalan jangan ganggu pengguna jalan, target kita dua mobil asing yang selama ini selalu terparkir di ujung seberang sekolah ini." perintah Adgar.



" SIAPA!!" Ucap mereka serempak.



Dengan tongkat di tangan mereka menghadapi para perusuh tersebut., adu hantam pun terjadi meski tidak dilakukan serius, pergerakan mereka terus bergerak ke arah mobil asing itu, dan memukul secara acak badan mobil tersebut yang mengagetkan para penumpangnya.



Setelah mendapat kabar perhatian penguntit itu teralihkan, William dan beberapa motor lain yang ditunggangi anak SMA melaju kencang keluar dari area sekolah.



Zahra yang terkejut langsung ditarik oleh Adam selepas visitnya dari Ergi, hanya menghembuskan nafas kesal.


" Kali ini siap yang bikin ulah?" Ucpa zahra geram.


" Ini atas perintah langsung Mumtaz." Ucap Adam menunggu di depan lift.


Saat pintu lift terbuka, mereka berpapasan dengan Jeno yang mengawal Sisilia."


" kita mau kemana?" tanya Zahra melihat Adam menekan tombol naik.


" Helipad." jawab Jeno.


" Kemana?"


" Tangerang."


" Saya harap kamu gak lupa bawa obat." ucap Zahra pada Jeno.


" Enggak." Jeno mengangkat tas pinggangnya.


di roorftop, sebuah helikopter, sudah bersiaga terbang, mereka menunduk agar bisa masuk helikopter.


Adam dan Arka ikut bersama mereka," kalian berangkat duluan, di Karawaci sudah menunggu Leo. gue harus memastikan Ayu." ujar Jeno sebelum berlari menjauh karena helikopter hendak terbang.


******


Wajah Toni sudah pias, ia dalam duduknya dia bergerak gelisah, ia menahan emosi marahnya mengapa keberadaan dia  di ruang Ergi dan segala tindakannya bisa terekam, padahal dia mendapat laporan bawahannya mengatakan semuanya sudah aman.


Mumtaz mengamati semua gerakan Toni, ia tersenyum devil.


" Pak Arif, bukti ada di depan anda, bukan kah sebaiknya anda menangkap dia atas tuduhan perencanaan pembvnvhan, apalagi yang coba dia racun adalah peja-bat negar4." Sarkas Mumtaz dingin. Suaranya lebih dingin dibanding tadi.


Presid3n menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, ia merasa ditipu, ia merasa ngeri atas lingkungan tidak sehatnya. Matanya menelisik seluruh jajaran yang turut hadir bersamanya atas undangannya.


Ia bertanya siap lagi yang menipunya, siap yang bisa dia percaya untuk membangun negeri ini.


" Bu menteri, kau bekerjasamalah dengan KP-K terkait LKHPN( laporan kekayaan harta penyelenggara negara) sejak 10 tahun terakhir." ujarnya pada menteri keuangan.


Ketua menutup kedua matanya sebelum melanjutkan kembali melihat video tersebut. Tubuhnya gemetar, detak jantungnya meningkat tajam, sesekali ia menegak air mineralnya.


Dapat ia rasakan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, sesekali ia menyeka keringat yang membanjiri wajahnya.


"  Lakukan pembekuan dana pejabat yang berdasarkan bukti awal disinyalir memenuhi unsur perbuatan hukum kejahatan."


" Pak, itu akan melanggar asas praduga tak bersalah." Bisik Arif.


" Dengan kasus yang begitu banyak tersangka, saya kira kita bisa menggunakan asas Lex spesialis derogat Lex generalis, bukan?"


" Saya akan merekomendasikan kasus Surga Duniawi dan terkait hal-hal itu merupakan kasus luar biasa." Tukas presid3n.


" Pak ketua, sepertinya anda kegerahan, padahal AC menyala. Saya saja kedinginan." Sindir Alfaska mengejek.


Ketua menatap kaget Alfaska, ia kini menjadi pusat perhatian, memanfaatkan kelengahan penghuni ruangan, Toni bergerak mendekati presid3n dengan gerak ofensif siap menyergap presid3n yang langsung dilumpuhkan oleh Pas-pampres.


satu Pas-pampres membungkukan tubuh presid3n guna melindunginya tiga yang lain sudah bersiaga membntuk pagar manusia menjauhkan presid3n dari pelaku.


Toni didorong dan ditengkurapkan, kemudian kedua tangannya dilin-ting ke belakang punggung oleh satu petugas yang mengukungnya.


Tindakan itu mengejutkan semua orang, Mentri keuangan berteriak ketakutan bercampur kaget, teriakan itu terdengar dari luar hingga membuat beberapa petugas masuk menyerbu ke dalam ruangan.


Mereka berpencar, melindungi para peja-bat.


" Bed-ebah, Bangsat. kalian tidak bisa berlaku kasar padaku. bebaskan aku." pekik Toni sambil meronta-ronta, matanya memerah karena marah.


petugas menekan tengkuknya agar berhenti bergerak. petugas menariknya berdiri atas perintah presid3n.


presid3n mendekatinya masih dikawal ketat." Kenapa, orang terhormat sekelas anda melakukan itu?" tanya presid3n penuh kekecewaan.


" heuh, kau pikir mereka memegang tampuk kekuasaan karena peduli pad bangsa ini? TI-,DA-K!.


" Mereka mengeruk keuntungan dari kursi keuasaannya. ironisnya negara dengan SDM yang maha besar masih menjadi negar4 dengan hutang yang banyak, rakyat yang mayoritas miskin. PIKIRKAN ITU!?" ucap Toni sinis.


" Kau tidak akan bisa membenahi negeri ini, terlalu banyak pengkhianat disekeliling mu." matanya melirik ketua yang diam mematung.


" Ku sarankan, kalau kau masih sayang keluarga mu, mundur dari jabatanmu, mereka tidak bisa kau kalahkan."


" saya baru men-TKO anda sang mantan nomor 1 instansi penegakkan hukum, dan saya hanya seorang mahasiswa." ucap Mumtaz dengan aura meremehkan.


" Indonesia merdeka dengan mengangkat bambu runcing, sementara penjajah dilengkapi senjata modern-nya. kalau hanya kalian bede-bah tua bagai rongsokan besi tua, kami bisa dengan mudah menghancurkan kalian." ucap Bara dengan suara beratnya.


" Hahahaha, benarkah? kalian Bahkan tidak tahu kalau diantara kita di ruangan ini ada rekan saya." sinis Toni merendahkan, sesekali bola mata Toni mengarah pada Ketua.


Ketua sudah pias, keringatnya sudah membanjirinya, bo-kongnya teras lembab.


" Bukan tidak tahu, hanya menunggu waktu. dia gantle atau bencong." sergah Daniel.


Bola mata ketua makin melebar bergoyang karena takut bercampur cemas.


" Tahan Toni, giring dia seperti tersangka tanpa kekhususan." seru Arif, dengan suara tegasnya.


Berto, dan Timothy memegangi kedua tangan Toni yang menolak dibawa keluar cafe.


Sepeninggal Toni, presid3n menatap dalam petinggi RaHasiYa," kalian tahu siapa rekannya bukan?"


" Bapak akan menemukannya dengan cepat jika pak Arif segera melaksanakan kerjasamanya dengan KP-K." ujar Alfaska.


" Ingat, menyembunyikan informasi kejahatan dapat dipidana." tegur sang menteri Menkum-ham.


" Pak men-teri, jangan bikin ulah baru." tegur presid-en saat menyadari raut tidak senang dari petinggi RaHasiYa atas perkataan anak buahnya.


" Kami tidak membayar pajak untuk menggaji kalian hanya untuk menerima data, bekerjalah!!" tekan Alfaska.


" Saya kira pertemuan ini selesai, suasananya sudah tidak menyenangkan." tukas Bara.


Mereka merapihkan diri, sebelum meninggalkan ruangan. Mumtaz yang paling terakhir berjalan ke luar ruangan, saat diambang pintu, dirinya berbalik pada para peja-bat yang masih memenuhi ruangan.


" Saya lupa mengatakan, rapat tadi ditonton streaming oleh seluruh rakyat. sepertinya tim cyber kalian kalah dengan para hacker." ucap Mumtaz sebelum menutup pintu.


" Yud, kalau pers wawancara Lo, gunakan jabatan Lo sebagai asisten Mumtaz, dan ketua BEM yang lain sebagai rekanan RaHasiYa untuk mengamankan keluarga kalian." seru Bara.


Para peja-bat mematung kaku, terkhusus pre-sid3n, sedangkan dibalik pintu Mumtaz terkekeh puas, petinggi RaHasiYa pun menyeringai, lain dengan Ibnu yang gusar karena apa yang dia lihat dari DVD yang ditontonnya tadi, matanya yang gelap meredup menatap Mumtaz yang sedari pertemuan dengan Arif tidak pernah menatapnya....

__ADS_1


jangan lupa hadiah dan votenya..share dan like gak ketinggalan komennya....


__ADS_2