Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 95. Kenekatan Musuh


__ADS_3

"om, apa yang akan om lakukan untuk kegagalan kali ini? Ini udah yang kesekian, dan semuanya berjumlah fantastis sepertinya ada pengkhianat diantara kita." Ucap Tamara sambil merapikan pakaiannya yang diacak oleh Eric untuk perang panas mereka.


Eric memeperhatikan Tamara intens sedang menilai sesuatu.


" Saya harap pengkhianat itu bukan kamu." Eric menyandarkan dirinya di kursi kebesarannya


" Aku? Gak mungkinlah, sama saja aku bunuh diri." Jawab Tamara menyilakan kaki jenjangnya duduk santai di sofa ruang kerja Eric.


" Saya tahu kamu suka Bara, dan dia dekat dengan RaHasiYa."


" Memang, tapi sialnya sampai sekarang saya belum berhasil mendapatkannya."


" Kenapa tidak kau singkirkan Cassandra Hartadraja?"


" Tidak ada yang mau, padahal aku sudah mengimingi mereka bonus yang besar." Keluh Tamara.


" Pakai tubuhmu."


" Sudah, tapi tetap gagal."


" Hahahaha, kau pasti jadi gembel jika tidak ada lagi orang yang menginginkan tubuhmu itu, karena kau tidak cukup pintar dan tidak memiliki kemampuan apapun." Tamara mengepalkan tangannya menahan emosi atas penghinaan itu.


Dia tersenyum menahan emosi," karena itu aku merawatnya dengan baik, sehingga om masih tergila-gila dengan tubuhku."


Tok!! Tok!!!


" Masuk." Seru Eric, mata Tamara berbinar ketika Raul memasuki ruangan ia mengubah gaya duduknya dari bersila menjadi mengangkang memperlihatkan ce.lana dalamnya meski godaan tersiratnya diabaikan Raul.


Eric yang melihat pergerakan kaki Tamara tersenyum mencemooh, " ja.lang murah.an." Bathinnya.


" Apa ini?" Eric membaca berkas yang harus dia tandatangani.


" Laporan keuangan restoran cabang Depok. Ini menjelang akhir tahun apa Daddy tidak bisa mengurangi perjalanan ke luar negerinya? Aku bosan mengurusi semuanya."


" Kamu harus terbiasa, kelak semuanya milik kamu."


" Aku gak minat, kasih saja ke Sivia. Aku lebih berminat menghabiskannya daripada menghasilkannya."


" Sampai kapan?"


" Selamanya."


Eric menatap putranya tajam, dia tidak akan melanjutkan adu mulut unfaedah ini.


" Bagaimana perkembangan Resto secara keseluruhan?"


" Bagus sekali, makin banyak pengunjung meski HW resto mencoba menyaingi kita." Balas Raul malas.


" Heh, gak mungkin mereka bisa mengalahkan kita, kita punya yang mereka tidak punya." Yakin Eric, Raul hanya menganggukan kepala tak peduli.


" Siapkan lokasi cabang baru di daerah Jawa barat." Seru Eric memberi berkas itu kembali pada Raul.


" Apa kamu hari ini bebas?" Tanya Eric menopangkan tangannya di lengan kursi.


" Sibuk, ini weekend. Gak ada waktu kosong."


" Berhenti bermain dengan jala.ng, mulailah hubungan yang serius!"


" No, thanks. Masih muda." Ucap Raul melangkah ke arah pintu mengabaikan Tamara.


******


Zayin melangkah santai menuruni anak tangga  sambil melipat lengan kemejanya sampai siku, keningnya mengkerut kala melihat kakaknya yang duduk tertunduk dengan kedua siku bertumpu di kedua pahanya meremas rambut bagian depannya, sementara tiga sahabatnya hanya memperhatikannya disela kesibukannya dengan laptop masing-masing.


" Kenapa, A?" Mumtaz menoleh padanya.


" Kemana kakak Ala?" Bertanya dengan suara lelahnya.


Zayin mengedikan bahu sebelum mengambil sepatunya dari rak sepatu.


" Tadi Ayin pulang, rumah kosong." Ucapnya sibuk memakai sepatunya.


" Ayin Mau kemana?" Tanya Ibnu yang mengawasi keamanan Zahra di apartemen lewat laptopnya


" Bang, gue ke apart Lo ya!?" Tanya Zayin pada Alfaska tak menjawab pertanyaan Ibnu.


" Hmm. Tia udah masak lobster dan cumi." Jawab Alfaska sibuk dengan ponselnya.


" Bang, Lo gak mau uji coba biohacker terbaru Lo?"


" Terlalu beresiko, masalahnya kita masuk kebagian otak."


" Gue pikir kita bisa dipake Tamara atau Guadalupe." Seru Zayin.


Keempat sahabat itu langsung memandanginya intens terutama Mumtaz.


" Lo tahu?" Tanya Mumtaz.


" Kalau mereka mau menyaingi China menguasai pangsa pasar perdagangan hitam di Asia tenggara? Tentu."


" Gak percuma gue ikuti Tamara setengah tahun ini, dari era Aloya, Tamara lah yang bisa masuk ke kediaman Gonzalez."


" A, kalau Lo mau mencegah perang antara Indonesia dengan kartel Sinolan, Lo harus bantu Raul mengamankan Bellina, karena dia adalah pewaris utama Alejandro." Zayin bahkan memajukan tubuhnya pada mereka ketika mengatakan itu.


" Kenapa Lo kasih tahu kita?" 


" Karena terlalu banyak oknum mata-mata di negara, jadi males aja TNI itu, sedangkan ini bukan ranah BNN."


" Siapa Guadalupe, Bellina itu?" Tanya Daniel yang sudah menutup laptopnya.


" Kita barter, gue kasih informasi, Lo kasih alat Lo."


" Sok nego." Daniel melempar bantal sofa pada Zayin.


" Ayolah, Bang. Gue butuh biohacker itu." Rengek Zayin yang dibalas ekspresi jijik dari empat abangnya itu.


" Lo bisa dipecat ege."


" Kagak bakal, gue ini harta berharga bagi negara." ucapan yang membuatnya mendapat serangan bantal sofa dari para abangnya


" Biar gue yang masang." Ujar Ibnu.


" No, Taruhannya RaHasiYa, Bang."


" Gue bakal hancurin sebelum mereka tahu."


" Jangan berantem, ini masih tahap perkembangan. Belum ada negara yang berani menguji coba karena dampaknya kerusakan otak."


" Si Tamara otaknya aja udah gak ada, jadi ya gak ngefek sama dia, si Guadalupe udah nenek-nenek, bentar lagi juga koit jadi gak Masalah juga." Alibi Zayin.


" Bahasa lo, dek. Tapi perlu dicoba." Sahut Ibnu yang menerima tosg tangan dari Zayin.


" Kalian gampang ngomong gitu karena gak tahu cara kinerjanya."


" Ya kasih tahulah, malam Minggu ya." Tawar Zayin.


" Gak ngapel Lo?"


" Orang tamvan mah kagaklah, ngapel itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri kalau dirinya berkualitas tinggi." Jumaya Zayin mendapat cebikan dari para abangnya.


" Bilang aja jones." Ledek Alfaska


" Dia mana bisa ngapel wong pasangannya masih umur lima tahun." Celetuk Mumtaz, yang lain tertawa terbahak-bahak puas.


" Ejek aja terus, gue bawa bidadari jangan mangap Lo pada." Zayin beranjak keluar rumah.


" Gue tunggu, hajatan nikahan Lo gue yang nanggung." Teriak Alfaska


" Gue bulab madu." Timpal Daniel.

__ADS_1


" Gue peralatan rumah tangga." Sahut Ibnu.


Semua ledekan itu dibalas acungan kepalan bogem oleh Zayin, para abagnya masih menertawainya.


*****


Hari ini hari Jum,at  sepulang kuliah Tia bersemangat ke pasar untuk memasak makanan favorit suaminya, hari Jum,at sore sampai Sabtu sore adalah hari mereka berdua, dikala pasangan yang lain memilih berkencan malam Minggu, mereka milih malam sabtu.


Seusai shalat ashar, ia sibuk di dapur dalam waktu satu jam sudah terhidang di atas meja," cumi asam manis, kangkung oseng, lobster saus Padang, lalapan, nasi pulen, teh tawar sudah oke semua." Tia mengambil foto hidangan tersebut dan mengirimnya ke suaminya dengan pesan;


* Aku udah nunggu, semuanya untuk kamu, sayang.*


Tak lama pesannya dibalas, senyum Tia menghilang setelah membaca pesan balasan tersebut.


* Apa kamu sudah kembali menjadi Tia-ku yang dulu?" Jika belum, aku belum pulang!*


Dengan lesu ia duduk di kursi meja makan, menjatuhkan kepalanya ke atas meja makan membiarkan air matanya membasahi meja makan mahalnya.


" Kenapa? Kenapa?" Lirihnya lesu, pertanyaa itu Selalu terlontar dari mulutnya.


Ting!! tong!!!


Tia langsung beranjak lari yakin kalau itu suaminya, ia membuka pintu dengan senyum ceria yang langsung menghilang, ternyata Zayin yang datang dengan sekantong plastik berisi Snack.


Tanpa diundang masuk langsung melangkah ke ruang makan, matanya berbinar melihat hidangan tersebut.


" Yuk, makan bareng Aa, jangan berharap bang Afa pulang, Aa Mumuy sedang tidak baik-baik saja." Zayin mengambil nasi dan cumi.


Setelah menghabiskan setengah porsi hidangan Zayin melanjutkan shalat Maghrib berjama,ah dengan Tia yang menjadi ma,mum.


" Aa gak bisa lama-lama, bentaran lagi juga teman kamu pada datang." Zayin melangkah ke pintu, dibelakangnya Tia masih berwajah sendu.


" Sini." Zayin merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut Tia memeluk pinggang Zayin.


" Kenapa Iya jadi menyebalkan begini?" Tia tak menjawab, dia masih ingin merasakan kehangatan keluarganya.


" Berhenti keras kepala sebelum kamu kehilangan bang Afa."


Tia menengadahkan kepala memandangi Zayin, menjadikan mereka saling pandang," Kan Iya adiknya Aa Mumuy, Aa Afa gak mungkin menceraikan Iya."


" Kalau begitu kau tidak mengenal suamimu, kau menyakiti orang yang paling berharga baginya untuk saat ini."


" Melebihi Iya?" Zayin mengangguk.


" Dimana suamimu sekarang? Tidak di sini kan? Baginya, Tante Sandra bukan seseorang yang penting. Beliau sudah terlalu banyak mengecewakan bang Afa, jadi cepatlah kembali seperti dulu sebelum dia meninggalkanmu." Zayin mengecup kening Tia dan berlalu dibalik pintu apartemen.


Tia bergeming syok, apa benar dia salah mengambil langkah?


******


Anggota BEM masih berkumpul meski rapat Pema persahabatan antar kampus sudah usai, kehebohan ruangan akan tingkah absurd anak BEM diabaikan oleh Mumtaz yang sibuk karena iPadnya.


" Yud, makan Yud. Lo harus tanggung jawab kita lembur."


" Pesan aja, gue yang bayar." Seru Jeno.


Semua mata memandangi Jeno dengan heran," serius Lo? nanti kita pesan gak ada yang bayar alamat jadi buronan sosmed kita." Sahut Cindy.


" Hehehe, sekarang yang ditakuti netektif hah bukan detektif." Seloroh Rendi.


" Serius." Jeno mengeluarkan kartu dari dompetnya, ia melirik Mumtaz.


Mumtaz yang mengenali kartunya hanya berdecak.


" Wih sekarang berkartu Lo, fix Lo teman gue." Romli merangkulnya.


" Kapitalis Lo." Jeno menoyor kepala Romli.


" Kebutuhan hidup, bang."


" Berapa budgetnya?" tanya Beni.


" Wiiih, Abang Eno udah jadi juragan buaya Lo nraktir kita tiga jete." ledek yang lain.


Setelahnya mereka ribut menentukan menu makanan.


" Muy, ini buat kamu." Riana menyodorkan sekotak makan siang, Mumtaz mengangkat kedua alisnya, menatap Sisilia.


Ia mengambil kotak makan tersebut, Riana tersenyum," makan ya supaya Lo sehat selalu."


" Belum mundur juga Lo Ri padahal. Udah ditolak belasan kali." Tutur Rendi


" Doi jomblo, apa salahnya gue coba."


Sisilia yang duduk disamping mumtaz menunduk, Mumtaz melempar kotak makan itu ke Romli," makan tuh." tentu disambut semangat olehnya yang lain.


Riana terbelalak," kok dikasih ke dia?"


" Memang mereka yang selama ini makan makanan Lo. Gue mah cukup beli di kantin, dan gue punya pacar." Tekan Mumtaz pada kalimat terakhir


Mata mumtaz kembali fokus ke iPadnya melihat gerakan target, Mumtaz langsung memberesi isi tasnya yang berserakan di meja rapat, tangannya memanggil Jeno.


" Apa?" Jeno menarik kursi ke samping Mumtaz


"  Gue kudu pergi, Lo jaga empat bocil ya." 


" Sip."


" Pastikan mereka sampe rumah dengan aman." 


"  Selesai ini Ita ngajak nge-mall." Ucap Sisilia.


" Okey, ajak yang lain. Pake kartu gue, boros dipotong honor kalian." Matanya tertuju pada para temannya.


" Sayang, kamu jangan biarkan Cassy ke rumah sakit ya." Mumtaz mengusap Surai hitam Sisilia, Sisilia mengangguk.


" Aku pergi dulu." Mumtaz mencium punggung tangan Sisilia, ia berjalan menuju tempat Tia yang mencoba berdekatan dengan Alfaska.


" Dek, hari ini main aja dengan yang lain jangan melulu di apartemen." Mumtaz berjongkok di hadapan Tia yang tertunduk.


"Aa harus pergi, bawa Afa. Jadi anak yang baik hmm!" Ia mencium kening Tia.


" Lo pergi kemana?" Tanya Ibnu.


" Kita yang pergi, sekarang! Yud gue titip bocil ya." Yuda mengangkat jempolnya, Mumtaz melangkah meninggalkan ruangan.


" Kita mau nge-mall." Teriak Dista.


" Iya, terserah kemana aja." Mumtaz menjawabnya tanpa menoleh


" Sayang harus gitu nge-mall lagi, baru kemarin kamu nge-mall bareng aku." Daniel menunggui Alfaska yang memberesi isi tasnya.


" Niel, kalau Dista cewek gak baik, ini ada Divanya, dia gak bakal morotin Lo." Seru Riana.


Daniel tak menanggapinya," jangan beli apa-apa, nongkrong aja di sana." Daniel dan Alfaska beranjak menyusul Mumtaz yang sudah meninggalkan ruangan yang diangguki oleh Dista yang menatap menantang Riana.


" Cewek gak tahu diri macam kalian gak akan mendapatkan orang seperti kak Daniel." Sinisnya.


" Heh, junior belagu."


" Apa Lo senior gak punya malu." Dista bertolak pinggang


" Yang gak punya malu tuh temen Lo, udah mutusin Mumtaz tapi masih aja nempelin dia." Seloroh Riana menunjuk Sisilia.


" Terus urusannya sama Lo apa? Kak Mumuy-nya aja senang-senang aja gue deketin." Jawab Sisilia santai.


Seisi ruangan sudah memperhatikan adu mulut mereka. Yuda dan yang lain enggan memisahkan, Jeno cuek saja toh perintahnya hanya mengamankan dan jangan bawa Cassandra ke rumah sakit, kalau gelud bolehkan!


*****

__ADS_1


Saat ini nenek ditungguin Dewi yang tengah sibuk menata buah-buahan dan minuman di lemari es dan Eidelweis yang sedang ke kantin bersama Adelia meninggalkan nenek yang sedang beristirahat di ruang inap sehingga tak menyadari ketika ada seseorang yang masuk ke ruangan itu.


Wanita baya berparas cantik, rambut pirang dengan tubuh langsing terawat khas Meksiko melangkah pelan mendekati brankar Sri sambil memegang cutter ditangannya.


Saat wanita itu hendak memotong selang nasal cannula oksigen, tiba-tiba mata Sri terbuka, mendapati siapa yang di depannya ekspresi takut terpasang di wajahnya.


wanita itu menggeram kesal," Kenapa bangun, Amor? Sebaiknya kamu beristirahat selamanya jangan khawatirkan Fatio aku bisa menggantikanmu." Bisiknya ditelinga Sri.


Mata Sri membola besar, nafasnya sudah tidak beraturan meski oksigen masih terpasang dihidungnya, pupil matanya membesar, mulutnya terbuka, dadanya membusung karena sesak.


" Selamat tinggal, Amor." Dia meraih selang dan bersiap memotongnya sampai terdengar.


BRAK!!!


Zahra dan Zahira memasuki ruangan dengan nafas terengah-engah meski raut wajah ditampilkan senormal mungkin.


Wanita itu menoleh, dan menyembunyikan cutternya ke balik pakaiannya, wajahnya memasang ekspresi senyum hangat yang diabaikan Zahra maupun Zahira yang langsung fokus memeriksa Sri.


Layar monitor jantung menampilkan detak jantung yang tidak stabil, tekanan darah meningkat dan asupan oksigen yang menurun.


Sementara Zahira melakukan tindakan, Zahra berdiri tegak diantara Sri dan wanita asing berjalan memojokkan tamu memaksa wanita itu mengambil langkah mundur hingga menajuhkan wanita itu dari brankar Sri menilai dari atas sampai bawah wanita yang berdiri berusaha bersikap tenang.


tak lama layar monitor menunjukan kondisi pasien yang membaik.


" Siapa anda?" tanya Zahra tegas pada wanita itu.


" Saya Guadalupe Gurman, teman lama Sri Hartadraja."


" Siapa yang mengijinkan anda masuk?" Zahra menekan tombol yang langsung tersambung pada pusat security lantai zuper VVIP yang terdapat di samping meja hias.


Guadalupe tertawa kikuk," saya teman Sri, tak perlu ijin hanya untuk menjenguk teman."


Tak berapa lama terdengar ketokan pintu yang langsung dibuka sendiri oleh Zahra, maka beberapa orang berpakaian serba hitam memasuki ruangan tersebut.


" Bisa kalian jelaskan mengapa wanita ini bisa masuk ruangan ini tanpa ijin dari saya maupun dokter Zahira?" Tanya Zahra tegas.


" Permisi, menurut saya kehadiran saya tidak perlu diperbesar, saya hanya..."


"Ini bisa diperbesar, karena sepertinya pasien tidak menghendaki anda." Sela Zahira ditengah memeriksa Sri.


Wanita tua itu terkejut, tidak mengira kenekatannya akan berujung buruk baginya.


" Ada apa ini?" Tanya Dewi diambang pintu antar ruangan melihat banyaknya orang yang ada diruangan.


" Maaf Tante, tapi wanita ini masuk ruangan tanpa ijin." Sahut Zahra.


" Siapa dia?"


" Katanya teman Nenek" timpal Zahra.


Dilain sisi nenek berusaha keras menggerakkan kepala dan memberi kode lewat kedipan mata resahnya yang dimengerti oleh Zahira.


" Kata nenek bukan, wanita itu bukan temannya." Sambil berucap tatapan Zahira lurus menilai raut nenek.


Ceklek!!


Empat pemuda tegap denagn tenang namun tegas memasuki ruangan langsung berpencar mengelilingi brankar Nenek, mata Mereka menyusuri semua sudut ruangan puncak fokus mereka kepada wanita asing yang berdiri tak nyaman ditengah ruangan.


kedatangan petinggi RaHasiYa cukup ampuh menstabilkan kondisi Nenek, Zahira cukup puas terhadap perkembangan kondisi pasien.


" Amankan dia!" ujar Mumtaz pada orang yang menjadi kepala keamanan ruangan Sri.


Mereka mengangguk, langsung mencekal kedua tangan wanita asing itu yang mendapat penolakan dari wanita itu


" Kalian pikir, kalian siapa dapat berbuat kasar seperti ini?" Lepaskan tangan saya." Teriakan itu dihiraukan oleh para penjaga, mereka tetap membawa wanita itu ke tempat yang sudah ditentukan oleh pihak Gaunzaga ditengah berontakan wanita tersebut


Selang 10 menit kelauarga Hartadraja satu persatu memasuki ruangan dengan ekspresi tegang.


Bahkan langkah Fatio langsung menuju pada brangkar Sri, menciumi seluruh wajah istri tercintanya yang sudah menemaninya hingga tiga generasi Hartadraja.


" Apa kau baik-baik saja, sayang?" Tanya Fatio lirih, Sri hanya bisa menarik senyuman tipis untuk suaminya.


" Aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu, bidadariku." Fatio mengecup kening sri lama, kemudian mengadukan kedua kening mereka meresapi rasa syukur atas keselamatan istrinya.


Zahira setelah memastikan kondisi denyut jantung pasien perlahan mundur berdiri kesamping Zahra.


Kini mereka berkumpul di ruang tunggu, sedangkan nenek ditemani para wanita oleh Dewi, dan Nadya yang dihibur oleh krystal dan Adelia.


Mereka menonton rekaman cctv dari ketika wanita asing itu masuk ruangan


" tolong perhatikan bagian ini." Ibnu mempause lalu menzoom satu gambar yang melingkari tangan yang memegang cutter dan selang.


" Saya berulangkali memeperhatikan gambar ini dapat disimpulkan si tamu berniat memotong selang oksigen Nyonya, namun digagalkan dengan kemunculan kak Ala dan kak Hira." seru Ibnu.


Semua orang tersentak terkejut," Kamu yakin?" Fatio ingin memastikan.


" 90% yakin. si tamu langsung menyembunyikan cutter itu ke balik pakaiannya." Ibnu menslow gerakan di gambar ketika tamu menyembunyikan cutter.


mata mereka membola." satu menit Ala terlambat datang nenek bisa dalam keadaan bahaya." gumam Zahra.


" Kakek ucapkan terima kasih, entah dengan apa kakek bisa membalasnya." lirih Kakek menatap Zahra penuh haru.


" Tak perlu sungkan, Kek. walau Nenek menyebalkan tetap belia hiburan tersendiri buat saya. tapi jika kakek memaksa ingin balas Budi cukup mentraktir kita berdua steak yang termahal." sahut Zahra memberikan senyum termanis, Zahira refleks menoyor kepal Zahra yang mendapat pelototan dari Hito.


" peace." seru Zahira mengangkat tangan membentuk lambang V.


Kakek tertawa terhibur," tentu, kakek akan mentraktir Ara, apasih yang enggak buat cucu mantu Kakek."


" Ah kakek bisa aja, makasih atas restunya, Ara jadi gak malu kan." cengirnya mengibas-kibaskan tangannya


" Gue yang malu lihat loo, Kak." dumel Alfaska.


" Iri cium pantat kucing, bos." balas Zahra.


" Kakek tahu siapa dia?" tanya Damar.


Fatio menarik nafas dalam sebelum berucap," dia masa lalu Kakek."


semua orang terkaget," da'i yang beberapa hari lalu menemui Nyonya di restoran sebuah hotel." timpal Mumtaz.


Layar menampilkan pertemuan Sri dengan wanita itu, di sana tertera tanggal, dan hari pertemuannya.


" Itu hari dimana Nenek menampar aku kan ya!?" celetuk Zahra.


lagi, mereka membola mata karena terkejut." pantes tamparannya kuat banget, ternyata beliau sedang mode angry on." Zahra mengusap-usap pipinya seakan rasa sakit tamparan itu masih terasa.


keluarga Hartadraja menatap menyesal pada Zahra," Kakek tambahin traktir lobster jumbo mau?" tawar Fatio berusaha agar Mumtaz tidak marah.


Seketika mata Zahra berbinar," okey, padahal tidak perlu sakitnya cuma kayak digigit semut kok, tapi kalau Kakek maksa Ara bisa apa, fals Opan menolak rezeki kan ya." matanya memandangi satu persatu mereka yang berada di ruangan itu, yang mengangguk saja apapun perkataan Zahra.


lagi, Fatio tertawa sumringah, Mumtaz hanya tersenyum memandangi kakak tercintanya.


" Siapa namanya?" tanya Damar.


" Guadalupe, Guadalupe Gurman. mantan kakek sewaktu kuliah dia Amerika.


Merek terbengong mendengar itu, " dan hubungan itu tidak berakhir baik!?" retoris Julia.


" Dia menolaknya, dia tidak menerima perjodohan kakek dengan nenek. Pernah bersumpah akan membalas dendam pada kakek atas rasa sakit yang dia alami, mungkin kini waktunya." lirihnya sedih.


" Apa RaHasiYa bisa membantu kami?" Julia menatap para petinggi RaHasiYa.


" Kami kebetulan mengetahui beberapa hal tentang dia, untuk lebih lanjut saya sarankan kita berkumpul pada malam Minggu dia gedung RaHasiYa." Seru Ibnu.


" Baiklah, berhubungan yang masih single pada jomblo mari kita akan berkumpul di RaHasiYa." Ujar Adgar...


**Gak nyangka bisa sejauh ini Terim kasih untuk semua pembaca, jangan jadi pembaca diam ya....like, komen, dan hadiah.


pengen buat cerita tentang Zayin dan jodohnya kalian setuju gak ya**.

__ADS_1


__ADS_2