Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
226


__ADS_3

Alfred mencoba menggerakkan kakinya perlahan-lahan mengambil langkah kecil selangkah demi selangkah. Ia tertawa senang, ia merasa dirinya melayang karena begitu ringan.


" Matunda, lihatlah. Aku sudah bisa bergerak. Darimana kau dapatkan obat itu? Aku tahu itu obat yang berbeda, tubuhku merasakannya."


Alfred kembali duduk di ranjangnya setelah  berlatih sebanyak tiga langkah bolak balik, dirinya masih goyang perlu menyesuaikan diri setelah sekian bulan terbaring di ranjang.


Matunda yang masih berdiri di tempatnya hanya memandanginya tanpa bermaksud mendekat.


" Dari seorang profesor yang tengah melakukan percobaan. Maaf kalau saya lancang, tapi saat itu anda dalam keadaan kritis dan dokter yang menangani anda sudah menyerah." Matunda berjalan menghampiri Alfred.


" Saya mengampuni mu. berikan hadiah padanya karena sudah menyembuhkan saya." Alfred kembali mengistirahatkan diri, dia merasa jantungnya berdegup lebih kencang hanya karena beberapa gerak.


Matunda membantu menyelimuti tubuh Alfred yang terlihat lebih kurus.


" Matunda, apa kabarnya petinggi RaHasiYa?"


" Mereka masih sibuk mencari para wanita mereka."


" Saya akui kegigihan mereka, tetapi kasihan sekali mereka melakukan hal sia-sia. Mereka tidak akan menemukan para bocah cilik itu, bukankah itu sebutan yang mereka berikan?" Napas  Alfred terdengar tersengal-sengal. Matunda mengangguk.


" Iya, tuan." Matunda kembali ke meja kerjanya, ia segera menyalakan komputernya dan mengirim video mengenai apa yang terjadi pada Alfred pada seseorang yang harus mengetahuinya melalui email.


Email itu masuk bertepatan dengan Mumtaz yang hendak membuka laporan dari Dewa terkait suasana gedung RaHasiYa.


Mumtaz memperhatikan raut Navarro saat melangkah, pijakan kakinya yang masih lemah menjadi titik pusat perhatiannya.


Begitupun bagi Zayin yang berdiri di belakangnya sambil menggendong Adelia. " Kirim video itu padaku." 


Zayin duduk di kursi disebelah Akbar dengan Adelia yang anteng makan es cream.


" Lo gak bareng mereka?" Tanya Akbar, mengambil alih Adelia.


" Capek."


" Video apa?" Tanya Akbar.


" Anak buahku mengirim video Navarro bangun dari ranjangnya." Mumtaz memberikan ponselnya pada Akbar dan Alfaska setelah mengirim video pada Zayin.


Raut Alfaska menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat, ia lantas mengirim video itu ada Daniel.


" Kalian tetaplah di sini, gue sama Ayin harus segera ke Jakarta. Bagaimana pun harus ada yang gue pastikan."


" Oke." Sahut Akbar.


" Gue ikut sama Lo."


Mumtaz menghela napas berat." Sudah gue kira, tapi untuk saat ini jangan. Gue ingin adik gue aman, dia butuh Lo."


" Tapi Lo butuh gue, atau gue yang butuh Lo. Gue harus memastikan Lo baik-baik saja." Kukuh Alfaska.


" Fa, anak Lo butuh Lo. Kehamilan Tia tidak mudah tiap pagi dia mual, gue gak keberatan bantu dia, tapi gue paham betul kalau dia butuh dukungan Lo " ujar Akbar.


" Dengerin Akbar, dan buat gue tenang karena yakin ada yang lindungi dia."




Pukul lima sore Matunda tengah menunggu kedatangan Zahira di cafe'd'lima.



Wanita yang dijadikan Zahra sebagai pengganti dirinya mengurus Navarro selama ia diamankan.



Matanya memperhatikan Zahira yang tiba tergesa-gesa sambil membawa *ice box* dengan didampingi oleh Arka dan Samudera.



" Maaf lama, ada pasien dadakan." Zahira mengambil duduk di kursi yang sudah ditarik Samudera di hadapan Matunda. sebagian Arka duduk di samping Matunda.



Sementara ujung mata Arka menemukan gerakan janggal dari dua pengunjung lelaki di seberang merek berjarak tiga meja.



" Kau membawa teman?" Tanya Arka sembari menyalakan aplikasi kamera di ponselnya, tanpa mencurigakan mengatakan pada mereka. Matunda menggeleng.



 " Sepertinya kau diikuti."



Samudera melihat dua lelaki tersebut dari kiriman Arka. 



Tubuh Zahira sontak menegang," santai, sayang. Aku di sini." Bisik Samudera yang duduk di sebelahnya. Zahira mengangguk sambil meminum air mineral matunda untuk menghilangkan kegugupannya.



Matunda melirik ponsel Arka yang diarahkan kepadanya.



" Itu anak buah Navarro dari Valentino yang berasal dari negara tetangga kalian."



" Langsung dilenyapkan saja." Titah Samudera.



" Dan Lo gak mengenali mereka?" tanya Arka curiga.



Matunda menggeleng," gue kenal lewat tatto di lengan mereka."



Arka membesarkan gambar bagian lengan yang terdapat gambar cobra.



" Langsung saja, ini..."



Matunda memberikan kartu memori pada Zahira yang langsung dipasang di ponselnya.



" Mengapa anda menolong dia? Ini melenceng dari kesepakatan kita." Ucap Matunda datar.



" Tidak ada yang melenceng, semua sesuai rencana." Jawab Zahira tenang.



" Dengar, nona. Kita di sini ingin membvnvhnya bukan menyembuhkannya." Desis Matunda gusar.



" Dia butuh kaki dan tangan untuk datang ke gedung RaHasiYa, bukan? Kita beri itu ke dia."



" Nona, anda tidak tahu siapa dia, dia berbahaya. Tanpa kaki dan tangan dia masih berbahaya, kini kau beri keduanya. Kau mencelakai adikmu, Mumtaz."



" Berikan ini padanya sesuai dosis yang tertera, percayalah Zahra tahu apa yang dia lakukan." Zahira mendorong kotak berukuran sedang itu pada Matunda.



Matunda diam tidak mengambil kotak es tersebut, dia mulai ragu terhadap gadis di depannya.



" Percayalah, obat ini rebutan para mafia kelas dunia untuk menghancurkan para lawannya secara perlahan-lahan tanpa mereka sadari akrwnan tidak ada kesakitan yang berarti."



" Bagaimana dengan obat penenang itu?"



" Masih diperlukan, terus kasih itu campurkan dengan cairan yang lain."



Setelah semua urusan selesai dibahas, Samudera lekas membawa Zahira ke mobilnya yang anti peluru, sementara Arka dan anak buahnya melumpuhkan kedua pria tersebut saat menaiki mobil di parkiran cafe'



Matunda melihat dan merekamnya dengan ponselnya semua adegan yang berlangsung sekejap itu dalam satu tarikan napasnya.



" Selalu ada 1diot di muka bumi ini." gumamnya, ia mengirimnya pada ketua mafia tersebut.



" **Tarik anak buah mu, atau Gaunzaga akan memburu kalian. Valentino telah meninggal**." pesannya disertai video pemba-karan Valentino.



\*\*\*\*\*\*



Di kamarnya, Zahra bertukar pesan dengan Zahira, dia memastikan Zahira memberi Dosi yang tepat pada Alfred sesuai kondisinya yang didapatkan dari laporan Matunda.



Tok...tok...



" masuk." Seru Zahra.



Mumtaz dan Zayin memasuki kamar, kemudian Zayin menutup pintu kamar tersebut.



" Kami malam ini akan kembali ke Jakarta."


ucap Mumtaz.



Zahra mengangguk, ia tak bisa berkata. ia dirundung kecemasan pada kedua adiknya.



" Bisakah berjanji padaku kalian akan baik-baik saja?" pinta Zahra dengan suara tercekat.



" Kami terlalu keras kepala untuk mudah dilumpuhkan." ujar Zayin.



" Iya juga ya. tapi tetap saja ini..."



" Kami akan baik-baik saja." potong Mumtaz.


__ADS_1


" Aku pegang kata-kata kamu." Zahra berlari masuk ke dalam pelukan Mumtaz.



" Jangan sampe terluka, kita harus selalu bersama." ucapnya lirih.



" Hmm." Mumtaz mencium puncak kepal Zahra.



Mereka berpelukan tanpa kata saling menyerapi akan diri mereka masing-masing.



Zayin menatap keduanya dengan khidmat menatap kedekatan keduanya tanpa iri walau tidak dipungkiri rasa kesepian menghinggapinya.



Disaat seperti inilah dia merindukan mamanya. pernah yang akan selalu merentangkan tangan padanya.



Ia terjengkit keluar dari lamunannya saat merasakan pelukan erat Zahra yang melilit tubuhnya.



" Jangan berpikir kamu sendiri, Kakak juga sangat menyayangi kamu,, tidak kurang dari Mumuy maupun Tia." lirih Zahra tersendat-sendat karena airmatanya.



Zayin kontan membalas pelukan itu dengan yang sangat erat, airmatanya sudah mengalir membasahi wajahnya," aku janji akan lindungi Aa dengan segenap jiwaku."



Zahra mengurai melepas pelukannya, ia membingkai wajah adik bungsunya." kalian harus selamat, Dedek, dan Mumuy sama berharganya untuk Kakak." ucap Zahra sungguh-sungguh.



Zayin menghapus airmata Zahra," Hmm. baiklah. do'akan kami."


 



 Di kamar Aida, pukul 01.15 dinihari, Zayin tengah memasukan keperluannya dan keperluan Mumtaz ke dalam satu ransel.



Tok..tok...



Hito mengetuk pintu yang terbuka, ia lalu menghampirinya menyodorkan tablet yang berisi gambaran terkini kondisi Navarro.



Zayin mengamati dengan seksama bagaimana Alfred terlihat lebih bugar, ia tertawa lebar kemudian berteriak kegirangan karena bisa berdiri dan berjalan.



" Matunda mengabarkan kondisi terkini pada Hira."



Zayin menatap dengan raut bertanya pada Hito.



" Selama ini Ara dan Hira yang mengatur pengobatan Navarro." Terang Hito.



" Kenapa? Seharusnya kakak bikin dia tidak berdaya." Tersirat rasa tidak puas dari Zayin untuk Kakaknya.



" Entahlah, Ara tidak mau menjelaskan mengenai hal itu ketika saya bertanya."



" Aku copy video ini ke hp ku ya." Pinta Zayin.



" Silakan."



Saat Zayin berjalan ke arah pintu utama melewati ruang tamu yang ternyata Heru tengah memangku Adelia yang ternyata lagi-lagi terbangun.



" Del, kenapa selalu bangun di tengah malam sih?" Tanya Zayin berjongkok di depannya sembari mengusap kepalanya.



" Hiks....huhuhu..hiks...." Bukannya menjawab Adelia malah menangis.



" Kenapa nangis, hmm?"



" Kenapa Aa pelgi? Bali juga nyampe." Rengek Adelia.



" Harus kerja."



" Tapi tan balu nyampe."




"  Jangan pelgi, pleasee...jangan pelgi. Adel punya firasat gak enak. Adel takut Aa mati... hiks.."



" Hushh, Del, jaga ucapan kamu." Tegur Heru.



" Do'akan Aa selamat ya, nanti kita main lagi."



" Pleasee...jangan pelgi. Kali ini aja Aa dengelin Adel." Mohon Adel dengan suara seraknya dalam celuk leher Zayin.



" Maaf, tapi Aa memang harus segera pergi. Kamu jaga dedek bayi dan mama ya, jadilah anak yang baik, oke?"



Sejenak Adelia tidak menjawab, hanya sesegukannya saja yang terdengar.



Zayin dengan sedikit paksa mengurai pelukannya, mengusap pipi Adelia yang basah.



" Adel harus lebih baik, kasian ayah yang harus ngurusin kamu, dedek bayi sama mama."



" Iya, tapi Aa halus cepat kembali."



" Pasti, sayang." Zayin mengecup pipi Adelia.



" di teras, telah ada Bayu dan William duduk di kursi menungguinya bersama Adgar dan Akbar.



" Ck, kalian ini. kayak gue bakal pergi perang." ucap malas Zayin.



" Terus aja bersikap menyebalkan." dengkus Adgar.



Tok...tok....



Haidar dan Rabiah yang sudah terbangun meski hari masih pukul 02.15. wib. Saling pandang bertanya siapa yang bertamu pada jam segini sebelum berjalan ke arah pintu.



" Assalamualaikum."



" Wa'alaikumsalam." Mereka cukup terkejut melihat Mumtaz yang berdiri di depan pintu mereka.



" Mumtaz? Ada apa?"" Tanya Haidar laga..



" Maaf, mang. Mumtaz mengganggu, tapi ada yang harus dibicarakan."



" Enggak sama sekali, masuk."



Rabiah langsung ke dapur membuat dua cangkir teh hangat. Sedangkan Haidar dan Mumtaz duduk di ruang tamu.



" Mang, Mumtaz dan zayin harus segera ke Jakarta. Kami titip yang lain di sini."



" Ada apa?"



Mumtaz menggeleng, "tidak ada yang urgent hanya memang..."



" Mumtaz, mamang memang tidak tahu persis kamu sedang melakukan apa, tapi mamang tahu kamu sedang berurusan dengan orang yang berbahaya." kata Haidar berwibawa.



" Kamu ponakan mamang, izinkan mamang menjadi wali kalian." Mata Haidar menyorotkan permohonan yang sangat.



" Mumtaz insyaallah hendak menghadapi orang yang selama ini menjadi biang kesedihan Ibnu dan Khadafi." aku Mumtaz.


__ADS_1


" Kau sungguh menyayangi mereka ya?"



" Mama dan ayah sudah mengadopsi mereka menjadi saudara kami."



Haidar mengangguk," berarti mereka juga ponakan mamang."



" Apa Dafi juga ke Jakarta?"



" Tidak, jangan biarkan dia sendiri. bagaimana pun dia akan menjadi target mereka."



" Tentu, kami akan memberi pengawalan untuknya."



" Terima kasih. Mumtaz harus langsung pergi."



" Minum teh ya dulu." seru Rabiah dari arah dapur.



Mumtaz langsung menandaskan teh hangat itu dalam satu tenggakan.



Di depan teras rumah telah ada Zayin, fajar dan Khadafi mereka melihat kearah pintu ketika pintu itu dibuka Mumtaz.



" Aa harus pulang sekarang ya " ucap Khadafi.



" Iya, kamu belajar yang tekun, jangan pikirkan apapun semuanya akan baik-baik saja." Mumtaz menepuk pundak Khadafi.



" Hmm, kirim salam ke Aa Inu."



" Tentu. jaga diri kamu." Khadafi langsung menubruk Mumtaz ke dalam pelukannya.



" Maaf, kami selalu saja menyusahkan kalian." ucap Khadafi.



pletak...



Dengan niat karena greget Zayin menjitak laut kepala Kadafi.



" Sekali lagi ngomong gitu gue tampol Lo." omel Zayin galak.



" Iya, maaf. gak lagi." rungut Khadafi sambil mengusap kepalanya yang sakit.



" Jar, tiitp Dafi." seru Mumtaz.



" Siap, bang." jawab Fajar bersemangat.



" Kalau ad ayang rese langsung tabok aja mau doa cewek kek atau cowok kek ha-jar langsung." ucap Zayin yang langsung diangguki Fajar, dia kapok menentang Zayin.



\*\*\*\*\*\*



Mumtaz dan Zayin turun dari landasan helikopter rooftop rumah sakit Atma Madina disambut Daniel dan juga Bara. merek terbang menggunakan helikopter milik Hartadraja.



sejenak Mumtaz menghentikan langkahnya menatap mereka berdua.



" Kita bisa dikesampingkan perbedaan kita untuk sejenak oke?" ujar Daniel.



" Apa Lo masih bertemu Sania?" tanya Mumtaz tegas.



Daniel menggeleng," Udah enggak, Lo bisa tanya Ayu atau yang lain kalau gak percaya, gue gak setolo-l itu." jawabnya.



" Baguslah, kalau Lo masih punya sedikit kewarasan, minyak jelantah aja Lo doyan." cibir Zayin.



" Kita pulang dulu." seru Bara..



" Lo nyuruh kita?" tanya Zayin



" Iya, jangan bawel kalian butuh istirahat." seru Bara.



\*\*\*\*\*



prang....



Untuk kesekian kalinya pecahan kaca pecah membentur televisi.



Air muka Alfred kini sangat mengeruh, saat Toni dalam persidangannya mengakui perbuatannya pada pemba-karan rumah 10 tahun lalu, dia tidak bisa lagi mengelak ketika bukti kuat mengarah padanya.



" Dari mana mereka mendapatkan Segal la bukti itu?" teriak Alfred frustasi.



Alfred mengamuk mengacak-acak seluruh kamarnya, ia sedang dilanda kepanikan.



" Matunda, obat, Matunda." teriak Alfred.



" Tuan, tenanglah. anda harus mengendalikan emosi anda."



" Bagaimana say tenang jika sebentar lagi mereka menangkap saya." racau Alfred mencoba mengoyak perban tubuhnya.



" Tuan, jangan dilepas perbannya, anda akan kena infeksi." Matunda mengambil kedua tangan kecil Alfred, mencekalnya ke dalam satu tangannya, sedangkan tangan satunya menutup hidungnya dengan sapu tangan yang sudah dibaluri obat bius.



Alfred pingsan, dengan santainya Matunda menarik lalu membaringkannya di ranjang.



Saat hendak menjauhi ranjang, Matunda melihat titik-titik merah kecil di sekitaran mata, yang ternyata bintik-bintik darah.



Matunda membuka kelopak mata Alfred, ia tersentak mundur karena terkejut.



tubuhnya gemetar ketakutan, seluruh sklera " lapisan putih) mata Alfred dipenuhi bintik tersebut.



Tring...



Pesan dari Zahra masuk ke ponselnya. Matunda lekas membacanya.



" **Segera beri obatnya sebelum pembuluh darahnya pecah**."



Kontan Matunda berlari ke lemari penyimpanan obat, mengambil botol kecil, lalu dimasukan ke suntikan. kemudian segera ia campurkan cairan tersebut kedalam infusan Alfred dengan tangannya yang masih gemetaran.



Begitu tugasnya selesai ditunaikan, Matunda geruduk lemas di lantai dengan napas yang tersengal-sengal karena syok.



\*\*\*\*\*\*



Tidak hanya Matunda yang shock, tetapi juga Dewa dan Dimas yang melihat itu semua melalu layar lebar di ruang konferensi.



" Dim, Lo anak kedokteran. apa iya orang bisa seperti zombi hanya karena marah?" tanya Dewa seperti bergumam.



" Tanyakan itu nanti kalau gue udah ngambil spesialis. ini terlalu tinggi buat gue pikirin." jawab Dimas.



" Yang pasti, gue tahu kalau bintik itu akan menjalar ke seluruh tubuh. masalahnya bagi dia, dia tidak akan mengetahui penyakit itu telah menyebar karena dia sudah tidak memiliki lapisan kulit terluar di tubuhnya.



" Epidemis.ya tuhan, gue sekarang mensyukuri kulit buluk gue ini." ucap Dewa sembari mengusap lengannya.


__ADS_1


" Hmm, kita harus bersyukur masih memiliki kulit, meski itu hitam."...


__ADS_2