
berita kehamilan Tante Nadya, menjadikan lantai teratas gedung Hartadraja menjadi kumpul keluarga besar. yang menandakan perbincangan tentang perusahaan terlupakan
kakek buyut Fatio yang semula sudah pulang, kembali ke kantor didampingi nenek buyut Sri. disusul nenek Dewi dan Tante Julia. tak ketinggalan si bungsu Advar, adik Cassandra.
Ibnu mengarahkan perhatiannya ke seluruh ruangan dan tiba-tiba dia tegang khawatir dengan apa yang dia lihat dilayar ponselnya.
" ASTAGA....ASTAGFIRULLAH..." teriak Ibnu sengaja menarik perhatian penghuni ruangan.
teriakan Ibnu berhasil membuat isi ruangan diam.
" kenapa sih Lo Nu suka banget teriak " Jimmy menoyor kepala Ibnu.
" Tanura ke rumah Cassy." jawaban Ibnu mampu menaikan ketegangan dalam ruangan meningkat
" di rumah ada siapa om." tanya Bara kepada om Damian. Bara berharap Cassy tidak ada di rumah.
" hanya ada Cassandra dan asisten. " jawab Tante Julia lemah.
" posisi Nu? " tanya Mumtaz tenang.
menunjukkan layar ponselnya. Ibnu menggeleng kepala.
" gak bakal sempat nyusul Muy."
Bara yang ingin pergi ditahan Mumtaz. dia ingat kalau hari ini Tia akan bermain ke rumah Cassy. dan langsung menghubungi Tia.
" Assalamu,alaikum. Tia sekarang posisi dimana? tanya Mumtaz langsung ke inti.
Mumtaz me loud speaker atas permintaan om Damian
" di halte nunggu Dista ngaret banget orangnya." keluh Tia.
" langsung pergi aja sendiri. sekarang Tanura otw ke sana." masih dengan suara tenangnya Mumtaz mengintruksi.
Ibnu yang langsung membuka program pengawasannya menggeleng ke arah Mumtaz.
" hah serius, tapi takut ga sempat. Aa hubungi kak Zahra aja. hari ini kak Zahra ngajar les di komplek itu deh."
" oke. makasih infonya." Mumtaz langsung menghubungi kak Zahra yang tidak diangkat, tapi masih terus menelpon.
" bisa kasih tahu posisi keduanya?" tanya Tante Julia khawatir dalam pelukan om Damian.
Ibnu menyambungkan ponselnya ke laptop yang menunjukan sebuah titik putih merupakan posisi Tanura yang sudah mendekat ke rumah Tante Julia.
Mumtaz masih berusaha menghubungi kak Zahra.
" Assalamu,alaikum. apa A? " jawab kak Zahra yang membuat orang dalam ruangan bernafas lega.
" kak tolong ke rumah Cassandra temennya Tia sekarang."
" ada apa. kakak sekarang lagi ngajar les. si Cassy Hartadraja itu?"
" iya. mendesak. Tanura menuju ke sana. Aa shareloc ya. pake earphone yang Aa kasih. SEKARANG." titah Mumtaz tenang tapi tidak bisa dibantah.
" iya. adik kurang belaian Lo. ribet amat. lah ini tempatnya di depan itu. nah itu si Taruna udah nyampe depan rumah si Cassy." mendengar itu tensi ketegangan ruangan kembali meningkat
" ah sialan telat Lo Muy ngasih info. tu orang udah lagi minta dibukain gerbang ma penjaganya. woy Tasya. mana speaker karaoke banci Lo. gw pinjem." bengong lah mereka yang mendengarkan kalimat itu. speaker karaoke banci?
menggunakan earphone itu suara obrolan gaduh dengan temannya dan sumpah serapah kak Zahra jelas terdengar jelas oleh semua orang dalam ruangan.
Mumtaz meringis malu, teman-temannya terkekeh pelan. keluarga om Hartadraja melongo kecuali om Hito yang terkulum senyum mendengar suara yang dirindukannya.
" Muy, Kakak gak bakal sempat ngejar kalo sekarang pergi. jadi ngalihin perhatiannya aja dulu."
" WOY TARUNA SOMPLAK SINI LO OGEB. JANGAN GANGGU ADIK GW LO. PAK SATPAM KATA KAKEK FATIO JANGAN BUKAIN GERBANGNYA. tasya sini Lo ganti gw ngalihin tu cewek gila." sepertinya kak Zahra berbicara menggunakan toa suaranya sangat menggelegar.
terdengar suara orang menyanyi tidak menentu.
" aish Lo ya. gak punya gawe Lo nyelakain dia mulu." ocehan kak Zahra terdengar lagi kepada seseorang diseberang sana
" eh siapa lo. jangan ikut campur. gembel*" suara Tanura menghina terang-terangan ke kak Zahra membuat semua orang membolakan mata lebar.
" cuih. songong lo. duit ortu aja belagu. pak lindungi nona cassandra aja. ini biar saya yang urus."
" eh benalu. gw bilang jangan ikut campur. pergi sana."
" eh cewek nganggur pergi Lo. disini cuma buat orang-orang baik."
" sialan nantangin gw Lo."
" Aa.. anjir dia bawa pisau. Muy gimana ni dia bawa pisau."
" lawan aja kak. jangan kayak orang lemah."
" *bukan takut, cinta koh. tapi dia klan Hartadraja. entar ngadu abis gw."
" cih bocil bawa-bawa pisau. karatan lagi. katanya anak konglomerat, punya pisau, karatan. bangkrut Lo." Kaka Zahra memancing emosi Tanura.
" aaaw. sumpah ya Lo bikin gw marah. Muy gw mau ditikam. kakak tendang ya...yah udah gw tendang. sekarang gw lagi Hajar muka dia*."
BUGH...BAGGH... kerek..suara tulang patah
__ADS_1
" AAA.....lepas bodoh. lo berhadapan sama Hartadraja yang ngasih Lo makan. tolol"
" lepasin tangan gw....*****..." teriakan Tanura.
PLAK...PLAK....BUGH
.......…!!!!!
" diem kan lo. dengan ngehina gw gak jadiin Lo lebih baik dari gw. tapi yang pasti Lo lebih hina dari gw."
" beres Muy. mission completed. password. jangan lupa transferan nya*." canda kak Zahra yang membuat om Hito menahan tawa dengan susah payah.
" apa sih kak. ga jelas."
" kikik...kikik....berasa penyelamat bayaran gw." akhirnya om Hito tertawa pelan mendengar obrolan itu
"HAH.."
" ALHAMDULILLAH."
" TERIMAKASIH YA ALLAH."
ucapan kelegaan dan rasa syukur bersautan dalam ruangan.
" itu. kok. Muy suara siapa rame...kamu dimana? di pesta siapa? bilangin sama mama ya. masih bocil sok so an pesta Lo. BALIK. SEKARANG."
" ini pasti ulah si Jimmong. ni. maen ke rumah gw jewer juga tu orang." makin lama Omelan kak Zahra makin tak karuan. Jimmy yang namanya disebut menunjuk dirinya sendiri dengan cemberut. sedangkan yang lain meringis.
" sabar Jim, sabar. orang sabar jidat Lo nambah lebar." Daniel menepuk jidat Jimmy. dan Jimmy tambah ngambek
" Mumtaz, tolong minta photo Tanu sebagai bukti Cassy aman." pinta Bara
" kak. masih di sana?"
" iyalah dimana lagi. ni orang harus diapain lanjutannya."
" tolong photoin Tanura nya. bukti kakak udah meng K.O in dia."
" ngeremehin gw Lo. bentar.... ish Muy bisnis kuy?
Mumtaz mengernyitkan alis bingung " maksud Lo?"
" berani bayar berapa Lo minta diphotoin muka chuantiknya Tanura.?"
" kak..." geram Mumtaz tak enak hati. memang selama saluran berlangsung kak Zahra tidak mengetahui jika Mumtaz berada bersama keluarga Hartadraja.
" jangan pelit Muy sama sodara. kakak lagi butuh duit ni." ucapan yang mampu membuat om Hito tertegun.
" lah Lo Jim. gaji gw dipotong 30% Jim. tega bener emang tu bos. emang orang kaya mana paham perasaan orang miskin kayak gw Jim." suara kak Zahra didramatisir.
Mumtaz dan para sohib menatap om Hito yang mengangkat bahu tidak menahu.
" cepet kirim." Mumtaz yang sabar pun jengah
" ih dasar kere. ya udah Jim. Lo kan sobatnya Mumtaz. Lo yang bayar. gak mahal kok cuma 7 juta Sama Lo mah." tawar kak Zahra.
" lah kok gw?" Jimmy lagi-lagi menunjuk dirinya sendiri
" kak cepet photoin" Mumtaz tidak mau berlama-lama.
" *iya bentar. udah nyuruh gak sabar lagi. nah itu si Tia sama Dista baru datang."
terdengar suara dari jauh dari saluran seberang
" ya Allah Lo apain anak orang kak*." suara Tia.
" *ish diem bodo amat." ucap kak Zahra
" turunan Hartadraja loh*." cemas Tia dengan kelakuan kakaknya
" biarin. yang penting keluarga Hartadraja nya gak tau." yang mendengar suara kak Zahra pada speechless.
" kak cepet. lama amat elah." Mumtaz sudah tidak sabar.
" transfer dulu."
" kak Zahra. ini aku Bara. uangnya sudah aku transfer ya." ucap Bara tak mau buang waktu. Mumtaz mengalihkan pandangan ke arah bara bingung.
ini memang bukan kali pertama Bara dan kak Zahra bertransfer uang. tanpa sepengetahuan keluarga, kak Zahra sering meminjam uang ke Bara di kala waktu terdesak.
" eh ada dedek Bara. baik bener. terimakasih kesayangan kakak. entar kakak ganti ya. percaya kan sama akoh." kak Zahra memberikan suara merdunya.
" tapi maaf ini bisnis aku sama Mumuy. Muy, kalo gak punya duit diganti sama yang lain boleh"
" apa?" Mumtaz punya firasat tak enak
" bilang aku cinta padamu kak Zahra" terdengar suara tawa terkekeh disambung seberang.
orang-orang dalam ruangan hanya menggeleng kepala tak habis pikir.
" cepet. mau photonya gak? udah oke ni." desak kak Zahra.
__ADS_1
" kak..."
" apa cintaku?" tanya kak Zahra dengan suara lebay menggelikan.
" aku..." Mumtaz menarik nafas dan membuangnya. menutup mata dan menunduk
" aku ...cinta padamu." dua kalimat terakhir diucapkan cepat terkesan paksaan.
" HAHAAHA......"
"CIE...CIEE.."
" AHAY ADA COUPLE BARU...."
mengabaikan sopan santun yang mereka miliki para sohib meledek Mumtaz yang diam tak berekspresi. keluarga Hartadraja diam merasa bersalah. mereka yang puas makan asam garam kehidupan sangat paham bahwa siksaan verbal jauh lebih menyakitkan daripada siksaan fisik
" oke ni photonya siap - siap terpesona ya." kak Zahra terkekeh.
tak berapa lama photo-photo terkirim. dan betapa syoknya mereka melihat photo Tanura yang sudah di make over kak Zahra atas bantuan Dista.
wajah Tanura lebam dan bengkak tiada berupa. dia tidak berdaya. yang diberi segala pewarna. sehingga tampilan badut masih lebih baik dari pada wajah Tanura. sepertinya kak Zahra memang tidak tanggung-tanggung menangani Tanura.
" *Muy, terus si taruna dikemanain ni. kakak gak bisa disini lama- lama mau ke cafe'. udah mah dipotong pake gak masuk. dipecat yang ada."
" Cassy, tia, sama Dista. kakak titipin ke rumah temen kakak ya. aman kok. senang berbisnis dengan anda tuan Mumtaz dan Bara*."
" gak bisa kak. belum tentu aman. ingat, si Tanu bisa bayar orang." ucap Mumtaz sebelum kakak Zahra menutup sambungan telpon.
" ya terus gimana. kakak ga bisa tetep disini. ini honor les juga dipotong. jamnya dipake nolongin Cassy." keluh kak Zahra. sungguh dia sedang membutuhkan uang untuk biaya koas yang sebentar lagi dia jalani.
" bilang nanti dapat bayaran dari Hartadraja." bisik kakek Aznan.
Mumtaz mengangguk canggung " ya udah nanti dapat bayaran dari keluarga Hartadraja " ujar Mumtaz berat.
"". eh apaan itu. gak ada bayaran. orang macam apa yang minta bayaran dari pertolongan. gak ada. cepet sini karier per cafe' an kakak ancur ni. kalo kakak dipecat." yang mendengar terbengong bingung. apa maunya kak Zahra ini.
" hallo Zahra. gak akan ada yang berani pecat kamu." om Hito bersuara dengan pelan dan kembut
"....."
" Muy. itu suara siapa?" tanya kak Zahra pelan.
" om Hito."
Tut..tut..Tut...
kak Zahra menutup sambungan telponnya tanpa permisi. semua orang langsung memandang om Hito.
****
" terimakasih saya ucapkan kepada kalian yang sudah menolong cicit saya." ucap lirih kakek buyut Fatio.
" sama-sama kek." jawab Jimmy sok kalem.
" baiklah sekarang kita semua pindah ke rumah Julia." kakek Aznan berdiri.
" Damar, kamu urus masalah perusahaan sekarang juga. kalo sudah selesai langsung menyusul." titah kakek Aznan.
ketika keluarga Hartadraja beranjak keluar ruangan, om Damar menghampiri Bara
" tuan Bara.." buka om Damar
" Bara. hanya Bara. om" balas Bara
" baiklah. mari kita bicara bisnis.saya berminat menggunakan jasa penanggung jawab yang anda gunakan." ucap om Damar
Bara meletak kartu nama " RaHasiYa"
" kami berpartner dengan mereka. selama ini mereka tidak mengecewakan." Mumtaz dan yang lain hanya mendengarkan.
". kebetulan Bara, brand ambasador nya om. jadi kalo om ingin jadi klien mereka lewat Bara aja." Jimmy menyela untuk menghindari meeting tahap negosiasi.
dengan memutar bola matanya " emang gw lagi butuh duit jadi brand ambasador orang." jengah Bara
" baiklah kalo begitu. lusa kita adakan pertemuannya. gimana?" om Damar memberi penawaran.
" baiklah lusa kita bicarakan." Bara dan om Damar berjabat tangan tanda sepakat.
" maaf bukan maksud untuk mengganggu, tapi jika sudah selesai, mari kita ke rumah Tante Julia." Ibnu mengakhiri pertemuan itu.
semua orang beranjak keluar ruangan. mereka melupakan sebuah amplop dan kertas berlogo rumah sakit. yaitu hasil tes DNA. yang pada akhirnya Damar yang melihat surat itu dan membukanya.
Damar tak kuasa membelalakkan matanya. betapa terkejutnya dia melihat hasil tes DNA itu. dia langsung terduduk diatas sofa dengan lemas.
mengusap-usap wajah geram dengan kedua tangan yang di tumpu di atas paha, mengambil ponsel disaku jasnya, dia menelpon seseorang.
" hallo... Amara, ini Damar Hartadraja. bisa kita bicara?"....
^^^^^^terimakasih masih ngikutin ceritanya^^^^^^
^^^^^^taufan kamilah, 15, Juni, 2021^^^^^^
__ADS_1