
" C'mon, Dude. Lo harus tolak permintaan sialan itu." Gerutu Nando menatap komputer yang meretas cctv dalam lounge Altair, sebuah lounge mewah yang terdapat dalam hotel Ritz-Carlton milik Erros Al-Tairo.
Nando ditugasi oleh petinggi RaHasiYa untuk mengawasi pergerakan Dewa, kini dua pria beda generasi itu duduk bersebrangan dengan aura permusuhan yang kentara dari raut wajah mereka yang saling menatap sinis.
30 menit sudah dua orang tersebut melakukan pertemuan dimana Eric meminta bantuan Dewa untuk menemukan lokasi Bellina.
" Jadi kau menolak perintahku? Atas dasar apa kau pikir kau punya pilihan? Ingat keluargamu taruhannya." Ancam Eric.
" Saya sudah bosan dengan ancaman anda, saya harap anda tidak lupa kalau saya bagian dari RaHasiYa, posisi anda tidak untuk memerintah kami. apa yang terjadi pada Dewi Hartadraja harus anda pertimbangkan." Tantang Dewa sambil merubah posisi duduknya menjadi menumpukan kaki kanan di atas kaki kiri dengan menyandarkan dirinya pada sandaran sofa dengan santai.
Eric menggeram," jadi kau sungguh menantang ku?"
" Saya tidak demikian, tetapi bekerja untuk anda tidak ada point positif untuk saya."
" Meskipun keluargamu taruhannya?"
Dewa mengedikan bahunya malas," kematian milik semua orang, kau sentuh keluargaku, RaHasiYa pasti menghabisi seluruh keluargamu. Jadi berhentilah menggertakku urusi bisnis anda sebelum kalian bangkrut."
Tring!!!
Mata Eric membola melihat video meledaknya mobil BMW putih yang berisi anak buahnya ditengah jalan raya ditengah para warga yang menontonnya yang dikirim oleh nomor yang tidak dikenal.
Eric berdiri gusar sambil mengumpat, Dewa sibuk dengan ponselnya ia meretas ponsel milik Eric tanpa sepengetahuan sang empunya, ia penasaran apa yang dilihat Eric sehingga ia begitu marah. Setelah dia tahu, senyum tipis bertengger di bibirnya.
Dia yakin, dia tidak salah mengambil keputusan. Lalu dia mengirim potongan isi rekaman pertemuannya dengan Eric saat ini yang dia ambil dengan meretas ruang kontrol cctv lounge kepada Mumtaz. Hal itu mudah dilakukan baginya mengingat kontrol keamanan lounge ini berada di bawah tanggung jawab RaHasiYa.
Tring!!!
Satu lagi notifikasi pesan masuk.
Setelah Eric Melihat isi pesannya ia berlalu dari lounge meninggalkan Dewa sambil melontarkan sumpah serapahnya.
Dewa tertegun melihat isi pesan yang diterima oleh Eric, dimana mansion Eric terbakar dengan ledakan besar dibeberapa bagian sudut mansionnya.
Dewa mengusap wajahnya resah, lalu mengacak-acak rambutnya frustasi, dengan mengembuskan nafas berat dia melangkah pasti meninggalkan lounge tersebut menuju gedung RaHasiYa.
Baginya saat ini para petinggi RaHasiYa sangat menakutkan, dia sungguh tak mau ambil resiko bermasalah dengan mereka.
******
Rodrigo, Raul, Dominiaz , dan Mumtaz duduk mengitari meja pertemuan berukuran sedang dengan ekspresi tak bisa terbaca oleh satu sama lain, karena masing-masing dari mereka bersikap waspada.
" Saya asumsikan kalian sudah melihat video yang kami kirim." Mumtaz membuka suara to the point.
" Iya, dan kami tidak terlibat dengan aksi tersebut maupun aksi-aksi lain yang melibatkan anak buah kartel yang berada di Indonesia." Tegas Rodrigo, dia menunjukan surat kuasa dari Alejandro, dan perihal hak pemindah kekuasaan dari Alejandro kepada Eric.
" Jadi,..." Tanya Mumtaz menopangkan kedua tangannya di kedua lengan kursinya.
" Saya menjamin 90% peristiwa Cassandra Hartadraja merupakan ulah Eric dan Tamara, saya mendengar mereka membahas Cassandra sewaktu di kantor tuan Eric." ucap Raul.
Mumtaz menganggukan kepala, dia lantas sibuk dengan iPadnya. " Apa ini?" Tunjuknya pada Raul yang memperlihatkan rekaman sewaktu Tamara berada di ruangan Eric yang membahas untuk menyingkirkan Cassandra demi mendapatkan Bara sebelum Raul memasuki ruangan Eric.
" Iya."
" Apa kalian dekat dengan Tamara?" Mumtaz ingin memastikan segalanya.
" Tidak, meski beberapa kali dia mencoba menggoda saya, tetapi saya tolak." Kedua alis Dominiaz terangkat meragukan ucapan Raul, sang playboy mendekati ke fuckboy.
Raul berdecak dengan keraguan yang disiratkan Dominiaz," memang Lo mau lobang selang.kangan yang busuk?"
Dominiaz mengedikan bahu masa bodo.
" Dia dekat dengan Papa dan Nenek." ungkap Raul.
" Sivia beberapa kali ke rumah Hartadraja dengannya." Mumtaz melirik Rodrigo lalu ke Raul.
" Tamara mengancam Sivia akan membocorkan hubungan dia dengan Herry sanjaya kepada Papa. Diluar itu saya dapat pastikan Sivia tidak terlibat apapun dengan Tamara." Tegas Raul tak terbantahkan.
Mumtaz merubah duduknya bersandar pada sandaran kursi.
" Apa yang kalian janjikan pada kami agar peristiwa ini tidak lagi terjadi." Perkataan itu diucapkan dengan tenang, namun penuh peringatan.
" Saya akan menarik seluruh anak buah yang berada di Indonesia." Ucap Rodrigo pasti.
" Saya beri waktu tiga hari." Putus Mumtaz, Rodrigo tercengang.
" Terima atau mereka tidak akan bisa keluar dari sini."
" Tetapi membutuhkan waktu banyak untuk mengurus kepulangan dalam jumlah banyak."
" Saya yakin sebagai calon pemimpin kartel sinolan kalian punya relasi luas di pemerintahan Indonesia." Sindir Mumtaz.
Rodrigo tidak menapik hal itu," manfaatkan mereka sebelum mereka turun dari jabatannya, para petinggi RaHasiYa sudah muak dengan peredaran narkoba yang semakin tak terkendali." Mumtaz memberi informasi.
Rodrigo dan Raul saling pandang, akhirnya Rodrigo menghela nafas berat," Sinolan secara resmi tidak pernah mengirim barang haram dalam bentuk apapun ke Indonesia." Mumtaz dan Dominiaz mengernyitkan keningnya mngingat hal ironis yang terjadi di lapangan beberapa bulan terakhir.
" Kami akan mengurus ini secara intern, dalam waktu tiga hari saya akan menghubungi kalian." tambah Rodrigo.
" Saya pegang kata-kata anda, kejadian yang menimpa Cassandra hari ini harus anda pastikan adalah yang terakhir karena kesabaran saya untuk berkompromi hanya sampai sini." Tenang, namun tajam sarat ancaman yang terucap dari mulut Mumtaz.
Selama tiga menit hening, masing-masing orang sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
Tiba-tiba Dominiaz membuka tas kerja yang dia bawa.
"Raul, ini laporan lab yang Lo minta." Dominiaz menyerahkan sebundel berkas dalam sebuah amplop putih berlogo Pradapta laboratorium.
Raul membuka amplop yang masih tersegel itu, selama 15 menit dia membaca dan mempelajarinya, saat matanya jatuh pada hasil kesimpulan pemeriksaan, umpatan tak bisa lagi dicegah keluar dari mulutnya.
Tiga orang dihadapannya memperhatikannya dengan pandangan bertanya.
Raul menatap mereka bertiga, menarik nafas dan menghembuskannya pasrah. Dia memberi laporan tersebut pada Mumtaz yang menatapnya bingung.
" Gonza Restaurant terbukti mencampurkan mariyuana dalam menu hidangan mereka, saya curiga beberapa pelanggan telah kena efek dari mariyuana tersebut." Raul memijat keningnya mengalihkan dari rasa kesal.
" Mariyuana, bagi pemakai pemula berefek euforia, halusinasi. Nafsu makan meningkat, terapi jika dikonsumsi jangka panjang berakibat fatal pada jantung, otak, paru, pembuluh darah dan lainya." Terang Raul.
" Campurannya tidak banyak." Mumtaz memperhatikan tabel kandungan gizi pada menu Gonza restaurant."
" Mereka menyesuaikan dengan level candu pelanggan, saya punya kopian perihal nama pelanggan tetap resto dan menu yang dipesannya." Raul mengambil flashdisk dalam tas kerjanya lalu menaruhnya di atas meja.
" Mariyuana sendiri tidak memiliki bau atau rasa oleh sebab itu penggunaannya tidak merubah rasa makanan sehingga pelanggan tidak sadar jika mereka sedang memakan racun." Raul memejamkan matanya lelah dan berusaha menahan emosi.
Raul beranjak ke ruang tengah yang tak jauh dari ruang pertemuan.
" ****, sial!! Dia membanting semua benda yang dijangkaunya.
" Apakah G&N resto dan bakery juga menggunakan resep yang sama?"
Baik Rodrigo maupun Raul menoleh pada Mumtaz bersamaan," jangan begitu terkejut tak perlu kecerdasan untuk mengetahui siapa pemilik dari G&N resto dan bakery." Serunya santai.
" Saya tidak tahu, karena ruang lingkup kerja saya hanya sebatas Gonza restaurant." Aku Raul penuh sesal.
" Apakah RaHasiYa bisa melakukan sesuatu untuk perkara ini?" Raul bertanya penuh pengharapan.
Mumtaz mengedikan bahu," jika anda ingin bekerjasama dengan RaHasiYa, anda harus menjadi klien kami terlebih dahulu. Begitu aturannya."
" Pradapta tidak demikian, tetapi kalian masih membantu mereka?" Raul memberanikan diri untuk protes.
Dominiaz memperhatikannya, Mumtaz Tertegun sejenak, mengabaikan malu, salah tingkah, dan keke'kiannya Mumtaz menghembuskan nafas beratnya.
" Keluarga, ikatan persahabatan, pertemanan dan kebucinan beberapa faktor yang bisa dikecualikan dari aturan itu." Daniel memasuki ruangan yang cukup mengagetkan mereka.
" Maaf, saya lancang masuk tanpa dipersilakan." Dengan santai Daniel menarik kursi disamping Mumtaz tanpa merasa bersalah.
" Tidak masalah, silakan." Rodrigo meminta asistennya menghidangkan minuman untuk Daniel.
Seketika Dominiaz tertawa terbahak-bahak, Raul dan Rodrigo mengulum senyum menahan tawa, sedangkan Mumtaz menatap Dominiaz dengan malas.
Mendapat tatapan intens dari Mumtaz Dominiaz mengentikan tawanya," ekhem, ayolah biarkan aku berbahagia karena bangga memiliki adik yang bisa menaklukkan seorang Mumtaz, petinggi RaHasiYa. Aku yakin tidak semua wanita bisa menaklukan mu."
" Apa kau menantang ku berpoligami?" Tanya Mumtaz mengubah duduknya menjadi bersandar lagi.
Dengan cepat Dominiaz menggelengkan kepala," tidak, tentu tidak. Baiklah maafkan aku, lupakan tawaku tadi."
Raul dan Rodrigo terkekeh dengan kalimat konyol Dominiaz.
" Jadi bagaimana?" Tanya Raul kembali.
" Datang saja ke gedung RaHasiYa untuk membahasnya, kalau anda tidak keberatan laporan ini akan kami bahas terlebih dahulu." Ujar Mumtaz menyerahkan laporan laboratorium kepada Daniel.
" Tidak, bawa saja."
Teriring!!! Triririring!!!
" Permisi, saya angkat telpon dulu."
Mumtaz beranjak ke sudut ruangan menerima telpon dari Ibnu.
Beberapa menit sesudahnya dia kembali bergabung dengan yang lain.
" Sepertinya nenek anda menguji kesabaran saya, dia memaksa dan mengeluarkan ancaman pada kakak saya karena tidak diperbolehkan mengunjungi ruang rawat Sri Hartadraja."
" Untuk itu saya datang kemari." Timpal Daniel.
Raul dan Rodrigo menutup mata mereka menahan kesal dan amarah kepada wanita yang mereka sebut sebagai Nenek.
" Saya dan rekan telah mengirim drone pemburu untuk menjatuhkan bom berukuran kecil namun kuat ke beberapa tempat dari mansion kalian." unkap Daniel tenang.
" Tuan, kalian harus melihat berita siaran langsung di televisi." Bisik Imanuel pada Rodrigo yang langsung melangkah ke ruang tengah yang sudah berantakan disusul oleh yang lain kecuali Mumtaz dan Daniel yang bersikap tidak peduli.
Di ruangan tengah terdapat televisi LED berukuran 60 inci yang sedang menayangkan kebakaran yang dihasilkan dari ledakan yang berturut-turut dan menghasilkan kobaran api besar. Mereka berdua paham mengapa mansion mereka terbakar besar karena tempat yang diledakan adalah tempat penyimpanan anggur berkualitas tinggi kesayangan ayah mereka, Eric. dan beberapa tempat yang diperkirakan berharga karena ayahnya tidak pernah membiarkan mereka untuk mendekatinya.
Itulah mengapa tadi Eric keluar dari lounge dengan amarah besar.
Baik Rodrigo maupun Raul, menatap mereka tanpa kata, Mumtaz menghampiri mereka dengan gestur santai.
" Ini jawaban kami buat Nenek kalian yang ingin menunjukan kepada kami cara kartel dalam menghilangkan lawannya." Ucap Mumtaz tanpa beban.
Lagi, Rodrigo memejamkan matanya menahan emosi kesal pada neneknya, sementara Raul hanya menatap layar dengan senyum smirk.
Tring!!!
Mumtaz melihat pesan yang masuk dari Dewa, lantas ia menatap Raul dalam.
__ADS_1
" Apa?" Tanya Raul risih.
Mumtaz menunjukan rekaman cctv lounge dimana Eric meminta bantuan Dewa untuk menemukan Bellina, ekspresi Raul seketika menegang, wajahnya sampai pucat Pisa.
Dengan tatapan kosong ia melangkah ke sofa panjang dan menjatuhkan dirinya di sana. Rodrigo merebut ponsel dari tangan Raul, respon yang sama pun ditampilkan oleh Rodrigo.
Dominiaz, Mumtaz, dan Daniel turut bergabung dengan mereka berdua duduk di sofa yang tersedia, Dominiaz meminta kepada Imanuel untuk memberi mereka air.
Setelah suasana kembali tenang, Mumtaz bersikap tegak di sofa tinggalnya
" Atas nama penghormatan kepada para ibu, kami bersedia membantu kalian mengamankan nyonya Belina dengan syarat kalian sendiri yang membongkar kepada media atas kejahatan ayah kalian terkait bisnis kuliner Gonzalez."
Secepat kilat mereka mengangguk, sungguh mereka tak ingin keegoisan mereka untuk menolak tawaran Hartadraja menjadi bumerang bagi keselamatan Belina.
" Kenapa kalian menolong kami?" Lirih Raul yang masih merasakan syok.
Menampik rasa tidak nyaman, Mumtaz mengedikan bahu.
" Saya pikir tak peduli berapa tua usia kita, sebagai anak kita selalu tidak siap kehilangan orang tua terlebih seorang ibu. Saya yatim-piatu, saya tak ingin kalian merasakan kehilangan yang saya rasakan." Ucap Mumtaz penuh luka sembari memainkan jemari tangannya menekan sesak di dada.
" Tapi kami seorang Gurman-Gonzalez!?" Sarkas Raul.
" Bukan kalian target kami, pastikan saja kalian berjalan di jalan yang satu kubu dengan kami." Tegas Mumtaz tajam melahirkan kebingungan bagi Raul dan Rodrigo.
" Saya kira untuk hari ini cukup, sampaikan salam saya pada tuan dan nyonya besar Gonzalez apa yang menimpa kalian itu baru permulaan." Mumtaz berdiri mengancingkan jasnya yang berkancing satu diikuti Daniel beranjak keluar ruangan dengan tenang.
Dominiaz memandangi dua saudara itu dengan prihatin," Gaunzaga tidak akan lengah, tunggu kabar dari Gaunzaga dan RaHasiYa. Jangan bertindak sendiri hingga mengacaukan rencana kami atau fatal akibatnya." Dominiaz memperingatkannya, dia selalu kesal jika kliennya bertindak tidak sabar dan mendahului daripada instruksinya yang buntutnya hanya akan merusak rencana.
" Tapi Papa sudah tahu Mama masih hidup." Ucap Raul penuh dengan kerisauan.
" Itu hanya asumsi, jika ada orang yang meminta bantuan RaHasiYa, 90% pasti hanya sebuah persepsi.
Dominiaz memajukan wajahnya pada Raul," dengar, kalau kau ingin urusanmu terselesaikan dengan cepat ikuti alur kami atau kita sudahi kerjasama ini, kami tak rugi apapun."
Dominiaz berdiri, menatap Rodrigo dan juga Raul, " jika permulaannya saja sudah membakar rumah kalian, bayangkan bagaimana dengan inti dari pembalasan mereka." Ia pun melenggang pergi meninggalkan kamar hotel itu.
****
Eric melajukan mobil sportnya dengan laju di atas rata-rata, dia tidak bisa membiarkan mansionnya hangus terbakar seluruhnya, di mansion itu banyak barang yang berjumlah fantastis jika itu ikut terbakar dapat dipastikan ia akan rugi milyaran dollar.
Begitu mobil sampai di sekitar mansionnya, sudah banyak pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan kobaran api, bahkan saking besarnya api, panas asapnya masih berasa dari jarak tiga meter mereka berdiri.
Eric berlari hendak masuk mansionnya yang langsung dicegah para petugas.
" Minggir, ini rumahku.." teriaknya tepat tadi depan wajah petugas.
" Maaf, pak. Di dalam masih berbahaya."
" Cepat kalian padamkan apinya, bo.doh. Api segini saja kalian tidak becus dasar to.lol." hina Eric tepat di depan wajah petugas.
Sang petugas tidak menggubrisnya,
BUGH!!
Satu pukulan keras Eric layangkan pada petugas tersebut, rekan petugas mendekatinya yang langsung di tenangkan oleh petugas yang tadi.
Kesal karena api tak kunjung padam, Kembali Eric mengamuk," para idi.ot ini tak berguna lebih baik kalian mati jika kalian tidak bisa memadamkan api ini."
Tring!!!
" Kau telah menghina bangsa kami, rasakan pembalasannya."
Pesan dari nomor yang tidak dikenal menambah Eric murka, ia muak dengan rentetan pesan yang dia terima dari nomor yang tidak dikenali dan tak bisa dia hubungi.
Di depannya terlihat para petugas pemadam kebakaran berhamburan keluar dari area mansionnya, Eric protes tak terima.
" Hei, kenapa kalian meninggalkan TKP yang belum selesai, kembali kesana, breng.sek!" Murka Eric.
Tiba-tiba dari bangunan paling jauh dari Mension terjadi ledakan maha dahsyat yang beruntun selama lima menit.
Wajah Eric langsung Pisa ketika menyadari darimana asal ledakan tersebut.
Butuh waktu satu setengah jam bagi mereka memadamkan api, Eric berdiri lemas diantara puing-puing bangunan bagian belakang mansionnya yang mana ledakannya paling besar.
Dia berdiri tepat ditempat penyimpanan senjata dan pelurun pesanan pihak pemberontak lokal yang belum bisa dia kirim karena ketatnya penjagaan, matanya menatap nanar ke seluruh mansion, dia seketika naik pitam.
" ****!! Sialan kenapa yang terbakar semuanya tempat berharga, aaaaaakkhh." Teriaknya meraung menengadahkan kepala ke atas langit dengan kedua tangan terkepal.
*****
Di gedung RaHasiYa empat petinggi RaHasiYa tersenyum puas dengan apa yang terjadi pada keluarga Gonzalez, mereka menonton raungan frustasi Gonzalez dari layar ruang konferensi.
" Good job, Nando." Seru Mumtaz pada seseorang diseberang saluran telpon. Dia menaruh ponselnya ke atas meja.
hari ini mereka cukup puas dengan kinerja drone dan Nando yang berhasil menjatuhkan bom di tempat penyimpanan senjata, gudang minuman anggur, dan gudang penyimpan bahan baku narkoba seperti keinginan mereka
Dring!!
Dewa memasuki ruangan dengan langkah ragu, namun tak punya pilihan. Dia tahu dia telah melakukan kesalahan, dan dia siap menerima konsekuensinya.
Dewa duduk bersimpuh sempurna di hadapan empat petinggi RaHasiYa menunggu vonis kelanjutan hidupnya...
__ADS_1
Terima kasih untuk semua readers yang masih mengikuti cerita ini, yuk kasih like komennya...