Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 117 Keputusan Alfaska.


__ADS_3

Mumtaz duduk bersandar santai menonton siaran berita di televisi yang sebenarnya mulai membuatnya bosan.


Saat hendak beranjak, Alfaska masuk keruangannya dengan berjalan santai elegan teratur hasil didikan atitude ala konglomerat.


Matanya melirik televisi yang masih menyiarkan peledakan bom itu. Ia duduk di kursi depan meja kerja Mumtaz.


" Gak bosan Lo dengerin itu mulu?" 


" Mau gimana lagi, dimana-mana itu yang dibahas, iya kali gue nonton sinetron mewek."" Alfaska terkekeh geli, Mumtaz memasukan laptop dan lain hal kedalam ranselnya.


" Udah empatl hari, polisi belum juga mengeluarkan statementnya, yang gue resahkan dimasyarakat sudah banyak spekulasi yang tidak bertanggung jawab."


Dahi Mumtaz mengernyit," tumben Lo mikirin masyarakat." 


" Isunya sudah mulai simpang siur gak jelas, bahkan sekarang sudah mulai saling curiga antar ras. Masyarakat sudah mulai panik dan ketakutan."


" Seserius itu?" 


Alfaska mengangguk," isu serangan ******* internasional itu lebih baik, ini ******* lokal, bahkan separatis dibawa-bawa."


Mumtaz termenung," mereka terkena syok mental kali ya."


" Lo mau kemana?" Tanya Alfaska melihat Mumtaz meraih kunci motornya.


" Lo gak tahu anak Gaunzaga minta kumpul di A&D resto buat nobar pengumuman polisi."


" Ooh, gak ikut di cafe' D'lima aja?"


"Enggak, Kata Adam ada yang mau diobrolin."


" Tahun baru, Lo ngapain?" 


" Bareng sama yang lain manggang di depan rumah, remaja masjid ngajak dzikir dulu sebelum manggang."


" Enggak bareng Sisilia?"


Mumtaz mengernyit bingung, " selam lo mengenal gue apa pernah gue bertindak alay begitu?"


" Kasihan dia, Lo jarang jalan bareng."


" Lo tertarik kisah percintaan gue?"


" Enggak sih cuma...lupakan apa yang gue tanya tadi." ia mengibaskan tangannya.


" Dananya, darimana?"


" Merekalah, mereka udah berpenghasilan juga."


" Gue juga joinlah."


Mumtaz memperhatikan penampilan kuyu Alfaska dibalik setelan mahalny," Lo masih pernah dingin sama adik gue?"


Alfaska mengedikan bahu, " terus kapan Lo mau balikin dia?" Meski Mumtaz mengucapkannya dengan santai tapi tak urung ada nada sedih didalamnya.


" Kita udah omongin ini, Tia bilang kasih dia kesempatan." Alfaska menyugar rambut hitamnya dengan kasar.


" Gue merasa bersalah sama kalian, andai gue bisa menahan rasa gue, andai gue tetap menjauhkan dia dari mamy, banyak andai dipikirnya gue yang pada akhirnya hanya menghasilkan kesimpulan gue suami yang gagal." Lirihnya terdengar pilu.


Mumtaz menatap prihatin Alfaska," sorry, kalau Tia udah bikin Lo kecewa, tapi, apapun akhirnya kita tetap keluarga." 


Alfaska menoleh ke arah Mumtaz, ia memberi senyum tipis padanya," thanks, sorry udah bikin kalian kecewa."


Muntaz membalasnya dengan anggukan," Lo mau ikut kumpul gak?"


" Nanti gue nyusul ke resto."


" Okey, gue cabut dulu." Alfaska melepas kepergiaan Mumtaz dengan sendu.


Ia menyandarkan diri di kursi lalu menutup kedua matanya," Ma, maaf. Afa gagal menjadi imam bagi Tia."  Tak lama bulir bening lolos dari kedua matanya.




Lirihan Alfaska ditonton Tia dari ponselnya, beberapa menit lalu Ibnu mengirim potongan rekaman cctv percakapan antara Mumtaz dan Alfaska mengenai dirinya. 



Tia menangis tersedu-sedu sambil memeluk ponselnya," maaf, maaf. Karena aku egois." Lirihnya.



Lima menit sudah Tia menangis, berakhir karena mendengar suara pintu unitnya dibuka ia menyeka sisa air matanya.



" Tahun baru ini gue ngerasa ngeri aja sih ngejalaninnya." Oceh Dista sembari membuka sepatunya.



" Gue harap siapapun pelakunya dihukum mati, kesal gue orang-ornag udah pada mulai curiga, gaya punya Pancasila baru kemarin." Timpal Cassandra turut masuk ke ruang tamu Barney Dista.



" Ck, yang gak habis pikir tuh kalian yang ngaku berdarah Indonesia tulen, tapi gak percayaan terhadap satu sama lain, gue aja yang setengah masih anteng percaya, kalau orang Indonesia gak bakal ngerusak tanah airnya sendiri." Seru Sisilia.



" Biar gue gagal jadi orang sukses mengharumkan nama negara, gue gak mungkin nyakitin ibu Pertiwi." Dista melenggang masuk dengan dua plastik belanjaan.



" Konsep itu yang harus kalian sebar di medsos kalian. Followers kalian kan banyak dan setia, jadi gampanglah mendoktrinnya." Imbuh Sisilia.



" Iya, benar. gak lucu pertemanan gue  sama temen yang udah puluhan tahun rusak hanya karena isu tidak bertanggung jawab gini." Ujar Cassandra geregetan.



Tiba-tiba percakapan mereka terhenti saat menyadari Tia tidak ikut menyahuti.



" Tia, Lo baik-baik saja kan?" Dista mendekati Tia yang terlihat murung.



" Ya,...ada apa?" Cassandra dan Sisilia turut melangkah mendekati Tia.



" Kita mau *party* tahun baruan, gak lucu kalau salah datu dari kita ada yang sedih." Sisilia merangkul Tia.



" Hiks...hiks...gue bingung, gue gak tahu harus bagaimana menyelesaikan Masalah gue sama Aa Afa."



" Gue pikir, Masalah kalian bukan tentang kalian, tapi nyokap mertua Lo."  Ucap Sisilia.



" Lo salah ngambil cara buat diakui jadi menantu idaman, apalagi pake alibi kangen Mama." Timpal Cassandra.



Dista berdecih, " Lagian sejak kapan Tante gua punya *sense of mother*, bang Afa, yang notabene anaknya aja ga beliau urus, apalagi Lo. Kalau memang mau kasih sayang seorang ibu, datangi bunda Hanna."



Dista beranjak menjauh dari Tia, menuju dapur untuk menyimpan belanjaannya.


 


" Kak Afa nikahin Lo karena suka Lo yang hasil didikan mama Aida, bukan menantu kebanggan Mamy Sandra." Dista berdiri di ambang pintu pembatas.



" Gue gak bisa ninggalin Mamy sendirian, dia kesepian."



" Kondisi beliau bukan tanggung jawab Lo, perasaan kak Afa itu amal Lo. Lo baik sama mertua Lo dengan mengecewakan suami Lo, itu percuma sih." Oceh Cassandra.



" Lo gak bosen hidup gini-gini mulu. Lepisan bang Afa kalau Lo gak bisa menghormatinya." Dista memberi peringatan.



Cassandra, Sisilia dan Tia terperanjat akan ucapan Dista.



" Omongan Lo kok begitu, sih?" Tia memprotes.


__ADS_1


" Terus terang, sebagai seorang Atma Madina, gue malu punya saudara Lo, apalagi Lo sampe berani melawan Kak Ala. Waktu Lo ngebanggain makanan bawaan Lo diperjelas dari resto mahal maka lebih sehat, itu tuh norak banget, sumpah."



Tia tertegun, hatinya nyeri, tubuhnya beku mendapati ucapan itu. 



" Terserah gue dibilang jahat sama Lo, tapi gue gak bisa melihat rasa bersalah dimata bang Afa setiap kali melihat kak Mumtaz, Ayin, apalagi kak Ala." Dista menatap tajam Tia.



" ITA.." Tegur Cassandra.



" Merkea tuh tidak punya masa depan, gue tanya sekarang, berapa lama kalian bahagia?"



Tia terdiam merenungi,



" Tidak lama Mama meninggal Lo langsung nempel sama Mamy, dan berubah menjadi menyebalkan dan mengecewakan sampai sekarang. benar sih kata orang mending Lo berhenti kuliah, ilmu Lo enggak guna." telak Dista.



" Jadi gue harap Lo ceraikan Kakak sepupu gue." tekannya lamat



Tidak hanya Tia yang terkejut, tetapi Sisilia dan Cassandra pun syok.



" Kita cabut, gak mungkin juga kita rayakan *party* di sini, moodnya udah gak ada." Dista mengambil tas Selempangnya di atas sofa, lalu beranjak pergi diikuti Cassandra dan Sisilia.



Ceklek!!



Tia kira para sahabatnya balik lagi, dia berdiri hendak menyambut, senyumannya hilang menjadi ketegangan saat melihat yang datang ternyata Alfaska, suaminya.



Tia melangkah menghampirinya, lalu mencium tangannya." Aa.."



" Kita harus bicara, tidak bisa menundanya lagi." Potong Alfaska dengan raut tegang, Tia mengangguk.



" Mau minum dulu?"



" Enggak perlu, sini duduk." Alfaska menepuk ruang kosong disampingnya.



" A, maaf." ucapnya pelan.



" Masalah ini berjalan ditempat tanpa solusinya, kamu merasa benar, aku merasa bersalah berkelanjutan, dan itu gak enak. Kita tidak bisa menemukan titik temu." Alfaska menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya berat.



" Aku malu kepada kak Ala."



Tia menatap Alfaska bingung," Kak Ala? apa korelasi kak ala dengan hubungan kita?"



Alfaska mengernyit tidak suka akan perkataan sinis Tia," kamu berani melawan dan mempermalukannya."



" Kenapa semua orang lebih peduli padanya ketimbang aku? di sini aku yang terluka, bukan dia."




Tia diam,



" Tidak bisa jawab kan! dan kamu berani mempermalukan dia, dia yang sudah dianggap Kakak tertua bagi kami semua, dan itu karena aku menikahimu." bentak Alfaska, Tia menegang.



" Kita tidak bisa terus bersama, maaf!" Alfaska menunduk, Tia mematung, wajahnya pias, dadanya sesak, air matanya luruh, ia menangis.



Tia menggeleng," A, jangan bilang begitu, Tia janji, Tia bakal berubah kembali menjadi Tia yang dulu."



" Kamu pernah janji begitu beberapa waktu yang lalu, tapi sampai sekarang aku tidak melihat perubahan itu." Akhirnya Alfaska menatap Tia.



" A, *please* jangan ucap pisah." Lirihnya memohon.



Alfaska beranjak dari duduknya," kalau kamu enggan balik ke rumah setelah kita gak bareng, kamu boleh tinggal di sini, pake kartu aku buat perawatannya. Mungkin kita bukan lagi suami-istri, tapi kamu tetap keluarga aku, jadi tetap pake kartu itu ya! Alfaska mengusap kepala Tia dengan sayang.



Ia menunduk, mencium kening Tia, " dengan cintaku aku melepaskan mu, aku cinta kamu." Tangis Tia mendesak meski ia sudah menahannya, ia mengigit tangan-nya.



Alfaska segera berlalu keluar dari apartemennya.



Tia menangis lirih duduk di atas permadani lembut, memukul-mukul dadanya berusaha mengurai rasa sesak yang begitu menghimpitnya.



\*\*\*\*\*



Mumtaz melirik ke pintu utama restoran setiap pintu itu terbuka, ia mengernyit bertanya mengapa sampai sekarang Alfaska  tidak kunjung datang.



" ...hasil dari penelitian laboratorium forensik, menyatakan jika peledakan di lima wilayah itu akibat dari kebakaran narkoba dan peluru senjata api, hal ini hasil dari temuan zat..."



Suasna ruangan restoran yang semula hening seketika bising, sungguh mereka tidak sampai berpikiran tentang narkoba mengingat ledakan itu besar sekali.



" Sebanyak apa narkoba yang terbakar sampai ledakannya kayak gunung meletus begitu." Ucap salah satu pengunjung.



"... melihat dari zat yang ada, dan cara produksinya, dapat disimpulkan jika jenis narkoba ini berasal dari Amerika latin..." Lanjut kepala labfor polri.



" Astaga, kenapa Indonesia begitu mudah dimasuki barang haram itu sih." Omel pengunjung lain.



" Gue yakin kalau di Indonesia nar.koba lebih cepat beran.ak kepada ketimbang ayam, parah abis sih ini." timpal yang lain.



" Lo yakin mereka hanya akan mendapat kesimpulan itu? Bisik Adam.



" Hmm, seharusnya."


__ADS_1


Adam tertawa pelan," jadi waktu yang Lo habisin di kelas kimia gak percuma juga ya."



Mumtaz membalas tawa sambil mengangguk," iya juga ya." Gumamnya.



" Seenggaknya setelah keluarnya *statement* dari kepolisian dapat mengembalikan suasana harmonis seperti semula." Pungkas Adam.



" Semoga."



" Mum, kita cabut dulu mau beli bahan buat nanti malam?" Jeno beranjak dari kursinya diikuti Raka dan Tino.



" Kita gabung, boleh kan?" Tanya Tino



" Gabung aja, ini acara mereka." Mumtaz mengangguk.



" Bro, makasih udah nuntasin tugas gue." Raka menatap Mumtaz dengan maksud jelas.



" Hmm." Adam hanya melirik mengamati gestur Mumtaz, sikap santainya membuat dia tidak bisa dibaca.



\*\*\*\*



Eric melonggarkan ikatan dasi dilehernya yang terasa mencekiknya dengan kasar, ia sangat butuh okesigen, setelah mendengar hasil konferensi pers kepolisian. ia menyandarkan diri di kursi kebesarannya.



Matanya memang menutup, tapi otaknya terus berpikir mencari cara lepas dari Masalah ini.



Seharusnya hari ini dia akan menghasilkan untung milyaran, tetapi semua musnah. Dia tidak dapat menebak siap pelaku penghancur bisnisnya



Empat hari ini dia sedikit tenang karena kasus restorannya tergerus oleh berita ledakan ini.



Tapi konferensi pers dari kepolisian tadi membuatnya kembali resah, bahkan beribu keresahan yang dia alami. sial, kenapa jadi begini.



Kebangkrutannya diambang mata, lima tahun dia kembali bangun *pasca* tragedi Sivia, dia tidak bisa kembali hancur.



Tapi sial, bisnis dunia hitamnya benar-benar hancur. Orang-orang terbaiknya meninggal ditempat.



Bisa dikatakan kerajaan nar.koba yang selama sepuluh tahun dia bangun hancur dalam satu ledakan itu, kini bangsa Indonesia bersatu kembali setelah beberapa hari kemarin sempat goyah.



" Ya Tuhan, jangan biarkan para *hacker* Indonesia turun tangan atau semuanya kandas. Aku harus segera keluar dari Indonesia." Benak Eric sungguh berputar mencari cara agar bebas dari perkara-perkara ini.



Derrt!!.. derrt...



Nama Navarro tertera di id caller, ia menarik nafas sebelum menerimanya.



" Hallo."



" *Kita tidak punya lagi waktu, saatnya kita persiapkan semuanya*."



" Jangan gegabah, Indonesia sedang siaga. Bahkan TNI-Polri membentuk tim gabungan untuk investigasi ledakan ini."



" *Kalau begitu kenapa kecerobohan itu terus anda ulangi, Gonzalez*."



" Saya sedang menyelidiki pengkhianat dalam organisasi kita."



" *Lakukan dengan cepat, hubungi putri saya*."



" Putri?"



" *Iya, Angelica. Sudah berapa lama dia di Indonesia, hubungi dia. saya kirim nomor ponselnya*."



" Baiklah, saya tutup."



Berselang beberapa menit muncul notifikasi pesan berisi nomor ponsel.



\*\*\*\*\*



Zahra mematung, ia bolak-balik berpindah tatapan dari televisi yang menyiarkan konferensi pers, dengan catatan di atas buku kerjanya.



Kepanikan dan ketakutan melandanya, enak hari pertama terjadinya ledakan itu, dia mengikuti secara intens beritanya, bahkan ia sampai membuat Bagan kronologisnya.



Tidka ada alasan khusus, hanya ingin memahami kenapa afa orang yang tega melakukan pembunuhan terhadap orang banyak.



Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu menelponnya



" **Hallo**."



" Kamu dimana?"



" **Di rumah**."



" Tetap disitu jangan kemana-mana."



Zahra langsung beranjak begitu ia menutup sambungan telpon lalu keluar dari apartemennya...



^^^**Terimakasih masih stay...janah lupa apresiasinya, tapi jangan plagiat ya**...^^^



^^^**yuk like n komennya...gratis kok**!!!!^^^

__ADS_1



__ADS_2