Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 98. Titik awal kesalahan Guadalupe.


__ADS_3

Brak!!!


Semua orang yang ada di ruang rawat Bara terlonjak kaget kala empat bocil, Dominiaz, dan para sahabat menerobos masuk ruangan.


" Kak Ba...Ra..." Tangis histeris Cassandra tak bisa dicegah ia langsung menubruk badan Bara yang masih terkulai lemah di brankar.


Daniel yang duduk di sofa single mengulurkan tangan menarik Dista untuk duduk merapat disampingnya, Mumtaz menepuk ruang kosong disampingnya di sofa panjang agar Sisilia dan Tia duduk disampingnya, sedangkan para sahabat duduk berpencar.


Tia menelisik ruangan mencari suaminya yang ternyata tidak ada, hatinya mencelos gusar. Ia sangat merindukan suaminya.


" Huhu.,hiks... Ke...kenapa bisa sakit?" Rengek Cassandra.


" Gak apa-apa, kok kamu bisa di sini, belum tidur?" Bara mengusap kepala Cassandra lembut.


Cassandra menggeleng," kita habis dari pasar malam langsung ke sini setelah dengar kabar dari Adgar kalo kakak di rumah sakit."


Dalam hati Bara mengutuk calon adik iparnya itu, ia melirik Dominiaz yang sudah duduk santai di sofa bareng yang lain, Dominiaz mengedikan bahu.


" Ini udah malem, kamu tidur gih. Kakak juga udah mau istirahat." Bara mengusap pipi Cassandra lembut.


" Aku tidur di sini, ya. yang lain pada tidur di ruang tunggu." Semua orang terbelalak kaget termasuk Bara melihat Cassandra dengan entengnya mengambil posisi nyaman sambil meluk Bara dalam satu tempat.


Bara menghela nafas berat," ya sudah sini, dan kalian otaknya gak usah traveling, ini gue baru pertama kali tidur begini." Pelototnya pada para sahabatnya yang menatap mereka dengan sejuta makna.


" Cassy, mesum efek dari teror kali ya." Celetuk Haikal.


Drung!!!


" Hallo." Mumtaz menjawab sambungan telpon dari Alfaska.


" Oke." 


" Siapa?" Tanya Daniel.


" Afa, kita disuruh keruangan nyonya Sri, sekarang. Bang, gue titip Bara ya." Dominiaz mengangguk, Mumtaz beranjak keluar ruangan diikuti Daniel, dan Ibnu.



Selama berjalan menuju ruang rawat inap Bara, Alfaska tak melepas pandangannya dari iPad yang memuat rekaman isi pikiran Guadalupe yang semakin membuatnya gusar.



" UPS, maaf." Suara lembut wanita yang menabrak dirinya memaksanya melepas perhatiannya dari iPadnya,



Wajahnya menegang tatkala melihat Mutia berdiri di sana sambil tersenyum sok polos dengan raut merasa bersalah berlebihan.



" Ck, ruang masih luas harus nabrak gue? Lo pikir muka jelek Lo bisa buat gue doyan sama lu? Kalau kerjaan Lo cuma mondar-mandir ganggu kenyamanan orang mending Lo ngundurin diri." Hinaan Alfaska membuat semau orang terkesiap terkejut, termasuk Mutia yang langsung tergagap, dia tak menyangka mulut sang pemilik rumah sakit ini begitu tajam, niatnya hanya ingin mengambil perhatian dari sang pemilik tahunya yang dia dapat rasa malu.



" Security." Teriak Alfaska menggelegar Tak peduli suaranya akan mengganggu pengunjung rumah sakit.



Beberapa orang berseragam security tergopoh-gopoh menghampirinya, " i...iya pak. Ap...apa yang bisa kami bantu?"



" Mulai saat ini pastikan jangan biarkan wanita tak berguna ini berdiri tak kurang dari lima meter dari kami." Perintahnya tajam dengan raut jijik padanya.



" Siap, laksanakan." Para securiya itu langsung membawa pergi Mutia dari hadapan Alfaska dengan paksaan yang mana dia terus memberontak.



" Gue harus menegur bagian HRD." Rutuknya kembali memperhatikan ikan iPadnya.



Wajahnya yang datar, berubah merah karena kesal bercampur khawatir kala membaca kalimat terakhir Guadalupe dengan sang penelpon, orang-orang sekitarnya dimana dia melintas langsung menyingkirkan diri darinya. Alfaska memasuki lift tanpa ekspresi.



Tatapannya Tidak lepas dari iPadnya dan dia menyesali kekurangan *biohacker* nya yang belum bisa memilah kalimat yang penting.



Dalam lift dia mengumpati laju lift yang terasa lambat, begitu pintu lift terbuka dirinya langsung berlari kencang ke ruang rawat inap Sri dan membukanya pintunya kasar.



BRAK!!!!



Semua pasang mata menoleh padanya dengan terkejut, memandanginya dengan berbagai ekspresi.



Dengan ekspresi tegang nafasnya memburu kencang tidak beraturan, matanya tajam menelisik satu persatu klan Hartadraja, dan Kembali umpatan terlontar dalam hatinya.



" Dimana Tante Dewi?" Alfaska melangkah memasuki ruangan.



" Pulang, diantar Hito untuk beristirahat." Jawab Damar hati-hati mewaspadai raut Alfaska.



" *Shitt*," umpatnya meluapkan emosi, Alfaska langsung mengenakan earphonenya.



" Mumtaz, ke ruang Nyonya Sri." Ucapnya begitu sambungan telponnya dijawab Mumtaz.



" Adgar, Lo kesini naik apa?"



" Motor." Meski menjawab tenang tersirat ketegangan karena membaca raut datar Alfaska.



" Lo dan Mumtaz susul Tante, yang lain *please* hubungi mereka yang dalam mobil." Pinta Alfaska tenang meski tersimpan kecemasan.



" Ibnu, Lo kendalikan lampu lalulintas dimana mobil itu melintas, Daniel cek cctv sekitar rumah sakit perhatikan kendaraan yang membuntuti Tante Dewi." Titahnya begitu para sahabatnya muncul di pintu rawat inap.



Adgar yang pernah terlibat aksi dengan RaHasiYa, tanpa kata mengikuti langkah Mumtaz yang sudah turun melalui tangga darurat walau hatinya diliputi kecemasan akut.



Ibnu dan Daniel langsung menuju ruang tunggu melaksanakan titah Alfaska begitu mereka kembali dari mengambil laptop mereka dari ruang inap Bara.



Akbar menggelengkan kepala  ketika Aznan hendak membuka mulut guna bertanya, mereka hanya bisa menonton tindakan tiga pemuda tersebut dengan hati berdetak kencang karena takut bercampur khawatir.



" Hallo, Jeno. Ikuti arahan dari Ibnu, sambungan bersifat paralel."



Jeno dan anak buahnya yang sedang berkeliling mencari informasi tentang tato menunda kegiatannya begitu mendapat telpon dari Alfaska.



" Oke." Jawabnya." Pasang earphone kalian." Titahnya pada anak buahnya.



Mereka langsung melangkah menuju motor masing-masing.



Dalam waktu lima menit," Nu, gue kirim posisi pelaku, dan target." Ucap Daniel.



Begitu berhasil menemukan posisi Hito dan pelaku, Ibnu yang sudah melihat seluruh jalan daerah Jakarta mengambil kontrol lampu lalulintas tanpa peduli kekacauan yang akan terjadi.



" Ada yang sudah tersambung dengan mereka?" Tanya Alfaska pada klan Hartadraja.



" Hallo." Jawab Hito pada panggilan Damian yang langsung menyodorkannya pada Alfaska.



Alfaska menunduk dibelakang Ibnu yang berkonsentrasi di depan laptopnya melupakan tatakramanya." Om, ini Alfa, berjarak tiga mobil di belakang Lo, ada tiga Van hitam membuntuti Lo dari rumah sakit dengan target utama Tante Dewi." 



Seketika atmosfer ruangan meningkat tajam karena tegang, bahkan klan Hartadraja tidak ada yang bergerak, Damar menyandarkan tubuh Fatio dibahunya yang seketika dalam duduknya lunglai lemas. Aznan dengan langkah lebar ikut bergabung di belakang Ibnu raut tenangnya tak bisa menyembunyikan ketakutannya.



" Iya, gue udah lihat. Masalahnya gue ada di jalan ramai." 



" *Loudspeak*." Pinta Ibnu, Alfaska menekan tombol loudspeaker.

__ADS_1



"  Adgar ada di empat mobil belakang mereka."



" Akbar, bisa Lo sambungkan laptop gue ke layar?" Daniel sibuk dengan tabsnya, Akbar mengangguk." Tentu."



Tak lama laptop tersebut sudah tersambung dengan layar yang telah menampilkan mobil Hito berjenis sedan yang ternyata diincar oleh tiga mobil Van.



Dijalanan ramai, Mumtaz menitah Adgar untuk menepi, dengan bingung Adgar menurutinya.


Mumtaz turun dari motor sport Adgar," gue yang mengendarai, Lo duduk di belakang."


" Bang, itu Nenek gue." Adgar ingin protes.


" Karena itu Nenek Lo, Lo gak bisa konsentrasi, kita gak punya waktu Adgar." Mumtaz sudah memegangi stang motornya.


Meski ingin protes, namun ia akui tadi laju motornya tidak maksimal. Ia harus menurunkan egonya demi keselamatan neneknya. Memundurkan posisi duduknya tanpa turun dari motor.


Mumtaz yang sudah duduk di depan langsung melajukan motornya lewat menyalip kendaraan lain dengan gesit.


Matanya melihat mobil pelaku terhalang dua mobil di depannya, ia dengan sigap berhasil bersejajar disamping Van hitam tersebut,  ia memepet mobil tersebut.


" Pasang ini di bagian tempat bahan bakarnya." Teriak Mumtaz memberi sebulat kecil tanah lempung ke tangan Adgar yang langsung dilakukan ketika dia berada di posisi belakang samping bagian belakang Van.


Selanjutnya Mumtaz beralih ke kendaraan pelaku lain yang ternyata ada yang sudah memepet mobil Hito agar keluar lajur..



" Mereka Sekarang berhasil menyusul pelaku mendekati mobil kalian, dan akan membuka jalan buat kalian."



" *Iya, gue bisa lihat mereka, mereka sekarang tepat di depan gue. Oh damn, satu mobil disamping gue menyerempet kita*."



Brak!!!



" Aaaa." Terdengar teriakan diseberang, suasana ruangan tegang dengan wanita klan Hartadraja saling berpegangan.



" Om,..om Hito. Hallo." Alfaska terus memanggil nama Hito yang tidak merespon panggilan Alfaska.



" *Iya gue di sini. Mobil samping gue menabrakkan diri ke body mobil kita, tapi kita fine*." Jawab Hito yang menurunkan ketegangan ruangan.



Brak!!!



Lagi mobil Van menabrakkan dirinya yang sempat membuat mobil Hito oleng.



Dewi sudah duduk tegang dengan merafalkan do'a, tangannya memegang pegangan pengaman yang berada di bagian atas sisi *body* pintu



" *\*\*\*\*. Fa, Lo bisa lakuin sesuatu sama mobil yang disamping gue gak dia memepet kita terus*."



" Untuk sementara lawan aja, Om."



" *Oke, oh damn mereka membuka jendela mereka, dan mengeluarkan senjata*."



" Om,  kebut. keluar dari jalan situ. Di depan masuk jalan tol atas." Ibnu mengintruksikan.



Mumtaz melalui kaca spion melihat Van membuka jendelanya, ia memelankan laju motornya membiarkan kendaraan lain melewatinya, jalan yang sudah lengang memudahkan ia memutar motornya berlawanan arah kembali ke belakang mobil Hito yang melaju lebih kencang. Ia  memposisikan motornya secara perlahan menyempil antara mobil Hito dan Van. Van tersebut menutup kembali kaca mobilnya yang sebelumnya sudah dilempari bulatan kecil bom bola oleh Mumtaz.


Ia kemudian mengejar mobil Hito, mengetuk kaca mobil kemudi Hito dan menunjuk jalan masuk tol.


Sopir mengangguk lalu membelok kanan mobilnya.


Tiga mobil Van pun mengikutinya, Mumtaz tak menghiraukan itu, dia sengaja melambatkan laju motornya, menempelkan tanah lempungnya pada kaca mobil kemudi mereka. Lalu meningkatkan laju menargetkan pada satu mobil lagi yang ternyata sudah mengejar mobil Hito.




BRUK!!!



Tiba-tiba Van menabrak bagian belakang mobil Hito, mobil Hito oleng meski berusaha tetap melakukan mobilnya dengan mengebut.



" Om, kebut, beri jarak aman dengan Van." Suara Mumtaz menginterupsi, tak lama terdengar suara ledakan.



DUAR!!!BOOOMMM.



Mobil Van itu terpental ke tengah badan jalan karena ledakan bom yang ditempel, bom bola dan bom yang dilempar Mumtaz dibelakang Van yang meledak tepat dibawah Van tersebut menghasilkan ledakan maha dahsyat kendaraan lain berhenti guna menghindari percikan apinya dan terbangan sisa material badan mobil.



Lama tak ada suara, meski mereka dapat melihat kejadian itu dilayar, namun tak urung kecemasan itu tetap ada karena ledakan itu begitu besar tak jauh dari mobil Hito.



" Om..." Suara tenang Alfaska tak menghilangkan ketegangan.



" Pelaku lebih dari tiga mobil, semuanya terdapat lima mobil, satu missed." Sura Jeno mengisi ruang kosong suara.



" Lakukan sesuatu Jen."



" **Gue sudah masuk jalan tol, otw gabung Mumtaz**."



" Om,..."



" *Iya, gue di sini. Tadi hpnya jatuh*."



" Hah." Suara lega di ruang tunggu menyeruak.



" *Dua mobil di belakang kita*."



" Oke, abaikan mereka, gw bisa lihat. Fokus terus jalan beberapa anak buah Jeno sudah mulai mengintai mereka. Amankan Tante."



Adgar dan anak RaHasiYa atas arahan Ibnu berhasil menempatkan mobil di jalan tol,  Ibnu telah mengosongkan jalan yang mereka lalui dari kendaraan lain.



Semua adegan itu tersiar dari Drone pengintai. Daniel telah mengerahkan dua drone, satu drone pengintai, dan satunya drone pengangkut.



Terlihat di atas mobil yang terus memepet mobil Hito sebuah drone yang sedang menurunkan beberapa robot kecil berupa tentara melalui tali yang bertugas menyerbu serta beberapa butir bola berubah bentuk menjadi burung kecil yang terbang berpencar ke mobil para pelaku atas arahan Daniel, begitu  sampai ditempat mereka menempelkan diri dan merayap ke tempat dimana tangki bahan bakar, mesin dan air berada, bahkan ada yang sedang menunggu robot melobangkan kaca mobil.



Begitu mereka sampai ditempatnya, mereka melelehkan diri sendiri sehingga tempat target bocor, menghasilkan hawa panas dari mesin yang menguar menghasilkan percikan api.



Sementara para robot berhasil membuat lubang yang cukup bagi mereka untuk masuk dan berpencar mengambil posisi, layaknya para tentara sungguhan yang terlatih, mereka tanpa suara mendekat target yang berisikan enam penumpang dalam masing-masing Van.



Aaaaa." Jeritan dari para wanita Hartadraja terlontar karena mereka kaget begitu mobil yang berada tepat di belakang mobil Hito menabrakkan diri berbarengan dengan mobil yang berada di sebelah kanannya sehingga mobil Hito tersudut dan menyerempet pembatas jalan. Mobil disamping terus memepet mobil Hito sampai terpojok menempel dengan pembatas jalan sampai menimbulkan percikan api dibadan mobil.



Jeno dan anak buah mengepung mereka.



" Jen, pimpin jalan." Mumtaz menginstruksi, ketika Jeno menambah kecepatannya, tiba-tiba mobil Van yang lain pun menambah kecepatan *full* hingga meninggalkan mereka jauh. Mereka sangka Van tersebut kabur, ternyata tidak, Van tersebut dengan arah berlawanan melajukan kendaraan kencang bersiap mengadukan diri dengan mobil Hito yang sudah tidak bisa bergerak karena himpitan Van yang lain baik dari samping maupun belakang. Jika mobil itu menabrakkan diri, maka dapat dipastikan Hito dan yang lain terbakar, dan berguling jatuh akibat hantaman Van dari segala arah tersebut.

__ADS_1



Mumtaz yang melihat itu membatalkan niat yang ingin ke belakang Van menjadi bersiaga di posisi antar keduanya.



" Adgar, rileks. Pegangan kuat," Mumtaz menunjuk pinggangnya," lakukan apa yang gue lakukan." Adgar mengangguk merangkul erat pinggang Mumtaz.



Tepat ketika Van yang berhadapan mobil Hito di posisi dua langkah menghantam, Mumtaz mengarahkan stang lalu melepasnya sambil mendorong dan melempar motornya dengan gas *full* pada bagian bawah samping Van yang langsung menabrak dan berhasil membuat Van terpelanting melewati pembatas jalan terbang hendak jatuh ke jalan yang dibawahnya namun keburu meledak di udara akibat bom yang diledakan lewat remote yang di tangan Daniel.



Duaarrr!!! Jegeuaarr!!! BOOOM!!!



Mumtaz sambil membawa Adgar menggelindingkan diri menyebrang jalan hingga membentur pembatas jalan satunya.



" Aaarrgghhh...Gar, apa Lo okay?" Lirihnya.



" Heemm..." Cicitnya tubuhnya terasa remuk karena terhimpit antara tubuh Mumtaz dan pembatas jalan, ia menarik nafas berat.



Ledakan besar itu mengundang perhatian pengendara lain yang berada dibawah mereka berpencar menghindari ledakan, hingga menimbulkan kemacetan karena beberapa kecelakaan beruntun akibat tidak fokus dan terkejut.



Serpihan badan mobil yang meledak berhamburan ke sembarang tempat.



Jeno yang sekarang berada di depan mobil Hito, anak RaHasiYa yang memposisikan menyempil antara mobil Hito dan Van yang disampingnya terus mendesak Van agar menjauhkan diri dari mobil Hito. Begitupun yang dibelakang, namun Van belakang nekat terus menabrakkan dan mendorong mobil Hito dengan kecepatan full, Jeno yang melihat itu menyingkir.



Di depan jalan ada tiang lampu yang tiangnya menyembul dari ukuran pembatas jalan, Van itu terus melajukan mobilnya yang mendorong paksa mobil Hito meski sudah direm oleh sang sopir hingga berbunyi cicitan roda dan percikan api akibat aduan roda dan aspal jalan.



Mereka berharap tiang itu dapat menggulingkan mobil target, tapi belum mobil Hito kena tiang, robot dengan tali kecilnya melilit leher sang pengemudi, pengemudi tersebut termegap-megap karena pasokan oksigen yang berkurang, tubuhnya mengejang meski ia sudah menggapai-gapai tali itu, namun juga tak menemukannya.



 Pengemudi melirik ke teman-temannya yang ternyata sudah tidak sadarkan diri, Van tersebut oleng keluar dari lajur jalan sampai ke seberang jalan menabrak pembatas jalannya hingga terguling menyamping dengan laju mobil masih kencang.



Begitu mobil berhenti anak buah RaHasiYa segera menolong orang yang dirasa masih hidup mengabaikan para robot keluar dari mobil setelah menjalankan tugasnya lalu memegangi tali dan naik ke drone yang terbang tak jauh dari sana.



Mobil Hito yang lepas dari dorongan Van berhenti persis dimuka tiang yang langsung diamankan oleh anak RaHasiYa. Dua sisa mobil Van telah terkepung oleh anak RaHasiYa, tanpa mengetahui kepasrahan penghuni mobil tersebut akibat dari todongan senjata dari para robot di atas masing-masing kepala mereka, Van terebut berhenti ditengah badan jalan karena kehabisan bahan bakar.



"  Mumtaz,...*are you okey*?... Mumtaz..."



" Mumtaz, okey. Hanya sedang beristirahat." Seru Gilang, salah satu wakil Jeno.



" Bagaimana dengan Adgar?" Julia mengambil alih ponsel Damian.



" Keselruhan okey, sudah mendapat pertolongan pertama." Tambah Gilang.



" Okey, tetap bersiaga bantuan akan datang. Untuk semuanya terima kasih." Alfaska duduk di lantai begitu keadaan dirasa terkendali.



Tak lama terlihat beberapa mobil polisi, dan pemadam kebakaran.



" Bagai...bagaimana Dewi?" Suara lirih penuh kesedihan dari Aznan mengalihkan pikiran masing-masing.



" Kami tidak berani mengeksekusi mobil Tante yang sudah para bentukannya, jadi mari kita tunggu bersama." Sahut Daniel.



" Jangan biarkan media mengetahui keadaan Dewi." Pinta Fatio.



" Tidak akan, kami telah bersedia memberi informasi penyerang dan apa yang terjadi dengan media lain, kalau mereka tidak membahas mendalam tentang Tante Dewi dan om Hito." Timpal Ibnu.



" Terima kasih...saya sungguh mengucapkan terima kasih." Fatio memeluk punggung Alfaska yang disambut Alfaska dengan menggenggam tangan Fatio



" Sudah tugas kami, Tante Dewi sudah kami anggap nenek sendiri."



\*\*\*\*\*



Di kamar tidurnya berbaring miring di atas sofa mengenakan gaun tidur berbahan satin Guadalupe duduk santai berselonjoran kaki dengan wine merah ditangan kanannya.



Senyum smirk tersungging," Fatio, kau menolak wanita yang salah, kalau aku tidak bisa berbahagia denganmu, maka aku tidak akan membiarkan kau bahagia." Monolognya santai tanpa beban setelah mempertaruhkan nyawa orang lain.



\*\*\*\*


UGD dan ICU Rumah sakit Atma Madina sibuk kedatangan beberapa orang penting baik yang terluka parah maupun ringan, para dokter ahli dengan sigap melakukan tindakan medis.



Alfaska, Daniel, dan Ibnu menghampiri brankar Mumtaz yang sedang mendapat beberapa perawatan.



" Untung helm Lo gak lepas, *please* berhenti nekat." seru Ibnu.



" Kayak cewek yang sedang mengkhawatirkan cowoknya habis tawuran Lo, Nu." cibir Daniel.



Decakan Ibnu terdengar," terserah, Niel. terserah, kerjaan kok cemburu aja." dumel Ibnu malas yang mendapat kekehan geli dari para sahabatnya termasuk sang dokter dan asistennya.



Semua orang sudah berkumpul di ruang kerja Mumtaz di rumah sakit Atma Madina.


" Rio, sambungkan panggilan video dengan Alejandro Gurman." Rio langsung melaksanakan titahnya


Tatapan Mumtaz datar tanpa emosi, namun terfokus. Penampilannya masih berantakan hanya kaos hitam dan jeans biru navy yang masih dikenakannya dengan perban yang melintasi seluruh tubuh akibat nekat terjun di jalan.


Muncullah gambar Alejandro, " hallo, apa kabar Mr, Mumtaz?"


" Tidak baik, dan ini karena ulah istrimu. Mr, Gurman, sepertinya istri anda memandang remeh peringatan saya untuk menjauhi keluarga Hartadraja, tapi tidak dia dengarkan."


" Apa yang dia lakukan kepada kalian?"


" Dia berencana membunuh anggota Hartadraja, selama dia ada di Indonesia, maka dia harus berurusan dengan RaHasiYa."


Sumpah serapah dan umpatan kelaut dari mulut Gurman.


" Apa anda yakin itu ulah istri saya?"


" Apa anda ingin bilang kalau saya bohong?" tantang Mumtaz.


" Bukan begitu, ini tidak ada bukti."


Ujung mata Mumtaz melirik Alfaska yang mengangguk," akan saya kirimkan buktinya, dan serahkan dirinya pada kami."


" Kalau memang terbukti, kami mempersilakan anda membalas tindakannya."


" Apa anda terlibat?"


" Tidak, kami tidak terlibat apapun yang dia rencanakan."


" Tetapi dia menggunakan anak buah Anda, mer Eka dalam tahanan kami."


Kembali sumpah serapah terdengar," baiklah saya tutup sambungan ini."


Mumtaz telah duduk di kursi kerjanya


" Jelaskan." titah Daniel, Alfaska menatap satu persatu orang yang hadir.


" Sebelum saya jelaskan, saya menginginkan kalian menandatangani surat sumpah untuk tidak mengatakan apapun tentang yang kita bicarakan terlebih dahulu, pasalnya semua informasi ini tidak boleh bocor keluar.


Haikal, selaku asisten Alfaska menyebar beberapa lembar surat sumpah ke masing-masing orang.


Setelah selesai, Alfaska menempatkan dirinya berdiri di depan semua orang.

__ADS_1


" sewaktu kakek Fatio bertemu Guadalupe...."


__ADS_2