Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 123. Penculokan di Tahun Baru


__ADS_3

" Eungh." Mata Eric memicing dihalangi satu tangannya karena silau sinar matahari dari celah gorden tipis hotel. 


Menyingkirkan tangan dan kaki yang membelit tubuhnya, ia mengambil jam tangan yang tergeletak di nakas, saat melihat sudah pukul 11 ia memaki dirinya sendiri.


Matanya mengitari kamar hotel uang sudah berantakan tak karuan mencari ponselnya, seharusnya pukul 9 dia sudah mendapat laporan dari Darman.


Masih bertelanj.ang ia menuju ruang makan, " ck, di sini rupanya." 


Ia mengambil ponselnya di atas meja makan.


Saat melihat ada 30 panggilan dari Darman, ia mengutuki dirinya sembari menelpon balik Darman.


" Hallo, dimana kau sekarang?"


" Tuan, maaf saya punya berita buruk."


" Apa?"


" Nyonya Belinda diculik orang."


" APA? BAGAIMANA BISA?"


" Tadi malam mereka menyerang kami sewaktu kami ingin keluar dari tempat persembunyian."


" Tidak berguna." Eric membanting telponnya.


Dia tidak bisa gagal, penantiannya selama belasan tahun tidak boleh diperpanjang.


saat tahu wanita tercintanya yang dia sangka sudah ada meninggal ternyata masih hidup, dia bagai dipukul ribuan godam.


hidupnya yang hampa kembali semangat, tidak!! dia tidak bisa kehilangan Belinda setelah apa yang dia lalui atas kehilangannya.


Ia mondar-mandir sambil memijat pelipisnya, karena pusing pengaruh alkohol.


" Sial, kenapa jadi begini. Seharusnya semuanya berjalan lancar."


Tidak mempedulikan tubuh telan.jangnya, ia duduk merenungi siapa yang mengincar Belinda selain dirinya.


Raul!! Nama itu terbesit dipikirannya, kedua tangannya mengepal, tatapannya menajam, tubuhnya menegang.


Ia memukul lengan sofa karena marah, lantas menuju kamar mandi guna membersihkan diri sebelum membuat perhitungan dengan putranya.


****


Zahra berlari secepat yang dia bisa melintasi area parkir pertokoan samping cafe, gerahamnya menggeletuk saat melihat Dewi yang sudah Masuk van karena dorongan paksa sang pelaku, ditambah teriakan rintih nenek yang digotong kedua rekan lainnya.


Brian, Andi dan Tio yang baru keluar dari toko roti melihat seorang nenek digotong paksa dua orang agar masuk mobil, Sontak berlari hendak menolong, namun ketiganya berhenti karena dikejutkan dengan gerakan cepat seseorang melangkahi beberapa pengawal yang terkapar payah.


 


Satu Kaki Zahra menendang samping pinggang satu rekannya hingga oleng melepas pegangannya dari nenek, sedangkan rekan lain langsung mengambil Alih bergegas memasukan nenek ke dalam mobil yang masih mendapat perlawanan dari nenek dengan mencakar dan memukulinya dengan tas mahalnya.


Sang target yang olenh segera bersiaga lalu menghadap Zahra yang langsung dihadiahi tendangan penuh tenaga di bagian juniornya.


Dia meraung kesakitan sambil memegangi juniornya lalu sedetik berikutnya sebagai pungkas mendapat pukulan dari dari bawah mengenai bagian bawah dagu hingga ia terjerembab.


 


Setelah nenek berhasil dimasukan ke dalam mobil, mobil mulai bergerak saat pelaku hendak menutup pintu, Zahra melakukan tendangan menyamping lurus ke atas mengenai bagian bawah rahang disusul gerakan gesit pukulan ke ulu hati.


Pelaku mengerang ia terbatuk-batuk yang akhirnya tersungkur.


Zahra langsung menyusup masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


Di dalam mobil Sri dan Dewi terperangah, sedangkan Zahra memberi senyuman kecut saat menyadari di dalam mobil ternyata ada tiga orang penculik yang duduk di bagian belakang sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.



" \*\*\*\*, Yo. Lo tangani ni orang minta bantuan. Gue sama Andi ngejar mobil itu."



Brian berlari kembali ke arah mobil sportnya yang terparkir di depan toko roti, bersama Andi langsung melajukan mobil mengejar mobil Van yang berwarna putih tersebut.



Jalan lengang menguntungkan pelaku kabur dengan cepat, namun Brian masih berusaha mencari.



"Di, telpon Jeno."pandangan Brian tidak lepas mencari mobil tadi, begitupun Andi. Andi mengangguk.



" Yan, itu mobilnya. Gue hafal no polisinya." Andi menunjuk pada mobil putih disebelah lajur kiri terhalang satu mobil.



" \*\*\*\*, Jeno enggak di angkat."



" Coba Rio."



" Kenapa Lo gak telpon petinggi RaHasiYa?"



Brian mencari ponselnya disemua saku jaket dan celananya," sial, hp gue di Tio."



" Tenang, Yan. Gue yakin Tio sudah menghubungi pak Dominiaz."



Brian mengangguk," kenapa gue bisa lupa dia anak Gaunzaga."



Matanya masih fokus ke mobil Van putih, dia mencoba memindah lajur ke lajur kiri, jingga sekarang posisinya di lajur tengah.



" Yan, di depan ada lampu lalulintas, moga aja pas di sana lampunya warna merah, itu kesempatan kita mengulur waktu sebelum bala bantuan datang." Ide Andi yang diberi jempol oleh Brian.



Andi mengeluarkan pisau lipat otomatis dari tas pinggangnya, Brian melotot.



" Mau ngapain Lo?"



" Ck, Lo pikir gue bakal ngehadapin mereka dengan tangan kosong? Gob.lok namanya."



Kemudian dia pun melepas ikat pinggangnya yang ujungnya dililitkan ditangan kirinya.



" Gaya Lo udah kaya jagoan aja lo, tahu darimana Lo begituan."



" Gue penganggur Mumtaz, gue nonton duel dia lawan ketua pembunuh bayaran, keren sih itu."



Sepertinya tuhan mengabulkan do, fuckboy satu ini, di depan lampu mulai berubah dari warna hijau, menjadi kuning, lalu merah, tapi,



CKITTT!!!



Brian mengerem dadakan disusul mobil dibelakangnya dengan menyembunyikan klakson keras-keras sebagai protes dari pengendara lain.



Matanya keduanya melebar, melihat Dewi terhempas jatuh ke jalan dari dalam mobil dengan posisi menyamping selagi mobil masih melaju walau melambat.



Melihat ada pria dari dalam mobil yang hendak menarik kembali Dewi, Andi segera keluar lalu berlari dengan mengkibas-kibaskan sabuk pinggangnya menggunakan tangan kirinya pada tangan yang ingin menggapai Dewi.



Akibat kibasan ikat pinggang tangan pelaku Kembali menjauhi tubuh Dewi, namun kini tangan itu sesudah memegangi Dewi, dan hendak menariknya, namun ditahan Andi dengan menarik Dewi dari belakang dengan tangan kirinya mengitari pinggang Dewi.



Saling tarik terjadi antar pelaku dengan Andi, hingga Andi menggunakan tangan kanannya menyayat tangan pelaku dengan pisau lipat yang dia ambil dari saku celananya.



Tangan itu akhirnya melepaskan Dewi, saat Andi hendak menggapai pintu mobil,  mobil Van itu menerobos dengan kecepatan tinggi lampu lalulintas yang sedang berwarna merah menabrak kendaraan yang ada di hadapannya.



" Di..." Brian mendatangi mereka, membuka pintu mobilnya, Andi menggendong Dewi yang syok ke dalam mobil.



Sementara Eidelweis terkena syok, sudah lima belas menit ia berdiri memegang handle pintu menyaksikan semua peristiwa itu tanpa bisa melakukan apapun.


" Del, kamu kenapa berdiri di depan pintu?" 


Tidak mendapat respon dari Eidelweis, Erwin berjalan mendekat, terlihat wajah Pisa Eidelweis.


" Del, ada apa?"


Dari belakang Eidelweis suara panik Erwin terdengar.


Eidelweis tersentak mendapat sentuhan di sikunya, karena kaget Erwin sontak mundur sejengkal.


" Del, ada apa?"


" K...kak...heuh..heuh." Eidelweis mencoba menenangkan hatinya dengan menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali.


Erwin lebih mendekat, kedua tangannya mulai bersiaga di pundak Eidelweis" Del, ada apa?" Suaranya memelan.


Tangan Erwin menyangga berat tubuh Eidelweis yang merosot karena lemas.

__ADS_1


" Kak, ne..nenek..dan..ma..mama...di..cu..culik." tangisnya mulai menetesi pipi.


Erwin memapah Eidelweis ke kursi yang terdekat," Kak, telpon kak Hito dan mas Heru. Zahra, nenek dan mama diculik." Suaranya tercekat.


Erwin terbelalak, namun seketika dia bingung.


" Del,..ada apa...."


Eidelweis menyela cepat," jangan banyak tanya, cepat telpon kak Hito dan mas Heru. Tangan aku masih gemetaran." bentaknya


Erwin mengangguk, ia mengambil ponselnya dalam saku jasnya lalu menelpon Hito.


" Hallo."


****


Sambil berjalan dengan langkah besar Hito, Heru, dan Dominiaz sibuk dengan ponsel masing-masing.


Kabar dari Erwin dan Tio membuat mereka membatalkan semua agenda hari ini.


 " Siaga 1 ke setiap keluarga Hartadraja dimanapun mereka berada." Titah Dominiaz kepada Leo diseberang saluran telpon.


" ****, Mumtaz tidak menjawab telponnya." Umpat Hito, dia sudah 10 kali menelpon Mumtaz yang berakhir dengan suara operator.


Mereka berlari, melihat riak wajah petinggi mereka yang mengeras sampai tidak ada yang berani menyapa, semua orang yang dilintasi mereka menunduk hormat.


Mereka menghentikan pintu lift mana saja yang terbuka saat mereka sampai di depan lift.


Para pegawai yang sudah berada dalam lift seketika kembali keluar begitu melihat siapa yang masuk ke dalam lift, begitu pintu lift tertutup mereka bergosip karena tindakan ganjil tiga orang penting yang menggunakan lift umum.


****


Alfaska melirik jam di ponselnya yang tergeletak di sampingnya.


" Jam setengah 12. Baru ini gue menikmati tidur nyenyak." Gumamnya


Keningnya mengerut, ia merasa gusar melihat notifikasi email dari Nando dan beberapa panggilan dari Hito, Heru dan Dominiaz.


Duduk dipinggir ranjang, Alfaska memeriksa semua email yang berjumlah 20-an lebih, ia memeriksa satu persatu.


Wajahnya mengeras, matanya berubah tajam. Ia memeriksa jam email itu masuk pada ponselnya.


" Jam setengah 11 malam, sekarang jam setengah 12."


Untuk memastikan ia menelpon Nando sembari melangkah keluar dari kamar tanpa membersihkan diri.


Pada deringan keempat Nando menjawab," intinya, Nan."


Sembari mencari-cari Mumtaz di sekitaran rumah Alfaska mendengarkan laporan Nando diseberang saluran.  


" MUMTAZZZZ..." Wajah panik Alfaska menarik perhatian para sahabat yang sedang membersihkan rumah.


" Fa, ad apa?" Haikal menghampirinya.


" Mumtaz dimana?" Tanyanya mengabaikan pertanyaan Haikal.


" Di ruang kontrol."


" Bangunkan semua petinggi, bawa hp mereka, bangunkan juga Jeno."


 " Gue di sini." Jeno dan Rio datang dari arah luar.


Mereka bertiga berjalan menuju ruang kontrol.


" Lo tahu apa yang terjadi?"


" Gue dibangunin Rio, Rio ditelpon Andi."


" No, si Andi telpon gue." Rizal menerobos masuk rumah tanpa salam.


" Hartadraja?" Jeno memastikan.


Rizal mengangguk.


" Pas di telpon gue di dapur lagi bantu ibu, melihat banyaknya telpon dari dia, gue telpon balik langsung dia cerita."


Wajah mereka semua serius, anak yang lainpun turut waspada.


Tanpa permisi mereka masuk ruangan kontrol yang pintunya tidak terkunci yang ternyata di sana didapati Mumtaz dan Adam.


Melihat keseriusan wajah mereka Mumtaz menghadap penuh pada mereka.


" Ada apa?" Mumtaz bersikap tenang.


Tiba-tiba dari  belakang mereka Ibnu melempar ponsel Mumtaz yang langsung ditangkap oleh yang punya.


" Om Hito nelpon lu lebih dari 10 kali."


Mumtaz menelpon balik Hito, melangkah ke luar ruangan.


Ternyata Daniel, Bara, dan Ibnu sudah berdiri di belakang mereka, Ibnu mengambil posisi di depan meja kerjanya yang terdapat MacBook, laptop, komputer, dan gawai lainnya.


Ia aktifkan Macbooknya, lalu membuka GPS ponsel Zahra. Ini hanya praduganya saja mengkaitkannya dengan intensitas telpon Hito pada Mumtaz.


" Kumpul." Titah Mumtaz begitu masuk ruangan setelah menerima telpon dari Hito.


Semua orang yang ada berkumpul, Adam masih terdiam mengamati, karena memang dia tidak tahu apapun, dan tidak berani menginterupsi.


" Dam, Lo dan anak Gaunzaga lain yang ada di sini ditugasi mengamankan rumah kak  Edel." Beritahu Mumtaz


Tanpa bertanya Adam mengangguk, ia beranjak keluar. Begitu memegang kenop pintu, Mumtaz memanggilnya.


Adam menangkapnya, lalu menggunakannya sebelum menutup pintu.


" Oke, kita mulai dari awal."


Mumtaz menatap Alfaska," kamu duluan, Fa."


 Alfaska menyambungkan isi email dari Nando ke layar proyektor.


" Selama ini gue memasang chip di otak Guadalupe." Semua orang terperangah,


" yeah, kita berhasil menciptakan chip berukuran sebutir beras yang berbahan lunak, dengan chip itu gue bisa tahu pikirannya, bahkan yang belum terucapkan sekalipun. Intinya gue bisa baca pikiran Guadalupe."


Alfaska menatap semua orang satu persatu, tidak ada yang menyela.


" Kekurangan chip ini belum bisa memilah mana yang penting atau tidak, makanya gue menugaskan Nando untuk memantau setiap kata yang keluar dari Guadalupe dan dia memilahnya dengan kunci Hartadraja, Gonzalez, Romli. Dan keluarga petinggi RaHasiYa lainnya.


" Sejak pukul setengah 11 malam Nando mengirimi gue email sampai yang terbaru ini." Tunjukkan pada email yang teratas.


" Secara detail nanti dikirim ke email semua anak RaHasiYa, intinya Guadalupe dan Tamara merencanakan penculikan Nyonya Sri Hartadraja."


Segala umpatan kasar terlontar memenuhi ruangan dari mulut orang-orang yang berkumpul.


" Sekarang korban penculikan bukan saja Nyonya Sri, tetapi Tante Dewi, dan juga kak Ala." Tutur Mumtaz.


Sekejap suasana hening, dilanjut sumpah serapah dari mereka yang diperuntukan untuk Guadalupe.


" Posisi kak Ala di Kuningan, diam tidak bergerak." Seru Ibnu.


Derrt!


" Andi nelpon gue." Rizal menekan icon hijau.


" Hallo."


....


" Gue loudspeak ya!"


" Zal, gue mengamankan nyonya Dewi. Brian ngejar pelaku, tapi dia gak bawa hp. Dia naik Lamborghini cokelat model..."


Berdasarkan Informasi Andi, Ibnu telah menemukan posisi Brian.


" Gue dapat."  seru Ibnu.


" Jarud aja yang jalan. Dia yang terbaik di jalanan. Jeno,  Lo tugasi Galang ikut bersamanya." Titah Daniel.


" Ragad mengamankan tante Dewi." tambah Bara.


Jeno mengangguk, " kasih hp ini, ini langsung ke posisi Brian." Ibnu melempar ponselnya, Jeno menangkapnya tangkas.


" Gue cabut." Jeno menghilang dibalik pintu yang tertutup.


" Suruh Yuda ke gedung RaHasiYa ngawasin lalu lintas." Tambah Mumtaz sebelum Jeno menutup pintu.


" Nu, Lo ikut kita." Mumtaz memasukan beberapa benda yang dia kira butuhkan ke dalam ranselnya begitupun petinggi RaHasiYa lainnya.


" Rio, Lo bawa semua perangkat Lo."


Rio meninggalkan ruangan melaksanakan perintah Mumtaz.


" Zal, siagakan anak RaHasiYa sebagai pelapis dua anak Gaunzaga kepada semua keluarga yang akan gue kirim datanya." Rizal pun meninggalkan ruangan.


" Fa, pastikan Nando membagi email itu kepada setiap anak RaHasiYa, agar mereka siaga." Alfaska mengangguk, wajahnya muram.


Semua petinggi bersiap dengan ranselnya. Berkumpul melingkar.


" Sorry." Alfaska menunduk.


" Semalam gue meninggalkan ponsel di kamar, andai gue tidak lalai kak Ala..."


" Its okay, kita perbaiki." Ujar Mumtaz tenang, namun masih kentara amarah dalam getaran suaranya.


" Bar, gue percayakan keseluruhan di lapangan kepada Lo." Pinta Mumtaz


Bara yang duduk santai di kursi mengangguk," kita habisi mereka, tidak peduli wanita pelakunya." Tegas Bara, para petinggi RaHasiYa hanya bisa mengangguk.


Toh mereka tahu emr la tidak bisa melarang Bara.



  Langkah mereka terhenti kala mendengar suara berat tapi bersih milik Zayin.



" Mau kemana kalian?" Zayin beranjak dari duduknya dari kursi meja makan, menatap mereka membawa ransel membuatnya bertanya.



Melihat penampilan Zayin yang mengenakan seragam lapangannya, mereka sedikit bimbang untuk memberitahukannya apa yang terjadi.



Mereka menatap Mumtaz, yang ditatap mengembuskan nafas beratnya.



" Kak Ala diculik." Ucapnya tenang.

__ADS_1



Untuk sesaat Zayin tertegun," oleh siapa?" Aura kemarahan mengukung Zayin.



" Guadalupe." Alfaska yang menjawab.



Zayin berdecak," urusan sepele sekelas mereka kalian belum bisa mengatasinya, kalian terlalu lunak."



Mereka mengamati gerakan Zayin dari beranjak ke ruang tamu, memanggul ransel angkatan lautnya,



" Gue harap itu bukan karena kalian takut pada mereka."  Serkasnya yang menyimpan cibiran.



" Setelah kita membom gudang narkoba kemarin Lo masih tanya itu?" Daniel mencoba tenang.



Mimik menyepelekan dari Zayin berhasil memicu emosi petinggi RaHasiYa.



Zayin memasukan kedua tangannya kedalam saku celana, mengangkat bahu enteng," nyatanya itu tidak membuat nyali nenek lampir itu ciut, baginya mungkin kalian bukan apa-apa. Sekarang karena keleletan kalian kak Ala ditangan mereka."



Menatap lurus penuh tantangan kepada mereka, " kalau kalian tidak mampu menghabisi nenek itu, biar gue. Tanpa jejak."



" Lo terikat sumpah prajurit."



" So..." Air mukanya masa bodo.



" Gue bisa mengeluarkan organ tubuhnya tanpa kesakitan..."



" Sebelum Lo yang nyentuh dia, gue duluan yang memanggangnya ala kartel." Potong Mumtaz.



Zayin tersenyum smirk," yakin? ini di Indonesia, dia berani meremehkan kalian di tanah sendiri."



Tatapan mereka menajam,



" Saat itu terjadi, mau disebelah mana Lo nontonnya?" Tantang Mumtaz bersedekap tangan.



" *Fine*, gue kasih kalian kesempatan,  kalian tahu dimana hubungi gue, jangan sungkan minta bantuan. Ini tentang kak Ala." Zayin memberi ultimatum jangan pernah berpikir  gengsi atau berakhir berurusan dengannya.



Sebelum keluar dari rumah, ia berucap " Sebelum kalian beraksi sebaiknya buka laci nakas gue bagian terbawahnya."



 Baru tiga langkah menuju pintu utama Dista,  para sahabatnya, dan keluarga Hartadraja lainnya menerobos masuk.



" Apa benar Kak Ala diculik?" Tia menampilkan raut cemasnya.



Membiarkan Zayin yang menangani empat gadis itu, para petinggi RaHasiYa menuju kamar masing-masing.



Zayin menatap mereka satu persatu berakhir pada Tia.



" Bukankah ini yang Lo mau? Kak Ala diculik gembong nar.koba kelas dunia kemungkinan selamat menurut Lo berapa persen? Senang kan Lo!" Suara dinginnya menakutkan Tia dan yang lain.



Tia mematung dengan wajah pias.



" Aa...hiks...hiks...mama..." raut muka Zayin berubah lembut kala mengambil Adelia dari gendongan Akbar.



Zayin menepuk punggung Adelia menenangkan" Shuuush, mama Bentar lagi pulang, mending Adel dandan cantik biar Mama senang."



Zayin mengambil crystal yang juga menangis dari gendongan Damar, Adelia yang biasa tidak mau berbagi Zayin dengan siapapun ini hanya menyenderkan kepalanya di pundak Zayin.



" Adel,..hiks.. Ical boleh digendong Aa ya."



" Iya ,boleh. Kan Ical juga lagi cedih nenek cama nebuynya ditangkap olang." Ucapnya lesu.



" Saya permisi dulu, anggap rumah sendiri." Zayin meninggalkan mereka tanpa menghibur Tia.



" Muy," para sahabat ditambah Bara telah bersiap, mereka berdiri diambang pintu kamar Zayin.


Mumtaz mengangkat kepalanya dari dokumen yang sedang dia pelajari.


" Semuanya sudah ready?" mereka mengangguk.


" Itu apa?" ibnu menunjuk kertas yang dipegang Mumtaz.


" kita diskusikan di jalan."


" Lapor kondisi terbaru."


Sembari berjalan kebawah Bara memberi informasi terbaru dari Jeno kepada mereka berempat.


" Tante Dewi menolak dibawa ke rumah sakit, sekarang di D'lima berserta kak Edel dan Hartadraja lainnya."


" Brian kehilangan jejak di Cikampek akibat macet libur akhir tahun. Jarud masih meneruskan pencarian bermodal ponsel Ibnu."


" anak RaHasiYa geng Bandung dan sekitar sudah dikonfirmasikan wajah Kaka Ala, dan nenek."


Sampai diundakan terakhir, Sisilia menghampiri mereka, meyerahkan dua papperbag berisi sandwich di dalamnya.


" Kalian akan sibuk jaga kesehatan."


para sahabat meninggalkan Mumtaz dan Sisilia bersiap ke mobil yang mengangkut mereka.


" Tolong di sini aja, kalau gak di awasi tuamu bakal jadi kandang sapi."


Sisilia terkekeh, ia mengangguk " iya, mommy malah mau nginep. Mau ngatur mereka yang katanya."


Mumtaz balas tertawa, ia menarik Sisilia kedalam pelukannya.


" Titip Tia, kamu jangan enggak sehat." Sisilia mengangguk.


" kak." Tia dengan takut-takut mendekatinya.


Mumtaz menarik Tia ke dalam pelukannya setelah melepas pelukan Sisilia.


" Maaf, Iya enggak bermaksud..."


" Iya, tahu. Lain kali jaga lisan." Tia mengangguk.


" Muy, ayo berangkat." seru Ibnu dari luar.


Mumtaz mengecup pucuk kepala Tia, Sisilia, Tia dan Cassandra.


" Jangan pergi tanpa pengawalan." Peringat Bara yang diangguki oleh semuanya kini gilirannya mencium kening para bocil disusul Ibnu dan Alfaska.


Alfaska mengusap sayang kepala Tia lalu menciimnya lagi," jadi adik yang baik." suara lembut Alfaska melahirkan tangis tergugu dari Tia.


" Maaf!!..Maaf!!" Tia tertunduk dalam. Dirasa Alfaska melepas buaiannya.


Daniel menenangkan Tia," sudah, do'akan bisa bawa semua selamat." Tia mengangguk.


Menarik lembut tangan Dista membawanya ke teras," Maaf, batal lagi acara kencannya." Dista menggeleng cepat


Rencananya mereka akan pergi berlibur ke Spanyol menghabiskan sisa liburan mereka sebagai ganti waktu sibuk Daniel.


" Pulang dengan selamat." lirihnya, Daniel menyeka air mata Dista sebelum amsuk ke mobil.


" Raja,.." panggil Mumtaz dari jendela mobil.


Raja mendatanginya," Gue titip mereka, para senior sibuk, Lo yang atur di sini. Gue percaya Lo bisa."


" Siap, bang."


Mobil Van hitam membawa Mumtaz dan para sahabat membawa mereka ke cafe'D'lima, sedangkan Bara dan Jeno menunggangi motor sportnya hitam elegannya menuju gedung Atma Madina Guardian.


Gedung baru berlantai lima belas yang sengaja dibangun untuk organisasi bawah tanah khusus keamanan perusahaan dan rekan, bisa dikatakan gedung ini markas kedua dari gedung RaHasiYa.


Dan belum ada yang mengetahuinya selain petinggi RaHasiYa, Bara, dan orang-orang kepercayaan dibawah komandonya.


Mereka berpisah di simpang jalan keluar kompleks saling membunyikan klakson....


^^^See you, jangan sungkan tekan jempol gampang lagi gratis, komen dan hadiah serta votenya juga ayok!!! ^^^


 

__ADS_1


 


__ADS_2