
Ditengah keramaian canda gurau para sahabatnya yang katanya datang untuk menghibur sang sadboy, Hito, ia terdiam merenungi ucapan Mumtaz di rumah Birawa tentang penataan diri keluarganya setelah kepergian sang ayah.
Ia menyugar rambutnya, lalu menjambaknya frustasi.
" Kenapa Lo? Kusut amat." Tanya Heru yang duduk di sebelah Hito di lantai bawah sofa panjang, para sahabatnya berhenti bercanda.
Lima pria dewasa sedang berkumpul di apartemen Hito atas undangan Heru yang enggan menemani sahabatnya yang sedang galau seorang diri saja.
" Gue pikir mereka baik-baik saja, setidaknya selama gue dipenjara gue mikir begitu karena Ara yang sering bolak-balik jenguk gue, tapi ternyata enggak. Gue baru tahu tadi di rumah Birawa sewaktu mengantar Ara." parau Hito meneguk minuman sodanya.
Di atas meja sudah berserakan cemilan dan berkaleng-kaleng bermacam jenis minuman dari berkafein sampai bersoda.
" Ck, di rumah Sisilia yang galau, di sini bujang lapuk juga galau." cebik Dominiaz menyindir Hito. " Ngapain Lo ke rumah Birawa?" Tanya Dominiaz.
" Nganter Ara yang dapet telpon kalau Alfa ngamuk, dan Lo tahu...gue pikir kejadiannya terulang kembali bagi mereka." Ucap Hito menahan emosi sedihnya.
" Maksud Lo?" Tanya Erwin
" Mereka kembali menenangkan sang penyebab meninggalnya orang tua mereka ditengah berkabungnya mereka." lirih sendu Hito sarat penyesalan.
" Maksud Lo si Aloya?" Samudera memastikan.
Hito menggeleng," Atma Madina. Kalian tahu kan apa penyebab Aloya ke rumah Tante Aida?"
Mereka mengangguk dalam diam.
" Gue gak kenal Tante Aida secara langsung, tapi Lia sering bercerita tentang beliau, dari sejak SMP kalau Lia berantem sama mommy dia minggat ke ruang Tia, heh, enggak tahunya lagi modus sama si Mumtaz." Ucap Dominiaz.
" Keluarga gue kalau bukan karena mereka mungkin masih mendapat cibiran, kalian tahu kan kesalahan apa yang gue perbuat dengan adanya Adel?" tanya Heru, Lagi, mereka mengangguk.
" Terakhir mungkin perkara Devi, janda genit utusan Erika. Tante yang langsung melabrak dia sewaktu menghina Edel."
"Lo tahu, damage beliau tak tertandingi, gue masih inget sewaktu awal kita pindah kesana, dan gosip Edel hamil diluar nikah masih santer. Para warga mendatangi rumah beliau menanyakan kabar itu, beliau menjawab secara diplomatis, semua manusia itu pasti melakukan berdosa, apapun dosanya baik kecil atau besar tetap lah dosa yang menghalangi kita kepada sayangnya Allah. Sebaik-baiknya pendosa adalah yang bertaubat." Kenang Heru.
" Jadi, sekarang Lo udah bertobat?" Sindir Erwin.
" Seenggaknya gue gak balik lagi sama mantan padahal punya tunangan." Liriknya pada Samudera
" Gue gak gitu ya." Sembur Samudera melempar kulit kacang ke muka Heru yang bisa Heru tepis.
" Atau gue gak habis ngerusak seorang gadis, terus menghinanya, eh jatuhnya sekarang ngebucin nungguin doi yang gak tahu dimana. Gue sih yakin itu cuma alibi kalau dia kemungkinan belok." Sindirnya menjurus ke Dominiaz yang melempar kulit kuaci.
Refleks Samudera dan Erwin yang duduk di sebelah kanan dan kiri Dominiaz menjauh memberi jarak.
" Gue normal! Gue cuma mau jadi orang bertanggung jawab aja." Delik Dominiaz menarik kembali dua sahabatnya mendekat padanya.
Heru mengedikan bahu," who's know iya, enggak sih."
" Iya juga ya." Yang di amini Erwin yang langsung mendapat jitakan dari Dominiaz.
" Gue juga enggak ngegebet sahabat pacar dengan alibi lagi cari perlawanan yang tepat ke leluhurnya, eh pas pacarnya ngamuk dia panik." Sambil bicara mata Heru melirik Hito.
" Enggak ya. Mulai sekarang kalian bakal lihat penolakan gue yang tersadis sepanjang masa." peringatan Hito menengaskan.
" Atau gue enggak sok playboy ganti cewek tiap minggu aslinya sad jomblo lapuk." Terakhir Erwin yang kena sindir.
" Ck, gue bukannya playboy hanya memanfaatkan ciptaan tuhan sebaik mungkin." Terang Erwin.
" Cuih sok Lo. Kena penyakit kelamin baru nyaho Lo." Omel Samudera.
" Gue gak make mereka ya, Gue cuma nyicip doang. Masih sayang sama bisnis gue tuh."
" Hehe..." Heru tertawa meledek sohib satunya ini.
" Apaan dah. Ledek gue aja terus." Dumel Erwin
" Ini ada pa sih, woy!" Kesal Dominiaz yang tidak tahu apapun.
" Dia,.." tunjuk Hito ke arah Erwin," Lo tahukan Setiap usaha Gautama-Pangestu yang berada dibawah pimpinan dia bekerjasama dengan RaHasiYa!?" Mereka mengangguk.
" Salah satu syarat dari kerjasama itu dia dilarang 'make' cewek diluar nikah." Jelas Hito terkikik.
" Asu, serius Lo?" Udah berapa lama tu kerjasama terjalin, bisa tahan juga Lo." Sarkas Dominiaz.
" Ya... Gue gak punya pilihan lagi. Ini juga karena ceweknya dia." Erwin nunjuk Hito.
" Cewek yang mana?" Lagi, sindir Heru, Hito mendelik marah ke Heru.
" Cewek gue cuma satu, ZAHRA, ingat itu hanya ZAHRA!" Hito mengucapkannya tepat di depan wajah Heru, Heru mengedikan bahu gak peduli.
" Emang kenapa?" Samudera jadi penasaran.
" Si Zahra yang bilang ke mereka kalau gue suka mainin cewek sampe nangis, ambigu banget kan omongannya. Gue yakin sih itu pembalasan dia ke gue yang udah mecat dia karena termakan omongan mantan tunangan dia." Tunjuknya ke Hito.
" Lagian Lo pake acara tertarik bekasan temen." Cibir Hito.
" Itung aja gue lagi khilaf, lagi lemah syahwat gue tuh." Alibi kacau Erwin.
" Lemah iman ege." Dominiaz menumpuknya pake kulit kuaci.
" Emang Lo To, hidup gue itu kalau berhubungan sama Lo sial mulu." Cerocos Erwin
Heru tertegun," mungkin begitu, gue ini hanya bawa sial bagi Zahra dan keluarganya!" Gumam Hito sendu.
"Eh... Bu...bukan gitu maksud gue." Erwin membantah tidak enak hati.
" Kalau Lo mikir begitu, terus Lo mau gimana? Apa Lo mau mutusin dia?" Tanya Samudera.
" Gue siap menampung dia, dia cantik, jenius, baik. Gak Jaim lagi. Type gue banget." Ucap Dominiaz membayangkan Zahra.
Hito mematung, lantas menggelengkan kepala." Enggak lah! Gue bakal ubah kesialan itu menjadi kebahagiannya. Hilangin khayalan Lo tentang dia." Hito mengkibas-kibaskan tangannya dia tas kepala Dominiaz yang diakhiri jitakan keras di kepalanya.
" Cih, tadi sempat ragu, pada mau ditikung teguh lagi tujuannya. Bucin lapuk Lo!" Cibir Erwin.
" Mending gue, dari pada Lo jomblo lapuk." Balas Hito.
Kring...
" Hallo,..."
" Gue Nathan, Dom, Lo mau nemenin gue urus Aloya gak!?"
" Dom,..."
" Tentu, ketemuan dimana?"
" Tempat biasa, lalu kita ke tempat dimana RaHasiYa berkumpul."
" Ok, gue tutup." Dominiaz menutup sambungan telponnya.
" Dari siapa?" Tanya Heru.
" Nathan, mau ngurus Aloya. Sorry To, gue cabut dulu." Jawab Dominiaz beranjak pergi
" Kita ikut." Ucap Heru menyusul Dominiaz yang diikuti oleh yang lain.
****
__ADS_1
Seusai drama keluarga Jimmy, para sahabat duduk memenuhi ruangan tengah.
Dua sahabat sekaligus iparan dengan wajah penuh lebam biru, kulit sobek karena terluka, dan bengkak duduk saling berhadapan terhalang meja panjang dengan sorot tatapan menghujam penuh ancaman.
" Jadi, gimana kelanjutan si Aloya, udah lama kita anggurin mereka kita biarkan atau do something gitu!" Celtuk Jeno.
" Terserah si Alfa, Bara, dan Daniel sih. Maunya gimana!" Ucap Mumtaz.
" Mereka yang punya kenangan bersama tu para brengsek." Jelas Ibnu setelah melihat para sahabatnya bingung.
" Alfa?!...." Seru mereka bersamaan.
" Nama dia kan emang gitu, sekarang dia harus menghadapi masa lalu dia apapun yang terjadi jangan lari lagi apalagi pake ganti nama. Mulai saat ini tidak ada lagi Jimmy, hanya ada ALFASKA, kecuali lo PE-NGE-CUT!!" Mumtaz Menatap penuh tantangan langsung ke netra hitam Alfa.
" Nantangin gue Lo." Balas Alfa geram.
" Jangan banyak bacot, buktiin aja langsung! Lo berani atau kagak!" Mumtaz memprovokasi.
" Tapi mama korbannya." Ujar Haikal.
" Takdir, Kal. Takdir, Lo jangan kompor." Peringat Mumtaz tajam.
Semua orang terdiam tidak berani komentar lagi, pikir mereka Mumtaz dalam mode serius.
" Ini boleh terserah gue ya! Sekarang juga gue oke!" Tantang balik Alfa.
Para sahabat saling lirik mulai gugup.
" Ayo, Lo mundur say good bye sama bini Lo." Ancam Mumtaz.
" Dalam mimpi Lo!" Alfa beranjak menyampirkan jaket kulitnya ke pundak, para sahabat pun mengikutinya.
Bara berdecak melempar kulit pinggiran pizza, beranjak mengikuti yang lain.
" Nu, Lo telpon Nathan Wilson." Tukas Mumtaz.
Saat hendak melewati sofa dimana Zayin tertidur terdengar teriakan yang membuat para sahabat berhenti.
" Ini si Zayin ditinggal?" Teriak Raja yang duduk di bawah sofa panjang dimana Zayin tertidur telungkup dengan nyenyaknya.
" Raj, seriusly Lo corat-coret muka Zayin pake makeup si Ita?" Tegur Ubay.
" Raj, biar somplak dia anak TNI loh. Jangan macam-macam." Peringat Rizal.
" Udah santai aja, sekarang kan dia cuma anak biasa bukan anak TNI." Ucap santai Raja yang masih memegang lipstik Dista.
Plak!!!
Juan memukul kepala Raja gemas.
" Lo lihat." Tunjuk Juan ke atribut Angkatan Laut di bagian lengan seragam serba hitam Zayin.
" Astagfirullah," muka Raja memucat.
" Ambisi dia jadi anggota Denjaka loh." Ibnu menakuti Raja.
" Kalian jangan bikin gue takut lah." Raja segera menghapus semua karyanya di wajah Zayin.
" Yin, bangun. Yin..." Rizal menggoyangkan lengan Zayin berniat menggoda Raja yang sudah panik.
" Bang, jangan dulu, elah. Sana kalian, kita nyusul tunggu di depan." Panik Raja.
" Yin,... Ayo..." Giliran si Haikal menggoda Raja
" Bang,..." Raja merajuk.
" Ini susah amat dah, ini makeup apa cat tembok sih susah amat dihapusnya." Cerocos Raja gusar
" Segitu takutnya Lo sama si Zayin." Seloroh Rizal.
Raja mendelik kesal," kalau tanpa seragam kebesarannya kagak gue."
" Ini ada apa kalian ngelilingi gue? Zayin merubah dirinya menjadi duduk mengamati orang-orang disekitarnya.
" Lo mau ikut eksekusi Aloya gak sama yang lain." Raja bergegas berucap sebelum yang lain membongkar perbuatannya.
" Kuy lah." Zayin langsung siaga seperti tidak baru bangun dari tidur nyenyak.
Kala hendak memegang handle pintu utama mereka terpergok bunda Hanna.
" Tengah malam gini kalian mau kemana?, Dan jangan bohong." Tegas Hanna.
Tidak ada satupun yang menjawab sampai akhirnya mereka menyerah
" Mau eksekusi Aloya." Jawab Daniel.
****
The Baraz.
Para ibu yang memaksa ikut khususnya Sandra yang punya dendam kepada Celine Miranda kini berjalan sambil bergandengan tangan karena takut dengan suasana mencekam yang sudah terasa saat memasuki hutan.
Para ayah tak punya pilihan selain ikut karena khawatir, semula Dista dan Ayunda juga ingin ikut, namun ditolak oleh seluruh orang. Alhasil mereka berdua sedang bobo cantik di kamar Ayunda.
Bara sengaja tidak mengubah apapun disekitarannya untuk menjaga tekadnya membalaskan dendam kepada siapapun yang menculik sepupu dan sahabatnya.
Memasuki hutan di tengah malam bukan lah keputusan bijak untuk menjaga jantung sehat, tetapi mereka pun tak bisa hanya menunggu saja di rumah sementara para anak yang menurut mereka sedang melakukan sesuatu yang membahayakan.
Suara menggonggong dari beberapa anjing Labrador lapar menambah kesan mencekam hutan di tengah suramnya penglihatan, setelah menempuh perjalanan selama 20 menit terlihat lah bangunan tampak dari luar dulunya oasti megah.
The Baraz, sejak pintu utama dibuka untuk mereka semua mata langsung mengamati sekitaran ruangan demi ruangan yang mereka lewati sampai kepada pintu besar berwarna coklat kusam.
Begitu pintu terbuka bau anyir dan yang lainnya tak sedap menyeruak membuat Setiap orang menutup hidungnya.
Para orang tua, para teman, para om, dan keluarga Wilson terbelalak miris melihat keadaan Rudi dan Rafael yang menyedihkan terbaring lemah hanya dengan pengobatan seadanya ditengah kesakitan yang parah.
Pun demikian dengan Fiona, dan Celine. Mereka masih dn gan pakaian yang sama saat mereka menyerang rumah Mumtaz.
Wajah penuh lebam, luka menganga yang mulai bernanah di beberapa bagian tubuh yang tidak bisa digerakkan karena patah.
Walau tak berdaya Rudi yang memang seorang bangsat menatap target korbannya dengan cemooh, tersenyum smirk seperti beberapa tahun lalu kepada Alfaska.
" Kau,..." Tangannya mencoba menunjuk mengarah ke Alfaska," bo.. bocah ke...kesa...yanganku..." Senyuman smirk mesum dan melecehkan tersungging dari bibir Rudi.
Tubuh Alfaska dan Daniel yang sebenarnya sejak memasuki hutan sudah gemetar ketakutan karena kenangan masa lalu yang kembali melintas, sepanjang jalan tanpa mereka sadari saling menggenggam tangan guna saling menguatkan, kini harus dengan susah payah menghadapi musuh terbesarnya bagi kejiwaannya.
Mumtaz bergeming memperhatikan mereka berdua khususnya Alfaska.
Alfaska dengan wajah datar memberanikan diri melangkah maju mendekati Rudi yang terkapar payah, saat Daniel hendak menghampirinya Radit mencegahnya dengan mencekal kencang tangan Daniel, dan menggelengkan kepala kala Daniel menoleh padanya untuk protes.
Alfaska dan Rudi saling melempar tatapan mengintimidasi, " Hallo, jerk." sapa Alfaska sarat membunuh dengan suara dingin nan datar dengan kaki yang sengaja menginjak, dan menekan telapak tangan Rudi yang terkulai lemah di lantai.
" Aaaarrrggkkhhh." ringis Rudi dengan wajah memucat, dan dada naik-turun cepat karena kekurangan oksigen akibat beberapa tulang rusuknya yang patah.
Celine, Fiona menjerit ketakutan, Celine memegang kaki Alfaska memohon ampunan untuk berhenti menyiksa keluarganya.
Dengan santai Alfaska menghentakan kakinya sehingga Celine terjungkal menghantam tembok
__ADS_1
" Gaya Lo udah basi kakek tua, kalau bukan karena Wilson yang meminta nyawa lo udah gue bunuh Lo pada." geram Alfaska.
Entah mengapa Suara Alfaska terdengar enteng terkesan lega, para sahabat tersenyum kala mendengarnya.
Victor menatap Alfaska penuh dengan kebencian dan dendam.
Alfaska menoleh padanya, " dan untuk Lo gue punya hadiah. Keluarkan orang itu." dia memberi kode pada para penjaga.
Dua orang penjaga menyeret seseorang yang sudah tidak bisa bergerak dengan tubuh kurus penuh luka bernanah dan membusuk tercium dari tubuhnya bau anyir darah yang menyengat.
Lagi, Para ibu dan yang lain menatap orang itu dengan ngeri dan berteriak kaget, karena orang tersebut seperti mayat, tetapi belum mati.
Victor dan Fiona menatap putranya dengan terkejut, mata Victor yang semula penuh dendam berubah takut kala menyadari hal apa yang mampu mereka lakukan.
" Sa...Samu...el..." ucap fiina tergagap melihat tubuh putranya yang menyedihkan.
Meski mendengar dan ingin meminta pertolongan, tapi Samuel diam bergeming. tubuhnya sudah tak mampu digerakan karena luka yang meradang dan infeksi belum lagi luka dalam akibat pukulan yang di dapatnya dulu.
" Ini akibatnya mencoba merusak seorang Atma Madina." ucap bara santai.
' Jangan kan Lo yang sudah tua renta anak Lo yang muda dan bugar juga K.O. Jadi diam lah berhenti bertingkah." peringat Alfaska tajam.
" Hahahaha, uhuk ...uhuk..." tawa Rudi merendah yang diakhiri batukan karena kekurangan oksigen.
" kalian pikir kalian sudah mengalahkan Aloya hanya dengan membakar Surga Duniawi dan menyiksa kami? ini tidak seberapa, tunggu pembalasan dari para kolega kami." ancam Rudi meski nyawanya di ujung tanduk.
" Maksud Lo mereka yang Lo sebut kolega?" sarkastik Ibnu yang memutar video live pergulatan panas Brotosedjo dengan Tamara, dan Pramono dengan Amara di layar besar disalurkan lewat laptopnya.
Wajah Rudi menggelap penuh amarah, dengan sekuat tenaga yang kepayahan Rudi mencoba bangun dari pembaringannya, dan mencoba menyerang Alfaska yang tentu saja dengan mudahnya menendang wajah tak berbentuk Rudi hingga dia menghantam tembok.
Rudi yang keras kepala masih mampu menatap nyalang mereka.
" Sepertinya mereka terlalu sibuk berasyik mesum dengan anak dan istrimu, Aloya." ucapan Mumtaz membuat semua mata terbelalak kaget termasuk Rudi sendiri.
Rudi menatap pada Mumtaz penuh pertanyaan.
" Bukan hal yang sulit bagi RaHasiYa mengetahui identitas Tamara a.k.a Tanura sebagai putri Lo." ucap Mumtaz santai.
" Gak perlu kaget begitu, seharusnya Lo berhenti ketika Celine dan Adinda di usir dari rumah Atma Madina seperti yang kolega Lo bilang. Mulai detik ini sampai nyawa Lo hilang Lo akan melihat adegan ranjang mereka." putus Mumtaz.
Rudi mengeram kesal karena ketidakberdayaannya
Kini tatapan Mumtaz beralih kepada Victor," dan itu termasuk Lo."
Ibnu menambah video di layar besar itu, dan menampilkan adegan panas Gabriella dengan Alexander.
" Bagaimana rasanya anak perawan polos Lo sudah menjadi binal seperti ibunya?" tanya Bara dengan senyum devil-nya.
Wajah Victor memerah menahan emosi, dia marah karena usahanya menjauhkan putrinya dari dunia prostitusi gagal.
Victor memukul-mukul pelipisnya ke lantai berharap otaknya rusak dan dia meninggal.
Daniel melangkah berdiri tepat di depan Victor," nikmati persetubuhan keluarga kalian di tempat khusus untuk Kalian yang sudah Wilson sediakan." ucap dingin Daniel.
Wajah Victor dan Rudi memucat pias mendengar nama itu.
Kini tatapan keduanya menyiratkan permohonan kepada mereka.
" Bu...bunuh...saja...kami." mohon Rudi meringis kesakitan..
" Mati, saat ini untuk kalian adalah masih terlalu mewah." ucap Daniel.
Para penjaga menyeret mereka setelah Bara melempar kan kode pada mereka.
Saat hendak menyeret kedua tubuh itu terdengar rintihan dari arah pojok kanan mereka.
Mata mereka sontak kaget melihat rupa Adinda yang biasa terlihat sexy, dan cantik kini semrawutan masih dengan pakaian pengantinnya.
Di sekitarannya tercium bau tak sedap dari cairan yang berasal dari selangkangannya ada beberapa bekasnya telah kering, mulai kering, akan kering, dan masih basah.
" Akkhhh...to...long a...ku. sentuh....aku...* lirihnya dengan suara lemah dan bergairah.
Bara menatap para penjaganya dengan alis terangkat bertanya.
" Dia masturbasi bos, sepuluh kali dalam sehari itu juga minimalnya." jawab salah satu penjaga.
" Dengan kalian?" Bara memberi tatapan jijik pada mereka.
Mereka menggelengkan kepal cepat," solo." jawab salah satu penjaga tersebut.
Mata Adinda mengerjap-ngerjapkan kecil kala matanya tertuju kepada Zayin yang berdiri dekat Raja.
" Zayin,...aku mohon sentuh aku..." lirihnya dengan kedua tangannya mencoba menggapai-gapai Zayin, karena tak dihiraukan Adinda pun merangkak dengan gestur menggoda menggoyangkan tubuhnya.
Sandra yang kesal melihat tingkah mantan calonnya itu tiba-tiba menendang kencang Adinda yang terjungkal langsung terkapar di lantai.
" Eiyouw...jijik..." jerit Sandra mengernyit jijik.
Celine murka putri cantiknya dihinakan.
KAU, wanita sialan!" Umpat Celine tiba-tiba menyerang Sandra.
BUGH!!!
Tonjokan tepat mengenai wajahnya yang langsung menjatuhkan lawan dari Sandra berhasil membuat para pria ternganga kaget.
" Aw, cuih yew... Jijik!!!" Jerit Sandra mengelap tangannya ke kaos Radit yang kebetulan berdiri di samping Sandra yang maju untuk menonjok
Celine bangun terduduk, dimana Sandra berdiri menjulang, Sandra mundur beberapa langkah dan menatap jijik celine.
" HEH, jaga lambe bau joging Lo, Lo yang sialan! Dasar penipu. Lo kata anak Lo gadis baik, Pemalu, cerdas, dan rumahan. Tapi apa? kenyataanya dia binal, gak tahu diri, oon, dan pelacur hiperseksual." Sandra balas mengumpatnya tanpa ragu.
" Anak Dugong mau Lo serahin ke kita, bajingan banget hidup Lo." Sembur Sandra kesal .
Celine mengerang murka ingin dia menghajar balik Sandra, namun diurungkan karena tatapan mengancam dia seluruh pasang yang ada.
Setelah keadaan kembali kondusif para penjaga meneruskan tugasnya menyeret kedua tubuh itu.
Sepanjang kedua tubuh itu diseret jeritan memohon ampunan dilontarkan nyalang oleh Fiona, dan Celine sampai terdengar ancam dari Bara.
" Berhenti lah, sekarang waktunya bagi kalian musnah." suara tajam Bara mampu membuat kedua wanita terdiam bergetar ketakutan...
****
Dini hari dalam cuaca dingin mereka telah sampai di tempat yang di tuju Wilson.
Dua tubuh yang tergelatak bebas di tengah halaman luas suatu bangunan mewah mengundang para anjing lapar penjaga rumah.
Di masing-masing sisi mereka telah disiapkan liburan dengan nisan bertuliskan nama mereka.
Para anak buahnya menyeret kedua tubuh itu masuk ke liang kubur dangkal itu, mereka membaringkan tubuh mereka dengan kaki berselonjor, dan menutupnya dengan timbunan tanah merah sampai leher mereka.
Wilson sungguh mengubur mereka hidup-hidup...
" **saya mengucapkan terima kasih kepada para reader yang menikmati novel ini.
* saya mengharap LIKE, Komen, HADIAH, dan VOTE nya ya...
__ADS_1
see you again**...
.