
" Hahahhaha,...."
" Sumpah, ini baru pertamakali gue demo endingnya terenyuh gini, masa mereka pada nangis kita udahan?" Ucap si kacamata.
" Kan emang baru ini Lo demo, Bambang." Seru si kribo
" Sok aktivis, Lo." Si kurus menoyor kepalanya temannya.
Anak RaHasiYa masih terus bersenda gurau dan terjebak dalam euforia 20 hari aksi mereka sambil melangkah ke rumah Aida.
" Kalian darimana?" tanya Alfaska bosan.
" Eeu, si bos..maafkeun kita baru balik, macet bang." jawab si kribo.
" Lia-nya mana?" Tanya Elena dari ambang pintu.
Mumtaz dan para sahabatnya masih duduk nongkrong di teras memperhatikan mereka.
Mereka saling melempar pandang bingung mendengar pertanyaan itu," lho bukannya pulang bareng sama para abang." Jawab si kurus.
" Bukannya kalian yang ditugasi bareng mereka." Alfaska beranjak ke depan mereka.
Yang membuat anak RaHasiYa menegang, " ta...tapi mereka gak bareng kita." Sahut pelan si Ceking.
" Maksud Lo mereka gak bareng kalian? mereka datang ke sana sama kalian, seharusnya pulang sama kalian." Suara Alfaska mulai meninggi,
Alfaska maju memukul si Kribo, rasa lelah dan khawatir menyulut emosinya, ia m3mvkul si kribo.
Bara dan Daniel kaget, lalu beranjak memegangi dan menjauhkan Alfaska dari kribo yang terhuyung mundur karena tindakan agresifnya.
Elena yang kaget refleks berteriak,
" Fa, woy jangan begitu." Tegur Bara.
Warga yang masih banyak yang terjaga melihat itu, hanya melihat saja, bagi mereka ini sudah biasa.
" Tapi mereka gak bertanggung jawab, bilang kalau kalian enggan menjaga mereka." Alfska terus memukulinya.
Keributan itu memicu Gama dan Aryan yang duduk di ruang tamu, sementara Zahra turun dari kamarnya keluar ke teras rumah, mereka sontak terkejut melihat Alfaska mengamuk, Bara dan Daniel kesulitan memisahkan mereka.
Plak..
BUGh...
BUGh..
Semuanya terkejut melihat Mumtaz menampar lalu menghajar Alfaska, hingga terjerembab. " Jangan mengumpati mereka hanya karena satu kesalahan Lo lupakan kebaikan mereka yang selama ini bekerja keras menjaga para bocil." Ucapnya tegas.
Sementara Mumtaz marah, Ibnu memilih mengeluarkan MacBook dari ranselnya, menyalakan, kemudian dia menghubungkannya dengan ponsel Mumtaz.
" Muy, Tia gak ada.." Alfaska kaget karena serangan itu, akibatnya dia menyolot
" Bukan cuma Tia yang ga ada, Lia, Cassy, dan Ita juga gak ada." Bentak Mumtaz kesal.
" Dia istri gue." Alfaska berdiri dan mencekal kerah kemeja Mumtaz
" Lo pikir hanya karena kita belum nikahi mereka, kita gak khawatir?" Mumtaz menghempas kasar tangan Alfaska dari kerahnya.
" Lo gak paham, Muy. Gue baru kehilangan mami, gue gak bisa kehilangan dia." Alfaska menjambak rambutnya kesal bercampur geregetan.
" Terus Lo mau pamer ke gue sama Inu yang yatim piatu kalau kalau Lo masih punya bokap? Dia adik gue, sebelum ketemu Lo dia tumbuh besar bareng gue." Hardik Mumtaz.
Suara henyakan terdengar disekitarnya, Alfaska dan yang lain terdiam terpukul pada realita yang ada.
" Lo jangan marah berlebihan begini, Lo ngamuk gak bisa bikin masalah selesai. Kita cari, gak guna Lo ngamuk sama mereka."
" Ini gak akan terjadi kalau mereka becus menjaganya."
" Seperti yang tadi Lo bilang, dia bini Lo, Lo yang bertanggungjawab atas dirinya, kenapa Lo nyalahin mereka. Lupa Lo prinsip pertanggungjawaban? Apa gue salah percayakan dia ke elo?" Todong Mumtaz langsung,
Alfaska limbung, dadanya sesak mendengar rentetan perkataan sahabatnya itu, pupil matanya yang semula menyalang marah, kini meredup sayu. Sorot matanya kini menyiratkan penyesalan.
Mumtaz mengabaikan sorot mata yang menurutnya menyebalkan itu, ia berbalik membantu Kribo berdiri. Pengabaian dari sobatnya bagai Godam yang menghantam dadanya, Alfaska meringis menekan kain kaos dadanya. Ia sungguh sesak, bagai kekurangan oksigen.
" Bang... kita yang salah, kita yang lalai..." interupsi si kurus, tidak ingin para atasannya berkelahi.
Mumtaz menatap anak buahnya," Gue pantau kalian selama aksi, gue gak lihat kalian lalai, kalau sekarang kalian kecolongan, kita evaluasi."
Kini tatapnya jatuh ke Alfaska yang terjatuh di lantai, karena syok akan perkataan Mumtaz.
" Alih-alih Lo ngamuk yang cuma buang waktu, mending kita cari solusinya. Capek gue lihat Lo amarah terus, coba kurangi emosi Lo."
Perkataan itu melahirkan ketakutan pada diri Alfaska, sorot matanya menggamang tak terarah.
Mumtaz melangkah ke arah Ibnu yang sudah sibuk dengan macbooknya.
Grep..
Dari belakang, Alfaska memeluk erat Mumtaz, " Muy, maafin gue. Gue tahu gue pemarah, dan cepat emosi, Lo jangan lelah sama gue, gue gak mau Lo tinggalin, hiks... Muy..."
Mumtaz memutar bola matanya malas." Bar, lepasin sepupu Lo yang lebay ini dari gue, jauhin dia dari gue."
" Males." Bara melengos menjauh dari mereka berjalan ke meja.
" Niel.." kini Daniel yang menjadi harapan Mumtaz.
" Gue capek, mau istirahat." Daniel pun meninggalkan mereka.
" Ah elah, Fa, jijik gue Lo peluk-peluk gini, lepas gak!?" Mumtaz menepuk-nepuk keras tangan Alfaska.
" Gak mau, Lo maafin gue dulu, gue gak mau kehilangan Lo."
" Ucapan Lo kayak Lo belok tahu, gak. Kalau Lo gak lepas gue tinggalin Lo beneran ni ya!" Mumtaz mulai jengah.
Walau keberatan, pada akhirnya dia melepas pelukannya, dia diam memandang punggung Mumtaz yang menjauh darinya.
" Fa, lain kali jangan singgung tentang orang tua, mereka terlalu banyak menderita soal itu." Ujar pak RT menepuk bahu Alfaska.
Mumtaz yang mendengar omongan pak RT mengigit bibir bagian dalamnya, ia selalu merasa terenyuh sekaligus tidak senang dengan kepedulian tetangganya pada mereka.
Usaha keras mereka menjadi pengganti orang tua agar dia dan saudaranya tidak kehilangan kasih sayang orang tua, justru menambah rasa rindunya pada kedua orang tuanya, hingga rasa kehilangan itu semakin hari semakin nyata, waktu belum bisa menyamarkan rasa itu, meski ayahnya telah lama pergi.
__ADS_1
" Bubar, bubar...selama kita cari lokasinya kalian shalat isya dan istirahat sebelum ada komando bertindak." Seru Bara.
Merekapun membubarkan diri, termasuk para warga yang kembali ke tempat tujuan mereka semula.
Elena segera menelpon Dominiaz mengabarkan hilangnya Sisilia dan yang lain padanya.
15 menit kemudian Dominiaz, dan Samudera datang berbarengan dengan kedatangan Heru dan Hito sert anak buah lainnya.
Tepat Ibnu berhasil melacak keberadaan mereka, " Muy, syukurnya gambar mereka tertangkap oleh drone, mereka dibawa oleh beberapa orang kayaknya orang Indonesia. Kalau dari gerak-geriknya sedari awal kedatangan mereka diawasi oleh orang-orang itu."
Mereka berkumpul mengelilingi meja bundar kecil tersebut.
" Setelah gue konfirm dengan alat pelacak lo, mereka menuju wilayah Banten." Lanjutnya.
" Apa plat mobilnya tertangkap?" Tanya Dominiaz.
" Mereka di masukan ke Van putih, dengan platnya B2224."
" Banten...Muy, kamu telpon paman kamu, Haidar." Seru Aryan.
" Hah?" Mereka bingung.
" Haidar teman papi, masa mudanya, pamanmu itu termasuk preman, aish, bukan..apa ya..namanya kayak jagoan kampung gitu..."
" Jawara?" Tebak Ubay.
" Nah iya, kalau kita kejar takutnya kita gak sempat, kamu hubungi beliau saja."
" Tengah malam ini, apa gak ganggu?" Tanya Mumtaz tak enak hati.
" Beliau bangunnya jam dua." Imbuh Khadafi.
" Tahu darimana Lo?" Tanya Daniel.
" Aku khadam junior beliau. bahasa kalian ya asisten."
Mereka Melihat ke jam tangan mereka, sekarang baru jam satu, " kelamaan, keburu gak ke kejar, lihat sinyal dari alat pelacak Lia semakin melemah, itu artinya dia semakin menjauh ke tempat yang sinyalnya rendah.
" Tapi ada Aa Fajar, anaknya. Dia ada di Jakarta." Celetuk Khadafi.
" Ngapain?" Tanya Daniel.
" Kuliah, dia juga ikut demo" Ucap Khadafi sambil mencari kotak Fajar.
" Lo gak bilang." Kata Mumtaz.
" Aku kan gak bisa hubung Aa, selama aksi aku juga terjebak dirumah ayah Birawa sama si Ayu bawel." Jawab Khadafi sambil menunggui sambungannya diangkat.
" Assalamualaikum, A.." dalam Khadafi saat sambungannya dijawab.
Selama menunggu panggilan Khadafi ke Fajar, semua pasang mata tertuju pada pergerakan empat titik biru.
" Bantennnya ke arah mana?" Suara bariton Zayin dari belakang Dominiaz mengejutkan mereka semua.
" Pandeglang..." Jawab Ibnu.
" Daerah Pandeglang, Jar. Gue jemput Lo aja ya, Lo dimana?"
" Gimana?"
" Beliau di kostan temannya di slipi, beliau akan langsung telpon Abi, beliau nunggu kita di kebon jeruk supaya langsung masuk tol."
Mereka serempak beranjak mempersiapkan diri.
" Fajar, berarti sepupu Lo, Muy. Kenapa dia gak nginep di sini?" Tanya Rio sambil memasukan barang-barang yang dibutuhkan ke dalam ransel.
" Aku udah nyuruh nginep di sini, tapi beliau malu, katanya gak dekat." Sahut Khadafi.
Drrt....
" Halo.." Khadafi menjawab telpon yang masuk.
.....
" Oke,..gue kirim... Hp Aa standby selalu ya... Saya tutup."
" Bang, kata A fajar, disuruh kirim gambar mobil penculiknya ke beliau supaya gercep dicari." Ujar Khadafi pada Ibnu.
" Bang, kirim ke hp gue juga, ada rekan yang tugas di sana." Seru Zayin yang langsung melesak masuk ke dalam rumah.
Ibnu mengambil tabs Mumtaz yang sudah menyimpan file penculikan itu, kemudian mengirim foto mobil Van tersebut pada paman Fajar dan Zayin.
" Kalian minum dulu." Zahra sudah membawa beberapa cangkir air hangat dia tas nampan.
Mumtaz mencegah Ragad yang hendak mengambil cangkir tersebut, ia menggeleng.
" Lo harus nyetir, bisa beli di jalan." Bisik Mumtaz yang membuat Ragad bingung.
" Muy,..." Kata Zahra.
" Aku gak haus, kak. Beneran aku butuh kopi ketimbang air hangat." Ucap Mumtaz memberi kode dengan gelengan pelan.
Mumtaz Sangat paham, Kakaknya akan mencampurkan obat tidur ke dalam minuman itu, disaat emosi bercampur lelah menyatakan seperti sekarang.
" Kita berangkat aja langsung." Ujar Bara seraya berdiri.
Namun gerakan mereka tertahan saat ponsel Mumtaz berbunyi dari nomor tidak dikenal, ia meloudspeak volume ya.
" Hallo.."
" Hallo, Mumtaz. Apa kau kehilangan pacarmu?"
Ponsel Mumtaz yang telah dimodifikasi dengan alat pemindai suara langsung bekerja mencari identitas penelpon, muncul nama Alfred Navarro dilayarnya.
" Navarro... berani kamu menunjukan diri setelah mengusik milikku."
" Hahahaha, punya nyali juga kamu bocah tengik. Dosamu padaku terlalu banyak."
" Oh, ya..apa itu? Saya tidak pernah berhubungan dengan mu."
Terdengar tarikan nafas diseberang." Kau telah membuay cucu lelakiku trauma, menjatuhkan mansionku pada kekuasaan Gaunzaga. Jadi kau dan Guanzaga harus membayarnya."
__ADS_1
" Kau melupakan Ivanka mu, aku memberikannya pada Raul Gonzalez." Imbuh Mumtaz menambah murka Alfred.
" Kau suruh Gaunzaga pergi dari mansionku, atau pacarmu habis di tangan ku."
Baru Mumtaz hendak menjawab, ponselnya direbut Elena.
" Navarro, kau salah menyentuh putriku, kalau kau berani menyentuh putriku, seluruh abu keluargamu ku kirim kepadamu dimanapun kau berad." Bentak Elena.
" Wow Elena, impresif. Ku akui keberanian Gaunzaga, tapi saat ini kau salah menempatkannya. Putrimu, cucu kesayangan Riina, nasibnya ada di tanganku, sebaiknya kau suruh saudari pergi dari mansionkuuu..." Hardik Alfred tidak sabar.
" Huh, ini Gaunzaga, pantang mundur, apalagi lawannya selevel lalat sepertimu. Aku hanya kehilangan satu putriku, tapi kau...seluruh ahli waris dari istri dan simpananmu aku ratakan dengan tanah." Gertak Elena.
Setelah mengucapkan perkataan itu, dia mengembalikan ponsel pada Mumtaz, tubuhnya terhuyung ke belakang yang langsung disanggah oleh Gama.
Dapat Gama rasakan tubuh istrinya gemetar hebat, air matanya luruh, Gama membawa istrinya kedalam pelukannya.
" Navarro, urusan keluarga mu yang berada di jauh saja bisa aku sentuh, apalagi soal membebaskan pacarku yang masih di Indonesia, itu bukan perkara sulit bagiku. Setelah urusan ini selesai, kau m4ti di tanganku." Ucapan terakhir Mumtaz mengagetkan semuanya.
" Kalian pergilah dulu, gue masih ada urusan yang lain. Bar, Lo pimpin mereka, Fajar mungkin sudah menunggu kalian." pinta Mumtaz.
Kita pergi." Daniel memimpin mereka ke mobil masing-masing, yang kemudian melaju meninggalkan pekarangan rumah.
" Mum..." Panggil Elena yang kini duduk di kursi Dimaling Gama.
" Iya, Tante..." Mumtaz mengambil tangan Elena yang terkirim padanya.
" Kau bisa membebaskan Lia-ku, kan!?" Lirih Elena memohon.
Mumtaz menepuk-nepuk punggung tangan Elena yang menumpu tangannya.
" Pasti, Tante. Aku pertaruhkan diriku untuknya. Tante tahu betapa aku menyayangi mereka dan sangat mencintai Lia. Do'akan kami, Tante." Ia mencium tangan Elena dan para orang tua lainnya.
Begitupun dengan Dominiaz dan petinggi Gaunzaga serta Ibnu dan Zayin.
" Kalian, tolong jaga mereka." pinta Mumtaz.
" Pasti, bang." Jawab si kacamata.
Kribo meju ke depannya." Bang, maafin kelalaian gue, kalau gue gak lalai..mereka..."
" Jangan merasa bersalah, Navarro punya banyak cara menculik mereka, hari ini sialnya mereka saja." Mumtaz menepuk pundak kribo.
" Oo...mm. maaf ya ..."
" Sudah, gak apa-apa. Mumtaz aja yang pacarnya santai, apalagi saya. Udah biasa mah ini." Dominiaz memotong perkataan si kurus.
" Kita pergi... assalamualaikum." Salam Dominiaz sebelum keluar dari teras
" Wa'alaykumsalam.."
Dengan Fortunernya, mumtaz melaju apartemen seseorang. Jalan yang ramai pengendara, tidak menghalangi Mumtaz untuk mengebut diantara kendaraan lainnya. Tidak jarang dia mendapat umpatan dari pengendara lainnya.
" Woy, **** you..." Teriak pengendara motor padanya.
Mumtaz menurunkan seluruh jendela kaca mobilnya, tanpa kata dia mengacungkan jari tengahnya pada sang pemotor.
Ibnu, Zayin dan yang lain terperangah, pasalnya hal itu dilakukan dengan wajah terpasang tenang tanpa emosi.
Dominiaz menggeleng atas tindakan kepala calon adik iparnya tersebut, sambil mengetik pesan untuk Rodrigo.
" Dom, adik ipar Lo, lebih menakutkan ketimbang psikopat enggak sih." Bisik Samudera.
" Hmm."
" Lo gak apa-apa Lia sama dia?"
" Jangan banyak bacot, Sheira sama Akbar, lo oke?" Seloroh Dominiaz.
Arrgkkh..ish. Kenapa jadi begini." Erang Samudera kacau.
" Kenapa dia?" Tanya Hito.
"Dominiaz mengedikan bahunya," gak tahu, gue cuma ngomong soal Sheira sama Akbar."
Kekehan Hito terdengar geli," ada perang ketiga sich ini mah. Moga aja akhir cerita gak kayak Romeo Juliet."
Ckittt ...
Mobil berhenti tepat di depan lobby apartemen mewah di kawasan elit Jakarta.
Mumtaz melempar kuncinya pada petugas Valley parkir tanpa menghentikan langkahnya.
Di lobby mereka bertemu Rodrigo dan Alejandro beserta para asisten masing-masing yang duduk menunggu di sofa lobby, namun Mumtaz mengabaikan mereka.
Ridrigo menatap sekilas bertanya pada Dominiaz yang mengkodelewat kepalanya untuk mengikutinya
Karena ada wajah Rodrigo dan Alejandro, beserta Dominiaz sebagai salah satu penghuninya lah Mumtaz yang bertampang biasa saja bisa dengan mudah masuk ke dalam lift menuju unit yang ditujunya.
" Saya berasumsi kamu sudah tahu dimana unitnya Mateo." Ucap Dominiaz sarkas.
" Hmm, dia bukan orang penting yang keberadaannya harus dirahasiakan." Sahut Mumtaz.
" Jleb." Celetuk Samudera.
Pintu lift terbuka pada lantai 20, merek berbelok kiri. Mumtaz memasukan kata sandi pintu, kemudian mereka masuk tanpa kendala.
" Sampe sandinya kamu tahu." Masih Dominiaz yang mengomentari tindakan Mumtaz.
" Hanya deretan angka, gak susah." Balas Mumtaz yang mendapat decak malas dari calon kakak iparnya itu.
Setelah memasuki ruang tamu," Nu, ruang kerja dia di sana." Tunjuk Mumtaz kepintu berwarna coklat yang didepannya ada meja kecil tempat vas berisi bunga segar indah, tanpa protes Ibnu dan Samudera langsung memasukinya.
Sementara Mumtaz yang diikuti yang lain naik ke lantai dua, langsung membuka pintu berwarna puti Zayin berkeliling memeriksa ruangan.
Tampak Mateo tertidur pulas dalam balutan selimut abu-abunya. Mumtaz menyingkirkan selimut itu dari tubuhnya, langsung menarik kedua kaki hingga kepalanya membentur lantai hingga mateo terbangun karen kaget.
Namun Mumtaz tidak menghentikan langkahnya, ia menyeret Mateo menuruni tangga, lalu melemp4rnya keras ke dinding.
Tindakan Mumtaz itu mengejutkan semuanya, wajah tenang nan innocent mampu berbuat ses4dis itu. sungguh mereka tidak bisa mempercayainya, namun itulah yang mereka lihat.
ironisnya sorot mata itu tidak terlihat amarah, benar-benar tenang atau memang Mumtaz tidka merasakan apapun...
__ADS_1