
Setelah melihat tulisan Mumtaz Hito keluar dari ruangan dengan tatapan kosong berjalan secara lunglai, penampilannya semrawut. Semalaman dia menghubungi dan mencari Zahra, namun tak berhasil. Dia berharap dapat melihat Zahra dan menemaninya di waktu dukanya.
Tubuhnya dia sandarkan di dinding ruang inap Jimmy, mengusap wajahnya menghalau lelah.
" Kak,..." Eidelweis menghampirinya menepuk pelan pundak Hito yang terlihat lesu.
" Aku salah ya Del, tapi sumpah aku gak tahu Ziva mengikutiku." Parau Hito.
" Si Ziva sepertinya suka sama kamu, aku lihat kau tidak menolaknya. mungkin Zahra berpikir kau menyukainya dan mengkhianatinya." terang Eidelweis.
" Aku udah bilang aku gak nganggep dia ada, aku sedang melakukan sesuatu untuk melawan nenek." ucap penuh tekanan dari Hito membuat Eidelweis diam.
" Apa Zahra tahu semua yang kau pikirkan? semua yang kau lakukan?" tanya Eidelweis.
Hito tertegun, dia tersentak kala menyadari hal penting yang luput dari perhatiannya. komunikasi! selama hampir satu bulan ini komunikasi diantara mereka minim sekali, dia bahkan tidak mengantar-jemput Zahra seperti janjinya
"Aaarrgghh." teriaknya yang terendam dalam kedua tangannya yang menutup wajahnya frustasi.
" Ibnu, " panggilnya kala Ibnu dan yang lain melintasi Hito.
" Apa?"
" Boleh saya minta rekaman tentang Zahra selama ini?"
Diam sesaat.
" Untuk apa?" om sudah sama si Zivara itu kan?" tanya Ibnu skeptis.
Hito meringis melihat respon negatif dari Ibnu yang sedang berperan sebagai saudara laki-laki Zahra.
" Tidak, kekasih saya hanya Zahra."
" Heh, lucu. Kami tidak melihatnya seperti itu. kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan mantan sahabatnya daripada dengan kak Ala!" Cibir Ibnu yang berdiri menghadap Hito dengan kedua tangan dalam saku celana.
" kak Hito..." Zivara berlari kecil mendekatinya.
Hito melirik tipis kearahnya.
" Apa benar kalau jenazah Tante Aida sudah dipindahkan?" tanya Zivara terkesan khawatir.
Eidelweis yang geram dengan tingkah laku tak berdosa Zivara menghadang Zivara yang hendak menyentuh lengan Hito." Lo dokter sini, Lo bisa periksa itu dibagian informasi rumah sakit ini. modus Lo kampungan tahu gak?" cela Eidelweis yang membuat Zivara tersentak kaget.
" Edel..." tegur keras nenek yang keluar dari ruangan Adelia.
" Apa salahnya dia mengkhawatirkan sahabatnya." ujar nenek.
" cuih... make status yang otw mantan. gak PD Lo make diri Lo sendiri." ketus Ibnu menghadap Zivara langsung.
" HEH KAMU..."
" APA?" timpalan Bentak Ibnu ngotot.
" Dengar nenek keriput, daripada anda mengurusi urusan tak penting pelakor amatir macam si Husain ini mending anda urusin nasib Hartadraja corp yang pamornya makin merosot." Tuding Ibnu santai dengan tatapan dingin menghujam.
Nenek Sri diam menahan emosi.
Mereka yang menyaksikan sontak kaget dengan keberanian Ibnu pada nenek Sri.
Ibnu melirik Hito yang diam," kalau om masih minat mencari tahu apa yang terjadi dengan Kak Ala datang saja ke RaHasiYa." tukas Ibnu melenggang pergi dengan santai tanpa beban.
Hito mengangkat wajah menatap Ibnu," tentu." teriaknya tak peduli tempat, dan pergi dari sana.
" Kalian hanya diam melihat bocah kencur itu melawanku?" jerit dramatis nenek.
Fatio dan keluarga Hartadraja yang lain hanya menatap dalam diam kepergian Ibnu yang sudah lancang membentak nenek.
******
" Kak, udah sampai." Seru Zayin menatap Zahra sendu berdiri di pintu penumpang telah dibukanya.
Zahra menatap pemandangan di luar jendela mobil dimana sudah banyak jamaah yang hendak menshalatkan mama, terbukti ketika ambulance berhenti para santri berebut mengangkat keranda mama.
" Tahu, itu kenapa bisa ramai gini?" Tanya Zahra.
" Pihak pesantren yang berinisiatif menshalatkan mama." Jawab Mumtaz menghampiri mereka dengan seorang berpeci hitam, berpakaian Koko dan bersarung.
" Assalamualaikum, teh." Salam orang tersebut.
" Wa, alaikumsalam, eh mang Syarif. Masih inget Ala?" Tanya Zahra ke salah satu khadim (asisten) kakeknya.
" Masih lah. Siapa sih yang lupa sama cucu Abi yang centil." Canda mang Syarif.
" Hehhehe...Inget ae. Ini siapa yang menggerakkan?" Tanya Zahra mengarah ke orang-orang yang mengerumuni mobil ambulance.
" Mang Muhan, begitu dapat telpon dari teteh pihak pesantren langsung mensikapinya. Bagaimanapun ceceu Aida putri Abi." Terang mang Syarif.
Zahra dan saudaranya tertegun menanggapi ucapan mang Syarif.
Dengan haru Zahra berucap," terima kasih...bilang ke mereka keluarga mama mengucapkan terima kasih."
Menahan air mata yang hendak jatuh mang Syarif menggeleng," tidak perlu, itu sudah seharusnya. Teteh mau turun atau menunggu di maqbaroh (tempat pemakaman)?"
" Di maqbaroh aja."
Seorang lelaki dewasa dengan nafas berat berpeci putih, berbaju Koko, bersarung berusia empat puluh lima tahun berlari tergesa-gesa kala mengetahui dari asistennya bahwa ada orang yang meminta ijin menggunakan ambulance pesantren dan memakamkan ibunya di tempat pemakaman keluarga.
Hari ini dia terbangun kesiangan karena semalam baru pulang dari pulau seribu memenuhi undangan ceramah, alhasil pukul sepuluh pagi ini dirinya baru bisa menemui asistennya.
Air matanya terus mengaliri pipinya walau sudah dihalau puluhan kali.
" Zahra,..." Panggilnya parau mendekati para keponakannya yang karena kebodohan dan keserakahannya sudah puluhan tahun tidak dia lihat.
Para keponakannya yang duduk mengitari makam ibunya menoleh dengan tatapan bingung.
" Mang haji Idar..." Seru Zahra dengan suara bergetar mendatangi pamannya yang mendekat menitah para adik mengikutinya, mereka mencium tangan paman mereka.
Haidar menatap makam dengan tanah yang masih segar itu dengan tatapan penyesalan, sesampainya di pinggir makam dia tersungkur menjatuhkan diri menangis.
__ADS_1
" Maaf, teh. Maafin Idar. Kenapa teteh datang tanpa memberi idar kesempatan untuk meminta maaf. Maaf, teh. Tolong maafin Idar." Tangisnya mengusap-usap undakan makam Aida.
Para keponakan beserta santri hanya bisa melihat dalam hening.
Setelah melakukan tahlilan singkat dan do,a Haidar menitahkan asistennya untuk membuat jadwal pengajian selama 40 hari di makam, dan memaksa para keponakannya mengadakan Tahlilan sampai tujuh hari meninggalnya Aida di pesantren.
Haidar Ardani Romli pop urea dari Ardani Romli seorang pemimpin dari pondok pesantren Al-Falahiyah, pesantren salafiyah modern terbesar di daerah Banten.
Haidar membawa para keponakannya ke area pesantren yang maha luas, begitu mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah sederhana semua orang turun kecuali Amanda dan Mayang.
Mereka merasa sungkan untuk turut turun karena pakaian mereka yang walaupun tertutup tapi masih terbilang sexy karena mencetak badan ditambah mereka tak memakai kerudung.
" Kenapa gak ikut turun?" Tanya Zayin heran.
" Lo gak lihat pakaian kita?" Tunjuk Mayang ke dirinya sendiri.
" Seperti biasa gak bikin kalian terlihat cantik." Lidah lemes Zayin berhasil membuat Amanda menimpuknya dengan jeruk yang dipegangnya.
" Ayo turun, itu resiko kalian yang doyan banget pake baju sempit." Paksa Zayin.
Dengan berat hati mereka pun turut turun dari mobil.
Sepanjang mereka berjalan, semua santri yang berpapasan dengan mereka menundukkan kepala.
" Kalian duduk dulu." Tunjuk Haidar ke permadani besar dalam ruamah, Haidar membawa mereka ke sebuah rumah yang masih terawat meski seperti sudah tidak berpenghuni puluhan tahun yang tak jauh dari kediamannya.
Zahra menekuri keadaan rumah masa kecilnya dengan sedih.
" Maaf, karena kesalahan Mamang kalian harus pergi dari sini. Sebulan setelah teteh Aida pergi mamang baru tahu akan kebenarannya, dan semuanya sudah terlambat." Sesal Haidar.
" Kalau boleh tahu apa yang terjadi?" Tanya Mumtaz penasaran, ketika orang tuanya memutuskan pindah rumah dia berumur empat tahun.
Pandangan Haidar mengembara ke masa lalu dan dengan suara pelan menceritakan segalanya.
Dari fitnahan istrinya yang dengki terhadap Aida yang menganiaya dan mengusirnya dari pesantren, kemarahannya akibat percaya akan kebohongan istrinya yang benuntut pengusiran Haidar terhadap kakak dan keluarganya.
Yang ternyata dilakukan sang istri hanya untuk menguasai pesantren yang sebenarnya berdasarkan wasiat sang ayah ditujukan kepada Aida.
Pengambilalihan paksa penguasaan hak waris Aida atas hasutan istrinya yang serakah sampai akhirnya Haidar mengetahui semua kebohongan itu dari salah satu khadim yang sudah tidak tahan lagi untuk bungkam menceritakan kebenaran semuanya.
Saat haidar mengetahui semuanya, dan mendapati istrinya yang tidak menyesal atas semua kejahatannya saat itu juga Haidar mentalak sang istri, dan memulangkannya kembali kepada keluarganya.
" Hanya karena harta, kekuasaan, dan wanita mamang memutus kekeluargaan." Gumam Zayin terkesan meremehkan.
Haidar mengangguk sambil menunduk." Maaf, setelah mengetahui kebenarannya amang mencari teteh, tapi tidak berhasil. Setiap do,a amang berharap dipertemukan dengan teteh sebelum ajal menjemput." paraunya pilu.
Haidar beranjak menuju sebuah meja besar di pojokan ruang tamu, dan mengambil sebundel map.
" Ini semua hak waris mama kalian, amang sudah mengembalikan apa yang amang ambil. Di dalamnya ada rekening yang amang buka untuk menyimpan Setiap penghasilan yang didapat dari warisan teteh, insayAllah tidak berkurang sedikitpun." Haidar menyodorkan map tersebut ke hadapan Mumtaz selaku anak lelaki tertua.
Mumtaz menggesernya ke hadapan Zahra selaku anak pertama yang duduk di sampingnya" kakak yang simpan, kakak, anak tertua." Zahra hanya mengangguk.
" Di situ tertera kepemilikan atas tiga hektar sawah, dua hektar kebun teh, satu hektar tanah perkebunan rempah-rempah, akta tanah rumah ini, dan dua ratus lima puluh gram perhiasan emas." Terang Haidar yang membuat para keponakan dan sahabatnya melongo dan terbengong.
Hanya sesaat namun cukup menggelikan bagi Haidar. Mumtaz menormalkan wajahnya, " Terima kasih, mang. Semoga semuanya diberkahi."
" Amiinnn!"
" Kalian lagi ngapain?" Tanya Zahra yang berdiri di daun pintu kamar yang ditempati Mumtaz dan Zayin.
" Sini, kak." Zayin menarik tangan Zahra masuk ke dalam kamar.
" Lihat,..." Ujar Mumtaz.
Di laptop yang dibawa Mumtaz mereka sedang mengamati ruang tunggu rawat inap Jimmy yang dipenuhi oleh orang, dan Ibnu yang sedang berbicara dihadapan mereka.
" Jimmy udah balik?" Mumtaz dan Zayin mengangguk.
" Masih hidup?"
Mumtaz mengalihkan cctv ke ruang inap Jimmy yang tertidur karena efek obat penenang.
" Adik bungsu kita gagal jadi janda muda." Ucap asal Zayin yang mendapat geplakan di kepala dan punggung dari Mumtaz dan Zahra.
" Bukan Jimmy yang jadi fokus utama, tapi ini." Mumtaz mengganti saluran ke cctv yang memperlihatkan Hito yang bersandar lesu di tembok luar ruang inap Jimmy dengan penampilan berantakan dan lusuh.
" Apa ini yang ingin kakak lihat dari Hito?" Tanya Mumtaz sembari menatap lurus Zahra.
" Kalian tuh ngomong apa? Ngapain bahas dia kita ini sedang berduka." Zahra mengelak.
" Jangan seperti orang yang tidak beriman, insyaAllah mama sudah tenang." Ujar Zayin telak.
Semalam dalam waktu senggang mereka sebelum membawa jenazah, Mumtaz dan Zayin berbincang-bincang ringan yang terungkap jika selama ini mama selalu mengkhawatirkan emosi Zahra berkaitan dengan hubungannya dengan Hito.
Mama tidak ingin Zahra memendam perasaannya lagi hanya karena keluarga, mama ingin Zahra berjuang untuk kehidupan pribadinya.
" Mama ingin kakak bahagia, jika itu harus dengan Hito, kita dukung, mama dukung. Abaikan saja ulah nenek yang terpenting Hito nya." Seru Zayin dengan semangat.
Sesaat Zahra terdiam," Ziva,..."
" Jangan gegabah, lihat Hito," Zayin menunjuk monitor laptop, sebagai lelaki Ayin tahu kalau Hito sedang frustasi. Kalau memang masih ragu omongin baik-baik, jangan diam-diam Bae, ngambil kesimpulan sendiri, putusin sendiri, Akhirnya nyesel sendiri. males aing!" Sewot Zayin.
" Aing...aing...kenapa Lo yang sewot. Sejak kapan kamu urusin perkara cinta orang?" Sebal Zahra.
" Sejak mama sering curhat khawatirin kebahagiaan kakak, Mama ingin kakak egois dengan hubungan kakak dan Hito." Jawab Zayin menggebu.
Zahra diam bergeming.
" Muy, nasib Husain, gimana? Zahra mengalihkan pembahasan, dia sungguh tidak nyaman membicarakan percintaannya dengan Zayin yang bicara tidak pernah difilter
Zayin mencebik menyadari Kakaknya menghindar." Terus aja ngehindar... Terus... Pengecut." Cibir Zayin, Zahra tidak menanggapi segala sindiran Zayin.
" Ini..." Mumtaz memperlihatkan berita bisnis yang dihebohkan kebangkrutan Husain group.
" Kalau menurut perhitungan Aa, seharusnya mereka hari ini mengajukan pailit ke pengadilan niaga."
" Pailit itu bangkrut bukan sih?"
" Kayaknya, tanya aja sama Hito, kan dia bisnismen." Sindir Zayin
Zahra hanya mendelik," kalian benar-benar menghabisi mereka ya!?"
" Salah sendiri bikin kakak nangis!" Ucap Mumtaz santai, Zahra tertegun.
" Hartadraja corp otw Husain group karena udah bikin nangis kakak." Mumtaz menampilkan artikel tentang kemerosotan posisi Hartadraja corp.
Zahra mematung setelah membaca artikel itu," apa kalian bisa membebaskan Hartadraja corp?" Tanya ragu Zahra.
__ADS_1
" Enggak, beruntung kita masih mandang hubungan kakak dengan Hito, kalau enggak Aa bisa langsung buat mereka koleps."
Zahra mengamati seksama dua adiknya ini, dia baru menyadari jika mereka tak bisa dianggap remeh.
" Dengan Hartadraja masalah kehormatan keluarga, Aa hanya memperlihatkan kepada nenek harta dan kekuasaan bisa dikalahkan dengan kemampuan. Bukan masalah kakak dengan Hito." Mumtaz menjelaskan, karena tak ingin kakaknya salah paham.
Mencoba menetralkan suasana dan hatinya Zahra," Hito, Hito... Gak sopan, panggil dia kakak, atau om. Bagaimanpun dia lebih tua dari kalian." Jengah Zahra.
" Cih, labil. Kemarin marah, sekarang ngebela dasar perempuan. Umur boleh bertambah, kelabilan masih dipertahankan." ucapan lemes dibarengi Zayin beranjak menuju ruang makan, dia belum makan.
Mumtaz berdiri mendekati Zahra dengan masih menatap lurus Zahra,
" Gunakan otak jenius kakak untuk hal ini, kebahagiaan perlu diperjuangkan menyakiti bukan berarti jahat!" Usai mengucapkan kata itu Mumtaz meninggalkan Zahra sendiri yang masih menatap Hito di tengah keributan Ibnu dan nenek.
******
Setelah turut serta melakukan shalat gaib di area rumah Aida keluarga Hartadraja berkumpul di ruang keluarga kediaman Aznan.
Selagi berbincang santai masuklah Hito dengan aura menyeramkan dan langsung melempar semua benda yang ada di ruang keluarga.
Dengan wajah merah karena marah Hito membalik meja, ruang keluarga di kediaman Aznan sudah berantakan tak berupa karena amukan Hito. Para wanita menjerit ketakutan melihat tatapan nyalang Hito yang merah. Amukan Hito masih berlangsung diakhiri dengan lemparan vas bunga besar sedangkan para lelaki hanya membiarkannya.
" Bukankah kalian seharusnya menenangkan Hito dan tidak hanya menonton?" Teriak nenek Sri.
" DIAM, kau nek. Semua karena nenek!" Bentak Hito.
Nenek tersentak," Apa maksud kamu?"
Jengah dengan sikap sok tidak mengerti neneknya Hito melempar iPad nya ke pangkuan sang nenek yang berisi perbuatan nenek kepada Zahra.
" Berani-beraninya kau mendatangi dia dan menghina dia sebagai wanita rendahan dan mata duitan, serta menyuruhnya memutuskan ku." Geram Hito.
" Nenek tidak menghinanya, apa yang nenek ucapkan nyata. Dia memang tidak pantas untuk kita."
" Aku tidak peduli tentangmu. Ini hidupku aku yang menentukan siapa yang pantas untukku!"
" Hito, nenek tahu siapa yang pantas untuk mu?"
" siapa? Zivara itu? aku tidak tertarik dengannya, dia bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Zahra-ku."
" kau tidak menolaknya seperti wanita lain yang nenek sodorkan padamu."
" Bukan soal aku menolak atau tidak, kau pasti tahu aku tidak menginginkannya. bukankah itu penolakan?" sarkastik Hito.
" HITO, kita seorang Hartadraja harus bersanding dengan orang yang terhormat."
" Kau pikir aku bangga memiliki satu nama denganmu? Tidak!! aku tidak bangga, aku malu!" hardik Hito yang melenggang pergi dari ruangan menuju kamarnya.
" HITO..." nenek tersentak dengan komentar Hito.
Hito tak menggubris teriakan nenek, dia tetap melangkah ke kamarnya
Tak lama dia membanting satu map ke pangkuan nenek.
" Lihat, dan amati isi map itu." Seru Hito tajam
Nenek melihat isi dari map tersebut, matanya membola terkejut mendapati Hito merubah nama belakanganya.
Ternyata Hito menghapus nama Hartadraja di belakang namanya dengan hanya menggunakan 'Hito Arvenio'.
" Itu semua sudah legal. Aku sudah keluar dari Hartadraja, kau tidak bisa mengancamku lagi. Sekarang aku Hito Avenio, itu identitasku!" Seru Hito tegas matanya menatap seluruh kalan Hartadraja
Semua orang terkejut dengan langkah extrimnya.
" Kau... melakukan ini hanya untuk gadis itu?"
" Tidak hanya dia, tapi aku yang tidak ingin satu nama denganmu. Perbuatanmu rendah, dan itu memalukanku." Telak sadis Hito.
Nenek tersentak mematung dengan kemarahan cucunya yang selama ini selalu tenang dan selalu memperhitungkan segala tindakannya.
" Aznan, Dewi. Apa kalian tahu akan hal ini?" Tanya nenek.
" Iya, tahu. Dia meminta ijin kami sebelum melakukan itu." Jawab Aznan.
" Kalian membiarkannya? Kalian tahu kan apa konsekuensi dia keluar dari nama Hartadraja?"
" Dia menjamin dia akan bahagia, dan bagiku kebahagiaan anakku di atas segalanya." Ujar Aznan sambil menyesap tehnya.
" Jangan naif, Aznan. Hito akan kehilangan posisinya di perusahaan. Dia akan jatuh miskin."
" Bukankah nenek sendiri sering mengancamku akan mencopot jabatanku kalau aku tidak mematuhi perintah nenek? jangan bersikap seolah kau peduli padaku" Sarkas Hito.
" Dan aku muak akan ancaman nenek, sekarang aku tunjukan siapa aku padamu. Dengan melepas nama Hartadraja nenek tak bisa lagi mengintimidasi ku.
" Hito, kau tidak bisa melakukan ini!"
" Tentu saja bisa, dan aku sudah melakukannya. Aku hancur, jika Zahra ku tak kembali aku tak Sudi bertemu lagi denganmu."
"HITO..." ucapan Hito berhasil membuat takut nenek.
" Kau ingin lihat penolakan ku bukan?"Kau akan lihat penolakan ku kepada Zivara Husain yang ku yakinkan akan mempengaruhi persahabatan dua nama ini."
" Kau tega melakukan ini pada nenekmu?
" Kau tega menghancurkan ku! seharusnya kau tahu Zahra adalah hidupku! tanpanya bahkan dirimu tak berarti apa-apa untukku!"
Semua orang terhenyak mendengar penuturan Hito.
" Kak, aku tahu kau mencintainya tapi apa tidak berlebihan dengan ucapannya itu?" ucap Eidelweis hati-hati.
" Kamu bisa tanyakan kepada Heru apa saja yang terjadi padaku selama hampir lima tahun ini, kalau bukan karena Zahra mungkin aku sudah mati."
semua pasang mata memandang Heru yang diam, dengan menarik nafas berat Heru angkat bicara.
" Tragedi kecelakaan itu berhasil membuat Hito depresi dalam penyesalan, selama ditahan para sipir bahkan harus memisahkannya dengan tahanan lain karena dia sering mengamuk. hanya kunjungan Zahra lah yang berhasil mengikis rasa bersalah itu. dia bahkan menuntun Hito kembali mendekat pada Allah."
" Maksud kamu Zahra sering datang ke tahanan?" tanya Dewi yang tidak tahu penderitaan anak lelakinya.
Heru mengangguk pelan, bahkan dia tersenyum," seminggu dua kali, dia yang berhasil mengeluarkan Hito dari kegelapan rasa bersalahnya, bahkan dia pernah memukul kepala Hito pake tas yang terus meminta maaf dan mengancam agar ayahnya menggentayangi Hito setiap malam."
Hito terkekeh mengingat kejadian itu, dia ingat wajah jengah Zahra setiap kali dia meminta maaf.
" Ara yang bikin Hito dapat menjalani semuanya dengan baik, Ara yang bikin Hito percaya kalau Hito orang baik, Ara dan keluarganya yang masih menerima Hito setelah Hito menjadikan mereka yatim." suaranya memelan di akhir kalimat dengan perasaan sendu.
Sepi,
Hening,
Semuanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
" Hito sudah dewasa dia tahu apa akibat dari perbuatannya. Sekarang kita harus berkumpul di perusahaan membicarakan CEO baru dengan pemegang saham lainnya." seru Aznan beranjak keluar rumah.
jangan lupa like, komen yang positif vote juga ya...
__ADS_1