
Sisilia yang sudah Sepuluh hari sakit karena demam akibat makan dan tidur yang tidak teratur dipaksa diistirahatkan dir uang ketimbang di rumah sakit karena harus fokus pada kesehatannya yang semakin menurun.
Sisilia tenaga berjemur di halam samping sambil mengambil pisang bolen coklat kesukaannya ketika ponsel yang ditaruh di meja taman Dominiaz berbunyi.
" Ha...."
" Dom, cepetan Mumtaz sudah tidak sabar...."
" Kak Mumuy, kenapa?" Sisilia memotong ucapan Samudera.
Samudera yang diseberang mendadak terdiam ia merutuk dalam hati.
" Eeee..HH. ini Lia ya?"
" Jangan belaga pikun, Om. Kak Mumuy kenapa?" kalau Dominiaz mendengar dia berbicara tidak sopan pada temannya ini sudah pasti dia akan dimarahi tapi saat ini dia hanya ingin menghilangkan rasa penasarannya.
" Mumtaz udah dipindahkan ke rawat inap dan dia udah gak sabar ingin bertemu dengan Abang kamu."
Sisilia duduk tegak di kursi taman," Kapan kak Mumuy sadar? kok tidak ada yang kasih tahu Lia, om?"
" Eee...h soal itu..." Samudera sadar telah melakukan kesalahan.
Klik....
Sisilia dengan tidak sopannya memutus sambungan tersebut dan berlari masuk ke dalam rumah.
" Momy...mommy....kak Domin...Daddy...." Sisilia berteriak meski suaranya masih terdengar sedikit sangau.
Semua orang yang dipanggil muncul dari rah arah yang berbeda mendekati Sisilia yang bermuka masa.
" Ada apa? Kenapa musti teriak, Lia? kamu perempuan...."
" Kenapa kalian tidak memberitahu ku kalau Kak mumuy sudah sadar? kalian tahu kan selama sebulan ini aku mengkhawatirkannya? kenapa kalian tega tidak memberitahuku mengenai kabar gembira ini." ucap sisilia sambil menangis.
"KENAPA? apa kalian sudah tidak menyukai hubungan kami? apa mommy kembali menentang kami? apa kalian ingin memisahkan kami? kalian tidak bisa... uhuk..uhuk...."
" Jangan berpikir melantur kemana-mana, itu jawabannya sayang. kamu sakit dan harus istirahat." Gama mendekatinya, ia mengulurkan tangan hendak memeluk Sisilia yang ditolak langsung dengan menjauhkan diri.
" Bohong, kalian pasti sedang merencanakan sesuatu untuk memisahkan kami, aku cuma sakit demam Dad...hiks." Sisilia menyeka kasar airmatanya, dia kecewa pada keluarganya.
" Padahal kalian tahu kesadaran kak Mumuy adalah harapan terbesar ku, tapi kalian..." Sisilia berlari cepat keluar rumah, dia terus berlari melintasi taman depan.
" Dadd, Dom...gimana ini..."mendengar ibunya panik Dominiaz langsung berlari menyusul, pun demikian dengan Gama.
Namun Gama memilih menyuruh sopir untuk mengeluarkan mobil," Mom, mau ikut gak?" teriak Gama.
Elena berlari tertatih-tatih," ikut." keduanya lantas masuk mobil.
" Jalan, pak." titah Gama pada sang sopir.
" Pak tutup gerbangnya.." titah Dominiaz ditengah mengejar Sisilia yang larinya lumayan cepat.
Saat sisilia hendak mencapai gerbang, pintu tersebut tertutup rapat.
" Buka .. bukakan pintunya pak." teriak sisilia histeris. dua pak satpam yang berjaga hanya bisa diam serba salah, mereka kasihan melihat tampang nona mudanya dengan piyama dan sandal rumahnya terlihat sedih, tapi mereka lebih takut pada tuan mudanya.
" Ya, tenang. Lia mau kemana?" Dominiaz menarik dan merengkuh Sisilia yang memberontak.
Sisilia melengos ia enggan melihat ke arah kakaknya, dia kecewa.
Tin...tin....
Mobil BMW hitam berpenumpang Gama dan Elena sudah bertengger di depan mereka, Elena mengeluarkan kepala dari kaca jendela," masuk, kita ke rumah sakit."
tanpa protes, Sisilia masuk ke dalam mobil dengan memasang wajah cemberut.
" Ya,..."
" Pak jalan." Sisilia menyela Ucapan Elena. Sepenjang jalan wajahnya menekuri pemandangan luar terhalang kaca pintu.
Saat tiba di rumah sakit, tidak menunggu mobil berhenti penuh Sisilia sudah berlari kencang memasuki rumah sakit.
Brakh....
Semua penghuni kamar menoleh pada pintu yang dibuka keras yang telah berdiri sisilia dengan piyama lengkap sandal rumah berkepala kelinci nan imut berwarna pink.
Dua orang mata saling bertemu mengikat satu sama lain melepas rindu sekaligus lega.
Sisilia terduduk di lantai menangis terharu penuh syukur, dia lega bukan mimpi, mata netra hitam dengan sorot lembut itu kini bisa ia lihat lagi.
Sisilia menyela air matanya sembari berdiri lalu melangkah pelan, baru tiga langkah, kakinya terhenti,, senyumnya menghilang, ia tertegun kaku dengan hati tercubit sakit saat menyadari ada sosok perempuan cantik duduk manis di samping brankar Mumtaz layaknya pasangan serasi.
Di tengah drama dalam pemikiran Sisilia semau pasang mata menatap takjub kecantikan alami khas Italia yang sangat memukau penghuni kamar yang hari-harinya disuguhi produk dalam negeri berkualitas dibawah level SNI.
Tatapan memuja yang ditujukan padanya diabaikan sisilia yang terus menatap Mumtaz yang sudah bebas dari alat medis yang membelenggunya selama ini yang tersisa hanya infus di tangan.
Mumtaz tersenyum sumringah akhirnya bisa melihat kekasihnya yang sangat dia rindukan, namun senyuman itu perlahan luntur saat netra biru kekasihnya beralih ke sisinya yang ternyata ada Bella yang duduk di kursi tengah memegang potongan apel yang semula diniatkan untuknya yang dia lupakan seketika disaat pintu itu dibuka.
Paham kesayangannya itu salah paham, Mumtaz menggeleng kepala, dia gusar saat Sisilia kembali tersenyum namun dalam makna lain, berbeda ketika Sisilia masuk tadi.
Mata Sisilia mengedar ke penjuru ruangan, dia baru sadar di ruangan itu ternyata banyak teman mahasiswa Mumtaz dari BEM gabungan kampus." Sepertinya aku mengganggu, maaf, lain kali saya kemari." Sisilia berjalan mundur.
" Tidak, jangan...pergi..." ucap tertahan Mumtaz sedikit menegakkan badan sambil memegangi dadanya, ketika Bella berniat membantu Mumtaz menolaknya dengan menepiskan tangan Bella di sikunya.
Jeno yang paham beranjak ke pintu, " Sil...dipanggil Mumtaz." ia menarik masuk Sisilia dan berharap gadis itu mengurungkan niatnya.
" Ini sedang banyak tamu, nanti aku kemari lagi." ucap Sisilia dengan seulas senyum terpaksa.
Jeno membawa Sisilia ke brankar Mumtaz. " Kamu yang paling diharapkannya, kamu sudah sembuh?" Sisilia mengangguk pelan.
Setelah memastikan Sisilia berdiri di tempat terdekat dengan Mumtaz, Jeno memberikan satu tangan gadis itu pada Mumtaz yang langsung diterima dengan bersemangat.
" Kamu gak perlu cemburu sama yang lain, saingan kamu masih tetap Ibnu." ucap Jeno yang sengaja dibesarkan agar terdengar oleh Bella yang jelas masih mengharapkan Mumtaz.
Mumtaz terkekeh mendengarnya," hai,..." sapanya lembut.
" Ha ..hai ..." Sisilia gugup, dia menyadari sekarang dirinya dan Mumtaz menjadi pusat perhatian.
" Udah sembuh?" dengan cepat Sisilia.
" Ka..kakak udah berapa lama sadar?"
" Semingguan lah, baru empat hari yang lalu pindah kamar. Kangen banget aku sama kamu."
" Maaf,..aku gak di sana..."
" Awalnya kecewa, kamu termasuk orang pertama yang pengen aku lihat, tapi bang Domin bilang kamu sakit, jadi aku sabar kok."
Melihat langsung bagaimana Mumtaz bersikap lembut pada Sisilia selalu menyakitkan, Bella ingin memutar waktu, dia sangat ingin punya harapan kembali bersama Mumtaz, tapi sejauh ini segala upayanya belum melahirkan celah diantara mereka.
Risih karena ditatap intens Bella, Sisilia mencoba menarik tangannya dari genggaman Mumtaz, namun Mumtaz menahan, Mumtaz malah mengecup punggung tangan putih halus tersebut begitu khidmat.
Semua orang menganga, mereka tahu Mumtaz berpacaran dengan Sisilia, tetapi selama ini selain berpegang tangan dua insan tersebut tidak pernah bertindak berlebihan bahkan terkesan terlalu biasa hingga banyak orang meragukan rumor itu karena terlihat hanya berhubungan teman.
__ADS_1
" Kenapa?" tanya Mumtaz pada para temannya yang melihat dia bagai makhluk asing.
" Lo nyivm dia." ucap berambut cepak.
" Pacar gue, Kenapa Lo keberatan." jawab Mumtaz tidak suka.
" Kakak gegar otak?" ceplos Sisilia yang disambut tawa tertahan oleh para temannya.
" Ya,.."
" Maaf, tapi kakak aneh. apa darah dari donor yang kemarin yang masuk ke badan kakak ada darah playboy ya?"
" HAHAHAHAHHAHA....kemarin Rio juga donorin Lo, Muy. mungkin darah dia yang bikin Lo begini." seloroh Jeno.
" Sayang,..." protes Mumtaz
" Kakak, aku yang merasa aneh kalau kakak kayak gini."
." Kamu gak suka?"
" Suka, tapi kalau dadakan gini kan jadinya gimanaaaa...gitu."
Ceklek....
Dua perawat memasuki ruangan membawa obat.
" Maaf, tuan Mumtaz, waktunya minum obat."
" Sus, berapa kali saya bilang panggil saya Mumtaz saja." Mumtaz sangat risih dengan panggilan tuan dari para staff rumah sakit.
" Panggil tuan saja, Sus." anulir Sisilia.
" Ya..."
" Kalau suster disuruh manggil kakak hanya dengan panggilan Mumtaz nanti mereka berkhayal manggil kakak,
sayang. No, big no." tolak Sisilia.
" Maaf, calon ibu anak-anak saya inginnya demikian, jadi kalian harus menurutinya.
" Mum, makan apel dulu yuk. dari tadi kamu batal makan karena banyak interupsi yang menggangu." Bella melirik Sisilia, tangannya terangkat ingin menyuapi Mumtaz.
" Si Bella bego, nyari penyakit lawan harimau Itali." bisik Ubay yang didengar para tamu yang duduk di sofa.
" Maksud kak Bella, saya?"
" ngerasa?"
" Enggak sih, apa kak Mumtaz merasa terganggu karena kedatangan aku?" tanya Sisilia pada Mumtaz.
" Gak sama sekali, malah senang."
" Mum, AA..." Mumtaz tidak menyambut uluran makanan dari Bella, ia malah mengambil garpu itu, lalu memberikannya pada Sisilia.
" Apa?" meski sisilia mengambil garpu tersebut, namun dia juga bingung.
" Suapi aku." Mumtaz menarik tangan itu, dan memasukan potongan apel ke mulutnya.
Wajah Bella memerah karena malu ditolak di depan para temannya yang menahan tawa untuknya.
Setelah memakan beberapa potong apel perawat itu memberi obat berupa tablet dan dicampur ke dalam cairan infus, mereka langsung pergi setelah tugasnya selesai karena risih terhadap mata tajam Sisilia yang mengawasi mereka dengan ketat.
Ceklek...
" Perempuan perusak hubungan orang sudah kembali." ucap sinis Ibnu yang mendapat decakan malas dari Sisilia.
Ibnu menarik kursi yang diduduki Bella agar lebih menjauh dari brankar Mumtaz membuat Bella terjangkit kaget merasa melayang.
" Siapa yang perusak, situ ya yang perusak, karena telah jelas dan terang aku ini pacar tercinta, tercantik, dan tersayang Kaka Mumuy, tolong sadar diri." cerocos Sisilia siap bertempur seperti biasa jika berhadapan dengan Ibnu yang posesif.
Melihat ruangan penuh meski ruang tunggu telah dibuka dinding penghalangnya, pria berkepala cepak berdiri.
" Muy, kita pamit. semoga lekas sembuh nanti kita ngumpul bareng lagi lah."
Para teman mahasiswa berjalan ke brankar Mumtaz ke sisi lain dari Sisilia berdiri.
Setelah mereka keluar tinggal dua mahasiswi yang masih duduk di sofa menemani Bella atas permintaan Bella.
" Bell, berdiri minggir, ini sempit. lo gak ikut pulang, Bell?" tanya sinis Ibnu.
" Eh, aku mau nungguin Mumtaz."
" Bell, Lo lihat itu orang?" tunjuk Ibnu pada keluarga dan para sahabat.
" Mumtaz gak perlu tambahan orang, dia gak pernah kekurangan orang untuk membantunya. sedari awal Lo gak diperlukan di sini." ucap Ibnu pedas.
" Sil, si Bella dari hari pertama Mumtaz pindah ke rawat inap selalu datang, memanfaatkan kondisi kamu yang sakit." ungkap Ibnu yang tiap harinya dibuat kesal oleh Bella yang bertingkah sok mengatur.
Sisilia melihat ke Mumtaz karena curiga.
" Aku gak pernah nyuruh." Mumtaz berucap cepat.
" Aku yakin dia ingin menikung kamu." provokasi Alfaska, sang ahli memanaskan suasana.
" Berhasil?" tanya Sisilia masih menatap Mumtaz.
" Ya enggak lah, Kak Inu jadi pawang aku."
" Kalau gak ad akak Inu?" Sisilia bersedekap dada.
" Tetap enggak berhasil. Aku yakin dibawah sadarnya, Bella tahu aku tidak akan pernah goyah baik olehnya maupun perempuan lain. sekali aku mencintai satu perempuan, aku akan mencintainya secara total. cerita aku dan Bella telah usai dan tak akan terulang kembali saat aku memutuskannya untuk berpisah dengannya. Dan aku yakin hal itu yang bikin kamu jatuh cinta sama aku dalam waktu yang sangat lama." Mumtaz sekali lagi mengecup punggung tangan Sisilia.
Mahasiswi yang mendengar meleleh akan ungkapan yang menurut mereka begitu romantis.
" Permisi..permisi. profesor cantik ingin memeriksa pasien favoritnya." ucap Zahra maju melangkah di tengah banyak pengunjung.
Tepat melewati Bella, Zahra berhenti," Apa saya harus melaporkan kamu ke polisi agr kamu tidak mengganggu adik saya? berapa kali kami harus menolak mu agar kamu sadar diri bahwa kamu tidak diterima? berkali-kali kamu mencoba meyakinkan saya kalau kamu berubah, dan memohon diberi kesempatan, tapi sikap tidak mau mendengarkan orang lain itu mencerminkan kamu sama dengan Bella saat kamu masa putih-abu, sosok yang kami benci karena sikap arogan kamu."
Bella menunduk dalam, dia sangat malu dihina dan dipermalukan di depan orang lain.
" Kalau aku pikir kami akan merasa tidak enak hati untuk mengoreksi sikap arogan kamu, kamu salah penilaian. semakin kamu tidak tahu diri, semakin saya mempermalukan kamu. Sekarang pergi, dan jangan pernah menunjukan wajah kamu jika kamu masih mengharapkan Mumtaz sebagai kekasih kamu."
Tepat Zahra menyelesaikan ucapannya, Bella mengambil Sling bag-nya dan berlalu dari kamar.
prok...prok...prok...
" Bravo, respect buat kakak ipar aku yang vibe-nya meng-KO lawan tiada tandingan." ucap Alfaska senang."
" Gak kebayang ada cewek yang mau jadi PHO dihubungan mereka, bakal kak Zahra apain tu orang." monolog Haikal.
" Memang kak Hito ada niatan cari yang lain?" Hito menggeleng cepat merespon pertanyaan Zahra.
" Jangan didengerin omongan orang yang belum pernah berjuang dalam cinta." Hito menjitak kepal Haikal yang duduk di sofa tepat di samping dimana dia berdiri.
__ADS_1
" Satu lalat pengganggu hilang, tinggal satu lagi." ucap Sisilia melihat pada Ibnu.
" Aku?" Ibnu menunjuk dirinya sendiri.
" Untung sadar." sindir Sisilia sembari menyeringai culas.
" Dih, tolong ingat posisimu, gadis."
" Aku pacarnya yang direstui oleh seluruh keluarga dan orang-orang yang mencintai kak Mumuy. Aku yang berhak atas dirinya setelah keluarganya." kata Sisilia tegap menantang.
" Aku keluarganya, jadi aku yang lebih berhak atas dirinya." tantang balik Ibnu.
" Kalau kamu kelurga yang menyayanginya kamu tidak akan pernah menghalangi kebahagiaannya untuk bersama pacarnya. tapi buktinya kakak yang selalu jadi penghalang bagiku untuk merawatnya."
" Untuk apa kamu merawatnya kalau aku bisa merawatnya."
" Kak Mumuy, pilih kakak mau dirawat oleh ku atau kak Ibnu?" mendapat pertanyaan yang hampir tidka pernah terpikirkan Mumtaz jadi bingung sendiri.
" Karena penyembuhan ku dipimpin kak Ala, aku menyerahkan seluruh keputusannya pada beliau yang terhormat." Zahra dan yang lain melongo tidak percaya jawaban menghindar ala Mumtaz yang mengkambinghitamkan kakaknya.
" Dasar pengecut." sungut Zahra kesal.
" Bagaimana, kak?" tanya Daniel yang santai melahap pisang bolen.
" Keduanya mendapat giliran yang sama yaitu dua kali dalam sehari untuk kurun waktu masing-masing 2 jam.
" Gak bisa begitu dong kak."
" Aku gak mau." Tolak keduanya bersamaan dengan sewot.
" Cie...bareng..jodoh ini." seloroh Alfaska.
" Ting bating..." ucap Ibnu, Sisilia ditambah Mumtaz melototi Alfaska.
" Lia, kamu sakit ampe drop karena pola hidup kamu yang berantakan. belum lagi rasa kecemasan kamu yang berlebihan yang membuat kamu menjadi semakin kacau hingga kamu demam tinggi plus gejala tipus."
Sisilia diam menunduk takut, Zahra jika sudah tegas sebagai dokter, mending meng-iya-kan apapun kehendaknya.
" Dan kamu Ibnu, kakak gak mau lagi harus selalu memberimu obat cuma untuk kamu tidur. ditambah, Kaka gak suka sorot rasa bersalah kamu setiap kali memandangi Mumtaz. berapa kali kakak bilang kita keluarga, adalah hal yang wajar jika kita mengorbankan diri untuk keluarga. sebelum kamu menghilangkan rasa itu, kakak akan membatasi pertemuan kamu dengan Mumtaz." Ibnu pun diam, enggan membantah.
Mumtaz melirik Ibnu yang baru disadari jika sahabatnya ini ternyata lebih kurus dari sebelumnya. pandangannya dialihkan pada Sisilia yang masih pucat, Mumtaz menghembuskan napas lelah.
" Ya, katanya kamu ingin terlihat cantik di depan Mumtaz, ini belum mandi kamu sudah kemari mana mata masih belekan." ucap. elena memecah kesunyian.
" Iyuuuhhh...jorok, tapi kan bule memang jorok males mandi." cibir Ibnu.
" Nu,..." mumtaz kaget Ibnu berkata kasar pada Sisilia, namun tegurannya ia urungkan kala melihat radit menggeleng dan melihat gerak bibirnya yang mengatakan "biarkan."
Sisilia langsung mendelik sebal," saya belum mandi aja juga masih cantik, situ....Bulik begini jangan dibilang udah mandi kembang tuju rupa." balas tajam Sisilia.
" Ya..." Mumtaz melongo lebih kaget.
" Heh, ini bukan Bulik, tapi sawo matang, warna kulit estetik ini. para bule aja pada iri." timpal Ibnu tidak kalah sewot.
" Horeee...aku suka pertengkaran apalagi sampe pertumpahan darah." ledek Alfaska.
" Dasar kak Ibnu jelek." Sisilia berjalan mendekati pintu.
" Dih, bule gak cantik."
Semua orang menggeleng, kalau sudah begini panjang urusannya.
" HAHHAHAHAHA.. kalah, kak Inu gak bisa bilang aku jelek."
" Ck, Kenapa sih kamu jadi orang ngeselin."
" Aku sih tergantung siapa orang yang aku hadapi. situ jual, saya beli, Bambang." Sisilia membuka pintu bertepatan dengan ayunda yang mau buka pintu.
"WOW, adik bungsu kita sudah rapih dan cantik, mau kemana, dek? gak sekolah?"
" Ini Sabtu, mbak yu. dan aku mau ke tempat bimbel." dari arah lift keluar Andromeda dan Nando.
" Akhirnya ayunda yang cantik tapi diabaikan oleh orang yang menyaksikan mendapatkan lelaki baik yang perhatian padanya."
Ibnu mendelik tidak suka, sementara Ayunda mengerti bingung." wow, outfit kalian serasi dengan warna serupa, kelihatannya kalian akan pergi bareng, iya kan, Andros?"
Andromeda melirik segan pada Ibnu yang menatapnya tajam." I..iya .kak. tapi cuma ke tempat bimbel aja kok." jawab Andromeda.
" Pergi ke tempat lain juga gak apa-apa, ini weekend nikmati waktu kalian."
" Yu, tadi kak Inu bilang baginya yang terpenting hanya Kak Mumuy. apa kamu gak mencari lelaki lain yang bisa menyukai kamu seperti kamu menyukainya, gak capek selalu tidak dianggap?"
" Yang tidak menganggap dia siapa? Lia, kamu jangan provokator ya?" sewot Ibnu mendekat.
Sisilia ngibrit berlari pergi..." Mommy,...Daddy...."
" Lha, kenapa dia manggil kita terus pergi, kita kan ada di sini." ucap Elena yang tanggapi tawa oelh yang lain.
Ibnu menutup pintu, mendorong pelan Ayunda yang tidak jadi masu ruangan. dia memperhatikan ootd keduanya dan memang mereka terlihat serasi, Ibnu merasa tidak suka.
" Kalian benar mau pergi bareng?" ketiganya mengangguk.
" Kita ke sini mau menjemput Ayu, karena bang Ayin gak bisa diganggu gugat untuk Adelia." ucap Nando.
" Ck, itu itik kelakuan makin jadi." dengkus Ibnu.
" Kalian pergilah duluan, Ayu pergi sama saya."
" Kenapa?" Andromeda keceplosan bertanya.
" Kenapa Lo kayak gak suka gitu? Ibnu bicara sedikit meninggikan suara.
" Eh..maafkan bang bukan begitu maksudnya, tapi dua bulan ini kita pergi bareng.
" Dua bulan kalian pergi kemana-mana bersama?" Ibnu mulai gusar.
" Abang saat itu sibuk, jadi kami dapat tugas dari bang Ayin untuk menjaga Ayu." terang Nando buru-buru.
" Mulai saat ini gak perlu lagi, ayu kemanapun pergi akan bersama saya." Ibnu mengambil tangan Ayunda,
" Lo bisa pergi duluan." ucap Ibnu sebelum memasuki ruangan Mumtaz.
" Kami mau menjenguk bang Mumtaz." Nando dan Andromeda turut masuk.
"Silakan, tapi nanti pergi aja duluan." Ibnu mendudukan ayunda di sofa mengusir Jeno dari sana yang mendelik sambil misuh-misuh.
" Kayaknya Lo kedepannya bakal sibuk ya, Nu." celetuk Daniel.
" Kenapa?"
" Itu ngurusin Ayu, dia sudah banyak penggemarnya lho."
Ibnu terdiam, dia memperhatikan Ayunda yang memang terlihat makin cantik, perasaaan tidak nyaman mwnrpa dirinya....
__ADS_1