
Suara dentuman peraduan antar benda besi samar-samar terdengar sampai rumah sakit, mereka kira ada ledakan Gas di daerah sekitar.
" Dokter....dokter..." Teriak panik dua warga saat masuk ke lobby rumah sakit
" Ada apa, pak?" Tanya sang petugas administrasi.
" Panggil dokter, diluar ada kecelakaan beruntun." Jawab bapak berbadan kurus dengan pakaian basah akibat air hujan.
" Tenang, jelaskan pelan-pelan." Ujar petugas menuntun dua warga tersebut.
Mendengar ucapan dua warga ditambah suara janggal yang mereka dengar, petugas administrasi lain langsung menghubungi semua tenaga medis Lewat segala macam alat komunikasi yang tersedia, mereka menerangkan sesuai yang dikatakan dua warga itu.
Para medis yang masih berada di rumah sakit dan sekitarnya langsung mengambil peralatan pertolongan pertama mereka.
Seketika suasana rumah sakit yang semula tenang menjadi hiruk pikuk dengan para petugas medis yang berlarian menuju ambulance.
Termasuk beberapa dokter dan perawat yang duduk santai di cafe seberang rumah sakit melepas penat seusai jam tugas mereka yang semula berniat pulang, kembali berlarian ke rumah sakit begitu melihat panggilan dari pihak rumah sakit dari ponsel mereka masing-masing, bahkan kopi mereka yang baru beberapa kali mereka seruput belumlah tandas.
" Tenang, seperti biasa akan kami amankan kopi kalian, bahkan kami tambah kuotanya." Seru pegawai cafe yang diacungi jempol oleh mereka, pegawai cafe sudah terbiasa melihat pemandangan ini.
Kecuali Mutia, ia membaca pesan tersebut, dengan santai, ia keluar dari aplikasi chat, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dengan anggunnya menyeruput kopi hitam kentalnya sembari menatap keluar jendela cafe seakan menikmati liburan di musim dingin di benua Eropa, diseberang sana terlihat oleh netranya para rekannya sibuk.
Beberapa ambulance keluar dari rumah sakit tersebut dengan bunyi sirine yang memekakkan suasana hening dinihari.
Bibirnya mengulum senyum smirk seakan mengolok para rekannya yang mau bekerja lembur, setelah hampir 12 jam bersiaga.
" Mbak dokternya tidak ikutan dinas? Sepertinya ada keadaan darurat." Ujar pegawai cafe yang sedang merapihkan meja bekas para dokter tadi.
" Untuk apa? Mereka sudah banyak yang turun." Ucapnya santai tanpa merasa beban.
Pegawai tersebut mendengkus sebal, dia tahu dokter itu merupakan dokter magang, tapi sikapnya sok.
******
BRUKH...
" AWWS..." Ringisan mengandung ejekan dari raut Andre dan sang wakil melihat benturan dua Van yang menghantam ambulance.
" Hahahaha..." suara tawa yang puas nan buas dari beberapa orang yang masih betah di ruang kerja m@b3s p0lri akan apa yang mereka lihat, jebakan mereka berhasil merangkap target hingga hancur melebihi ekspektasi mereka.
" Salute, tuan Valentino. strategi anda sangat berhasil." seru Guadalupe dari seberang tempat yang tampak di layar besar ruang kerja Andre.
" Selamat juga untuk anda, Nyonya. saya harap setelah ini perjanjian kita berjalan mulus." ucap seorang pria berusia pertengahan 30-an yang sedang berjemur di pantai pribadi dengan para j@l@nknya.
" Kita bisalah tos dulu, bagaimanapun jebakan Batman kita berhasil." seru Andre mengangkat gelas berisi champagne yang diikuti seorang berpin garuda.
" Tos untuk kita semua, kita berhasil kasih paham pada para pemuda itu, pengalaman berbicara." seru sang wakil d3w@n rakyat itu.
" Armando, RaHasiYa pasti tahu dimana saya berada, kita harus pindah saat ini juga."
" Nyonya, kota tidak punya tempat untuk ditinggali selain di sini, mengingat tuan Gurman telah menggugat cerai anda."
" Ck, tetap bawa saya ke tempat dia, di dunia ini tidak akan ada yang bisa menaklukkannya selain saya. Diluar bisa jadi dia sang kepala mafia, tapi di dalam sini..." tunjuknya pada dadanya." dia tetaplah peliharaanku."
" Sekarang urus administrasinya, kita keluar dari sini."
" Baik, Nyonya."
\*\*\*\*\*
Daniel, Ibnu, dan para sahabatnya, Dewa, Dimas, dan Nando, serta semua anak RaHasiYa yang dilibatkan dalam evakuasi Sandra mematung tertegun di ruang kerja masing-masing. Mereka turut syok dengan kejadian mengerikan yang berlangsung cepat hingga terdengar suara Zayin yang mengembalikan kesadaran mereka.
Raut wajah mereka berubah tanpa ekspresi, jantung Daniel berdetak kencang, dia ingin segera menemui Alfaska yang pastinya saat ini sedang histeris.
Sedangkan Ibnu menjaga konsentrasinya hanya pada apa yang sedang dia lakukan, Matanya beralih pada ponsel yang terus bergetar, ada kiriman video dari Rio.
Matanya membulat, wajahnya memerah saat melihat streaming pertemuan beberapa orang yang diretas Rio dari ruang kerja Andre. Begitupun dengan Dewa, Dimas dan Nando yang mendapati video itu di masing-masing ruangannya tidak mengeluarkan suara, biar jari mereka yang menari di atas keyboard mencari jawaban atas apa yang terjadi.
" Siapa lagi yang mengetahui ini?" tanya Ibnu dengan mata masih menatap tajam para orang yang sih tertawa itu.
" Petinggi RaHasiYa baru Lo, gue gak berani menyodorkan ke Daniel."
" Hmm, biar gue yang urus."
" Leo,..." Sapa Ibnu begitu Leo menjawab panggilannya.
" Gue di jalan, tadi Mumtaz manggil gue. Apa yang harus gue lakukan?"
" Lo tunggu Haikal di daerah Jakarta barat, dia sedang otw ke sana."
Tring....
Dengan tergesa-gesa Rio dan Yuda memasuki ruang kerja Daniel yang mana sang pemiliknya sedang berkonsentrasi mengoperasikan drone di layar besar di belakang meja kerjanya.
" Niel, Lo fokuskan ke beberapa polisi yang berada di sekitaran dua Van pelaku tersebut." Seru Rio dengan raut tegang.
" Kenapa?"
Yuda mengambil alih remote kontrol drone dari Daniel.
" Yud, Lo tahu harus melakukan apa, kan?" Rio memastikan Yuda memahami maksudnya, mengingat selama peretasannya dia bersama Yuda di lantai dua tadi.
" Hmm."
" Jangan ada yang terlewatkan."
" Iya, bawel."
Rio membawa Daniel ke sofa, meletakkan MacBook di hadapannya.
Wajah Daniel membaca dan mengamati apa yang terdapat dalam layar MacBook Rio, melihat apa yang tersaji di depannya wajah Daniel berubah merah karena naik pitam.
" Gue dapat ini, telpon terakhir Guadalupe dan Devi pada nomor yang sama. Hasil ini sudah gue kirim ke Ibnu yang langsung mengerahkan Haikal dan dan Rizal."
" Dimana Jarud dan Galang?"
Rio menggeleng." Mereka off dari komunikasi."
" Apa Mumtaz sudah mengetahuinya?"
" Belum, gue takut mengatakannya, tapi Lo tahukan, kalau dia sedang berkonsentrasi terhadap sesuatu, instingnya kuat. Gue harap kalian bisa meredam sedikit amarahnya."
__ADS_1
Tring.....
Dewa, Dimas, dan Ibnu memasuki ruang kerja dengan gestur tidak menyenangkan.
" Rio, sudah Lo perlihatkan apa yang terjadi di ruang Andre?" tanya Ibnu.
" Belum, menunggu Lo."
" Sekarang perlihatkan."
Rio pun membuka rekaman Video pertemuan online antara empat orang itu.
sontak Daniel naik pitam dan langsung mengamuk, ia melempar semua benda yang didekatnya sampai akhirnya Ibnu mengunci pergerakannya.
" LEPAS, GUE HARUS BUNUH PARA B@NGS@T ITU." Bentak Daniel di depan wajah Ibnu.
" Pasti, kita habisi mereka, tanpa sisa!" ucap Ibnu tenang.
" Kalian, kenapa?" suara kalem Mumtaz menyadarkan mereka kalau mereka belum mematikan saluran paralelnya.
Masing-masing dalam hati mereka merutuki diri mereka sendiri.
" Jangan menyembunyikan sesuatu atau kalian berurusan dengan ku." ucapan lembut yang menyeramkan di pendengaran mereka.
" Gue akan kirim semua yang gue punya saat ini." tutur Rio
" Kalian sendiri ada apa kemari?" Tanya Daniel yang masih dibawah kungkungan Ibnu..
Dewa bergerak gugup" Sorry, gue sebenarnya ingin mengatakan ini. Dari kemarin, tapi diurungkan mengingat keadaan bang Mumtaz dan bang Ibnu yang tidak stabil.
" Intinya." ucap Daniel yang duduk panjang bersama Rio.
Dewa menyodorkan MacBook di d pan Daniel, " ada satu akun yang menyimpan rekaman Mumtaz sewaktu mencekik nyonya Sandra dan menyimpannya di sistem yang sulit terdeteksi."
" Lo gak bisa masuk?"
Deng lemah, dewa dan Dimas menggeleng.
" Bagaimana dengan Lo, Nu?"
" Gue baru dapat kabar tadi, akun ini sedang menghubungi seseorang dan mengirim rekaman itu ke instansi pemerintah."
" Masa Lo gak bisa nerobos identitas akun itu?"
" Ada seseorang yang mengamankannya, kita butuh tim khusus untuk melakukannya. ujar Ibnu
" Bentuk, dan jangan mulai merasa bersalah." Tuding Daniel yang mulai memahami perubahan ekspresi sendu dari Ibnu.
" Sebenarnya tidak ingin, tapi..."
" Nu, apa Lo akan menyalahkan gue dan Afa atas segala kesusahan Lo dan Mumuy akibat dari kami?
" Apa yang sedang Lo bicarakan?" Sanggah Ibnu tidak suka.
" Semua benang merah ini bermula dari Aloya, dan itu karena kami."
Brakh...
Ibnu berdiri setelah menggebrak meja.
" Hentikan bicara demikian, kalau Lo mulai merasa menjadi beban kita, gue timpuk kepala Lo pake guci kesayangan bunda."
" Begitupun dengan Lo, gue bisa nebak dari perubahan raut wajah Lo yang akan merasa bersalah karena Lo mengalihkan fokus kita dari perkara Mumtaz."
" Tapi..."
BUGH...
" Stop..." Lerai Yuda menghampiri mereka.
Satu tonjokan Daniel layangkan tepat di tulang pipi Ibnu yang duduk terjungkal di sofa tunggalnya.
" Urus tugas Lo." Bentak Daniel diluar kontrolnya.
" Sudah beres, mereka sudah mengirim nyonya Sandra dan yang lain ke rumah sakit." Seru Yuda menjauhkan keduanya.
" Rio, kumpulkan anak bisnis, ekonomi, dan hukum dibawah naungan RaHasiYa. Gue kira sebagai pemuda kita sudah tidak bisa membiarkan mereka terus berada di posisi mereka biar mereka paham posisi sebenarnya bagi negeri ini."
" Itu...banyak banget."
" So,..."
" Oke." Pasrah Rio.
Sesaat Daniel menulis sesuatu di atas sehelai kertas, lalu pandangannya mengarah pada yuda " Yuda, Lo hubungi pak Juna, berikan kertas ini padanya, dan juga hubungi pak Agung sekalian bawa Brian. Beliau selalu tidak mau terlihat jelek dimata putranya itu."
" Nu, menurut Lo, apa tugas Lo untuk membalas Budi pada Mumtaz?" Sarkas Daniel.
" Ck, serahkan bagian cyber pada gue."
" Lo lalai, gue tebas burung Lo." ancam Daniel yang ditanggapi dengkusan saja oleh Ibnu.
Mereka meninggalkan gedung RaHasiYa menuju rumah sakit.
*****
" TIDAK...MAMI...PAPI..." Amuk Alfaska mencoba melepaskan diri dari belitan tangan Mumtaz.
" Gad, kunci pintu." Pintanya pada Ragad. Dimana Alfaska terus menggapai-gapai handle pintu.
Mumtaz memeluk erat badan Alfaska yang terus memberontak, matanya memerah, air matanya sudah membanjiri wajahnya.
" Muy, Mami.. Mami...di..sana...di mobil itu...gue harus pergi,...gue harus menyelamatkannya."
' BARA, PERGI...LIHAT MAMI." teriak Alfaska, wajahnya nyata memperlihatkan penderitaan.
Tia dan Dista masih tergugu dalam pelukan para sahabatnya.
" Tenang, Fa. Kita tidak akan kemana-mana sebelum kamu rileks." Bisik Mumtaz dengan suara kalemnya.
" Lia, tolong telpon bang Domin. Pinta datang ke lokasi. Pake hp Kakak." Mumtaz memberikan ponselnya pada Sisilia dengan tangan kirinya.
Tanpa kata Sisilia menggapai pepknsel itu.
" Bar, pegangin Afa, gue yang ke sana."
meski Bara melakukan permintaan Mumtaz, matanya tetap memandang jauh ke depan, tepatnya ke arah ambulance yang tergeletak mengenaskan itu.
" Ragad, awasi mereka. Tunggu komando dari Zayin." Ucap Mumtaz sebelum bersiap keluar dari Van.
" Siap."
Saat tangannya memegang handle pintu mobil terdengar suara berat Bara.
" Kita harus bisa menghancurkan mereka." Ucap Bara dingin.
Gerakan Mumtaz terhenti," pastinya." Jawab Mumtaz tidak kalah datar.
" Muy, selamatkan Mami, Papi. Gue gak bisa kehilangan mereka." Suara lirih Alfaska menyesakan dada Mumtaz.
" Fa, Allah yang maha memiliki kehendak, kita hanya berikhtiar." Ucapnya sebelum keluar dari Van.
Di luar Van dia juga menghubungi Leo yang sedang melakukan tugas yang dia berikan bersama Jarud dan Galang tanpa sepengetahuan para rekannya.
Kakinya melangkah hati-hati diantara pecahan kaca yang berserakan.
Ia mematikan earphone-nya, guna menelpon Leo.
" Balik, gue butuh Lo." Ucapnya begitu panggilannya dijawab sang empu.
" Gue otw, Nando tadi sudah mengkonfirmasi apa yang sedang terjadi. Gue tutup, ada panggilan dari Ibnu."
" Hei, anak muda. pergi dari sana berbahaya." Seru salah satu warga yang menonton dari pinggir jalan.
" Hanya sebentar, paman." Jawab teriak Mumtaz.
__ADS_1
Dengan jarak pandang terbatas karena hujan, Mumtaz melangkah mengelilingi ambulance memeriksa dikhawatirkan ada percikan api yang keluar darinya.
Netra hitam legamnya melihat pergerakan tenaga medis dan pemadam kebakaran yang berlarian sibuk mengurus korban.Ia pun keluar dari area kecelakaan.
Dari ekor matanya melihat beberapa mobil polisi telah datang ke lokasi dan membentangkan kendaraannya sebagai pagar penghalang. Mata elangnya mengawasi pergerakan semuanya dari berbagai sudut.
" Kalian, kenapa?" tanyanya saat mendengar keributan di seberang saluran.
untuk beberapa menit tidak jawabnya dari pertanyaannya, merasa ada yang tidak beres Mumtaz menegaskan perkataanya, sampai terdengar suara Rio.
Mumtaz menunggu diluar Van menelan permen mint sebagai penghangat dinginnya malam.
Matanya berubah nyalang dan rahangnya beradu keras saat melihat video itu.
" Mumtaz." Panggil Dominiaz yang datang bersama Hito, Damian, dan Samudera.
Mumtaz mematikan video itu, lalu membuka aplikasi lain.
" Lihat ini." Mumtaz menyodorkan pesan dari Armando.
" Gue sudah berjanji Gaunzaga yang akan Gonzalez dan Gurman family, tapi keadaan kini RaHasiYa menjadikan urusan Gonzalez menjadi urusan RaHasiYa."
Mumtaz tidak meminta izin, dia memberitahu Gaunzaga.
" Apa strateginya?" Tanya Dominiaz.
Mumtaz mengedikan bahunya santai. " Setelah situasi kondusif, kami akan adakan rapat. Perintahkan orang untuk mengawasi pergerakan Guadalupe tanpa bertindak."
Samudera dalam diamnya mengirim pesan pada seseorang di seberang sana untuk melaksanakan keinginan dari Mumtaz.
Mata Mumtaz menatap lurus Dominiaz." Gue tidak akan mengembalikan mereka dalam keadaan bernyawa."
" Muy,...biar Gaunzaga yang melakukan tindakan kasar." Kata Hito yang mendapat balasan tajam dari calon adik iparnya tersebut.
" Mereka menargetkan Atma Madina yang kemungkinan tidak selamat, kalian pikir kami akan diam?"
" Tidak, kalian akan menghancurkannya, tetapi kalian jangan berurusan dengan sekelas pelaku lapangan saja, itu akan membuang waktu kalian dan merusak jiwa muda kalian."
" Prakasa yang akan melakukannya, itu spesialis kami, no debat. Target kalian para ikan paus, sebutkan saja alamat kemana harus kami kirimkan mayat-mayatnya." Ujar Damian, matanya memandangi kesibukan para petugas itu.
Deerttt...
Mumtaz membaca pesan dari Zayin.
" Bim." Panggil Mumtaz pada salah satu anak RaHasiYa.
Lelaki badan kurus tinggi yang bernama Bima, merupakan wakil Jeno yang dirahasiakan identitas posisinya di RaHasiYa menghampiri Mumtaz.
" Gantikan Zayin dan William dalam penyamarannya, dia harus pergi ke suatu tempat."
" Siap."
" Kita langsung ke rumah sakit, Tante dan Papi sudah dibawa kesana."
Wajah Mumtaz tegang mendengar penuturan Zayin sebelum mengakhiri ucapannya.
Petinggi Gaunzaga yang paham telah terjadi hal sesuatu bertanya." Ada apa?" Tanya Hito.
" Jeno menjadi salah satu korbannya."
Kata umpatan dan hujatan terlontar dari mulut para pria dewasa itu, membuat Mumtaz mengernyitkan keningnya.
" kita ke rumah sakit dulu." seru Damian.
" Kalian saja dulu, saya ada perlu dengan Zayin."
Selepas memastikan mereka tidak ada, Mumtaz mengirim video hasil Rio pada Zayin.
******
" Wake up, bro. Gue yakin kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Mereka bermain dengan kita." Ucap Zayin dengan suara datarnya pada orang yang sekarang berada di gedung RaHasiYa yang sedang terkena mental.
Zayin telah menyaksikan hal mengerikan yang dilihatnya dari monitor komputer langsung beranjak keluar dari ruang kontrol dengan langkah besar dan wajah serius meski terkesan tenang dengan tangan yang sibuk menekan keyboard ponselnya menghubungi seniornya di BIBA yang bekerja sebagai operator di Pemadam kebakaran tempat kejadian kecelakaan.
" Hallo..." Salam si penerima telpon.
" Bang Sudha, gue butuh dua seragam damkar untuk penyamaran."
Terdengar suara helaan nafas berat." Yin, gak semudah itu..."
" Atas nama RaHasiYa."
Terdengar Sudha menghubungi atasannya, untuk sesaat Zayin menyimak pembicaraan antar keduanya.
" Oke, off the record ya." Ucap Rudi, terdengar sekali nada pasrah tidak punya pilihan. Sebagai alumnus BIBA, ia sangat tahu kekuatan yang dimiliki para petinggi RaHasiYa.
Zayin terkekeh, memahami rasa serba salah pihak damkar." Anggap kita makhluk tidak kasat mata, selanjutnya Lo akan terhubung dengan operator RaHasiYa.
" Mereka tahu Lo hubungi gue?"
" Gue pake alat komunikasi mereka, otomatis terhubung dengan mereka." Zayin menutup sambungan telponnya.
Dilanjut menghubungi William," gue ready kapanpun nerima perintah." Ucap William tanpa basa-basi begitu ia menjawab telpon dari Zayin.
" Resikonya dengan baret kita, paling parah dikeluarkan." Peringatan Zayin.
" Bayu sudah menginfokan secara detil apa yang tengah terjadi dan apa yang kemungkinan terjadi nanti, ini more than Atma Madina, huh. Lo pikir gue banci mau mundur hanya karena baret, kita lebih tahu apa yang terjadi. Sorry, bro. Jiwa nasionalis gue gak mudah luntur."
" Sekarep mu lah. Kita ketemuan di lokasi, mereka sudah menyediakan seragamnya."
" Oke."
Setelah menyelesaikan obrolannya dengan William, Ia membuka pintu penghubung yang disambut beberapa anak RaHasiYa yang masih terjaga.
" Yin,..." panggil salah satunya yang pasti telah mengetahui apa yang terjadi, Melihat dia memegang laptop di tangan kanannya.
Zayin menarik satu jaket yang tersampir di belakang pintu entah milik siapa, langkahnya terus berjalan sampai ia menunggangi motor sport milik Adgar. " Jaga rumah, rumah kak Eidel ,dan sekitarnya dengan siaga satu, jaga bergantian libatkan warga sekitar jelaskan apa yang terjadi. Gunakan kata t3roris." Tekannya pada kata terakhir.
" Itu akan menimbulkan kegaduhan."
" Setelah apa yang kalian lihat, kalian pasti paham mereka bukan orang sipil, dan apa yang sudah mereka lakukan pada bang Alfa Lo pikir para sahabatnya hanya akan diam menunggu kabar berita? I don't think so." Ia menutup kaca helm full facenya sebelum melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
*******
Jalanan porak poranda dengan kendaraan-kendaraan yang rusak dan bising oleh bunyi keamanan kendaraan, fokus anak RaHasiYa masih pada ambulance yang tergeletak miring dengan kerusakan yang paling parah, menurut logika, tidak ada penumpang yang didalamnya bisa selamat dari kecelakaan maut tersebut.
Tidak lama, dibawah guyuran hujan para medis yang datang hampir bersamaan dengan pemadam kebakaran langsung bertindak, mereka menyebar mendekati para korban kecelakaan,
Melihat keadaan, mereka paham mereka akan berada dalam situasi melawan waktu.
Di ujung jalan gelap, Zayin dan William turut berlari bersama petugas damkar lain, Zayin dan William bersama pimpinan ikut melakukan investigasi terhadap van hitam tersebut, hal ini tidak mudah mengingat tubrukan keras diantara keduanya.
Tangan Zayin melambai pada drone di atas mereka agar drone tersebut mendekat, drone tersebut segera mengambil gambar setalah pintu berhasil dibuka paksa.
" Yin, tidak boleh ada drone, ini wilayah strategis." Tegur pimpinan tersebut.
" Terserah wilayah apa, yang pasti RaHasiYa harus memiliki dokumen orang ini." Jawab Zayin masa bodo.
Zayin mengambil beberapa foto dua orang berperawakan asing dan kondisi dalam mobil dengan lensa DSLR nya, sementara William mengambil apa yang ada di mobil yang dirasa diperlukan untuk pembuktian.
Pimpinan tersebut menghembuskan nafas berasa lelah," saya lupa berurusan dengan siapa." Gumamnya.
Selagi sibuk, dari ujung matanya Zayin melihat beberapa mobil polisi mendatangi TKP.
" Will, kita cabut." Seru Zayin.
William yang melihat beberapa orang berseragam coklat menjauh dari area bergabung dengan Zayin yang tanpa menarik perhatian keluar dari area sambil mengirim pesan pada Mumtaz.
Drone terbang menjauh lebih tinggi memutar area kecelakaan, namun mengkhususkan pergerakan para pria berseragam coklat yang berada di area dua Van tersebut mengamati keadaan.
" Di bawah ada Jeno, dia tidak sadarkan diri." Tukas Zayin pada orang di seberang saluran earphone sebelum meninggalkan area, terdengar banyak suara tarikan nafas.
Sekelompok petugas pemadam kebakaran mengevakusi ambulance dibawah pengamatan mata para anak RaHasiYa melalui drone dan robot pengintai yang menyelinap ke dalam ambulance yang ringsek.
Tertampak posisi penumpang yang mengundang rasa miris dari yang melihatnya, mereka terlihat tersusun secara acak tampak menumpuk pada satu sisi kanan karena tertekan brankar, dengan hati-hati mereka menggerakkan, lalu memindahkan satu persatu penumpang tersebut dengan memakan banyak waktu .
__ADS_1
Bola mata merek melebar saat menyadari pasien yang berada di dalamnya merupakan pasien zuper VVIP mereka, satu dokter diantara mereka bergegas menghubungi pihak rumah sakit...