Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 75. Pulang


__ADS_3

Sesaat sebelum Daniel bergabung di gedung Hartadraja.


Jiwa Jimmy nelangsa, sejak dia kembali dia belum bertegur sapa dengan mami-nya, dia tidak sudi mampir ke rumahnya, ia masih mengutuk dirinya sendiri atas kematian mama.


" Nu, ini udah seminggu masa Lo belum bisa nemuin Mumtaz." ucap lesu Jimmy terbaring lemah seperti orang penyakitan di sofa panjang ruangan Ibnu.


" Jim, bukan cuma Lo yang cemas, tapi kita semua. daripada Lo galau mending Lo tindak lanjuti proyek dari Jepang, kasian si Daniel yang kerja sendiri." Ujar Haikal.


" Mungkin ini balasan Allah buat Lo yang sering kabur kalau ada masalah." imbuh Daniel.


" Morning every body." Sapa Brian dengan santai masuk ruangan Ibnu.


" tumben Lo mampir, ada apa?" tanya Rizal.


" Gue nyari kalian, susah benar." Brian menjatuhkan tubuhnya di sofa tunggal


" Ada apa?"


" Kalian lagi nyari Mumtaz kan!?, ada teman gue lihat dia di tempat pemakaman keluarga seorang ulama besar di Tangerang." ungkap Brian.


semua orang terbelalak terkejut, tak lama terdengar suara kode ada yang memasuki ruangan Mumtaz dari laptop Ibnu, tatapan mereka semua terarah ke layar laptop.


" Stop, Dimas." Seru Ibnu di speaker kecil yang berada di ujung samping kanan mejanya.


Dimas yang mendengar seruan itu dari pengeras suara yang terpasang di luar tepat ruangan Mumtaz terlonjak kaget berdiri kaku tepat diambang pintu geser.


Ia mengusap dadanya kaget, sudah satu tahun dia menjadi bagian RaHasiYa, namun belum terbiasa pada hal kejutan yang tak berwujud seperti saat ini.


Ibnu dan yang lain mendatangi Dimas yang berdiri ditengah pintu.


" Mau ngapain Lo masuk ruangan Mumtaz?" Tanya Jimmy tajam.


Takut akan ekspresi para atasannya Dimas dengan pelan berucap, " saya mendapat mandat dari bang Mumtaz untuk mengurus kasus kak Zahra." Jawab Dimas cepat dalam satu tarikan nafas.


" Kenapa Lo bisa masuk?"


" Hah, emang biasanya juga masuk aja saya mah dari kemarin juga." Ucap Dimas polos.


Para sahabat terdiam tak ambil pusing jawaban Dimas, mereka paham Mumtaz telah memprogram pintunya tidak akan terbuka untuk mereka.


Selagi Jimmy sibuk bertanya pada Dimas, Ibnu dan yang lain mencari petunjuk tentang keluarga Mumtaz.


Dilihatnya buku karangan Mumtaz tentang basic menjadi hacker yang best seller, di sampulnya tertera nama MURO sebagai penulis.


" Muro?" Tanya Rizal.


" Itu nama pena Mumtaz."


" Busyet banyak juga buku yang udah dia terbitkan." Takjub Rio.


" Apa semuanya tentang hacker?" Tanya Rizal.


" Kurang lebih." jawab Ibnu santai.


" Lo juga, Nu?" Yuda mengangkat satu buku yang tertera nama Muro, Ibnu.


" Hmm, fokus ke niat awal kita kuy." Seru Ibnu malas.


" Muro,... Singkatan dari apa, Nu?" Tanya Rio, Ibnu mengedikan bahu.


" Ro...siapa sih nama lengkap mama?" Selidik Haikal.


Sepi...


" Aisyah Ardani Romli." Ucap Yuda menatap ponselnya.


" Iya, itu nama ulama yang dimana temen gue lihat Mumtaz, Ardani Romli." timpal Brian.


Segera Ibnu menyalakan komputer Mumtaz, dia langsung mencari dengan kata kunci Ardani, Romli, Tangerang. Tidak peduli Mumtaz akan marah dia menggunakan inventarisnya.


Keluarlah berita mengenai seorang ulama tasawuf besar asal Banten bernama Ardani Romli pendiri pondok pesantren Al-Falahiyah.


" Ini kayak pondokan adik gue." Gumam Ibnu yang langsung menelpon adiknya.


Tak lama dia beranjak pergi dengan berlari.


" Woy, Nu. Mau kemana?" Teriak Jimmy mengikuti langkah Ibnu.


" Cari bini Lo, mau gue lamar." jawab Ibnu ngawur, para sahabat secepat kilat mengikuti Ibnu kecuali Daniel.


" Lo gak ikut mereka?" Tanya Yuda menghentikan langkahnya.


" Enggak, gue urus Hartadraja dulu. Hubungi Ubay untuk  bawa Bara ke gedung Hartadraja." Titah Daniel dengan aura tenang, namun memperhitungkan keadaan, Yuda hanya mengangguk.


" No, Kirim teman Lo buat pengawalan kak Zahra." seru Daniel ke Jeno yang berlari di belakang Yuda.


" Oke." Jeno meninggalkan Daniel yang masih berdiri diruangan Mumtaz.


" Ada apa bang?" Tanya Dewa mendekati Daniel.


" Awasi lalu lintas buat kak Zahra dan keluarganya."


" Siap." Dewa langsung ke ruang pemantauan di lantai sembilan.


Bagi RaHasiYa meninggalnya Aida meninggalkan dendam tersendiri kepada Aloya dan koleganya.


*****


Hito, dan para keponakannya juga Heru menunggu kabar tentang Zahra-nya di ruangannya.


Akbar sudah meminta Yuda untuk menghubunginya begitu mereka bertemu kak Zahra.


" Kenapa Lo gak bilang kalau Ara tersangkut masalah plagiat? Hardik Hito kesal menatap berkas laporan rapat rumah sakit yang diwakilkan oleh Heru.


" Udah gue coba ngomong sama Lo, tapi setiap gue mau kasih laporan rapat rumah sakit Lo selalu nyela gak punya waktu dan nyuruh diatur sama gue." Heru membela diri.


" Ya Tuhanku pantas saja dia sering nelpon gue, dia butuh gue, tapi gue selalu ngcewain dia. Dia lihat gue sama si Ziva." Hito mengusap wajahnya gusar.


" Kayaknya pepatah udah jatuh tertimpa tangga cocok buat kak Zahra." Sindir Adgar. yang duduk di samping Akbar.


" Gue udah bilang jangan terlalu fokus sama perlawanan nenek Lo, di sini yang punya hubungan sama dia Lo, seharusnya kalian saling menguatkan bukan jalan sendiri-sendiri." Ujar Heru.


" Jadi gue yang salah?" Tanya Hito terlebih untuk dirinya sendiri.


" Bukan, nenek gondrong. Gue peduli sama Zahra karena dia tetangga gue, sewaktu Edel hamil Edel secara bathin ketakutan karena aib yang sudah kita perbuat hingga dia menolak diperiksa  ke rumah sakit, Zahra lah yang meyakinkan dia mau periksa ke rumah sakit meski dia jauh di Jerman."


" Terus bagaimana perkembangan kasus tersebut." Tanya Hito mengalihkan pembicaraan.


" Sejauh ini berjalan baik, kalau tidak salah seharusnya dia hari ini di rumah sakit untuk pembuktian kasus lewat operasi." Heru terdiam, dia beranjak bersiap diri untuk pergi.


Hito mondar-mandir dengan gelisah, jengah dengan tingkah sahabatnya Heru berseru," To, mending Lo duduk, Lo cosplay jadi setrikaan?"


Hito Mendelik kesal," ini udah lama, tapi belum ada kabar."


" Terserah, gue pergi."


" Kemana?" 


" Lo dengar enggak omongan gue, seharusnya dia di ruang operasi karena hari ini jadwal pembuktian kasus." Teriak Heru tepat di wajah Hito, setelahnya melenggang pergi.


Hito mematung, " Adgar Lo pergi ke rumah sakit awasi ruangannya, Akbar lo diam tunggu om mandi dan bersiap."


Para keponakannya menatap Hito jengah, " dia yang depresi kanapa kita yang susah!? Lagian ngapain ruangan ditunggu." Gumam Adgar.


" Resiko punya om bucin." Keluh Akbar.


" Keren gak sih kita udah rapat sebelum matahari terbit?." Adgar mengusap wajah ngantuknya dengan kasar.


Mereka mengikuti Hito ke ruangannya atas perintah Aznan yang khawatir terhadap keadaan psikis Hito.


Aznan jelas tak ingin kecolongan lagi dengan keadaan Hito yang patah hati. kejadian lima tahun yang kalau merubah total Hito.


Ketika Hito dan Akbar hendak melangkah keluar ruangan pintu ruangan terbuka dan menampakan Zivara yang berdiri melangkah masuk ke dalam ruangan.


*****


" Makasih ya May, Man." Ucap Tia pada mereka yang sudah sudi menemaninya selama seminggu ini. 


" Sans aja, kayak ama siapa." Timpal Amanda.


"  Ya udah kita pergi dulu, kak Ala harus bersiap diri. Salam sama mama kamu. Mayang" Ucap Mumtaz menyalakan mesin mobil.


Seusai shalat subuh tadi Merka pamit pulang kepada pamannya setelah mengadakan tahlilan selama tujuh hari meninggalnya Mama dengan alasan Zahra ada operasi penting hari ini.


Pukul 10.15 wib nanti Zahra dijadwalkan melakukan operasi terkait kasus itu. Ia sudah tidak sabar ingin membuktikan teorinya.


" Turunin kakak di gedung Hartadraja, kalian pulang aja duluan." Pinta Zahra, Mumtaz dan Zayin saling lirik.


" Oke, tapi kita tunggu. No debat!" Putus Zayin tegas.

__ADS_1


" Terserah." Zahra harus membiasakan diri akan keposesifan para adik laki-lakinya.



Zahra memasuki lobby gedung Hartadraja bareng para adiknya yang menolak menunggu di mobil.



" Tunggu di sini, ini perintah kang jeng ratu Zahra." Titah tegas Zahra melotot pada para adiknya, mereka hanya mengangguk.



 Sesampainya di lantai teratas Zahra langsung menghampiri meja sekretaris" Selamat pagi, saya ingin bertemu dengan bapak Hito."



" Maaf, pak Hito sedang ada tamu."



" apa tamu tersebut klien bisnisnya?"



" Eh, bukan. calon istrinya." Sepertinya sekretarisnya tidak menonton acara konferensi Hartadraja semalam.



Zahra terkesiap mendengarnya, namun segera menetralkan wajah, tanpa basa-basi dia melangkah keruangan Hito meski sudah dicegah oleh sekretarisnya.



Zahra dengan tenang membuka pintu dan melangkah santai ke hadapan Hito yang duduk di balik meja kebesarannya, sedangkan Zivara duduk di sofa tunggal.



Semua pasang mata terkejut mendapati Zahra masuk, Hito menatap Zahra penuh dengan kerinduan.



" Maaf, pak. saya sudah mencegahnya tapi beliau memaksa." ucap sang sekretaris takut.



Sadar dari keterkejutannya Hito melambaikan tangan," tak mengapa, beliau adalah calon istri saya."



" Well, well. Pasangan menakjubkan masih pagi buta sudah dalam satu ruangan." Tuding Zahra memberikan tatapan menantang mata Zivara.



Hito mengitari mejanya dan menyentuh lengan Zahra.



" Dia datang sendiri, aku mau ke rumah sakit buat lihat kamu."



Mengabaikan perkataan Hito karena hatinya yang sakit Zahra menyerahkan ponsel pemberian Hito ke tangannya.



" Aku kesini hanya ingin memberikan ponsel yang tidak berguna ini, aku tak butuh duit kamu hanya untuk memenuhi kebutuhanku, aku tidak semaruk itu." sarkastik Zahra menyindir Zivara yang tertunduk takut.



Zivara yang sudah lama bersahabat dengan Zahra sangat tahu bagaimana sikap memusuhi Zahra pada orang yang dibencinya.



" Permisi, teruskan kencan kalian, jangan lupa selesaikan dulu urusan kita, atau aku yang harus mengakhiri...mpph."



Hito menutup mulut Zahra dengan tangannya, tak peduli berontak Zahra dalam dekapannya.



" KELUAR, KELUAR KAU HUSAIN." bentak Hito dengan raut memerah menahan amarah, Zivara masih bergeming karena kaget dengan bentakan Hito.




" Akbar, beritahukan kepada seluruh penjaga gedung agar siapapun orang dari keluarga Husain dilarang masuk ke gedung Hartadraja tidak peduli nenek yang membawanya." Hito mengucapkannya sembari menatap Zahra.



Zahra melirik Akbar yang ternyata duduk tenang di sofa panjang, lepas dari penglihatan Zahra.



Zivara terkaget dengan ucapan kebencian Hito, dengan raut kaget ia berlari meninggalkan ruangan Hito.



Akbar beranjak menuju pintu hendak keluar.



" Akbar stop! kalau kamu keluar aku akan melarangmu berteman dengan adikku." ancam Zahra.



Tangan akbar yang hendak memegang kenop pintu terhenti, menatap mereka kesal.



" Putuskan aku keluar atau diam di sini."



" Keluar."



" Di sini."



Seruan serempak Hito dan Zahra.



" Kalau kau memaksa Akbar di sini tidak peduli kita sudah halal atau belum aku akan menciummu meski nyawa taruhanku." Ucap Hito tenang.



Zahra membulatkan mata kaget, namun hanya sesaat setelahnya dia menendang tulang kering Hito, Hito melepas pegangannya dilengan Zahra, meringis sakit memegang kakinya.



Akbar yang tahu apa yang harus dilakukan langsung keluar ruangan mengunci pintu dari luar.



Setelah lepas dari Kungkungan Hito Zahra langsung melesat menyusul Akbar tapi pintu telah terkunci.



" Buka pintunya, Hito." Perintah Zahra tanpa panggilan embel penghormatan.



Hito tertegun, hatinya tercubit. Mendapati Zahra kembali menjaga jarak tertampak dari ucapan tanpa embel penghormatan.



" Ara, dengerin aku dulu." pinta Hito.



" Tak sudi, berapa kali aku mengalah padamu, berapa kali aku beri kesempatan padamu untuk memperbaiki keadaan, tetapi kau tidak memanfaatkannya." Ucap Zahra emosi.



Zahra memberi lirikan tajam kepada Hito yang tertunduk dalam.

__ADS_1



" Buka pintunya, Hito."



" Ara,..." Parau Hito.



" Sekarang aku paham kenapa nenek mu menyebutku rendahan, murahan, karena hanya aku yang berjuang dalam hubungan ini." Suara Zahra memelan.



Hito menggelengkan kepala cepat," Ara,... maafkan aku. Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan apa yang aku lakukan."



Zahra bergeming, " buka pintunya atau aku menelpon Mumtaz dan Zayin yang sedang menungguku di bawah untuk kemari." Ancam Zahra dengan suara datar.



Menghela nafas berat, Hito melangkah ke pintu dan membukanya. Zahra langsung meninggalkan ruangan Hito.



Hito menatap punggung Zahra dengan pandangan terluka dan kalah.



Zivara berdiri dengan kaki bergetar ketakutan ketika menapaki lobby gedung dan mendapati Mumtaz dan Zayin yang memandanginya penuh ancaman di hadapannya. 


Mereka tak mengatakan apapun, namun tatapan itu tetap membuat Zivara takut. Ia berlari terbirit-birit keluar gedung.


Zayin hendak memasuki lift yang terbuka berniat menyusul Zahra, namun dicegah Mumtaz dengan menyodorkan iPadnya.


" Lihat dulu baru pergi, percayalah kakakmu mampu menangani om Hito."


Mumtaz memutari tubuhnya mendekati Tia yang sedang makan cemilan di kursi tunggu.


Mumtaz bertekad mulai detik dimana mamanya meninggal dia akan melakukan apapun agar tidak terjadi keributan karena salah paham, hidup itu terlalu berharga hanya untuk sebuah kesahpahaman.


Zayin menonton rekaman cctv ruangan Hito sejak Zivara memasuki ruangan Hito sampai Zahra keluar dari ruangan Hito.


****


Selepas mengantar Zahra ke rumah sakit tiga bersaudara itu menepikan kendaraannya di depan pagar rumah


Saat hendak membuka kunci pagar terdengar keributan dari pekarangan rumah Eidelweis.


" Edel, stop, tetangga mereka tidak hanya kamu. Berhenti bertindak layaknya mereka keluarga kamu." Cegah nenek saat Eidelweis hendak ke rumah Mumtaz guna membersihkan rumah tersebut.


" Bagiku mereka memang keluargaku. Nek, kalau kau tidak menyukai mereka setidaknya bersimpati lah. Tante Aida meninggal karena melindungi cucu mu, Adelia."


" Heh, Tidak rugi bagiku jika cucuku  meninggal mengingat aib yang mengikutinya daripada harus berhutang Budi kepada mereka."


" Mama." 


"Nyonya."


Hardik Aznan dan Zayin bersamaan, sementara anggota keluarga lain terkejut dengan penuturan nenek yang kejam.


Zayin mendekati nenek dengan langkah besar dan tegas wajahnya memerah menahan amarah.


Diluar sadarnya kaki nenek mundur beberapa langkah karena takut.


" Berapa kali peringatan yang harus saya layangkan sebelum bertindak kasar padamu bahkan aku sanggup membunuhmu, jangan pernah menghina Adelia. Jika kau tidak menyukainya berhenti mengunjunginya." Suara berat penuh intimidasi keluar dari mulut Zayin tepat di depan wajah nenek utnuk menantangnya.


Mumtaz berdiri bersandar di tembok pagar rumah Eidelweis dengan kedua tangan dalam saku celana jeans memperhatikan interaksi antara Zayin dan nenek.


" Nyonya, apa kau sudah lupa apa yang sudah kau janjikan di atas kertas kepada Daniel dengan tidak mengganggu keluargaku, dengan segala alasan yang ada di dunia ini Adelia adalah keluarga kami, kami bangga padanya. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka dalam waktu 24 jam akan ku jadikan Hartadraja seperti Husain. Ini peringatan terakhirku." Ucap Mumtaz tenang meninggalkan pekarangan rumah Eidelweis.


" Aa..." Adelia muncul dari dalam rumah merentangkan kedua tangannya berhambur kedalam pelukan Zayin yang langsung disigapi oleh Zayin dengan menggendongnya.


" Aa dah pulang?" Tanya Adelia polos.


" Iya, Adel kangen kakak?"


" Hmm" Adelia mengangguk cepat.


" Hehehehe, sama. kakak juga kangen. Yuk ke rumah kakak." Zayin berbalik badan meninggalkan rumah Eidelweis.


Namun sebelumnya tangannya terulur kepada Eidelweis yang sedang menangis yang berdiri tak jauh dari nenek," apa camer aku juga mau ikut ke rumah besannya?" Canda Zayin mengedipkan sebelah matanya.


Zayin tahu Eidelweis selalu rapuh jika menyinggung masa lalunya.


Menghela nafas lega Eidelweis tersenyum lebar," tentu, Caman" Eidelweis menyambut uluran tangan Zayin, dan menggandengnya.


" Caman?" Tanya Zayin bingung.


" Calon mantu."


" Ohh kirain salah sebut.  Aku kira aku disebut Cemen hampir aja aku bawa lari Adel buat buktiin betapa beraninya aku "


" Silahkan, bawa aja." Ucap Eidelweis dengan lapang hati


" Idih, gampang banget. Gak jadi, gak ada tantangan."


" Hahahah..." Eidelweis tertawa terbahak-bahak, lupa akan sakit hatinya. Baginya tak mengapa dapat hinaan dari sang nenek selama keluarga Aida menyayangi keluarganya.


" Kecuali nenek, aku juga mengundang anggota besan yang lainnya juga." Zayin menatap klan Hartadraja yang masih terpaku ditempat sungkan mendekatkan diri pada keluarga Aida setalah apa yang terjadi.


" Oke,... Cassandra melompat merangkul pundak Zayin karena jarak tinggi yang beda jauh.


" Cass, Lo kok nambah pendek sih." Kata Zayin yang harus memiringkan badannya condong ke samping karena rangkulan Cassandra.


Cassandra menggeplak lengan atas Zayin dan mencibir," terus aja nyombongin diri."


Para tetua Hartadraja menyunggingkan senyum melihat interaksi seperti biasanya antara Zayin dan Cassandra.


****


Hito, dan para investor, para petinggi rumah sakit, dan para petinggi universitas dari Jerman memperihatikan lewat layar lebar seluas satu bidang dinding yang menyiarkan langsung operasi penelitian pencakokan kulit luka bakar berat dengan kulit hewan secara permanen.


Di layar ditampilkan dua ruangan operasi yang sebelah kanan dipimpin oleh Zahra ( tim A), dan sebelah sebelah kiri dipimpin oleh Ratih ( tim B)


Keduanya melakukan operasi dengan meyakinkan. Sudah 10 jam operasi berlanjut, dan saat ini keduanya dalam tahap akhir operasi.


Ratih yang terlebih dahulu menyelesaikan operasi tersebut,  30 menit kemudian barulah Zahra.


Selama operasi berlangsung tatapan Hito tak lepas dari Zahra, bahkan sampai Zahra keluar dari ruang operasi Hito masih menatap layar televisi dengan tatapan penuh arti.


Pasca operasi pasien ditempatkan di ruang ICCU yang steril butuh dua hari guna melihat reaksi tubuh pasien dari operasi tersebut.


*****


" Pergi..." Ucap Mumtaz tenang tak terbantahkan menghalangi Jimmy yang merentangkan tangan hendak memeluk Tia.


Mendengar ucapan Mumtaz semua orang yang hadir terkejut.


Setelah menghabiskan hampir seharian pulang-pergi dari jakarta-tangerang-jakarta. Kini penolakan yang Jimmy terima dari sahabatnya.


" Muy,..." Lirih Jimmy.


" Gue gak bisa menyerahkan adik gue kepada seseorang yang tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri."


Para sahabat yang berdiri di belakang Jimmy hanya bisa terdiam, mereka memahami kekecewaan Mumtaz.


" Muy,...please." paraunya.


" Gue gak mau adik gue dikemudian hari dihina oleh siapapun lagi."


" Gue jamin itu gak akan terjadi lagi." 


" Heh, bullshit." 


" Muy,..." Suara Jimmy meninggi, Daniel mengusap lengan atas Jimmy menenangkan.


" Atasi dulu masalah Lo dengan nyokap Lo, selesaikan! Apapun hasilnya nanti ketika Lo kembali, dan masih ingin bersama dengan adik gue, Lo gak bisa berubah pikiran lagi atau gue bunuh Lo."


Ucapan yang menginginkan komitmen kuat dari semua pihak.


Sandra yang bersembunyi tak jauh dari lokas guna mencuri dengar menutupi mulutnya dengan scarf meredam isakan tangisnya.


Sejak mendengar ditemukannya Mumtaz Sandra lekas mendatangi kediaman Aida menunggu dalam mobil sepanjang hari berharap melihat pertemuan yang mengharukan antara putranya dengan sahabatnya itu, namun kenyataannya berbeda kesedihan dan luka lah yang didapat putranya, dan semuanya dia lah penyebabnya...


terima kasih masih menyimak cerita ini...


jangan sungkan untuk LIKE, KOMENTAR, dan Vote....

__ADS_1


 


__ADS_2