
Sudah dua jam Dewa habiskan di kafetaria RaHasiYa untuk merenung keputusan apa yang harus dia ambil.
Semua bermula dari sadapannya terhadap sambungan internasional antara Tamara dengan seseorang dari Mexico yang akan mengirim puluhan juta ton narkoba dari berbagai jenis ke Indonesia.
Dia mengacak rambutnya frustasi, sebagai warga negara dia tak rela negaranya hancur oleh barang laknat itu, tapi sebagai anak, dia tak sanggup harus kehilangan keluarganya kalau dia melaporkan temuan itu karena dia tahu dengan siapa dia berhadapan.
" Kenapa Lo, Bang?" tanya Nando duduk di bangku seberangnya.
" Lo masih di sini, Pu? ops, sorry." Dewa meringis tak enak hati.
Nando terkekeh," Its okey, gue tahu kalian manggil gue cupu. gue juga gak marah kok, sans aja."
" Do, gue kalau nyuruh lo pilih mending berperkara sama RaHasiYa atau gembong narkoba, Lo pilih yang mana?"
" Gembong narkoba." jawabnya mantap.
" Kenapa?"
" Simple, Lo kalau berurusan sama mereka bisa sembunyi, tapi kalau dengan RaHasiYa Lo bisa sembunyi dimana?" Nando menatap Dewa penuh arti, berharap Dewa menangkap kode darinya.
" Maksud Lo?"
" Mereka menguasai dunia bisnis dan teknologi, dua hal terpenting di jaman sekarang."
" Gembong narkoba bisa sewa hacker." timpal Dewa.
" Lo udah lihat konten bang Rio kan!? akibat itu NASA, Amerika dan Rusia beberapa kali menghubunginya dan baru berhenti ketika mereka tahu kalau bang Rio anak RaHasiYa. Lo nangkep maksud gue?"
Dewa mengangguk paham," Rumornya sampai sekarang belum diketahui siapa yang berhasil menggerakan satelit itu." Renungnya.
" Jangan lupakan anak buah RaHasiYa baik kekuatan mental dan fisiknya dilatih langsung oleh TNI, hal itu kita bisa lihat kemarin dalam waktu singkat mereka bisa melumpuhkan geng terkuat Bekasi." tekan Nando melirik Dewa.
" Jadi RaHasiYa Memiliki kekuatan komplit, kekuasaan, uang, kecerdasan, loyalitas, dan kekuatan. Jangan lupakan mental nasionalis. Sedangkan gembong narkoba hanya memiliki kekuasaan, dan uang. terakhir, catat baik-baik, mereka tidak akan melepas seorang pengkhianat." pungkas Nando, Dewa meringis ngeri.
Masih segar diingatannya bagaimana Mumtaz tanpa kesusahan mampu melumpuhkan ketua organisasi hitam.
Dewa menepuk bahu Nando seakan mendapat pencerahan." sepertinya Lo mengenal mereka dengan baik "
"Cita-cita gue menjadi tentara, tapi gak bisa karena tubuh gue kurang fit, gue pikir bergabung dengan RaHasiYa gue masih bisa mengabdi pada negara. karena itu sebelum gue gabung, gue selidiki tentang RaHasiYa." Dewa tercengang dengan tujuan luhur Nando.
" Sorry, gue telat." sahut Dimas duduk disebelah Dewa.
" Gak apa-apa."
" Kenapa Lo nelpon gue kayak orang frustasi?"
Dewa melirik Nando, Nando yang paham beranjak berdiri," gue balik ke kandang, Bang."
" Hmm, thanx ya."
Nando tersenyum," Anytime, kita keluarga."
" Wa, Lo kenapa?" Dimas penasaran.
Dewa menatap Dimas," jadi lapis gue, Dim. gue mau melakukan sesuatu.
" Okey."
Saat ini Dewa dan Dimas berada dalam ruang kerjanya memasuki situs Badan intelijen TNI, Badan intelijen BNN, dan Badan intelijen negara memberi informasi tentang adanya pengiriman narkoba berjumlah fantastis, dan Dimas menghilangkan jejak peretasnnya.
\*\*\*\*\*\*
Jeno atas titah Bara mengumpulkan geng yang menyerang mereka dan organisasi yang meneror Cassandra dalam satu lapangan luas ditengah terik matahari.
Damian atas persetujuan para tetua memimpin eksekusi mereka, maju berdiri tegak di hadapan mereka.
" Saya Damian Prakasa, saya tahu diantara kalian tahu tentang saya, sikap saya belum berubah. Kalian berani mengusik kami, maka kalian akan merasakan konsekuensinya."
Damian secara acak menarik satu orang ke depan," siapa yang nyuruh Lo buat nyerang kami?" Ucapnya dingin.
Orang itu tak berani menatap Damian yang mengeluarkan aura membunuh.
" Diam, pilihan yang salah." dengan santai Damian memelintir tangannya dan terdengar suara patah.
Krek!!
"AAAAAA..."
Semua orang meringis mengusap tangan mereka.
Damian memegang satu tangannya lagi," siapa yang menyuruh kalian?"
" Su..sumpah pak. Saya...tidakh tahuuu..diah...memakai... Jubah..." Jawabnya terengah-engah, Damian melepas orang tersebut.
Bara dan yang lain saling pandang, Ibnu berdiri di samping Damian.
" Kami akan memberi kalian selebaran yang berisi foto penuh wanita berjubah, kalian pilih dari foto-foto tersebut yang menyuruh kalian. Jika kalian menjawab bohong, kami akan lakukan eksekusi terhadap keluarga kalian." Tegas Ibnu mengeluarkan aura bahaya dibalik ucapan tenangnya.
Mereka, para tahanan memandang Ibnu waspada, kini mereka tahu Ibnu adalah orang terdekat dari Mumtaz yang mengalahkan ketua organisasi pembunuh bayaran. Tentu Ibnu pun tidak bisa dianggap remeh meski keberadaannya selalu berdiri paling belakang diantara yang lain.
Jeno dan anak buahnya membagikan selebaran dengan satu lidi kecil untuk mereka coblos.
Setelah 20 menit, mereka mengumpulkan kertas terebut dalam beberapa kotak.
" Bara, kamu bisa mengurus mereka agar tidak menjadi sampah lagi kan?" Tanya Damian penuh arti.
" Tentu, om. Serahkan pada kami." Bara menyanggupinya.
" Beri mereka makan, dan obati yang terluka." Titah Bara pada Jeno dan Leo. Mereka meninggalkan lapangan.
Kini mereka di privat room cafe' D'lima dengan berbagai makanan di atas meja yang langsung disantap oleh Adgar, entah dia kelaparan karena apa
" Hasil voting 85% memilih foto Tamara." Seru Daniel.
" Kemungkinan besar memang dia, dibanding Erika atau Gaby, Tamara yang memiliki dasar yang kuat untuk balas dendam." Sahut Fatio.
" Hartadraja akan memberi dana patungan untuk mendaur ulang mereka." Cetus Fatio.
" Ya Allah bahasanya mendaur ulang Kebuy." Celetuk Adgar.
" Loh, mereka tak berguna yang sedang direhab menjadi berguna, bukannya gitu maksud dari daur ulang?!"
" Terserah Kebuy. Maaf para paman, om. Adgar, sang CEO mau pamit urusan perusahaan belum kelar. Maklum orang sibuk." Sombong Adgar.
" Norak, kita aja yang punya perusahaan nyantai." Celetuk Teddy.
" Apa atuh aku mah jabatannya doang CEO, aslinya mah masih kuli pada pemegang saham." Lirihnya sok sedih sembari menyalami para tetua satu persatu.
Mereka terkekeh," kerja yang lurus." Sahut Damar.
" Kejedot Om lurus Bae mah. Duaaah, muaach." Sebelum menghilang dibalik pintu.
" Punya dosa apa Lo Nan punya cucu kayak gitu." Tanya Aryan pada Aznan.
" Lagi instropeksi diri gue." Sahutnya yang disambut tawa semua orang.
" Kek, bagaimana dengan masalah Tamara?" Tanya Akbar.
" Lihatin aja dulu sambil terus dipantau sampai sejauh mana mereka bertindak." Aznan menatap petinggi RaHasiYa satu persatu.
" Tentu." Sahut Daniel.
****
"Aaakkh...ommhh..aarkkkh...faster...aaakkhh.ommmh."
Tubuh Tamara terkulai lemas setelah sekian kali mengeluarkan pemuasannya, tubuhnya tertindih badan gemuk yang sama lemasnya karena kegiatan ranjang mereka.
Laki-laki tambun itu berguling kesamping dengan nafas memburu.
" Service kamu selalu sempurna by." Engahnya.
Tamara bangun meraih bathrobenya lalu melangkah ke kamar mandi.
" Om, aku mau minta tolong." Rengeknya manja sambil duduk di sofa.
" Apa sayang." Ucap lelaki itu mengenakan celana boxernya menyusul Tamara duduk di sofa.
" Ada yang nyuri aset-aset aku, aku bekerja keras untuk mendapatkan itu, orang itu dengan mudahnya mengambil semuanya." Tamara memberikan map yang berisi salinan pemindahan nama.
Setelah memeriksanya lelaki itu menyimpan map itu di atas meja," semuanya sah, sayang. Maaf aku gak bisa bantu kamu."
Tamara mendesah kecewa, itu jawaban yang ke lima yang dia dapatkan hari ini.
Hari ini sejak pagi Tamara marathon melayani Daddy sugarnya dari berbagai kalangan pejabat mengharap bantuan agar pengiriman barang dari Mexico lolos dengan baik. Sialnya tidak ada satupun dari mereka yang menyanggupinya.
Makanya dia menghubungi pria tambun petinggi lembaga penegak hukum negara yang katanya mengayomi masyarakat, ini jalan terakhir dia.
" Tapi kamu bisa kan nolongin yang ini." Tamara mendekat dan memainkan dada lelaki itu secara sensual.
" Apah sayang?" Lelaki itu sudah terpancing.
" Nanti malam akan ada barang aku yang masuk Indonesia lewat Tanjung Priok, kamu bisa lolosin melewati bea dan cukai ya?"
" Loh kenapa harus aku? Kenapa gak langsung minta ke bagian bea dan cukai?"
" Udah, tapi mereka gak mau. Sekarang masa sibuk jadi mereka gak punya waktu buat ngekhususin barang tertentu." Seru Tamara dengan bibir yang sengaja dikerucutkan sexy nan manja.
Lelaki itu mulai waspada," memang isinya apa?"
" Biasa pernak-pernik wanita."
__ADS_1
" itu bukan kewenangan aku, sayang. Kalau kamu mau lapor orang karena pidana baru ke aku."
Tamara menegakan badannya," jadi kamu gak bisa? Aku yakin dengan posisi kamu sebagai petinggi di lembaga kamu bisa mengaturnya.
" Sayang bukannya aku menolak," tapi sudah dua minggu ini Kapolri sedang melakukan investigasi ketat terhadap setiap personilnya dari pangkat tertinggi sampai terendah. Pokoknya akhir tahun ini masa-masa sensitif."
Alibinya, dia sungguh tidak bisa mengorbankan karier dan keluarganya hanya untuk satu ****** ini meski goyangan ranjangnya memabukan. Andai tidak ada surat edaran dari Kapolri yang bekerjasama dengan RaHasiYa untuk menumpas mafia hukum tentu saja akan dia bantu.
" Bisa kamu minta pending dulu pengirimannya?"
" Gak bisalah sayang, orang sudah otw. Please bantu aku?" Rayunya.
" Baiklah aku usahakan tapi gak janji. Sekarang puasin aku lagi kamu udah mancing aku."
Lelaki tersebut mengendong Tamara ke ranjang kembali dan terjadilah pertempuran panas.
*****
Selepas Maghrib kesibukan untuk barbequean meningkat, jumlah peserta membludak menjadikan rumah Aida seperti rumah makan.
Kegiatan tersebut terhenti ketika dengan percaya dirinya Sandra datang membawa pasukan chef serta alat makannya dan bahan-bahannya mengambil alih lapang tempat barbequean.
Zahra mendapat laporan itu sontak marah, dia yang diikuti Eidelweis menuju lapangan.
" Siapa yang memberimu hak untuk mengacaukan acara kami?"
Sandra menoleh ke arah suara dan bersikap seperti sudah dekat," aah Ara, Mami hanya mau membantu agar barbequean ini berjalan lancar dan berkelas." Sahutnya dengan gaya Nyonya besar.
" Bereskan kembali apa yang sudah anda lakukan."
" Ara, kamu tidak bisa seenaknya begitu, mereka sudah susah payah mengatur segalanya."
" Hentikan, sebelum saya mempermalukan kalian." Ucapnya tegas, mereka menghentikan kegiatannya.
" Ara, bisakah kamu bekerjasama dengan Mami? Jangan selalu menyulitkan hal yang mudah."
Sebelah alis Zahra terangkat heran," kau dan pasukanmu bisa angkat kaki dari sini."
" Zahra,..."
" Ada apa ini?" Tanya Mumtaz yang datang dari belakang Zahra.
" Mumtaz sayang, mami hanya ingin berpartisipasi selamatan atas kesembuhan kamu, tapi kakak kamu menolak niat baik Mami."
" Heh, licik. Kapan anda meminta izin saya? Kamu bukannya berpartisipasi tapi mengambil alih semuanya, lihat semua persiapan yang sudah mereka buat kamu singkirkan dan diganti dengan alat kamu. Apa yang ingin kamu tunjukan padaku?"
" Karena memang itu tidak layak, Zahra. Mumtaz seorang petinggi RaHasiYa perusahaan terbesar dibidangnya yang pasti akan mendapat perhatian dari orang banyak, kita harus menjaga wibawa itu. Harus berapa kali saya ingatkan itu."
" Pergi, pergi kamu dari sini. Kalau kamu ingin mengadakan dengan cara kamu lakukan di tempat kamu." Zahra sungguh tidak bisa lagi menjaga kesopanan pada wanita ini, dia terlalu muak dengan sikap Sandra.
" ZAHRA,..."
"KAKAK."
Bentak Sandra dan Tia berbarengan.
Mumtaz yang tidak menyukai akan apa yang dilihatnya mengepalkan tangan meski raut wajahnya masih terlihat tenang.
" Lakukan sesuai apa yang kak Ala inginkan."
" Mumtaz, kamu tidak bisa melakukan itu. Kamu tidak bisa menghina Mami."
" Maaf, saya tidak bermaksud menghina anda, tapi anda yang menghina kami dan kami menolak itu." Tegasnya, Alfaska terkejut dengan panggilan 'anda' yang diucapkan Mumtaz.
" A, Mami hanya berniat baik, tidak bisakah kakak menerima itu?" Bela Tia untuk Maminya.
" Jika itu hanya membuat Kak Ala marah, tidak perlu."
" A, buka matamu kak Ala hanya iri pada kasih sayang mertuaku yang tidak dia dapatkan. Aa seharusnya menegur kak Ala bukan menolak Mami."
Diselimuti emosi Zahra mengacak-acak persiapan yang dilakukan Sandra sampai semua berantakan, setelahnya dia mendekati Sandra yang sedang melotot tak percaya.
" Kau dengan segala arogansi mu sudah melewati batasanmu, Sandra. andai kau bukan ibu dari Alfa sudah gue benyek-benyek Lo." Semua orang terhenyak akan kelancangan Zahra termasuk Alfaska dan Mumtaz.
" Lakukan apa yang ingin Lo lakukan, tapi tidak di sini. Kami punya cara kami sendiri, kami tidak mengundangmu, jadi pergilah."
" KAK, JAGA SIKAP MU." bentak Mumtaz tanpa sadar, sekarang Mumtaz yang menarik perhatian dengan keberaniannya.
" APA HAH, gue gak punya masalah dengan menghormati orang tua, kalau memang dia pantas. Tapi dia, berulang-kali menghina kita." Telunjuknya menunjuk lurus Sandra.
" KAKAK."
" Kenapa sekarang kamu bela dia? Dimana letak salah gue, selama ini gue diem bukan berarti kalian bisa neglunjak."
" Tapi Mumuy gak suka sikap Kakak."
" Terus Lo mau apa kalau Lo gak suka sikap gue? Ngusir gue, apa Lo juga malu punya saudara miskin kayak gue karena Lo udah jadi milyuner, HAH."
" Kamu sadar juga kalau kamu dan Mumtaz sekarang beda, kamu harus menjaga sikap untuk kepentingan Mumtaz." Timpal Sandra.
" Lo siapa mau ikut campur urusan keluarga gue, keluarga Lo sendiri masih kacau sok ngurusin keluarga gue." Zahra tak kalah nyolot pada Sandra.
" Kakak, jaga sikap sebelum Mumuy berbuat kasar."
Tertegun mendengar ucapan adiknya yang lebih membela Sandra, Zahra menghela nafas gusar, tanpa sadar air mata keluar, " gue paham sekarang siapa yang berarti bagi Lo. Gue gak bisa ngikuti cara main milyuner ala Lo. Gue pergi! Gue gak bisa hidup dengan orang satu kaum dengan Sandra Atma Madina." ,Tekannya.
" ADA APA INI?" Suara bariton tegas dari arah rumah mengagetkan mereka, sontak mereka semua memandangi Zayin yang datang berpakaian serba hitamnya dengan sorot tajam menusuk menatap langsung Sandra.
" Kekacauan ini ulah kak Ala, dia..."
" Diem Lo bocil." Sela Zayin tajam. Zahra mengusap air matanya dia berjalan menjauh dengan isak tangisnya.
" Pasti semua ulah Lo, Tia, dan Sandra. Kalau kalian malu dengan keluarga gue, jangan pernah datang lagi. Kita gak butuh kalian." Tukas Zayin lalu melenggang mengejar Zahra.
Alfaska menatap ibunya kecewa," Afa,.." lirih Sandra.
" Bagi kami kau adalah orang baru, percayalah tanpa sentuhan mu saya bahagia di rumah kecil ini."
Setelahnya dia berbalik, ditengah jalan ia berhenti matanya menatap kecewa istrinya," siapapun kamu sekarang , tolong pergilah. Kembalikan Tia, istri sederhana saya. Karena Tia itu yang saya cintai." Dia melenggang masuk kerumah Mama diikuti Bara dan Daniel meninggalkan Tia yang mematung.
" A... Aa..." Goyangan tangan oleh Tia menyadarkan Mumtaz dari lamunannya, tanpa kata dia berlari masuk rumah.
" Mami, Ita pikir, dengan kematian Mama dan kepergian Papi Mami berubah ternyata tidak. Rasa penyesalan Mami terhadap keluarga ini hanya pura-pura. Munafik!" Ucapan Dista melukai ego Sandra ia bagai dipukul ribuan Godam hingga dadanya sakit.
Sepanjang Zahra berlari dia terus menangis, tak sadar dibelakangnya ada yang mengikutinya, hingga tangannya dicekal seseorang, Zahra menoleh.
" Ikut Ayin." Zayin menarik tangan Zahra dan memasukinya ke mobil yang dikemudikan William.
"Will, sebelum ke markas cari hotel buat Kak Ala dulu."
" Ke apart gue aja, Yin. Lebih aman." William memutar kemudi meninggalkan lingkungan rumah.
" Boleh?"
" Ck, Kakak Lo, kakak gue juga kali." Sahut William santai.
Sesampainya mereka di apertemen yang lumayan luas dengan fasilitasi mewah William memandu mereka ke ruang tengah.
" Udah lama gak Willi tinggalin, jadi mungkin lemari es kosong, bahan makanan hanya ada Snack dan mie instan. Pake aja selama yang kakak mau. Ganti baju ada baju adik Willi cuma kalau panjang gak tahu ada atau enggak." sahut William.
Zayin berjongkok di depan Zahra yang duduk di sofa panjang.
" Minum dulu." Zayin membantu Zahra menenggak air mineral.
Zayin mengeluarkan kartu dan menyimpannya ditangan Zahra.
" Ayin memang gak punya *black card*, uang juga gak sebanyak Aa Mumuy tapi isinya Insya Allah cukup untuk menghidupi kakak. Pake saja tanpa sungkan." Peringatnya.
" Dari mana dapat duit banyak?"
" Hehehe, sebagai abdi negara memang memiliki penghasilan tak terlalu besar, tapi Ayin punya otak cerdas yang berprestasi yang ternyata menghasilkan uang yang lumayan."
" Nanti Kakak ganti."
" Gak perlu, kita keluarga. Uang Ayin uang Kakak."
" Yin, udah waktunya." Sahut Bayu.
" Ayin harus berangkat. Kakak nikmati hidup di sini jangan galau. Pake uang Ayin semau Kakak. Ingat jangan mengirit. Ayin pergi dulu." Dia mencium kening, pipi dan tangan Zahra dengan sayang.
" Hati-hati."
" Selalu. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikusalam."
Tak lama Zayin pergi bel pintu berbunyi Zahra membuka pintu dan masuklah Ibnu dengan raut cemas.
" Kakak lebih baikan?" Tanya Ibnu melangkah ke ruang tamu.
Zahra menatap ke belakang Ibnu khawatir ada orang yang mengikutinya..
" Inu sendiri."
__ADS_1
" Ooh.." ada rasa lega yang Zahra rasakan.
" Udah makan?" Zahra menggeleng.
" Kita pesan, kakak mau makan apa?" Lagi, Zahra menggeleng.
" Jangan mulai mogok makan, gak makan gak ada untungnya. Kakak dokter kan."
" Nih, mau pesan apa?" Ibnu menyodorkan ponselnya.
" Yang mahal boleh?"
" Bebas." Salah satu kejelekan Zahra kalau sedang galau nafsu makannya meningkat tapi harus yang mahal.
" Pesan apa?" Tanya Ibnu dari arah dapur.
" Seafood, dan lobster jumbo."
" Ajimumpung sekali anda." Ibnu menghempaskan tubuhnya di sofa panjang.
" Hehehe, gak setiap hari. Capek banget kelihatannya." ujar Zahra mengambil duduk di sofa tunggal.
" Banget. Ni buat pegangan selama kabur." Ibnu menyerahkan *black card*-nya.
" Ayin udah kasih."
" Pake aja dua-duanya."
" Buat beli baju ya. Ala gak bawa baju."
" Iya, selesai makan beli bahan makanan yuk. dapur kosong." Zahra mengangguk senang.
"Nu, kenapa Mumuy berubah? Apa iya sikap Ala yang keterlaluan?
" Dia tidak berubah, dia hanya tak ingin Kakak terjebak oleh karakter mereka hingga melupakan didikan Mama. Mumtaz kalau udah sadar dia bakal kalang kabut cari Kakak."
" Bisa kamu bikin dia gak bisa ngelacak Kakak?"
Ibnu mengernyit bingung," Kakak masih kecewa sama dia."
" Bisa. Gak mau banget ditemuin?"
" Heeh."
" Okey."
Ibnu mengeluarkan laptop dari ranselnya..
Tepat Ibnu meyelesaikan kerjanya makanan datang," Nu, duitnya." Teriak Zahra.
Ibnu menghampiri Zahra dipintu," berapa?"
" 700 ribu."
Ibnu memberikan delapan lembar seratus ribuan." Kebanyakan, Mas." Ucap pengantar makanan
" Ambil aja lebihnya, pak."
" Makasih ya."
Dengan canda mereka memakan pesanan mereka.
" Nu, kenapa ya sejak dulu kalau Ala terkena masalah Inu yang nemenin Ala!?"
" Karena Mumuy, Daniel, dan Afa yang mencari orang penyebab kak Ala sedih dan memebalasnya."
" Maksudnya?"
" Kakak gak curiga kenapa semua orang yang mencari gara-gara ke Kakak selalu minta maaf?"
" Enggak, Ala pikir karena Ala gak salah."
" Tapi gak harus sampe minta maaf kan!?" Ibnu asyik dengan kunyahannya.
" Iya juga ya." Renung Zahra.
" Kalau yang musuhin kakak perempuan mereka ancam dengan membangkrutkan orang tuanya, kalau lelaki, mereka keroyok Sampai babak belur."
Zahra tertegun, dia sama sekali tak tahu tentang itu, yang dia tahu sejak jaman sekolah jika ada yang memusuhinya maka lusanya orang tersebut pasti meminta maaf padanya.
" Terus kenapa kamu gak ikutan berantem sama mereka?"
" Yang jaga Kakak siapa? Ini cuma soal bagi tugas. Lagian Mumuy pikir Afa dan Daniel harus mengasah bela diri mereka."
" Oouwh, kalian kok sok uwu begitu."
" Hehehe, bagi kami tak peduli berapa wanita yang datang Kak ala masih menjadi wanita terfavorit."
Wajah Zahra kembali mendung kala teringat bentakan Mumtaz tadi, "Kenapa kita bisa begini ya?"
" Sebenarnya sejak kakak dan Mama dihina Nebuy dan Mami Mumtaz suka menyesali dan membenci diri sendiri. dia berandai jika dulu tidak menerima bantuan om Hito dan tidak mengikuti keinginan Alfa dan Daniel kalian tidak akan menerima hinaan itu."
" Ck, pikiran macam apa itu. yang julid kan cuma Nebuy dan Sandra sementara yang lain baik." Ucapan itu berlaku untuk dirinya sendiri.
\*\*\*\*
Tamara dan beberapa pria berbadan besar sedang berdiri di ruang tunggu di pelabuhanTanjung Priok mengawasi peti kemas mereka yang sedang diturunkan dari kapal.
Sejauh ini semua berjalan lancar, semua peti kemas itu telah diturunkan Tamara tersenyum sumringah, tanpa mereka sadari dari sekian banyak petugas yang mendata memeriksa fisik isi peti kemas ada orang BNN, TNI angkatan laut, serta BIN.
Tiba-tiba Mata Tamara membulat kala peti kemas mereka disegel.
Tenggeram kesal, " tembak!"
" Apa?" tanya salah satu **bodyguardnya**.
" Saya tahu kalian menempatkan penembak jitu bayaran, maka tembaki mereka." titahnya lalu melenggang pergi sebelum tercyduk...
__ADS_1