Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
190. Pelan Tapi Pasti


__ADS_3

Tak..tak...tak....


Rodrigo dan Mateo yang masih terjaga  di dinihari dengan laptop mereka yang menyala menoleh saat langkah kaki menuruni tangga dengan terburu-buru.


Mereka berdua mengernyit kening bingung melihat penampilan Raul yang terkesan rapih, padahal mereka pikir pria itu sudah tidur.


" Raul. Mau kemana kamu?" 


" Gue gak punya waktu berbasa-basi. Mat, kau harus ikut denganku."


Mateo dan Rodrigo melempar pandangan karena bingung." Kemana?"


" Ivanka."


Susana seketika sunyi dengan aura tegang." Raul, kau jangan bercanda." Sergah Mateo yang menganggap Raul mengada-ada.


" I am not. Tadi Mumtaz menelpon ku dia memberikan Ivanka sebagai hadiah untukku, tentu aku tidak akan menolak." Ucapnya sambil mengenakan jaket.


Mateo masih tertegun kaget." Apa kau memberitahu dia?"


" Tidak, aku sama kagetnya dengan mu saat Mumtaz mengatakan perihal Ivanka. Dia mencari tahu tentang mu karena kamu asistennya Alfred."


" Kenapa Mumtaz sangat penasaran tentang Alfred?, Maksudku, hukuman terhadap Alfred sangat berbeda dibanding dengan yang lain, dia terkesan mengulur waktu." Gumam Rodrigo bertanya.


" Aku tidak peduli, selama itu bukan aku. Bagaimana Mat, apa kau mau ikut?"


" Aku belum bisa kesana, aku akan menyusul mu begitu urusan di sini selesai."


" Kalau begitu aku pergi. Rodri, kamu jaga kakek, aku percaya padamu."


" Tanpa kamu minta aku pasti menjaganya." Decak Rodrigo pada daun pintu yang tertutup 


******


 Masih berani Lo, berulah di sini setelah kegagalan Lo kemarin." Hardik Bara dengan wajah mengeras.


" Mr...Mr... Atma Madina, saya kira kita bisa mengobrol secara diplomasi." Rayu Valentino tidak yakin.


" Diplomasi, setelah apa yang terjadi? Lo lihat karena ulah Lo." Bara membawa ponsel untuk memperlihatkan keadaan rumah sakit yang kacau, banyak tembok, langit-langit atap yang berlubang karena peluru.


" Ashole..." Maki Hito mengambil alih ponsel dari Bara.


" Mr Arvenio...bagaimana..." Valentino terkejut.


" Yes, itu saya. dan kamu sudah mengangguk wanitaku."


" Wanitamu? siapa,..."


" Hallo Valentino..." sapa Dominiaz di belakang Hito mengejek dia 


" ****..damn..." Bentakan dengan segala umpatan terdengar.


Valentino dengan panik mengutak-atik agar komputernya nonaktif , tetapi tidak bisa. Bahkan dia tidak bisa keluar dari sambungan itu.


Dia mencoba berlari kabur, tapi diurungkan, karena Filippo sudah berdiri bersandar di daun pintu dengan bersedekap dada.


Valentino terkejut, dia menatap monitor yang masih memasang wajah Dominiaz dengan seringai culasnya.


Tidak punya pilihan lain, Valentino berjalan kembali ke meja kerjanya dengan lunglai, duduk di kursi dengan gestur kalah.


" Kau 1diot..." Ucap Filippo.


Valentino sudah terkepung di ruang kerjanya sendiri, keberadaan Filippo di sini menandakan kalau area teritorialnya sudah dikuasai Gaunzaga.


" Kau yang Bastard, kau pecundang b0doh yang berdiam di bawah ketiak ayahmu, dan berani mencaci ku, dasar looser,..."


Zahra yang kesal mendengar kata-kata kotor Valentino, merebut ponsel dari tangan Hito.


" Heh, bajingan tengik, gue gak tahu siape Lo, tapi Lo salah milih lawan. Hidup lo m4ti, ko1t, the end, finish. Jelek Lo kayak k4mbing tetangga gue,T0lol dipiara." Cerocos Zahra dengan sumpah serapahnya.


Para lelaki tidak ada yang berani menyela Zahra, meski mereka telah melihat wajah Valentino yang merah padam atas hinaan Zahra, mereka enggan mensudahi amarahnya.


Sampai Mumtaz dan Ibnu menginterupsi Zahra.


" Kak..."


" APA?" Zahra menutup mulutnya, kaget akan nada suaranya sendiri.


" Mumuy..," Zahra melemparkan dirinya ke pelukan Mumtaz." maaf, bukan ke kamu. Aku tadi takut banget. Kamu kemana saja?"


" Aku tahu, maaf, aku tidak bisa melindungimu." Mumtaz menjauhkan diri dengan kakaknya, menelisik penampilan Zahra yang semrawut banyak noda darah." Apa kau terluka?" Mata Mumtaz dan Ibnu memicing bertanya menatap Hito.


" Ini bukan darahku, tapi mereka." Tunjuknya pada banyak tubuh yang masih belum diurus.


Mereka berdua menghela nafas lega, "  sekarang kakak periksa lukanya, biar aku yang urus dia." Meski Mumtaz berbicara dengan suara lembut dan tenang, namun bulu kuduk Zahra merinding karena kesan mengintimidasinya.


" Kamu jangan ampuni dia, udah kurang ajar banget gak sih berani  melakukan kejahatan di rumah sakit? Minta ganti rugi yang gede banget, kalau bisa sampe dia bangkrut."


" Siap, sana pergi."


" Baik." Zahra mengoper ponsel itu pada Mumtaz yang langsung memberi tatapan tajam pada Valentino selepas Zahra pergi.


" Masa pengampunan mu berakhir, Navarro. Mulai saat ini dan seterusnya, kau dan keluarga mu hanya akan merasakan siksaan seperti yang sudah kau lakukan."


Pancaran tatapan mata Valentino dan Mumtaz saling adu mencoba memberitahukan siapa yang berkuasa.


" Siapa kau? Aku tidak perlu takut padamu." Tantang Valentino 


Bola mata yang mendengar ucapan Valentino memutar malas, " kalau begitu sebaiknya kau having s3x saja dengan para sund4lmu." Cacimaki Dominiaz.


" Bukan aku yang harus kau takuti, tapi Raul Gonzalez. dia sekarang sedang menuju ke sana untuk menemui Ivanka mu. Apa kau sudah mendapat kabar dari putrimu?"


Dominiaz dan Hito menoleh kaget memandangi Mumtaz dengan seribu pertanyaan," darimana dia tahu korelasi antara Raul dengan Ivanka.


Sontak Valentino terbelalak karena terkejut, rona wajahnya pias.


" Bayangkan kebrutalan keturunan dari bajingan Eric Gonzalez meluapkan dendamnya yang sudah menahun pada putrimu atas perbuatanmu." Gertak Mumtaz dengan seringai miring kurang ajarnya.


" Hahahaha..dia tidak bisa menyentuh Ivanka ku, kakeknya melindungi dia, kau tidak tahu siapa kakeknya kan, pemuda tengik?"


" Kakeknya, ..hmm.. benarkah sang kakek yang mengikuti dia? Kau yakin?" Ejek Mumtaz.


Pertanyaan itu membuat Valentino bingung, Mumtaz dari iPadnya mengirim video beberapa pria gagah khas Eropa timur yang duduk di ruang tamu apartemen Ivanka yang dijamu hangat oleh sang empu.


" Apa mereka yang mengikuti Ivanka mu?"


" I...iya..." Valentino tergagap karena gugup.


" Well..well...kau salah perkiraan, karena mereka teman-temanku." Seringai dingin dari Mumtaz berhasil membungkam Valentino dalam keterkejutannya.


" Kau...," Valentino bergegas menelpon Ivanka, tapi gagal. Ia terus menelpon sebanyak 10 kali tapi telponnya tidak aktif.


" Kau tak akan bisa menghubunginya lagi, tuan. Dia milik Raul, milikku yang telah ku hadiahi untuk tuan Raul."


" Kalian jangan pergi sebelum tuan Raul datang." Ujar Mumtaz pada keduanya melalui earpieces.


" Baik." Jawab para pria gagah tersebut. 


" Ti..tidak..tidak...jangan biarkan dia menyentuh Ivanka ku." Valentino kalut sekaligus marah.


" Kau bukan orang yang bisa memerintahku, urusan kita selesai. Ku Alihkan nasibmu pada Gaunzaga, satu lagi musuh yang dendam pada Navarro." Desis Mumtaz datar.


Dominiaz mengambil ponsel dari Mumtaz yang berlalu menyusul Zahra dibawah tatapan bertanya dari Ibnu.


" Guys, aku harus pergi, p4nglima ingin meminta laporan. Dewa beri gue gambar tadi." Kata Zayin, ia menepuk William agar ikut dengannya.


" Siap."


Dominiaz tidak lama mengobrol dengan Valentino, ia hanya mengatakan era Navarro benar-benar berakhir sebelum mekar. Damian menelpon dan memintanya untuk pergi ke alamat yang dia kirim.


Setelahnya, dengan entengnya Dominiaz menimpuk kepala Ricky dengan ponsel itu.


" Bangun Lo, bang Domin pengen ketemu Lo."


" Aaaws, Dom. Gak perlu nimpuk juga, gue pengen istirahat bentaran aja." Ringis Ricky beranjak berdiri.


" Berisik, kita pergi sekarang. Guys, kalian bantu anak RaHasiYa mengurus tubuh tidak berguna ini." Titahnya pada anak buahnya.


" Siap."


Dominiaz menarik kerah kemeja Samudera yang memberontak menolak itu, tapi dicueki oleh sang sahabat. 


Tanpa mereka sadari dimasing-masing pundak mereka hinggap satu bintang kecil yang dikontrol oleh Daniel.


" Leo, pimpin mereka, para tubuh itu langsung dibakar saja, abunya kirim ke Navarro." Perintah Bara.


" Siap." Mereka langsung bergerak menyeret dan membungkus para may4t tersebut.


" Nu, ke ruang kerja gue. Lo bobol rekening si Navarro habis-habisan." Seru Bara.


" Duit dia banyak yang haram, Bar." Kata Ibnu.


" Tahu darimana Lo?" Tanya Daniel saat menunggu lift.


" Gue udah berhasil membuka beberapa file dari Mumuy itu."


" Kirimkan ke kita." Pinta Alfaska.


" Buka saja akun gue, di sana semua."



Mereka berkumpul di ruang kerja Bara dengan bergelas-gelas kopi di atas meja.



" Bagaimana?" Tanya Daniel pada Ibnu yang sedari tadi diam bermain dengan laptopnya.



" Ingat amanah dari kak Ala, sampe mereka bangkrut." Alfaska mengompori.



" Beres, di rekening mereka tersiksa hanya saldo limitnya doang."



" Keterangannya apa? Gak lucu kita dikejar interpol cuma duit segitu." Cibir Alfaska.



" Gue pake keterangan transaksi dengan Gonzalez. Kalau diterangkan panjaannng dan lamma.." guraunya sambil minum kopinya.



Muy, diam-diam Bae. Sumpah diamnya Lo dengan tabs ditangan bikin gue nethink sama Lo " ucap Alfaska memicing.



" Okey, kita harus pergi ke tempat om Damian kalau Lo pengen tahu rasanya menguasai pecundang berduit." Seru Mumtaz.



Tok...tok...



Ceklek...



Zahra dan Zahira dengan penampilan kuyu dan lusuh, tanpa jas mereka.



" Kak, Kakak dan kak Hira pulang ke rumah ya?"

__ADS_1



" Kamu mau kemana?" Tanyanya saat menjatuhkan diri di samping adiknya, sedangkan Zahira duduk menggeser Alfaska di sofa tunggal.



" Aa masih ada perlu, ini orang gak bisa didiemin lagi." 



" Mumtaz mengelus kepala Zahra, " Kakak pulang bareng om Heru ya!?"



" Kenapa tidak dengan saya?" Hito keberatan.



" Rumah om jauh, kalau om Heru tetanggaan. Om Hito kan capek juga."



" Apa Zayin mengatakan sesuatu padamu tentang kami?" Tanya Hito serius.



Diamnya Mumtaz dengan raut tenang, namun tatapan menusuk padanya, membuat Hito mengutuk dirinya sendiri.



" Kakak pulang bareng om Hito, sebelum Aa tahu apa yang disimpan Zayin, kalian dilarang berduaan, kalau tidak, kalian sudahi hubungan ini. Jangan menguji kenekatanku." Tegas Mumtaz beranjak keluar dari ruangan.



Heru diam menatap prihatin pada sahabatnya yang menunduk sambil menjambak rambutnya kesal.



\*\*\*\*\*\*\*



" Semuanya hanya ini?" Tanya p4nglima pada Zayin dan William, setelah menonton video serangkaian perang antar pelvru di tengah kegelapan malam



" Intinya itu, mereka kalah."



" Siapa mereka itu?"



" Valentino Navarro, itu pemimpin mereka."



" Navarro, dia rekan bisnis restoran Gonzalez yang bangkrut itu kan?" 



" Saya kurang tahu, tanya saja ke Intel langsung."



Mata p4nglima menatap sang Intel meminta jawaban.



" Siap, betul. Navarro rekan bisnis tuan Gonzalez, hampir seluruh bisnis dia di indonesia dipegang oleh Gonzalez."



" Zayin, apa dia terlibat dengan Tamara?" Tanya p4nglima



" Tamara, untuk pengiriman terakhir narkoba Navarro yang berhasil kita gagalkan, Tamara sebagai perantaranya." Jawab Zayin.



" Saya mendengar mereka akan menuntaskan persoalan Valentino malam ini juga."



" Apa maksud..."



Tok..tok ..



" Masuk." Perintah p4nglima tidak sabar.



" Siap, jendral. Ada laporan terjadi ledakan besar dari suatu gedung tidak jauh dari istana." Lapor sang ajudan.



P4nglima terhenyak karena terkejut, matanya melirik Zayin." Kalian meluncur ke lokasi."



" Siap, laksanakan." Jawab Zayin dan William serempak.



\*\*\*\*




Tampak dari luar gedung itu layaknya tempat bisnis biasa, tetapi begitu memasuki lobby, kita akan tahu kalau tempat ini dilengkapi alat canggih, hal yang paling ganjil dari tempat ini adalah, banyaknya senjata api yang tersimpan di tembok.



" Gue di lantai empat, Lo ke sini langsung Dom, banyak jackpot yang kita dapatkan."



 Dominiaz, Samudera dan Ricky langsung menuju lift.



" Apa, bang?"Tanya Dominiaz saat mereka tiba di ruang kerja yang terbilang luas, namun sudah berantakan diacak oleh Damian dan anak buahnya.



" Lihat yang di atas meja." Seru Damian, dia sendiri sedang sibuk menyisir tembok.



Tik...



Tembok bergeser saat Damian menekan salah satu di dindingnya.



" Anjir, seriusan ini?" Kaget Dominiaz.



Di atas meja itu, terdapat banyak foto yang sangat mengejutkan.



" Kita gak bisa menghancurkan semua gedung. Terlalu berharga untuk dilenyapkan." Ujar Damian.



" Sam, Lo masuk ke berkas mereka." 



" Ini lagi " ketus Samudera yang sengaja sibuk dengan komputer yang ada di depannya.



" Kenapa Lo gak bilang, Rick?" Tanya Damian.



" Gak bisa, dia pengen *on* selalu. Kalian repot-repot geledah ruangan ini, sementara kalian nganggurin gue  yang tahu segalanya di sini." Ucap  Ricky retorika sambil menggeleng.



" Oh iya, ngapain kita susah-susah keliling." Sahut Dominiaz, beranjak duduk di sofa bergabung deng Ricky.



" Domiiinnn... Huek..huek.." panggil Damian.



Dominiaz dan Ricky berlari menyusul Damian masuk ruangan berbahan tembaga yang berukuran 5×5 dilengkapi kasur big size, westafel, toilet, lemari pakaian, nakas. 



Saat pandangan mereka menyisir ruangan, mereka terhenyak dengan dinding yang dihiasi tempelan banyak foto anak dibawah umur, alat kontrasepsi, suntikan alat penghisap narkoba, alat penyulingan, dan beberapa tumpukan pakaian di dalam lemari. Setelah diamati ternyata itu pakaian para perempuan yang difoto.



Damian membuka laci nakas satu persatu, di laci teratas, tempat penyimpanan permainan s3x. Di laci kedua, tempat, tempat banyak tisu yang beraroma. Di laci ke tiga, banyak kaset, dan memori card.



Damian mengambil satu kaset, lalu dipasangkan ke kamera yang tergeletak di atas nakas. Tidak lama dia dia mual-mual, lalu muntah di atas westafel depan toilet.



" Kenapa bang?" Dominiaz mengambil kamera yang diletakan di atas kasur oleh Damian.



" Baj1ng4n t3ng!k. Dia seorang p3dofil, para anak itu kemungkinan anak Indonesia, atau sekitaran Asia." Marah Damian.



4nj!NK, perusak kel4min." Umpat Dominiaz.



" Lo tahu tentang ini, Rick?" Tanya Dominiaz.



" Enggak, yang masuk sini, biasanya orang-orang yang difoto itu. Padahal Navarro tidak ada, mereka kayak pemilik gedung ini."



" Apa mungkin mereka memang pemiliknya?" Gumam Damian.

__ADS_1



" Kalau iya, ASU sih emang. Anj!r neg4ra ini dikuasi oleh para b4j!Ngan., Sumpah, gue kalau udah begini mainnya siapapun gue hadapi." Cerocos Damian.



" Lo memang harus gerak, bos. Apalagi dibelakang Lo banyak nama besar yang dukung, mereka gak akan bertindak gegabah sama Lo." Ricky mengompori.



" Kita pergi, biar polisi yang urus " seru Damian.



Mereka keluar dari ruangan dengan raut menyeramkan.



" Bos,..." Sakti, salah satu kepercayaan Damian berlari dengan wajah kagetnya dengan drone ditangannya.



" Ada apa?"



" Kemari, Lo harus lihat ini."



Sakti mengambil kartu memori dari kamera, kemudian dimasukan ke dalam ponselnya.



" Mereka punya Bangkar luas, yang terbagi dua ruangan, sepertiga dari bongkar khusus untuk persenjataan, dan sisanya untuk urusan pribadi, di samping sebelah Utara ada pintu yang menembus istana."



Semuanya terkejut, mereka menoleh menatap Ricky.



" Jalan itu bercabang, dibalik besi yang dijadikan dinding ada jalan menuju Monas, gereja katedral, dan mesjid istiqlal." Kata Ricky biasa saja.



" Dan Lo biasa saja? Gak ngasih tahu gue? Negara saya dalam ancaman lho ini." Damian sudah menaikan oktaf suaranya.



" Bos, jangan marahi dulu, sekarang bos pikir, kapan terakhir kita berbicara? Lama banget, Mateo mengetahui itu, mata-mata ada dimana-mana. Jadi kalau mau protes, protes pada Mateo, jangan padaku. Dia punya banyak waktu untuk memberitahu kalian." Ricky menolak dipersalahkan, karena posisinya di memang sulit.



Dia yang harus selalu menempel pada Guadalupe, dan diperb4bu oleh Valentino. Posiisnya hanya asisten lapangan untuk bertempur, jelas akan aneh jika dia berbicara pada orang asing diluar organisasi mereka. Beda  dengan Mateo, sebagai asisten pribadi Alfred dia banyak bertemu orang.



" Tenang, bang. Apa yang dikatakan Ricky juga tidak salah." Samudera menengahi.



" Oke, *sorry*. Dom, kita harus minta penjelasan pada Mateo dan Rodrigo. Sekalian ajak Mumtaz."



" Aku di sini, om." Para petinggi RaHasiYa memasuki ruangan dengan santai.



" Kalian kemari?" Tanya heran Damian.



Bara menunjuk telinga, bahu mereka.



Mereka menoleh, Samudera terpekik kaget, ia menghempaskan benda itu yang bukannya jauh, malah terbang bermetamorfosis menjadi lebah kemudian menempel di lampu.



" Itu..apa?" Samudera syok.



" Kamera." Jawab Alfaska santai.



Setelah beberapa saat petinggi RaHasiYa memeriksa memutari ruangan, kini mereka duduk memenuhi sofa.



" Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Damian.



" Melaksanakan rencana kalian." Ucap Mumtaz.



" *No*, terlalu banyak barang bukti yang sayang dihanguskan." Tolak Damian.



" Bukan gedung ini, tetapi gedung sebelah yang ada di belakang gedung ini. Di sana hanya untuk produksi saja, iya kan om Ricky?" a Ricky yang mengangguk.



" Iya, tetapi terlalu beresiko, ledakannya akan sangat besar, dan itu terlalu dekat dengan istana. Bisa jadi bangkar yang dibawah tanah hancur."  Asumsi Ricky.



" Tidak akan, mereka membangun bangkar dengan perencanaan anti bom nuklir." Jawaban Mumtaz menghadirkan pertanyaan lanjutan dipikiran mereka.



" Lo tahu banyak tentang mereka." Sindir Dominiaz curiga.



" Bang, Lo pikir dua gedung ini serta isinya bisa dibangun hanya dalam hitungan bulan? *No*, tahunan, tepatnya delapan tahun yang lalu, mereka merencanakannya sejak dua belas tahun lalu."



" Darimana kamu tahu?" Tanya Samudera.



Sebelum menjawab pertanyaan, Mumtaz menatap Ibnu dalam dengan tatapan tegas.



" Dari file yang ditinggalkan bapak Mahmud."



Ibnu terhenyak, ia menatap balik Mumtaz dengan raut tegang. Ia lalu menerjang Mumtaz, memukulinya sangat bertenaga.



Gerakan yang tiba-tiba itu, mengagetkan yang lain, kemudian para sahabat berusaha menjauhkan Ibnu dari tubuh Mumtaz dengan susah payah. 



Mata nyalang Ibnu menatap Mumtaz yang dibantu berdiri oleh Daniel dan Dominiaz. Dada ibnu kembang kempis menormalkan nafas.



" Lo,...b4j!ng4n..."



Plak...



Satu tamparan keras dari Bara mengenai pipi Ibnu yang berubah merah. Ia ingin Ibnu sadar dari amukannya sebelum segalanya lebih runyam.



" Berhenti menyalahkan Mumtaz, kalian sudah mengalami banyak cerita, dan gue muak kalian selalu menyalahkannya kalau kalian menemukan hal yang tidak kalian kira. Padahal ini bukan tentang dia, ini tentang kalian." Tekannya pada ibu dan Alfaska.



Tanpa dia kalian sekarang hanya jadi mayat dalam gundukan tanah. Gue gak tahu apa yang terjadi dengan Lo, Nu. Tapi gue yakin Mumtaz sudah melakukan yang terbaik untuk Lo.



Pikir pake jidat Lo, apa Lo kuat menerima kenyataan jika Mumtaz mengatakan semuanya?, Sementara  mengingat kepingan masa lalu saja Lo pingsan. Alih-alih menyalahkan Mumtaz, mending Lo cari sendiri tentang kisah Lo." Tekan Bara, telunjuknya menekan dada Ibnu.



Mendengar ucapan Bara, ada rasa sesak di dadanya, Ibnu menghentakan tangan Daniel dan Alfaska yang memeganginya, kemudian dia duduk mengusap wajah, dan menyugar rambutnya dengan kasar.



Wajahnya terlihat menderita dan tersiksa, matanya sudah memerah, sedetik kemudian airmatanya turun deras membasahi wajahnya, erangan tertahan menguarkan kepiluan menyayat hati yang mendengarnya.



Suasana ruangan hening, hanya Isak tangis Ibnu yang terdengar, Matanya yang penuh kepedihan menatap Mumtaz yang duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam.



" *Sorry*, gue tahu seenggak tahu dirinya gue bagi Lo, tapi gak inget apapun tentang bapak dan ibu membuat gue menderita, Gue berasa ada ditengah-tengah kegelapan, ingin gue ikhlasin, tapi gue gak bisa. Rasa nyeri itu selalu ada di sini setiap mengingat hari itu dan setelahnya." Ungkap Ibnu menekan dadanya.



" Keegoisan gue yang gak bisa melepas lo, Muy. Please jangan benci gue, jangan lelah terhadap kelabilan emosi gue." Paraunya, sepanjang mencurahkan hatinya, airmatanya terus mengalir tiada henti.



Tak sanggup melihat penderitaan sahabatnya Mumtaz menyebrangi meja panjang di depannya, ia memeluk Ibnu dengan erat.



" Shuutt, *its okey*. Gue gak apa-apa, mana ada Abang ninggalin adiknya, gak akan ada. Biar lo mencoba menjauh atau bertingkah nyebelin, gue ada untuk Lo. Gak ada alasan gue ninggalin Lo."



Mumtaz mengurai pelukannya, "paham, hmm?" Ibnu mengangguk patuh.



" Sekarang, Lo lihat apa yang akan gue lakukan, Lo rekam dalam jidat Lo bukan dalam pikiran Lo. Itu kata Bara." Mereka berdua terkekeh dengan lelucon itu.



Anak buah Damian melempar bom yang langsung masuk ke tanah sesuai arahan Mumtaz, juga diletakan di seluruh gedung berlantai lima tersebut, terus memenuhi tanaman yang dirawat cantik yang terletak diantara dua gedung itu, sampai ke pantry gedung depan.


Mumtaz menyalakan kompor listrik yang secara perlahan membakar sumbu panjang yang berujung pada satu bom bulat yang dipahami ledaknya merembet pada bom lainnya.


" Udah selesai, kita cabut."


 Empat Mobil dan beberapa motor berhenti di sekitaran ujung lapangan Mon4s seberang 1stana dengan berjarak agak jauh dari satu mobil lainnya.

__ADS_1


Mereka menunggu, selang lima menit terasa getaran di daratan yang mereka pijak, dilanjut suara gemuruh, disusul rembetan ledakan-ledakan kecil sebelum Terdengar hembusan, dan getaran yang semakin keras, lalu,


BHHHOOOMMMM...DUAR....DUAR.....


__ADS_2