Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 128. Mengamati pergerakan.


__ADS_3

Eric meninggalkan kursi kebesarannya menuju kamar mandi yang ada di ruang kerjanya sambil bersiul-siul, dia senang pengiriman kali ini sukses, bertepatan saat layar menayangkan penggerebekan para prajurit ke tempat penyimpanan senjata.


Tiba-tiba layar laptop Eric menggelap, menghilangkan gambar kamera pengawas Eric.


Ditengah langit malam dibawah guyuran hujan dua drone pengintai dan anti teror tanpa awak terbang mengitari pelabuhan, dari arahan drone Bayu dapat nangkap terdapat kamera pengawas ilegal dibeberapa titik pelabuhan yang langsung dia nonaktifkan.


Sementara Para prajurit mengambil video dan foto barang yang diangkut kapal, jika dalam keterangan laporan kapal itu membawa komoditi furnitur, tetapi faktanya itu hanya kamuflase saja.


Dibanding komoditi yang dilaporkan, senjata dan bom yang mereka bawa lebih banyak.


Dua awak kapal B menaiki badan kapal menuju tiang hendak mengganti bendera," Yo..." panggilnya pada awak kapal A yang berdiri disamping badan kapal yang dibalas anggukan kepala olehnya.


" Ganti bendera Mexico, mumpung belum ada petugas." Lagi, awak kapal A mengangguk dan berbalik seakan ingin mengganti bendera.


Mereka tidak curiga jika kapal A telah diambil alih oleh tim gabungan YonTaifib dan Kopaska.


" Report, kura-kura." Bayu yang mendapat julukan itu melirik tidak suka pada atasannya yang tentu saja diabai oleh sang atasan.


" Hampir semua barang yang dibawa berupa senjata berlaras panjang jarak jauh, dan dekat, pistol, jutaan peluru, bom, dan bahan peledak mentah." Lapor Bayu mengamati laptop yang menyiarkan  hasil tangkap dari handycam rekannya di sana.


" Wow, sepertinya mereka ingin meluluhlantakan Indonesia." Seru William.


" Hiu, gue jaga diluar." Ujar rekannya pada sang ketua.


" Yoi, gue tutup ini dulu baru gue susul."


Kini ketua digiring keluar dengan kedua tangan terangkat.


" Letakkan senjata kalian, atau ku bunuh dia." Dua rekannya yang hendak mengangkat senjata pada suara asing dibelakangnya diurungkan ketika melihat situasi yang ada.


Mereka saling pandang memberi kode lewat mata.


" LETAKKAN! bentak Penyandera.


" Tenang, relax." Rekannya yang dipanggil Teri menenangkan dengan mengangkat satu tangannya.


" Relax, bagaimana kami bisa santai jika kalian selalu mensabotase  aksi kami." Hardiknya marah.


" kalau soal itu, kami hanya menjalankan tugas, kalau kalian tidak ingin disabotase kalian bisa melakukan aksinya ke lapak sebelah." 


" Maksudnya?"


" Ke lain tempat yang bukan indonesia."


Sementara Teri mengulur waktu, rekan satunya bergerak tanpa kasat ke belakang Penyandera, ia sengaja membuat suara di dalam bagasi dengan melempar bolpoinnya


 Fokus Penyandera terbagi, dia menoleh ke belakang jepitandileher ketua melonggar," kamu pikir saya suka masuk sini, memang ini tempat target kami." bocornya.


" Dan tugas kami menjaga keamanan dan kedaulatan negara, jadi jangan salahkan kami kalau kami lagi-lagi menggagalkan aksi kalian sih." Ucapnya songong berhasil memancing emosi lawan.


Menyadari melonggarnya cekikan, hiu langsung memelintir tangan lalu membanting penyandera,


Prak!!!


Penyandera jatuh di atas kayu.


Kemudian mengunci pergerakannya diakhiri mengikat tali dikedua tangan dan kaki penyandera. Dalam hitungan detik Penyandera kini menjadi sandera.


Suara patahan, mengalihkan perhatian awak kapal yang sedang proses melepas bendera, alih-alih melepas bendera yang sudah ditangan, mereka malah melangkah ke arah suara.


" Hehehehe" senyum culas menghiasi bibir lawan saat menyadari adanya pergerakan dari atas.


" Kalian pikir kalian sudah menang, kalian semua malam ini akan mati." Ancamnya mengintimidasi.


" Ck bacot, datang aja dulu baru komentar." Ujar si Teri.


" Dua target di jarum jam dua belas." Seru Zayin, mereka sontak mengamankan diri menempel pada tembok dengan senjata siaga, mereka melihat bayangan dua orang itu dari lantai, namun tiba-tiba,


Brakkgh!! brakgh!!!


Dua orang jatuh dengan hujaman peluru masing-masing dibagian dada dan kepala.


" Report" seru komandan.


" Non." Ucpa Zayin.


" Non." Timpal William.


Dan juga Kata non dari para prajurit, yang artinya mereka tidak menembak." Sepertinya ada pihak lain yang yang mengintai."


" Kura-kura." Bayu memeriksa rekaman pengintaian drone dari segala arah.


" Di sisi kapal terparkir paling dekat terdapat Dominiaz Pradapta. Sisi lain Rodrigo Gurman."


" Periksa apa mereka punya kewenangan bertindak?"


" Siap, tentu, izin black mission dari panglima langsung." 


" Well, well. Kita bekerjasama sama dengan organisasi terkenal di negara masing-masing." Sindir Zayin, dan tentu hanya Zayin yang berani berkomentar demikian.


" Fokus, segera tuntaskan." 


" Siap, laksanakan." Seru prajurit


" Ada pergerakan lain dari beberapa perahu menuju kapal." Seru william matanya mengawasi lewat teropong senjatanya.


" Siap, izin menembakkan perahu " seru Zayin yang sudah bersiaga dengan senjata jarak jauhnya.


" Laksanakan." Seru komandan.


" Siap, izin menembak orangnya."


" Jika terdesak." Terdengar decakan dari Zayin yang hanya mendapat gelengan kepala dari para rekannya.


Lagi, Zayin berani berdecak, entah terbuat dari apa mental juniornya itu.


"Dalam hitungan 10 menit semua harus clear." Titah komandan.


" Siap." Seru seluruh anggota pasukan.


Tiga perahu berbendera indonesia secara mengendap mendekati kapal. Para prajurit berpencar, sementara Zayin menem.baki lantai kayu perahu secara acak. agar perahu tenggelam.


Serbuan temb.akan dari Zayin membuat para penyusup pontang panting menyelamatkan diri ke laut memang beberapa penyusup berhasil menaiki kapal, namun di atas mereka sudah ditunggu oleh pasukan elit AL tersebut.


****


Tamara selepas dari cafe, saat ini duduk dalam taxi menuju satu tempat, hanya ada satu orang yang menjadi harapan terakhirnya.


Dalam taxi mulutnya berkomat Kamit mencaci maki para mantan sahabat lamanya.


" Non, kita sudah sampai." Seru pengemudi taxi yang berhenti di depan rumah besar.


Tamara memperhatikan rumah mewah dari balik pintu mobil sebelum membayar dan turun dari taxi.


Tamara menghampiri pos penjaga sambil menggeret koper.


" Permisi, saya mau bertamu kepada nyonya Amara"


" Anda siapa?" Tanya pak satpam.


" Saya Tamara, putrinya." 


Sesaat satpam memperhatikan penampilan Tamara.


" Tunggu sebentar."


Tak lama Tamara sudah berhadapan dengan Amara yang bersedekap dada.


" Setelah dulu kamu berucap sombong tidak membutuhkan ku, kini kamu di sini yang aku asumsikan kau butuh aku."


Tamara menghela nafas kasar," aku capek. Kalau ingin mengejekku izinkan aku beristirahat dulu."


" Untungnya untukku menampungmu apa?"


" Mama bertemu putri mama yang sudah lama dirindukan?"


Amara berdecak mencemooh," lihat, tampang mu...." Amara menggelengkan kepala memindai dari atas sampai bawah.


" Beri aku waktu, akan ku pastikan tuan indukmu akan beralih pada tubuh sexy ku."


" Masuklah."

__ADS_1


Begitu Tamara masuk ke dalam rumah, tak jauh dari sana seseorang menelpon tuannya.


" Tuan, dia masuk ke dalam rumah yang berada di daerah Kemang."


" Share lokasinya."


*****


" Info terbaru, Nu." Ujar Alfaska begitu memasuki lantai sembilan disusul para sahabat dan Hito.


Tak lama Bara turut gabung di sana.


" Woi bro, gimana secara keseluruhan?" Tanya Daniel.


" Kita terlambat beberapa langkah, karena medannya hutan ditambah hujan makanya sedikit ribet."


" Nu,.." seru Mumtaz.


" Pelacak, masih diposisi terakhir, Jeno sudah sampai ditempat, tetapi dia tidak menemukan apapun selain mengikuti jejak ban beberapa truk pengangkut kayu yang jejaknya menghilang karena hujan."


" Kondisi jeno?"


" Terakhir baik-baik saja."


"  Kak Ara?"


" Masih nol."


Melihat layar laptop di depannya, Ibnu menegakkan duduknya. " Pelacak kak Ala terdeteksi."


" Dia sedang di daerah perkotaan."


Dengan sigap Ibnu melacak posisi tepat Zahra, sembari menelusuri dia sibuk memberi keterangan


" Kini mereka di bandara Ahmad Yani." Ibnu meretas data base jadwal penerbangan.


" ****, mereka dalam waktu lima menit lagi take off, mereka menuju..."


" Kalimantan." Potong Mumtaz. 


" Darimana Lo tahu?" Selidik Daniel, yang lain turut memperhatikan Mumtaz.


Mumtaz yang berdiri di depan layar hologram yang menampilkan peta Indonesia dan rekam jejak digital sejak awal penculikan Sri dan Zahra, dia menzoom peta Kalimantan


" Dari hutan menuju hutan. Sangat terbaca." Ucapnya misterius.


" Maksudnya kalau mereka mau bersembunyi di kota mereka pasti akan memilih di Indonesia bagian barat atau tengah." Terang Ibnu.


" Sejauh itu?" renung Hito.


" Tepatnya di Palangkaraya." Ucap Ibnu.


Mereka mengerutkan kening tidak paham akan tindakan para penculik.


" Bar, suruh Jeno ke bandara ahmad Yani. Apa pesawat Atma Madina masih bisa terbang?"


" Sedang masuk hanggar."


" Pesawat Hartadraja bisa dipakai." Seru Hito.


" Saya hubungi Halim dulu." Hito menelpon pihak bandara Halim Perdanakusuma dan menelpon kru pesawatnya.


Bara pun menghubungi Jeno cs untuk ke bandara Ahmad Yani.


" Mereka langsung terbang begitu pihak bandara membuka jalur." Terang Hito.


" Ada makanan kan, Om?" Pinta Bara.


" Pasti, saya tadi sudah pesan banyak makanan yang harus disediakan."


" Baiklah, Kita hanya punya beberapa jam untuk nyusun strategi. Sekarang kita istirahat dulu." Seru Mumtaz membuyarkan konsentrasi mereka.


Tring!!!!


Mumtaz melihat pesan yang masuk dari Raul.


" Siapa?" Tanya Ibnu.


" Tuan Raul, ngirim lokasi dimana Tamara tidur malam ini."


Mumtaz menggeleng, kita fokus pencarian kak Ala dan nyonya Sri."


" Urusan Tamara biar Hartadraja yang menanganinya." ujar Hito.


" Om Hito tidur di kamar tamu saja." Ujar Mumtaz.


" Ada?"


" Tentu."


" Dennis akan mengantarkan om ke kamar." Tunjuk Mumtaz ke seseorang yang baru masuk.


****


" Bangun...bangun..." Gebrakan kasar dibak truk membuat Zahra dan Sri berdecak kesal dari istirahatnya.


Seseorang membuka pintu bak truk, dan menyingkirkan beberapa penghalang sampai terlihat Sri dan Zahra yang berpenampilan menyedihkan.


Mereka berdua ditarik kasar turun dari truk.


" Cepat turun, perjalanan masih jauh." seru Armando.


 Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya membiasakan penglihatan atas sekitarnya, Hujan mengenai wajah bengkak Zahra, ia menahan ringisan kesakitan yang semakin membatasi penglihatannya.


Kepalanya sungguh sakit, dia mencerca penculik kala mendorong Sri yang  membuatnya jatuh hampir terusungkur.


Mereka dibaluti jaket dengan kupluk di kepalanya guna  menghalangi ikatan di tangan mereka, dan luka di wajah Zahra.


" Ini dimana, nek?" Bisik Zahra.


" Kurang tahu," Sri mengedarkan pengamatannya.


Para penjaga mencekal tangan mereka kuat-kuat sambil menarik mereka agar lekas menuju mobil yang sudah disediakan.


Mata tua Sri memicing, melihat segerombolan lelaki di depannya, " masuk." Titah penculik mendesak Sri masuk mobil.


Namun Sri bergeming berdiri di depan pintu mobil masih sambil memperhatikan para lelaki tersebut.


Zahra yang sudah duduk di dalam mobil mengernyit bingung.


" Nek,..." Panggilnya.


" RICKY..." Teriak Sri ditengah kegelapan malam.


Beruntung orang yang dipanggil menoleh," RICKY..INI AKU MAMA DAMIAN." Lantang Sri.


Para penculik mendorong paksa Sri masuk ke mobil.


Mengendarai mobil dan motor Ricky dan anak buahnya bergegas mendekati mobil yang ditumpangi Sri yang sudah melaju cepat.


Tak ayal aksi kejar mengejar terjadi dijalan raya.


Para penculik melepaskan temba.kan ke arah mereka.


Tidak siap menerima serangan itu beberapa anak buah Ricky terkena tem.bakan.


Ricky dan anak buahnya yang tidak menyangka mendapat serangan senjata api sempat terkejut, namun segera pasukannya membalas tem.bakan tersebut.


Target utama mereka adalah ban mobil dan bagian bahan bakar mobil.


Beberapa ban mobil komplotan penculik terkena tembakan hingga mobil mereka oleng lalu menabrak pembatas jalan.


Melihat brutalnya serangan penculik beberapa anak buah Ricky ditugaskan menyerukan kepada pengguna jalan lain agar berhenti dan  menepi.


Suara keras tem.bakan yang saling bersahutan0 membuat para pengguna jalan menepi karena ketakutan.


Tak lama polisi bergabung ditengah mereka yang juga diserang oleh penculik.


Maka pada malam itu sepanjang jalan terjadi aksi cowboy.


Para penculik yang tersisa beberapa mobil memberi jalan mobil yang ditumpangi Zahra agar cepat meninggalkan lokasi penyerangan, sementara mereka meladeni serangan balasan dari kelompok yang tidak mereka kenal dan poli.si.

__ADS_1


Maka dengan mudah mobil tersebut meninggalkan lokasi menuju bandara Ahmad Yani.


Setelah sampai di bandara, dan melihat waktu yang mepet, para penculik tanpa rasa kemanusiaan meny.eret Sri dan Zahra ke pasawat pribadi yang sudah siap take off.


Di dalam pesawat Zahra minta ke kamar mandi guna mengobati luka, yang ditolak oleh para penculik.


" Dengar, kalau saya tidak mengobati luka saya, luka ini akan infeksi dan membusuk, itu akan semakin menyulitkan kalian."


Para pencullik saling menatap guna menimbang.


" Come on, saya tidak bisa kabur. Ini di atas langit, dude."


" Baiklah, hanya mengobati luka."


" Buang air, ganti baju, kami bisa hipotermia kalau tidak ganti baju, apalagi untuk nyonya besar yang sudah tua ini." Liriknya pada Sri.


Satu penculik membuka ikatan tangan mereka lalu mengantar mereka ke toilet dan menyediakan pakaian ganti.


Zahra mengobati luka Sri yang tadi diseret, lalu membiarkan Sri membersihkan diri.


Kini giliran zahra, di dalam toilet dia memeriksa perlengkapan toilet.


Tangannya mengubek alat pertolongan pertama yang tadi dia minta pada penculik sebelum masuk toilet.


Di dalam toilet dia menaruh tasnya di westafel, dia mengambil cutter yang ada di toilet meneglupas kain pelapis tas, matanya berbinar saat melihat benda asing yang diyakini sebagai alat pelacak.


Semoga otak para adik secerdas perkiraannya sedang bekerja. Dia memasukkan benda yang dia kira akan berguna nantinya.


Zahra keluar dari toilet mengenakan training dan Hoodie kebesaran yang kupluknya di jadikan penutup kepala karena kerudungnya sudah tidak bisa dikenakan kembali.


" Saya harap kalian bukan sekelompok orang rasis terhadap muslim, karena tidak menyediakan penutup kepala bagi saya." sarkas Zahra


Zahra sengaja memprovokasi mereka dengan hal yang sensitif.


" Apa ini bisa?" Salah satu penculik menawarkan tudung kepala padanya.


" Minta yang belum dipakai ya." Penculik itu berdecak kesal atas tingkah Zahra yang banyak maunya..l


Setelah duduk anteng, Zahra menatap para penculik," tidak ada makanan? Dari kemarin kami belum makan." 


Bola mata penculik memutar malas, salah satu dari penculik terpaksa memberi mereka makan.


 Menjelang tengah malam banyak diantara mereka memilih tidur, Zahra mengambil kesempatan ini untuk pergi ke pantry, beberapa dari mereka sebenarnya menyadari pergerakan Zahra, tetapi mereka memilih mengabaikannya. 


Di pantry Zahra memasak pasta, mengambil beberapa coklat, cemilan, dan membuat beberapa ramuan dari campuran lada, cuka, air lalu dimasukan ke dalam botol semprotan yang sebelumnya berisi pewangi pakaian.


Memasukan beberapa pisau kecil pemotong daging, garpu ke dalam kantong snack. Semua dilakukan olehnya dengan santai seperti hanya memilih makanan sehingga para penculik tidak mencurigainya.


Sri yang melihat Zahra datang dengan setumpuk cemilan dan pasta terkaget membolakan mata.


" Ra, kamu baru habis makan."


" Persiapan energi, Nek." Zahra menaruh pasta dan memberi Sri coklat guna menaikkan kadar gula.


Tanpa mencolok, disela makan pasta dia memasukan apa yang tadi dia ambil di pantry ke dalam tasnya.


" Nenek, gak tidur?"


" Baru kebangun."


" Tidur lagi, aku mau tidur."


" Baru makan, Ra." Matanya melirik pasta.


" Tidak apa-apa, nikmati hidup selagi bisa." Ucapnya santai.


" Kamu tidak takut?"


" Gunanya apa takut disaat gini? Yang terpenting kita berpikir. Tidur, nek."


******


Pukul 05.00 WIB Ibnu ke kantin guna memesan makanan dan minuman. Untuk para sahabatnya yang sebentar lagi bangun. Di sana dia melihat beberapa anak RaHasiYa termasuk Dewa, Dennis dan Nando.


" Santai kalian." Ibnu duduk disebrang terhalang meja.


Dewa menegakkan duduknya begitu juga dengan Nando dan Dennis.


" Bang, belum pulang." Sapa Dewa.


" Lo pasti tahu kalau Sri diculik." Tuding Ibnu tanpa basa-basi.


Dewa mengangguk, Nando melirik Dewa kerena cemas.


" Karena manipulasi gerak yang Lo kasih ke gua, kita telat menyelamatkan mereka."


Di kursinya Dewa duduk dengan resah.


" Gue tahu Lo takut kepada Mumtaz, tapi Lo lalai pada satu hal," Ibnu memainkan gelas kopinya.


" petinggi RaHasiYa ada empat, dan dari kita masing-masing memiliki peran yang sama." Ibnu memperhatikan gestur tegang Dewa.


" Kalau Lo pikir keselamatan keluarga Lo tergantung pada Mumtaz, Lo salah." Dengan gerakan perlahan Ibnu menyesap kopinya.


"  Hidup Lo dan  keluarga Lo memang akan selamat, tetapi Hartadraja, Birawa, dan Atma Madina akan menjadikan kalian hidup sebagai sampah masyarakat."


Perasaan Dewa sungguh ketar ketir," Bang, apa yang gue lakuin diketahui oleh bang Mumtaz."


" Tidak dengan manipulasi kemarin." Sambar Ibnu cepat.


Sejenak Dewa terdiam," gue mendapat perintah secara mendadak, tapi Lo tahu gue terbuka saluran sama Lo."


Prang!!!


Gelas yang dipegang Ibnu pecah akibat remasan ibnu.


Nando dan Dewa terlonjak, Nando segera mengobati tangan Ibnu yang mendapat tatapan curiga dari Dewa dan Dennis.


" Akibat ulah Lo, mereka semakin menjauh."


" Bang, yang belum selamat hanya nyonya Sri..." mendengarnya Ibnu menyeringai devil yang membuat bulu kuduk Dewa merinding.


" Jadi Lo tidak tahu siap yang mereka culik, yang membuat para petinggi RaHasiYa begadang? Membuat kita berpikir Lo menjalani double Agent dengan Navarro?"


Dewa menggelengkan kepala cepat menyanggah tuduhan para petinggi.


" Gue masih setia pada RaHasiYa."


Ibnu beranjak dari kursinya," tunjukkan, karena mereka sekarang sangat marah pada Lo."


" Bang,  tinggal nyonya Sri..."


" KAK ALA, Mereka Menculik Kak Ala." Bentak Ibnu dengan mata menusuk langsung pada Dewa, beberapa orang yang berada di kantin terlonjak kaget.


Dewa terbelalak, matanya bingung bergerak tidak fokus.


" Ba..bagaimana bisa?" Gagapnya ketakutan.


Dia cukup tahu betapa berartinya seorang Zahra bagi para petinggi RaHasiYa. Orang itu akan berhadapan tidak saja dengan petinggi RaHasiYa, tetapi dengan Bara, dan juga Hito, jangan lupakan Zayin. Mampuslah dia.


" Perbaiki apa yang sudah Lo rusak, atau hidup kalian sekeluarga taruhannya, di sini bahkan Mumtaz akan menjadi musuh terbesar Lo."


Setelah mengancam Dewa, Ibnu dengan tenang meninggalkan kantin, dibelakangnya Dewa meremas rambutnya kuat-kuat.


" Gue akan bantu Lo." Seru Dennis.


" Mereka sudah sampai di Kalimantan, gue bahkan gak tahu kemana tujuan mereka selanjutnya." Racau Dewa panik.


Dennis, dan Nando hanya terdiam, lalu Dennis menarik Dewa ke ruang kerjanya. Meninggalkan Nando yang menatap mereka prihatin.


****** 


Begitu Dennis dan Dewa keluar dari lift dilantai dua mata mereka bersirobok dengan Zayin, Dominiaz, dan seseorang yang belum pernah mereka lihat.


Meski mengenakan pakaian casual kemeja flanel yang tidak dikancing membaluti kaos abu-abu, celana jeans navy. Aura menyeramkan dibalik wajah imut Zayin tidak terbantahkan.  


Zayin menghampirinya, menepuk-nepuk pundak Dewa," kembali pada jalan yang seharusnya, atau ku bantai keluargamu." Ancamnya dengan tatapan menajam pada iris Dewa.


Suara berat itu sanggup menggetarkan tubuh Dewa yang panas-dingin...


**yuk komen..saling membalas aja yuk...juga like dan votenya yang pada yang masih mengikuti...

__ADS_1


terima kasih masih banyak membaca novel ini.


see you**...


__ADS_2