Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 139. Akhirnya terselamatkan.


__ADS_3

Beberapa saat sebelum pendobrakan pintu


" Kau harus diberi ajar menjadi wanita penurut." Geram Eduardo menarik tangan Zahra, menempelkan tubuh Zahra dengan tubuhnya


Menggesek-gesekkan bagian tubuh bawahnya, tubuh Zahra seketika lemas, ia hampir ambruk jika Eduardo tidak menahannya, kakinya tidak lagi bisa menopang.


Rasa jijik menggerogoti sanubarinya, " ya Tuhan apa ini akhir masaku, jika ini akhirnya, maka maafkan aku yang akan melakukan dosa." Mohon ampunnya dalam hati kepada Allah.


" Jangan pingsan, pesta baru saja dimulai." Eduardo mengecup rahang dan menjilatinya.


Tubuh Zahra bergidik gemetar hebat, rasa kotor, sekaligus marah kini menghantuinya.


Zahra tertawa sumbang, menertawakan tragedi ini, " hahahaha..."


Seringkali dia bercanda dengan para sahabatnya, jika mereka dile-cehkan, Jangan kau berontak, itu akan menyakitkan, maka nikmati saja tragedi tersebut. Siapa sangka kini dia dalam posisi begitu.


Eduarado mengernyit tidak suka, seakan Zahra mengejeknya. Ia menempelkan seluruh tubuhnya merobek lengan hoodie, menyingkap bawah Hoodie mengelus perutnya yang rata.


Zahra menggeram dalam hati, ia nekat melihat Eduardo.


Mereka saling pandang, Ia memandang tajam lekat wajah Eduardo, menyimpannya dalam memory otaknya, seakan ini hari terakhir pertemuan mereka.


Eduardo mengecupi lehernya, Zahra mengadukan giginya, mengetatkan rahangnya.


Tangan Zahra menyabak penuh dua telur puyuhnya, Eduardo mende-s4h hebat. Dengan kemarahan, ia meremas erat, lalu menariknya kuat-kuat buah tersebut.


" Aaaakkgghhh...."


PLAK...!! Refleks Eduardo menampar pipi Zahra, matanya melototinya, rahangnya mengetat.


" Oke, kalau ini maumu. Kau akan merasakan hukumanmu.


Eduardo menarik Zahra ke westafel, lalu menin-dihnya,  tangannya mulai mengge-rayangi dari perut terus ke punggung lalu merayap naik, air mata Zahra meluruh deras tanpa suara.


Kala tangan itu mulai turun ke bawah dan menye-linap kedalam ban karet training, hendak menurunkannya, Zahra sudah menangis pilu. Hidupnya seakan sudah berakhir.


Nacho yang mendengar suara tangisan Zahra sangat frustasi, ia marah, kesal, dan muak akan keadaan ini.


" Berpikir Nacho, ayo berpikirlah dengan otak bo*dohmu ini."


Sampai ia merasakan sesuatu dibalik jaketnya, benda berbentuk tabung.


" Bodoh, Nacho. Kau pantas dibully karena otak telmimu."


Nacho mengeluarkan benda tersebut, dengan cemas ia menarik pemicunya, lalu melemparnya ke dalam toilet lewat jendela.


Sebagai perlawanan terakhir Zahra mengigit-gigit Eduardo, sambil terisak mendorong paksa dada Eduardo dengan tangannya yang melemah.


Tak...!!


Sebuah granat asap jatuh dari jendela, menggelinding melewati westafel, lalu berakhir dilantai tidak jauh dari kaki Eduardo, namun terabaikan olehnya yang fokus dengan Zahra.


Asap mulai keluar, tak lama mata mulai terasa perih. 


" Tolong..aku..."


" Uhuk..." Tenggorokan terasa sakit.


Terdengar pintu ditendang kuat.


" Tolong...uhuk..uhuk.." Pekik Zahra, tenggorokannya mulai sakit.


Brak...


Nacho menutup hidungnya, terbelalak melihat yang terjadi di depannya, Zahra sedang berlutut tepat di depan pisang besar dan tegak Eduardo.


Dor...!!


" Aaaaaaakhhh..."


Kini seluruh  tubuh Zahra mematung, wajahnya pias, Zahra mundur menyentuh tembok, dan dia ambruk di sana.


 Eduardo mengerang memegangi pinggangnya, darah mulai merembes membasahi telapak tangannya, dia menatap Zahra yang kini duduk memeluk kedua kakinya dengan pistol masih di tangannya.


Buru-buru Nacho menjauhkan Eduardo dari Zahra, kemudian dengan hati-hati mengambil pistol dari tangan Zahra yang gemetar.


"


Suara batuk mulai berisik.


" Asapnya sudah semakin banyak yang keluar..uhuk...kita harus segera pergi." Diangkatnya kedua bahu Zahra yang masih syok.



Dor...



Fokus Bayu yang sedang memeriksa musuh yang tumbang rusak dengan suara tembakkan berasal dari toilet yang terletak di belakangnya.



Dengan senjata siaga, dia memeriksa toilet, ia langsung menutup hidungnya begitu perih menusuk hidung dan matanya dengan masker, ia melangkahi pria besar yang sedang meracau, Bayu berlanjut ke satu pria yang terkesan memojokkan seorang perempuan di sana. 



" Angkat tanganmu," Nacho mengangkat kedua tangannya, Bayu melirik ke arah perempuan yang terduduk di lantai.



" Kaka Ara..." Ucapnya terkejut.



Zahra menoleh ke arah suara, ia merasakan sedikit lega melihat ada orang yang dikenalnya.



Nacho ingin berbalik, namun dicegah." Diam di tempat."



Asap yang sudah memenuhi ruangan menyegerakan Bayu menopangkan tubuh Zahra pada pundak kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memicingkan senjata pada Nacho.



" Saya bisa bantu anda." Bayu mengabaikan ucapan Nacho.



" Bayu...di..a... orang..baaiikk." lirih lemah Zahra.



Bayu melirik Nacho, alih-alih meminta pertolongan Nacho untuk membantu mengevakuasi Zahra, Bayu memilih menurunkan senjatanya, lalu mengangkat Zahra ala bridal keluar dari toilet.



" Tutup pintunya." Titah Bayu pada Nacho



" Ta..."



" Tutup, itu pembukaan buat dia." Wajah sangar dan badan besar nan tegap Bayu menciutkan Nacho.



Dia dengan patuh menutup pintu, meninggalkan Eduardo dengan bom asap yang sangat menyakitkan.



Setelah berada agak jauh dari toilet, Bayu mendudukan Zahra bersandar di pohon besar.


" Boleh saya menutupi kak Zahra?"


Bayu sekilas melihat Hoodie yang sudah terobek atau sengaja dirobek oleh seseorang.


" Uhuk...uhuk..." Zahra mengeluarkan cairan dari mulutnya, mata dan hidungnya Zahra mulai berair


" Cari sesuatu untuk dibasahi." Bayu melepas jaketnya lalu mengenakannya pada Zahra yang sedang terbatuk-batuk.


Dia tidak akan menyodorkan kepalanya untuk Zayin penggal dengan membiarkan orang lain menyentuh kakaknya.


Bayu berlari mengambil air di toilet sebelahnya menggunakan wadah, lalu membasuh wajah Zahra.


Mata Zahra memerah, karena sakit hidungnya berliur kental.


Dari arah kanan Bayu melihat Adam." Adam,.."  Adam yang sedang menarik musuh yang sudah tidak berdaya langsung mendekat.


Nacho yang kebetulan melihatnya meringis ngilu akan lebam yang memenuhi wajah temannya itu.


Ia terkejut mendapati Zahra yang dengan penampilan yang memprihatinkan.


Adam yang melihat orang asing, sontak memiting lehernya, Nacho yang terkejut hanya mampu mengangkat kedua tangannya.


" Dam, dia teman Kak Ara. Cepat panggil bang Mumtaz, Zayin atau om Hito."


Adam mengangguk lantas bergegas berlari.


Tak lama Mumtaz, Zayin, dan Hito berdatangan dalam waktu  hampir bersamaan dengan nafas ngos-ngosan. Mereka lega telah menemukan Zahra.


Zahra dengan rambut acak-acakan dan kusut, wajah pias, meski dibaluti jaket Bayu, namun terlihat pakaiannya yang robek.


" Kak Ala..." lirih Mumtaz dan Zayin yang langsung menghampirinya, berlutut di depan Zahra yang masih syok.


Zahra melihat kedua adiknya bernafas lega, " A...dek..." Lirihnya sesenggukan.


Mumtaz membawa Zahra kedalam pelukannya, memeluknya erat menawarkan keamanan dan kenyamanan padanya.


Anak RaHasiYa, Gaunzaga, beserta Arvan sudah mengitari Zahra.


" Lapor, Mbul." Pinta zayin dingin.


" Saya menemukan kak Ara di dalam toilet bersama dia, dan satu pria lainnya. Tunjuknya dengan dagu kepada Nacho yang berdiri gugup dibawah pengamatan banyak pasang mata.


" Mana satu lagi."


" Di sini." William dan Jeno menarik seorang pria dengan rupa yang mengenaskan akibat bom asap dan darah berceceran.


Mereka menaruh Eduardo ditengah-tengah semuanya.


" Kak.." panggil Mumtaz lembut, memakaikan tudung Hoodie agar rambutnya tertutupi.


" Muy..Mumuy...di..dia..." isak tangis pilunya, Zahra menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Mumtaz, mengeratkan pelukannya, rasa panik menghantuinya.


" Shuut..." Mumtaz mengeratkan pelukannya, ia menepuk-nepuk menenangkan. Mengetatkan rahangnya dengan sorot mata menajam. 


" Kak..." Zayin mengambil posisi di belakang Mumtaz, merapihkan rambut yang menghalangi wajahnya, menghadapkan wajah Zahra padanya.

__ADS_1


Perlahan Zahra bergerak seperti baru menyadari dimana dia berada, matanya mulai memiliki fokus penglihatan.


Netranya menangkap sosok Eduardo.


" Kyaaa...hiks...huhu...hhiks..." histerisnya, Wajahnya kembali ke dalam diceruk leher Mumtaz, tangan yang memeluknya gemetaran, dan Mumtaz merasakan ketakutan itu.


" Shuutt..ada aku, Ayin, om Hito dan yang lain. Kakak sudah aman."


Semuanya yang melihat kepiluan Zahra berekspresi sedih.


" Di..diaa...dia...mau...per..kosa.. kakak." Lirihnya. Semuanya terkejut.


" Lihat,.. dia merobek pakaianku," Zahra membuka jaket Bayu,  memperlihatkan pakaiannya yang terkoyak, selain Zayin dan Hito semuanya berbalik badan menghormati Zahra.


"menggerayangiku, menyentuhku dimana-mana, bahkan ia menciumiku, kakak sudah kotor, sudah menjijikan." paniknya.


" Mereka bahkan akan menghabisiku, apa salahku?" Pekiknya penuh penderitaan, ia menjauh.


" Siap mereka itu? Tanya Zayin pelan, namun terkendali.


" Tamara."


Anak RaHasiYa, dan petinggi Gaunzaga terkejut.


" Kakak gak kenal dia, Guadalupe menyetujuinya." Ia meringkuk saking merasa terlukanya.


Semuanya terkesiap mendengar itu, wajah mereka sudah memerah, tangan mengepal, sebuah janji yang sama, menghabisi dua wanita itu.


Mumtaz kembali memeluknya bahkan lebih erat, memejamkan matanya erat. Zayin bahkan sudah menatap nyalang lelaki yang sudah kepayahan itu.


" Eksekusi dia, semenderita mungkin." Ucap Mumtaz, meski wajahnya tenang, suaranya begitu dingin.


Dengan semangat, Jeno dan Leon mengeret Eduardo. Yang lain pun tidak sabar menyiksa satu makhluk ini.


" Jangan biarkan dia mati." Pinta Zahra.


" Tidak akan."


" Kakak bersama Ayin dulu ya."


" Aku juga ikut serta." Suara Zayin penuh amarah.


" Yin,..."


" Biar saya." Tawar Hito, iris matanya tidak pernah lepas dari Zahra.


Ia melihat semua duka kekasihnya, menyimpan dalam memory nya.


Zahra gugup akan tatapan Hito." Kakak sendiri tidak mengapa." Zahra menutup rapat jaketnya. Merasa malu. Dia tidak menyadari ada Hito di sana.


" Biar saya." Tawarnya lagi.


Hito mendekati Zahra, Zahra menunduk, pegangannya di jaket Mumtaz mengerat. Mumtaz tidak menyukai ini.


" Silakan." Mumtaz melepas pegangan Zahra, Zahra mengangkat kepalanya, menggeleng memohon.


" Aa gak mau kakak kalah dari keadaan seperti Afa dan Daniel dulu. Sakit melihatnya, kakak pasti bisa." Mumtaz mencium kening Zahra lembut dan lama.


Zayin mengambil alih Zahra begitu Mumtaz menyusul para rekannya.


" kakak menembak dia." Zayin mengangguk.


" Ayin pergi dulu."


" Yin,..." Lirih Zahra.


" Yin,..." Suara bass Hito, memicu Zayin beranjak pergi.


Semua orang meninggalkan mereka berdua, memberi ruang pribadi pada mereka.


" To, bawa Zahra ke tenda yang sudah dijaga Adam dan uang lain." Ujar Dominiaz, lalu pergi 


" Hmm." Duduk di depan Zahra yang menunduk.


Dengan lembut, ia merapihkan rambutnl yang masih mencuat keluar.


Ia raih tangan Zahra yang segera ditepis oleh sang empu.


" Hiks..huhu..hiks..Ting..galkan aku..a..ku..bekas.. orang lain...hiks."


Mata Hito terpejam guna menahan emosi," kamu menikmatinya?"


Zahra menggeleng cepat. " aku jijik...pada diriku sendiri."


Meski mendapat penolakan dari Zahra, Hito keukeuh ingin meraih tangan Zahra, sampai ia merasakan tangan Zahra yang gemetaran.


Hito mematung tegang, " kau membenciku, Karena terlambat menyelamatkan mu?" Zahra menggeleng.


" Aku...takut...dia sungguh kasar. Dia menyentuhku. Aku gak pantas buat kamu." Lirihnya, Zahra terlihat memilukan.


" aku mencintaimu, rasaku masih sama padamu. Please, izinkan aku menjadi lelaki mu."


Zahra memberikan diri melihat Hito, dalam netranya terpancar kesedihan tiada tara sekaligus penawaran cinta yang tulus.


" Kau...tidak...membenciku?"


" Aku sangat mencintaimu. Amat sangat sekali."


Di waktu biasa kata-kata berlebihan itu akan membuat mereka tertawa geli. Kini, kata alay tersebut sedikit menyentuh kepercayaan diri Zahra.


" Aku akan menggendong mu."


Sebelum Zahara menolak, Hito sudah mengangkat Zahra ala bridal. banyak pasang mata memperhatikan mereka.


" Para adikmu sudah tidak bisa ditahan lagi, ketika mereka tahu kamu di sini, mereka menghajar lawan sekuat tenaga dendam."


Adam yang melihat Hito langsung membuka pintu tenda," siapkan air hangat untuk calon istriku."


" Di dalam udah tersedia pakaian ganti."


Bicara pada Adam, tetapi netranya menatap dalam Zahra.


Zahra yang melihatnya, menelusukan wajahnya di dada bidang Hito. Hito tersenyum melihatnya.



Arvan dan pasukannya dibantu Ibnu sedang sibuk menginterogasi mereka semua terkait Zahra.



Leo memerintah mereka untuk duduk melingkar.


 


Eduardo, sang pemimpin ganas mereka, kini hanya tergeletak bagai tak bernyawa ditengah-tengah mereka.



"  Kita harus segera mengeluarkan pelurunya, dia mulai kekurangan darah." informasi Jeno.



" Siapa peduli, tapi saya yang akan mengeluarkan peluru tersebut." Ujar Zayin tidak bisa dibantah.



Di depan semuanya, Zayin dengan santai membakar ujung belati dengan api obor, menyiram alkohol ke atas luka Eduardo.



" Aaaakkhh..." Jeritnya parau yang dibalas lolongan binatang malam. mereka semuanya meringis ngilu.



Tanpa obat bius, karena Zayin yang menolaknya saat ditawari oleh Arvan. Tentu itu akan menjadi rahasia antara tentara saja. 



" Aaaa..."



Mimik wajahnya santai saat menusukan belati tersebut di pinggang, lalu membeleknya, tidak terburu-buru untuk menemukan peluru tersebut.



Tidak mengacuhkan jeritan kesakitan dari Eduardo, ia masih menikmati proses tersebut.



Sengaja ceroboh, Zayin menarik peluru tersebut, lalu menyiramkan alkohol di atasnya. Kemudian menjahitnya.



" Aaaakkhh..." Bibirnya sudah berdarah-darah, sedaritadi menahan nyeri akibat bedahan tega ini.



Diakhir prosesnya, Zayin berbaik hati menyelimutinya.



Semua anak buahnya melihat itu dengan meringis. Wajah pucat Eduardo tidak terlihat dari pandangan mereka.



" Siapapun dilarang mendekatinya, ada yang melanggar, kalian berhadapan dengan kami."



Di dalam tenda, Hito dengan telaten membersihkan luka di wajah Zahra.


" Berapa kali dia menamparmu?" 


Zahra menggeleng," gak inget."


" Aku pastikan para adik mengetahuinya."


" Jangan, dia besar, para adik tidak bisa mengalahkannya." Ucapnya polos.


Untuk pertama kalinya Hito mendengar kalimat konyol dari Zahra.


" Kamu sudah lihatkan bagaimana kondisi para penculik itu?"


" Benar, mereka kalah tinggi, tetapi kemampuan beladiri dan menggunakan senjata para adik unggul di atas mereka."


" Tidak sulit bagi mereka mengalahkannya, ingat! mereka besar di jalanan."


Begitu Hito ingin menaikkan lengan jaket, Zahra menolaknya.


" Biar aku." Hito mengangguk.

__ADS_1


" Di semua tempat, hapus di semaunya." Zahra mengangguk.


" Kamu berbalik." Ujar Zahra, saat melihat Hito masih memandanginya.


" Aku calon suami kamu."


" Baru calon, siapa tahu gak jodoh, kamu udah lihat aku, rugi besar aku."


" Kamu juga bisa lihat aku kalau kamu mau. Jadi gak ada yang rugi.


Tuk...


" Awss.." spontanitas Zahra memukul kepala Hito. 


" Maaf, Tapi sedikit menyesalnya." 


" Baik sekali." Sindirnya.


Zahra terkekeh, Hito senang melihatnya, begitu juga dengan Mumtaz dan para adik lainnya yang berdiri tepat di depan tenda.


" Aku harap kak Ala baik-baik saja, punya trauma itu menyakitkan." Ucap Alfaska.


" Apa tidak apa-apa membiarkan Ayin melakukan operasi itu?"


" Hanya itu yang bisa Ayin lakukan, sepulang dari sini kita akan melakukan segala hal yang ada di otak kalian terhadap Tamara, Guadalupe, dan tiga pecundang itu." Seru Mumtaz.


" Hiks...hiks..." Wajah mereka berubah lebih tegang, tangisan Zahra selalu melukai hati mereka.


Mereka merasa gagal menjadi adik yang harusnya berkewajiban melindungi kakaknya.


Tak kuat mendengar isakan itu mereka menjauh dari tenda.


Hito meremas kuat pakaian yang dipeganginya.


" Aku berbalik ya?"


" Ja..ngan...hiks."


" Kalau kamu nangis aku gak bisa hanya melihatnya."


" Maaf, tapi aku..."


Nekat memeluk Zahra meski masih belum berpakaian, membuat Zahra terkejut, dan respon tubuhnya langsung gemetar.


Dengan selimut untuk menutupi tubuh Zahra, Hito memeluknya dari belakang. Gemetaran di tubuh Zahra sangat menyiksanya, dia tidak bisa membayangkan siksaan bathin yang dialami kekasihnya.


" Maaf, tapi aku gak bisa dengar kamu nangis. Aku gak akan memaksa mu apalagi melukaimu." Bisik Hito ditelinga Zahra.


Hito mendekap erat tubuh Zahra tanpa bicara, hanya mendekapnya sampai tangisan itu mereda.


Merubah posisi di hadapan Zahra, Hito membelai wajah yang pias itu.


" Dimana dia menyentuhmu?" Zahra menggelengkan kepala.


" Dimana?" Suara lembut tanpa pengakiman dari Hito menenangkan Zahra.


" Di sini..sini...sini..." Zahra menunjuk semua tempat yang disentuh Eduardo, berakhir di rahangnya.


" Maaf..." Hito mengecup lembut rahang Zahra, Zahra menegang. Ini kali pertama dalam hidupnya ada pri yang sedekat ini dengannya.


" Aku gak akan lebih, hanya meninggalkan jejak menyakitkan di dirimu." Lirih Hito.


Lama Hito mengecupi area rahangnya," apa dia menyentuh ini?" Ucap Hito mengusap bi-bir bawah Zahra.


Zahra menggeleng," aku berhasil menghindarinya." 


" Jadi aku gak bisa mengecupnya ya!? Atau tetap bisa ya?" Seloroh Hito.


Plak...


" Ngelunjak ya..anda."


Hito mengusap lengannya yang dipukul Zahra," usaha, Ra..usaha. aku belum pernah cium kamu Loh."


" Emang jangan, kan belum ijab Qabul. Enak di kamu rugi diaku." Zahra mengeratkan balutan selimutnya.


" Ya Allah Ra, perhitungan amat. Aku rela kok digerepe, diterkam kamu juga aku rela. Aku mah baik."


" Itu murahan namanya."


Tatapan Hito mengarah ke area da-da Zahra.


" Tolong dijaga matanya." Sinis Zahra.


" Ini pakai." Hito melempar kemeja mengenai kepala Zahra.


" Romantis sekali, anda."


" Maaf, tapi kalau aku lihat kamu lagi aku gak yakin gak menggoda kamu, dan akhirnya aku yang tergoda sama kamu." Hito membelakangi Zahra.


" Apa sih gak jelas banget." Zahra mengenakan kemeja tersebut.


" Udah?"


" Belum, gak ada penutup kepala apa."


" Ini." Hito memberi scraftnya.


" Nanti kamu kedinginan."


" Aku peluk kamu, supaya hangat."


" Aku tendang junior kamu."


" Jangan...masa depan kita ini."


Zahra melempar selimut ke kepala Hito. Hito berbalik, sambil menurunkan selimut.


" Bang... Kak Ara disuruh makan sama para adiknya, kalau enggak mereka yang nyuapin Kak Ara sampai habis." Ucap Adam dibalik tenda.


Hito mengambil makanan tersebut, menaruhnya diantara mereka.


" Makan dulu, baru kita bicara empat mata."


Tidak meminta persetujuan dari Zahra, Hito menyuapinya. Terkadang tatapan mereka saling mengadu, namun selalu Zahra yang memutus pandangan itu.


Ia sebenarnya masih risih, dia berharap Hito memakluminya.


Hito paham, dan sangat tahu hal itu, tetapi dia sangat tidak menyukai perasaan yang disembunyikan oleh Zahra dibalik ekspresi baik-baik saja yang ditampilkan Zahra dalam menimpali loluconnya. 


" Jangan bersembunyi, karena kau akan terus mendatangimu."


Zahra mematung.


" Aku mengenalmu sudah lama, banyak peristiwa yang kita alami. Kamu tidak bisa lari dariku."


" Aku akan terus mengejarmu, sampai kamu lelah, dan akhirnya berhenti."


" Om,..."


Setelah makanan itu habis, Hito menyingkirkan nampan tersebut.


" Ara, perasaan aku tidak sedangkal yang kamu pikir, banyak perasaan yang aku perangi sebelum berdamai menerima rasa cinta ini untuk kamu."


" Om,...aku sudah bilang aku kotor."


" Kamu tidak kotor, kamu masih bersih." 


" Om, om gak ngerti. Aku sudah gak pantas buat kamu."


Hito terkekeh ironis." Apa kamu mau mendengar kisahku sebelum aku mengenalmu?"


" Diam, dan dengarkan. Mungkin setelah mendengar ini kamu yang ingin pergi dariku, bukan aku."


" Meski aku bukan seorang playboy, tetapi hubungan yang aku jalin dilakukan selayaknya orang dewasa dengan mungkin menurut standar kamu sudah sangat bebas, tetapi circle lingkungan aku itu masih wajar."


" Peluk, rangkul, cium. Bahkan tidur bersama...tidur sesungguhnya. Aku tidak sebejat itu. Adalah hal biasa. Kamu bisa tanyakan itu pada Sivia." Terang Hito melihat Zahra yang terkejut.


" Mencintaimu, berkompromi dengan prinsipmu, sebenarnya adalah hal sulit bagiku."


" Kamu pasti merasakannya, kalau bukan karena kamu yang berpegang teguh atas pendirian kamu. Mungkin kita sudah lebih dari sekedar mencium kening atau berpegangan tangan."


" Aku begitu mencintai kamu, aku ingin mengekspresikannya, namun gak bisa bebas melakukannya. Bayangkan betapa geregetnya aku sama kamu."


Zahra tak bisa tahan lagi,  dia terkikik.


" Ketawa lagi. Apa setelah mendengar ini kamu masih bisa menerima aku, atau menurutmu aku rendahan!?"


Zahra menggeleng, Hito tersenyum kecut.


" Jadi dibanding kamu, aku pikir aku yang kotor. Aku paham kalau kamu tidak bisa mene..."


" Kamu baik, selama ini aku merasakannya. Karena itu aku masih bertahan sama kamu." Potong Zahra.


" Tapi aku perempuan, akan selalu tidak sama dampaknya dengan lelaki."


" Kamu disentuh bukan karena keinginan kamu, kamu masih tetap sama."


Zahra menunduk, " beri aku waktu."


" Ambil sepuasmu, tapi jangan menghindari ku."


" Aku..."


" Biarkan aku yang mendatangi mu, kamu cukup diam ditempat."


Zahra terdiam, begitupun para adik yang turut mendengarnya juga, kegusaran melingkupi semuanya.


*****


Di apertemen mewah, wanita tua sedang kesal. pasalnya sejak kepulangannya ke Jakarta tidak pernah sekalipun suaminya mengunjunginya.


" Mateo..."


" Iya, nyonya."


" Urus kepulangan ku ke Meksiko."


" Maaf, nyonya. tetapi Ana dilarang meninggalkan Indonesia."


" Kenapa?"


" Karena kasus-kasus yang melibatkan nama Gonzalez begitu, serius. jadi kalian dilarang pergi keluar negeri."


Guadalupe terkejut, selanjutnya dia marah.


" Apa tuan Alejandro tidak melakukan apapun?"


" Tuan Alejandro memutuskan untuk menghormati proses hukumnya.


" Lelucon apa ini.." murka Guadalupe....

__ADS_1


ayok komentar, like, hadiah dan voteya ya..


__ADS_2