Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 126. Guardian Agel Zahra.


__ADS_3

10 menit sudah kamera itu gelap, namun para petinggi masih menatapinya.


" MATI KALIAN !!" Hito menendang meja, lalu  melempar vas bunga yang bertengger di atas meja kasir ke tembok, dilanjut ke benda lain yang ada di dalam cafe', Erwin hanya mampu memijit pelipisnya melihat ruangan yang sudah porak poranda hanya dalam hitungan menit.


" Apa tidak sebaiknya kita memberesi peralatan, dan mengambil langkah selanjutnya? Ujar Alfaska menatap satu persatu.


" Tunggu sebentar lagi, Bara sudah dekat di lokasi." Ibnu mengamati pergerakan Bara cs.


" Nu, pinta Jeno buat rekam medan lapangan." Kini Daniel yang bicara.


" Hmm." 


Tatapan Mumtaz masih terpaku pada MacBooknya, wajahnya full menegang, dengan raut datarnya mempause gambar Zahra yang tak sadarkan diri dengan wajah penuh lebam, pelipis, hidung, dan mulutnya dihiasi darah segar.


" Permisi, gue kebelakang dulu." Dia melangkah ke mushala yang terdapat di dalam cafe'.


" Mau ngapain?" Erwin bingung, dan yang lain bingung.


" Berwudhu, untuk menenangkan diri." Timpal Alfaska.


" Itu kebiasaannya, jika dia amat sangat emosi, namun tidak bisa melampiaskan."  Jelas Ibnu yang diangguki paham oleh yang lain.


Mumtaz kembali bergabung dengan air muka yang sedikit terlihat tenang." Nu, gue ingin identitas tiga pria tersebut, lengkap!"


Kesibukan Ibnu yang sempat terputus saat Zahra disik.sa, kembali sibuk.


Selang lima menit, Ibnu menyerahkan  profil lengkap tiga pria tersebut pada Mumtaz.


" Siapa mereka?" Hito kembali mendatangi meja yang penuh gawai.


" Anak Sinolan."


Mumtaz mengirim pesan pada Rodrigo untuk bertemu.


"  Periksa dibawa kemana si nenek lampir Guadalupe itu?" Seru Alfaska.


" Belum ada data tentangnya di setiap rumah sakit terdekat, gue udah masuk ke website mereka, jika ada nama Guadalupe, informasinya akan sampai ke kita."


Dring!!


Zahira dan Zivara memasuki cafe' dengan raut cemas.


" Sorry bos, saya sudah usaha mencegah, tapi calon istri bang Samud memaksa masuk." Ucap anak Gaunzaga yang bertugas menjaga area cafe'.


Dominiaz mengangguk," Tidak apa-apa." 


" Muy, tadi aku ke rumah kamu, kata mereka Ara diculik, apa benar?" Zahira dan Zivara berdiri di depan Mumtaz yang mengangguk.


" Kamu sudah tahu siapa pelakunya, kan?"


" Sudah."


" Ada kabar mengenai Ara?"


" Sini." Dengan tangan Mumtaz meminta dua dokter itu melihat MacBooknya.


" Menurut kalian, kak Ala ada luka dalam?"


Bola mata Zahira dan Zivara membulat dengan mulut ternganga," bi,adab."


" Breng.sek."


" Ba.ji.ngan."


Dan kata kasar lain terlontar dari dua mulut dokter itu yang membuat para pria menelan sulivanya.


" Kak, gimana?"


" Harus di CT scan untuk lebih jelasnya, tetapi melihat lukanya kayaknya kemungkinan gak ada semoga saja."


" Paling gegar otak." Celetuk Zivara.


Semuanya memandangi Zivara.


" Kak Ziva menyumpahi Kaka Ala?" Sewot Alfaska.


Zivara gelagapan," bukan, tanya aja sama prof. Kemungkinan besar itu terjadi, semoga enggak."


Samudera menghampiri dua wanita berhijab itu," mending kalian pulang, biar mereka fokus."


" Enggak ada yang bisa aku bantu, Muy." Tawar Zahira mengabaikan Samudera.


" Jagain Tante Dewi saja."


" Penjaganya udah banyak."


" Tetapi untuk dalam ruangan hanya keluarga, dan tidak ada satupun dari mereka yang bisa bela diri kecuali Tante Julia." Timpal Akbar.


Mereka berdua menghela nafas berat," baiklah kita pulang." diantar Samudera dua dokter itu meniggalkan cafe'.


MacBook Mumtaz kembali menyala seiring ponsel Fatio yang kembali dihubungi, ternyata Bara yang menghubungi mereka.


Muncullah wajah Bara, " Di sini dan sekitar gedung sudah kosong, hanya banyak bercak darah yang terlihat masih segar." Bara memutar kamera mengitari ruangan.


" Itu ponsel masih disitu?" Alfaska terheran.


" Hmm."


" Sepertinya hanya ruangan ini yang memiliki sinyal penuh, ditempat lain sinyalnya senin-kamis."


" Lo sempat mampir ke RaHasiYa?" Tanya Mumtaz.


" Hanya Jeno."


" Jeno, mana?"


Bara memanggil Jeno,


wajah Jeno muncul dikamera. " yow, boss."


" Lo bawa peledak?"


Jeno memperlihatkan  isi ransel berukuran sedang berbahan khusus.


" Pasang diseluruh gedung, lalu ledakan."


Semuanya terkejut akan apa yang diucapkan Mumtaz.


" Kenapa?" Tanya Dominiaz.


Mumtaz hanya mengangkat bahu tidak jelas.


" Muy," peringat Alfaska.


" Tadi Jeno mengirim rekaman keseluruhan gedung yang mereka periksa, gedung itu lebih mirip gudang daripada rumah, sangat kosong melompong." Ibnu memperlihatkan rekaman Jeno.


" Terserahlah, ledakan No. Toh kita gak rugi." Titah Daniel.


" Ini akan semakin membuat mereka marah, dikhawatirkan semakin membahayakan Zahra dan nenek." Interupsi Damian.


" Mereka sudah menyik.sa kak Ala dan nenek, tidak ada salahnya sedikit membalas mereka." Timpal Mumtaz penuh tekad.


" Siap, laksanakan." Jawab Jeno, baginya keputusan petinggi RaHasiYa yang wajib dituruti, bukan yang lain.


" Nu, jangan lupa beritahu Zayin."


" Kenapa harus gue? Kenapa gak Lo yang kakaknya." Ibnu keberatan.


" Kenapa harus kasih tahu dia?" Lo mau dia ngamuk." Alfaska juga keberatan Zayin tahu.


" Terus Lo mau sok main rahasia tentang kak Ala padanya?" Mumtaz memutar bola matanya malas akan keengganan mereka.


" Tapi..."


" Fa, apa Lo mau nerima amarah dia? dia tadi cuma pake mulut kalian udah nahan emosi, gimana kalau dia marah beneran dengan tidak memberitahu perkembangan kak Ala, ya.. kecuali Lo mau nerima resiko jadi samsak dia, gak masalah."


" No, big no." Tolak Alfaska cepat.


" Apa Zayin sebegitu menakutkan?" Tanya Damar.


" Om, pasti udah tahu betapa ngeyelnya dia sama nenek, dan cuma dia yang berani ngomong lemes sama nenek, saat dia marah sifat arogannya 1000 kali lipat lebih dari keculasan saat dia ngeyel." terang Alfaska.


Klan Hartadraja meringis miris.


" Ya sudah Lo yang kasih tahu." Ujar Mumtaz santai.


" No, kenapa harus gue?" tolak Alfaska cepat.


" Kan Lo yang paling sering gibahin dia kayak tadi."


" Lo kakaknya."


" Jadi, Lo bukan kakaknya?" Adu psikis bermain di sini.


" Sial, kalau bukan ikatan kekeluargaan taruhannya dia tidak mungkin kalah debat dari Mumtaz." Bathin Alfaska.


" Iya gue telpon dia." dengan tidak semangat Alfaska mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


" Makanya lambe dijaga." Ledek Daniel yang mendapat delikan sinis dari Alfaska lalu menghubungi Zayin.


Alfaska melaudspeak ponselnya.


" Hallo, ada apa bang?"


"  Kak Ala sudah ditemukan lokasinya."


" Gimana keadaannya?" Suara bass nan datar Zayin yang jarang diperdengarkan mampu membuat semuanya gugup.


 Untuk sesaat Alfaska terdiam," baik."


" Ck, lo pikir cuma Lo yang bisa akses ke cafe' D'lima, Lo bohong." tudingnya


"  Tapi keamanan D'lima dibawah tanggung jawab RaHasiYa, bukan hal mudah untuk diHack." Seru Ibnu.


" Ngapain nghack kalau bisa pake teman." 


Semua orang memandangi Adgar, yang menghela nafas seakan penuh beban.


" Sorry, dia maksa gue. Dan seperti kalian, gue juga gak mau berurusan sama dia." Bahu Adgar menurun lesu.


Alfaska memutus sambungan teleponnya.

__ADS_1


" Berarti Lo yang ngasih tahu dia kondisi Kak Ala."


Adgar meringis," bang, please. Jangan." Rengeknya bak anak kecil.


" Daripada Lo ngerengek, tapi gak ada yang peduli, mending Lo telpon dia segera sebelum dia nyamperin Lo." Adgar menatap sinis Alfaska.


" Bang Ibnu, kirim rekaman yang tadi ke hp gue." Pinta Adgar.


" Jangan dilaudspeak ya." Imbuh Daniel.


" Pengecut." Tetua Hartadraja terkaget Adgar mengatai seorang Birawa.


Adgar dengan berat hati mengirim rekaman yang dikirim Ibnu pada Zayin.


" Hallo, bang Alfa nugasin Lo nelpon gue."


" Hmm, Lo udah buka apa yang gue kirim?"


" Dan kalian tidak melakukan apapun?"


" Hmm." Balasnya malas.


" Dasar kalian itu..."  Selanjutnya selama lima menit Wajah Adgar memerah mendengar cacian dari Zayin.


" Apa kata dia?" Ibnu bertanya usai Adgar memutus sambungan teleponnya."


" Bentar, gue kena syok, mental gue terjun dari tebing. Itu lambe dia makin loncer aja buat menghujat.


Petinggi RaHasiYa menertawainya.


" Apa kata dia?"


" Terus kasih kabar, dia bakal gabung kalau urusannya beres, dan minta semua rekaman yang ada."


" Ini gak baik."


" Oke, saya sungguh penasaran seberapa menakutkan Zayin itu?" tanya Dominiaz.


Adgar mengajukan diri bicara." Sewaktu aku jadi ketua geng BIBA, ada cowok.., yang gak bakal gue sebutin namanya demi keamanan dia." Terangnya.


" Melakukan upaya pelecehan seksual pada Ita..."


" Atma Madina?" Potong Damian.


petinggi RaHasiYa terkejut, gestur merek menegak.


" Iya, tapi diselamatkan oleh geng motor dibawah komando bang Bara. Namun sayangnya dia memberitahu Zayin dengan harapan Zayin membalas cowok tersebut."


" Dibalas?" Damar penasaran.


" Cowok itu koma tiga Minggu, dirawat intensif selama enam bulan. Bayangkan betapa parahnya cowok itu."


"Anak BIBA?" Tanya Samudera.


Adgar, dan alumni BIBA mendelik sinis pada Samudera yang meringis.


" Iya kali, sebrengseknya anak BIBA gak akan melecehkan perempuan, atau berhadapan dengan geng BIBA. jangan samakan jaman kita sama jaman om." Protes Adgar tersinggung.


" Maaf." 


" Berarti beres." Timpal Hito.


" Tidak bagi Zayin, baginya mata dibalas dua mata."


Mereka mengerutkan kening tidak paham.


" Selepas cowok itu keluar dari rumah sakit, ternyata itu cowok punya saudara perempuan."


" Jangan bilang Zayin melecehkan perempuan itu." Lagi, pembicaraan Adgar dipotong Alfaska.


" Bukan Zayin, tapi salah satu preman taklukan Zayin. Kalau kita.." Adgar menunjuk ke semua orang.


" Hanya membalas padapelaku yang jahat saja, itu cukup, tapi tidak bagi Zayin."


mereka mendengarkan secara seksama cerita Adgar.


" Dia membawa perempuan itu kehadapan keluarganya, dan menyuruh preman itu melakukan apa yang dilakukan cowok itu pada Ita di depan keluarga besarnya kepada perempuan itu, dan Zayin juga melarang mereka memindahkan perempuan itu dari BIBA." Jelas Adgar


Sentakan nafas dari semuanya terasa di ruangan tersebut.


" Perempuan itu sampai depresi berat, seperti halnya Ita. Butuh tiga bulan bagi Ita untuk sembuh dari traumanya, sedangkan perempuan itu dipaksa Zayin untuk sekolah setelah dua bulan beristirahat."


" Kenapa Lo gak kasih tahu kita?" Daniel emosi.


" Ita yang melarangnya, dia gak mau membagi fokus kalian yang saat itu sedang merintis RaHasiYa. Lo pasti ingat sewaktu Ita menghabiskan waktu tiga bulan di rumah gue."


" Catatan tebal, perempuan itu anak BIBA. Kalian paham? Bagi Zayin dia akan menerobos segala aturan jika yang tersakiti adalah orang yang dia lindungi." tekan Adgar.


" Apa Julia tidak melakukan apapun?" Aznan tidak habis pikir, ada kasus itu disekolah milik keluarganya.


" Keluarga korban, merupakan keluarga konglomerat terhormat di Indonesia waktu itu termasuk top 20, tentu mereka akan membawa urusan ini ke jalur hukum, tapi mereka ditantang balik oleh Zayin."


" Intinya, keluarga itu demi nama baik mereka tidak meneruskan masalah ini. Semuanya sudah clear, hitam diatas putih. Mereka tidak akan berani menggugat Zayin."


Setelah mendengar cerita Adgar,  mereka terdiam, mereka tidak menyangka Zayin bisa semenakutkan itu.


" Ini Kak Ala, gue sih gak mau mikir bakal apa yang dilakukan Zayin." Gumam Daniel.


" Apa tidak ada yang bisa membuatnya takut atau tunduk?"


" Hanya dua orang, kak Ala, dan Mumtaz. selain mereka berdua Zayin tidak punya alasan untuk menundukkan diri apalagi takut." imbuh Ibnu.


" Tentu kalian tidak ingin cita-citanya menjadi anggota Denjaka pupus kan, hanya karena masalah kecil ini." mohon Adgar


" Tentu, jadi dia atau kita. Dan itu pasti kita." Serobot Mumtaz.


" Tentu."


" Absolutly off course."


" No debat."


Pungkas para sahabat lainnya.


Petinggi Gaunzaga dan klan Hartadraja menatap dalam Mumtaz.


" oke kita sudah sepakat jauhi Zayin dari Maslah ini meski dia berupaya untuk menceburkan diri." pungkas Hito.


Semuanya mengangguk.


" Mumtaz, selain perkara Zahra, hal-hal yang terkait Gonzalez merupakan urusan Gaunzaga." Dominiaz menatap lurus Mumtaz.


" Bagaimana?" Mumtaz bertanya pada petinggi RaHasiYa lainnya.


" Izinkan kami membantu kalian." Tawar Alfaska.


" Tentu."


" Saya hanya meminta Guadalupe." Ucap Mumtaz.


" Tentu." 


" Kalau begitu selain Guadalupe, Gonzalez milik Gaunzaga." Pungkas Alfaska yang disetujui semuanya.


Dring!!


Rodrigo dan Raul tertegun sesaat saat mendapati porandaknya ruangan cafe' sebelum mendatangi meja yang diduduki Mumtaz.


" Om, tolong para pegawai ke belakang."


Erwin menitah manajer cafe' mengajak para pegawai ke tempat istirahat mereka dan mengunci pintunya.


Kini mereka sudah mengitari meja yang masih utuh.


Mumtaz menyodorkan iPadnya pada mereka berdua," Guadalupe sudah menganiaya kakak ku, dan pelakunya anak Sinolan. Berikan mengapa kami harus membebaskan kalian." Saat ini aura Mumtaz sangat mengintimidasi.


Baik Rodrigo maupun Raul merutuk dalam hati atas kelakuan nenek mereka.


" Saya yakin Tamara turut serta pada kejadian ini." Raul memberi informasi walau masih dugaan, untuk ibunya dia akan mempertaruhkan segalanya.


Sementara klan Hartadraja tersentak tidak percaya, Mumtaz tersenyum miring." Katakan sesuatu yang belum kami ketahui."


" Sh.it."


" Sialan." Umpat mereka dalam hati.


" Sivia tahu dimana dia tinggal." Raul berharap ini informasi yang berguna.


" Minta dia kesana. Sekarang!!"


" Tentu." Raul menelpon Sivia, dan memaksa dia untuk ke kontrakan Tamara.


Awalnya Sivia menolak, dia tidak mau berurusan dengan wanita itu lagi, namun Raul terus mendesaknya bahkan ia memberikan satu mobil sportnya hanya untuk ini.


" Dia sedang dijalan menuju kesana."


" Berikan nomor Sivia pada Ibnu." Raul sontak menyebut nomor Sivia.


" Nu, minta Leon kesana." Tanpa protes Ibnu melakukan apa yang dipinta Mumtaz.


" Tuan Rodrigo,  saya percaya anda. Tapi berikan Guadalupe kepada kami."


"  Tuan Mumtaz," bibir para sahabat sudah berkedut ingin tertawa mendengar Mumtaz dipanggil tuan. Demi imej wibawa mereka menahannya.


" Kami menyesal atas apa yang menimpa Zahra, tetapi kami harus menjaga wibawa kami di hadapan dunia." Rodrigo menolak halus.


Mumtaz mengangguk," kalau begitu, kami yang menentukan hukumannya dan dimana, kalian yang mengeksekusinya. Hanya itu yang bisa kami toleransi kan, tuan! Tekannya.


" Baiklah. akan saya sampaikan keinginan kalian pada Tuan Gurman, beliau sedang dalam perjalan kemari."


" Kami akan menghancurkan bisnis tuan Eric, kalian bersiaplah memisahkan bisnis kalian darinya." Seru Daniel.


Raul dan Rodrigo paham bukan perkara sulit bagi Birawa untuk menghancurkan keluarganya.


" Bisnis kami tidak pernah menyatu dengannya, jadi dengan senang hati kami akan membantu kalian jika diperlukan." Ungkap Raul.


" Bukankah Anda tim direksi Gonza restaurant dan beberapa usaha ayah anda? Alfaska kini menilai Raul.


" Hanya pegawai, tidak memiliki invetasi apapun. Bekerja karena ikatan kekeluargaan."


" Tidakkah seharusnya anda marah?" Sarkas Daniel.

__ADS_1


" Kenyataannya tidak."


" Dendam sekali anda." Ucapan retoris dari Alfaska.


" Sayangnya iya."


" Apa kalian yang akan menghancurkan Gonzalez?"


" Bukan, tetapi aku." Kini Hito yang menjawab.


Raul menghela nafas kasar," haruskah? Saya harap bukan karena Sivia."


Hito terkekeh devil," kita bukan anak SMA lagi, awalnya saya enggan, tetapi nenek kalian menahan dua perempuan kesayangan saya."


" Shitt, man. I am forgotten about that. RIP  for Guadalupe." Kalimat terakhir Raul membuat semau orang menggelengkan kepala.


" Mumtaz, apa boleh kami bertemu mama?" Suara Raul sarat permohonan.


" Belum saatnya, demi kebaikan beliau, tetapi kalian bisa melihatnya."


Mumtaz mengambil iPadnya, lalu membuka cctv ruang rahasia dimana Belinda berada. Lalu kembali menyodorkan iPad itu pada Raul.


Rodrigo dan Raul saling berebut iPad tersebut layaknya anak kecil berebut mainan.


Mengabaikan rasa malu mereka berdua menangis, sungguh mereka sangat merindukannya.


" Dimana tempatnya?" lirih Raul.


" Yang pasti aman."


Mereka mengangguk memakluminya.


" Muy, Jeno memberi kode." Bisik Ibnu.


" Kami akan memberi kalian ruang, permisi."


Meninggalkan Gurman bersaudara, mereka menuju MacBook berada.


" Semuanya ready, menunggu perintah."  Ucap Jeno.


" Ledakan." Tegas Alfaska.


Jeno menghitung mundur.


" 3..2..1.."


DHUARRR!!! Layar dipenuhi api yang saling menyusul berterbangan bagai gunung meletus.


Saking besarnya suara ledakan itu mereka yang berada di dalam cafe' refleks menunduk menyelamatkan diri.


Semuanya begitu terkejut, speechless akan ledakan itu.


" Kenapa ledakannya begitu besar?" Heran Daniel.


" Apa gue harus memeriksanya?"


****


Tok!! Tok!!


Asisten  Eric masuk ruang dengan tergesa-gesa memasang raut gusar.


" Ada apa?" Eric menyandarkan diri di kursi.


Asisten ragu untuk mengatakan laporan terkini dari Armando, orang kepercayaan Eric.


 Katakan, atau ku bun.uh kau." Kesalnya.


 Sebelum berucap , dia menarik lalu menghembuskannya" Gudang kita di Cirebon Selatan meledak."


Duduk Eric menegak."  BAGAIMANA BISA?" Bentak Eric.


" Tempat itu dipakai nyonya besar untuk menyekap nyonya Sri Hartadraja."


Sontak Eric beranjak, dia mondar-mandir dalam ruangan sembari melayangkan hujatan dan sumpah serapah untuk Guadalupe.


****


"  Tidak perlu, kalian langsung ke rumah sakit dimana Guadalupe dioperasi."  Seru Ibnu memperlihatkan database administrasi rumah sakit.


" Serius?" Semua menoleh pada Raul yang mendekati mereka.


" Maaf, terakhir kami bertemu, nenek saya baik-baik saja."


Ibnu menghadapkan MacBook Mumtaz pada Raul yang memperlihatkan keadaan terakhir Guadalupe sebelum dilarikan ke rumah sakit.


Rodrigo yang sudah berdiri disamping Raul turut meringis.


" Saya pikir bukan nyonya Sri yang melakukannya."


" Calon istriku." Tutur Hito puas.


Tak lama, " HAHAHAHHAHAHHA." Raul dan Rodrigo tertawa terbahak-bahak puas dibawah tatapan tak habis pikir banyak pasang mata.


" Senang rasanya dapat menghibur kalian." Sarkas sinis Alfaska.


" Maaf, kami hanya membayangkan respon lelaki yang kami panggil papa saat mengetahui dua hal ini." Ucap Raul.


*****


Ting!!!


Asisten membaca kiriman pesan dari anak buahnya, matanya memejam rapat mengutuk segala peristiwa hari ini.


" Melihat air mukamu kau mendapat pesan yang tidak menyenangkan, katakan ada apa?"


" Nyonya besar masuk rumah sakit, karena darurat, Armando menandatangani persetujuan operasi."


Setelahnya sesuai prediksinya, Eric langsung mengamuk dengan seribu cacian.


 Ia frustasi akibat percampuran rasa marah, kecewa, dan kesal hingga semua benda dalam ruang kerjanya sudah tidak pada tempatnya.


" Apa yang kalian lakukan sampai hal ini terjadi?"


Eric melempar Lampu meja, barang terakhir yang masih utuh itupun kini teronggok pecah terbentur tembok.


" Eric meno.njok asistennya," dasar tidak berguna." Hardiknya keras.


Kalau saja tidak ada pengiriman, dia pasti akan segera tinjau lokasi. 


******


Ditengah kesibukan memberesi peralatan mereka, Alfaska mengamati iPad Mumtaz.


" Muy, kata Leon, tempat yang ditunjuk Sivia kosong."


" Tapi apa itu tempatnya Tamara?"


" Iya."


" Katakan pada mereka lakukan apa yang harus dilakukan."


Raul, Rodrigo, dan Dominiaz menatap pergerakan petinggi RaHasiYa dari meja ujung.


" Seorang Gaunzaga bersedia membagi peran dengan sekelompok anak muda, apa kalian tidak merasa merendahkan diri?" Sarkas Rodrigo.


" Kalau pemudanya sekelas mereka, tidak! Pradapta berkali-kali berhutang nyawa pada mereka."


" Raul, sial sekali nasib bokap Lo." Ucap Dominiaz.


" Kenapa?"


" Hito sekarang bukan lawannya, ditambah dia harus berhadapan dengan Mumtaz dan Zayin dan diperburuk anak RaHasiYa. Gue saranin kalain mulai mempersiapkan pemakaman buat mereka berdua."


" Cra.ps." Hujat Raul.


" Sebaiknya kalian tidak ikut campur jika masih menyayangi nama Gurman."


" Tidak akan."


" Rodrigo, kau pasti tahu akan ada pengiriman dari Amerika latin atas nama Cesa netra, sebaiknya kau beresi hal itu atau aku akan mempermalukan kalian." Dominiaz menatap tajam Rodrigo.


" Karena itu aku masih di sini." Tukas Rodrigo tenang.


" Baiklah, kami permisi. Kalau kami mengetahui perkembangan terbaru, kami akan menginformasikan kalian." Tutur Raul.


" Sivia memberi alamat kosong." Mumtaz menatap Raul.


" Soal, Tamara. biar kami yang urus. Kalian nerima beres."


" Jangan kecewakan kami." 


" Tidak akan."


Raul dan Rodrigo meninggalkan ruangan dengan rasa puas.


Fatio menatap nanar Mumtaz yang sedang memberesi peralatannya, ekspresi tenangnya tidak membuat Fatio tenang.


Diliputi rasa bersalah yang besar Ia menjatuhkan diri duduk bersimpuh di hadapan Mumtaz disusul Aznan.


Semua terkaget, namun tidak bisa mencegahnya. Karena mereka pun memahaminya.


" Maaf, maafkan saya. Maaf!!" Lirihnya, ia dapat merasakan sesak dada Mumtaz meski tidak ada satu katapun terlontar dari mulut Mumtaz.


Mumtaz yang terkejutpun duduk bersimpuh tagak menghadap mereka berdua, mengambil tangan Fatio dan Aznan lalu mencium punggung tangan keduanya.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan, saya tidak bisa berjanji bisa menyelamatkan nyonya, tapi kami berjanji menghabisi mereka." penuh tekad tertangkap dari suaranya.


" Do'akan kami."


Fatio dan Aznan hanya bisa mengangguk sambil mengelus pucuk kepalanya.


" Jangan sampai tersisa." Pinta Fatio.


" Tidak akan."


" Aaa, bo.doh." Pekikan Alfaska membuat suasana haru terputus, kini dia yang menjadi pusat perhatian


Alfaska dengan raut sumringah berlari ke arah Ibnu.


" Nu, ini tas gue..." tunjuknya pada tas selempang yang dikenakan Zahra....

__ADS_1


__ADS_2