
Edel terus berlari tanpa tujuan dengan tangisan. terkadang dia berhenti hanya untuk meremas kain bajunya di area hati karena merasa kesakitan luar biasa akibat luka yang tak nampak.
Sepanjang berlari Edel terbayang saat sat kebersamaan mereka.
Dari awal sekembali dirinya dari Amerika. Heru yang perhatian padanya menumbuhkan kembali rasa yang sempat memudar di hatinya untuk Heru.
sering pergi berdua ke tempat yang romantis dengan suasana akrab diantara mereka seperti masa dia SMA dan Heru kuliah dengan aura romantis.
menghabiskan weekend berdua di apartemen Heru dengan bercanda, membersihkan apertemen, memasak bareng menu kesukaan masing-masing.
dia berbunga-bunga, senang, tawa tak pernah lepas jika mereka bersama sampai akhirnya mereka tidur bareng dan merelakan keperawanannya untuk Heru.
Edel pikir mereka telah saling mencintai dan menerima. setelah menidurinya Heru akan datang melamar pada papanya.
sebulan dia menunggu, namun lamaran itu tetap tak datang. yang di dapat malah perubahan drastis Heru.
satu Minggu setelah tidur bareng dia tak menampakan diri dengan alasan dikirim keluar kota oleh Hito sampai hari ke tujuh Edel mendapati Heru duduk intim dengan seorang wanita di satu restoran dalam mall Grand Green.
rasa rindu yang menggebu kepadanya membuat Edel seperti terhipnotis untuk mendekatinya
dia terkejut kala melihat wanita yang bersama Heru. wanita itu sahabat baiknya sejak SMA yaitu Erika Pramono.
menutupi rasa terkhianati, Edel tetap tersenyum menghampiri mereka.
" Heru, kemana saja kamu. aku kangen banget sama kamu." ucap Edel mengambil duduk di samping satunya Heru yang kosong tak menghiraukan sang wanita
Edel menyapa dengan senyum sumringah, namun dibalas wajah datar Heru. tanpa menjawab pertanyaan Edel, dia menarik tangan Edel keras.
mereka berdiri di koridor belakang resto
" aku kira satu Minggu aku tak menghubungimu dan tidak membalas telpon serta chattingan mu kamu paham kalo aku sudah tidak ingin kita dekat."
perkataan Heru melunturkan senyum di wajah Edel
" kenapa? bukankah kita sudah pacaran?" tanya polos Edel
" pacaran? siapa yang mau pacaran sama kamu yang punya nenek memandang status sosial seseorang. aku cukup tau diri untuk tidak mencintaimu." hina Heru dengan tersenyum smirk.
perkataan itu cukup membuat Edel meringis sedih.
" tapi kita sudah tidur bareng." Edel mengingatkan
" terus?" tanggapan yang merendahkan dari Heru menyadarkan Edel bahwa kebersamaan mereka tak berarti bagi heru
" apa salahku?" tanya Edel
" sudahlah Edel jangan mendramatisir. kita sama-sama dewasa kita akhiri saja kedekatan kita ini. toh kita hanya berteman."
" teman tidak tidur bareng Heru. aku percaya kamu. bagaimana jika aku hamil?" bujuk Edel dengan tangisan luka
Heru tertegun mendengar itu. dia sungguh tidak berpikir sampai ke situ.
" tidak akan. kamu tidak akan hamil. jangan ganggu aku. aku tidak menginginkan mu. pergi kau." Heru pergi meninggalkan Edel yang menangis berjongkok menunduk menutupi wajah dengan kedua tangannya.
tidak terima sikap sepihak Heru, maka Edel mengutus seseorang untuk memata-matai Heru. selama dua bulan mereka mengawasi heru dan melaporkan hasil pengawasan kepada Edel setiap harinya.
sampai saat ini dia mendapati lembaran photo-photo Heru bermesraan dengan seorang wanita.
dia juga mendapat laporan jika Heru membawa teman wanitanya ke apartemen nya membuat Edel meradang. dia mendatangi apartemennya itu dengan maksud mengusir jalang itu, tapi malah dia yang terusir
mengingat memori masa lalu mereka Edel menangis hebat dan berteriak
AARRRGGGHH!!!
Terus berlari membawa Edel ke sebuah jembatan yang di bawahnya sungai besar dan deras. tak sadar jika tas selempang jatuh Edel mengerat genggaman tangannya di pagar jembatan
dia menaiki pagar jembatan dengan rasa hampa, dunianya hancur. menatap kosong ke depan.
linangan air mata menandakan hati yang amat tersakiti. Edel menutup mata, merentang kan kedua tangan layaknya hendak terbang dia mencondongkan tubuh ke depan
BYURRRRR!!!!
" astagfirullah beneran cewek itu terjun bunuh diri." teriak seorang pemuda di warung kecil berlari mendekati tempat Edel
sebenarnya dia sudah memperhatikan Edel sedari Edel datang, namun sering teralihkan fokusnya karena di ajak ngobrol teman-temannya
" woy ngelamun bae.kita tolongin dia." teriak pemuda itu kepada temannya yang masih kaget
" ini malem kagak keliatan bos." ujar temannya.
" telpon polisi ege." bentak pemuda itu
ketika temannya mau menelpon polisi, ada mobil polisi berpatroli yang langsung distop oleh teman pemuda itu
" maaf pak. ada orang yang terjun bunuh diri. teman-teman saya lagi pada nyoba nolongin." ujar cepat temannya itu
dengan sigap polisi melakukan panggilan bantuan
dalam hitungan menit petugas itu datang dan bergegas melakukan upaya penyelamatan
*****
rumah sakit Atma Madina
Zahra yang ditugaskan di UGD melakukan kunjungan keliling pasien
" Zahra cepat ada pasien hanyut tak sadarkan diri." panggil Ziva berlarian ke arah pintu samping tempat parkir ambulance menurunkan pasian
pasien dipindahkan ke brankar dengan terus mendapat bantuan oksigen
" seorang wanita berusia 24 tahun hampir tenggelam hanyut. berada di air sekitar 20 menit. telah mendapat pertolongan pertama. karena kemasukan air, sempat sadar." jelas petugas
Zahra dan Ziva mengambil alih brankar. Zahra menatap kaget sewaktu melihat pasiennya.
" dia seorang Hartadraja." beritahunya kepada Ziva dan perawat.
petugas itu bingung bagaimana Zahra tahu nama pasien itu sedangkan dia belum menyebutkannya.
" iya dia bernama Eidelweis Hartadraja." lanjut petugas itu
Zahra mengecek detak jantung, nafas, dan respon pasien. Ziva mempersiapkan pemasangan alat pernafasan, perawat mempersiapkan selimut
tak lama dokter jaga datang memeriksa ulang kondisi pasien . Zahra membisikan sesuatu ke dokter jaga yang diangguki oleh dokter.
Zahra berbisik ke telinga Ziva " Lo tangani dulu. gw mau telpon dokter Eni."
Ziva mengernyit bertanya. pasalnya dokter Eni adalah dokter kandungan.
" hanya untuk memastikan." Zahra melangkah keluar UGD untuk melakukan panggilan.
setelah melakukan panggilan dokter, Zahra menghubungi Hito
" hallo Zahra ada apa?" suara serak Hito menggelitik hatinya
" maaf ganggu. aku hanya ingin mengabarkan kalau kak Edel masuk rumah sakit."
" kenapa? suara Hito telah berubah sigap.
" kesini aja dulu. masih diperiksa sama dokter."
" baiklah. terima kasih."
" iya. udah tugas aku. hati-hati di jalan. jangan ngebut. aku tutup telponnya."
*****
lantai teratas Atma Madina privat.
Edel di tempatkan di ruang inap di samping kamar Mumtaz
keluarga Hartadraja telah berkumpul di ruang tunggu, dokter Egi selaku dokter jaga UGD, dokter Eni dan Zahra beserta Ziva selaku asisten jaga
dokter Egi membuka analisa diagnosisnya
" Alhamdulillah keadaan pasien stabil karena mendapat pertolongan pertama dan tindakan di UGD dengan sangat tanggap."
" tapi kenapa anak saya belum juga sadar?" tanya papa Aznan
" pasien hanya tertidur pak. setelah mendapat tindakan di UGD beliau sudah sadar, kami menyarankan beliau istirahat. karena beliau terlalu lemah untuk tetap sadar."
" akan berbahaya bagi beliau jika dipaksakan tetap sadar." jelas dokter jaga.
" selanjutnya rekan saya dokter kandungan, dokter Eni akan menjelaskan sesuatu kepada anda semua." dokter Egi mempersilahkan dokter Eni.
mengetahui ada dokter kandungan raut wajah keluarga Hartadraja bingung bercampur tegang
" saya ingin menyampaikan jika pasien tengah mengandung. usia kandungannya empat Minggu."
" Alhamdulillah kandungannya dapat diselamatkan dan dalam keadaan sehat."
para dokter dan asisten jaga yang menyadari raut kaget dan tegang keluarga Hartadraja berhati-hati menyampaikan hasil diagnosanya.
" anda yakin adik saya tengah hamil?" Hito ingin memastikan
dokter Eni mengangguk pelan " hasil USG di mengatakan demikian" dokter Eni memperlihatkan tab yang berisi hasil rekam USG
__ADS_1
" ini gambar rahim yang seperti bulat kecil ini adalah janinnya." menunjuk ke satu titik kecil.
mereka menahan nafas gusar.
" baiklah untuk sementara kami kira ini cukup. terima kasih atas kerja samanya."
para dokter mengangguk dan permisi keluar ruangan.
*****
Mood Heru sejak semalam sudah jelek. dia merasa kesal dan marah pagi ini
Heru berangkat kerja tanpa berucap permisi pada kekasihnya yang masih tidur.
di tempat parkir apartemen mood Heru semakin jelek mendapati mobil Edel masih terparkir di sini.
dia mendatangi mobil itu hendak memarahi Edel, namu keningnya mengernyit heran ketika dia tidak mendapati Edel dalam mobil.
deerrrt...derrrt...
" hallo,..." Heru mengangkat telpon dari Hito.
" Ru bawain gw baju ganti dan tolong beliin sarapan dan Lo langsung ke kantor bawa berkas-berkas ke rumah sakit. gw di rumah sakit Edel masuk rumah sakit "
Heru tertegun. dia mematikan sambungan telpon Hito. tiba-tiba dia sesak nafas. dia melonggarkan ikatan dasinya.tubuhnya lemas, dia berpegangan pada badan mobil Edel untuk menopang berat tubuhnya
tanpa dia sadari air mata lepas dari matanya. Heru bergegas masuk mobil untuk melaksanakan perintah Hito.
****
Rumah sakit Atma Madina
tok..tok...
" masuk."
Heru masuk ruang inap yang hanya terdapat Edel dan Hito.
" yang lain mana?" tanya Heru pelan. meletak pesanan Hito.
" tadi subuh pada pulang dulu." Hito memakan sarapannya.
selama Hito makan, tatapan Heru melekat ke wajah pucat Edel yang sedang tertidur.
" gimana Edel." Heru bertanya pelan.
Hito mengajak Heru ke ruang tunggu. dia takut suara mereka mengganggu waktu istirahat Edel
" gw tadi malem hubungi petugas yang nyelamatin Edel. dari keterangan mereka gw langsung menuju lokasi. dari keterangan saksi mereka mengatakan Edel sengaja terjun ke sungai yang sedang derasnya
Hito memejam mata dia mengusap gusar wajahnya. meraih tas selempang Edel yang didapat dari para pemuda yang turut menyelamatkan Edel. dia mengusap-usap tas itu
" dia sengaja bunuh diri Ru. entah beban berat apa yang dia tanggung sehingga adik gw yang kuat begitu putus asa untuk mengakhiri hidupnya." lirih sesal Hito.
Heru terhenyak mendengar penuturan Hito. dia diam dengan tatapan syok. ketika tersadar buru-buru dia menormalkan raut wajahnya.
" gw ngerasa gak berguna jadi kakaknya. seharusnya gw peka kalo dia sedang menderita udah dua bulanan ini gw sering denger dia nangis di kamarnya."
" seharunya gw datengin dia, gw tanya dia, gw peluk dia, tapi apa, gw gak lakuin itu semua. gw sibuk sendiri." Hito menunduk menjambak surainya menyalurkan penyesalannya.
" Lo mau kerja dari sini?" tanya Heru mengalihkan pembicaraan, karena dia sudah tak sanggup mendengar penderitaan Edel yang disebabkan olehnya.
" iya. gak mungkin gw ninggalin dia."
*****
ruang inap Mumtaz
Zahra membuka pintu, dia menggeleng melihat apa yang ada di depannya.
empat remaja yang duduk di depan masing-masing komputernya saling meledek, dan tertawa.
" ck..ck...kakak kira kalian lagi UN ternyata lagi arisan." sindir kak Zahra.
" hissh kak Ala mah UN mah nyantai aja kak. ni soal kayak soal paud gampil banget. kita udah selesai." sombong Jimmy yang mendapat dengusan dari kak Ala.
" kak, di sebelah ada yang ngisi?" tanya Ibnu.
kak Zahra mengangguk " kak Eidelweis Hartadraja." kak Zahra terus berjalan ke ruang tunggu. empat remaja itu saling pandang
di sini dia pun menggeleng lagi. dia menepuk jidat melihat Tia dan gengnya, Zayin dan gengnya ditambah Adgar, adik Cassandra.
entah apa yang mereka tertawakan, tapi yang jelas di sini mereka seperti sedang piknik
" ini kenapa kayak kalian lagi piknik ya." sindir kak Ala lagi
di lantai ada beberapa box pizza dengan berbeda varian dan pasta. benar benar piknik.
" eh Kakak Ala. iya ni. kita-kita butuh refreshing. selama ini kita sibuk mulu. hihihi..." jawab Dista bukannya malu di sindir, mereka malah semakin jadi
" ini rumah sakit loh. bukan villa." kak ala duduk di kursi menggeser Raja. dia mengambil makanan dan minuman yang ada.
" siapa Bilang ini hotel kak." culas Jimmy dan para sobatnya ikut gabung
" kamu udah sembuh belum Muy?" tanya kak ala ke Mumtaz yang sudah bisa duduk
" belum kak. lukanya masih butuh pengobatan." bukan Mumtaz yang menjawab, tetapi Daniel.
" berobat jalan bisa kan Muy?" kak Zahra menghiraukan para sohib adiknya.
" kalo sambil jalan capek kak
di sini aja udah supaya cepat sehat." lagi-lagi Jimmy yang menjawab
gemas dengan tingkah para sahabat adiknya kak Zahra menggetok kepala mereka satu persatu termasuk Ibnu.
" kak, Ibnu kan diem aja. kenapa kena getok?" protes tak terima Ibnu.
" karena kamu bagian dari mereka." kak Zahra duduk lelah di sofa
tok..tok..
pintu dibuka muncullah Ayunda, adik dari Daniel. dibelakangnya Bara, Rizal, dan Ubay. masing-masing tangan mereka menenteng plastik berisi makanan ringan.
kak Zahra kembali menggeleng. " kalian gak langsung pulang?"
" gak. mampir ke basecamp dulu." jawab santai Rizal
" Dimana basecampnya?"
" di sini." jawab Ubay yang sibuk melahap ayam
" hadeeuhh..."
" Ayu. kok di sini?" heran Jimmy.
Ayu menjatuhkan dirinya di sofa yang masih kosong
" disuruh bunda nyusul bang Daniel."
" ada apaan emang. pake acara disusul segala." tanya Daniel heran.
" Abang lupa hari ini abang ketemuan sama anaknya Pramono?"
Daniel berdecak jengah " abang udah bilang sama bunda gak mau padahal."
" Pramono nya maksa bunda mulu. jadi temuin aja sekali. terus jangan di temuin lagi."
" kasian bunda kayak diteror mereka nanyain kapan pertemuan kalian diadain.." sebenarnya dia juga tidak suka keluarga pramono
" hisshhh..." Daniel mengacak-acak rambutnya frustasi
" ini ada apaan dah kayak perang dunia ke tiga aja Lo." tanya Ibnu
" Erika pramono ahli waris Pramono corp maksa pengen ketemu gw mulu. dia itu usianya jauh di atas gw. kalo gak salah seumuran sama kak Edel dah."
" Cassy, Tante Edel berapa usianya?" tanya Daniel.
Cassy tampak berpikir " sekitar 23 atau 24 gitu."
" iya sama segitu."
" lah tu Tante kenapa pengen sama Lo?" Jimmy bergidik
" gak ngerti gw juga. gw cuma ketemu dia sekali pas nganter bunda ke tempat arisannya itu pun sekilas doang. setelahnya gak pernah ketemuan lagi."
" karena mereka lagi butuh duit." ujar Ibnu yang sekarang duduk di sofa samping Ayunda.
" gw masuk ke server perusahaan mereka, dan sekarang lagi ngambil semua database mereka. sementara yang gw liat raport mereka merah."
" oke semua jangan ada yang bertanya sekarang kumpulkan dulu bahannya." Daniel memberi titah yang entah mengapa dipatuhi oleh para sahabatnya yang langsung sibuk dengan masing-masing laptopnya
hening. diam....
***
__ADS_1
parkiran super VVIP.
Heru hendak menstarter mobilnya ketika melihat pak Yani supir kakek Fatio melangkah membawa papperbag
" pak Yani,.." panggil Heru
" eh ada pak Heru. bapak mau keatas ya sekalian saya titip bawaan punya nyonya Dewi ya. tadi nyonya suruh saya bawa, tapi saya mau ke toilet kebelet. pak"
" iya. baik. saya bawa. mari pak."
Heru kembali masuk rumah sakit dengan papperbag mama Dewi.
saat Heru hendak mendorong pintu ruang inap Eidelweis yang memang tidak tertutup rapat terdengar perbincangan yang serius.
****
ruang inap Eidelweis
Edel menghela nafas berat melihat keluarganya menatap intens padanya. dia benar-benar di kelilingi seluruh anggota keluarga Hartadraja. AMAZING!!!.
" katakan siapa bapak dari anak yang kau kandung?" nenek Sri dengan lantang mengatakannya
Edel bingung " anak?"
" iya di dalam perutmu ada anaknya Edel."
Edel terkesiap. dia raba perutnya yang rata. sasaat dia tertegun dan mengulang ucapan " anak" lirihnya
" EIDELWEIS..." nenek Sri menatap kesal.
Edel menangis. " maaf....Edel mengecewakan kalian...maaf..." lirihnya pilu.
Damar, Julia, dan Hito memeluk Eidelweis yang menangis tergugu.
" sebutkan siapa bapak dari anakmu?"
Edel menggeleng " Edel tidak akan menyebutnya."
" EDEL..." nenek Sri telah habis kesabaran
para kakak menambah erat pelukannya di tubuh Edel yang melemah
" Edel tahu tak ada yang bisa dibanggakan dari Edel nek...tidak peduli berapa berusahanya Edel membahagiakan nenek, bagi nenek Edel hanya beban Hartadraja."
" jika kalian tak ingin Edel membebani kalian. Edel akan pergi dari kalian, tapi jangan harap Edel akan memberitahukan siapa ayah dari anak edel."
kakek Fatio dengan tertatih-tatih mendekati Edel. para kakak bergeser memberi ruang kakek
kakek Fatio dengan tubuh tuanya memeluk Edel yang masih menangis
" Edel selalu menjadi cucu yang menggemaskan. maaf jika nenek terasa menyesakan bagi Edel, tapi percayalah bagi nenek Edel masih menjadi cucu idolanya."
" Edel tahu, setiap hari nenek selalu gibahin Edel. Edel inilah Edel itulah. nenek Sri hanya tidak menerima ada seseorang yang menyakitimu nak. percaya sama kakek." kakek Fatio mencium pucuk kepala Edel.
sedangkan yang lain menangis sedih, menyesal tidak mampu melindungi Edel.
" kenapa kamu tidak mau menyebutkan namanya? tanya kakek lembut.
" Edel mencintainya. Edel gak mau kalian mencelakainya." suara Edel pelan
" tapi dia harus bertanggung jawab nak?"
Edel menggeleng " dia tidak mau. dia sudah meninggalkan Edel demi wanita lain."
keluarga Hartadraja tersentak marah mendengar itu.
Edel menangkup tangan kakek. " Edel paham kalian kecewa pada Edel. nama Hartadraja jadi taruhannya atas aib ini. Edel akan pergi." semua orang menggeleng
" Edel sudah melakukan kesalahan besar, biar Edel yang menanggungnya." Edel mengusap sisa air mata nya.
" sekali lagi maaf...mama, papa, kak Damar, kak Julia, kak Hito, maaf...kakek, nenek, maafin Edel."
" Akbar, sampaikan maaf Tante ke Cassy dan Adgar. Edel sayang kalian. maaf...hiks hiks." Edel tak kuasa menahan air matanya lagi. dia menunduk menyesal.
" Edel gak bermaksud mempermalukan kalian. Edel hanya sangat mencintainya...hiks...hiks..." Edel menangis tertahan.
di depan pintu Heru berdiri kaku mendengar semuanya. papperbag yang dibawanya tak tersadar jatuh ke lantai hingga menimbulkan bunyi bising.
segera Heru mencari tempat persembunyian sebelum ada orang yang memergokinya dia mencoba menetralkan raut wajah dengan cepat meski dadanya bergemuruh
kembali ke ruangan Edel dengan menarik dan mengeluarkan nafas panjang Heru mengetuk dan mendorong pintu.
dia masuk ruangan seperti tidak mengetahui apa yang terjadi
" maaf mengganggu. nyonya Dewi ini barang bawaan anda, tadi sewaktu saya hendak kemari saya ketemu pak Yani di lobby." Heru berbohong
" oh iya terima kasih ya." mama Dewi mengusap ujung matanya beliau menerima bawaannya.
" oh iya Heru tolong beliin sate ayam ya. Edel pengen sate katanya."
sesaat Heru menatap Edel yang menunduk seakan enggan melihatnya.
" baik nyonya." Heru meninggalkan ruangan
******
ruang inap Mumtaz
" yang gw heran kenapa di laptop dan hp dia banyak photo-photo kak Edel ya?"Jimmy membuka pembicaraan.
dia sangat tidak suka suasana serius. Jimmy masih sibuk dengan laptopnya
semua mata memandang Jimmy atas apa yang dia katakan.
" Cassy, bisa telpon kak Akbar. suruh kesini sekarang." Jimmy menatap datar Cassy.
Cassy yang ditatap dingin oleh Jimmy ketakutan. dia gugup sewaktu menelpon kakak sepupunya itu.
" hallo kak Akbar dimana? sekarang sama kak Jimmy disuruh ke ruang kak Mumtaz." lirih cassy
TAK...
sebuah jitakan mendarat di kepala Jimmy. siapa lagi kalau bukan Bara
" biasa aja mukanya. aktingnya lebay. cewek gw ketakutan."
" ck. kan supaya mendalami."
tok...tok...
Akbar tidak datang sendiri, tapi juga dengan om Hito dan om Heru.
melihat om Heru empat remaja itu saling pandang. Heru yang menyadari gerak-gerik ganjil empat remaja itu kepadanya dan di depan mereka ada laptop menjadi resah.
" ada apaan?" Akbar menuju sofa menggeser Rizal.
" Lo kenal Erika Pramono?" tanya Jimmy to the point
" kalo gak salah sahabatnya Tante Edel deh. iya kan om?" tanya Akbar ke om Hito untuk memastikan
" iya." Hito yang duduk di lengan sofa dekat Zahra ikut makan burger yang sedang dimakan Zahra.
Dalam diamnya Heru mengantisipasi
" hubungan persahabatan mereka Deket banget?"
" maksudnya?"
" ya sampe berbagi dokumen pribadi gitu..." ucap Jimmy serba salah
Jimmy memberi kode ke Bara untuk membawa para bocil keluar
" ayo para bocil ini kayaknya obrolan 70++. kita yang masih imut mending nongkrong di cafe." Bara beranjak pergi sambil menarik tangan Cassy.
tersisa Adgar yang masih duduk anteng.
" Lo gak ikut gabung sama mereka, Gar? " tanya Ibnu.
Adgar menggeleng " meski bocil gw seorang Hartadraja. gw tau apa yang mau kalian omongin gak menyenangkan. jika menyangkut Tante kesayangan gw, gw ikut pasang badan." ucap Adgar menolak untuk diremehkan
Jimmy menoleh ke om Hito. om Hito. mengangguk
" okelah kalo begitu. ini isu sensitif."
Jimmy menempatkan para Hartadraja duduk dalam satu sofa panjang meletakan laptop di atas meja dan menempatkannya di depan mereka
" saya membagi dua bagian photo-photo itu. photo-photo dari file yang di atas adalah photo-photo yang terdapat di laptop yang ditransfer dari hp, dan file bawahnya photo-photo yang memang sudah ada dalam laptopnya."
" oke kita klik dulu file yang di atas." Jimmy meminta Akbar untuk melakukannya...
terpampang di hadapan mereka ribuan photo bersifat pribadi Edel dari yang masih berpakaian lengkap, mengenakan pakaian dalam, sampai telanjang dengan berbagai pose.
" maaf, tadi kami mengirim robot pengintai ke kamar Tante Edel untuk memastikan lokasi photo itu. hasil yang di dapat lokasi itudi...."
" kamar tidur Edel..." Hito syok melihat apa yang ada di depannya.
__ADS_1
"... dan kamar mandinya juga...." suara Jimmy memelan
" dia....lesbi bukan sih....?"