
Ketika Mumtaz memasuki ruangan konferensi pers sorakan dari para sahabat menyambutnya.
Radit: " mari kita sambut Romeo abad 21." Radit bertepuk tangan diikuti yang lain
Rio:" gila sih, kalau gue jadi cewek aku klepek-klepek sama kamu, bang."
Jimmy: ajib lah, cakar gue kalem-kalem kalau mode Kahlil Gibrannya on, Dilan hanyut."
Daniel: "cakar?"
Jimmy: " calon kakak ipar."
" Ahhahahha... Anjay....kakak ipar." Ledek Haikal.
" Terus aja puji-puji gue, belok awas loh." Mumtaz duduk di samping Haikal.
" Gue harap Lo gak keberatan kalau gue tadi memutuskan kita tolak penawaran dari Husain group." Ujar Daniel, Mumtaz menjawab dengan anggukan kepala.
" Jim, gimana nasib undangan Lo?" Tanya Ibnu.
Seketika raut Jimmy penuh penyesalan, " ya... Gimana lagi, di simpan aja dulu."
" Terus buat yang sekarang ngundangnya pake apa?
" Nu, buat aja sekitar seratus bijian, bisa jadi dalam semalam gak? Tanya Bara.
" Bisa, gue bantu. Jangan lupa Bapak gue punya percetakan." Potong Rio.
" Ajak bagian grafis supaya cepat selesai, gue kirim apa yang harus di cantumkan." Ujar Jimmy yang langsung sibuk dengan ponselnya.
Rio mengangguk dan beranjak pergi untuk bertindak.
Bara melempar amplop berlogo rumah sakit Atma Madina " hasil lab udah keluar."
" Hasilnya?" Tanya jimmy.,
Bara menggelengkan kepala " belum gue buka."
Ubay berinisiatif membuka dan membaca isi amplop tersebut.
Melihat raut Ubay yang berubah terkejut dan mata membulat, mulut menganga. Para sahabat tegang.
" 98% cocok." Ucap pelannya
Para sahabat berebut ingin membaca hasil lab tersebut.
" Jadi, Tamara itu Tanura. Tanura itu Tamara!!!" Haikal menyimpulkan dengan tatapan kosong.
Tanpa kata, Mumtaz dan Ibnu pergi dari ruangan.
" Mau kemana mereka?" Tanya Ubay.
" Udah, biarin aja. Mereka bisa berkencan berdua." Ucap Jimmy.
Dan begitu adanya, mereka menghabiskan sore sampai menjelang pagi di ruangan Mumtaz.
******
"Assalamu'alaikum." Salam Jimmy
" Wa, alaikumsalam." Jawab papi
" Pulang juga kamu." Ucap sinis mami yang tidak direspon oleh Alfa.
" Persiapkan dirimu, lusa kamu melamar Dinda." Ujar mami sambil membuka majalah fashion.
Jimmy menatap males mami, dia mengambil duduk diseberang mami.
Jimmy meletak beberapa foto Tia dan samuel di atas meja.
Menatap lurus mami " anak perempuan kecil itu Tia, dia dipaksa berpose demikian oleh cewek itu, karena foto ini Tia mengalami trauma. Hati cewek itu tidak secantik luarnya, dia seorang pelacur, dia hiperseksual." Ucap jimmy
Mami dan papi terkejut dengan apa yang tuturkan Jimmy.
" Menikahkan Jimmy dengan cewek itu, tidak hanya menghancurkan nama Atma Madina, tetapi juga bisnis Atma Madina. Percayalah."
Mami diam, namun seakan matanya tertutup, mami menolak kebenaran tersebut.
" Itu dulu, sekarang dia sudah bertobat, dan menjadi gadis baik-baik." Ucap mami dipaksakan
Jimmy menatap mami tak percaya dengan komentar mami.
" Ucapan mami menunjukan kalau mami buta mengenai mereka, tapi aku mengetahui tentang mereka lebih dari yang mami kira." Ucap Jimmy.
" Jika mami tetap memaksaku, maka mami akan melihat mayat ku." Pungkas kecewa Jimmy.
" Ini undangan pernikahan jimmy, papi tentu tak butuh undangan karena akan datang sebagai keluargaku."Jimmy meninggalkan mereka.
" Selamat, kau berhasil membuat anakmu sebagai orang asing. Kau pilih ego mu atau mayat anak mu." Sarkas Papi, meninggalkan mami yang membisu.
******
"Shittt...shittt, sialan. mereka melakukan diskriminatif kepada kita, kita gak bisa tinggal diam." Ocehan bentakan Aloya memenuhi ruangan yang dilihat para koleganya.
Memang, setelah penjelasan yang dilakukan RaHasiYa mengenai Aloya dan para rekannya saat pertemuan dengan top 10, top 10 mengambil tindakan untuk menutup akses kerja sama dengan mereka.
Top 10 secara rahasia menyebarkan berita Aloya dan para rekannya kepada seluruh koleganya, dan meminta mereka turut menutup akses bisnis mereka untuk Aloya dan para rekannya.
Para rekan top 10 bersedia mengikuti arahan mereka asal mereka dilindungi oleh RaHasiYa, dan hal itu disanggupi oleh RaHasiYa dengan syarat seluruh kegiatan baik bisnis maupun pribadi mereka dibawah pengawasan RaHasiYa. Mengingat banyak rekan top 10 bukan klien RaHasiYa yang beresiko terjadinya pengkhianatan. Maka terjadilah kesepakatan antara top 10, dan rekan dengan RaHasiYa.
Brotosedjo, Pramono, Alexander. Yang mengetahui dunia bisnis hanya membiarkan Aloya marah karena egonya.
" Saya pikir, kita bisa bersaing dengan mereka dengan apa yang kita miliki." Ucap Brotosedjo.
__ADS_1
" Saat ini hotel Paradise, dan surga Duniawi adalah yang paling kita andalkan, Jadi mari kita bukan gebrakan membuat las Vegasnya Indonesia." Ujar Pramono.
" Benar, daripada kita menghabiskan energi mengurusi mereka lebih baik kita bersaing dengan mereka, buat mereka menyesal bersikap kasar kepada kita." Ucap Alexander.
" Baik, mari kita bergerak. Saya akan ajukan pinjaman ke bank." Ucap Aloya.
Dan iya, mereka melakukan investasi gila-gilaan demi menjaga ego mereka, tak lama hotel paradise, dan Surga Duniawi tumbuh menjadi bisnis besar. Ini menguntungkan bagi Aloya travel.
Gaya bisnis Aloya adalah menghancurkan setiap pesaingnya dengan memaksa akuisisi, merger, bahkan pengalihan kepemimpinan secara paksa. Dia ingin hanya dirinyalah pelaku bisnis di bidangnya. Suatu gaya bisnis yang tidak disukai oleh banyak orang, maka seiring banyaknya para pesaingnya lenyap, semakin banyak musuh Aloya.
RaHaSiYa membuka jasa bantuan korban Aloya dan rekan yang disambut hangat oleh para korban.
****
Di lantai sepuluh Para petinggi RaHasiYa dan staffnya sedang sibuk menyiapkan pernikahan Jimmy.
Mumtaz menarik Bara untuk mengikutinya ke lantai dua.
" Bar, gue minta Lo bikin janji temu dengan Nathan Wilson" ucap Mumtaz.
Bara menaikan kedua alisnya heran, pasalnya Nathan Wilson adalah pemilik club the flowless.
" Lo mau jadi pelanggan mereka?"
Lemparan bantal sofa ke wajah Bara cukup menjadi jawaban Mumtaz.
" Nu, kasih tahu dia, gue lapar."
" Pesenin gue steak sapi jumbo sama kentang tumbuk ya." Ujar Ibnu.
" Gaya benar makanan Lo." Bara melempar bantal sofa yang mengenai kepala Ibnu.
" Gue baru tidur satu setengah jam Mumtaz bahkan belum tidur sama sekali."
" Kenapa?"
" Gara-gara Tanura/Tamara. Udah ah jangan banyak bacot, ni tentang Nathan. Mending Lo dengar aja dari pad lo baca, walaupun teksnya tetap gue pampang dilayar."
Bara memakai headphone yang tersambung dengan layar.
Butuh satu setengah jam bagi Bara mendengar tentang Nathan.
" Wow serius, Lo. Pusing pala gue dengar cerita ini. Gue jadiin sinetron aja kali ya." Ucap Bara, sedangkan Ibnu berdecak sebal.
Mumtaz datang bergabung dengan mereka, memberi Ibnu pesanannya.
" Kenapa gak Lo langsung?" tanya Bara ke Mumtaz.
" Banyak urusan gue. Gue mau ketemuan sama Jeno. Lo bawa Ibnu. Daniel bakal sibuk di rumah."
Ibnu menengadahkan kepala dari makanannya dengan menunjuk kepada dirinya sendiri dengan bertanya.
" Lo jelasin apa yang yang sudah kita dapatkan."
" Gue udah tahu?" Tanya Bara
" Lo ngerasa enggak yang nikah tuh kayak ketua mafia gitu?" sarkas Bara.
" Gue dengar mami ngasih tahu si Celine tentang pernikahan ini, gue gak mau ambil resiko." Ucap Mumtaz.
Bara mengusap gusar wajahnya. Dia kesal dengan tantenya. Untung mama Aida menyikapi penolakan mami dengan santai.
****
Hotel the Sultan
" Hallo , tuan Bara."
" Hallo, tuan Nathan."
Dua pebisnis muda yang sedang naik daun di Indonesia bertemu di presidential suite hotel the Sultan.
" Kenalkan, rekan saya Ibnu Ubaidillah, rekan bisnis saya di bidang IT."
" Saya tahu beliau, beliau dari RaHasiYa, benarkan!?" Ibnu mengangguk "Saya Nathan Wilson. Senang akhirnya bertemu dengan anda." Mereka bersalaman layaknya pebisnis.
" Saya cukup terkejut anda menelpon saya, apalagi dengan apa yang anda sampaikan ditelpon." Ucap Nathan.
" Saya pikir usia kita tak jauh beda, lebih baik kita berbahasa santai saja, bagaimana?" Tawar Bara.
" Saya setuju dari tadi saya berasa jadi papa saya."
" Hahahaha..." Mereka berdua tertawa. Sedangkan Ibnu sudah fokus pada laptopnya.
"Nu,..." Bara memberi kode kepada Ibnu yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.
" Ah, maaf. Bukan maksud saya mengacuhkan anda, tapi silahkan anda lihat ini." Ibnu memajukan dan memutar laptopnya ke hadapan Nathan.
Butuh lima menit bagi Nathan untuk merubah raut wajahnya menjadi merah karena marah.
Apa yang dilihat Nathan adalah video perbuatan Erika dan Adinda yang menjadi hostes dengan maksud mencuri pelanggan the flowless untuk Surga Duniawi.
" Erika dan Adinda berstatus freelance, awalnya tidak ada masalah dengan Erika, namun atas desakan Pramono yang dihasut Adinda akhirnya mereka bekerja sama untuk mencuri pelanggan anda." Ucap Ibnu.
" Gue kenal siapa Erika, tapi dengan Adinda,..."
" Dia putri dari Rudi Aloya, keponakan Victor Rafael. Orang-orang yang merebut bisnis keluarga mu dan membunuh orang tua kandung mu." Lanjut Ibnu hati-hati.
Nathan tercekat syok dengan penjelasan Ibnu, Bara menyodorkan segelas air mineral padanya.
" Bagaimana...bagaimana kalian mengetahui mereka pembunuh orang tua ku?" Lirihnya.
" Kita akan lanjut jika anda sudah siap." Ibnu menegaskan.
__ADS_1
Nathan memanggil asistennya, Ibnu dan Bara meninggalkan ruangan memberi ruang privasi kepada Nathan.
Setelah beberapa saat " Panggilkan tuan Atma Madina, dan tuan Ubaidillah. Batalkan jadwal hari ini." Ucapnya kepada asistennya
" Baik." Asisten mendekati Bara dan Ibnu yang menunggu di ruang tamu.."
" Maaf, membuang waktu anda berdua. Tuan telah siap." ucap sang asisten
" Tidak mengapa, kami memakluminya." Bara berdiri sambil merapikan jasnya."
Sudah lima menit mereka bertiga duduk diam.
" Banyak yang ingin gue tanyakan, tapi selalu berakhir, tentu kalian tahu kalian adalah RaHasiYa. Hahaha.." ujar Nathan dengan tawa tragis.
" Kalau Lo khawatir bocornya informasi ini, jangan khawatir,Kami akan menjaganya. Tentang anda termasuk pada file top secret pada database kami." Ucap Ibnu.
" Baiklah, mari kita lanjutkan." Ucap Nathan menghela nafas dalam-dalam.
Ibnu memberi earphone pada nathan yang terhubung pada laptop.
Di laptop sekarang memutar rekaman sepak terjang kehidupan dan karir Rudi Aloya dan Victor rafael.
Karier mereka bermula dari penjaga club Hots milik Edward Wilson, ayah nathan. Yang kemudian naik menjadi tukang pukul, berlanjut menjadi manajer club dan terakhir menjadi orang kepercayaan Edward Wilson.
Di titik menjadi orang kepercayaan Edward inilah mereka mulai bermain curang dengan memanipulasi data dan keuangan bisnis Wilson sampai akhirnya mereka membunuh sepasang suami-istri wilson tersebut dengan meninggalkan wasiat seluruh bisnis mereka diberikan kepada Rudi dan Victor.
Tentu keluarga wilson melawan, tapi tidak sampai jalur hukum karena mereka tidak punya bukti untuk melawan surat wasiat yang dibubuhi tanda tangan asli Edward Wilson.
Atas bimbingan bisnis Edward mereka memahami dunia bisnis tentu dengan polesan bakat curang dan manipulasi yang mereka miliki.
Pada jamannya keluarga Wilson merajai bisnis eksport-import ke Eropa dan Amerika, perhotelan, hiburan, dan travel.
Di bawah pimpinan mereka berdua beberapa bisnis Wilson sudah diakuisisi, dan dimerger oleh pihak lain karena defisit, hanya tertinggal bidang hiburan berbentuk Surga Duniawi, dan Aloya travel. Sedangkan Vidi entertainment, merupakan milik Luke wilson yang dicuri Victor Rafael sebagai imbalan agar tidak membunuh keponakannya yang bernama Nathan Wilson.
Victor memaksa luke untuk manandatangani surat kesepakatan pengalihan kepemilikan Vidi entertainment di atas kapal pesiar, setelah penandatangan, Victor melempar Nathan kecil yang masih berusia tiga tahun ke tengah laut.
Kesigapan dari bodyguard luke wilson lah yang menyelamatkan Nathan dari kematian, tapi Victor tidak mengetahui itu, karena selepas dia melempar Nathan ke laut Victor langsung melarikan diri dengan kapalnya.
Sejak saat itulah Nathan Wilson berstatus sebagai putera dari Luke Wilson.
Nathan melepas earphonenya. seluruh tubuhnya berkeringat dingin, tatapannya kosong, degup jantungnya kencang. Dia menundukkan kepala bertumpu pada kedua tangannya menyembunyikan bulir bening yang mulai mengalir.
" Aku sering dengar tentang kehebatan kinerja RaHasiYa, tapi apa yang ku dengar melebihi dari apa yang ku kira." takjubnya.
Ting tong...
Nathan menatap bertanya kepada Bara.
" Maaf, karena khawatir sama Lo, gue panggil om Wilson." Nathan menganggukan kepala.
Luke dan Dania Wilson berlari mendekati Nathan dengan raut khawatir.
" Kamu tidak apa-apa?" Tanya om Luke.
" Its okey, pa. Papa sebaiknya dengar ini." Nathan memberikan earphone itu kepada suami-istri tersebut.
" Maaf, selagi om dan Tante mendengarkan saya mau makan dulu di sebelah." Ucap Ibnu.
" Oh iya, silahkan." Ucap om luke.
Ibnu beranjak keluar ruangan. Dia sungguh marah kepada Mumtaz yang memberinya waktu 24 jam untuk mempelajari hasil pencariannya yang ternyata banyak sekali, Sehingga dia tidak sempat makan.
Tepat selesai makan asisten Nathan memangilnya.
" Tuan Ubaidillah, tuan Wilson menunggu anda." Ucap asisten.
" Apa kami bisa minta dokumen-dokumen tentang Wilson? Terus terang selama ini kami mencari tentang kak Edward, tapi belum juga cukup."
" Maaf, untuk sekarang belum bisa, tetapi nanti pasti kami akan berikan jika urusan kami sudah selesai."
" Kami ingin memberi kalian hadiah." Ucap Ibnu membuka satu file di laptopnya. Luke, Nathan dan Daniel bergetar menangis kala melihat kepala Edward ditodong pistol oleh Victor, dan Rudi memaksa Edward dengan segala ancamannya untuk menandatangani surat wasiat tersebut.
" Mengingat kualitas gambar ini tidak begitu jelas, kami putuskan akan mencari bukti fisik surat tersebut. kita bisa membawanya ke ahli.
" apa yang bisa kami bantu?" tanya om Luke
" Biarkan Adinda tetap menjadi hostes di club anda, dan bersaing dengan Tamara. Beri kebebasan satu atau dua pelanggan tetap anda bermain ke Surga Duniawi agar mereka lebih banyak berinvestasi di sana. Kami berniat menghancurkan Surga Duniawi." Tutur Bara
" Saya sudah pilih siapa pelanggan anda yang akan bermain di Surga Duniawi." Ibnu menampilkan dua profil konglomerat.
" Kenapa dengan mereka?"
" Karena mereka memiliki bisnis sampingan mencetak uang palsu." Ucap Bara.
keluarga Wilson terperanjat kaget.
" Sejak Surga Duniawi dibuka kembali mereka sudah beberapa kali main ke sana, Aloya Sangat suka mereka, karena mereka royal."
" Apa kalian akan membunuh Aloya? Tanya Luke.
" Jika mengharuskan!"
" Saya harap tidak, kami sudah menyiapkan kuburan buat mereka...
" Akan saya sampaikan permintaan anda kepada rekan saya." ucap ibnu santai.
" Ini,..." Ibnu memberi foto seorang gadis muda cantik.
Nathan menaikan alisnya bertanya
" kami harap anda mendekati dia, dia masih perawan. rusak dia, biarkan Tamara dan Adinda melihatnya sebagai primadona" Ujar Bara.
" siapa dia?"
__ADS_1
" Gabriela Rafael, putri dari Fiona dan Victor Rafael. keterangan lebih lanjut tentang akan kami kirim ke email anda." Ucap santai Bara.
Sambil menatap foto Gabriela Nathan tersenyum sinis...