Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 60. Intermezzo


__ADS_3

"AAKH...A....Aa...sakiiit.. Iya udah gak kuat...le...pas..."


" Maaf, sayang. Gak bisa di lepas sekarang, entar nambah sakit. Ini harus lanjut." Ringis Jimmy.


" Aaaa..khh...saki...ttt. mama..."


" Shuutttt,.. jangan teriak-teriak, malu ih. Ini sedikit lagi. Tahan ya."


Zayin yang kamarnya persis di samping kamar Tia menutup telinganya dengan bantal, mengguling-gulingkan badannya di atas kasur dengan kesal, tapi bising dari dua orang tetangga kamarnya tak juga hilang.


Dengan sebal dia beranjak ke kamar Mumtaz yang berada di seberangnya.


BRAK!!!


Mumtaz yang sedang duduk di kursi meja kerjanya terlonjak kaget menepuk-nepuk dadanya.


" Kenapa Lo?"


Tanpa kata Zayin mematikan alat kedap suara di dinding kamar Mumtaz, dan terdengar lah teriakan, rengekan, rintihan dari kamar Tia.


Mumtaz dan Zayin saling pandang dan buang muka kesal.


" Ishhh... Tu orang, benar-benar tidak dikondisikan tempatnya." Umpat Zayin yang melangkah keluar kamar Mumtaz diikuti oleh Mumtaz yang meninggalkan pekerjaan proyeknya bersama Fatih, Dia sudah tidak bisa fokus lagi.


Di bawah, mereka bertemu dengan Kak Zahra yang sedang membuka pintu.


" Mau kemana, kak?" Tanya Zayin


" Mau ke tetangga, itu pengantin baru sumpah norak banget!" Ucap jengkel kak Zahra yang diangguki oleh para adiknya.


Sedangkan Tia dan Jimmy di kamar sedang ribut 


" Aa, udah ini sakit banget..." Tunjuknya ke kaki yang sedang di pijit Jimmy.


" Bentar, Aa janji bentar lagi." Jimmy memijit tumit kaki Tia yang keseleo.


" Astaga naga dari tadi ngomongnya bentar-bentar, tapi gak kelar-kelar. Aku tendang ya." Omel Tia.


" Ck, sabar. Kamu nya juga gerak-getak mulu. Ni udah, coba di gerakkin."


Tia menggerakkan kakinya " iya, udah gak sakit " cengirnya, Jimmy melempar tuksedonya ke kepala Tia sebal. Tia cuma cemberut aja sih.



Pukul sembilan rumah kak Edel masih ramai karena keluarga besar masih berkumpul.



" Assalamualaikum." Salam mereka bertiga.



" Wa, alaikumsalam. Tumben tetangga masih keluyuran jam segini" ucap kak Edel.



Hito menarik lembut lengan baju Zahra agar duduk di sampingnya.



" Itu pengantin baru, asli teriakannya sampe mengganggu tetangga kamar. Mana capek." Ujar Zayin sebal, dia langsung tengkurep di atas karpet yang tergelar di ruang tamu.



" Hahahaha...." Serempak klan Hartadraja dan Pradapta menertawakannya.



" Biasa, masih panas-panasnya. Ujar papa Aznan.



" Mum, itu mesjid kayaknya masih baru ya? Tanya Daddy Gama.



" Udah dua tahun, tapi masyarakat gotong royong menjaga pemeliharaannya, jadi kayak masih baru." Mumtaz mengambil duduk di sebelah Sisilia yang lagi main game dengan Cassandra di ponsel Adelia.



" Nyaman, kayaknya itu mesjid dibangun pake jasa arsitek deh? 



" Apa sih om, enggak. yang desain itu mesjid si Mumtaz." Ujar kak Edel.



" Dia kan anak arsitektur, sayang." Om Heru mengingatkan.



" Eh, iya, iya."



" Desainnya simpel, sederhana, tapi elegan. Saya suka banyak kaligrafi dan Asmaul Husnanya. Gak neko-neko, bikin orang khusu' beribadah." Ujar Daddy.



" Kata embah saya salah satu akhir zaman ketika banyak orang berlomba-lomba mempercantik tempat indah, sehingga orang salah fokus menjadikan tempat ibadah menjadi tempat pariwisata bukan tempat ibadah. Saya gak mau mesjid menjadi begitu, jadi yaaa... Gitu akhirnya."



" Sirkulasi udaranya bagus, jadi saat panas terik, mesjid masih terasa adem." Sambung papa Aznan. 



" Kamu baru ini bicara tentang kakek mu?" Tanya akbar



Mumtaz mengedikan bahu " beliau wafat sudah lama sebelum ayah meninggal." 



" Iya, saking ademnya, Heru kalau udah di mesjid lama benget pulangnya, padahal yang lain udah pulang." Dumel kak Edel.



" Oh, kalau itu bukan karena mesjid kak, tapi ada janda muda penjaga kantin yang cantik." Oceh Zayin yang matanya masih merem.



" Zayin!" Tegur om Heru yang mendapat delikan tajam kak Edel.



Perang dunia ketiga dimulai." Gumam Adgar.



" Om, kemarin Tante Devi, janda muda itu nitip salam buat om. Katanya kalau kopi di rumah habis ngopi di warung aja." Zayin masih ngoceh tanpa melihat kode diam dari om Heru.



Para pria menahan tawa melihat kak edel sudah melotot.



" Oh iya katanya terima kasih udah bantu bawaain belanjaannya." 



Pluk!!!



Om Heru melempar keras bantal sofa ke kepala Zayin.



" Aduh, apa ini," Zayin mengangkat kepalanya, mengambil bantal sofa dan menaruhnya di dekatnya.



" Benar ,Yin. Om Heru bawain belanjaan janda itu? Tekan kak Edel.



Zayin baru sadar kalau dia sudah membicarakan hal yang terlarang.



" Eee...h itu, kata mbak Devi ya begitu." Lirih Zayin.



" Orangnya cantik enggak?"



" Kalau nanya ke Ayin yang berselera tinggi ini sih, biasa aja. dan Jangan membandingkan diri kakak sama dia, gak selevel, kakak seorang istri, dia calon pelakor, cewek rendahan. NO, BIG NO!" Tekan Zayin yang mendapat tatapan takjub dari para lelaki.



" Menurut kamu Ra, gimana?" Tanya 


Kak Julia.



" Apa?"



" Kalau pasangan kamu diambil sama pelakor?"



" Aku pisah, itu tandanya pasangan kita sudah tidak menginginkan kita. hubungan hanya berjalan jika dua pihak berkehendak, jika salah satu saja yang menginginkannya, buang-buang waktu."



" Kamu, gak akan mempertahankannya?" Tanya kak Edel.



" Hubungan itu hanya ada satu wanita, dan satu pria, selama kami berhubungan saya hanya bisa berusaha menjadi pasangan yang baik dan menyenangkan, sehingga pasangan saya tidak punya alasan untuk meninggalkan saya kecuali Allah tidak menjodohkan kami. Kalau pasangan saya mengkhianati saya, berarti end." Tegasnya menatap Hito.



" Bagaimana jika pelakor itu sahabatmu?"  Tanya Kaka Nadya, suasana berubah tegang,



" Entah teman atau bukan, pelakor itu hanya untuk orang berkualitas rendah dan tidak percaya diri. Itu bukan level saya, jika mereka bersama berarti mereka memiliki kualitas yang sama. Alih-alih saya fokus ke pelakor atau pasangan yang sudah mengkhianati kita, saya akan fokus ke pria lain, seperti kak Dominiaz. Hidup itu sekali, nikmati apa yang ada di depan kita." Kak Zahra menarik turunkan alisnya kepada kak Edel mencoba meringankan suasana tegang entah karena apa.



Kak Edel, kak, Julia ,dan kak Nadya bertepuk tangan semangat.



" Gak percuma jadi profesor di usia muda, keren!!!" Ucap kak Edel.



" Siapa yang profesor?" Tanya kak Nadya.



" Dia, Zahra. Punya gelar profesor di namanya."


__ADS_1


" HAAAAAHH?" mereka serempak kaget sampai Zayin terbangun.



" Wah, kalau begini kapan pun anda single, saya siap menampung." Ucap Dominiaz.



Hito yang selalu sensitif jika menyangkut Zahra langsung melempar bantal sofa dengan tidak sungkan.



" Gue bukan orang berlevel rendah, jadi hempaskan pikiran itu." Tegas Hito, Dominiaz hanya nyengir kuda.



" Semoga aja tetap konsisten." Skeptis Akbar.



" Secara setiap hari disodorin godaannya!" Ucap pelan Adgar.



" Hebat sekali calon mantu kamu, Nan." Ucap Daddy.



"Do,akan semoga jodoh." Harap papa Aznan



" ini bocil ngapain pada naik ke punggung kakak, turun. Berat tahu." Omel Zayin mengusap kepalanya dan menolehkan kepalanya ke belakang dimana crystal dan Adelia sedang tertawa senang duduk di punggung Zayin.



"NO! Aa Ayin, ayo ain ueeee..." Kata Adel cadel.



" Apaan tuh ueee?" Zayin mengernyitkan dahi bingung.



" Kuda-kudaan." Jelas om Heru.



" Enggak, kakak capek. Mending injekin badan kakak" tolak Zayin.



" NO!! Aa Ayin, angun. Ayo ueee...crystal menarik rambut zayin.



"Aaaawws, Ical sakit. Lepas rambut kakak." Teriak zayin



Adgar yang duduk anteng memperhatikan crystal tertawa  terbahak-bahak. 



" Eh, Adgar jangan tawa Lo. Jaga ni calon bini Lo, astaga bar-bar banget sih Hartadraja mini ini."



Beberapa orang menengok ke Adgar dengan alis terangkat mendengar perkataan Zayin.



Adgar yang duduk di depan wajah Zayin karena gugup secara refleks menendang  tepat di muka Zayin dengan kakinya.



"Aaaws, apa sih cokor bau Lo, ege banget jadi orang Lo." Dumel Zayin menggeplak kaki Adgar keras.



" Adel, pukul Abang agar-agar lembek itu?" Titah Zayin ke Adelia yang menjadi sekutu setianya sejak diperkenalkan kak Edel.



" Agal-agal?" Tanya Adel bingung.



" Itu kak adgar, pukul keras kak Adgar. Tadi tendang muka ganteng kakak." 



" Ooh, oke" Adelia menganggukan kepala dengan tangan membentuk huruf O.



Adela memukul Adgar dengan tangannya yang gempal, bukannya sakit malah ketawa karena merasa geli.merasa ditertawakan dan Adel tidak suka, dia menjambak rambut Adgar.



" Aaawwsss Adel, lepasin rambut kakak!!" Teriak Adgar yang merasa kepalanya perih.



" No, Aa ayak!!"



" Apa sih, masya Allah ngomong belum bisa, tapi tenaga kuli." Ringis Adgar yang memegang tangan Adel di rambutnya.



Melihat Adel menarik rambut Adgar, Cristal juga terus menarik rambut zayin.




Kak Damar, dan om Heru yang melihat zayin dan Adgar kepayahan di bawah kekuasaan sang balita hanya terkekeh pelan sambil beranjak mengangkat anak-anak mereka melepas tangan mereka dari kepala para korbannya.



Terlihat beberapa helaian rambut Adgar di tangan Adelia " ya ampun botak pala gue. Adel, ih jangan begitu." Rungut Adgar 



" Aa, angan ayak-ayak." Rengek Adelia.



" Ayak-ayak, galak-galak kali.  Ngomong dulu baru berantem." Ledek Adgar dengan muka songongnya.



Adel yang merasa diledek memberontak di gendongan ayahnya menendang-nendang dan memukul-mukul ingin mengenai Adgar.



" Ayah, epas. Adel mau mukul Aa agal." Rengek Adelia.



" Adgar." Tegur om Heru.



" Tante, anaknya di suruh tidur aja sih. Masih bocil udah begadang."  Ujar Adgar.



Kak Edel membujuk Adelia yang masih meronta " kamu sih, pake bully calon suaminya, dia kan bucin akut sama Zayin." Goda kak Edel ke Zayin yang memutar matanya jengah.



" Emang aku kayak seseorang yang demen sama balita, gak lah yaou." 



" Hah, siapa itu?" Tanya kaget papa Aznan.



Adgar yang merasa terancam menggendong crystal ke kamar yang di masuki kak Edel.



Zayin tertawa licik melirik Adgar yang kabur, Akbar memperhatikan itu dengan was-was.



" Enggak om, cuma bercanda. Ini Nebuy gak ada?" Tanya Zayin heran karena suasana terjalin akrab.



" Udah pulang, nemenin kebuy." Ucap om Damian.



" Ooh, pantes adem." Ujarnya melanjutkan tidurnya.



Mereka menggeleng tak habis pikir dengan sikap Zayin yang teramat cuek.



" Yin, Lo gak minat cari pacar?" Tanya Akbar.



" Bang, sebelum tanya, mending ngaca dulu, situ yang lebih tua aja masih jomblo. Lagian pacaran itu cuma ngeribetin hidup, belum tentu jadi isteri juga, Males." Jawab Zayin santai yang langsung di lempari kulit kacang oleh Akbar.



" Yaaah, orang ganteng mah bebas." Ujar Cassandra yang tiduran di samping papahnya karena kesel kalah melulu main game.



" Ganteng sih, tapi tingkahnya konyol gitu." Ujar Tante Julia.



" Apa benar dia anggota AL?  Kok aku ragu ya." Ujar Tante Nadya.



" Mau gimana lagi biar minus tingkah, tapi otak Einstein, jadi sah-sah aja sih." Ujar Akbar.



Orang yang jadi bahan obrolan malah asyik di alam mimpi.



Masih pagi buta, tapi rumah mama Aida sudah ripuh, rencananya mulai hari ini selama seminggu ke depan Jimmy dan Tia akan ke Jepang kerja sekaligus bulan madu.



" Semuanya sudah lengkap?, Gak ada yang ketinggalan?" Tanya mama. Ke Jimmy yang sedang memasukan koper ke mobil.



" Sip, semuanya udah di mobil." Ucap Tia.


__ADS_1


" Muy, kenapa Lo gak ikut sih?" Tanya Jimmy.



" Karena gue ogah kerja sendiri, kan Lo bawa Haikal sebagai asisten Lo."



" Udah sih, jangan rewel mulu, cepat pesawat berangkat jam setengah tujuh loh." Ujar Zayin yang sudah bersiap di kemudi untuk mengantar mereka.



" Dih, pake pesawat sendiri ini, santai aja kali." Ucap Jimmy.



" Jangan norak, Lo pikir ngatur lalu lintas udara gampang? Berat, lebih berat daripada hinaan Nebuy Sri." Sarkas Zayin.



" Apa sih bawa-bawa derita orang." Kak Zahra menjitak kepala Zayin, dan memakai helmnya.



" Gak dijemput, kak?" Tanya Zayin.



" Enggak, ada tindakan pagi."



" Udah pada mau berangkat?" Tanya kak Edel yang nongol dari samping.



" Iya, kenapa? Mau ikut?" Tanya Jimmy.



" Enggak, hari ini mau nganter mama lihat lokasi buat coffee shop."



" Udah dapet tempatnya, ma?" Tanya Mumtaz.



" Udah, dekat butik Edel, kayaknya wilayah perkantoran gitu." Ucap mama.



\*\*\*\*



" Selamat pagi semua" seru Zivara riang. Matanya menangkap Zahra yang baru turun dari motornya.



" Pagi, dok." Jawab staf rumah sakit.



" Cie... Yang baru nikahin adiknya, gak udang gue Lo." Ucap Zivara yang tersirat kesedihan dalam ucapannya.



Zahra menatap Zivara, menerawang, " Masa sih? Sorry, gak tahu. Bukan gue soalnya yang urus undangan, tapi Hira aja datang, kenapa Lo enggak?" Ujar Zahra yang langsung sibuk dengan iPadnya.



" Lah, dia mah Lo undang. gue?  Tahu aja kagak."



" Ck. Gue gak ngasih undangan ke dia, gue cuma lewat omongan yang kebetulan ketemuan. Lo, kenapa gak datang bareng kak Hito, bukanya Lo lagi dekat dengan dia? Tanya Zahra polos dengan tatapan masih ke iPadnya.



Zivara tertegun berhenti melangkah menatap punggung zahra  yang terus melangkah menuju ruangannya.



" Zahra." Panggil prof. Farhan



" Iya, prof?"



" Kamu ikut saya ke ruangan kepala rumah sakit."



" Saya ada tindakan, prof."



" Sekarang!" Ucap prof. Tak terbantahkan.



Zahra hanya mengikutinya, Zivara yang masih berdiri di sana menatap semuanya dengan rasa sakit di dada.



\*\*\*\*\*


Nebuy, duduk di ruang tamu dengan tatapan menusuk ke Hito.



" Hito, apa kamu mesti memutuskan hubungan kerjasama Hartadraja dengan Husain hanya untuk melawan nenek?"



" Keputusan Hito enggak ada hubungannya dengan ulah nenek, keadaan mereka memang tidak stabil dan akan mempengaruhi Hartadraja, nek."



" Omong kosong, batalkan keputusan mu. Mereka calon keluarga mertuamu. Apa yang kamu lakukan tidak etis, Hito."



Hito yang sudah muak dengan tingkah sang nenek hanya bisa melenggang pergi ke ruang makan.



" Hito..." Teriak nenek.



" Berapa kali Hito bilang jangan pernah mengatur hidup Hito." Tegas Hito.



" Nenek gak ngatur, tapi nenek tahu siapa yang terbaik bagimu. Dulu kamu milih Sivia, tapi lihat dia, dia yang kata kamu pelacur."



" Nenek melupakan hal yang penting, dulu nenek yang menyodorkan Sivia padaku."



Nenek Sri diam, untuk ke sekian kali beliau kalah berargumen.



" Kalau kamu masih keras kepala memutus hubungan kerjasama dengan Husain, baik, nenek akan mengadakan rapat pemegang saham untuk membahas pemecatan kamu sebagai CEO." Ucap nenek Sri meninggalkan rumah papa Aznan.



Menyisakan Hito yang naik pitam.



\*\*\*\*\*



" bang,..." Mumtaz mengangkat kepalanya dari laptopnya



" Iya, masuk." pintu ruangan Mumtaz terbuka untuk seseorang yang dipanggil Dimas.



" Duduk, ada apa?"



Dimas, sang hacker kelas utama, yang berarti berada tepat di bawah mumtaz duduk di kursi depan meja kerja Mumtaz " Sebenarnya gue udah lama pengen ngasih tahu Lo soal ini." dia menyodorkan laptopnya ke Mumtaz.



" Lo menstalk kakak gue?"



" bukan secara pribadi, dia itu idola gue. inget, gue anak kedokteran."



" oh, iya. terus ini apa?"



" gue khawatir beliau akan kena masalah secara profesional, kayaknya sekarang otw deh. Lo baca aja laporan gue, gue tunggu titah Lo."



" ya udah, Lo Lo copy ke gue." Mumtaz menyodorkan laptopnya kembali



" gak bisa sendiri aja."



" sibuk gue." ujarnya santai.



\*\*\*\*



Dalam ruangan kepala rumah sakit, Zahra duduk di sofa yang terdapat di ruang tamunya.



" Apa prof. Kesal Doktor Ratih, dari rumah sakit Medika?"



" Tidak secara pribadi, tapi kami satu kampus sewaktu kuliah di Jerman, memangnya ada apa?"



" Well, kamu mendapat kabar jika penelitianmu mengenai penanganan luka bakar yang sekarang anda tangani di duga merupakan plagiat dari disertasi Doktor Ratih."....


__ADS_1


__ADS_2