Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 83. Dimulainya Derita Brotosedjo


__ADS_3

Semula hanya empat sahabat, dan Rendra saja yang akan menemui Brotosedjo, tetapi para ayah, para om, serta para teman bersikukuh turut serta, maka Mumtaz pun mengajak Wilson tutur serta menuju pulau pribadi Irawan yang berada di propinsi kepulauan Riau menggunakan pesawat pribadi Atma Madina.


" Muy, mau kemana?" Tanya Alfaska ketika melihat Mumtaz berdiri dari kursinya.


" Mau Asharan Lo udah shalat?"


Alfaska menggeleng, Mumtaz mendengkus.


" Yin?" Mumtaz mengalihkan perhatiannya pada Zayin yang sedang mengobrol dengan gengnya.


" Udah." Jawabnya singkat.


Mumtaz kembali melangkah menuju kamar mandi, tapi langkahnya terhenti kala Zayin memanggilnya, dia menoleh pada Zayin.


" A, Lo gak bosen diem aja?" Tanya Zayin retoris, alis Mumtaz terangkat bingung.


" Lo sejak nunjukin muka, ampe sekarang gak ada omongan random, gue khawatir, yang lainnya juga pasti cemas sama Lo." Zayin menatap lurus manik Mumtaz.


Sedangkan yang lain hanya menyimak tak menyela.


" Ngomong apa?"


" Ngomong apa aja, Lo bahkan gak nangis waktu mama meninggal. A, gue ada, gue laki, Lo gak perlu menanggung beban sendiri."


Mumtaz tertegun, dia tak menyangka adiknya yang cuek menyadari kalau dia sedang menarik diri agar tetap fokus untuk mencapai tujuannya. Tujuan yang dimulai sejak belasan tahun lalu, sejak teman SD-nya menderita bathin karena hujatan masyarakat atas sesuatu yang tidak keluarganya lakukan.


Melihat keterdiaman kakaknya Zayin menghela nafas, membujuk dengan cara membangun sentimentil dirasa tidak berhasil, maka dia akan menyentuh titik rentan dalam kehidupan kakaknya.


" Lo kalau galau diputusin Lia cari lagilah yang lain." Cerocos Zayin.


" Zayin." Tegur Mumtaz tegas tak menyukai ucapan Zayin. 


" Paman tolong bilangin vcngh by Inovisisama Lia selama kakak saya belum nikah, jangan harap dia bisa punya pacar, saya akan teror setiap lelaki yang dekat sama dia." Zayin tak menggubris teguran Mumtaz


" AHMAD MUZAYYIN HASAN." Bentak Mumtaz.


" APA?" Balas bentak Zayin.


" A, gue tahu Lo peduli sama keluarga, dan sahabat Lo, gue akui Lo lebih baik dari gue dibidang ini, tapi Lo gak bisa menyampingkan hidup lo, buktinya Lia ninggalin Lo, tapi Lo tetap diam ditempat, apa Lo nunggu keluarga Lo meninggal lagi baru Lo ngamuk, HAH!" bentak Zayin kesal.


Buughh!


Mumtaz tiba-tiba menonjok wajah adiknya yang dibalas tonjokan balik oleh Zayin, maka baku hantam antara saudara di dalam pesawat di atas ketinggian pun terjadi, tak ada yang melerai mereka membiarkan dua saudara itu bercakap dengan cara mereka. 


Sampai akhirnya Zayin berhasil mengunci Mumtaz dan menduduki perutnya.


" Bukan kewajiban Lo membalas kejahatan yang terjadi pada sahabat Lo, bukan tugas Lo mikirin percintaan saudara perempuan Lo, itu tugas lakinya. Bukan kesalahan Lo yang menganggap bang Alfa saudara, dan mendapat hinaan Tante Sandra, BUKAN BANGSAT!" Semua orang terbelalak akan umpatan Zayin pada Mumtaz untuk pertama kalinya mereka dengar.


" Kalau Lo ingin melindungi mereka cukup ngertiin mereka, Ingat perempuan hanya ingin dimengerti, bukan dibela." Tukas Zayin dengan dada naik turun, ia beranjak dari tubuh Mumtaz, sekaligus menarik Mumtaz berdiri.


Zayin menyeka luka yang terdapat diujung bibirnya.


"Mulai saat ini pastikan Lo mendahulukan hidup Lo ketimbang orang-orang disekeliling Lo."


Zayin merapikan pakaiannya yang lecek karena tarikan dalam adu jotos tadi.


" Om, bisakan om urus kak Ala?" Tanya Zayin menatap tegas Hito yang duduk di samping jendela barisan kedua.


Hito mengangguk sigap.


" Kalau om sudah tidak suka lagi pada kakak saya balikin dia, jangan dianggurin." Sarkasnya.


" Saya cinta dia, jika Ara mengijinkan saya akan menikahinya." Balas Hito tenang.


" Good, saya pegang omongan om." tegasnya


Perhatiannya beralih pada Alfaska," gue tekankan sama Lo bang, ini terakhir kalinya Tia merana karena keluarga Lo, ada satu orang dari Atma Madina menghina Tia sebagai menantunya, jangan harap Lo bertemu dia lagi." Ucapnya serius akan peringatan.


Alfaska mengangguk," gue janji, ada keluarga gue hina Tia, gue lepas nama Atma Madina dibelakang nama gue. Lo paham maksud dengan itu bukan?" Alfaska membalas pertanyaan itu dengan tekad.


" Lo dengar bang?" Sekarang Lo harus mulai prioritaskan Lia di hidup Lo, dia gak ngeluh bukan berarti baik-baik saja, itu juga kalau Lo masih cinta sama dia." Zayin menghela nafas lelah, sekarang dia paham kenapa kakaknya lebih banyak diam kala banyak pikiran ngomong serius memang melelahkan.


" Dengar, kalau Lo gak bersikap random, gue pelet Lia." Ucap ngawur Zayin dengan tampang serius.


Gama dan Dominiaz meringis mendengar omongan Zayin.


Buukh!!


Mumtaz menggeplak keras kepala Zayin, yang digeplak meringis.


" Lo naksir dia?" Mumtaz memicing curiga.


" Ya...ya..enggak sih, CUMA KALAU KARENA DIA NAMBAH LO MAKIN MINGKEM GUE BAKAL LAKUIN ITU." Ucap cepat Zayin ngegas padahal dalam hati dia jiper.


Mumtaz mendengkus," awas berani deketin dia." Mumtaz mengangkat kepalan tangan.


" Cih, masih peduli ternyata, pas di putusin diam bae."


" Tahu apa Lo?"


" Gak tahu apa-apa, tapi muka Lo yang tambah datar yang bikin gue paham Lo galau."


" Paman, nikahi aja langsung Lia-nya sama saya." Seruan penuh Provokatif dari Zayin berhasil membuat Mumtaz mendelik tajam yang dibalas dengan senyuman mengejek oleh adiknya.


Mumtaz sadar akan ledekan adiknya, tapi juga terlanjur terbawa emosi menendang kuat bokong Zayin.


Segala hal tentang gadisnya memang selalu berhasil membuat dia terbawa emosi.


" Aaaaws, si Abang genit nargetin bokong eykeu." Zayin sengaja menjatuhkan dirinya dengan gemulai ke pangkuan Bara yang sedang memperhatikan mereka, karena kaget  Bara langsung mendorongnya dengan mimik jijik hingga Zayin terjengkang.


" Astagfirullah, songong Lo bang." Zayin meringis sambil mengelus bok*ngnya.


Hal itu cukup berhasil membuat yang lain terhibur dengan tawa gemuruh. Termasuk para ayah yang geleng kepala setelah ketegangan yang terjadi.


Mumtaz tak lagi menghiraukan mereka, ia melanjutkan niat awalnya.


Zayin dan gengnya saling bertos tangan berhasil membuat Mumtaz sedikit relax meski mengorbankan wajah dan tubuhnya yang lebam.


Setelah Mumtaz kembali ke kursinya dia kembali sibuk dengan ipadnya.


" Mum, gimana urusan di Eropa Lo?" Tanya Haikal.


" Alatas dan klien ngasih waktu 24 jam buat nyusul, makanya gue buru-buru. Begitu gue bilang ready mereka pesan tiket."


" Jadi, Bar. Lanjutan dari sini gue serahin ke Lo, gue cuma butuh tanda tangan Brotosedjo." Ujar Mumtaz.


"Buat?"


" Balikin paradise ke Alatas dan Wilson." Jawaban Mumtaz mengundang perhatian mereka kepada Nathan yang sejak dari tadi membaca berkas pemberian Mumtaz.


Nathan mengangkat kepalanya dari berkas.


" Hotel paradise dan Surga Duniawi dulunya satu paket, di hotel paradise 80% sahamnya milik Alatas  20% milik Wilson, sedangkan surga Duniawi yang semula berupa teman bermain keluarga bernama Garden Paradise bagian dari hotel tersebut dengan presentase saham 80% Wilson, 20% Alatas." Terang Wilson lemah.


" Jadi Lo lakuin ini buat dia?" Alfaska memastikan.


" Enggak juga, itu gak sengaja gue temuin pas gue bongkar tentang Aloya."


 "  Apa RaHasiYa sekarang sudah mulai produksi bom?" Tanya ayah Teddy tiba-tiba.


Daniel yang sibuk membaca informasi terbaru mengenai Brotosedjo dari Mumtaz mengangkat kepala dari iPadnya.


" Baru generasi pertama yang diluncurkan, yah."


" Maksudnya?" Dominiaz tertarik akan pembahasannya ini.


" Yang kalian lihat tadi generasi kedua bom yang kita produksi, bom generasi pertama kita  bom yang menyatu dengan partikel setempat, jadi ketika bom meledak, identifikasi ledakan bukan karena bom melainkan karena benda-benda yang terbakar disekelilingnya." Jelas Ibnu.


" Daya ledaknya bagaimana?"


" Tergantung bahan peledaknya."


" Apa daya ledak yang tinggi sudah digunakan?"


" Ledakan Surga Duniawi, hasil investigasi polisi menyatakan ledakan terjadi karena narkoba dan minuman keras kan?" Jawab Mumtaz, mereka mengangguk.


Dua hari yang lalu kepolisian mengumumkan hasil investigasi ledakan Surga Duniawi berasal dari gudang penyimpanan minuman alkohol dan narkoba.


Kecuali empat sahabat terkejut akan fakta itu.


" Kalian yang melakukan itu?" Tanya Bara yang memang tidak tahu menahu tentang alat peledak itu.


" Hmm, Lo ingat sewaktu kita menyamar kala masuk ke Surga Duniawi? Bara mengangguk. " Waktu itu Gue manfaatin menanam bom di sekitar Surga Duniawi." Mumtaz memberi informasi.


" Teknisnya kita buat bom yang bisa bergerak masuk ke dalam tanah, ketika hendak di ledakan bom tersebut mencari sendiri benda yang bisa terbakar, dan merubah partikel dirinya dengan sekitarnya yang mengandung senyawa Bakar." Tambah Mumtaz, karena dia dan Ibnu lah yang meneliti pembuatan bom tersebut.


" Yang tadi di rumah mama?" Tanya Yuda merujuk pada ledakan sewaktu penyergapan Zahra.


" Itu, gue tanam bom, selanjutnya bom itu akan berjalan sambil membelah diri hingga mengurai alat peledak disepanjang dia bergerak." Jelas Mumtaz.


" Kalian tahu tentang kimia itu dari mana?" Akbar bingung, pasalnya Mumtaz kuliah di jurusan arsitektur, sedangkan Ibnu di ilmu komputer.


" BIBA, sekolah itu paling kerena soal praktikumnya." 


Semua klan Hartadraja terbengong mendengar penjelasan Ibnu.


" Kalian perjualbelikan?"


" Sementara hanya pada pihak militer resmi negara saja, tetapi buat organisasi bawah tanah Abang kenapa enggak!" Jawab Alfaska.


Dominiaz, Heru, dan Hito tersentak atas berita itu.


" Kalian tahu?" Dominiaz memastikan.


" Bahwa Pradapta memiliki organisasi bawah tanah dibawah naungan Gaunzaga guna melindungi keamanan kinerja perusahaan? IYA!" Tekan Daniel santai.


" RaHasiYa sedang mengembangkan robot pengintai bawah tanah dan mengenali semua hal yang berada di lapisan dan bawah tanah dan pemiliknya, itulah mengapa beberapa negara yang sedang bersengketa senjata dapat menemukan tempat persembunyian pemberontak dan penyimpanan senjata mereka." Jawab Daniel santai.


" Sejauh apa teknologi yang dikembangkan RaHasiYa?" Gumaman takjub penuh pertanyaan terlontar dari mulut Adgar yang didengar oleh mereka semuanya.


" Lo bisa gabung kita, tapi gak bisa ya!? Sekarang Lo kan CEO Hartadraja corp." Ejek Daniel penuh sarkastik.


Adgar mencebik sebal," kalau gue gak takut sama para adik dan om Hito, gue sleding kak Zahra itu."


Mereka terkekeh menanggapi gerutuan Adgar, padahal dia sudah membalas Zahra dengan menjadikan Zahra bagian dari jajaran direktur perusahaan menggantikan nenek Sri yang langsung mendapat semprotan amarah dari Zahra tentu saja.


" Kenapa tidak diketahui oleh publik?" Tanya heran Ubay.


" Kita terkenal kok diluar negeri, semisal Italia, sering menggunakan jasa kita untuk menemukan para mafia dengan segala aktifitasnya yang kebanyak bergerak dibawah tanah." Beritahu Alfaska.


" Atau Meksiko yang sudah pusing dengan pergerakan para gembong narkobanya yang merajalela, sementara mereka tidak mau mengorbankan prajurit terbaiknya di Medan tempur." Timpal Daniel.


" Kalian menerima klien swasta?"


" Pada dasarnya Kita berklien dengan pihak manapun selagi untuk perdamaian dan kebaikan. Dengan syarat kita turut andil mengawasi." Jawab ibnu


" Kapan kalian akan menjadikan RaHasiYa perusahaan terbuka?" Tanya Gama tertarik pada perusahaan itu


" Tidak akan pernah." Tegas Alfaska, sang pembentuk RaHasiYa.


" Kenapa Bara tidak menjadi salah satu dari RaHasiYa?" Heran Gama mengingat Bara banyak terlibat di berbagai aksi RaHasiYa.

__ADS_1


" Karena dia terlalu menonjol, gak termasuk aja banyak pihak yang berpikir kalau dia bagian dari kita padahal mah enggak. Pansos dia tuh." Cibir Alfaska dengan tersirat penolakan tegas, Bara hanya mencibir saja.



Sesampainya di pulau tersebut Daniel langsung mengoperasikan drone agar Brotosedjo cepat ditemukan tanpa, sedangkan Rendra menginstruksikan para pekerja untuk tidak menginterupsi apapun.



Hanya butuh tiga menit untuk menemukan lokasi Bram Brotosedjo dan mengetahui situasi disekelilingnya.



 Beberapa teman dan robot penyerbu sudah RaHasiYa tempat di beberapa tempat dimana ada resiko Brotosedjo kabur.



Brakkk!!!



Mumtaz mendobrak pintu kamar villa tempat Brotosedjo menginap dengan tendangan tertampak Brotosedjo sedang bersengg\*ma dengan Naura, dan Mumtaz tidak peduli tentang itu.



"Aaaaaa!!! Jerit Naura terkejut, ia langsung bersembunyi dibalik tubuh bug\*l Brotosedjo.



Dengan wajah dingin Mumtaz melempar *bathrobe* yang tergeletak di pinggir ranjang mengenai wajah Naura, menjambak rambut Brotosedjo, dan menyeretnya keluar dari villa tersebut tanpa peduli keadaanya dan sumpah serapahnya.



Dari tubuh Brotosedjo menyeruak bau khas s\*x, entah sudah berapa lama mereka melakukannya.



Mumtaz menghempaskan Brotosedjo ditengah halaman villa hingga dia duduk bersimpuh.



Wajah Brotosedjo sudah pucat pias ketika ia menyadari siapa saja yang mendatanginya, rasa malu dan hina menyergapi jiwanya. Naura berteriak meminta tolong, tapi tak ada siapapun yang datang untuk menolong.



Brotosedjo menatap Mumtaz resah, wajah Mumtaz yang penuh luka menambah aura menyeramkan.



Tanpa aba-aba Mumtaz menghajar tepat mengenai hidung Brotosedjo hingga terdengar suara patah.



Krekkk!!!



" Aaaarrrkkhhh." Teriak Bram yang memegangi hidungnya yang berdarah.



Mumtaz meminta Haikal menarik Naura untuk bergabung dengan Brotosedjo, ia melempar sebuah bolpoin yang mengenai dada Brotosedjo.



Mengode Yuda yang memegang berkas untuk mendekatinya.



Yuda mengasongkan berkas demi berkas berupa surat dan akta agar ia tanda tangani.



" Tanda tangani atau ku bunuh simpananmu ini!" Ancam Mumtaz dingin yang sudah memiting leher Naura.



Brotosedjo bergeming ia merasa sedang Dejavu tapi dengan posisi terbalik dengan orang yang ia tipu dulu, Adam Alatas.



" KAU..."



"Aaakhh." Lirih Naura penuh ketakutan, ia sudah meringis, kala Mumtaz menekan pitingannya.



Brotosedjo langsung menandatangai semua berkas yang disodorkan padanya tanpa tanya.



Mumtaz melepas Naura, tetapi tidak membebaskannya, ia memberi bolpoin yang lain pada Naura dan menitahnya untuk menandatangani berkas yang disorongkan padanya.



Dengan tangan gemetar Naura mengangkat tangan hendak memenuhi permintaan Mumtaz, tetapi Mumtaz menjauhkan berkas tersebut.



" Tenangkan dirimu, tanda Tangani secara sukarela atau ku jadikan Maura, putri tercintamu itu pelacur sepertimu." Peringatan tajam ia ucapkan dengan datar.




" Se...sekarang kalian bisa bebaskan kami!?" Lirih penuh ketakutan Naura.



" Dalam mimpimu, Nyonya." Ujar mumtaz tanpa ekspresi.



Rendra memperhatikan ayahnya intens dalam diam, dengan tangan terkepal dalam saku.



Merasa diperhatikan oleh seseorang, Bram mengangkat wajahnya, ia tertegun mendapati putranya berdiri di hadapan mereka.



" Heh, Ini yang kau sebut perjalanan bisnis,Pa?!" Cibirnya.



Rendra berdiri menjulang di hadapan Brotosedjo,



" Kau peras harta ibuku untuk \*\*\*\*\*\* itu!" Mata Rendra melirik Naura dengan merendah.



" Berapa bayaran Lo semalam?" Hinanya telak, Naura menunduk malu.



" Jaga ucapan mu, boy. Setidaknya itu pantas untuk ibumu yang sudah menghancurkan hidupku, karena dia papa harus berpisah dengan wanita yang papa cintai." Ungkap Bram santai tanpa penyesalan.



" Beg\*, pernikahan kalian bukan salah kakek Irawan, tapi bokap Lo. Dia menyembunyikan lelaki yang dicintai mama, sewaktu kakek Broto tahu mama hamil, dia menyembunyikan ayah kandung gue yang ternyata adalah slaah satu direktur di perusahaan lo ke wilayah konflik perbatasan dengan Papua Nugini, dan menawarkan diri Lo sebagai barter bantuan perusahaan keluarga lo, anj\*ng." Rendra memukul Brotosedjo bertubi-tubi tanpa ada yang berniat menghentikannya, meski Naura telah menjerit ketakutan, dan Brotosedjo babak belur.



Setelah dirasa pria paruh baya di depannya terkapar payah, Rendra mengakhirinya. Ia melempar rekaman pernyataan dari pihak Brotosedjo atas paksaan pesuruh dari Rendra, dalam keadaan menyala, maka terungkaplah kisah sesungguhnya dibalik pernikahan bisnis itu.



Brotosedjo memejamkan matanya kalah, selam ini ia dibohongi oleh keluarganya.



" Bara, bisa gue minta Lo bebasin dia? Gue ingin menghancurkan dia tepat di depan mama gue yang selama ini sudah dia bikin menderita." Pinta Rendra tanpa emosi.



" Silakan, apapun yang ingin Lo lakuin, sisakan nyawanya untuk gue."



" Tentu."



" Hehehehe... hahahaha....apa yang bisa kamu lakukan boy, perusahaan Irawan hanya tinggal menunggu waktu untuk tenggelam, bahkan pulau ini sudah menjadi milik putriku, Maura." Ucap Brotosedjo dengan seringai devilnya.



Rendra tertegun, ia menjadi bimbang.



" Jangan percaya bualannya, sejak lima menit yang lalu pulau ini milik Lo, Rendra." Ibnu menunjukan isi tabs yang berupa gambar berkas penyerahan pulau dari Maura kepada Rendra.



Rendra terperangah tak percaya, Brotosedjo terkaget bola matanya membulat, tak paham.



Petinggi RaHasiYa tersenyum smirk melihat kegusaran Brotosedjo.



" Berani Lo, sentuh keluarga gue, Bram." Papi Aryan menginj\*k telapak tangan Bram, dan menekannya.



" Aaaaaakgghhh." Jeritnya meraung.



" Gue tahu Lo gak pinter, tapi jangan terlalu tol\*l juga menantang kita sekaligus, berterima kasih pada putramu yang membebaskan mu dari maut setidaknya untuk saat ini." Geram Aznan.



" Sepertinya urusan gue udah selesai, Paman, om. Maaf saya tidak bisa lanjut, harus segera berangkat. Pi, Mumuy pinjem pesawatnya buat balik Jakarta ya?" Pinta Mumtaz pada Aryan.


__ADS_1


" A, Ayin di sini aja ya mau berenang!" 



" Hmm."



Baru tiga langkah ia berjalan, ponselnya berbunyi notifikasi pesan masuk.



" Yin, kak Ala masuk rumah sakit." Teriak Mumtaz , Zayin yang hendak melepas kaosnya Kembali memakainya kembali. Dengan wajah bosan ia melangkah mendekati Mumtaz.



" Ishh, ini tuh gara-gara Lo tua bangka " umpat Zayin menendang tulang kering Brotosedjo kuat sampai dia menjerit kesakitan.



Akhirnya semua orang pulang ke Jakarta.



\*\*\*\*


Rumah Sakit Atma Madina



Para ibu panik mendapati Zahra yang berkeringat karena demam, segera bunda memanggil Jeno agar membawanya ke rumah sakit.



Sebelumnya pihak rumah sakit sudah dihubungi oleh Sandra, maka setibanya di rumah sakit Zahra langsung ditangani oleh dokter ahli.



Setelah 45 menit diperiksa, Zahra ditempatkan di ruang Inap zuper VVIP ditunggu para ibu, dan para Tante serta para adik.



Brak!!!!



Pintu terdorong kuat oleh dua pemuda dengan raut cemas berlomba mendekati brankar sang kakak, sedangkan para pria lainnya menghampiri keluarganya masing-masing.



" Sudah ditangkap pelakunya belum?" Sambar Zahra yang terkulai lemas dengan wajah pucat.



" Jangan ngalihin pembahasan, tapi jawabannya sudah. Coba Ayin lihat lukanya dimana saja."



Zahra menggeplak tangan Zayin yang hendak mengangkat baju rumah sakitnya saat masih ada pria lainnya di ruangan tersebut.



" Lapor ,Ya." Pinta Zayin pada Tia.



" Lebam diseluruh tubuh, tidak ada luka dalam, jadi organ tubuh secara umum aman,  paling parah di pipi sampai menyobek dinding mulut bagian dalam sebelah kiri." Jelas Tia seadanya yang dia pahami dari keterangan dokter tadi.



Kembali Mumtaz menunjukan wajah tenang nan datarnya, Zayin yang menyadari itu mulai geram. Dengan tidak sabar Zayin menendang kaki mumtaz yang mendapat pelototan dari kakaknya.



" Lo jangan mode gitu lagi." Bentak Zayin kesal, Mumtaz menghela nafasnya berat.



" Ini ada apa?" Tanya Zahra lemah.



" Gak ada, cuma urusan cowok. Kalau kakak mau tahu harus jadi cowok dulu." Jawab ngasal Zayin.



" Kak, kenapa bisa sakit gini sih, Aa mau perginya juga berat hati ini." Ucap Mumtaz kesal, dia tak tega meninggalkan kakaknya sendiri di sini.



" Pergi, pergi aja sih kan ada Ayin."



Mumtaz berdecak," kamu kadang gak pulang berhari-hari."



" Ada saya, pergi saja Alatas butuh kamu." Hito mendekati brankar Zahra, mengusap kening zahra yang tertutup jilbabnya.



" Kak,..." 



" Pergilah,...kakak ngantuk." Mata Zahra mulai terpejam karena pengaruh obat.



" Pakai pesawat Hartadraja aja, supaya cepat." Kakek Fatio menawarkan kepada Mumtaz



" Boleh?"



" Tentu!"



" Terima kasih."



" Damian, telpon bandara kita mau terbang ke..." Fatio menatap bertanya pada Mumtaz.



" Swiss." Timpal mumtaz, Damian mengangguk, ia keluar dari ruangan.



Mumtaz mengedarkan pandangannya mencari satu sosok yang ia rindukan, ia melihat Sisilia duduk di samping orang tuanya di ruang tunggu.



Mumtaz berjongkok di depan Sisilia yang masih menunduk karena risih.


" Tan, om. boleh saya bicara barang sebentar dengan Sisilia?"


" Silakan, dibawa lama juga gak apa-apa." Canda Gama menghapus kecanggungan yang ada.


Mumtaz terkekeh, ia menarik Sisilia untuk berdiri, dan membawanya keluar ruangan.




Tak peduli dengan para temannya yang berkumpul di koridor rumah sakit sambil memperhatikan mereka, Mumtaz berdiri bersandar pada tembok sembari menggenggam tangan Sisilia.



Menatap rindu gadisnya, ditambah terngiang perkataan Zayin yang membuat Mumtaz nekad mendekati Sisilia meski sudah diputus oleh gadisnya ini.



" Aku bakal pergi agak lama bakal kangen banget sama kamu, walau kamu udah mutusin aku, aku harap kamu masih ngebolehin aku buta rindu kamu." Ucapnya sambil memainkan jari jemari Sisilia.



Sisilia mengangguk tertunduk, tak lama terdengar Isak tangis darinya. Mumtaz menarik Sisilia kedalam pelukannya mencium pucuk kepalanya menyesap harum khas pujaan hatinya seakan menyimpan cadangan oksigen untuknya bernafas.



" Jaga diri baik-baik ya, aku cinta kamu." Bisiknya ditelinga sisilia.



\*\*\*


Hito mengantar Mumtaz ke bandara Halim Perdana Kusuma.



" Om, Ayin sepertinya sibuk di markas, Tolong Jaga kak Ala, dia memang terlihat kuat, tapi tetap saja dia wanita yang selalu mengandalkan air mata sebagai pelepasan emosi."



Hito termenung, berapa banyak dia menyebabkan air mata Zahra keluar.



" Tentu, saya akan jaga Ara dengan jiwa saya."



Mumtaz tersenyum, hatinya kini tenang," terima kasih."



" Saya yang terima kasih telah mengijinkan saya untuk mencintainya setelah apa yang sudah saya perbuat."



Untuk pertama kalinya hito menyinggung perihal kecelakaan lima tahun lalu dengan Mumtaz.



Mumtaz tertegun," om, Jangan lagi merasa bersalah, itu takdir. Sudah ketetapan dari Allah tak ada yang bisa merubahnya." Tegas Mumtaz.

__ADS_1



" Jadi berhenti menyalahkan diri sendiri, mari kita bersama berdamai dengan diri kita sendiri. Sebagai saudara aku hanya berharap om dapat membahagiakan kak Ara, seperti kata Zayin, kalau om bosen dengan kak Ala kembalikan dia pada kami dengan baik. Aku percaya pada om." Tukas Mumtaz sebelum ia, Yuda dan Rio masuk pesawat...


__ADS_2