
Daniel mencoba mengurai pelukan, namun Dista menolak " jawab saja pertanyaanku."
" Iya aku jawab, tapi lihat aku dulu." ucap Daniel mengelus punggung Dista menenangkan
Dista melepas pelukannya, Daniel meraup kedua pipi Dista " ada apa?" Dista menggeleng.
" Dengar, aku seorang Birawa. Telah banyak yang sudah ngungkapin cinta ke aku, tapi aku tolak kecuali kamu. Aku gak tahu apa yang membuatmu galau, tapi aku harap kamu dapat merasakan cinta aku lewat perkataan dan perbuatanku." ucap lembut Daniel
Dista menggeleng " bukan begitu, aku hanya..."
" Ada apa?" sela Daniel.
" Apa kamu masih rendah diri sebab kita jadian karena kamu yang nembak aku duluan?" Dista menunduk.
Daniel menghela nafas dia bertekuk lutut depan Dista " Dista Atma Madina, maukah kamu menjadi kekasihku? aku beri opsi jawaban; satu: iya, dua: oke. Kamu jawab yang mana?" Daniel tersenyum.
Dista terperangah, dia tidak menyangka Daniel melakukan hal yang dia impikan, Dista mengangguk sambil memukul pundak Daniel. " Iya, aku oke."
Daniel tersenyum dan mencium tangan Dista lama lalu berdiri untuk memeluk Dista.
" kalian lagi main FTV?" jengah Bara yang berdiri menyandar di pintu ruang tamu.
" Iri, copy sana." bara mendengus
" Kalian sedang apa?" tanya mama Sherly
" Ini Ma, Ita ngidam kayaknya." jawab asal Daniel sambil mengecup pelipis Dista.
Mama Sherly tersenyum " emang dia mau apa, Niel."
" Pengen ditembak sama Daniel tiap Minggu katanya." Daniel semakin ngawur.
" Apa sih, bohong ma. kita berangkat kampus dulu." Dista dan Daniel mencium tangan mama sherly
Bara seperti biasa memeluk Dista sebelum bepergian " kakak gak tahu apa yang bikin kamu sedih dari tadi, tapi jika itu menyangkut Daniel, dia sangat mencintai kamu. Kan tadi juga udah ditembak sama dia." ucap lembut Bara, dan mencium kening Dista yang merengut
" Bar, masih gue pantau Lo, belum gue gibeg." Daniel menarik Dista dari Bara.
Bara berdecak sebal " dia adik gue, iya kali Lo cemburu sama kakaknya gak elit banget." Bara memukul kepala Daniel.
" Biar adik-kakak Lo tetap cowok, gak enak buat dilihat."
" Astagfirullah, segitunya. Sana loh pergi."
" Assalamu'alaikum." salam Daniel dengan menggandeng Dista.
" Wa, alaikumsalam." jawab aman dan Bara.
" Kenapa Ita bucin akut gitu, bang." tanya mama
" Selama mama koma, Daniel tempat berlindung Ita, sedangkan Abang sibuk berkelahi." sesal Bara.
Mama memahami penyesalan Bara " Kan kamu berkelahi juga ada alasannya, udah jangan menyesali. Ke kampus bawa sandwich ya sekalian buat yang lain."
" Ma, gak usah repot, mereka juga punya ibu yang ngasih makan anaknya." protes bara yang mana mamanya sering bikin makanan buat para sahabatnya
" Apa sih, bang. gitu amat sama teman." sewot mama.
" Abang kayak ibu-ibu arisan PKK deh selalu bawa makanan." mama Sherly terkikik geli dengan istilah anaknya.
" Mama sekalian bikin buat mama Julia, loh. Kalau gak mau bawa ya sudah gak jadi."
" Okkle, Abang bawa. Sumpah om Damian sangarnya sampe sekarang."
" Siapa suruh nyakitin putri cantiknya."
" Itu empat tahun yang lalu ma, Cassy juga udah jadi milik Abang lagi. Dendamnya gak nanggung."
" Hahahaha, santai saja yang penting masih dikasih ijin jalan, bang. " Mama memberikan dua paper bag besar ke Bara.
" Benar juga sih, Abang pergi dulu. Assalamualaikum." bara mencium tangan mama.
" wa, alaikumsalam."
****
Mumtaz bercengkerama dengan keluarga Sisilia diruang makan seusai sarapan.
" Tante senang kamu ikut sarapan dengan kita berasa punya calon mantu." Mumtaz tersenyum sambil mengangguk-angguk.
" Tumben kamu bisa jemput Lia?" Tanya Dominiaz.
" Kemarin pacar aku ngeluh kak, kalau aku kurang perhatian, berasa jadi lelaki brengsek aja aku." Sindir Mumtaz kepada Sisilia.
" Karena itu kamu nangis kejer, dek?"
" Bukan, karena yang lain."
" Banyak amat, jangan sering ngambek, pacarmu itu banyak hal yang harus dipikirkan, kamu sebagai pacarnya harus menjadi tempat pelipur kepenatan." Ucap Dominiaz
Sebelum Sisilia bicara kepala pelayan mengintrupsi mereka.
" Maaf, tuan. Bos besar menelpon ingin bicara dengan tuan."
" Permisi." Daddy Gama berdiri beranjak ke ruang kerjanya.
Orang yang disebut bos besar adalah ayah mertua dari italia.
" Hallo, papa?"
" Kemarin ada yang mencoba hack perusahaan pusat Gaunzaga dari Meksiko, tapi bisa di gagalkan oleh hacker dari Indonesia bisa kamu cari siapa dia. Dia tidak terdeteksi sama sekali."
" Baik, papa."
" Baiklah, saya tutup telponnya di Indonesia pasti sekarang masih pagi buta."
" Iya, selamat menikmati harimu, papa." Daddy menutup sambungan telponnya, Dan kembali ke ruang makan.
" Mumtaz, apa kamu yang menggagalkan percobaan peretasan ke perusahaan Gaunzaga dari Meksiko?" Ucap Daddy dengan tatapan dalam.
__ADS_1
Semua orang menatap Mumtaz.
" Maaf, jika dirasa lancang. Kami menyebutnya piknik virtual dengan keluar masuk situs, server atau manapun yang bisa dikunjungi. Dengan cara itu kami melakukan bug dengan pihak terkait atau pada akhirnya menjalin kerja sama."
" Ketika menelusuri kolega luar dari Aloya kami menemukan upaya peretasan dari Amerika latin ke Eropa yang ternyata Gaunzaga, setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata terkait dengan Gaunzaga-Pradapta jadi ya...h sekalian aja, om."
" Siapa yang mencoba meretas Gaunzaga, Mum?" Tanya Daddy.
" Om, bisa langsung datang ke RaHasiYa untuk lebih jelasnya.
" Maaf jika membuatmu tersinggung, berapa yang harus kami bayar untuk jasa kalian
" Eh, gak usah om. Itung-itung DP buat meminang Sisilia dari saya, om." Mumtaz tersenyum.
" Baiklah, kalau begitu datang kapan saja kami akan menyambutnya." Ucap Daddy
" Hah, gak gitu juga Dad. Harus jual mahal, aku kan perempuan baik-baik." Protes Sisilia.
" Ooh, jadi kamu menolak Mumtaz, dek?"
" Eh, enggak juga, tapi kan Lia juga pengen di usahain Gimana gitu, kak."
" Ini pacar kamu juga lagi usaha, dek. Harganya mahal loh, dollar."
" Eh, iya kak?" Tanya Sisilia menatap Mumtaz.
Mumtaz menggeleng " enggak, kak Domin hanya bercanda.
****
Mumtaz dan Sisilia memasuki area kampus berjalan bersisian yang sesekali menarik Sisilia ke depan tubuhnya melindungi Sisilia dari tabrakan dengan mahasiswa lain.
Sislia yang risih karena mendapat perhatian dari mahasiswa yang melihat mereka berjalan menunduk yang sesekali memegang tangan Mumtaz, Mumtaz yang melihatnya tidak suka.
Mumtaz membawa Sisilia ke koridor sempit samping kampus.
"Jangan sering menunduk, itu buat orang mudah mengintimidasi kamu. Angkat kepala kamu, kamu hanya boleh menunduk di hadapan Allah dan orang tua kamu." Ucap tegas Mumtaz.
Sisilia menatap Mumtaz langsung ke manik hitam Mumtaz, " begini lebih baik, jangan tunjukan kelemahan kamu. Aku gak bisa selalu melindungi kamu, jadi kamu harus lebih berani." Ucap Mumtaz, Sisilia mengangguk.
Mereka melihat para sahabat berkumpul di taman belakang gedung fakultas hukum, dan menghampiri mereka.
" Assalamu'alaikum." Mumtaz menyalami mereka satu persatu ala lelaki.
" Wa, alaikumsalam." jawab serempak para sahabat.
" Tia, mana kak?" Tanya Cassandra
Mumtaz menggeleng " gak bareng, tadi jemput Lia dulu." Ucap Mumtaz yang tangannya mengacak-acak sayang rambut Cassandra dan Dista.
" Cie...., Udah baikan loh? Ucapan makasihnya mana buat gue?" Goda Daniel.
" Lo tinggal pilih mau cilok rasa apa, gue traktir sepuas Lo."" Ucap Santai Mumtaz yang dilempari kripik oleh Daniel.
" Lo jangan ledekin dia, Niel. Di group juga lagi rame kalau Lo dan Dista pacaran karena terpaksa yang gak tega nolak Dista yang nembak Lo duluan." Ucap Yuda.
" Nomor yang sama yang ngirim foto Mumtaz. Oh iya, Muy. foto Lo sama Riana ada yang baru, tapi gak seheboh pertama." Ucap Yuda.
" Serius?, Padahal gue turunin dia di tengah jalan. Ada gak foto pas gue turunin dia di tengah jalan?" Mumtaz menggeleng tak habis pikir.
" Gak ada."
" Niel, tuh yang namanya Diva." Tunjuk Rio ke perempuan yang berambut sebahu dengan warna hitam dan putih dengan pakaian sexy berjalan menuju kantin bersama Riana
" Yang rambut zebra itu?" tanya Daniel, Rio mengengguk.
" Itu cewek yang Lo tolak pas Pema dua tahun lalu bukan sih?" Tanya Ibnu.
" Iya." Bukan Daniel yang jawab, tapi Yuda.
" Gak ngaca berarti tu orang." Ucap Cassandra geram.
" Kamu kesal, babe?" Tanya lembut Bara.
" Emang kak Bara enggak? Ini adik Kak Bara loh yang di gosipin." sewot Cassandra
" Kan udah ada pawangnya, babe. entar juga beres." Bara menyuapi Cassandra sandwich buatan mama-nya.
" Ta, hajar aja tu kakel, ganggu Lo mulu." ujar Cassandra kesal.
"Bar, Cassy lagi pms? seram amat." bisik Rizal
Bara kekeh melihat kekesalan kekasihnya " dari kemarin bawaannya pengen makan orang mulu, kenapa?
" kesal aja sama orang jahatin orang lain."
" Dia pernah ngapain emang?" Tanya Daniel.
" Ini mungkin bisa buat Ita panas." Ucap Sisilia yang mengeluarkan rekaman suara Divanya sewaktu memanasi Sisilia yang mendapati Mumtaz menunggunya di taman belakang fakultas farmasi dengan Riana.
" Ini bukan Ita yang panas, tapi Mumtaz." Ucap Radit.
" sumpah Lo dia ngomong begitu?" hardik seseorang yang berdiri di belakang Dista.
mereka semua terkaget hingga menengok arah suara.
" Heh, kaget ni ginjal." rutuk Dista
" Hehehehe, gak maaf. kapan Lo ambil ini?"
" udah agak lama, tapi belum ada kesempatan buat ngasih tahu."
" Itu alasan kenapa kamu selalu marah kalau aku dekat Riana?" Tanya Mumtaz pelan, Sisilia mengangguk.
" Jadi dia yang cari gara-gara." Gumam Daniel.
" Ini salah kalian sendiri sih." Ujar Radit,
" Apa lagi ceramah, Lo Dit?" Sarkas Daniel.
__ADS_1
" Salah kalian yang gak jalan layaknya pangan pada umumnya, lihat tuh dikantin, mereka sarapan bareng sambil ketawa dan saling menyuapi, kadang tangan bertengger dipundak atau pinggang sang pacar, lah kalian jalan bareng tapi pegangan tangan aja jarang." Tunjuk Radit ke beberapa pasangan dikantin yang melakukan skinship.
" Gue bukannya gak mau, tapi gue ingin menjaga kehormatan pacar gue, itu tuh urusan privasi, jadi seharusnya dilakukan dengan privasi kecuali udah halal." Ujar Daniel.
" Kita paham maksud Lo, tapi apa Lo gak mikirin posisi Ita, dia keki loh digosipin kayak gitu kesannya dia yang mau Lo nya gak mau."
" Mana ada, gue cowok weuy. gak mungkin gue dapat dipaksa pacaran. Lagian ngapain sih tu orang rese." Jengkel Daniel.
" Namanya juga usaha dapetin Lo, Niel." Ujar Rizal.
" Kan udah gue tolak, sumpah ya gue bejek tu cewek." Geram Daniel.
" Bisa tega Lo?" Sarkas Bara.
" Dih, kenapa enggak. Kalau dia mulai ganggu Ita ya, harus. Lihat aja tanggal mainnya." Ucap Daniel sambil mengusap rambut Dista.
" Dia anak BEM bukan sih?" Tanya Mumtaz
" Iya, dia yang sering duduk bareng Riana." Kata Yuda.
" Kalau gitu lo harus tegur, Yud. Ini tuh bakal ngerusak kekompakan kerja BEM. Terserah deh mereka punya perasaan ke siapa, cuma kalau cara gak sehat gini malu-maluin BEM tahu gak." Ujar Jimmy..
" Gue mau ke mushala dulu, Dhuha. Kalian udah?" Tanya Mumtaz.
" Kita nyusul." Ucap Haikal.
" Kamu mau ikut?" Tanya Mumtaz, Sisilia mengangguk.
Mumtaz berdiri, mengulurkan tangan kepada Sisilia yang dibalas oleh Sisilia.
Mumtaz menggenggam tangan Sisilia " kayak gini maksdu Lo, Dit?" Tanya Mumtaz dengan mengangkat kedua tangan mereka yang saling menggenggam.
" Iya, minimal lo harus tunjukin Lo milik cewek Lo."
" Cih, itu sih maunya cowok. Jalan bareng berdampingan dengan santai bagi gue cukup, emang Lo mau ngabisin waktu buat cewek yang gak penting?" Tanya Mumtaz sambil beranjak meninggalkan mereka.
" Si kalem ege, dia bilang jalan bareng cukup, tapi tu tangan gak lepas." Ledek Radit yang disambut tawa para sahabat.
" Karena gue suka." Ucap Mumtaz.
Mushala yang letaknya tak jauh dari kantin universitas sukses membuat mushala ini selalu ramai dikunjungi mahasiswa untuk beribadah.
Seusai shalat Dhuha Mumtaz membantu Sisilia menalikan tali sepatunya yang lepas karena karena terinjak saat melangkah, sementara sisilia berdiri menunggui. Tindakan Mumtaz mengundang perhatian beberapa mahasiswa di kantin.
" Kenapa buru-buru?" Tanya Mumtaz yang mengusap kepala Sisilia.
" Pengen beli kripik singkong buat di kelas." Ucap Sisilia santai.
Mumtaz terkekeh mengantar Sisilia ke kantin.
" Sekalian minumnya, enggak?" Mumtaz menuju kedai minuman Sisilia mengangguk.
Interaksi dua orang yang sedang menjadi perhatian karena rumor yang beredar cukup menarik perhatian mahasiswa di kantin termasuk Riana.
" Mumtaz, bisa tolong bawain barang ini ke BEM gak?" Riana mendekati mereka
Mumtaz melihat barang berupa buntelan kain yang ditunjuk Riana yang diletakan di atas kursi.
" Sorry, gak bisa. Mau nganter Lia ke fakultasnya." Ucap Mumtaz santai yang cukup membuat wajah Riana memerah karena malu atas penolakan Mumtaz.
" Ayo, kak." Sisilia datang sambil membawa dua bungkus keripik singkong pedas."
" Belinya banyak amat, neng." Mumtaz membantu membawakan bungkusan itu satu tangan yang kosong mendorong pelan Sisilia untuk berjalan di depannya meninggalkan kantin yang ramai.
" Sekalian buat yang lain, suka rese minta, tapi ngabisin." Mumtaz tertawa kecil.
" Itu yang namanya Sisilia, cantik sih pantes Mumtaz bucin." Ucap mahasiswi di meja samping kedai minuman.
" Mumtaz itu anak arsitek yang merenovasi kantin universitas ini bukannya sih." Tanya yang lain.
" Iya, kayaknya."
" Ajim, gantle banget. gak seganteng Bara sih, cuma damagenya gak kalah. Sayang udah sold out." Ucap yang lain.
" Dia juga anak BEM."
"Pantes banyak yang nyoba nikung, tapi ceweknya bule gitu, mana bisa." Ucap yang lain
" Itu tadi yang ditolak cewek yang ada di foto bareng Mumtaz bukan sih."
" Iya, kayaknya."
" Asli, kalau gue malu. Gagal jadi pelakor."
" Gue tahu Sisilia, bule cantik, tapi gak sombong. Anaknya rada pendiam gitu, tapi pas Lo gaul, orangnya asik kok."
" Dia yang suka bareng Cassandra Hartadraja, ceweknya Bara kan?"
" Iya, mereka berempat cewek kesayangan Bara dan para sahabat jangan nyoba usik mereka bisa hancur reputasi kalian." Ucap Rida. anak arsitektur.
" Kok Lo bisa tahu?"
" Karena gue alumni BIBA, dan gue udah lihat contohnya."
" Riana, menurut gue, mending Lo mundur sebelum reputasi Lo hancur."
" Mana tega Mumtaz berlaku kasar ke cewek." ucap Divanya.
" Mumtaz dan para sahabatnya memang sangat menghormati perempuan selama perempuan itu baik, tap kalau kalian usik orang kesayangannya, mereka akan menganjurkan kalian tanpa pandang bulu."
" Selagi gak kekerasan fisik, ITS okey. namanya juga usaha."
" Sewaktu SMA ada anak cewek yang menghina ya, Mumtaz bikin tu cewek cacat pancainderanya. Penglihatan dan pendengaran tu cewek disfungsi permanen, dia dilempar ke tembok bagai melempar sampah enteng banget mau Lo coba.!?"
" Riana, Mumtaz gak tertarik sama Lo, dia typikal orang setia. sekali Lo usik Sisilia, gue berani taruhan Lo yang bakal nyesel seumur hidup." tekan Rida
Divanya dan Riana terdiam, hati mereka ketar ketir khawatir. Obrolan tentang Mumtaz dan para sahabat terus bergulir.
Riana yang mendengar obrolan sekelompok mahasiswa di meja panjang kantin pergi meninggalkan kantin dengan naik pitam.
__ADS_1