
Dia remas surat itu, Bara memejamkan matanya pilu. kesalahannya yang masih terbuai masa lalu menghancurkan hatinya.
tanpa disadari air mata mengalir. dia memukuli dadanyadia tak mengira Cassandra sangat mampu melukainya. di menundukkan badannya.
teman-temannya terhenyak melihat Bara menangis karena perempuan.
" gue t***l ya. gue bego." Bara mencela dirinya sendiri
" bagaimana keadaan Cassy Nu?" lirih sedih Bara
" meski menghabiskan makan tiga porsi dan suapin gue. dia tetap menangis. sumpah tu cewek nambah ngegemesin kala sedih." ucap Ibnu tak merasa takut pada Bara.
kenapa Lo deket lagi sama Maura, Bar?" tanya Ubay
Bara mengedikan bahu " beberapa bulan lalu Maura rajin deketin gue. awalnya gue tolak, tapi Maura bujuk gue kalo kita masih bisa berteman, akhirnya gue luluh dan gue terperangkap masa lalu." lirih Bara
" jadi Lo mau tinggalin Cassy?" tanya Rizal, Bara terdiam
"dia anak om Damian Lo. sang legenda tarung di masa mudanya ditambah dia kakaknya Adgar sang penerus legenda petarung masa."
semua orang menaikan alis bertanya...
" ketika lo gak aktif dalam per-geng-an, Adgar yang maju kala ada ancaman terhadap anak BIBA. dia bersama Zayin sudah dikenal sebagai pelindung BIBA." lanjut Ubay
" Zayin? Zayin-nya Mumtaz?" Daniel memastikan yang mendapat anggukan dari Ubay.
" Lo tau Muy?" tanya Jimmy
" tahu."
" kok gak bilang kita?"
" gak penting. Lo tahu sendiri si Ayin di luar matematika, kimia dan keluarga yang lainnya dia gak pernah anggap serius ." jawab enteng Mumtaz
" ini berantem Lo Muy!" Daniel mengingatkan
" Lo pikir Ayin gak bisa gelut? kalo dia mau dia gampang aja sih meng T.K.O lo" sarkas Ibnu.
" yang gue heran sejak kapan Adgar Deket Zayin tu dua orang kan sama-sama cuek ditambah beda kelas." ujar Jimmy.
" tapi berdasarkan saksi mata kalo mereka berkolaborasi dalam perkelahian matching banget." timpal Rizal
" Lo tahu kan anak sebelas banyak yang jago berantem karena didikan kita, tapi belum ada yang bisa mimpin." lanjut Jeno
" anak sebelas gak masalah dipimpin anak sepuluh?" tanya Daniel
" kayaknya enggak deh Adgar juga bukan tipe arogan kayak Bara. dia tetep hormat sama kakak kelas, tapi emang dia pendiam dan minim prestasi makanya hampir gak terlihat dibanding Akbar atau Zayin sekalipun."
" yakin lo mereka gak saingan?" selidik Jimmy
" yakin gue, Zayin kayaknya gak tertarik dunia per-geng-an jadi ya... gitu Adgar yang maju kalo ada yang nantangin." jawab Jeno
" gue udah investigasi, diluar sekolah mereka sering nongkrong bareng. masih tongkrongan sehat sih. lapor Ubay
" Lo gak masalah Muy Zayin terlibat tawuran?" tanya Daniel. Mumtaz menggeleng
" mama Aida tahu?"
Mumtaz mengangguk " beberapa kali Ayin pulang dengan wajah luka lebam. sejauh ini mama gak mempermasalahkan."
" Assalamu,Alaikum..."
salam Zayin yang sepertinya baru datang dari suatu tempat dengan beberapa temannya termasuk Adgar
" dari mana kalian jam segini baru balik?" tanya Jeno
" dari LIPI. abis observasi."
" dih mainan Lo udah sampe LIPI Yin, keren amat." puji Jeno
Zayin mengedikan bahu " B aja tuh."
" kalo mainan Lo baru nyampe jalang IPS 3 ya, No!?" celetuk Adgar
Bara yang sedari tadi diam menunduk mengangkat kepala menatap Adgar. yang ditatap balik oleh Adgar. dia tahu Adgar sedang menyindirnya, karena Maura anak kelas 12 IPS 3
mereka semua diam, suasana tegang tak ada yang minat memecah keheningan ini
" ck..ck..ckk lihat para pemuda nganggur. berleha-leha tanpa beban masa depan. kalian pikir selepas SMA hidup bakal anteng. KAGAK! selamat datang di kehidupan nyata!" ujaran kak Zahra memecah kebuntuan keheningan para remaja.
" kalian kenapa pada diam. Bara sama Adgar kenapa saling pandang lagi cosplay bintang India Lo berdua." ejek Zahra.
keduanya memutus pandangan dan bersikap cuek.
" Lo Bay, habis ini mau lanjut mana?" tanya Zahra
" kayaknya kuliah di universitas Atma Madina (UAM) aja kak!" jawab Ubay
" yang lain? jangan bilang belum mikirin. ck.. tipikal anak holang kaya."decak Zahra
" Lo Muy mau kemana?" tanya Rizal.
" Alhamdulillah gue dapet beasiswa di UAM."
" serius lo? kok gue gak tau." protes Jimmy.
" kan Lo yang kasih tahu info beasiswa itu Jim." ucap Ibnu
" Lo juga ikutan beasiswa, Nu?" tanya Daniel yang diangguki Ibnu.
" dih pada gak solider. gak ngajak-ngajak." cibir Jimmy.
" Lo ngambek Jim, dih kayak cewek tinggal daftar Jim susah amat, itu kan univ keluarga Lo." ujar Radit.
" iya.. ya.. kenapa gue gak kepikiran. itu kan univ keluarga gue." monolog Jimmy kepada diri sendiri.
" mau kemana kak?" tanya Mumtaz yang melihat kak Zahra sudah rapih
" ke rumah sakit, jadi kuli demi sebongkah berlian." jawab ngasal Zahra
" Aa anter ya?" selepas ucapan Mumtaz terdengar suara mobil berhenti di depan halaman rumah
turunlah Hito dan Akbar
" loh om? Akbar?..." heran Ibnu dan yang lainnya.
" udah siap. yuk berangkat." ucap Hito ke Zahra
" iya. kamu udah makan?" Hito menggeleng.
" ish... makan dulu yuk. gak buru-buru kan!?"
" enggak." jawab Hito
Hito dan Zahra masuk kedalam rumah, sedangkan Akbar turut ngumpul bareng para remaja itu.
" mereka udah official!?" bisik Radit
" kepo Lo Dit. kayak lambe turah." Haikal melempar cangkang kacang ke wajah Radit
Radit mendengus. " gimana pun juga dia kan calon impian mama anak-anak gue." yang langsung mendapat serangan cangkang kacang
" kenapa Lo Bar? bete amat kelihatannya." tanya Rizal.
" Cassy dari pulang acara ampe sekarang nangis terus. Tante Jul ketok-ketok rumah gue buat gue nyusul Bara. katanya om Dam mau ngehajar dia." sinis Akbar
" hah serius Lo?" Ubay cengo dan yang lain pun cengo
Bara mendengar itu tambah gelisah di kursinya
" iya lah. bete gue dibangunin pas nyenyak tidur." Akbar memejamkan mata
Adgar berdiri beranjak pulang
" mau kemana Lo Gar?" tanya Raja
" balik lah. bisa gawat Cassy ditinggal sendiri kalo lagi sedih." Adgar melangkah ke mobilnya
__ADS_1
" emang apa yang bakal terjadi kalo dia sedih?" cegah Bara
" apa peduli Lo. jangan urusin kakak gue lagi. gue gak takut sama Atma Madina." tantang Adgar. dia lanjutkan langkahnya disusul Raja dan Juan.
Bara terdiam mendengar ucapan Adgar...
Hito dan Zahra berhenti melangkah tepat di belakang para remaja melihat kemarahan Adgar
" makanya Bar, kalo bego jangan di pelihara. selingkuh di depan keluarga dan temen gebetan Lo." cerocos kak Zahra
" A, kakak berangkat dulu. mama bangun, rumah harus sudah rapih, kalian sebelum tidur makan dulu supaya pinter. jadi selingkuhnya bisa apik." sindir Zahra yang beranjak pergi bersama Hito.
" gue jadi bingung kak Zahra itu baik atau jahat ya." Radit menganalisa
" yang pasti mulutnya pedes!" celetuk Rizal.
*****
kediaman mama Aida
Di Sabtu sore yang santai sekeluarga duduk santai di ruang tv
" Kak, apa gak terlalu buru-buru kamu ngajuin percepatan koas?" tanya mama
" kenapa ngomong gitu ma. kakak tuh dapet tugasnya berat banget mah. malah tugas kakak tuh seharusnya dilakukan seorang dokter berpengalaman." Zahra menjelaskan
" mama tahu kamu pengen cepet jadi dokter spesialis, tapi kamu juga masih muda mama harap kamu nikmati masa muda kamu." ujar mama.
" Kak semua hal itu ada waktunya. kamu masih 21 tahun. itu termasuk cepet banget lulusnya Lo kak." mama mengingatkan
" masih banyak hal yang harus kamu alami, mama tahuvkamu pengen banggain mama dan ayah, tapi jangan sampe mengorbankan masa mudamu. gak semua selalu tentang belajar, dan karier. santai kak." lanjut mama
" mama jangan khawatir, kakak masih nikmati masa muda kakak." ucap Zahra
" cih nikmati apa, sampe usia 21 gak ada tuh kakak pacaran." cibir Tia
" cih cinta bertepuk sebelah tangan saja komentar. urus percintaan mu. naklukin Jimmy aja gak mampu." ejek kak Zahra
" kak, sama om Hito serius?," tanya Zayin
" kamu udah tahu ceritanya Yin, kenapa masih nanya?"
" yah,... makin kesini Ayin makin ragu kalo itu gimmick. kalian terlalu nyata. yakin cuma gimmick?" ujar Zayin
Zahra terdiam memikirkan ucapan Zayin.
" mama, kayaknya kakak ke Jerman dipercepat deh." ucap Zahra pelan tak ingin fokusnya teralihkan urusan lelaki
semua mata menatap ke kak Zahra bingung
" kakak kemarin iseng lamar magang di Jerman dengan rekomendasi prof Fahri, eh gak tahunya diterima. sayang kalo gak diambil."
Semua terdiam " kapan berangkatnya?" tanya Mumtaz
" InsyaAllah seusai ikut rentetan ujian dan ambil sumpah dokter " jawab kak Zahra
" masih lama dong." harap Tia
" gak juga. kemarin kakak udah ujian mini CEK. Alhamdulillah lulus. sekarang di depan nama kakak ada gelar dr-nya."
" jadi kakak udah bisa dipanggil dokter?" tanya Zayin
" secara moril belum, lusa ini kakak bakal ngikutin banyak ujian ditambah ngasih tugas penelitiannya makin banyak dan berat, jadi mungkin untuk sementara kakak gak sering pulang ma. kakak nginep di tempat Ziva barengan juga sama Hira."
" kak, jangan terburu-buru. santai aja." mama mengingatkan
" kakak udah ada target, ma. sayang kalo mensia-siakan waktu. kakak juga masih mampu ngimbangin pola hidup untuk santai dan mengejar karier." ucap tegas kakak.
" kok kakak cepet amat jadi dokter. kata orang kuliah kedokteran itu lama." protes Tia yang belum siap pisah sama kak Zahra
" dari dulu kakak udah persiapin diri jadi dokter, jadi pas kuliah materi kedokteran udah gampang dicerna. kuliah praktek juga ternyata tidak terlalu sulit ditambah kakak sering jadi asisten penelitian para pofesor, di sana kakak cicil ngumpulin bahan skripsi. jadi pas skripsi semua bahan dan pembahasan udah ready sebenarnya."
" karena itu kakak bentar banget skripsinya?" tanya Mumtaz
" iya. sebenarnya koas ini juga udah dicicil. saat penelitian-penelitian itu kakak juga ngebantu para dokter di rumah sakit Atma Madina praktekin hasil penelitian itu yang dihitung dalam koas. lumayan nilainya berlipat dibanding harus ngurus pasien satu-satu."
kak Zahra mendelik sebal.
" dari semester dua udah diajak jadi asisten penelitian meski masih skala mudah, dan terus berlanjut dengan tingkat kesulitan makin tinggi." jawab santai kak Zahra
" itu sebabnya kakak selama kuliah sering nginep dan pulang dini hari." ucap Mumtaz
" iya..A. maaf ya sering ngerepotin. sama Zayin juga maaf, dan terima kasih." kak Zahra peluk Mumtaz dan Zayin
" Aa gimana ngambil apa di UAM?" tanya mama
" maaf ma. Aa diterima di teknik. Aa ngambil Arsitektur." ucap pelan Mumtaz
" gak apa-apa. mama yang minta maaf maksa kamu masuk hukum. kalo kamu maunya disitu mama dukung aja, tapi kuliahnya santai aja ya jangan kayak kakak kamu. mama dengernya aja engap capek bener hidup kakak kamu " sindir mama.
" idih mama. orang mah nyuruh anaknya cepet lulus, terus dapet kerja. ini disuruh santai aya-aya wae." Tia geleng kepala
" CK... kamu ini. Aa kamu ini penghasilan udah punya, apalagi kalo bukan menikmati hidup. Aa kamu laki-laki harus banyak pengalaman hidup, supaya bijak dalam mengambil keputusan." gemas mama terhadap anak bungsunya ini.
" kamu Yin, masih pengen Akmil?" tanya mama, Zayin mengangguk.
" A, ganti aja napa sih. nanti kita jarang ketemu lo." bujuk Tia memohon.
Zayin menggeleng " gak. jarang ketemu Lo gak masalah bagi gue."
" ya sudah apapun pilihan masa depan kalian yang terpenting jangan lupa semua itu untuk ibadah. mama hanya bisa mendo,akan dan berupaya semoga mama bisa membiayai kalian." tukas mama mengusap kepala Zayin dan Zahra
" mama gak tanya aku. mau kemana selepas SMA?" tanya Tia
" ah kamu mah terserah. ujung-ujungnya juga pasti pengen jadi isterinya si Jimmy." cibir mama.
Tia langsung menekuk wajahnya, sedangkan yang lain mencibir.
tok..tok...
Di pintu telah berdiri Edel, Heru, mama Dewi, dan Hito.
" eh... ada tamu masuk sini." mama Aida kaget kedatangan keluarga Hartadraja.
" maaf ganggu tante., tapi Edel pengen kesini banget gak tahu kenapa," ucap Edel
" bagus itu. sini duduk Jeng Dewi, dan semuanya. awas kalian berdiri semua." ucap mama kepada para anak. yang langsung meninggalkan sofa
" Tante,... Edel suka banget suasana rumah dan lingkungan sini, makanya Edel datang kesini lagi." ucap Edel yang duduk disamping Heru
" Edel pengen tinggal di sini Tan, boleh?"
"HAAAH." semua orang kaget.
" Yang kok gitu. berarti aku nambah jauh loh dari kamu." kak Heru memprotes
" dih apa hubungannya sama kamu?" Edel mendelik
" ya ada lah. kalo aku kangen kamu sama anak kita gimana?" lama ketemuannya." rengek Heru
semua lelaki yang ada mempraktekan gerakan muntah
" om jangan lebay. ini masih Jakarta loh. kalo kangen ya tinggal dateng." celoteh Zayin jengah
" Del, jangan mengada-ada. kita kesini cuma mau bertamu." mama Dewi memberi peringatan
" mama..ish kan tanah di depan masih kosong tuh ya dibeli aja ma." rengek Edel.
Semua terdiam canggung
" kenapa? kamu tahu siapa yang punya Mum? tolong bilangin ke yang punya-nya kalo Edel Hartadraja mau beli tanah itu." Edel tak peka dengan kecanggungan yang ada.
Mumtaz diam tidak menjawab
" Del, tanah itu gak bisa dijual. itu udah ada peruntukannya." ucap sabar Heru
" kenapa? aku bisa bayar berapa saja yang punya tanah mau."
__ADS_1
" ini bukan soal uang. ini soal menghormati."
" hormati apa? aku beli Lo bukan nyuri." keukeuh Edel
" Edel ayo pulang. seharusnya mama gak ijinin kamu kemari." ucap mama Dewi
" ma...kalian kenapa sih gak mau nurutin. Edel ngidam loh ini." teriak Edel
" karena tanah itu milik Tante Aida bagian dari pertangungjawaban kakak karena membunuh bapak Zein." ucap pelan Hito.
Zahra yang duduk disamping Hito mengusap menenangkan lengan Hito yang mengenakan kemeja panjang.
Hito refleks menggenggam tangan Zahra meraupnya dengan kedua tangannya. dia membutuhkan kekuatan untuk hatinya.
semua kembali terdiam. Edel membulatkan matanya terkejut, Heru mengusap punggung Edel.
" kita keluar yuk." bisik Zahra mendekat ke Hito. Hito mengangguk.
" Tante, Mumtaz, Zayin, Tia om ijin mau bawa kak Zahra jalan."
" iya, silahkan." mama Aida paham ketidaknyamanan Hito.
" bungkus aja om. tuker sama wafer." ucap ngawur Tia yang mendapat sentilan dari para kakak
Hito terkekeh melihat delikan sebal Zahra sambil beranjak pergi
****
" weekend kok macet banget ya." keluh Zahra
" malem Minggu Ra."
drrt..drrrt...
" hallo,.." Hito mengangkat ponselnya
.....
" iya ini lagi otw nek. iya. macet ini."
.....
" iya. Hito tutup ya." Hito menutup sambungan telpon.
" nenek kenapa?" tanya Zahra
Hito ragu untuk mengatakan perihal perjodohan kepada Zahra, tapi dia juga sudah malas bertemu dengan para perempuan itu.
" ehm...sebenarnya dari beberapa waktu lalu nenek memaksa aku ketemu beberapa perempuan pilihan nenek buat jadi isteri, tapi sampe sekarang belum ada yang menarik perhatian aku."
mendengar itu Zahra tertegun, segitunya nenek Sri tidak menyukai dia. ada rasa sakit di hatinya, dan dia belum siap patah hati.
melihat wajah datar Zahra, Hito panik dalam hati. sungguh dia tak ingin jauh dari Zahra. susah payah dia mengupayakan hubungan mereka dekat, dan tidak akan membiarkan hal remeh ini merusaknya.
" boleh minta tolong?" tanya Hito hati-hati.
Zahra menoleh ke arah Hito tersenyum paksa
" minta tolong apa?
" aku udah kumpulin semua sisa perempuan yang berusaha nenek jodohin. aku ingin ajak kamu ke mereka dan memperkenalkan kamu sebagai kekasih aku." ucap Hito.
" HAH, serius kamu? nekat banget sih jadi orang. entar nenek marah bengep loh kamu." omel Zahra.
Hito tertawa " aku udah gak bisa ketemuan sama mereka lagi. capek dan ngebosenin. buang-buang waktu. ya...ya...tolong aku." rengek Hito.
Zahra tertawa geli melihat raut manja Hito.
" iya, tapi jangan manja gini. aku geli."
" terima kasih cinta." Hito keceplosan, dan dia tak minat membantahnya.
" ish... kamu mah...lagian aku kan emang pacar kamu." Zahra meladeni gombalan Hito
mata Hito seketika melebar mendengar ucapan Zahra, hatinya terasa enteng dan berbunga, refleks dia menggenggam tangan Zahra dan mencium punggung tangannya yang langsung mendapat pelototan dari Zahra.
Zahra menarik tangannya. " ish... kamu mah modus."
" hehe... maaf khilaf, tapi menyenangkan. tapi aku beristigfar kok, bener. tapi kok pengen ngucap Alhamdulillah dapet cium tangan kamu ya." jahil Hito
Zahra memukul lengan Hito jengah, dan Hito tertawa bukannya meringis sakit.
" kita kemana sekarang?" tanya Zahra
" ke cafe' D'lima ketemu sama para perempuan itu. let's go." ucap Hito semangat
" let's go deh, aku akan kasih tahu mereka kalo kamu punya aku... hi..hi...hi..." Zahra tertawa jahat. Hito terkekeh mengusap jilbab Zahra.
dia akan membiarkan Zahra bersenag-senang dalam drama ini. Zahra senang, Hito pun bahagia...
****
" maaf jeng, Edel emang suka ngerepotin. entar aku paksa dia buat pulang." ucap mama Dewi yang tak enak kepada keluarga mama Aida, karena Edel tetap memaksa ingin menginap.
" gak apa-apa Tante, siapa tahu anak kak Edel perempuan, terus bisa jadi isterinya Aa Ayin seru kali ya." ucap asal Tia
pletak!!!
zayin menjitak kepala Tia. " kalo ngomong hati-hati, iya kali gue nikah sama bocil. inget umur Lo berapa!" ucap Zayin
" iya Tia, kalo Zayin nikah sama anak kakak perbedaan umurnya terlalu jauh 16 tahun, masa anak kakak nikah sama kakek-kakek." ucap enteng Edel
" ya gak kakek juga kak..." Zayin kesal
" lah siapa bilang beda 16 tahun, sekarang aja umur Aa ayin baru 13 tahun, jadi dedek lahir beda umur mereka cuma 14 tahun." terang Tia
" hah... kok muda, ini udah mau naik kelas sebelas loh Zayin nya." Edel kaget
" itu karena kejeniusan Aa Ayin." ucapnya yang gak langsung muji diri sendiri
" dih muji diri sendiri." ledek Mumtaz
" biarin."
" tapi lucu juga sih kalo anak perempuan kakak jadi isteri Zayin. kak kita tinggal di sini aja ya!?" ujar Edel ke suaminya.
" kalo ada rumah yang di jual. kita usahain di sini." Heru malas berdebat dengan bumil
" aaaa...seneng deh bisa tetanggaan sama kak Edel. mah, kita gak jadi kesepian kalo Ayin sama kak Ala merantau."
" Aa Ayin, di sini udah ada jodohmu, jadi jangan genit ya." ledek Tia
" om Ya, om. Aa om-nya dedek bayi ini. berasa jadi pedofil gue." cicit Zayin di akhir kalimat.
" sabar A, sabar... kayak gak tahu Tia aja." mama Aida mengusap punggung Zayin, sedangkan yang lain tertawa melihat kejengkelan Zayin.
****
cafe' D'lima
Hito dan Zahra memasuki cafe' dengan aura kemesraan yang tak terbantahkan.
Kala melihat Hito beberapa wanita yang duduk di beberapa meja memanggilnya, mereka saling pandang sinis.
Erwin yang melihat itu menepuk keningnya sungguh dia tidak paham dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
ketika Hito menghubunginya untuk melancarkan rencana mengumpulkan seluruh wanita pilihan neneknya yang belum sempat dia temui dalam satu pertemuan di cafenya.
tentu awalnya dia menolak, dia tidak mau mengambil resiko berurusan dengan Sri Hartadraja yang akan berpengaruh pada kelanjutan bisnis cafenya, tapi Hito meyakinkan jika neneknya tidak akan melakukan hal-hal yang membuat keluarganya rugi.
" hallo semuanya, maaf saya terlambat." ujar Hito kepada seluruh wanita yang ada.
Melirik Zahra dengan lembut penuh sayang, menariknya mendekat,..
" kenalkan wanita menakjubkan ini adalah kekasih hati saya..."
Detik ini Hito bertekad menjadikan Zahra kekasih sesungguhnya...
__ADS_1